• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metodologi Penelitian

3. Teknik Analisis Data

Analisis kualitatif deskriptif merupakan proses mereview dan memeriksa data, menyintesis dan mengiterpretasikan data yang terkumpul sehingga dapat menggambarkan dan menerangkan fenomena atau situasi sosial yang diteliti. Analisis ini bertujuan untuk membantu pembaca mengetahui yang terjadi dari obejek yang sedang dikaji.15 Analisis data pada penelitian ini meliputi analisis struktural puisi sosok Nabi Muhamad Saw. karya K.H. A.Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S. Analisis puisi diawali dengan menganalisis berdasarkan struktur fisik dan batin.

Selanjutnya dilakukan analisis intertekstual pada kedua puisi tersebut.

Penggambaran sosok Nabi Muhammad Saw. diuraikan kembali untuk mengetahui perkembangan Nabi Muhammad Saw. yang terkandung dari kedua puisi tersebut hingga diketahui implikasikannya pada pembelajaran sastra Indonesia di sekolah.

14Ibid., h.174

15Ibid., h. 241

A. Hakikat Puisi 1. Pengertian Puisi

Puisi memiliki arti yang beragam. Secara etimologi, puisi berasal dari bahasa Yunani, yaitu poeisis berarti pembuatan atau poeima yang artinya membuat. Puisi diartikan “membuat atau pembuatan” karena seseorang dianggap telah menciptakan suatu dunia tersendiri, melalui pembuatan puisi tersebut. Puisi dalam bahasa Inggris, disebut poem atau poetry. Dalam bahasa Arab puisi disebut syiir yang artinya pembicaraan yang berlirik dan berlarik.16

Warisman menjelaskan bahwa puisi yaitu karya sastra yang ciri khas tersendiri yang berbeda dengan karya sastra lainnya.17 Puisi sebagai karya sastra yang mengandung ide atau pokok dari suatu persolan baik itu perisitiwa, tokoh, sosok, benda yang ingin disampaikan penyair.18 Mengacu pada pendapat tersebut, maka dapat diketahui bahwa puisi yaitu karya sastra yang khas yang berisi pemikiran atau ide penyair yang diungkapkan dalam susunan kata yang indah.

Luxemburg mengungkapkan bahwa puisi dianggap sebagai informasi yang dipadatkan dengan susunan yang sebaik-baiknya. Hal tersebut diperkuat oleh Tolstoi dalam Luxemburg bahwa pada puisi memiliki teks yang lebih singkat, padat, dan sangat ekspresif. Kata-kata dalam puisi harus benar-benar padat, terpilih dan dapat dipahami pembaca. Oleh sebab itu, sajak (lirik) puisi sering kali merupakan teks yang singkat namun penuh dengan makna dan ungkapan yang kuat.19

16Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2016), h.20

17Ibid., h. 19

18Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan Pengajaran Sastra, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h.

241 19

Jan Van Luxemburg, Mieke Bal, dan Willem G. Weststeijn, Tentang Sastra, (Jakarta:

Intermasa, 1989), h. 87

1

Suminto A. Sayuti menjelaskan bahwa puisi yaitu hasil kreativitas manusia yang terwujud dalam susunan kata bermakna hasil dari imajinasi penyair.20 Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika puisi dibuat dengan menggunakan kata-kata kias (imajinatif) yang memiliki persamaan bunyi (rima). Kata-kata tersebut mewakili makna luas dan banyak.

Pada dasarnya puisi dibangun berdasarkan dua unsur penting, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Strutut fisik puisi dapat berupa bahasa yang digunakan dalam puisi.21 Adapun struktur batin (struktur makna) yaitu pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh penyair.22 Unsur-unsur tersebut secara keseluruhan meliputi imajinasi, emosi, dan bentuk yang khas yang merupakan kesatuan yang terjalin satu sama lain.

Berdasarkan berbagai pendapat yang sudah dijabarkan sebelumnya secara ringkas puisi dapat didefinisikan sebagai karya sastra mencerminkan ekspresi jiwa penyair, dibuat dalam susunan terbaik dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya dengan menggunakan bahasa indah.

2. Jenis-jenis Puisi

Puisi sebagai salah satu karya sastra memiliki jenis yang beragam.

