• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

D. Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Karya Mustofa Bisri dan

4. Fathonah

Fathonah memiliki arti yaitu cerdas atau pintar. Nabi Muhammad Saw. merupakan sosok orang yang dianggap cerdas dan berwawasan luas.

Kecerdasan Nabi Muhammad Saw. sering digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan rakyat Arab pada masanya. Sebagai contoh yaitu saat ada persitiwa peletakan hajar aswad. Pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad Saw. dengan cerdas dan bijak mampu menyelesaikan perselisihan anatara berbagai suku dalam memutuskan peletakkan hajar aswad.

Sifat fathonah (pintar), menyangkut aspek intelektualitas atau kecerdasan. Seseorang dianggap cerdas atau pandai apabila dia memiliki intelektualitas yang bagus. Dalam kehidupan bermasyarakat atau suatu organisasi, sifat tersebut dapat dilihat dari kecerdasan seorang pemimpin.

Hal tersebut pula yang tergambar dalam sosok Nabi Muhammad yang merupakan peminpin umat Islam.90

90Yosef Asmat Alamsyah, Membumikan Sifat Rasul dalam Kepemimpinan Pendidikan.

(Jurnal Kependidikan Islam, 2017 Vol. 7 No. 2), h. 137-138

Penulis memahami bahwa penyair menggambarkan Nabi Muhammad Saw. sebagai sosok yang memiliki perilaku baik atau mulia. Pada puisi Abdul Wachid BS. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap” pada bait keempat baris ketiga disebutkan “cahaya cinta yang mereka terima darimu”. Kutipan tersebut mengandung majas metafora, yang dapat diterjemahkan tentang rasa cinta besar dari Nabi Muhammad Saw. pada umat Islam yang seakan-akan digambarkan dalam bentuk cahaya.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa penyair menggambarkan sosok Nabi Muhammad Saw sebagai sosok yang sangat agung yang dapat disamakan dengan cahaya.91

Selain itu, kata cahaya pada puisi tersebut juga dapat mengacu pada gambaran sosok Nabi Muhammad Saw. yang meimiliki kecerdasan. Kita sering menjumpai penyebutan untuk orang yang cerdas atau pintar sebagai sosok yang cemerlang pada kehidupan sehari-hari. Berdasarkan KBBI, dapat diketahui bahwa kata cemerlang memiliki persamaan dengan cahaya atau sinar. Berdasarkan hal tersebut penulis menemukan hubungan antara gambaran sosok Nabi Muhammad Saw. yang digambarkan penulis dengan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw.

Dari berbagai penjelasan yang sudah dijelaskan sebelumnya disimpulkan bahwa keteladanan nabi Muhammad merupakan kunci berjayanya islam. Keteladanan sifat nabi Muhammad menjadikan beliau sebagai sosok pemimpin yang karismatik. Nabi Muhammad merupakan pemimimpin yang menjadi suri tauladan dikaruniai empat sifat utama, yaitu:

Shiddiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Shiddiq berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya dalam menjaga tanggung jawab. Tablig berarti menyampaikan segala macam kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola masyarakat.92

91Abdul Wahid B.S., Kumpulan Sajak Nun, (Yogyakarta: Cinta Buku, 2018), h. 44

92Ilhamda Aziz, Keteladanan Sifat Rasulullah Muhammad SAW dalam Etika Profesi Akuntan Publik, (Jurnal Akuntansi 2020 Vol. 30 No. 5), h. 1146-1147

E. Kesesuaian Puisi-puisi Karya K.H. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S. dalam Pembelajaran Puisi di Sekolah

Pembelajaran sastra memiliki peran penting dalam pengembangan sosial, intelektual, dan emosional peserta didik. Pembelajaran sastra yang dilaksanakan dengan baik, niscaya akan memberikan kontribusi baik pula pada proses pendidikan secara keseluruhan.93

Kegiatan pembelajaran apresiasi sastra sangat berhubungan dengan pembelajaran puisi. Apresiasi tersebut dapat berupa menggemari, menikmati, mereaksi, hingga memproduksi.94 Pembelajaran puisi bertujuan supaya peserta didik lebih peka dalam menyadari keberadaan diri sendiri, orang lain dan sekitarnya. Tujuan lain yaitu supaya mereka memperoleh pengetahuan dasar dan kesenangan dari puisi. Hal tersebut guna menumbuhkan keinginan membaca dan mempelajari puisi dari peserta didik.

