BAB IV PEMBAHASAN
B. Analisis Struktur Batin Puisi
4. Amanat
Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya. Pada amanat tersebut terdapat unsur pendidikan moral.41 Amanat sangat penting pada puisi, karena karya sastra selain berfungsi sebagai hiburan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan. Oleh sebab itu, pembaca juga harus cukup teliti untuk mengungkap apa yang hendak diamanatkan penyair dalam puisi.
39Ibid., h. 66
40Ibid., h. 66-67
41Ibid., h. 134
4. Kajian Intertekstual
Suatu karya sastra memiliki hubungan sejarah baik dengan karya yang sejaman, terdahulu atau masa mendatang. Hubungan sejarah tersebut dapat berupa persamaan atau pertentangan. Dalam hal ini hubungan sejarah antar teks itu, perlu diperhatikan prinsip intertekstualnya. Hubungan intertekstual dapat diartikan sebagai penataan berbagai teks-teks sastra yang kemudian dikombinasikan hingga menghasilkan karya baru. Hal tersebut karena pada dasarnya suatu karya sastra tercipta berdasarkan konvensi sastra. Menurut Riffaterre bahwa teks sastra yang menjadi latar pencipta karya sesudahnya itu disebut hipogram. 42
Meskipun suatu teks sastra menyerap unsur-unsur dari teks sastra lain hingga meghasilkan karya yang berbeda, akan tetapi karya yang dihasilkan tetap mencerminkan karya yang mendahuluinya. Sebuah teks sastra demikian dapat dipandang sebagai karya yang baru. Hal tersebut karena pengarang dengan kekuatan imajinasi, wawasan estetika, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu, gagasan, tentulah masih dapat dikenali.43
Hubungan intertekstual pada suatu karya sastra dapat dikaji pada kajian intertekstual. Kajian intertekstual dapat didefinisikan sebagai kajian terhadap sejumlah teks sastra yang diduga memiliki suatu bentuk hubungan tertentu. Mengacu pada definisi tersebut, dapat dipahami bahwa kajian intertekstual meliputi uji banding pada beberapa karya sastra tertentu.
Kajian tersebut dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan cara melakukan hubungan-hubungan bermakna pada beberapa teks karya puisi. Hubungan yang dikaji tidak sebatas pada persamaan teks karya tersebut tetapi juga pada pertentangan. Karya sastra dapat memiliki hubungan antarteks yang menjadi acuannya disebut hipogram (hypogram). Pradopo mengungkapkan bahwa hipogram yaitu karya sastra teks puisi menjadi latar karya sastra
42Rachmad Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), h. 167
43Ibid., h. 228
sesudahnya tersebut.44 Masuknya teks ke dalam teks lain yaitu hal biasa yang terjadi dalam karya sastra, karena pada dasarnya teks karya sastra sebagai bentuk absorpsi dan transformasi dari sejumlah teks lain.
5. Kelahiran Nabi Muhammad Saw
Nabi Muhammad Saw. dilahirkan di Syi’b Bani Hasyim, Makkah. Saat itu adalah hari Senin pagi pada musim panas tanggal 9 Rabi‟ul Ula, 50-55 hari setelah kegagalan Abrahah menyerang Ka‟bah. Dalam bahasa Arab, kata gajah adalah “fil”, dan tahun tersebut dikenal dengan „Am al-Fil”
(Tahun Gajah). Dalam kalender Masehi, hari tersebut bertepatan dengan tanggal 22 April 571. Ketika Aminah sedang mengandung, dia mimpi bahwa seberkas cahaya memancar dari bagian bawah tubuhnya yang kemudian menyinarkan istana Syria. Ketika akan melahirkan, Syifa binti Amr, ibu Abdurrahman bin Auf yang menjadi bidan. Abdul Muthalib menerima berita kelahiran cucunya dengan gembira. Dia membawa bayi yang baru lahir tersebut ke Ka‟bah dan berdoa memohon berkat Allah Swt serta mengucapkan puji syukur. Percaya bahwa cucunya akan tumbuh dengan menuai banyak pujian, Abdul Muthalib memberi nama Muhammad yang berarti “orang yang mendapatkan pujian”. Demi menjaga tradisi Arab, Abdul Muthalib mencukur kepala bayi tersebut dan menyunatnya pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Setelah itu, Abdul Muthalib mengundang penduduk Makkah untuk menghadiri pesta besar yang diadakannya. Nabi Muhammad pertama kali disusui oleh ibunya, kemudian oleh Ummu Ayman budak ayahnya.45
44Ibid., h. 167
45Abd. Hamid, Sirah Nabawiyah/Syaikh Syafiur Rahman, (DIVA Press, Yogyakarta, 2021), h.