Menurut Herman J. Waluyo mengklasifikasikan puisi sebagai berikut:23 a. Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang

hendak disampaikan:

1) Puisi Naratif

Puisi naratif yaitu jenis puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair tentang sesuatu secara sederhana dan langsung ditulis dalam wujud kata-kata. Beberapa bentuk puisi naratif yaitu epik, romansa, balada, dan syair. Epik yaitu puisi menggambarkan tentang kepahlawanan. Romansa yaitu puisi berisi

20Jabrohim, Suminto A. Sayuti, Chairul Slaeh, Cara Menulis Kreatif, (Yogyakarta: Pusataka Belajar, 2001), h. 32-33

21Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi Panduan untuk Pelajar dan Mahasiswa, (Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 66

22Ibid., h. 102

23Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1987), h.135-141

kisah percintaan dengan menggunakan bahasa romantis. Balada yaitu puisi tentang tokoh pujaan atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Syair yaitu puisi lama yang setiap bait terdiri dari empat baris yang berbunyi dan berakhiran sama.

2) Puisi Lirik

Puisi lirik mengungkapkan gagasan pribadi penyair. Menurut Atar Semi puisi lirik sangat pendek dan sederhana mengekspresikan emosi. Puisi lirik juga memiliki jenis berbeda yaitu ode, elegi, dan serenada. Ode yaitu puisi berisi pujaan terhadap sesuatu hal, sesuatu keadaan atau bahkan tokoh tertentu.

Elegi yaitu puisi ungkapan perasaan duka. Serenade yaitu sajak percintaan yang dapat dinyanyikan.

3) Puisi Deskriptif

Penyair sebagai pemberi kesan terhadap suatu keadaan atau peristiwa, benda, dan suasana yang dipandang menarik perhatian penyair berdasarkan puisi deskriptif. Beberapa jenis puisi deskriptif yaitu satire, kritik sosial, dan puisi impresionistik. Satire yaitu puisi berisi ungkapan tidak puas penyair terhadap sesuatu dalam bentuk sindiran. Penyair pada puisi kritik sosial menyatakan ketidaksukaan terhadap keadaan atau seseorang. Puisi impresionistik yaitu puisi yang mengungkapkan kesan impresif penyair terhadap suatu hal.

b. Berdasarkan pada suara atau tempat yang cocok untuk pembacaan dan jumlah pembaca yaitu:

1) Puisi Kamar

Puisi kamar yaitu puisi yang cocok dibaca sendiri tetapi juga dapat dilakukan dengan satu atau dua pendengar di dalam kamar.

2) Puisi Auditorium

Puisi auditorium sesuai jika dibacakan di auditorium yang jumlah pendengar puisi dapat mencapai ratusan orang.

c. Berdasarkan sifat atau isi yang dikemukakan di dalam puisi, yaitu:

1) Puisi Fisikal

Puisi fisikal yaitu puisi bersifat realistis yang menggambarkan kenyataan secara apa adanya.

2) Puisi Platonic

Puisi platonic berisi hal-hal bersifat spiritual atau kejiwaan mengungkapkan perasaan sayang pada kekasih atau keluarga dan pengungkapan ide hingga cita-cita.

3) Puisi Metafisikal

Puisi metafisikal yaitu puisi bersifat filosofis mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan Tuhan.

d. Berdasarkan cara menafsirkan makna puisi:

1) Puisi Diafan

Puisi diafan yaitu puisi yang sedikit menggunakan pengimajian, kata konkret, dan bahasa figuratif sehingga bahasa puisi mirip dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.

2) Puisi Gelap

Puisi gelap mempunyai banyak majas, lambang, kiasan sehingga sulit ditafsirkan.

3) Puisi Prismatic

Puisi prismatic memiliki banyak makna yang dapat ditelusuri oleh pembaca. Melalui puisi tersebut penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya.

e. Berdasarkan kandungan nilai keilmuan:

1) Puisi Parnasian

Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi.

2) Puisi Inspiratif

Puisi inspiratif dibuat berdasarkan pada mood atau passion penyair. Pada puisi tersebut penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi tersebut.

3) Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif

Puisi subyektif atau dikenal dengan puisi personal merupakan puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan dan suasana hati penyair. Puisi tersebut mengungkapkan keadaan jiwa dari penyair. Puisi obyektif atau dikenal dengan puisi impersonal merupakan jenis tersbut mengungkapkan hal-hal di luar dari penyair.