Puisi tema Nabi Muhammad Saw. karya K.H. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S., selain digunakan sebagai bahan bacaan sastra juga dapat digunakan sebagai materi pembelajaran dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan minat peserta didik dalam mengapresiasi puisi. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru Bahasa Indonesia di sekolah diperoleh informasi yaitu sebagai berikut:

“Pada dasarnya semua puisi karangan penyair manapun dapat digunakan sebagai materi pembelajaran. Namun demikian, guru harus mampu melihat secara jeli dan menyeluruh isi kesesuaian psikologi atau kejiwaan siswa dengan puisi yang diajarkan.”

Berdasarkan hasil wawancara, dapat diketahui pula bahwa puisi Abdul Wachid dengan judul “Rindu yang Meluap-luap” dapat digunakan sebagai materi pembelajaran apresiasi puisi. Hal tersebut karena keseluruhan isi puisi didominasi oleh penggunaan kata yang mudah dipahami maksud dan tujuan.

Hal tersebut ditunjukan pada wawancara berikut:

93Suminto A.Sayuti, “Sastra dalam Perspektif Pembelajaran”, dalam Riris K. Toha-Sarumpet (ed.), Sastra Masuk Sekolah, (Magelang: Indonesia Tera, 2002), h. 45

94Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan Pengajaran Sastra, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h.

247

“Hasil analisis saya selama menjadi guru di sekolah, bahwa siswa cenderung lebih menyukai puisi dengan bahasa yang mudah dipahami”.

Puisi-puisi yang digunakan sebagai materi pembelajaran, harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Hal tersebut dilakukan agar pembaca yang dalam hal ini yang merupkan peserta didik dapat memahami maksud dari puisi secara mudah.

Adapun untuk puisi K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”, memiliki kata-kata kias yang cukup banyak sehingga akan menyulitkan siswa jika dijadikan bahan untuk pelajaran apresiasi sastra puisi. Selain itu, puisi tersebut yaitu puisi yang berbau politik, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan rasa keberatan pada peserta didik dalam mempelajari puisi tersebut.

Selain itu, dapat diketahui juga bahwa peserta didik akan lebih berminat terhadap puisi yang disajikan beserta gambar yang mendukung isi puisi. Hal tersebut ditunjukan dengan isi wawancara berikut:

Puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku” dan Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”, jika dikemas dengan gambar yang mendukung isi puisinya, hal tersebut akan dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran apresiasi puisi di sekolah.”

Menurut pendapat para guru dalam wawancara bahwa puisi karya K.H.

A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S. dapat dijadikan materi dalam pembelajaran apresiasi puisi. Hal tersebut karena puisi-puisi ini memiliki tema yang manarik yaitu tentang cinta dan kritik sosial.

Kedua puisi tersebut patut dijadikan materi dalam pembelajaran sastra karena mengandung amanat yang bagus. Amanat tersebut yaitu supaya kita mampu saling mencintai, menyayangi, dan peduli dengan sesama sehingga dapat mendidik peserta didik menjadi pribadi yang baik.

Hasil wawancara lain menunjukkan bahwa rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran apresiasi puisi dapat disebabkan oleh rasa jenuh pada puisi penyair lama. Hal tersebut dapat disebabkan oleh siswa yang merasa kesulitan dalam memahami puisi yang diajarkan. Umumnya puisi dianggap menarik oleh peserta didik yaitu puisi yang memiliki bahasa mudah dipahami.

Menurut salah satu guru Bahasa Indonesia dapat disampaikan informasi bahwa membaca puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”, dan puisi karya Abdul Wachid B.S.

dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”, dirasa sangat menyenangkan. Selain karena penggunaan bahasa yang mudah dipahami, pada puisi-puisi tersebut juga banyak menceritakan kejadian, keadaan yang ada pada kehidupan sekitar sehinngga dirasa bagus jika digunakan sebagai bahan pembelajaran.

Hasil pembelajaran peserta didik di kelas juga menunjukkan kesesuaian dengan hasil wawancara. Saat pembelajaran berlangsung, peserta didik cenderung merasa bosan diberikan pembelajaran berupa puisi karya penyair lama. Peserta didik menunjukkan kurang minat dan semangat belajar. Hal tersebut terlihat dari banyak peserta didik yang tidur dan tidak menyimak dengan baik saat guru membaca puisi.