16
6. Karakter Nabi Muhammad Saw
Kajian sirah nabawiah Nabi Muhammad Saw. adalah sosok inspiratif sepanjang masa, bukan saja karena agama yang dibawanya namun sisi pribadinya yang memang bersahaja. Kebersahajaan yang dimiliki Nabi Muhammad Saw. bukanlah instan, namun merupakan proses panjang yang penuh tempaan sehingga mampu menjalankan misinya sebagai penutup para Nabi. Tempaan yang diterima Nabi Muhammad Saw. yang perlu ditelusuri kembali dan dimaknakan sebagai upaya eksplorasi nilai-nilai karakter Nabi Muhammad Saw. yang mampu untuk diikuti. Tempaan ini juga yang dijadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai modal dalam melaksanakan misi kenabiannya di usia 40 tahun. Hal ini berarti, usia sebelum 40 tahun, Nabi Muhammad Saw. hanya manusia biasa yang proses kehidupannya bisa dijadikan inspirasi. Tempaan before forty inilah yang perlu dihidupkan sebagai motivasi bahwa semua bisa mempunyai karakter matang selama mampu menghadapi berbagai jenis tempaan dan cobaan. Hal tersebut di atas dapat dipelajari melalui sirah Nabi Muhammad Saw. yang telah terbukti keotentikannya. Sirah menurut bahasa adalah sunnah, cara, jalan dan rincian kehidupan. Adapun secara terminologi adalah kumpulan berita yang diriwayatkan atau dikisahkan mengenai detail kehidupan Nabi Muhammad Saw. Sirah Nabi Muhammad Saw. mempunyai banyak keistimewaan sehingga semakin memudahkan kita untuk menggali dan mengeksplorasi berbagai hal yang terkait dengan sisi kehidupan beliau untuk dijadikan pijakan. Abu Yusuf menyatakan ada beberapa keistimewaan sirah Nabi Muhammad Saw. dibanding sirah lain, yaitu:
a. Sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai sirah yang paling absah dan otentik.
b. Kehidupan Nabi Muhammad Saw. sangat jelas sejak menikahnya orang tua beliau sampai wafatnya beliau.
c. Sirah Nabi Muhammad Saw. merupakan sirah manusia yang dimuliakan Allah dengan tidak mengeluarkannya dari sisi kemanusiaan.
d. Sirah Nabi Muhammad Saw. sangat menyeluruh meliputi sisi kehidupannya.
e. Sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai tanda kebenaran risalah dan kenabiannya.46
Al-Quran menjelaskan Nabi Muhammad Saw. sebagai manusia yang digambarkan sebagai seseorang yang senantiasa memiliki akhlak baik dan mulia. Akhlak dan sifat mulia tersebut yaitu sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Sidiq memiliki arti yaitu kebenaran atau kejujuran. Sebagai suri tauladan umat manusia, Nabi Muhammad Saw. dikenal selalu berbuat jujur baik dalam perktaan maupun perbuatannya. Dengan demikian maka akan mustahil bagi Nabi untuk berdusta atau melakukan hal tercela. Hal tersebut sesuai degan Al-Quran Surat An-Najm ayat 4-5 yang artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannnya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
Amanah yaitu dapat dipercaya. Sifat amanah Nabi Muhammad Saw.
selalu dianggap sebagai sosok yang bijak dapat diminta saran, nasihat dan pendapat oleh orang-orang di sekitarnya seperti ketika diminta memutuskan suatu perkara atau menjadi hakim. Hal tersebut karena apapun yang dilakukan oleh beliau sebagai hasil pertimbangan yang matang dan sesuai dengan Al-Quran Surat Al-A‟raf ayat 68 yang artinya: “Aku
menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan hanyalah pemberi nasihat yang dipercaya bagimu.”