3. Unsur-unsur Puisi

Puisi yaitu karya sastra yang disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.24 Struktur fisik yaitu struktur yang tampak dan dapat dilihat secara langsung. Struktur fisik terdiri dari diksi, imaji, kata konkret, majas, versifikasi, dan tipografi.

a. Diksi

Diksi yaitu pilihan kata yang tepat, padat dan digunakan oleh penyair dalam puisi kaya akan makna. Diksi dipilih dengan cermat dan teliti yang mampu mempengaruhi imajinasi pembaca.25 Puisi tidak cukup dibuat jika hanya mengemukakan maksud. Puisi yang dibuat harus dapat dirasakan pembaca seperti hal yang dirasakan penyair. Oleh sebab itu, pemilihan diksi sangat penting dilakukan

24Ibid., h. 26-27

25Alfian Rokhmansyah, Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), h. 16

supaya kata-kata yang tertulis dalam puisi bisa menjangkau perasaan penyair.26

b. Imaji

Imaji yaitu susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seorang penyair. Melalui imaji pembaca seolah-olah dapat merasakan yang dirasakan oleh penyair memalaui alat indra mulai dari mendengar, melihat, mengecap dan meraba. Berdasarkan definisi tersebut imaji terdiri dari enam jenis yaitu imaji visual (penglihatan), imaji auditif (pendengaran), imaji kinestetik (gerakan), imaji termal atau taktil (rabaan), imaji penciuman, dan imaji pengecapan.27

Waluyo dalam Rokhmansyah menjelaskan bahwa imaji memiliki hubungan erat dengan diksi dan kata konkret. Pada pembuatan puisi, diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian. Hal tersebut karena kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa.28 Oleh sebab itu, seorang penyair harus mampu melakukan pemilihan dan jalinan kata hingga pembaca dapat merasakan hal yang dilukiskan (diimajikan) dalam puisi seperti melihat, merasakan,dan mendengar.

c. Kata Konkret

Kata konkret yaitu kata-kata dalam puisi yang dapat ditangkap atau dirasakan dengan indra. Kata konkret digunakan untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca.29 Oleh sebab itu, penting bagi penyair untuk mahir memperkonkret kata-kata sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal yang digambarkan penyair dalam puisi.

26Ibid., h. 15

27Ibid., h. 18-19

28Ibid., h. 16-17

29Ibid., h.41

d. Majas

Majas yaitu gaya bahasa yang digunakan penyair untuk menyampaikan atau mengungkapkan makna secara tidak langsung. Kata atau bahasa yang digunakan tersebut bermakna kias atau perlambangan makna.30 Bahasa kiasan mengiaskan, mempersamakan atau memperumpamakan sesuatu hal dengan hal lain. Hal tersebut dilakukan supaya puisi yang dibuat menjadi menarik dan hidup. Bahasa kias dalam puisi dapat dikelompokkan sebagai berikut:31

1. Perbandingan (Metafora dan Simile)

Metafora yaitu bentuk perbandingan yang bersifat implisit atau tersembunyi dibalik ungkapan harfiah. Sebaliknya simile yaitu bentuk perbandingan yang bersifat eksplisit. Similie ditandai oleh pemakaian unsur konstruksional yaitu seperti, sebagai, serupa, bagai, laksana, bagaikan, bak, dan ada kalanya.

2. Penggantian (Metonimi dan Sinekdoki)

Metonimi yaitu kiasan yang mengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang memiliki hubungan dekat dengan mengganti obyek tersebut. Sedangkan sinekdoki yaitu majas yang menyebutkan nama bagan sebagai pengganti nama keseluruhan, atau sebaliknya.

3. Pemanusiaan (Personifikasi)

Personifikasi yaitu pemberian sifat-sifat manusia pada suatu hal dalam puisi.

4. Hiperbola

Hiperbola yaitu kiasan yang dilebih-lebihkan atau berlebihan. Penggunaan majas tersebut karena penyair merasa perlu mendapat perhatian lebih saksama dari pembaca.

