DIAGNOSIS TB PADA ODHA DEWASADIAGNOSIS TB PADA ODHA DEWASA
E. ALUR DIAGNOSIS ALUR DIAGNOSIS ALUR DIAGNOSIS
E. ALUR DIAGNOSIS
1. Diagnosis TB Paru pada ODHA 1. Diagnosis TB Paru pada ODHA
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada alur diagnosis TB pada ODHA, antara lain: Pemberian antibiotik sebagai alat bantu
Pemberian antibiotik sebagai alat bantu diagnosis tidak direkomendasi lagidiagnosis tidak direkomendasi lagi
•
Penggunaan antibiotik dengan maksud sebagai alat bantu diagnosis seperti alur diagnosis TB pada orang dewasa dapat menyebabkan diagnosis dan pengobatan TB terlambat sehingga dapat meningkatkan risiko kematian ODHA. Oleh karena itu, pemberian antibiotik sebagai alat bantu diagnosistidak tidak direkomendirekomendasidasi lagi.
Namun antibiotik perlu diberikan pada ODHA dengan IO yang mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri lain bersama atau tanpa M.tuberculosis. Jadi, maksud pemberian antibiotik
Petunjuk Teknis Ta
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis ta Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIVKo-Infeksi TB-HIV
tersebut bukanlah sebagai alat bantu diagnosis TB tetapi sebagai pengobatan infeksi bakteri lain. Hindarilah penggunaan antibiotikgolongan fluorokuinolongolongan fluorokuinolon karena memberikan respons terhadap M.tuberculosis dan dapat menimbulkan resistensi terhadap obat tersebut.
Pemeriksaan foto toraks Pemeriksaan foto toraks
•
Pemeriksaan foto toraks memegang peranan penting dalam mendiagnosis TB pada ODHA dengan BTA negatif. Namun perlu diperhatikan bahwa gambaran foto toraks pada ODHA umumnya tidak spesifik terutama pada stadium lanjut.
Pemeriksaa
Pemeriksaan n biakan dahakbiakan dahak
•
Jika sarana pemeriksaan biakan dahak tersedia maka ODHA yang BTA negatif, sangat dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan biakan dahak karena hal ini dapat membantu untuk konfirmasi diagnosis TB.
Alur diagnosis TB Paru BTA negatif pada ODHA
Alur diagnosis TB Paru BTA negatif pada ODHA di bawah ini merupakan langkah kegiatan yang harus dilakukan dalam penegakan diagnosis TB di daerah dengan prevalens HIV tinggi dengan sarana terbatas. Alur diagnosis ini hanya untuk ODHA yang dicurigai menderita TB. Perlu diperhatikan, alur diagnosis TB pada ODHA rawat jalan (tanpa tanda bahaya) berbeda dengan pada ODHA rawat inap (dengan tanda bahaya). Alur diagnosis dimaksud dapat dilihat pada gambar 3 dan gambar 4.
Gambar 2.
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV
Keterangan: Keterangan:
a. Tanda-tanda kegawatanTanda-tanda kegawatan yaitu bila dijumpai salah satu dari tanda-tanda berikut: frekuensi pernapasan > 30 kali/menit, demam > 390C, denyut nadi > 120 kali/menit, tidak dapat berjalan tanpa
bantuan.
b. BTA Positif = sekurang-kurangnya 1 sediaan hasilnya positif; BTA Negatif = bila 2 sediaan hasilnya negatif.
c. Pengobatan Pencegahan Kotrimoksasol = PPK.
d. Termasuk penentuan stadium klinis (clinical staging), pemeriksaan jumlah CD4 (bila tersedia fasilitas) dan rujukan untuk layanan HIV.
e. Pemeriksaan-pemeriksaan dalam kotak tersebut harus dikerjakan secara bersamaan (bila memungkinkan) supaya jumlah kunjungan dapat dikurangi sehingga mempercepat penegakan diagnosis.
f. Pemberian antibiotik (jangan golongan fluorokuinolon) untuk mengatasi bakteri tipikal dan atipikal. g. Pneumonia Pneumocystis jirovecii = PCP.
h. Anjurkan untuk kembali diperiksa bila gejala-gejala timbul lagi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada alur diagnosis TB pada ODHA rawat jalan adalah sebagai berikut:
Kunjungan pertama: Kunjungan pertama:
• Pemeriksaan mikroskopis dahak harus dikerjakan pada kunjungan pertama. Jika hasil pemeriksaan dahak BTA positif maka pengobatan TB dapat diberikan kepada pasien tersebut.
