SOSOK NABI MUHAMMAD DALAM PUISI INDONESIA SERTA IMPLIKASINYA PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Disusun Oleh:
ERNANDA KARTIKA DEWI
11140130000006
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2021
Pelajaran Bahasa Indonesia” disusun oleh Ernanda Kartika Dewi, Nomor Induk Mahasiswa:
11140130000006, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam ujian Munaqasah pada tanggal 27 Juli 2021, dihadapan dewan penguji. Oleh karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jakarta, 27 Juli 2021
Panitia Ujian Munaqasah
Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Prodi) Tanggal Tanda Tangan Dr. Makyun Subuki, M.Hum 10 Agustus 2021
NIP. 198003052009011015
Sekretaris (Sekretaris Jurusan/Prodi)
Novi Diah Haryanti, M.Hum 10 Agustus 2021 NIP. 198411262015032007
Penguji 1
Rosida Erowati, M.Hum. 9 Agustus 2021 NIP. 197710302008012009
Penguji 2
Novi Diah Haryanti, M.Hum. 10 Agustus 2021 NIP. 198411262015032007
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Dr. Sururin, M.Ag., NIP. 19710319 199803 2 001
i
IMPLIKASINYA PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Disusun Oleh:
Ernanda Kartika Dewi NIM: 1114013000006
Menyetujui,
Dosen Pembimbing Skripsi
Ahmad Bahtiar, M.Hum.
NIP. 19760118 200912 1 002
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021
ii
Skripsi berjudul “Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia” disusun oleh:
Nama : Ernanda Kartika Dewi NIM : 11140130000006
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Telah melalui bimbingan dan dinyatakan lulus sebagai karya ilmiah yang berhak diajukan pada sidang munaqasah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 28 Juni 2021 Yang Mengesahkan
Ahmad Bahtiar, M.Hum.
NIP. 19760118 200912 1 002
iii
iv
UJI REFERENSI
Seluruh referensi yang digunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul “Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia” disusun oleh Ernanda Kartika Dewi, NIM: 11140130000006, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, telah diuji kebenarannya oleh dosen pembimbing skripsi pada tanggal 28 Juni 2021.
Jakarta, 28 Juni 2021 Dosen Pembimbing Skripsi
Ahmad Bahtiar, M.Hum.
NIP. 19760118 200912 1 002
v
ABSTRAK
Ernanda Kartika Dewi, NIM 11140130000006 “Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia”, Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing: Ahmad Bahtiar, M.Hum. 2021.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur fisik dan batin puisi KH. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O Muhammadku”, dan Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap.” Tujuan lainnya yaitu untuk Mendeskripsikan implikasi dan kesesuaian kedua puisi tersebut terhadap pembelajaran bahasa di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Adapun di dalamnya terdapat analisis struktural yang mencakup analisis pada struktur fisik: diksi, imaji, kata konkret, majas, dan versifikasi. Analisis juga dilakukan pada struktur batin meliputi: tema, nada, perasaan, dan amanat. Hasil analisis sosok Nabi Muhammad dari kedua puisi tersebut menunjukkan bahwa sosok Nabi Muhammad digambarkan sebagai sosok manusia ideal yang memiliki perilaku dan sikap yang terpuji. Selanjutnya karena perilaku dan sikap terpuji inilah yang menjadikan sosok Nabi Muhammad sebagai sosok yang senantiasa dirindukan dan dicintai umatnya. Pada pembelajaran sastra Indonesia, analisis kedua puisi tersebut dapat diimplikasikan sebagai bahan pembelajaran dalam memahami unsur intrinsik dan isi puisi.
Kata kunci: Puisi, Nabi Muhammad Saw., KH. A. Mustofa Bisri, Abdul Wachid B.S.
vi
ABSTRACT
Ernanda Kartika Dewi, NIM 11140130000006 “The Figure of the Prophet Muhammad in Indonesian Poetry and Implications for Class Indonesian”, Language Departement of Indonesia Language and Literature, A Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Syarif Hidayatullah State Islamic
University Jakarta. Ahmad Bahtiar, M.Hum. 2021. .
This study aims to explain the physical and mental structure of Mustofa Bisri's poetry with the title "I Miss You O Muhammadku", and Abdul Wachid with the title "The Overabundance of Rindu." Another objective is to describe the implications and suitability of the two poems for language learning in schools.
The method used in this research is qualitative method. In it there is a structural analysis which includes analysis of the physical structure: diction, image, concrete words, figure of speech, and versification. Analysis is also carried out on the inner structure including: theme, tone, feeling, and message. The results of the analysis of the figure of the Prophet Muhammad from the two poems show that the figure of the Prophet Muhammad is described as an ideal human figure who has commendable behavior and attitudes. Furthermore, because of this praiseworthy behavior and attitude, the figure of the Prophet Muhammad is a person who is always missed and loved by his people. In learning Indonesian literature, the analysis of the two poems can be implied as learning materials in understanding the intrinsic elements and content of the poetry.
Keywords : Poetry, Nabi Muhammad Saw., KH. A. Mustofa Bisri, Abdul Wachid B.S.
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt yang selalu melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Solawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, sahabat, tabi‟in, dan para pengikutnya yang selalu setia menjalankan ajaran-ajaran agama Islam.
Penulisan skripsi ini bukan sekedar pemenuhan tugas kebutuhan akhir sebagai mahasiswa untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun demikian, penulisan skripsi ini merupakan pembuktian penulis sebagai mahasiswa mampu menulis sebuah karya ilmiah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan kepada penulis baik semasa perkuliahan maupun semua penyelesaian tugas akhir ini. Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Sururin, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Makyun Subuki, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
3. Novi Diah Haryanti, M.Hum selaku Sekretaris Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
4. Ahmad Bahtiar, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi.
5. Dr. Makyun Subuki, M.Hum., selaku Dosen Penasehat akademik yang selalu memberikan saran dalam menjalankan perkuliahan.
viii
6. Rosida Erowati, M.Hum., dan Novi Diah Haryanti, M.Hum., selaku Dosen Penguji skripsi.
7. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pemahaman selama proses perkuliahan.
8. Pimpinan dan staf perpustakaan utama serta perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
9. Anak tercinta Ali Yusuf Kareem, suami tercinta Assip Teris Sulistiwanto, mama, papa, keluarga besar dari suami tercinta yang selalu memberikan dukungan, doa, motivasi luar biasa kepada penulis, dan membantu penulis dalam keadaan apapun.
10. Keluarga Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang senantiasa saling memberikan pembelajaran serta pengalaman berarti.
