• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4. Majas

Majas atau bahasa figuratif yaitu gaya bahasa yang digunakan penyair untuk menyampaikan atau mengungkapkan makna secara tidak biasa atau tidak langsung. Majas pada puisi digunakan untuk mengatakan sesuatu dengan cara pengiasan, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna.75 Bahasa figuratif tersebut menyebabkan puisi menjadi lebih hidup. Majas yang digunakan dapat

75Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1987), h. 83

berupa perbandingan (metafora dan simile), penggantian (metonimi dan sinekdoki), pemanusiaan (personifikasi), hiperbola atau alegori.76

Penyair menghidupkan puisi dengan menggunakan majas:

personifikasi. Penyair memasukkan sifat insani atau sifat-sifat makhluk hidup kedalam benda mati.

Pada puisi K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”, penyair menyebutkan “wajah-wajah yang kalah”. Penyair menggunakan majas metafora pada kutipan tersebut karena menyamakan sifat sesuatu dengan benda lain.

Kata “wajah-wajah” dipahami penulis sebagai rakyat, orang-orang atau masyarakat. Adapun kata “kalah”, penulis mengartikan sebagai kemisikinan, kesulitan, keterpurukan. Secara umum penulis memahami kutipan puisi tersebut sebagai ungkapan penyair tentang buruk kondisi rakyat yang ada di Indonesia saat ini.

Kutipan “mataku yang tak berdaya” pada baris ketiga berupa majas hiperbola. Hal terebut karena penyair tampak melebihkan sesuatu. Kata “mataku” pada kutipan puisi merujuk pada sosok penyair. Secara umum penulis memahami kutipan puisi tersebut sebagai ungkapan berlebihan penyair tetang kondisi penyair yang tidak berdaya untuk membantu dan hanya bisa menyaksikan kesulitan yang dialami rakyat selama ini.

Pada kutipan baris keempat “tangan-tangan perkasa” terdapat majas metafora. Hal tersebut karena majas tersebut meletakan objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan penyair.

Tangan-tangan perkasa yang dimaksud sama artinya dengan para penguasa, pemerintah, pemimpin, orang yang memiliki jabatan atau orang-orang yang memiliki kekayaan.

Pada baris kelima “mempermainkan kelemahan” penyair menggunakan majas hiperbola. Kata “mempermainkan” pada kutipan puisi diterjemahkan penulis sebagai tindakan kurang baik berupa menipu, berbohong, curang dan tindakan jahat lainnya. Kata

76

Ibid., h. 22-23

“kelemahan” diartikan sebagai keluguan, ketidaktahuan, dan ketidakpahaman rakyat. Penulis memahami ungkapan penyair tersebut sebagai para penguasa yang bersikap tidak baik pada rakyat, serta memanfaatkan ketidakpahaman rakyat.

Pada baris keenam disebutkan “airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan”. Penyair menggunakan majas hiperbola pada kutipan tersebut. Kata “airmataku” dapat diartikan sebagai kondisi sedih. Kalimat “mengikuti panjang jalan” dapat diartikan sebagai waktu yang terus berjalan. Penulis memahami kutipan tersebut sebagai ungkapan penyair tentang kesedihan penyair yang terus terjadi.

Pada baris ketujuh dengan kutipan “mencari-cari tangan lembut”

penyair menggunakan majas metafora. Kata “tangan lembut” pada kutipan tersebut dapat diartikan sebagai sosok seseorang yang lemah lembut. Jika dianalisis secara keseluruhan maka kutipan tersebut dapat diterjemahkan sebagai usaha dari mencari untuk mencari orang-orang yang memiliki periaku baik (lemah lembut) yang dalam puisi merupakan sosok dair Nabi Muhammad Saw.

Selanjutnya, pada bait kedua baris pertama “dari dada-dada tipis papan”, penyair menggunakan majas metafora. Kalimat “dada-dada tipis papan” diartikan sebagai rakayat atau masyarakat. Pada baris kedua “terus kudengar suara serutan”, penyair menggunakan majas personifikasi karena menyamakan suatu sifat dengan benda. Kata

“suara serutan” diterjemahkan sebagai teriakan, seruan, atau protes.

Penulis menerjemahkan kedua kutipan puisi tersebut sebagai ungkapan penyair mengenai rakyat atau orang-orang yang menyerukan ketidaksukaannya atau sebagai bentuk protes rakyat pada pemerintah.

Pada bait kedua baris ketiga “derita mengiris berkepanjangan”

penyair menggunakan majas hiperbola. Kata “mengiris” dapat diartkan sebagai melukai, menipu, korupsi, ketidakadilan. Penulis mengartikan kutipan tersebut sebagai ungkapan berlebihan dari

penyair mengenai penderitaan yang dialami rakyat yang terus berjalan hingga saat ini. Penderitaan tersebut dapat berupa kemiskan, kelaparan, atau kekurangan.