Pemandangan berbeda terlihat ketika puisi karya KH. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku” dan puisi karya Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap” dibacakan oleh guru.

Respon semua peserta didik yaitu fokus mendengaran guru saat membaca puisi KH. A. Mustofa Bisri.

Berdasarkan hasil penjabaran pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku” dan puisi karya Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”, dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya apresiasi puisi pada jenjang SMP. Hal tersebut karena sebagian besar puisi memiliki tema, amanat yang baik, dan sesuai dengan kondisis psikologi atau kejiwaan siswa yang mulai peka terhadap realitas di sekitarnya. Namun demikian, jika melihat dari penggunaan bahasa maka puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri memiliki kelemahan dibanding puisi lain karena menggunakan bahasa yang sulit dipahami.

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti pada puisi K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”, dan Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap” dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sosok Nabi Muhammad Saw. dalam kedua puisi tersebut merupakan hasil dari pengungkapan pikiran penyair terhadap sosok Nabi Muhammad Saw. Sosok Nabi Muhammad Saw. digambarkan sebagai sosok manusia ideal yang memiliki perilaku dan sikap dapat dijadikan panutan. Nabi Muhammad Saw. digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut, pemimpin yang adil dan bijaksana. Berbagai gambaran sosok Nabi Muhammad tersebut memiliki kesesuaian dengan sifat-sifat Nabi yang digambarkan dalam Al-Quran yaitu sidiq (selalu benar), amanah (senantiasa jujur), tablig (senantiasa menyampaikan kebenaran) dan fathonah (pintar atau pandai). Berbagai gambaran perilaku tersebut menjadikan sosok beliau sebagai sosok pujaan senantiasa disayang dan dirindukan oleh umat Islam yang diwakilkan dan dituangkan oleh penyair dalam puisi.

2. Analisis sosok Nabi Muhammad Saw. dapat diterapkan dalam pembelajaran puisi khususnya apresiasi puisi pada jenjang SMP. Hal ini sesuai dengan kompetensi dasar yaitu menelaah unsur-unsur teks puisi yang diperdengarkan atau dibaca. Selain itu, puisi memiliki tema dan amanat baik, dan sesuai dengan kondisi psikologi atau kejiwaan peserta didik yang mulai peka terhadap realitas di sekitarnya. Namun demikian, jika melihat dari penggunaan bahasa maka puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri memiliki kelemahan dibanding puisi lain karena menggunakan bahasa sulit dipahami.

1

B. Saran

1. Pendidik dapat menggunakan puisi tema Nabi Muhammad Saw. karya karya K.H. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S. sebagai bahan pembelajaran di kelas dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan pada peserta didik.

2. Selain puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S, pendidik dapat menambah wawasan siswa terkait penyair-penyair Indonesia modern lain seperti D. Zawawi Imron, M. Aan Mansyur, Taufik Ismail, Abdul Hadi, Jamal D Rachman dan lain sebagainya karena melalui penggunaan beberapa penyair tersebut, peserta didik diharapkan dapat mengenali ragam atau variasi puisi yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar, Isti‟anah M.Ag Dosen FITK UIN Maliki Malang. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Sirah Nabawiyah. Http://repository.Uin-Malang.ac.id/2455/3/2455, diunduh pada tanggal 27 Juli 2021.

Alamsyah, Yosef Asmat. Membumikan Sifat Rasul dalam Kepemimpinan Pendidikan. Jurnal Kependidikan Islam, Volume 7, Nomor 2, 2017.

Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. Sirah Nabawaiyyah ed Fery Irawan. Jakarta, Ummul Qura, 2011.

Al-Qur‟an dan terjemahannya. Bandung: Di Ponegoro, 2010.

Asmani, Jamal Ma‟ruf. Mereguk Kearifan Para Kiai. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2018.

Aziz, Ilhamda. Keteladanan Sifat Rasulullah Muhammad SAW dalam Etika Profesi Akuntan Publik. Jurnal Akuntansi, Volume 30 Nomor 5, 2020.

