• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2: KERUSUHAN MEI 1998 DI INDONESIA

2.2 Kerusuhan di Jakarta

2.2.2 Kerusuhan dan Penjarahan

Dapat digunakan penjarahan Yogya Plaza di Klender, Jakarta Timur, sebagai studi kasus bagaimana kerusuhan dijalankan.

Sekitar pukul 12.00 WIB [Pen. tanggal 14 Mei], terjadi perkelahian antar pelajar di sekitar Jalan I Gusti Ngurah Rai. Mereka terlihat saling melempar batu di Jalan Layang Klender. Sekitar 30 pelajar masuk pemukiman Kampung Jati. Warga mengusir karena takut

50 Setiono, Benny G. Op. Cit. Hal. 1084.

51 Harsanto, Damar, dalam Su mbogo, Priyono B., Hidayat Gunadai, dan Andi Zu lfikar Anwar. Op. Cit. 23 Mei. Hal. 24 – 31.

52 Hartin ingsih, Maria, dan Ahmad Arif. “Tragedi Mei: Membaca Kota dari Puing Berjelaga.” 2008. Kompas. 16 Mei. Hal. 49.

53

“Soal Kerusuhan: Pemerintah Bentuk Tim Interdep.” Op. Cit.

54

merugikan warga. Kemudian mereka lari ke arah Klender. Sampai di stasiun Klender, di dekat persimpangan Yogya Plaza terlihat sekelompok massa, kira-kira 20 orang berdiri di situ. Ketika para pelajar itu melewati mereka, beberapa orang dari kelompok massa tersebut berteriak ‘Serang, Serang!’ Mereka memiliki ciri berbadan cukup tegap, atletis, dan berambut cepak. Segera setelah komando itu, massa menyerang pelajar dengan menggunakan kayu, batu dan batangan besi. Pelajar yang diserang lalu lari masuk ke arah Yogya Plaza.

Kesaksian lain menyebutkan sebelumnya keadaan sekitar Yogya Plaza belum terjadi apa-apa. Kemudian banyak orang lari- lari sambil berteriak ‘Serbu Yogya! Serbu Yogya!’. Terlihat banyak yang pakai seragam sekolah, tapi badannya besar-besar dan wajahnya tua-tua, ada yang bertato. Mereka menyerbu Yogya Plaza sambil membuka pakaian seragam sekolah.

Kesaksian lain lagi menyebutkan adanya kelompok pemuda dan pelajar yang seolah-olah bertengkar untuk mengundang massa. Kemudian massa mulai berdatangan. Tidak berapa lama kemudian terlihat ada yang mulai membakar ban bekas di depan plaza.

Pada saat yang hampir bersamaan terlihat seorang berpakaian polisi berdiri di atas Jalan Layang Klender mengamati tawuran antar pelajar itu.

Banyak massa yang ikut menjarah. Banyak orang terlihat mondar-mandir mengambil barang jarahan.

Sekitar pukul 15.00 – 15.15 WIB, salah seorang warga melihat sebuah truk besar berplat merah berwarna orange masuk ke lokasi Yogya Plaza. Truk tersebut mengangkut kira-kira 50 orang yang berpakaian macam- macam (berpakaian seragam sekolah, berbaju singlet dll.)

Saksi mata melihat orang-orang tersebut saling mengenal. Mereka masing- masing membawa jirigen berwarna putih dan berlari ke arah Yogya Plaza. Tidak diketahui apa yang mereka kerjakan, tetapi beberapa saat kemudian mereka kembali ke truk dengan tangan kosong.

Ciri-ciri orang-orang yang datang dengan truk berwarna orange tersebut adalah berbadan tegap dan berumur kira-kira 20 – 30 tahun. Mereka berpakaian preman, ada yang menggunakan seragam SMA. Beberapa di antara mereka berambut cepak, lainnya berpotongan rambut biasa saja. Mereka sepertinya saling mengenal satu sama lain dan mendapat perintah dari supir dan satu orang yang duduk di samping supir. Setelah orang-orang tersebut berada di Yogya Plaza, kemudian terdengar ledakan keras dari belakang Yogya Plaza. Setelah ledakan, supir dan 2 orang lain di truk, melambaikan tangan ke orang-orang yang tadi membawa jirigen.

Orang-orang tersebut kemudian kembali ke truk dengan tangan kosong dan meninggalkan lokasi. Kejadian itu terbuka dan banyak

orang-orang mengamati hal yang sama. Saat itu saksi mata sudah melihat asap tebal mulai keluar dari Yogya Plaza.

Warga ... melihat sekitar 50 orang turun dari dua buah truk yang datang dari arah Pondok Kopi ke Yogya Plaza sambil membawa jirigen dan terlihat ada yang memimpin dengan menggunakan HT dan berkaca mata. Warga yang menyaksikan melihat bahwa isi jirigen tersebut adalah bensin. Terlihat ada orang melempar jirigen di lantai satu. Terlihat juga ada yang mengumpulkan segala macam barang menjadi satu, kemudian disiram dengan bensin (dari jirigen) dan dibakar. Diketahui kemudian ternyata ada yang mengunci lantai 2, sehingga anak-anak dan yang lainnya tidak dapat keluar menyelamatkan diri.

