Percik Juni
ALUR OPERASIONAL KEBIJAKAN AMPL BM
pihak. Langkah awal dibuka suatu pu - blic sphereuntuk AMPL sekaligus pe - nguatan kapasitas komunikasi yang melibatkan semua unsur pemangku kepentingan baik masyarakat, LSM, perguruan tinggi, ormas, swasta maupun pemerintah itu sendiri. Ke - mudian dilanjutkan dengan pe ngem - bangan strategi media komunikasi dan pengembangan kemitraan community learning centreatau suatu jejaring.
Awal tahun 2007 strategi komu- nikasi tersebut mulai diimplemen- tasikan di 2 (dua) daerah yang dipilih menjadi lokasi uji coba yaitu Kabupaten Kebumen dan Provinsi Bangka Belitung. Diharapkan pembe- lajaran yang didapat dari dua daerah uji coba ini akan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menerapkan- nya. Pemilihan daerah uji coba ini didasarkan pada map ping isu, identi- fikasi potensi dae rah dan ketersediaan sumber daya. Pada tahun 2008 Provinsi Sumatra Barat berinisiatif sendiri untuk menyelenggarakan
Workshop Strategi Pemasaran dan Advokasi AMPL untuk kabupa ten/kota dengan menggunakan pem biayaan dari APBD. Untuk menunjang kegiatan tersebut, media komunikasi AMPL terus dikembangkan sesuai kebutuhan daerah dengan cara diintegrasikan melalui pelatihan dan melibatkan kelompok strategis di dae rah, antara lain media massa setempat baik TV, radio serta media cetak.
Selama periode satu tahun pen- dampingan di lapangan, walau masih dalam skala kecil dari survei dan pemantauan dan evluasi yang telah dilakukan pada akhir tahun 2008, menunjukkan hasil yang signifikan. Sebagai contoh di Kabupaten Kebu - men, penggunaan strategi komunikasi melalui Media Rakyat mampu meru - bah pola pikir masyarakat mengenai AMPL dan pada akhirnya mendorong partisipasi sejak perencanaan pemba - ngunan di 29 desa penerima program AMPL. Di provinsi Bangka Belitung
kegiatan advokasi AMPL melalui media massa menumbuhkan wacana dan komitmen politis dari pengambil keputusan dalam rangka penyelamat - an lingkungan. Ke mudian di Sumatera Barat kegiatan pelatihan pemasaran sosial AMPL mendorong kabupa - ten/kota untuk memasukkan strategi komunikasi dalam program pemba - ngunan AMPL mendatang dan meng - optimalkan media komunikasi hasil pelatihan untuk kegiatan sosialisasi AMPL. Sedangkan di tingkat pusat WASPOLA bersama Pokja AMPL dan JAS (Jaringan Air dan Sanitasi) mem- pelopori pembentukan Jejaring AMPL di tingkat pusat pada Februari 2007 dan terus berjalan sampai sekarang ini. Menggerakkan Partisipasi Ma - syarakat melalui Media Rakyat di Kebumen
Media Rakyat dipilih sebagai strategi yang dikembangkan di Kebumen dari hasil kesepakatan peser- ta workshop strategi komunikasi di tingkat kabupaten yang dihadiri berba- gai unsur termasuk anggota DPRD dan media massa lokal. Media Rakyat adalah media komunikasi yang tum- buh dan berkembang sesuai dengan kultur masyarakat setempat. Di Kebumen, strategi ini digunakan seba- gai strategi membangun partisipasi masyarakat sebelum 29 desa mendapat program AMPL ditahun 2008/2009.
Dari pemantauan dan evaluasi di enam kecamatan dan uji efektifitas media di salah satu desa sampel yang dilakukan Pokja AMPL, mereka telah menggunakan media rakyat sebagai sarana untuk berkomunikasi dalam rangka perubahan perilaku sebelum pembangunan AMPL dilaksanakan. Mereka juga menggunakan media rakyat untuk membangun kesepakatan bentuk kontribusi dan partisipasi masyarakat. Lalu pada peringatan Hari Air Sedunia dan Launching Tahun Sanitasi 2008 yang biasanya diseleng- garakan di ibu kota kabupaten, kini
dilaksanakan di Kecamatan Ponco - warno yang sebelumnya menjadi salah satu peserta pelatihan media rakyat.
Ratih TV dan radio-radio lokal menayangkan hasil produksi media rakyat yang telah dibuat bersama seti- ap harinya. Dan pada kegiatan HUT RI ke 63 yang lalu, sebanyak 6 kecamatan mengangkat tema AMPL dalam berba- gai aktifitas kesenian. Media rakyat telah menginspirasi Pemerintah Ka - bupaten Kebumen dengan upaya penyiapan tim tutor lokal yang nanti- nya akan meneruskan pengembangan media rakyat kepada wilayah lainnya, serta menggunakannya sebagai sarana pendorong keterlibatan peran perem- puan di sektor AMPL.