Kunjungan kedua: Kunjungan kedua:
• Jika hasil pemeriksaan dahak BTA negatif maka pada kunjungan kedua perlu dilakukan pemeriksaan lain, misalnya foto toraks, ulangi pemeriksaan mikroskopis dahak, lakukan pemeriksaan biakan dahak dan pemeriksaan klinis oleh dokter. Pemeriksaan pada kunjungan kedua ini sebaiknya dilakukan pada hari kedua dari kunjungan pasien di Fasyankes tersebut. Hasil pemeriksaan dari kunjungan kedua ini sangat penting untuk memutuskan apakah pasien tersebut perlu mendapat pengobatan TB atau tidak. Penentuan stadium klinis HIV harus dikerjakan dan pemberian PPK harus diberikan sesuai pedoman nasional.
Kunjungan ketiga: Kunjungan ketiga:
• dilakukan secepat mungkin setelah ada hasil pemeriksaan pada kunjungan kedua. Pasien yang hasil pemeriksaannya mendukung TB (misalnya gambaran foto toraks mendukung TB) perlu diberi OAT. Pasien dengan hasil yang tidak mendukung TB perlu mendapat antibiotik spektrum luas (jangan menggunakan golongan fluorokuinolon) untuk mengobati infeksi bakteri lain atau pengobatan untuk PCP. Juga perlu dilakukan penentuan stadium klinis HIV dan PPK harus diberikan sesuai pedoman nasional.
Kunjungan keempat: Kunjungan keempat:
• Pada kunjungan ke empat ini haruslah diperhatikan bagaimana respons pasien pada pemberian pengobatan dari kunjungan ketiga. Untuk pasien yang mempunyai respons yang baik (cepat) terhadap pengobatan PCP atau pengobatan dengan antibiotik, lanjutkan pengobatannya untuk menyingkirkan terdapatnya juga TB
Petunjuk Teknis Ta
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis ta Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIVKo-Infeksi TB-HIV
(superimposed tuberculosis). Bagi pasien yang mempunyai respons yang kurang baik atau tidak baik pada pengobatan PCP atau pengobatan pneumonia karena bakteri lainnya, perlu dilakukan pemeriksaan ulang untuk TB baik secara klinis maupun pemeriksaan dahak.
Pasien dengan sakit berat dan batuk lebih
Pasien dengan sakit berat dan batuk lebih 2 minggu disertai tanda2 minggu disertai tanda kegawatan
kegawatana
Dirujuk ke fasilitas yang Dirujuk ke fasilitas yang
lebih lengkap lebih lengkap
Tidak mungkin untuk Tidak mungkin untuk
segera dirujuk segera dirujuk
Antibiot
Antibiotik suntikan ik suntikan untuk infeksi bakteriuntuk infeksi bakteri, Sputum BTA dan kultur Sputum BTA dan kultur b
Foto toraks Foto toraksb
Antibiot
Antibiotik suntikan ik suntikan untuk infeksi bakteriuntuk infeksi bakteri, Dipertimb
Dipertimbangkan pengobatan angkan pengobatan untukuntuk PCP
PCPeSputum BTA dan kultur Sputum BTA dan kultur b
Bukan TB
Bukan TB Diobati TBDiobati TB
Periksa ulang Periksa ulang Tidak ada Tidak ada perbaikan perbaikan Perbaikan Perbaikan setelah 3-5 hari setelah 3-5 hari
Periksa ulang untuk Periksa ulang untuk penyakit-penyakit lain yg penyakit-penyakit lain yg berhubungan dgn HIV berhubungan dgn HIV Tidak mendukung Tidak mendukung TB TB BTA positif
BTA positif g BTA negatif BTA negatif g
Mulai pengobatan TB Mulai pengobatan TB Selesaikan a Selesaikan a ntibiotntibiotikik Rujuk ke unit layanan Rujuk ke unit layanan Mendukung TB
Mendukung TB
Gambar 3.