Pada baris keempat bait kedua “dan kepongahan tingkah- meningkah” penyair menggunakan majas hiperbola. Kata

“kepongahan” menurut KBBI diartikan sebagai kesombongan dan keangkuhan. Adapun kata “meningkah” diartikan sebagai kesemena-menaan. Kutipan tersebut dipahami sebagai ungkapan berlebihan penyair yang menceritakan mengenai kesombongan yang luar biasa dari para penguasa atau pemerintah.

Bait kedua, baris ketujuh “merdu-menghibur suaramu” berupa majas metafora. Kutipan tersebut dipahami penulis tidak semata-mata merujuk pada keindahan yang dihasilkan suara atau lagu, tetapi justru pada perilaku atau sikap dari sosok seseorang, yang dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw.

Bait kedua baris ketiga “ribuan tangan gurita keserakahan”

penyair menguunakan majas personifikasi, karena menyamakan sifat manusia dengan benda. Kata “tangan gurita keserakahan” yaitu kiasan dari penyair mengenai para pemerintah atau pemimpin yang serakah.

Adapun pada kutipan “menjulur-julur kesana kemari” penyair menggunakan majas hiperbola. Kata “menjulur” diartikan penulis sebagai pergerakan mencari sesuatu yang dalam hal ini mencari kesempatan. Kedua kutipan tersebut yaitu sindiran penyair terhadap para pemimpin atau pemerintah yang korupsi.

Pada bait ketiga baris keempat disebutkan “mencari mangsa memakan korban”. Pada kutipan tersebut menggunakan majas metafora. Kata “mangsa” yaitu kata yang mewakili istilah untuk rakyat atau masyarakat. Penulis mengartikan kutipan tersebut sebagai usaha dari pemerintah atau peminpin yang mencari kesempatan kesempatan baik jabatan, kekayaan, atau apapun sebagai bagian dari hak rakyat atau masyarakat.

Pada baris kelima bait ketiga yaitu “melilit bumi meretas harapan” kutipan menggunakan majas hiperbola. Kata “melilit bumi”

dapat diartikan sebagai kondisi kita terjebak pada sesuatu. Kutipan tersebut dipahami penulis sebagai ungkapan melebih-lebihkan dari penyair mengenai kondisi rakyat yang berada dalam ketidakadilan dan kemiskinan yang mengakibatkan rakyat menjadi kesulitan untuk bisa keluar dari kondisi kemiskinan tersebut.

Pada baris kedua “saling cakar berebut benar”, berupa majas metafora. Kata “saling cakar” penulis menterjemahkannya sebagai saling serang atau debat dari akan suatu pendapat. Penulis memahami kutipan tersebut sebagai ungkapan tentang sesama manusia yang saling berdebat atau beradu pendapat. Kedua kutipan tersebut tampak sebagai sindiran penyair mengenai kondisi manusia yang selalu berdebat dan merasa benar.

Pada baris keempat “Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan”

berupa majas metafora. Kata “kendaraan” pada kutipan puisi tersebut dapat diartikan sebagai alat atau media yang dapat mengantarkan sesuatu. Pada kutipan tersebut penyair seakan memberi sindian mengenai orang-orang khususnya politisi yang menjadikan agama sebagai media atau alat untuk mencapai kepentingan tertentu.

Pada bait kelima baris pertama “sekian banyak Abu jahal Abu Lahab” berupa majas metafora. Penyebutan kedua tokoh tersebut mewakili sosok manusia dengan sifat yang jahat yang selalu memusuhi islam. Hal tersebut karena pada kenyataannya kedua tokoh tersebut memang musuh Nabi Muhammad Saw yang selalui memerangi Nabi dan agama Islam.

Pada bait terakhir baris pertama “bagaimana melawan gelombang kebodohan” berupa majas metafora. Kata “gelombang kebodohan” dapat titerjemahkan sebagai masa atau waktu disaat orang-orang tdak memahami sesuatu.

Pada baris kedua bait terakhir disebutkan “dan kecongkakan yang telah tergayakan” berupa majas hiperbola. Kata “tergayakan”

tampak sepeti ungkapan penyair yang mencoba melebih-lebihkan sesuatu. Penulis memahami kutipan tersebut sebagai ungkapan mengenai keberadaan orang-orang congkak atau sombong yang terus hadir di masyarakat.

Pada puisi Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”, bait keempat baris ketiga disebutkan “cahaya cinta yang mereka terima darimu”. Kutipan tersebut mengandung majas metafora, yang dapat diterjemahkan tentang kecintaan yang besar dari Nabi Muhammad Saw pada umatnya yang seakan-akan digambarkan dalam bentuk cahaya.

Pada bait ketujuh baris kedua, ketiga dan keempat “airmata membasuh hatiku, yang selalu berdebu yang, selalu berdebu” juga berupa majas metafora. Kata “debu” ungkapan pengganti dari dosa.

Kutipan tersebut yang dapat diterjemahkan sebagai kesedihan dari diri penyair mengenai kondisi dirinya yang mungkin penuh dengan kesalahan dan dosa.

Dokumen terkait