11. Semua teman seperjuangan Praktik Profesi Keguruan Terpadu (PPKT) di SMA Muhammadiyah 8 Ciputat.
Penulis sangat berharap supaya skripsi ini bermanfaat untuk semua pihak khusus para pembaca yang menggeluti bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jakarta, 28 Juni 2021
Ernanda Kartika Dewi
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG ... i
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iv
UJI REFERENSI ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah... 6
C. Pembatasan Masalah... 6
D. Rumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 7
1. Manfaat Teoretis ... 7
2. Manfaat Praktis ... 8
G. Metodologi Penelitian ... 8
1. Sumber Data ... 8
2. Teknik Pengumpulan Data... 9
3. Teknik Analisis Data ... 9
BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Puisi ... 1
1. Pengertian Puisi ... 1
2. Jenis-jenis Puisi ... 2
3. Unsur-unsur Puisi ... 5
4. Kajian Intertekstual ... 11
x
5. Kelahiran Nabi Muhammad Saw ... 12
6. Karakter Nabi Muhammad Saw ... 13
7. Pembelajaran Sastra ... 19
B. Penelitian Relevan... 22
BAB III PENGARANG DAN PANDANGANNYA A. Biografi K.H. A. Mustofa Bisri ... 1
1. Riwayat Hidup ... 1
2. Karya-karya... 2
3. Pandangan ... 2
B. Biografi Abdul Wachid B.S ... 3
1. Riwayat Hidup ... 3
2. Karya-karya... 5
3. Pandangan ... 6
BAB IV PEMBAHASAN A. Analisis Struktur Fisik Puisi ... 1
1. Diksi ... 1
2. Imaji ... 7
3. Kata Konkret ... 12
4. Majas ... 15
5. Verifikasi ... 20
B. Analisis Struktur Batin Puisi ... 23
1. Tema ... 23
2. Nada ... 25
3. Perasaan ... 26
4. Amanat ... 27
C. Aspek Kepemimpinan Nabi Muhamamad Saw ... . .. 28
D. Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Karya Mustofa Bisri dan Abdul Wachid ... 30
1. Sidiq ... 30
2. Amanah ... 31
3. Tabliqh ... 33
4. Fathonah ... 34
xi
E. Kesesuaian Puisi-puisi Karya Mustofa Bisri dan Abdul Wachid pada Pembelajaran Puisi di Sekolah ... 36 BAB V PENUTUP
A. Simpulan ... 1 B. Saran ... 2 DAFTAR PUSTAKA
xii
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra sebagai cabang seni, keberadaannya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pada dasarnya, setiap langkah atau berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan oleh manusia tidak pernah terlepas dari pengaruh sastra.1 Salah satu bentuk karya sastra yaitu puisi. Puisi yaitu karya sastra yang memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan karya sastra lain.2 Puisi termasuk karya sastra yang bersifat imajinatif dan memiliki makna mendalam.3 Puisi yang diciptakan dapat memiliki berbagai macam tema yang dapat diangkat contoh tema kemanusiaan, patriotisme, atau ketuhanan.4 Berdasarkan tema tersebut objek yang diceritakan dalam puisi dapat beragam, yaitu berupa sosok pahlawan, keluarga dan lain sebagainya. Contoh judul puisi yaitu puisi
“Portrait d’une Femme” karya Ezra Pound yang mengambil tema tentang wanita sebagai sosok patriot. Contoh puisi lain yaitu puisi karya D. Zawawi Imron dengan judul Ibu yang menjadikan sosok ibu sebagai objek pada puisi.5
Pada penelitian ini, penulis tertarik mengangkat sosok atau tokoh penting dalam Islam. Penulis sebagai umat Islam merasa perlu untuk melakukan penelitian terhadap sosok atau tokoh tersebut sebagai bentuk kecintaan penulis terhadap agama Islam. Tokoh yang dirasa penting oleh penulis yaitu Nabi besar Muhammad Saw. Penulis tertarik tentang sosok Nabi Muhammad Saw. karena beliau yaitu makhluk mulia pilihan Allah untuk menerima wahyu sebagai Rasul terakhir, dan sebagai suri tauladan bagi semua umat islam. Sosok Nabi Muhammad Saw. dalam puisi sangat sesuai, hal tersebut berkaitan dengan budi pekerti beliau yang dapat dijadikan contoh sehingga puisi tidak hanya menjadi
1Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2016), h. 1
2Ibid., h. 19
3Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1987), h. 22
4Ibid., h. 107-118
5Abdul Azis Rajid, Citra Ibu pada Puisi dalam Pengembaraan Penyair Indonesia (Jurnal Studi Gender dan Anak, No.2 Vol. 3, 2008), h. 203-209
1
media penyalur ide tulisan kreatif untuk dibaca tetapi juga dapat menyampaikan pesan-pesan moral yang baik bagi pembaca.
Nabi Muhammad Saw. yaitu contoh sosok manusia yang berahlak baik dan mulia. Hal tersebut sesuai dengan Al-Qur‟an surat Al-Ahzab ayat 21,
“sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.6 Akhlak dan sifat mulia tersebut yaitu sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fatonah (cerdas). Oleh sebab itu, maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw. pada keseharian dikenal selalu berbuat jujur, sopan, dan berbudi pekarti luhur.
Akhlak dan sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad Saw. menjadikan beliau sebagai sosok yang dicintai umatnya. Ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Saw. dapat berupa doa dan pujian yang tertuang dalam bentuk shalawat. Bahkan ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Saw. juga dapat tertuang pada karya sastra seperti syair dan puisi.
Sosok Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah puisi yaitu visualisasi atau gambaran mengenai Nabi dalam suatu karya sastra. Melalui kata, frasa, atau kalimat yang tertulis didalam karya sastra puisi, pembaca seakan mengenal dan berhadapan langsung dengan sosok Nabi Muhammad Saw.
Puisi yaitu karya sastra yang mengandung ide atau pokok dari suatu persolan baik itu perisitiwa, tokoh, sosok, benda yang ingin disampaikan penyair.7 Puisi yang diciptakan para penyair mampu menampilkan gambaran sosok tertentu, termasuk sosok Nabi Muhammad Saw. Titik awal penulisan puisi umumnya berasal dari pengalaman spiritual, emosional dan intelektual dari penyair tentang sosok yang dihadirkan dalam karyanya, yang dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw.
6Al-Quran dan Terjemahannya, (Bandung: Di Ponegoro, 2010), h. 420
7Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan Pengajaran Sastra, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h.
241.
Berdasarkan hasil studi literatur dapat diketahui bahwa karya sastra puisi dengan tema Nabi Muhammad Saw. masih sangat jarang di Indonesia.
Beberapa puisi dengan tema Nabi Muhammad Saw. di antaranya telah dibuat oleh K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”, dan Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap- Luap”. Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa kedua puisi tersebut belum banyak diteliti atau dikaji. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk meneliti kedua karya puisi tersebut.
Nilai profetik adalah realitas abstrak yang terdapat pada sifat-sifat kenabian sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, yang diimplementasikan ke dalam amar ma’rûf (humanisasi), nahî munkar (liberasi), dan tu’minuna billah (transendensi). Ketiga muatan nilai itu mempunyai implikasi yang sangat mendasar dalam rangka membingkai kelangsungan hidup manusia yang lebih humanistik.8 Profetik adalah kenabian atau suatu sifat, perilaku, dan ucapan yang ada pada Nabi Muhammad Saw.
Bahwa Nabi Muhammad Saw. memiliki sifat yang mulia dalam berperilaku maupun berucap. Selain itu, Nabi Muhamamd Saw. merupakan tokoh pembebas dari segala hal, seperti kekerasan, kebodohan, dan kemiskinan.
Berdasarkan perilaku yang dimiliki seorang Nabi Muhammad Saw., dapat menjadi contoh dalam menumbuhkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.
Istilah profetik diperkenalkan Kuntowijoyo melalui konsep Ilmu Sosial Profetik. Bagi Kuntowijoyo, Ilmu Sosial Profetik (ISP) tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tapi juga memberi petunjuk kearah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan untuk siapa. Karena itu, ilmu sosial profetik bukan sekedar mengubah berdasarkan citacita etik dan profetik saja. Dalam pengertian ini, ilmu sosial profetik secara sengaja memuat kandungan nilai dari cita-cita yang diidamkan masyarakatnya.9
8Khoiron Rasyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 304
9Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 1998), h. 289
K.H. A. Mustofa Bisri atau yang dikenal sebagai Gus Mus lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1944. Selain dikenal sebagai politisi dan ulama, Gus Mus juga dikenal sebagai penyair. Salah satu karya sastra beliau yang mengangkat tentang sosok Nabi Muhammad Saw yaitu puisi dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”. Kerinduan dan kecintaan pada sosok Nabi Muhammad Saw. yaitu latar belakang dari diciptakan puisi tersebut.10
Sedangkan Abdul Wachid B.S. yaitu penyair kelahiran Lamongan, Jawa Timur 7 Oktober 1966. Salah satu karya sastra yang dibuat oleh beliau yaitu puisi “Rindu yang Meluap-Luap” mengangkat tema tentang sosok Nabi Muhammad Saw.11 Hasil observasi menunjukkan bahwa pembuatan puisi ini dilatarbelakangi oleh rasa rindu penyair terhadap sosok Nabi Muhammad Saw.