Bisri, K.H. A. Mustofa. Sajak-sajak Bumi Langit. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

B.S. Wachid, Abdul. Kumpulan Sajak Nun. Yogyakarta: Cinta Buku, 2018.

Defliani, Atikanuari. Nilai-nilai Religius dalam Kumpulan Puisi Karya Abdul Wachid B.S Kajian Semiotik. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume 6, Nomor 5, 2017.

Emzir. Metodologi Pendidikan: Kualitatif dan Kuantitatif. Depok: Rajawali Pers, 2017.

Hamid, Abd. Sirah Nabawiyah/Syaikh Syafiur Rahman. DIVA Press, Yogyakarta, 2021.

Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1998.

Rajid, Azis Abdul. Citra Ibu pada Puisi: dalam Pengembaraan Penyair Indonesia. Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, Nomor 2, 2008.

Rasyadi Khoiron. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Sakdiah. Karakteristik Kepemimpinan dalam Islam (Kajian Historis Filosofis) Sifat-sifat Rasulullah. Jurnal Al-Bayan , Volume 22 , Nomor 33, Januari-Juni 2016.

Jabrohim, dkk. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001.

Luxemburg, Jan Van, dkk. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa, 1989.

Musyrifin, Zaen. Implementasi Sifat Rasulullah. Jurnal Bimbingan Konseling Islam, Volume 11, Nomor 2, 2020.

Nafiudin. Memahami Sifat Nabi Muhammad SAW Perspektif Bisnis Syariah.

Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam, Volume 6, Nomor 2, 2018.

Pradopo,Rachmat Djoko. Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007.

Rajid, Abdul Azis. Citra Ibu pada Puisi: dalam Pengembaraan Penyair Indonesia (Jurnal Studi Gender dan Anak), Volume III Nomor 2, 2008.

Rohman, Saifur dan Emzir. Teori dan Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

Rokhmansyah, Alfian. Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014.

Sakdiah, Karakteristik Kepemimpinan dalam Islam (Kajian Historis Filosofis Islam) Sifat-sifat Rasulullah. Jurnal Al-Bayan, Volume 22, Nomor 33, 2016.

Sayuti, A. Suminto. Sastra dalam Perspektif Pembelajaran. Magelang: Indonesia Tera, 2002.

Suryabarta, Sumardi. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Rajadrafindo Persada, 1983.

Waluyo, J. Herman. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga, 1987.

Warsiman. Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis. Malang:

Universitas Brawijaya Press, 2016.

Zain, Labibah, dkk. Gus Mus: Satu Rumah Seribu Pintu. Jakarta: PT LkiS, 2009.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Bimbingan Skripsi

Lampiran 2 Lembar Pengesahan Uji Referensi Lampiran 3 Lembar Pengesahan Dosen Pembimbing Lampiran 4 Surat Persetujuan Dosen Pembimbing Lampiran 5 Surat Pernyataan Jurusan

Lampiran 6 Surat Pernyataan Karya Sendiri

Lampiran 7 Puisi “Aku Merindukanmu O, Muhammadku” Karya KH. A.

Mustofa Bisri dan Puisi “Rindu yang Meluap-luap” Karya Abdul Wachid B.S.

Lampiran 8 Riwayat Penulis

Lampiran 1 Surat Bimbingan Skripsi

Lampiran 1 Surat Bimbingan Skripsi

Lampiran 2 Lembar Pengesahan Uji Referensi

LEMBAR PENGESAHAN UJI REFERENSI

Nama : Ernanda Kartika Dewi NIM : 11140130000006

Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Judul : “Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia”

Pembimbing : Ahmad Bahtiar, M.Hum.

Halaman Halaman

No. Referensi dalam dalam Paraf

Referensi Skripsi

Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra

1. yang Humanis, (Malang: Universitas 1 1 Brawijaya Press, 2016)

2. Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi,

22 1

(Jakarta: Erlangga, 1987)

Abdul Azis Rajid, Citra Ibu pada Puisi:

3. Dalam Pengembaraan Penyair Indonesia

203-209 1

(Jurnal Studi Gender dan Anak, No.2 Vol. 3, 2008)

4. Al-Quran dan Terjemahannya, (Bandung:

420 2

Dipenegoro, 2010)

Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan

5. Pengajaran Sastra, (Jakarta: Rajawali Pers, 241 2 2016)

6. K.H. A. Bisri, Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi

48 3

Langit, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996)