Gambar 3. Alur Diagnosis Alur Diagnosis TB Paru pada ODHA dengTB Paru pada ODHA dengan Sakit Beratan Sakit Berat Keterangan:
Keterangan:
a. Tanda-tanda kegawatanTanda-tanda kegawatan yaitu bila dijumpai salah satu dari tanda-tanda berikut: frekuensi pernapasan > 30 kali/menit, demam > 390C, denyut nadi > 120 kali/menit, tidak dapat berjalan bila
tdk dibantu.
b. Pemeriksaan-pemeriksaan dalam kotak tersebut harus dikerjakan secara bersamaan (bila memungkinkan) untuk mengurangi jumlah kunjungan sehingga dapat mempercepat penegakan diagnosis.
c. Untuk daerah dengan angka prevalens HIV pada orang dewasa > 1% atau prevalens HIV di antara pasien TB > 5%, pasien suspek TB yang belum diketahui status HIV-nya maka perlu ditawarkan untuk
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV
tes HIV. Untuk pasien suspek TB yang telah diketahui status HIV-nya maka tidak lagi dilakukan tes HIV.
d. Pemberian antibiotik (jangan golongan fluorokuinolon) untuk mengatasi bakteri tipikal dan atipikal. e. Pneumonia Pneumocystis jirovecii = PCP.
f. Bila tidak tersedia test HIV atau status HIV tidak diketahui (misalnya pasien menolak untuk diperiksa) penentuan tingkat klinis HIV tergantung kebijakan nasional.
g. BTA Positif = sekurang-kurangnya 1 sediaan hasilnya positif; BTA Negatif = bila 2 sediaan hasilnya negatif.
h. Periksa kembali untuk TB termasuk pemeriksaan BTA dan penilaian klinis.
Jika di Puskesmas dijumpai ODHA yang menderita sakit berat (mempunyai salah satu dari tanda bahaya) maka pasien tersebut harus segera dirujuk ke Fasyankes yang mempunyai sarana lebih lengkap. Jika rujukan tidak dapat segera dilaksanakan, upaya berikut harus dilakukan:
Segera berikan antibiotik spektrum luas suntikan selama 3 – 5 hari untuk mengatasi infeksi bakteri
•
kemudian lakukan pemeriksaan mikroskopis dahak (BTA).
Bila diagnosis TB ditegakkan dengan pemeriksaan mikroskopis dahak (BTA positif), mulailah
•
pengobatan TB dengan pemberian OAT. Pengobatan dengan antibiotik tetap terus dilanjutkan sampai selesai.
Bila hasil pemeriksaan dahak BTA negatif maka harus diperhatikan bagaimana respons pemberian
•
antibiotik suntikan setelah pengobatan 3 – 5 hari. Jika tidak ada perbaikan maka pengobatan TB dapat dimulai dengan pertimbangan dokter, misalnya kemungkinan terdapatnya TB ekstraparu. Penentuan stadium klinis HIV harus dilakukan dan selanjutnya pasien perlu dirujuk ke Fasyankes yang lebih lengkap untuk penegakan diagnosis TB maupun untuk layanan HIV. Bila tetap tidak memungkinkan untuk dirujuk maka pengobatan TB diteruskan sampai selesai.
Bila rujukan ke Fasyankes yang lebih lengkap memungkinkan maka unit penerima rujukan harus
•
memberikan tatalaksana pasien tersebut sebagai pasien gawat darurat dan semua pemeriksaan harus segera dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan untuk mendiagnosis TB.