30Ibid., h.83

31Ibid., h.22-23

5. Alegori

Alegori yaitu cerita kiasan atau lukisan kiasan yang mengkiaskan hal atau kejadian lain.

e. Versifikasi

Versifikasi puisi terdiri dari ritma, metrum, dan rima. Ritma yaitu tingi-rendah, keras-lemahnya atau panjang-pendek bunyi. Ritma akan menonjol bila suatu puisi dibacakan. Metrum yaitu pengulangan tekanan kata yang tetap dan bersifat statis. Secara ringkas rima dapat didefinisikan sebagai pengulangan bunyi dalam puisi. Jika pengertian tersebut diperluas, maka dapat diketahui bahwa rima yaitu kesamaan atau kemiripan bunyi tertentu di dalam dua kata atau lebih, baik yang berposisi di akhir kata, maupun yang berupa perulangan bunyi yang sama yang disusun dengan jarak yang teratur.32

f. Tipografi

Tipografi yaitu pembeda yang paling awal yang dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa, fiksi dan drama. Baris-baris puisi tidak diawali dari tepi ketepi. Puisi juga tidak harus dipenuhi tulisan.

Berdasarkan dasar tersebut, maka muncul tipe atau bentuk puisi. Bentuk dan tipe puisi ini yang tidak lain yaitu tipografi.33

Unsur pembangun puisi selain disusun struktur fisik juga disusun struktur batin. Struktur batin yaitu makna yang terkandung dalam puisi.

Struktur tersebut tidak dapat diketahui secara langsung, melainkan harus melalui penghayatan. Struktur batin tersebut di antaranya:34

32Ibid., h. 90-94

33Ibid., h. 54-55

34Ibid., h. 102

1. Tema

Tema yaitu gagasan utama atau gagasan pokok puisi yang ingin disampaikan penyair.35 Puisi yang dibuat penyair pada umumnya berisi tentang keinginan dan tujuan dar penyair itu sendiri. Dapat dipahami bahwa puisi yaitu perwakilan terhadap apa yang ingin penyair capai. Oleh sebab itu, makna dan isi dari puisi harus dapat dipahami dan ditafsirkan pembaca supaya tahu hal yang diinginkan penyair dalam puisi. Adapun tujuan puisi berhubungan dengan pembaca supaya memahami isi serta pesan moral dari puisi.36

Tema puisi sangat berhubungan erat dengan pengarang. Tema tersebut dapat dipengaruhi oleh falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan, dan pendidikan dari penyair atau pengarang puisi.37 Beberapa contoh tema tersebut dapat berupa tema ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme/kebanggaan, dan keadilan sosial.38

2. Perasaan

Perasaan atau rasa dalam puisi yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang diangkat dalam puisi. Pengungkapan rasa tersebut berkaitan dengan latar belakang sosial, pendidikan, agama, usia, gender, strata sosial, pengalaman sosiologis, maupun psikologis.

Dengan demikian meskipun beberapa puisi memiliki tema yang sama, namun perasaan yang dihasilkan akan yang berbeda antara satu penyair dengan penyair lainnya hingga menghasilkan puisi yang berbeda pula.

35Herman J. Waluyo, op.cit., h. 106

36Alfian Rokhmansyah, op.cit., h.27

37Alfian Rokhmansyah, op.cit., h. 28

38Ibid., h. 107-118

3. Nada dan Suasana

Nada yaitu sikap penyair terhadap pembaca. Nada memiliki hubungan erat dengan tema dan rasa. Dalam menyampaikan puisi, penyair dapat menggunakan nada tertentu sesuai tema puisi. Nada tersebut dapat berupa menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, sombong, menganggap rendah pembaca dan lain sebagainya. Bahkan ada juga penyair yang menggunakan nada hanya tampak sedang bermain-main.39

Jika nada yaitu sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana yaitu keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi. Suasana tersebut sebagai dampak psikologis yang terjadi pada pembaca.40 Dapat dipahami bahwa pembaca dapat merasakan suasana yang ada dalam puisi tersebut bahkan hingga pembaca selesai membaca puisi. Puisi dianggap lebih hidup jika pembaca dapat merasakan suasana yang dihadirkan penyair dalam puisi tersebut.

4. Amanat

Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya. Pada amanat tersebut terdapat unsur pendidikan moral.41 Amanat sangat penting pada puisi, karena karya sastra selain berfungsi sebagai hiburan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan. Oleh sebab itu, pembaca juga harus cukup teliti untuk mengungkap apa yang hendak diamanatkan penyair dalam puisi.