Puisi yang ditulis oleh kedua penyair tersebut memiliki kesamaan. Kedua penyair tersebut sama-sama menyampaikan dan mengangkat sosok Nabi Muhammad Saw. dalam puisinya. Persamaan lain yaitu sama-sama secara signifikan menyampaikan atau memberi gambaran tentang kerinduan pada sosok Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna melihat dan menganalisis perbandingan dari kedua karya tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para guru di sekolah dapat diketahui bahwa peserta didik dikenalkan pada berbagai ragam bentuk sastra.
Ragam sastra berupa puisi dan drama. Menurut para guru, peserta didik cenderung menunjukkan minat rendah pada pembelajaran puisi dibandingkan dengan drama. Hal tersebut karena pembelajaran sastra puisi dianggap membosankan. Berdasarkan hal ini, maka penulis mencoba meneliti pembelajaran puisi untuk mengetahui lebih jelas mengenai permasalahan tersebut.
10K.H. A. Bisri, Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi Langit, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 48
11Abdul Wahid B.S, Kumpulan Sajak Nun, (Yogyakarta: Cinta Buku, 2018), h. 117-125
Dewasa ini, puisi K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”, dan Abdul Wachid B.S. dengan judul
“Rindu yang Meluap-Luap”, dapat dijadikan bahan dalam pembelajaran sastra Indonesia di lingkungan sekolah. Sangat disayangkan bahwa hingga sekarang pengetahuan siswa dalam hal sastra terutama tentang penyair-penyair Indonesia dan karya-karyanya masih kurang dan terbatas. Selain itu, puisi-puisi yang mengangkat tentang sosok Nabi Muhammad Saw. masih belum banyak dibuat ataupun diperkenalkan di sekolah. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini diharapkan dapat menjadi wadah dalam memperkenalkan penyair-penyair Indonesia khusus K.H. A. Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S. beserta karya puisinya tentang sosok Nabi Muhammad Saw.
Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa pada pembelajaran sastra di sekolah, penggunaan puisi karya KH. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S. menimbulkan minat belajar yang baik. Peserta didik cenderung tertarik pembelajaran ketika puisi dari kedua penyair tersebut diberi contoh cara membaca saat proses belajar berlangsung di kelas.
Selain itu, puisi-puisi yang mengambil tema tentang sosok Nabi Muhammad Saw. masih belum banyak dibuat atau diperkenalkan di sekolah.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini diharapkan dapat menjadi wadah dalam memperkenalkan para penyair Indonesia seperti KH. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S. beserta karya puisi masing-masing tentang sosok Nabi Muhammad Saw.
Analisis sosok Nabi Muhammad Saw. dalam pembelajaran sastra puisi juga dapat memudahkan siswa dalam mempelajari sosok Nabi Muhammad Saw. Metode tersebut dapat menjadi cara menarik bagi siswa dalam mempelajari sosok dan perilaku dari Nabi Muhammad Saw. Hal tersebut karena pada umumnya siswa memperoleh pengetahuan tentang sosok Nabi Muhammad Saw. hanya dari pelajaran atau pendidikan agama.
Selain itu, puisi yang mengangkat sosok Nabi Muhammad Saw.
mengandung nilai-nilai ketuhanan sehingga dapat menjadi contoh positif yang dapat diterapkan pada pembelajaran sastra Indonesia di sekolah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Nabi Muhammad Saw. yaitu contoh suri
teladan yang baik. Berdasarkan hal tersebut, maka penyampaian sosok beliau melalui puisi secara tidak langsung dapat mengajarkan atau mendidik para siswa agar mereka bisa mengambil contoh perilaku yang baik dari sosok Nabi Muhammad Saw.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah dalam penelitian ini meliputi:
1. Para siswa kurang pengetahuan mengenai penyair-penyair Indonesia khusus K.H. A. Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S.
2. Kurang keberadaan puisi yang mengangkat sosok Nabi Muhammad Saw.
3. Kurang keberadaan puisi-puisi di sekolah yang memperkenalkan sosok Nabi Muhammad Saw.
4. Belum ada penelitian yang mengkaji puisi tema Nabi Muhammad Saw.
oleh K.H. A. Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S.
5. Belum ada penelitian mengenai Nabi Muhammad Saw. dalam puisi Indonesia serta implikasi pada pelajaran bahasa Indonesia.
C. Pembatasan Masalah
Peneliti mengambil pemasalahan tersebut menjadi sebuah skripsi dengan judul “Sosok Nabi Muhammad dalam Puisi Indonesia serta Implikasinya pada Pelajaran Bahasa Indonesia”. Penelitian ini disusun supaya terarah sehingga tidak keluar dari permasalahan yang sedang diteliti. Penulis hanya terfokus pada kajian tentang puisi Indonesia menggambarkan sosok Nabi Muhammad Saw. dan implikasi dari puisi tersebut pada pelajaran bahasa Indonesia.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan batasan masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi:
1. Bagaimana sosok Nabi Muhammad Saw. dalam puisi Indonesia karya K.H. A. Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S.?
2. Bagaimana implikasi puisi Indonesia karya K.H. A.Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S. dengan tema sosok Nabi Muhammad Saw. terhadap pembelajaran sastra Indonesia di sekolah?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian dalam penelitian ini meliputi:
1. Mendeskripsikan sosok Nabi Muhammad Saw. yang tergambar dalam puisi karya K.H. A. Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S.
2. Mendeskripsikan implikasi kedua puisi tersebut terhadap pelajaran bahasa di sekolah.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Berdasarkan adanya penelitian ini, peneliti berharap hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat.
a. Hasil penelitian dapat menambah informasi terbaru terkait penyair- penyair Indonesia dan karya-karyanya.
b. Penelitian ini diharapakan dapat menjadi sumber referensi bagi mahasiswa peneliti lain untuk melakukan penelitian dengan topik yang sama.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru bahasa Indonesia hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan tambahan pembelajaran bahasa Indonesia mengenai sosok Nabi Muhammad Saw. dalam beberapa puisi Indonesia dari contoh dua penyair yaitu K.H. A. Mustofa Bisri dan Abdul Wachid B.S.
b. Bagi para siswa dapat membantu menganalisis jenis-jenis puisi tema agama Islam.
c. Bagi peneliti membantu memahami makna yang terkandung dari tujuan isi puisi.
G. Metodologi Penelitian
Penelitian ini yaitu penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif.
Penelitian jenis ini menyajikan data dalam bentuk deskripsi yang diperoleh dengan cara mencatat dan wawancara.12 Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deksriptif dilakukan dengan tujuan untuk membuat data secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat dari suatu populasi atau sampel yang diamati. Berdasarkan definisi tersebut dapat dipahami bahwa penelitian jenis ini beperan dalam menghasilkan suatu uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, atau perilaku yang sedang diamati dari suatu individu, masyarakat, atau organisasi tertentu. Data yang dikumpulkan dapat berupa kata-kata atau gambar dan bukan bukan berupa angka.13
1. Sumber Data
Sumber data pada penelitian dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer pada penelitian ini diperoleh dari buku di antaranya buku Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi Langit yang diterbitkan Risalah Gusti tahun 1996, dan Kumpulan Sajak Nun yang diterbitkan Cinta Buku pada tahun 2018. Adapun sumber data sekunder pada penelitian ini yaitu literatur dari buku, jurnal, artikel online, dan esai yang berhubungan dengan topik yang diteliti.