2. Diagnosis TB Ekstraparu pada ODHA 2. Diagnosis TB Ekstraparu pada ODHA
Diagnosis pasti TB ekstraparu sulit ditegakkan karena harus didasarkan pada hasil pemeriksaan klinis, bakteriologi dan atau histologi spesimen yang didapat dari lesi. Tuberkulosis ekstraparu yang sering ditemukan diantaranya adalah TB Kelenjar limfe, TB Susunan saraf pusat, TB Abdomen, TB Pleura dan TB Perikard. Pemeriksaan spesimen untuk penegakan diagnosis TB ekstraparu dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis langsung, pemeriksaan biakan maupun histopatologi. Hasil biakan spesimen yang diperoleh dari TB ekstraparu jarang memberikan hasil positif. Untuk kasus yang hasil biakannya negatif atau kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diagnosis TB ekstraparu hanya dilakukan secara presumtif berdasarkan bukti klinis yang kuat atau dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain.
Petunjuk Teknis Ta
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis ta Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIVKo-Infeksi TB-HIV
Untuk pasien yang dicurigai TB ekstraparu yang pengobatan TB-nya sudah dimulai tanpa konfirmasi bakteriologi atau histopatologi (diagnosis secara presumtif ), respons klinis dari pengobatan tersebut harus dinilai setelah 1 bulan. Jika tidak terjadi perbaikan maka harus dilakukan penilaian klinis ulang dan harus dipikirkan alternatif diagnosis lainnya.
a. Tuberkulosis Kelenjar limfe a. Tuberkulosis Kelenjar limfe
Tuberkulosis kelenjar limfe dicurigai pada pasien dengan pembesaran kelenjar limfe, tidak simetris, kenyal, berdiameter > 2 cm, teraba fluktuasi atau terbentuk fistula dalam beberapa bulan. Pada umumnya menyerang kelenjar limfe di leher dan sulit dibedakan secara klinis dengan penyebab-penyebab lain pembesaran kelenjar limfe, misalnya pembesaran kelenjar limfe terkait HIV, keganasan dan infeksi kelenjar limfe lainnya.
Aspirasi dengan jarum halus (Fine Needle Aspiration = FNA) perlu dilakukan segera saat ditemukan terdapatnya pembesaran kelenjar limfe. Spesimen yang didapat dari aspirasi ini dilakukan pemeriksaan bakteriologi dan sitologi karena mempunyai nilai diagnostik yang tinggi dengan spesifisitas lebih dari 85%.
b. Tuberkulosis Perikard, Tuberkulosis Pleura, Tuberkulosis Abdomen b. Tuberkulosis Perikard, Tuberkulosis Pleura, Tuberkulosis Abdomen
Infeksi TB dapat terjadi pada rongga tubuh yang mengandung cairan serosa seperti: rongga pleura, perikardial atau peritoneal. Hal ini lebih sering terjadi pada orang dewasa dengan HIV positif dibandingkan dengan HIV negatif.
Penegakan diagnosis Penegakan diagnosis
Tanda dan gejala klinis umumnya bersifat sistemik dan lokal. Pada pemeriksaan cairan aspirasi secara mikroskopis jarang ditemukan BTA karena cairan berasal dari reaksi peradangan.
Tuberkulosis Perikard Tuberkulosis Perikard
•
Bentuk TB ini lebih sering dijumpai pada ODHA dibandingkan pada orang dewasa dengan HIV negatif.
Umumnya ditemukan gejala-gejala seperti: nyeri dada, sesak napas, batuk dan fatigue.
Tanda-tanda kardiovaskular yang ditemukan diantaranya adalah: Takikardia, tekanan darah rendah, pulsus paradoksus, meningkatnya tekanan vena jugular (JVP), bunyi jantung jauh dan tanda tanda gagal jantung kanan (seperti, hepatomegali, asites, edema tungkai)
PETUNJUK PRAKTIS PETUNJUK PRAKTIS
Tanda-tanda tersebut sering sulit dinilai. Lakukan pemeriksaan seksama pada setiap pasien dengan edema tungkai atau asites dengan kemungkinan efusi perikard.
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV
Perikardiosentesis Perikardiosentesis
Perikardiosentesis diperlukan jika terdapat tamponade jantung (cardiac tamponade) dan harus dilakukan oleh pakar/dokter spesialis terkait.