46Isti‟anah Abu Bakar M.Ag Dosen FITK UIN Maliki Malang, Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Sirah Nabawiyah, http://repository.Uin-Malang.ac.id/2455/3/2455, diunduh pada tanggal 27 Juli 2021
Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang manajer sebagaimana karakter yang dimiliki Rasul yaitu sifat dapat dipercaya atau bertanggung jawab. Beliau jauh sebelum menjadi Rasul pun sudah diberi gelar al-Amin (yang dapat dipercaya). Sifat amanah yang dapat mengangkat posisi Nabi Muhammad Saw. di atas pemimpin umat atau Nabi-Nabi terdahulu.
Pemimpin yang amanah yaitu pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab pada amanah, tugas dan kepercayaan yang diberikan Allah Swt.
Amanah dalam hal ini adalah apapun yang dipercayakan kepada Rasulullah saw. meliputi segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun agama.
Sifat amanah yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw. memberi bukti bahwa beliau adalah orang yang dapat dipercaya, karena mampu memelihara kepercayaan dengan merahasiakan sesuatu yang harus dirahasiakan dan sebaliknya selalu mampu menyampaikan sesuatu yang seharusnya disampaikan. Sesuatu yang harus disampaikan bukan saja tidak ditahan-tahan, tetapi juga tidak akan diubah, ditambah atau dikurangi.
Demikian kenyataannya bahwa setiap firman selalu disampaikan Nabi Muhammad Saw. sebagaimana difirmankan kepada beliau. Dalam peperangan beliau tidak pernah mengurangi harta rampasan untuk kepentingan sendiri, tidak pernah menyebarkan aib seseorang yang datang meminta nasihat, dan petunjuknya dalam menyelesaikan masalah.
Nabi Muhammad Saw. Sebagai pemimpin sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat, mendengar keinginan dan keluhan masyarakat, memperhatikan potensipotensi yang ada dalam masyarakat, mulai dari potensi alam sampai potensi manusiawi. Pada akhirnya semua ini bermuara pada aktivitas dakwah yang dilakukannya terhadap masyarakat, terutama dalam bidang keimanan dan ketakwaan serta profesionalisme sebagai upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas pada waktu itu.
Nabi Muhammad Saw. berusaha untuk memberi yang terbaik bagi umatnya, sehingga dalam kepemimpinannya, Nabi Muhammad Saw. selalu mengutamakan umatnya, berkorban untuk umatnya, bahkan sampai akhir umur Nabi Muhammad Saw. masih memikirkan umat. Bukti sejarah ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. sebagai pemimpin sekaligus manajer sejati yang sangat mencintai umat. Nabi Muhammad Saw. dikenal sangat memiliki kesiapan dalam memikul tanggung jawab, memperoleh kepercayaan dari orang lain. Nabi Muhammad Saw. dikenal sebagai orang yang sangat terpercaya, dan ini diakui oleh musuh-musuhnya, seperti Abu Sufyan ketika ditanya oleh Hiraklius (Kaisar Romawi) tentang perilaku beliau.
Bersifat amanah berarti menyampaikan semua perintah Tuhan tidak dikurang tidak pula ditambah berdasarkanwahyu yang ditulis dan dikumpul perlahan. Beliau melakukan berbagai langkah dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar, beliau telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law, dan sebagainya.
Beliau disiplin dan adil dalam menegakkan hukum, tanpa pandang bulu.
Bahkan ketika Nabi Muhammad Saw. belum diangkat menjadi Rasul telah menunjukkan kualitas pribadinya yang diakui oleh masyarakat Quraish.
Beliau dikenal dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya). Oleh karena itu, ketika terjadi peristiwa sengketa antara para pemuka Quraish mengenai siapa yang akan meletakkan kembali hajar aswad setelah renovasi Ka‟bah, mereka dengan senang hati menerima Nabi Muhammad Saw. sebagai arbitrer, padahal waktu itu Nabi Muhammad Saw. belum termasuk pembesar. Berkesiapan memikul tanggung jawab tanpa keraguan.47
47Sakdiah, Karakteristik Kepemimpinan dalam Islam (Kajian Historis Filosofis) Sifat-sifat Rasulullah, Jurnal Al-Bayan /Volume XXII Nomor 33 Januari-Juni 2016, h. 40-44
Amanah merupakan benar-benar menyampaikan sesuatu yang Nabi Muhammad Saw. memiliki tugas untuk disebarluaskan kepada umat Islam.