Advokasi Melalui Media Massa, Pembelajaran Menggerakkan Wa cana dan Komitmen Politik di Bangka Belitung
Isu kerusakan sumber air karena pencemaran tambang timah dan peri- laku sanitasi yang buruk menjadi polemik di Bangka Belitung, menjadi tema yang disepakati dalam lokakarya merancang strategi komunikasi pada tahun 2008. Permasalahan yang menyangkut elit setempat tersebut dirasa memerlukan strategi advokasi media massa, yaitu menggunakan kekuatan publik melalui stimulasi beri- ta media massa. Kekuatan media massa digunakan sebagai strategi untuk membangun komitmen politis dan membangun gerakan publik untuk menyelamatkan lingkungan Bangka Belitung. Provinsi kemudian menindak lanjuti dengan pelatihan advokasi AMPL dan memproduksi media advokasi bersama-sama.
Hasilnya Bangka Pos dan RRI Sungai Liat yang menjadi peserta lokakarya pada waktu itu menjadi bagian penting dari gerakan advokasi. Bangka Pos sangat peduli dengan liputan-liputan khusus dan kon- sekuensi yang harus dihadapi terma- suk gerakan tandingan dengan koran
LA P O R A N
UT A M A
32
Percik
dan LSM kuning (baca: koran dan LSM yang dibuat untuk mendukung kepentingan pihak tertentu). Talkshow
yang mengupas kerusakan lingkungan dalam kaitannya dengan AMPL disiarkan dengan menghadirkan nara sumber DPRD, Pemda, Media Massa dan perguruan tinggi dan menggu- nakan dialog interaktif. Saat ini Bangka Pos dan Pokja AMPL, tengah berupaya mengaktifkan forum advokasi AMPL yang pernah dibentuk bersama WASPOLA tahun 2008 sebagai wadah aliansi yang pro-lingkungan untuk ge - rakan penyelamatan sumber air mi - num di masa mendatang.
Pengalaman di dua daerah tersebut rupanya menarik perhatian Provinsi Sumatera Barat, sehingga pada akhirnya mempelopori suatu lokakarya lintas pemangku kepentingan untuk pemasaran sosial AMPL. Tujuannya adalah menemukan bersama strategi pemasaran yang tepat agar sektor AMPL menjadi prioritas pembangunan daerah dan mendorong perubahan perilaku publik yang lebih cepat. Perwakilan unsur yang terlibat adalah pemda kabupa ten/kota provinsi, uni-
versitas, LSM, me dia massa dan organ- isasi ma syarakat.
Hasil-hasil produksi media pemasaran AMPL yang diproduksi bersama dalam lokakarya tersebut telah disiarkan oleh stasiun TV Padang, radio swasta dan koran setempat. Kemudian kabupaten/kota peserta lokakarya telah memasukkan agenda strategi komunikasi terinte- grasi dalam perencanaan pembangu- nan AMPL (RPJM) di wilayahnya. Dua kabupaten/kota telah merencanakan pendanaan untuk melakukan strategi komunikasi dengan langkah menjajagi kebutuhan komunikasi kepada ma - syarakat dan pemangku kepentingan
terlebih dahulu.
Sebagai tindak lanjut mengkaji pembelajaran di tiga daerah tersebut, pada 13 Agustus 2008 telah dilakukan Lokakarya Nasional untuk menda - patkan masukan dan mengevaluasi bersama untuk penyempurnaan ke depan. Lokakarya dihadiri oleh pelaku kegiatan dari ke tiga daerah dan berba- gai pihak tingkat pusat terkait. Peserta berpendapat bahwa pada dasarnya strategi komunikasi yang variatif dari tiga daerah telah membuktikan bahwa strategi komunikasi sangat dibutuhkan juga untuk daerah-daerah lain agar tepat sasaran dan mampu membangun konsensus bersama. Masukan yang diperoleh antara lain adalah pen - tingnya memperkuat kelembagaan dalam keberlanjutan strategi komu- nikasi di daerah, serta memperluas kemitraan sehingga mampu menghim- pun aliansi yang lebih besar untuk ge - rakan yang lebih berkelanjutan.
Walaupun langkah ini masih dalam tahap permulaan, tetapi titik cerah mulai dirasakan beberapa pelaku di lapangan. Bahwa manisnya partisipasi masyarakat yang dahulu sekedar mim - pi, melalui strategi komunikasi yang terpadu, tepat sasaran dan berkelan - jutan terbukti mampu terwujud dalam suatu aksi yang kongkrit. Tetapi sekali lagi, perubahan harus dimulai dari pelaku itu sendiri yaitu merubah pen- dekatan dari komunikasi yang sifatnya elitis menjadi dialogis, dari yang
behavioristikmenjadi humanistik. Tidak ada penyuluh dan masya - rakat yang disuluhi, tetapi semua men- jadi partisipan untuk menyelesaikan masalah AMPL bersama-sama melalui kerjasama yang baik dari berbagai pihak, termasuk dalam hal ini masyarakat.
*penulis berpengalaman lebih dari 15 tahun di bidang komunikasi pengembangan masyarakat (development support communication). Bergabung dengan WASPOLA sejak 2006