12Emzir, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kualitatif dan Kuantitatif. (Depok: Rajawali Pers, 2017), h 174-175
13Sumardi Suryabarta, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1983), h. 75
2. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka yang dilanjutkan dengan teknik simak dan catat. Studi pustaka dilakukan dengan cara mengumpulkan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengolah bahan penelitian.14 Data pustaka yang digunakan bersifat siap pakai (ready-made) yang artinya peneliti hanya berhadapan langsung dengan data yang tersedia di perpustakaan. Selanjutnya dilakukan teknik simak dengan cara menyimak penggunaan dan pemakaian bahasa dari ketiga puisi sebagai data primer dalam penelitian. Informasi yang dihasilkan dari teknik menyimak, dan dicatat.
3. Teknik Analisis Data
Analisis kualitatif deskriptif merupakan proses mereview dan memeriksa data, menyintesis dan mengiterpretasikan data yang terkumpul sehingga dapat menggambarkan dan menerangkan fenomena atau situasi sosial yang diteliti. Analisis ini bertujuan untuk membantu pembaca mengetahui yang terjadi dari obejek yang sedang dikaji.15 Analisis data pada penelitian ini meliputi analisis struktural puisi sosok Nabi Muhamad Saw. karya K.H. A.Mustofa Bisri, dan Abdul Wachid B.S. Analisis puisi diawali dengan menganalisis berdasarkan struktur fisik dan batin.
Selanjutnya dilakukan analisis intertekstual pada kedua puisi tersebut.
Penggambaran sosok Nabi Muhammad Saw. diuraikan kembali untuk mengetahui perkembangan Nabi Muhammad Saw. yang terkandung dari kedua puisi tersebut hingga diketahui implikasikannya pada pembelajaran sastra Indonesia di sekolah.
14Ibid., h.174
15Ibid., h. 241
A. Hakikat Puisi 1. Pengertian Puisi
Puisi memiliki arti yang beragam. Secara etimologi, puisi berasal dari bahasa Yunani, yaitu poeisis berarti pembuatan atau poeima yang artinya membuat. Puisi diartikan “membuat atau pembuatan” karena seseorang dianggap telah menciptakan suatu dunia tersendiri, melalui pembuatan puisi tersebut. Puisi dalam bahasa Inggris, disebut poem atau poetry. Dalam bahasa Arab puisi disebut syiir yang artinya pembicaraan yang berlirik dan berlarik.16
Warisman menjelaskan bahwa puisi yaitu karya sastra yang ciri khas tersendiri yang berbeda dengan karya sastra lainnya.17 Puisi sebagai karya sastra yang mengandung ide atau pokok dari suatu persolan baik itu perisitiwa, tokoh, sosok, benda yang ingin disampaikan penyair.18 Mengacu pada pendapat tersebut, maka dapat diketahui bahwa puisi yaitu karya sastra yang khas yang berisi pemikiran atau ide penyair yang diungkapkan dalam susunan kata yang indah.
Luxemburg mengungkapkan bahwa puisi dianggap sebagai informasi yang dipadatkan dengan susunan yang sebaik-baiknya. Hal tersebut diperkuat oleh Tolstoi dalam Luxemburg bahwa pada puisi memiliki teks yang lebih singkat, padat, dan sangat ekspresif. Kata-kata dalam puisi harus benar-benar padat, terpilih dan dapat dipahami pembaca. Oleh sebab itu, sajak (lirik) puisi sering kali merupakan teks yang singkat namun penuh dengan makna dan ungkapan yang kuat.19
16Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2016), h.20
17Ibid., h. 19
18Emzir dan Saifur Rohman, Teori dan Pengajaran Sastra, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h.
241 19
Jan Van Luxemburg, Mieke Bal, dan Willem G. Weststeijn, Tentang Sastra, (Jakarta:
Intermasa, 1989), h. 87
1
Suminto A. Sayuti menjelaskan bahwa puisi yaitu hasil kreativitas manusia yang terwujud dalam susunan kata bermakna hasil dari imajinasi penyair.20 Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika puisi dibuat dengan menggunakan kata-kata kias (imajinatif) yang memiliki persamaan bunyi (rima). Kata-kata tersebut mewakili makna luas dan banyak.
Pada dasarnya puisi dibangun berdasarkan dua unsur penting, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Strutut fisik puisi dapat berupa bahasa yang digunakan dalam puisi.21 Adapun struktur batin (struktur makna) yaitu pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh penyair.22 Unsur-unsur tersebut secara keseluruhan meliputi imajinasi, emosi, dan bentuk yang khas yang merupakan kesatuan yang terjalin satu sama lain.
Berdasarkan berbagai pendapat yang sudah dijabarkan sebelumnya secara ringkas puisi dapat didefinisikan sebagai karya sastra mencerminkan ekspresi jiwa penyair, dibuat dalam susunan terbaik dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya dengan menggunakan bahasa indah.
2. Jenis-jenis Puisi
Puisi sebagai salah satu karya sastra memiliki jenis yang beragam.
Menurut Herman J. Waluyo mengklasifikasikan puisi sebagai berikut:23 a. Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang
hendak disampaikan:
1) Puisi Naratif
Puisi naratif yaitu jenis puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair tentang sesuatu secara sederhana dan langsung ditulis dalam wujud kata-kata. Beberapa bentuk puisi naratif yaitu epik, romansa, balada, dan syair. Epik yaitu puisi menggambarkan tentang kepahlawanan. Romansa yaitu puisi berisi
20Jabrohim, Suminto A. Sayuti, Chairul Slaeh, Cara Menulis Kreatif, (Yogyakarta: Pusataka Belajar, 2001), h. 32-33
21Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi Panduan untuk Pelajar dan Mahasiswa, (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 66
22Ibid., h. 102
23Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1987), h.135-141
kisah percintaan dengan menggunakan bahasa romantis. Balada yaitu puisi tentang tokoh pujaan atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Syair yaitu puisi lama yang setiap bait terdiri dari empat baris yang berbunyi dan berakhiran sama.
2) Puisi Lirik
Puisi lirik mengungkapkan gagasan pribadi penyair. Menurut Atar Semi puisi lirik sangat pendek dan sederhana mengekspresikan emosi. Puisi lirik juga memiliki jenis berbeda yaitu ode, elegi, dan serenada. Ode yaitu puisi berisi pujaan terhadap sesuatu hal, sesuatu keadaan atau bahkan tokoh tertentu.
Elegi yaitu puisi ungkapan perasaan duka. Serenade yaitu sajak percintaan yang dapat dinyanyikan.
3) Puisi Deskriptif
Penyair sebagai pemberi kesan terhadap suatu keadaan atau peristiwa, benda, dan suasana yang dipandang menarik perhatian penyair berdasarkan puisi deskriptif. Beberapa jenis puisi deskriptif yaitu satire, kritik sosial, dan puisi impresionistik. Satire yaitu puisi berisi ungkapan tidak puas penyair terhadap sesuatu dalam bentuk sindiran. Penyair pada puisi kritik sosial menyatakan ketidaksukaan terhadap keadaan atau seseorang. Puisi impresionistik yaitu puisi yang mengungkapkan kesan impresif penyair terhadap suatu hal.
b. Berdasarkan pada suara atau tempat yang cocok untuk pembacaan dan jumlah pembaca yaitu:
1) Puisi Kamar
Puisi kamar yaitu puisi yang cocok dibaca sendiri tetapi juga dapat dilakukan dengan satu atau dua pendengar di dalam kamar.