Di antara bukti Nabi Muhammad Saw. bersifat amanah adalah menyampaikan risalah yang dipercayakan beliau oleh Allah Swt.48
Tabligh yaitu menyampaikan. Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu Al-Quran yang harus disampaikannya pada seluruh umat manusia.
Hal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. tidak terdapat kebohongan karena disampaikan secara apa adanya dari Allah Swt. Sifat tabligh tersebut juga disebabkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang terus berusaha menyebarkan dan menyampaikan kebenaran agama Islam lewat dakwah yang dilakukannya. Hal tersebut sesuai degan Quran Surat Al-Jin ayat 28 yang artinya: “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia meghitung segala sesuatu satu persatu.”
Fathonah atau cerdas. Nabi Muhammad Saw. yaitu orang yang dianggap cerdas dan berwawasan luas serta selalu memutuskan sesuatu dengan pikiran jernih tanpa melibatkan emosi. Kecerdasan beliau tersebut sering digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan masyarakat, sebagai contoh yaitu saat adanya persitiwa peletakan hajar aswad.
Berdasarkan keempat sifat tersebut, maka tidak mengherankan jika Nabi Muhammad Saw. pada keseharian digambarkan sebagai orang yang selalu berbuat jujur, cerdas, sopan, dan berbudi pekarti luhur sehingga Nabi Muhammad Saw banyak dikagumi dan dicintai oleh umatnya.
Kecintaan dan kekaguman yang diberikan kepada Nabi Muhamad Saw. bersifat unik. Meskipun tidak dianggap sebagai Tuhan, tetapi Nabi Muhammad Saw. ditempatkan dalam penghormatan yang setinggi mungkin dalam agama Islam oleh umatnya. Beliau tidak boleh digambar. Istri-istri Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai ibu-ibu orang yang beriman (Ummahatul Mukminin). Setiap rincian riwayat hidup beliau senantiasa
48Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawaiyyah ed Fery Irawan, (Jakarta, Ummul Qura, 2011), h. 95
terpelihara di dalam hadis. Selain itu, jutaan orang yang tak lain umatnya, berusaha meniru, dan mengikuti jejak langkah kehidupan beliau.
Menyebut nama Nabi Muhammad Saw. akan dijamin limpahan rahmat. Maka tidak mengherankan banyak ungkapan pujian yang ditujukan kepada beliau. Ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Saw. dapat berupa doa dan pujian yang tertuang dalam bentuk shalawat. Bahkan ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Saw juga dapat terdapat pada karya sastra seperti syair dan puisi.
Pada puisi dan syair banyak diungkapkan atau dituangkan kata-kata indah yang menggambarkan mengenai sosok Nabi Muhamammd Saw. Pada kata-kata indah tersebut terdapat kekaguman penyair pada sosok Nabi Muhammad Saw. Kekaguman tersebut dapat muncul karena contoh perilaku baik Nabi Muhammad Saw atau karena kehebatan beliau yang dijelaskan dalam Al-Quran maupun hadis.
Berdasarkan hasil studi literatur dapat diketahui bahwa karya sastra puisi dengan tema Nabi Muhammad Saw. masih sangat jarang di Indonesia.