7. Abdul Wahid B.S, Kumpulan Sajak Nun,

117-125 3

(Yogyakarta: Cinta Buku, 2018)

Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan:

8 Kualitatif dan Kuantitatif. (Depok: Rajawali 174-175 7 Pers, 2017)

9 Sumardi Suryabarta, Metodologi Penelitian,

75 7

(Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1983)

Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra

Jan Van Luxemburg, Mieke Bal, dan Willem

12. G. Weststeijn, Tentang Sastra, (Jakarta: 87 9 Intermasa, 1989)

Jabrohim, Suminto A. Sayuti, Chairul Slaeh,

13. Cara Menulis Kreatif, (Yogyakarta: Pusataka 32-33 10 Belajar, 2001)

Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi Panduan

14. untuk Pelajar dan Mahasiswa, (Jakarta: PT. 66 10 Gramedia Pustaka Utama, 2005)

15. Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi,

135-141 10 (Jakarta: Erlangga, 1987)

16. Alfian Rokhmansyah, Studi dan Pengkajian 16 13 Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu

Sastra, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014) Rachmad Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi,

17. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 167 18 2007)

K.H. A. Mustofa Bisri, Wekwekwek Sajak-

18. Sajak Bumi Langit, (Surabaya: Risalah Gusti, 48 21 1996)

19. Abdul Wachid B.S., Kumpulan Sajak Nun, 44 22 (Yogyakarta: Cinta Buku, 2018)

Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra

20. yang Humanis, (Malang: Universitas 4-5 23 Brawijaya Press, 2016)

Jamal Ma‟mur Asmani, Mereguk Kearifan

21. Para Kiai, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 164 27 2018)

Labibah Zain dan Lathiful Khuluq, Gus Mus:

22. Satu Rumah Seribu Pintu, (Jakarta: PT LkiS, 149 27 2009)

23.

Abdul Wachid B.S, Kumpulan Sajak Nun,

117 29

(Yogyakarta: Cinta Buku, 2018)

Atikanuari Defliani, Nilai-nilai Religius 24. Dalam Kumpulan Puisi Karya Abdul Wachid

5 32

B.S. Kajian Semiotik, (Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, No. 5 Vol. 6, 2017)

Alfian Rokhmansyah, Studi dan Pengkajian

25. Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra, 16 33 (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014)

26. Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi,

83 48

(Jakarta: Erlangga, 1987)

Jabrohim, Suminto A. Sayuti, Chairul Slaeh.

27. Cara Menulis Kreatif. (Yogyakarta: Pusataka 66 57 Belajar, 2001)

28. Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, 134 59 (Jakarta: Erlangga, 1987)

Sakdiah, Karakteristik Kepemimpinan dalam

29. Islam (Kajian Historis Filosofis Islam) Sifat- 34 60 sifat Rasulullah, (Jurnal Al-Bayan 2016, Vol.

22, No. 33)

30. K.H. A. Bisri. Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi

48 60

Langit, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996)

Nafiudin, Memahami Sifat Nabi Muhammad

31. SAW Perspektif Bisnis Syariah. (Jurnal Bisnis 117 61 dan Manajemen Islam 2018, Vol. 6, No. 2)

Zaen Musyrifin, Implementasi Sifat

32. Rasulullah. (Jurnal Bimbingan Konseling 155 63 Islam. 2020, Vol. 11 No. 2)

Yosef Asmat Alamsyah, Membumikan Sifat 33. Rasul dalam Kepemimpinan Pendidikan.

137-138 64 (Jurnal Kependidikan Islam, 2017 Vol. 7 No.

2)

34. Abdul Wahid B.S., Kumpulan Sajak Nun,

44 65

(Yogyakarta: Cinta Buku, 2018)

Ilhamda Aziz, Keteladanan Sifat Rasulullah 1146-

35. Muhammad SAW dalam Etika Profesi Akuntan 1147 65 Publik, (Jurnal Akuntansi 2020 Vol. 30 No. 5)

Suminto A.Sayuti, “Sastra dalam Perspektif

36. Pembelajaran”, dalam Riris K. Toha- 45 66 Sarumpet (ed.), Sastra Masuk Sekolah,

(Magelang: Indonesia Tera, 2002)

Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan

37. Pengajaran Sastra, (Jakarta: Rajawali Pers, 247 66 2016)

Lampiran 3 Lembar Persetujuan Dosen Pembimbing

SOSOK NABI MUHAMMAD DALAM PUISI INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA PADA PELAJARAN BAHASA

INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Disusun Oleh:

Ernanda Kartika Dewi NIM: 1114013000006

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Skripsi

Ahmad Bahtiar, M.Hum.