39Ibid., h. 66

40Ibid., h. 66-67

41Ibid., h. 134

4. Kajian Intertekstual

Suatu karya sastra memiliki hubungan sejarah baik dengan karya yang sejaman, terdahulu atau masa mendatang. Hubungan sejarah tersebut dapat berupa persamaan atau pertentangan. Dalam hal ini hubungan sejarah antar teks itu, perlu diperhatikan prinsip intertekstualnya. Hubungan intertekstual dapat diartikan sebagai penataan berbagai teks-teks sastra yang kemudian dikombinasikan hingga menghasilkan karya baru. Hal tersebut karena pada dasarnya suatu karya sastra tercipta berdasarkan konvensi sastra. Menurut Riffaterre bahwa teks sastra yang menjadi latar pencipta karya sesudahnya itu disebut hipogram. 42

Meskipun suatu teks sastra menyerap unsur-unsur dari teks sastra lain hingga meghasilkan karya yang berbeda, akan tetapi karya yang dihasilkan tetap mencerminkan karya yang mendahuluinya. Sebuah teks sastra demikian dapat dipandang sebagai karya yang baru. Hal tersebut karena pengarang dengan kekuatan imajinasi, wawasan estetika, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu, gagasan, tentulah masih dapat dikenali.43

Hubungan intertekstual pada suatu karya sastra dapat dikaji pada kajian intertekstual. Kajian intertekstual dapat didefinisikan sebagai kajian terhadap sejumlah teks sastra yang diduga memiliki suatu bentuk hubungan tertentu. Mengacu pada definisi tersebut, dapat dipahami bahwa kajian intertekstual meliputi uji banding pada beberapa karya sastra tertentu.

Kajian tersebut dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan cara melakukan hubungan-hubungan bermakna pada beberapa teks karya puisi. Hubungan yang dikaji tidak sebatas pada persamaan teks karya tersebut tetapi juga pada pertentangan. Karya sastra dapat memiliki hubungan antarteks yang menjadi acuannya disebut hipogram (hypogram). Pradopo mengungkapkan bahwa hipogram yaitu karya sastra teks puisi menjadi latar karya sastra

42Rachmad Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), h. 167

43Ibid., h. 228

sesudahnya tersebut.44 Masuknya teks ke dalam teks lain yaitu hal biasa yang terjadi dalam karya sastra, karena pada dasarnya teks karya sastra sebagai bentuk absorpsi dan transformasi dari sejumlah teks lain.

5. Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad Saw. dilahirkan di Syi’b Bani Hasyim, Makkah. Saat itu adalah hari Senin pagi pada musim panas tanggal 9 Rabi‟ul Ula, 50-55 hari setelah kegagalan Abrahah menyerang Ka‟bah. Dalam bahasa Arab, kata gajah adalah “fil”, dan tahun tersebut dikenal dengan „Am al-Fil”

(Tahun Gajah). Dalam kalender Masehi, hari tersebut bertepatan dengan tanggal 22 April 571. Ketika Aminah sedang mengandung, dia mimpi bahwa seberkas cahaya memancar dari bagian bawah tubuhnya yang kemudian menyinarkan istana Syria. Ketika akan melahirkan, Syifa binti Amr, ibu Abdurrahman bin Auf yang menjadi bidan. Abdul Muthalib menerima berita kelahiran cucunya dengan gembira. Dia membawa bayi yang baru lahir tersebut ke Ka‟bah dan berdoa memohon berkat Allah Swt serta mengucapkan puji syukur. Percaya bahwa cucunya akan tumbuh dengan menuai banyak pujian, Abdul Muthalib memberi nama Muhammad yang berarti “orang yang mendapatkan pujian”. Demi menjaga tradisi Arab, Abdul Muthalib mencukur kepala bayi tersebut dan menyunatnya pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Setelah itu, Abdul Muthalib mengundang penduduk Makkah untuk menghadiri pesta besar yang diadakannya. Nabi Muhammad pertama kali disusui oleh ibunya, kemudian oleh Ummu Ayman budak ayahnya.45

44Ibid., h. 167

45Abd. Hamid, Sirah Nabawiyah/Syaikh Syafiur Rahman, (DIVA Press, Yogyakarta, 2021), h.