2) Puisi Auditorium
Puisi auditorium sesuai jika dibacakan di auditorium yang jumlah pendengar puisi dapat mencapai ratusan orang.
c. Berdasarkan sifat atau isi yang dikemukakan di dalam puisi, yaitu:
1) Puisi Fisikal
Puisi fisikal yaitu puisi bersifat realistis yang menggambarkan kenyataan secara apa adanya.
2) Puisi Platonic
Puisi platonic berisi hal-hal bersifat spiritual atau kejiwaan mengungkapkan perasaan sayang pada kekasih atau keluarga dan pengungkapan ide hingga cita-cita.
3) Puisi Metafisikal
Puisi metafisikal yaitu puisi bersifat filosofis mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan Tuhan.
d. Berdasarkan cara menafsirkan makna puisi:
1) Puisi Diafan
Puisi diafan yaitu puisi yang sedikit menggunakan pengimajian, kata konkret, dan bahasa figuratif sehingga bahasa puisi mirip dengan bahasa yang digunakan sehari-hari.
2) Puisi Gelap
Puisi gelap mempunyai banyak majas, lambang, kiasan sehingga sulit ditafsirkan.
3) Puisi Prismatic
Puisi prismatic memiliki banyak makna yang dapat ditelusuri oleh pembaca. Melalui puisi tersebut penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya.
e. Berdasarkan kandungan nilai keilmuan:
1) Puisi Parnasian
Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi.
2) Puisi Inspiratif
Puisi inspiratif dibuat berdasarkan pada mood atau passion penyair. Pada puisi tersebut penyair benar-benar terlibat ke dalam puisi tersebut.
3) Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi subyektif atau dikenal dengan puisi personal merupakan puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan dan suasana hati penyair. Puisi tersebut mengungkapkan keadaan jiwa dari penyair. Puisi obyektif atau dikenal dengan puisi impersonal merupakan jenis tersbut mengungkapkan hal-hal di luar dari penyair.
3. Unsur-unsur Puisi
Puisi yaitu karya sastra yang disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.24 Struktur fisik yaitu struktur yang tampak dan dapat dilihat secara langsung. Struktur fisik terdiri dari diksi, imaji, kata konkret, majas, versifikasi, dan tipografi.
a. Diksi
Diksi yaitu pilihan kata yang tepat, padat dan digunakan oleh penyair dalam puisi kaya akan makna. Diksi dipilih dengan cermat dan teliti yang mampu mempengaruhi imajinasi pembaca.25 Puisi tidak cukup dibuat jika hanya mengemukakan maksud. Puisi yang dibuat harus dapat dirasakan pembaca seperti hal yang dirasakan penyair. Oleh sebab itu, pemilihan diksi sangat penting dilakukan
24Ibid., h. 26-27
25Alfian Rokhmansyah, Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), h. 16
supaya kata-kata yang tertulis dalam puisi bisa menjangkau perasaan penyair.26
b. Imaji
Imaji yaitu susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seorang penyair. Melalui imaji pembaca seolah-olah dapat merasakan yang dirasakan oleh penyair memalaui alat indra mulai dari mendengar, melihat, mengecap dan meraba. Berdasarkan definisi tersebut imaji terdiri dari enam jenis yaitu imaji visual (penglihatan), imaji auditif (pendengaran), imaji kinestetik (gerakan), imaji termal atau taktil (rabaan), imaji penciuman, dan imaji pengecapan.27
Waluyo dalam Rokhmansyah menjelaskan bahwa imaji memiliki hubungan erat dengan diksi dan kata konkret. Pada pembuatan puisi, diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian. Hal tersebut karena kata-kata menjadi lebih konkret seperti yang kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa.28 Oleh sebab itu, seorang penyair harus mampu melakukan pemilihan dan jalinan kata hingga pembaca dapat merasakan hal yang dilukiskan (diimajikan) dalam puisi seperti melihat, merasakan,dan mendengar.
c. Kata Konkret
Kata konkret yaitu kata-kata dalam puisi yang dapat ditangkap atau dirasakan dengan indra. Kata konkret digunakan untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca.29 Oleh sebab itu, penting bagi penyair untuk mahir memperkonkret kata-kata sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal yang digambarkan penyair dalam puisi.
26Ibid., h. 15
27Ibid., h. 18-19
28Ibid., h. 16-17
29Ibid., h.41
d. Majas
Majas yaitu gaya bahasa yang digunakan penyair untuk menyampaikan atau mengungkapkan makna secara tidak langsung. Kata atau bahasa yang digunakan tersebut bermakna kias atau perlambangan makna.30 Bahasa kiasan mengiaskan, mempersamakan atau memperumpamakan sesuatu hal dengan hal lain. Hal tersebut dilakukan supaya puisi yang dibuat menjadi menarik dan hidup. Bahasa kias dalam puisi dapat dikelompokkan sebagai berikut:31
1. Perbandingan (Metafora dan Simile)
Metafora yaitu bentuk perbandingan yang bersifat implisit atau tersembunyi dibalik ungkapan harfiah. Sebaliknya simile yaitu bentuk perbandingan yang bersifat eksplisit. Similie ditandai oleh pemakaian unsur konstruksional yaitu seperti, sebagai, serupa, bagai, laksana, bagaikan, bak, dan ada kalanya.
2. Penggantian (Metonimi dan Sinekdoki)
Metonimi yaitu kiasan yang mengganti nama. Bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang memiliki hubungan dekat dengan mengganti obyek tersebut. Sedangkan sinekdoki yaitu majas yang menyebutkan nama bagan sebagai pengganti nama keseluruhan, atau sebaliknya.
3. Pemanusiaan (Personifikasi)
Personifikasi yaitu pemberian sifat-sifat manusia pada suatu hal dalam puisi.
4. Hiperbola
Hiperbola yaitu kiasan yang dilebih-lebihkan atau berlebihan. Penggunaan majas tersebut karena penyair merasa perlu mendapat perhatian lebih saksama dari pembaca.
30Ibid., h.83
31Ibid., h.22-23
5. Alegori
Alegori yaitu cerita kiasan atau lukisan kiasan yang mengkiaskan hal atau kejadian lain.
e. Versifikasi
Versifikasi puisi terdiri dari ritma, metrum, dan rima. Ritma yaitu tingi-rendah, keras-lemahnya atau panjang-pendek bunyi. Ritma akan menonjol bila suatu puisi dibacakan. Metrum yaitu pengulangan tekanan kata yang tetap dan bersifat statis. Secara ringkas rima dapat didefinisikan sebagai pengulangan bunyi dalam puisi. Jika pengertian tersebut diperluas, maka dapat diketahui bahwa rima yaitu kesamaan atau kemiripan bunyi tertentu di dalam dua kata atau lebih, baik yang berposisi di akhir kata, maupun yang berupa perulangan bunyi yang sama yang disusun dengan jarak yang teratur.32
f. Tipografi
Tipografi yaitu pembeda yang paling awal yang dapat dilihat dalam membedakan puisi dengan prosa, fiksi dan drama. Baris-baris puisi tidak diawali dari tepi ketepi. Puisi juga tidak harus dipenuhi tulisan.
Berdasarkan dasar tersebut, maka muncul tipe atau bentuk puisi. Bentuk dan tipe puisi ini yang tidak lain yaitu tipografi.33
Unsur pembangun puisi selain disusun struktur fisik juga disusun struktur batin. Struktur batin yaitu makna yang terkandung dalam puisi.