Tuberkulosis Pleura Tuberkulosis Pleura
•
Gambaran klinis dapat bersifat sistemik dan lokal (nyeri dada; sesak napas; pergeseran trakea, pernapasan dangkal, penurunan pergerakan dada). Pada pemeriksaan fisis ditemukan terdapatnya fremitus yang melemah pada palpasi, redup pada perkusi dan penurunan suara pernapasan pada auskultasi).
Gambaran foto toraks menunjukkanradiopaque pada satu atau dua sisi. Tuberkulosis pleura biasanya unilateral.
Jika tersedia pemeriksaanultrasonography (USG) dan terdapat penebalan pleura serta efusi yang terlokalisir dapat dilakukan pengambilan cairan dengan bantuan USG. Untuk membedakan apakah bayangan opaque tersebut cairan atau penebalan pleura atau massa maka dapat dilakukan foto dekubitus lateral.
Sifat cairan aspirat TB pleura dapat dilihat pada tabel 8. Diagnosis dan Tatalaksana segera kasus suspek TB Ekstraparu
Diagnosis Banding Diagnosis Banding
Diagnosis banding efusi pleura eksudat termasuk diantaranya adalah efusi pada pneumonia, keganasan dan abses amuba pada hati.
Tuberkulosis Abdomen Tuberkulosis Abdomen
•
Tuberkulosis abdomen dapat bermanifestasi sebagai TB peritoneal atau TB intestinal. Gejala utama TB peritoneal berupa asites disertai pembesaran kelenjar limfe para-aorta dan mesenterik. Gejala TB abdomen umumnya bersifat kronik dan sebagian kecil menimbulkan keadaan akut abdomen. Gejala lain yang dapat ditemukan berupa distensi abdomen, nyeri perut, mual, muntah, diare, konstipasi, perdarahan gastrointestinal (haemato-schezia lebih sering dibandingkan dengan hematemesis). Selain gejala TB peritoneal, ditemukan pula gejala sistemik TB.
Cara penyebaran TB Abdomen adalah sebagai berikut: a) dari KGB yang terdapat di sepanjang mesenterium b) melalui darah
c) secara perkontinuitatum (melalui organ terinfeksi yang terdekat)
d) dari TB intestinal (pasien TB Paru dapat berkembang menjadi TB Usus karena tertelannya dahak yang infeksius)
Penegakan diagnosis Penegakan diagnosis
Pada aspirasi asites, cairan aspirasi biasanya berwarna keruh atau berdarah. Cairan ini merupakan eksudat, biasanya mengandung 300 leukosit per mm3 dan didominasi limfosit. Pemeriksaan foto
Petunjuk Teknis Ta
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis ta Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIVKo-Infeksi TB-HIV
toraks dapat dilakukan untuk mencari kemungkinan terdapatnya TB Paru. Pada pemeriksaan USG, dapat ditemukan gambaran TB berupa pembesaran KGB mesenterik atau paraaorta dan ditemukannya cairan asites yang terlokalisir.
Diagnosis Diagnosis
Diagnosis biasanya bersifat presumtif. Diagnosis definitif berdasarkan pada biopsi peritoneal yang hanya tersedia pada beberapa RS. Biopsi peritoneal melalui kulit mempunyai nilai diagnostik yang rendah sedangkan melalui laparoskopi mempunyai nilai diagnostik yang tinggi. Diagnosis TB kolitis melalui biopsi kolon. Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis terkait. Diagnosis Banding
Diagnosis Banding
Diagnosis banding TB abdomen tergantung pada jenis cairan asites: Transudat:
Transudat:
• gagal jantung, gagal ginjal, sirosis,hepatosplenic schitisomiasis, hipoproteinaemia, sindrom nefrotik;
Eksudat: Eksudat:
• infeksi lain yang menyebabkan peritonitis. c. TB Susunan saraf pusat
c. TB Susunan saraf pusat
TB Susunan saraf pusat (SSP) dapat bermanifestasi menjadi 3 bentuk yaitu meningitis (paling banyak), tuberkuloma dan arakhnoiditis spinalis. Gejala klinis meningitis dibagi menjadi fase prodromal (selama 2-3 minggu berupa malaise, sefalgia, demam tidak tinggi, muntah, defisit neurologis) dan fase meningitis (gejala prodromal makin hebat) dan fase paralitik (penurunan kesadaran).