16

6. Karakter Nabi Muhammad Saw

Kajian sirah nabawiah Nabi Muhammad Saw. adalah sosok inspiratif sepanjang masa, bukan saja karena agama yang dibawanya namun sisi pribadinya yang memang bersahaja. Kebersahajaan yang dimiliki Nabi Muhammad Saw. bukanlah instan, namun merupakan proses panjang yang penuh tempaan sehingga mampu menjalankan misinya sebagai penutup para Nabi. Tempaan yang diterima Nabi Muhammad Saw. yang perlu ditelusuri kembali dan dimaknakan sebagai upaya eksplorasi nilai-nilai karakter Nabi Muhammad Saw. yang mampu untuk diikuti. Tempaan ini juga yang dijadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai modal dalam melaksanakan misi kenabiannya di usia 40 tahun. Hal ini berarti, usia sebelum 40 tahun, Nabi Muhammad Saw. hanya manusia biasa yang proses kehidupannya bisa dijadikan inspirasi. Tempaan before forty inilah yang perlu dihidupkan sebagai motivasi bahwa semua bisa mempunyai karakter matang selama mampu menghadapi berbagai jenis tempaan dan cobaan. Hal tersebut di atas dapat dipelajari melalui sirah Nabi Muhammad Saw. yang telah terbukti keotentikannya. Sirah menurut bahasa adalah sunnah, cara, jalan dan rincian kehidupan. Adapun secara terminologi adalah kumpulan berita yang diriwayatkan atau dikisahkan mengenai detail kehidupan Nabi Muhammad Saw. Sirah Nabi Muhammad Saw. mempunyai banyak keistimewaan sehingga semakin memudahkan kita untuk menggali dan mengeksplorasi berbagai hal yang terkait dengan sisi kehidupan beliau untuk dijadikan pijakan. Abu Yusuf menyatakan ada beberapa keistimewaan sirah Nabi Muhammad Saw. dibanding sirah lain, yaitu:

a. Sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai sirah yang paling absah dan otentik.

b. Kehidupan Nabi Muhammad Saw. sangat jelas sejak menikahnya orang tua beliau sampai wafatnya beliau.

c. Sirah Nabi Muhammad Saw. merupakan sirah manusia yang dimuliakan Allah dengan tidak mengeluarkannya dari sisi kemanusiaan.

d. Sirah Nabi Muhammad Saw. sangat menyeluruh meliputi sisi kehidupannya.

e. Sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai tanda kebenaran risalah dan kenabiannya.46

Al-Quran menjelaskan Nabi Muhammad Saw. sebagai manusia yang digambarkan sebagai seseorang yang senantiasa memiliki akhlak baik dan mulia. Akhlak dan sifat mulia tersebut yaitu sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Sidiq memiliki arti yaitu kebenaran atau kejujuran. Sebagai suri tauladan umat manusia, Nabi Muhammad Saw. dikenal selalu berbuat jujur baik dalam perktaan maupun perbuatannya. Dengan demikian maka akan mustahil bagi Nabi untuk berdusta atau melakukan hal tercela. Hal tersebut sesuai degan Al-Quran Surat An-Najm ayat 4-5 yang artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

Ucapannnya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”

Amanah yaitu dapat dipercaya. Sifat amanah Nabi Muhammad Saw.

selalu dianggap sebagai sosok yang bijak dapat diminta saran, nasihat dan pendapat oleh orang-orang di sekitarnya seperti ketika diminta memutuskan suatu perkara atau menjadi hakim. Hal tersebut karena apapun yang dilakukan oleh beliau sebagai hasil pertimbangan yang matang dan sesuai dengan Al-Quran Surat Al-A‟raf ayat 68 yang artinya: “Aku

menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan hanyalah pemberi nasihat yang dipercaya bagimu.”

46Isti‟anah Abu Bakar M.Ag Dosen FITK UIN Maliki Malang, Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Sirah Nabawiyah, http://repository.Uin-Malang.ac.id/2455/3/2455, diunduh pada tanggal 27 Juli 2021

Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang manajer sebagaimana karakter yang dimiliki Rasul yaitu sifat dapat dipercaya atau bertanggung

Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang manajer sebagaimana karakter yang dimiliki Rasul yaitu sifat dapat dipercaya atau bertanggung

Dokumen terkait