Sekitar pukul 15.30 WIB, [di] lantai dua bangunan terlihat banyak orang terjebak dan berusaha keluar. Api sudah membesar dan asap tebal menghalangi pandangan. Dari luar bangunan terlihat banyak orang melambai tangan meminta tolong dari lantai 4 gedung. Warga kemudian mengambil tali tambang dari kain iklan film di bioskop Yogya Plaza untuk diulurkan dengan bambu ke lantai 4.

Sekitar pukul 15.30 – 17.30 WIB, terlihat banyak orang dari lantai 4 turun dengan menggunakan tambang tersebut. Dalam keadaan panik, banyak juga orang melompat ke bawah. Akibat banyak orang menjadi terluka dan meninggal dunia.

Sekitar pukul 21.00 WIB di sekitar Yogya Plaza hujan turun dan api mulai padam.

Sekitar pukul 21.30 WIB, setelah api mulai padam warga mencoba masuk ke dalam gedung. Saat masuk melalui pintu eskalator di satu, terlihat kawat dikaitkan ke pintu rolling door, menghalangi jalan keluar. Saksi berhasil masuk sampai batas escalator di lantai dua. Hawa di dalam ruangan sangat panas. Sandal yang digunakan sempat meleleh. Terlihat di dalam ruangan banyak mayat terbakar bertumpuk menjadi satu.

Warga lain, yang juga mencoba untuk memasuki bangunan, melihat pintu rolling door dalam keadaan terkunci gembok dan pintu masuk dihalangi oleh kawat yang diikat ke pintu rolling door dan dikaitkan ke eskalator sehingga pintu rolling door tidak dapat dibuka. ... rolling door tersebut sebelumnya dalam keadaan terbuka karena digunakan orang banyak keluar masuk gedung.55

Seperti dilihat dari kasus Yogya Plaza, awalnya sekelompok provokator datang dan memancing emosi massa agar siap menjarah. Kemudian, provokator pergi

55

dan membiarkan massa menjarah sepuasnya. Modus operandi ini juga dilihat di seluruh Jakarta, antara lain, sebagai berikut.

• Pada tanggal 14 Mei di Sunter, Jakarta Utara, terlihat beberapa pengendara sepeda motor mondar- mandir dan memainkan gas dengan keras di sepanjang jalan depan Kompleks Ruko Griya Inti Sentosa. Pengendara motor tersebut terlihat berbadan kekar dan sebagian besar menggunakan seragam SMU, tetapi wajahnya mereka terlihat cukup tua untuk disebut pelajar SMA. Tidak lama kemudian massa datang dan menjarah Kompleks Ruko Griya Inti Sentosa.56

• Pada tanggal 14 Mei, di depan Supermarket Hero Megaria, Jakarta Pusat, terlihat tiga pria berusia antara 20 – 30 tahun melempari bangunan dengan batu. Mereka berambut cepak, berbadan tegap, dan berpakaian preman. Tiga pria ini melempar batu dahulu, lalu diikuti massa. Setelah massa sibuk melempari dan menjarah Hero, mereka lenyap.57

• Pada tanggal 14 Mei, di Ciledug, Tangerang, terlihat sekitar 3 – 5 orang memimpin massa. Mereka umumnya berbadan kekar dan berambut cepak. Umumnya mereka mengenakan baju hitam, celana jeans dan meneriakkan yel- yel “Bakar Cina!” dan “Jarah Cina!” Di bawah pimpinan mereka, toko-toko dan Mal Ciledug dijarah.58

56 Ibid. Hal. 61 – 62. 57 Ibid. Hal. 101. 58 Ibid. Hal. 175.

Massa pada umumnya terdiri dari kaum rendah dan dari segala usia, baik dewasa, remaja, maupun anak.59 Jumlahnya diperkirakan mencapai dua juta orang.60 Mereka pada umumnya menjarah barang yang harga aslinya mahal, dan merusak barang yang tidak diambil.61

Massa dipimpin oleh sekelompok provokator. Para provokator ini mempunyai ciri-ciri yang mirip, yaitu berjenis kelamin pria, berbadan tegap dan atletis, berambut hitam cepak, dan terkoordinasi. Oleh karena itu, diduga bahwa para provokator adalah aparat yang memancing emosi rakyat.62

Provokator ini berusaha untuk mengarahkan serbuan massa pada perusahaan atau toko milik warga keturunan Cina atau orang Cina sendiri. Selain menggunakan yel seperti “Cina babi!”63 atau “Ganyang Cina!”64 dan komando seperti “Cina-Cina, JP milik Cina, bakar-bakar!”,65 massa secara aktif diarahkan agar tidak menjarah perusahaan milik orang pribumi. Ini terlihat di Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat, ketika massa dikomando untuk tidak menjarah atau membakar gedung Asuransi Bumi Putera.66

59 Ibid. Hal. 1 – 179.

60 Chailil, Munawar, dan Tim Foru m. Op. Cit.

61 Jusuf, Ester Indayani dan Ray mond R. Siman jorang. Op. Cit. Hal. 1 – 19.

62 Ibid. Hal. 101, 63 Ibid. Hal. 29 64 Ibid. Hal. 55 65 Ibid. Hal. 132 66 Ibid. Hal. 83

Dokumen terkait