Struktur tersebut tidak dapat diketahui secara langsung, melainkan harus melalui penghayatan. Struktur batin tersebut di antaranya:34
32Ibid., h. 90-94
33Ibid., h. 54-55
34Ibid., h. 102
1. Tema
Tema yaitu gagasan utama atau gagasan pokok puisi yang ingin disampaikan penyair.35 Puisi yang dibuat penyair pada umumnya berisi tentang keinginan dan tujuan dar penyair itu sendiri. Dapat dipahami bahwa puisi yaitu perwakilan terhadap apa yang ingin penyair capai. Oleh sebab itu, makna dan isi dari puisi harus dapat dipahami dan ditafsirkan pembaca supaya tahu hal yang diinginkan penyair dalam puisi. Adapun tujuan puisi berhubungan dengan pembaca supaya memahami isi serta pesan moral dari puisi.36
Tema puisi sangat berhubungan erat dengan pengarang. Tema tersebut dapat dipengaruhi oleh falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan, dan pendidikan dari penyair atau pengarang puisi.37 Beberapa contoh tema tersebut dapat berupa tema ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme/kebanggaan, dan keadilan sosial.38
2. Perasaan
Perasaan atau rasa dalam puisi yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang diangkat dalam puisi. Pengungkapan rasa tersebut berkaitan dengan latar belakang sosial, pendidikan, agama, usia, gender, strata sosial, pengalaman sosiologis, maupun psikologis.
Dengan demikian meskipun beberapa puisi memiliki tema yang sama, namun perasaan yang dihasilkan akan yang berbeda antara satu penyair dengan penyair lainnya hingga menghasilkan puisi yang berbeda pula.
35Herman J. Waluyo, op.cit., h. 106
36Alfian Rokhmansyah, op.cit., h.27
37Alfian Rokhmansyah, op.cit., h. 28
38Ibid., h. 107-118
3. Nada dan Suasana
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembaca. Nada memiliki hubungan erat dengan tema dan rasa. Dalam menyampaikan puisi, penyair dapat menggunakan nada tertentu sesuai tema puisi. Nada tersebut dapat berupa menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, sombong, menganggap rendah pembaca dan lain sebagainya. Bahkan ada juga penyair yang menggunakan nada hanya tampak sedang bermain-main.39
Jika nada yaitu sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana yaitu keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi. Suasana tersebut sebagai dampak psikologis yang terjadi pada pembaca.40 Dapat dipahami bahwa pembaca dapat merasakan suasana yang ada dalam puisi tersebut bahkan hingga pembaca selesai membaca puisi. Puisi dianggap lebih hidup jika pembaca dapat merasakan suasana yang dihadirkan penyair dalam puisi tersebut.
4. Amanat
Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya. Pada amanat tersebut terdapat unsur pendidikan moral.41 Amanat sangat penting pada puisi, karena karya sastra selain berfungsi sebagai hiburan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan. Oleh sebab itu, pembaca juga harus cukup teliti untuk mengungkap apa yang hendak diamanatkan penyair dalam puisi.
39Ibid., h. 66
40Ibid., h. 66-67
41Ibid., h. 134
4. Kajian Intertekstual
Suatu karya sastra memiliki hubungan sejarah baik dengan karya yang sejaman, terdahulu atau masa mendatang. Hubungan sejarah tersebut dapat berupa persamaan atau pertentangan. Dalam hal ini hubungan sejarah antar teks itu, perlu diperhatikan prinsip intertekstualnya. Hubungan intertekstual dapat diartikan sebagai penataan berbagai teks-teks sastra yang kemudian dikombinasikan hingga menghasilkan karya baru. Hal tersebut karena pada dasarnya suatu karya sastra tercipta berdasarkan konvensi sastra. Menurut Riffaterre bahwa teks sastra yang menjadi latar pencipta karya sesudahnya itu disebut hipogram. 42
Meskipun suatu teks sastra menyerap unsur-unsur dari teks sastra lain hingga meghasilkan karya yang berbeda, akan tetapi karya yang dihasilkan tetap mencerminkan karya yang mendahuluinya. Sebuah teks sastra demikian dapat dipandang sebagai karya yang baru. Hal tersebut karena pengarang dengan kekuatan imajinasi, wawasan estetika, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu, gagasan, tentulah masih dapat dikenali.43
Hubungan intertekstual pada suatu karya sastra dapat dikaji pada kajian intertekstual. Kajian intertekstual dapat didefinisikan sebagai kajian terhadap sejumlah teks sastra yang diduga memiliki suatu bentuk hubungan tertentu. Mengacu pada definisi tersebut, dapat dipahami bahwa kajian intertekstual meliputi uji banding pada beberapa karya sastra tertentu.
Kajian tersebut dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan cara melakukan hubungan-hubungan bermakna pada beberapa teks karya puisi. Hubungan yang dikaji tidak sebatas pada persamaan teks karya tersebut tetapi juga pada pertentangan. Karya sastra dapat memiliki hubungan antarteks yang menjadi acuannya disebut hipogram (hypogram). Pradopo mengungkapkan bahwa hipogram yaitu karya sastra teks puisi menjadi latar karya sastra
42Rachmad Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), h. 167
43Ibid., h. 228
sesudahnya tersebut.44 Masuknya teks ke dalam teks lain yaitu hal biasa yang terjadi dalam karya sastra, karena pada dasarnya teks karya sastra sebagai bentuk absorpsi dan transformasi dari sejumlah teks lain.
5. Kelahiran Nabi Muhammad Saw
Nabi Muhammad Saw. dilahirkan di Syi’b Bani Hasyim, Makkah. Saat itu adalah hari Senin pagi pada musim panas tanggal 9 Rabi‟ul Ula, 50-55 hari setelah kegagalan Abrahah menyerang Ka‟bah. Dalam bahasa Arab, kata gajah adalah “fil”, dan tahun tersebut dikenal dengan „Am al-Fil”
(Tahun Gajah). Dalam kalender Masehi, hari tersebut bertepatan dengan tanggal 22 April 571. Ketika Aminah sedang mengandung, dia mimpi bahwa seberkas cahaya memancar dari bagian bawah tubuhnya yang kemudian menyinarkan istana Syria. Ketika akan melahirkan, Syifa binti Amr, ibu Abdurrahman bin Auf yang menjadi bidan. Abdul Muthalib menerima berita kelahiran cucunya dengan gembira. Dia membawa bayi yang baru lahir tersebut ke Ka‟bah dan berdoa memohon berkat Allah Swt serta mengucapkan puji syukur. Percaya bahwa cucunya akan tumbuh dengan menuai banyak pujian, Abdul Muthalib memberi nama Muhammad yang berarti “orang yang mendapatkan pujian”. Demi menjaga tradisi Arab, Abdul Muthalib mencukur kepala bayi tersebut dan menyunatnya pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Setelah itu, Abdul Muthalib mengundang penduduk Makkah untuk menghadiri pesta besar yang diadakannya. Nabi Muhammad pertama kali disusui oleh ibunya, kemudian oleh Ummu Ayman budak ayahnya.45
44Ibid., h. 167
45Abd. Hamid, Sirah Nabawiyah/Syaikh Syafiur Rahman, (DIVA Press, Yogyakarta, 2021), h.