NIP. 19760118 200912 1 002

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2021

Lampiran 4 Surat Persetujuan Dosen Pembimbing untuk Sidang Skripsi

Lampiran 5 Surat Pernyataan Jurusan

Lampiran 6 Surat Pernyataan Karya Sendiri

Lampiran 7 Puisi “Aku Merindukanmu O, Muhammadku” Karya KH.

A. Mustofa Bisri dan Puisi “Rindu yang Meluap-luap”

Karya Abdul Wachid B.S.

“Aku Merindukanmu O, Muhammadku”

Karya KH. A. Mustofa Bisri

Aku merindukanmu O, Muhammadku

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah Menatap mataku yang tak berdaya

Sementara tangan-tangan perkasa Terus mempermainkan kelemahan

Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan Mencari-cari tangan

Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan Terus kudengar suara serutan Derita mengiris berkepanjangan Dan kepongahan tingkah-meningkah Telingaku pun kutelengkan

Berharap sesekali mendengar Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu O, Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan Menjulur-julur kesana kemari Mencari mangsa memakan korban Melilit bumi meretas harapan

Aku pun dengan sisa-sisa suaraku Mencoba memanggil-manggilmu O, Muhammadku, O, Muhammadku!

Dimana-mana sesama saudara Saling cakar berebut benar Sambil terus berbuat kesalahan

Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan Masing-masing mereka yang berkepentingan Aku pun meninggalkan mereka

Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu, O, Muhammadku

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab Menitis ke sekian banyak umatmu

O, Muhammadku - selawat dan salam bagimu

Bagaimana melawan gelombang kebodohan Dan kecongkaan yang telah tergayakan Bagaimana memerangi Umat sendiri?

O, Muhammadku

Aku merindukanmu, o, Muhammadku Aku sungguh merindukanmu

“Rindu yang Meluap-luap”

Karya Abdul Wachid

Mengapa yang kurasakan Rindu yang meluap-luap

Padahal cintaku padamu ya nabi Belum lagi kuterjemahkan Ketika ibu bapak

Memberi kebaikan dengan cinta Tidak perlu bertanya untuk apa Kebaikan ibu bapak

Memberi ruang kepercayaan

Cinta tidak perlu bertanya untuk apa Kebaikan ibu bapak

Kanyalah secercah cahaya

Cinta yang mereka terima darimu Mengapa yang kurasakan

Rindu yang meluap-luap Setiap kupandang kebaikan Setiap kusaksikan keindahan Cintaku kepadamu ya habib Tidak terlalu perlu diterjemahkan Cukuplah bagiku kurasakan Pada setiap tarikan nafasku Rindu yang meluap-luap Airmata membasuh hatiku Yang selalu berdebu

Lampiran 8

RIWAYAT PENULIS

Ernanda Kartika Dewi lahir di Jakarta, 8 Februari 1997 yaitu anak pertama dari Bapak Andri Touristiyanto, dan Ibu Endang Darwati. Penulis bertempat tinggal di Jalan Arthayasa Blok Tengki Gang Haji Rojalih RT 7/1 Nomor 6 Kelurahan Limo, Kecamatan Limo Kota Depok, Jawa Barat.

Penulis mengawali pendidikan TK Mlati Kidul, Kudus, Jawa Tengah pada tahun 2001 s.d 2002, melanjutkan pendidikan dasar MI Tarbiyatus Sibyah, Ketanggan, Gembong, Pati, Jawa Tengah pada tahun 2002 s.d 2005 dan SD Negeri 2 Mlati Kidul, Kudus, Jawa Tengah pada tahun 2005 s.d 2008, SMP Negeri 4 Nabire, Papua pada tahun 2008 s.d 2011, SMA Negeri 1 Nabire, Papua pada tahun 2011 s.d 2012, dan MA Pondok Pesantren Daarus Sa‟adah, Cipondoh, Tangerang pada tahun 2012 s.d 2014, serta menempuh pendidikan perguruan tinggi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dokumen terkait