Beberapa puisi dengan tema Nabi Muhammad Saw. di antaranya telah dibuat oleh K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”. Puisi tersebut berisi mengenai kritik penyair terhadap kondisi rakyat Indonesia sekarang. Penyair juga mengungkapkan kerinduannya kepada sosok Nabi Muhammad Saw. Pada puisi tersebut Nabi Muhammad Saw. dianggap sebagai orang yang bijaksana dan pemimpin yang diimpikan dan sempurna bagi penyair. Puisi tersebut dapat ditemukan pada buku Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi Langit yang dierbitkan Risalah Gusti tahun 1996.49
Puisi lain yang mengangkat sosok Nabi Muhammad Saw. dalam karyanya yaitu dibuat oleh Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”. Pada puisi tersebut penyair mencoba mengungkapkan kerinduannya pada Nabi Muhammad Saw. Selain itu, penyair juga tampak mengungkapkan kesedihannya yang belum bisa membuktikan rasa cintanya
49K.H. A. Mustofa Bisri, Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi Langit, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 48
pada Nabi Muhammad Saw. Puisi tersebut dapat ditemukan pada buku Kumpulan Sajak Nun yang diterbitkan Cinta Buku pada tahun 2018.50
Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah puisi yaitu visualisasi atau gambaran mengenai tauladan yang baik dalam suatu karya sastra. Melalui kata, frasa, atau kalimat yang tertulis di dalam karya sastra puisi, maka pembaca seakan mengenal dan berhadapan langsung dengan sosok Nabi Muhammad Saw. Melalui sosok yang disajikan dalam sebuah puisi, pembaca tidak hanya memperoleh gambaran tetang Nabi Muhammad Saw, tetapi juga dapat menafsirkan dan menghayati isi dari puisi.
7. Pembelajaran Sastra
Istilah sastra berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “shastra” berarti tulisan memiliki intruksi atau pedoman. Definisi sastra merujuk pada kesusastraan yang diberi imbuhan ke-an. “Su” yaitu indah atau baik dan sastra yaitu tulisan atau lukisan. Berdasarkan hal tersebut kesusastraan dapat diartikan sebagai tulisan atau lukisan yang memiliki kebaikan atau keindahan. Sumardjo dan Saini KM., menjelaskan bahwa sastra yaitu ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.51
Kurikulum nasional menetapkan bahwa pembelajaran sastra harus terselanggara bersama dengan pembelajaran bahasa. Departemen Pendidikan tahun 1994, mengungkapkan bahwa kurikulum tersebut memiliki tujuan untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.52
50Abdul Wachid B.S., Kumpulan Sajak Nun, (Yogyakarta: Cinta Buku, 2018), h. 44
51Ibid., h. 5
52Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2016), h. 4-5
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran sastra memiliki peran penting dalam pengembangan sosial, intelektual, dan emosional peserta didik. Pembelajaran sastra dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Hal tersebut karena pembelajaran sastra yang dilaksanakan dengan baik, maka niscaya akan memberikan kontribusi baik pada proses pendidikan secara keseluruhan.
Seiring dengan tujuan tersebut pembelajaran sastra harus dapat mewujudkan empat prinsip yaitu sebagai berikut:53
a. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kebebasan kepada siswa untuk menampilkan respon dan reaksi.
b. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa pribadi pada cipta yang dibaca atau dipelajari.
c. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kesempatan kepada guru untuk menemukan butir-butir kontak di antara pendapat para siswa.
d. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kesempatan kepada guru untuk mewujudkan fungsi sebagai motivator terhadap penjelajahan pengaruh vital yang melekat di dalam sastra.
Dewasa ini pembelajaran sastra telah mampu membawa siswa dengan berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kejenuhan hingga kebencian.
Kegiatan ini dapat memberikan dampak negatif pada mental para siswa. Hal tersebut karena pembelajaran sastra lebih menekankan pada sejarah, teori kritik sedangkan sentuhan-sentuhan pengalaman sastra terabaikan.54
53Ibid., h. 5
54Ibid., h. 8
Keluhan-keluhan yang muncul tentang rendahnya apresiasi sastra merupakan bukti ketidakberhasilan pembeljaran sastra. Oleh sebab itu, terdapat beberapa hal yang perlu dicermati dalam pembelajaran sastra. Hal tersebut yaitu sebagai berikut:55
a. Kurikulum pembelajaran sastra
Kurikulum harus mampu mengarahkan untuk menumbuhkan apresiasinya.
b. Pembelajaran sastra tidak sekedar memberikan teks sastra untuk dipahami, diapresisi dan diinterpretasi tapi juga harus diarahkan agar siswa dapat menilai dan mengkritiknya.
c. Pembelajaran sastra harus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomonikasi yang baik dan benar.
Kegiatan pembelajaran apresiasi sastra sangat berhubungan dengan pembelajaran puisi. Apresiasi tersebut dapat berupa menggemari, menikmati, mereaksi, hingga memproduksi.56 Pembelajaran puisi bertujuan supaya siswa lebih peka dalam menyadari keberadaan diri sendiri, orang lain dan sekitarnya. Tujuan lain yaitu supaya mereka memperoleh pengetahuan dasar dan kesenangan dari puisi. Hal tersebut guna menumbuhkan keinginan membaca dan mempelajari puisi dari siswa.