Pada pemeriksaan ditemukan kaku kuduk tanda Kernig’s positif dan kelumpuhan saraf kranial yang disebabkan oleh karena terdapatnya eksudat di dasar otak. Tuberkuloma dan penyumbatan pembuluh darah dapat menyebabkan gangguan neurologi. Dapat juga terjadi penyumbatan pada aliran cairan serebrospinal yang menyebabkan terjadinya hidrosefalus. Lesi TB pada spinal meningeal dapat menyebabkan paraplegia (spastic atau flaccid).
Diagnosis Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasar gejala klinis dan pemeriksaan analisis cairan serebrospinal (CSS). Pada pemeriksaan cairan serebrospinal memberikan gambaran khas berupa penurunan kadar glukosa kurang dari 50% glukosa darah, peningkatan kadar protein > 100 mg/dL, hitung sel 10-1000 atau ditemukanM. tuberculosis.
Diagnosis Banding Diagnosis Banding
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV
Ta
Tabel 5. bel 5. Diagnosis banding TB meningenDiagnosis banding TB meningen
Kelainan pada CSS Kelainan pada CSS P
Peennyyaakkiitt SSeel l ppuuttiihh PPrrootteeiinn GGlluukkoossaa MMiikkrroosskkooppiiss
TB meningen Meningkat L > PMN
Meningkat Menurun BTA
Meningitis Kriptokokkus*
meningkat L > PMN
Meningkat Menurun Indian ink spot positif
Perawatan parsial meningitis bakterial*
Meningkat Meningkat Menurun Ditemukan bakteri pada pewarnaan Gram (jarang)
Meningitis virus Meningkat L > PMN
Meningkat Normal (rendah pada parotitis atau H. simplex) Siphilis akut Meningkat
L > PMN
Meningkat
Tripanosomiasis
stadium akhir MeningkatL > PMN Meningkat Menurun Motile trypanosomes Tumor
(Karsinoma/ limfoma)
Meningkat L > PMN
Meningkat Menurun Pemeriksaan sitologi menunjukkan terdapatnya sel ganas Leptospirosis Meningkat
L > PMN
Meningkat Menurun Leptospira
Meningitis Amuba
Meningkat L > PMN
Meningkat Menurun Amuba
PMN = polymorphonuclear leukocytes; L = lymphocytes
Petunjuk Teknis Ta
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis ta Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIVKo-Infeksi TB-HIV
d. Tuberkulosis Tulang d. Tuberkulosis Tulang
Dapat bermanifestasi sebagai TB tulang belakang/spondilitis (paling sering), TB sendi panggul/koksitis dan TB sendi lutut/ghonitis. Selain gejala sistemik TB, dapat ditemukan gejala spesifik berupa bengkak, kaku, kemerahan dan nyeri pada pergerakan. Perjalanan penyakit bersifat kronik, sering ditemukan setelah terjadi trauma. Tuberkulosis tulang belakang disebut gibbus, berupa tonjolan pada tulang belakang berupa abses dingin. Tuberkulosis sendi panggul umumnya menunjukkan gejala berjalan pincang atau kesulitan berdiri. Tuberkulosis sendi lutut ditandai dengan sulit berjalan dan berdiri serta atrofi otot paha dan betis.