16
6. Karakter Nabi Muhammad Saw
Kajian sirah nabawiah Nabi Muhammad Saw. adalah sosok inspiratif sepanjang masa, bukan saja karena agama yang dibawanya namun sisi pribadinya yang memang bersahaja. Kebersahajaan yang dimiliki Nabi Muhammad Saw. bukanlah instan, namun merupakan proses panjang yang penuh tempaan sehingga mampu menjalankan misinya sebagai penutup para Nabi. Tempaan yang diterima Nabi Muhammad Saw. yang perlu ditelusuri kembali dan dimaknakan sebagai upaya eksplorasi nilai-nilai karakter Nabi Muhammad Saw. yang mampu untuk diikuti. Tempaan ini juga yang dijadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai modal dalam melaksanakan misi kenabiannya di usia 40 tahun. Hal ini berarti, usia sebelum 40 tahun, Nabi Muhammad Saw. hanya manusia biasa yang proses kehidupannya bisa dijadikan inspirasi. Tempaan before forty inilah yang perlu dihidupkan sebagai motivasi bahwa semua bisa mempunyai karakter matang selama mampu menghadapi berbagai jenis tempaan dan cobaan. Hal tersebut di atas dapat dipelajari melalui sirah Nabi Muhammad Saw. yang telah terbukti keotentikannya. Sirah menurut bahasa adalah sunnah, cara, jalan dan rincian kehidupan. Adapun secara terminologi adalah kumpulan berita yang diriwayatkan atau dikisahkan mengenai detail kehidupan Nabi Muhammad Saw. Sirah Nabi Muhammad Saw. mempunyai banyak keistimewaan sehingga semakin memudahkan kita untuk menggali dan mengeksplorasi berbagai hal yang terkait dengan sisi kehidupan beliau untuk dijadikan pijakan. Abu Yusuf menyatakan ada beberapa keistimewaan sirah Nabi Muhammad Saw. dibanding sirah lain, yaitu:
a. Sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai sirah yang paling absah dan otentik.
b. Kehidupan Nabi Muhammad Saw. sangat jelas sejak menikahnya orang tua beliau sampai wafatnya beliau.
c. Sirah Nabi Muhammad Saw. merupakan sirah manusia yang dimuliakan Allah dengan tidak mengeluarkannya dari sisi kemanusiaan.
d. Sirah Nabi Muhammad Saw. sangat menyeluruh meliputi sisi kehidupannya.
e. Sirah Nabi Muhammad Saw. sebagai tanda kebenaran risalah dan kenabiannya.46
Al-Quran menjelaskan Nabi Muhammad Saw. sebagai manusia yang digambarkan sebagai seseorang yang senantiasa memiliki akhlak baik dan mulia. Akhlak dan sifat mulia tersebut yaitu sidiq (benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Sidiq memiliki arti yaitu kebenaran atau kejujuran. Sebagai suri tauladan umat manusia, Nabi Muhammad Saw. dikenal selalu berbuat jujur baik dalam perktaan maupun perbuatannya. Dengan demikian maka akan mustahil bagi Nabi untuk berdusta atau melakukan hal tercela. Hal tersebut sesuai degan Al- Quran Surat An-Najm ayat 4-5 yang artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannnya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
Amanah yaitu dapat dipercaya. Sifat amanah Nabi Muhammad Saw.
selalu dianggap sebagai sosok yang bijak dapat diminta saran, nasihat dan pendapat oleh orang-orang di sekitarnya seperti ketika diminta memutuskan suatu perkara atau menjadi hakim. Hal tersebut karena apapun yang dilakukan oleh beliau sebagai hasil pertimbangan yang matang dan sesuai dengan Al-Quran Surat Al-A‟raf ayat 68 yang artinya: “Aku
menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan hanyalah pemberi nasihat yang dipercaya bagimu.”
46Isti‟anah Abu Bakar M.Ag Dosen FITK UIN Maliki Malang, Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Sirah Nabawiyah, http://repository.Uin-Malang.ac.id/2455/3/2455, diunduh pada tanggal 27 Juli 2021
Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang manajer sebagaimana karakter yang dimiliki Rasul yaitu sifat dapat dipercaya atau bertanggung jawab. Beliau jauh sebelum menjadi Rasul pun sudah diberi gelar al-Amin (yang dapat dipercaya). Sifat amanah yang dapat mengangkat posisi Nabi Muhammad Saw. di atas pemimpin umat atau Nabi-Nabi terdahulu.
Pemimpin yang amanah yaitu pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab pada amanah, tugas dan kepercayaan yang diberikan Allah Swt.
Amanah dalam hal ini adalah apapun yang dipercayakan kepada Rasulullah saw. meliputi segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun agama.
Sifat amanah yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw. memberi bukti bahwa beliau adalah orang yang dapat dipercaya, karena mampu memelihara kepercayaan dengan merahasiakan sesuatu yang harus dirahasiakan dan sebaliknya selalu mampu menyampaikan sesuatu yang seharusnya disampaikan. Sesuatu yang harus disampaikan bukan saja tidak ditahan-tahan, tetapi juga tidak akan diubah, ditambah atau dikurangi.
Demikian kenyataannya bahwa setiap firman selalu disampaikan Nabi Muhammad Saw. sebagaimana difirmankan kepada beliau. Dalam peperangan beliau tidak pernah mengurangi harta rampasan untuk kepentingan sendiri, tidak pernah menyebarkan aib seseorang yang datang meminta nasihat, dan petunjuknya dalam menyelesaikan masalah.
Nabi Muhammad Saw. Sebagai pemimpin sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat, mendengar keinginan dan keluhan masyarakat, memperhatikan potensipotensi yang ada dalam masyarakat, mulai dari potensi alam sampai potensi manusiawi. Pada akhirnya semua ini bermuara pada aktivitas dakwah yang dilakukannya terhadap masyarakat, terutama dalam bidang keimanan dan ketakwaan serta profesionalisme sebagai upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas pada waktu itu.
Nabi Muhammad Saw. berusaha untuk memberi yang terbaik bagi umatnya, sehingga dalam kepemimpinannya, Nabi Muhammad Saw. selalu mengutamakan umatnya, berkorban untuk umatnya, bahkan sampai akhir umur Nabi Muhammad Saw. masih memikirkan umat. Bukti sejarah ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. sebagai pemimpin sekaligus manajer sejati yang sangat mencintai umat. Nabi Muhammad Saw. dikenal sangat memiliki kesiapan dalam memikul tanggung jawab, memperoleh kepercayaan dari orang lain. Nabi Muhammad Saw. dikenal sebagai orang yang sangat terpercaya, dan ini diakui oleh musuh-musuhnya, seperti Abu Sufyan ketika ditanya oleh Hiraklius (Kaisar Romawi) tentang perilaku beliau.
Bersifat amanah berarti menyampaikan semua perintah Tuhan tidak dikurang tidak pula ditambah berdasarkanwahyu yang ditulis dan dikumpul perlahan. Beliau melakukan berbagai langkah dalam mengajak umat manusia ke jalan yang benar, beliau telah berhasil membangun suatu tatanan sosial yang modern dengan memperkenalkan nilai kesetaraan universal, semangat kemajemukan dan multikulturalisme, rule of law, dan sebagainya.
Beliau disiplin dan adil dalam menegakkan hukum, tanpa pandang bulu.
Bahkan ketika Nabi Muhammad Saw. belum diangkat menjadi Rasul telah menunjukkan kualitas pribadinya yang diakui oleh masyarakat Quraish.
Beliau dikenal dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya). Oleh karena itu, ketika terjadi peristiwa sengketa antara para pemuka Quraish mengenai siapa yang akan meletakkan kembali hajar aswad setelah renovasi Ka‟bah, mereka dengan senang hati menerima Nabi Muhammad Saw. sebagai arbitrer, padahal waktu itu Nabi Muhammad Saw. belum termasuk pembesar. Berkesiapan memikul tanggung jawab tanpa keraguan.47
47Sakdiah, Karakteristik Kepemimpinan dalam Islam (Kajian Historis Filosofis) Sifat-sifat Rasulullah, Jurnal Al-Bayan /Volume XXII Nomor 33 Januari-Juni 2016, h. 40-44
Amanah merupakan benar-benar menyampaikan sesuatu yang Nabi Muhammad Saw. memiliki tugas untuk disebarluaskan kepada umat Islam.
