BAB IV PEMBAHASAN
2. Imaji
Imaji dapat didefinisikan sebagai susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seorang penyair. Imaji pada puisi bertujuan untuk mengajak pembaca supaya secara tidak langsung dapat melihat, mendengar dan merasakan seperti yang dilihat, didengar dan dirasakan penyair pada puisi yang diciptakannya.73 Berdasarkan definisi tersebut imaji yang akan dianalisis pada puisi dari penelitian ini terdiri dari imaji taktil, imaji visual, imaji auditif, imaji gustatif dan imaji olfaktif.
A. Imaji Taktil
Imaji taktil yang dianalisis pada puisi yaitu berupa citraan rabaan yang membuat pembaca seolah-olah dapat tersentuh atau bersentuhan melalui penggunaan indra kulit. Imaji taktil tersebut dapat ditemukan pada puisi K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul
“Aku Merindukanmu, O, Muhammadku”, pada kutipan puisi yang ditandai tebal sebagai berikut:
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu
Melalui diksi tersebut pembaca diajak oleh penyair untuk seolah-olah merasakan tangan lembut dari Nabi Muhammad Saw.
Penulis memahami maksud kutipan tersebut berupa penyair yang mencoba menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai seseorang yang lemah lembut diwakili oleh gambaran kelembutan tangannya.
Imaji taktil lainnya ditemukan pada kutipan berhurup tebal berikut:
Ribuan tangan gurita keserakahan Menjulur-julur kesana kemari Mencari mangsa memakan korban
73Ibid., h. 18-19
Melilit bumi meretas harapan Aku pun dengan sisa-sisa suaraku Mencoba memanggil-manggilmu
Melalui pilihan kata tersebut, penyair mengajak pembaca untuk seolah-olah merasakan adanya juluran tangan (tentakel) gurita dalam jumlah yang sangat banyak. Penulis memahami bahwa penyair memberikan penekanan dan kesan mendalam pada kutipan tersebut. Penekanan tersebut mengenai banyak tindakan korupsi yang terjadi di Indonesia. Selain itu, pada ungkapan “Melilit bumi meretas harapan” penyair seakan mengajak pembaca untuk merasakan suatu lilitan kencang dari suatu jeratan perangkap.
Makna dari lilitan tersebut dipahami penulis sebagai kondisi rakyat yang kesulitan untuk terbebas dari kesulitan yang mereka alami.
Imaji taktil lainnya ditemukan pada kutipan berhurup tebal berikut:
Dimana-mana sesama saudara Saling cakar berebut benar Sambil terus berbuat kesalahan
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan Masing-masing mereka yang berkepentingan Aku pun meninggalkan mereka
Pada kutipan tersebut pembaca seakan-akan diajak untuk merasakan langsung suatu perkelahian yang melibatkan cakaran.
Penulis memahami bahwa pada kutipan tersebut terdapat makna mendalam mengenai kuatnya tingkat perselisihan dari para politisi dalam memperjuangkan keyakinan dan pemikiran masing-masing.
Selain itu, penulis juga dapat menemukan imaji taktil pada kutipan berikut:
Kata “mengiris” pada kutipan tersebut membawa pembaca untuk merasakan luka perih atau sakit akibat suatu benda yang tajam. Pada kutipan tersebut pembaca seakan diajak oleh penyair untuk merasakan secara mendalam penderitan yang dialami oleh rakyat.
Selain itu, imaji taktil juga dapat ditemukan pada puisi Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap” pada kutipan puisi berhuruf tebal berikut:
Rindu yang meluap-luap Air mata membasuh hatiku Yang selalu berdebu
Yang selalu berdebu
Kata “membasuh” pada kutipan tersebut seolah-olah mengajak pembaca untuk merasa basah seperti tersiram air dalam jumlah banyak. Namun demikian yang dimaksud merasa basah yaitu hati atau perasaan dan bukan badan atau fisik. Penulis memahami bahwa pada kutipan tersebut terdapat ungkapan penyair yang mengalami kerinduan yang mendalam terhadap Nabi Muhammad Saw hingga menimbulkan keharuan.
B. Imaji Visual Muhammadku”, pada kutipan puisi bertanda tebal berikut:
Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan Lembut-wibawamu
Kutipan tersebut membawa pembaca untuk merasa seakan-akan benar menatap wajah seseorang. Adapun wajah yang dimaksud pada puisi tersebut yaitu wajah dengan ekspresi, sedih, kecewa atau lelah. Kutipan selanjutnya yaitu “menatap mataku yang tak berdaya” membuat pembaca untuk benar-benar merasa sedang ditatap oleh seseorang. Apabila dikaitkan dengan kutipan sebelumnya, maka yang menatap mata kita tersebut yaitu orang-orang yang berwajah sedih atau kecewa.
Selain itu, imaji visual juga dapat ditemukan pada puisi Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap” pada kutipan bertanda tebal berikut:
Mengapa yang kurasakan Rindu yang meluap-luap Setiap kupandang kebaikan Setiap kusaksikan keindahan
Pada kutipan tersebut pembaca seakan-akan diajak untuk memandang atau menyaksikan sesuatu yang baik. Sesuatu yang baik tersebut dapat berupa tindakan atau perilaku baik dari seseorang. Sebagai contoh melihat seseorang sedang menolong sesama dan lain sebagainya. Pada kutipan selanjutnya, pembaca seakan-akan diajak untuk melihat atau meyaksikan sesuatu yang indah. Sesuatu hal indah tersebut dapat berupa pemandangan, atau benda-benda indah menurut diri pembaca masing-masing.
C. Imaji Auditif
Imaji terakhir yang dianalisis yaitu imaji auditif. Melalui imaji tersebut pembaca akan diajak penyair untuk mersakan suara atau mendengar apa yang di dengar penyair pada puisinya. Pada puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku” yang hal tersebut dapat dilihat pada kutipan bergaris tebal berikut:
Dari dada-dada tipis papan
Melalui kutipan tersebut pembaca seolah-olah diajak untuk mendengar suara serutan kayu. Makna dari “suara serutan” tersebut yaitu suara yang dihasilkan dari papan kayu sebagai rakyat yang terluka oleh alat serutan yang dalam hal ini diartikan sebagai pemerintahan yang jahat atau korupsi.
Pada kutipan bertanda tebal selanjutnya pembaca seakan-akan diajak mendengar merdunya suara Nabi Muhammad Saw. Suara merdu dipahami penulis tidak hanya berupa suara atau bunyi, tetapi juga mewakili dari Nabi Muhammad Saw. Kutipan lain yang mengandung imaji auditif ditemukan pada kutipan bertanda tebal berikut:
Ribuan tangan gurita keserakahan Menjulur-julur kesana kemari Mencari mangsa memakan korban Melilit bumi meretas harapan Aku pun dengan sisa-sisa suaraku Mencoba memanggil-manggilmu
Melalui kutipan tersebut pembaca seakan-akan diajak untuk mendengarkan penyair yang memanggil-mangil seseorang dalam hal ini yaitu Nabi Muhammad Saw dengan suara yang lemah. Kata
“sisa suaraku” dipahami penulis sebagai penekanan penyair yang sedang berusaha keras mencoba mendekatkan diri pada hal-hal spiritual yang tidak lain yaitu Nabi Muhammad Saw. Adapun untuk puisi Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”
penulis tidak menemukan imaji auditif.
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui pula bahwa penulis tidak menemukan imaji olfaktif dan imaji gustatif baik pada puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O Muhammadku”, dan puisi karya Abdul Wachid B.S. dengan judul
“Rindu yang Meluap-luap”.