Diagnosis banding Diagnosis banding
Tuberkulosis tulang belakang adalah keganasan dan Infeksi bakteri lain. e. TB ekstra paru yang jarang ditemukan
e. TB ekstra paru yang jarang ditemukan Ta
Tabel 6.Tambel 6.Tampilan pilan klinis yang biasa muncul dan pemeriksaan untuk penegakan diagnklinis yang biasa muncul dan pemeriksaan untuk penegakan diagnosisosis bentuk lain TB ekstraparu yang jarang ditemukan
bentuk lain TB ekstraparu yang jarang ditemukan
A
Arreea a ppeennyyaakkiitt TTaammppiillaan n kklliinniiss DDiiaaggnnoossiiss
Tulang belakang Sakit punggung Gibbus Abses psoas Sakit pada radikular
Kompresi saraf tulang belakang
Foto toraks
Magnetic Resonance Imaging
(MRI)
Biopsi jaringan
Tulang Osteomielitis kronik Biopsi jaringan
Peripheral joints Biasanya monoartritis khususnya pinggul atau lutut
Foto toraks Biopsi sinovial
Gastrointestinal Abdominal mass
Diare
Pemeriksaan barium
Liver Nyeri kuadran kanan bagian atas
USG Biopsi
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV
A
Arreea a ppeennyyaakkiitt TTaammppiillaan n kklliinniiss DDiiaaggnnoossiiss
Sistem ginjal dan urine
Urinary frequency
Disuria Hematuria
Pinggang terasa sakit
Piuria steril Biakan urine Intravena Pielogram USG
Kelenjar adrenal Gambaran hipoadrenal (hipotensi, hiponatremia, hiperkalemia/ normal, uremia, hipoglikemia)
Foto polos (kalsifikasi) USG
Sistem pernapasan bagian atas
Hoarseness dan stridor. Sakit pada telinga, sakit ketika menelan
Biasanya akibat komplikasi penyakit paru
Sistem kelamin wanita
Ketidak suburan
Penyakit peradangan pelvis Kehamilan ektopik
Pemeriksaan pelvis Fotorontgen pada saluran genitalia wanita
Ultrasound pelvis Biopsi jaringan
Sistem kelamin laki-laki
Epididimitis Seringkali terdapat bukti dari TB ginjal/TB saluran kemih
Petunjuk Teknis Ta
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis ta Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIVKo-Infeksi TB-HIV
T
Tabel 7. abel 7. Ringkasan petunjuk untuk suspek TB Ringkasan petunjuk untuk suspek TB ekstraparu dan tanda utamaekstraparu dan tanda utama TB ekstraparu untuk membantu diagnosis
TB ekstraparu untuk membantu diagnosis
Suspek TB ekstraparu padauspek TB ekstraparu pada pasien-pasien dengan pasien-pasien dengan
Pembesaran kelenjar limfe
•
leher / aksila yang terkadang disertai batuk 2 minggu atau lebihatauatau
Berat badan menurun dengan
•
Berkeringat malam dan
•
Suhu badan > 37,5
• 0C atau
merasa demamatauatau Sesak napas (efusi pleura/
•
perikarditis) Foto toraks:
•
Bayangan milier atau difus
•
Jantung besar (terutama
•
jika simetris dan bundar) Efusi pleura
•
Pembesaran kelenjar limfe
•
dalam toraksatauatau Sakit kepala kronik atau
•
gangguan mental Curigaila
Curigailah TB h TB desiminata padadesiminata pada semua ODHA yang mengalami semua ODHA yang mengalami penurunan berat badan yang penurunan berat badan yang cepat dan nyata, demam dan cepat dan nyata, demam dan berkeringat malam. berkeringat malam. Carilah: Carilah: Terdapatnya pembengkakan •
kelenjar limfe pada leher atau aksila.
Ini kemungkinan TB Ini kemungkinan TB kelenjarkelenjar limfe
limfe
Tanda terdapatnya cairan di dada
•
Hilangnya suara pernapasan
•
Berkurangnya pergerakan dada
•
Suara pekak pada perkusi
•
Ini kemungkinan TB Pleuritis Ini kemungkinan TB Pleuritis Tanda terdapatnya cairan di
•
sekitar jantung
Bunyi jantung menjauh
•
Edema kaki dan/atau perut
•
Pelebaran pembuluh darah
•
vena pada leher dan lengan Ini kemungkinan TB
Ini kemungkinan TB PerikarditisPerikarditis Tanda dari meningitis
•
Kaku kuduk
•
Kesadaran menurun
•
Gerakan mata yang abnormal
•
Ini kemungkinan TB Meningitis Ini kemungkinan TB Meningitis
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-Infeksi TB-HIV