Di antara bukti Nabi Muhammad Saw. bersifat amanah adalah menyampaikan risalah yang dipercayakan beliau oleh Allah Swt.48
Tabligh yaitu menyampaikan. Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu Al-Quran yang harus disampaikannya pada seluruh umat manusia.
Hal yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. tidak terdapat kebohongan karena disampaikan secara apa adanya dari Allah Swt. Sifat tabligh tersebut juga disebabkan oleh Nabi Muhammad Saw. yang terus berusaha menyebarkan dan menyampaikan kebenaran agama Islam lewat dakwah yang dilakukannya. Hal tersebut sesuai degan Al-Quran Surat Al- Jin ayat 28 yang artinya: “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia meghitung segala sesuatu satu persatu.”
Fathonah atau cerdas. Nabi Muhammad Saw. yaitu orang yang dianggap cerdas dan berwawasan luas serta selalu memutuskan sesuatu dengan pikiran jernih tanpa melibatkan emosi. Kecerdasan beliau tersebut sering digunakan untuk memecahkan berbagai persoalan masyarakat, sebagai contoh yaitu saat adanya persitiwa peletakan hajar aswad.
Berdasarkan keempat sifat tersebut, maka tidak mengherankan jika Nabi Muhammad Saw. pada keseharian digambarkan sebagai orang yang selalu berbuat jujur, cerdas, sopan, dan berbudi pekarti luhur sehingga Nabi Muhammad Saw banyak dikagumi dan dicintai oleh umatnya.
Kecintaan dan kekaguman yang diberikan kepada Nabi Muhamad Saw. bersifat unik. Meskipun tidak dianggap sebagai Tuhan, tetapi Nabi Muhammad Saw. ditempatkan dalam penghormatan yang setinggi mungkin dalam agama Islam oleh umatnya. Beliau tidak boleh digambar. Istri-istri Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai ibu-ibu orang yang beriman (Ummahatul Mukminin). Setiap rincian riwayat hidup beliau senantiasa
48Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawaiyyah ed Fery Irawan, (Jakarta, Ummul Qura, 2011), h. 95
terpelihara di dalam hadis. Selain itu, jutaan orang yang tak lain umatnya, berusaha meniru, dan mengikuti jejak langkah kehidupan beliau.
Menyebut nama Nabi Muhammad Saw. akan dijamin limpahan rahmat. Maka tidak mengherankan banyak ungkapan pujian yang ditujukan kepada beliau. Ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Saw. dapat berupa doa dan pujian yang tertuang dalam bentuk shalawat. Bahkan ungkapan cinta terhadap Nabi Muhammad Saw juga dapat terdapat pada karya sastra seperti syair dan puisi.
Pada puisi dan syair banyak diungkapkan atau dituangkan kata-kata indah yang menggambarkan mengenai sosok Nabi Muhamammd Saw. Pada kata-kata indah tersebut terdapat kekaguman penyair pada sosok Nabi Muhammad Saw. Kekaguman tersebut dapat muncul karena contoh perilaku baik Nabi Muhammad Saw atau karena kehebatan beliau yang dijelaskan dalam Al-Quran maupun hadis.
Berdasarkan hasil studi literatur dapat diketahui bahwa karya sastra puisi dengan tema Nabi Muhammad Saw. masih sangat jarang di Indonesia.
Beberapa puisi dengan tema Nabi Muhammad Saw. di antaranya telah dibuat oleh K.H. A. Mustofa Bisri dengan judul “Aku Merindukanmu O, Muhammadku”. Puisi tersebut berisi mengenai kritik penyair terhadap kondisi rakyat Indonesia sekarang. Penyair juga mengungkapkan kerinduannya kepada sosok Nabi Muhammad Saw. Pada puisi tersebut Nabi Muhammad Saw. dianggap sebagai orang yang bijaksana dan pemimpin yang diimpikan dan sempurna bagi penyair. Puisi tersebut dapat ditemukan pada buku Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi Langit yang dierbitkan Risalah Gusti tahun 1996.49
Puisi lain yang mengangkat sosok Nabi Muhammad Saw. dalam karyanya yaitu dibuat oleh Abdul Wachid B.S. dengan judul “Rindu yang Meluap-luap”. Pada puisi tersebut penyair mencoba mengungkapkan kerinduannya pada Nabi Muhammad Saw. Selain itu, penyair juga tampak mengungkapkan kesedihannya yang belum bisa membuktikan rasa cintanya
49K.H. A. Mustofa Bisri, Wekwekwek Sajak-Sajak Bumi Langit, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 48
pada Nabi Muhammad Saw. Puisi tersebut dapat ditemukan pada buku Kumpulan Sajak Nun yang diterbitkan Cinta Buku pada tahun 2018.50
Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah puisi yaitu visualisasi atau gambaran mengenai tauladan yang baik dalam suatu karya sastra. Melalui kata, frasa, atau kalimat yang tertulis di dalam karya sastra puisi, maka pembaca seakan mengenal dan berhadapan langsung dengan sosok Nabi Muhammad Saw. Melalui sosok yang disajikan dalam sebuah puisi, pembaca tidak hanya memperoleh gambaran tetang Nabi Muhammad Saw, tetapi juga dapat menafsirkan dan menghayati isi dari puisi.
7. Pembelajaran Sastra
Istilah sastra berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “shastra” berarti tulisan memiliki intruksi atau pedoman. Definisi sastra merujuk pada kesusastraan yang diberi imbuhan ke-an. “Su” yaitu indah atau baik dan sastra yaitu tulisan atau lukisan. Berdasarkan hal tersebut kesusastraan dapat diartikan sebagai tulisan atau lukisan yang memiliki kebaikan atau keindahan. Sumardjo dan Saini KM., menjelaskan bahwa sastra yaitu ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.51
Kurikulum nasional menetapkan bahwa pembelajaran sastra harus terselanggara bersama dengan pembelajaran bahasa. Departemen Pendidikan tahun 1994, mengungkapkan bahwa kurikulum tersebut memiliki tujuan untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.52
50Abdul Wachid B.S., Kumpulan Sajak Nun, (Yogyakarta: Cinta Buku, 2018), h. 44
51Ibid., h. 5
52Warsiman, Membumikan Pembelajaran Sastra yang Humanis, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2016), h. 4-5
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran sastra memiliki peran penting dalam pengembangan sosial, intelektual, dan emosional peserta didik. Pembelajaran sastra dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Hal tersebut karena pembelajaran sastra yang dilaksanakan dengan baik, maka niscaya akan memberikan kontribusi baik pada proses pendidikan secara keseluruhan.
Seiring dengan tujuan tersebut pembelajaran sastra harus dapat mewujudkan empat prinsip yaitu sebagai berikut:53
a. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kebebasan kepada siswa untuk menampilkan respon dan reaksi.
b. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa pribadi pada cipta yang dibaca atau dipelajari.
c. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kesempatan kepada guru untuk menemukan butir-butir kontak di antara pendapat para siswa.
d. Pembelajaran sastra sebaiknya memberikan kesempatan kepada guru untuk mewujudkan fungsi sebagai motivator terhadap penjelajahan pengaruh vital yang melekat di dalam sastra.
Dewasa ini pembelajaran sastra telah mampu membawa siswa dengan berbagai kegiatan yang dapat mengakibatkan kejenuhan hingga kebencian.
Kegiatan ini dapat memberikan dampak negatif pada mental para siswa. Hal tersebut karena pembelajaran sastra lebih menekankan pada sejarah, teori kritik sedangkan sentuhan-sentuhan pengalaman sastra terabaikan.54
53Ibid., h. 5
54Ibid., h. 8