Pada pembelajaran puisi, seorang guru berperan dalam membimbing dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran tersebut. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan seorang guru dalam suatu pembelajaran puisi:57
a. Melakukan pemahaman terhadap struktur global puisi.
b. Memahami penyair dan kenyataan sejarahnya.
c. Melakukan telaah unsur-unsur puisi berupa struktur fisik dan batin puisi.
d. Sintesis/paduan dan interpretasi/pemberian kesan.
55Ibid., h. 8-10
56Ibid., h. 247 57Ibid., h. 249
B. Penelitian Relevan
Berdasarkan hasil studi literatur, dapat diketahui bahwa skripsi atau penelitian mengenai Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia Serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia belum pernah dilakukan.
Penelitian yang umum dilakukan selama ini memiliki tema tentang alam, politik, dan tokoh nasional. Penelitian yang mengangkat sosok Nabi Muhammad Saw masih jarang ditemukan oleh peneliti.
Berikut beberapa penelitian atau skripsi yang sedikit relevan dengan judul yang diangkat oleh peneliti di antaranya penelitian Hendayani Een pada tahun 2011 merupakan mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Judul penelitian Hendayani Een yaitu Struktur dan Nilai-Nilai Moral dalam Puisi Nadoman Sejarah Nabi Muhammad serta Model Pelestariannya.
Penelitian tersebut diangkat berdasarkan asumsi peneliti bahwa sejarah Nabi Muhammad Saw terdapat nilai-nilai moral yang bermanfaat bagi pembelajaran puisi di sekolah khusus Madrasah Aliyah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa puisi sejarah Nabi Muhammad Saw. berisi tentang informasi meliputi sejarah kelahiran, kehidupan, perjuangan, sampai wafat Nabi Muhammad Saw.
Hasil temuan lain dalam penelitian ini meliputi nilai moral ketuhanan, nilai moral kepribadian, dan nilai moral kemasyarakatan. Nilai moral ketuhanan meliputi nilai taqwa, tawakal, taubat, dan roja‟. Sedangkan gambaran nilai-nilai moral kepribadian meliputi sabar, optimis, ikhlas dan jujur. Adapun gambaran nilai-nilai moral kemasyarakatan meliputi rukun, tenggang rasa, adil, dan dermawan. Pada penelitian tersebut penulis menawarkan alternatif model pelestarian puisis melalui penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran puisi di sekolah.
Penelitian lain yang memiliki sedikit kemiripan merupakan penelitian yang dilakukan oleh Puji Santoso seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Salatiga dengan judul Nilai Keteladanan Rasulullah. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 yang bertujuan mengetahui nilai-nilai keteladanan terhadap sosok Nabi Muhammad Saw. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa sosok Nabi Muhammad Saw digambarkan sebagai sosok yang
memudahkan, tidak memberatkan, memiliki jiwa kasih sayang, sabar, lembah lembut, adil, rendah hati, sederhana sehingga berperan penting demi terwujud tujuan pendidikan.
Penelitian lain yang relevan dengan penelitian penulis dilakukan oleh Muhammad Mahsyar mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, IAIN Raden Intan Lampung.
Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2017 dengan judul Pesan Dakwah Nabi Muhammad dalam Syair-syair Puisi Karya K.H. A. Mustofa Bisri.
Penelitian tersebut memiliki persamaan dengan penelitian penulis karena sama-sama saling mengkaji puisi dari penulis yang sama-sama merupakan K.H. A.
Mustofa Bisri. Kesamaan lain merupakan peneliti Muhammad Mahsyar dan penulis memiliki hasil penelitian yang sama yang berusaha mengetahui gambaran sosok Nabi Muhammad Saw berdasarkan pesan dakwah dalam puisi.
Mustofa Bisri. Kesamaan lain merupakan peneliti Muhammad Mahsyar dan penulis memiliki hasil penelitian yang sama yang berusaha mengetahui gambaran sosok Nabi Muhammad Saw berdasarkan pesan dakwah dalam puisi.