• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sahwalita 1) , Agus Baktiawan Hidayat 2) dan Riza Yanuardie 3)

E. Analisa Data

Semua prosedur pengujian dan rumus yang digunakan mengacu pada Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan Departemen Kehutanan (2002).

E. Analisa Data

Data hasil pengukuran di rata-rata dan ditabulasikan serta dibuat grafik.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil pengukuran terhadap mutu benih dilihat pada tabel dan gambar berikut ini:

Tabel 1. Analisis kemurnian benih tembesu (Fagraea fragrans Roxb.)

Berat Sampel 100 gram

Tabel 2. Kadar air benih tembesu (Fagraea fragrans Roxb.)

Ulangan Berat Wadah (gr)

Berat Wadah + Benih

(gr) Berat Wadah + Benih Setelah

Dikeringkan (gr) Ka (%)

Tabel 3. Berat benih tembesu (Fagraea fragrans Roxb.)

Ulangan Berat

Tabel 4. Daya kecambah benih tembesu (Fagraea fragrans Roxb.)

Pengamatan Ulangan

Persentase 61 61 59 53 58.5

0 10 20 30 40 50 60 70 80

1 2 3 4

Pengamatan

DayaBerkecambah(%)

Gambar 1. Histogram daya kecambah tembesu berdasarkan waktu pengamatan B. Pembahasan

Benih tembesu memiliki tingkat kemurnian benih yang tinggi yaitu 99,9%. Hal ini jauh lebih tinggi dari standar mutu fisik benih layak edar yang ditetapkan yaitu 40% (Balai Teknologi Perbenihan Bogor, 2000). Tingginya nilai kemurnian disebabkan sumber benih yang jelas pohon induknya dan diambil melalui pengunduhan langsung.

Tingkat kemurnian benih yang tinggi ini tidak mengambarkan kejelasan mengenai viabilitasnya (Schmidt, 2000).

Viabilitas merupakan kemampuan benih untuk hidup, yang ditunjukkan oleh gejala pertumbuhan atau metabolismenya (Mugnisyah e ,al. 1994).

Kadar air benih merupakan salah satu unsur dalam penentuan unsur fisik benih. Kadar air yang dimiliki benih tembesu adalah sebesar 6%. Hal ini lebih rendah dari kadar air yang diusulkan menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI), pada benih tembesu dengan rata-rata 8-9% (Departemen Kehutanan, 2008). Benih tembesu termasuk benih ortodoks yang dapat disimpan lama (tidak cepat menurun viabilitasnya) pada kondisi kadar air rendah. Penanganan pasca panen yang benar harus dilakukan untuk menurunkan kadar air supay tidak terjadi penurunan mutu benih (Schmidt, 2000). Kadar air benih yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya kecambah (Jayusman dan Manik W.S., 2005).

Berat benih tembesu dalam 1 kg terdiri dari 2.857.142 butir. Menurut Suradji (2008), benih yang berjumlah antara 2,8–3 juta butir per kilogram termasuk benih tembesu berukuran besar. Berat benih dapat dipengaruhi faktor genetis, faktor pertumbuhan dan faktor lingkungan. Benih yang relatif berat lebih dipilih karena berhubungan dengan kecepatan perkecambahan dan perkembangan semai yang bagus (Schmidt, 2000). Besarnya biji mempengaruhi dalam viabilitasnya, biji-biji yang lebih besar mempunyai viabilitas yang lebih baik daripada yang kecil, hal ini berhubungan dengan ketersediaan cadangan makanan dalam biji tersebut (Mugnisyah et al., 1994; Laksmi et al., 1999).

Daya kecambah benih tembesu yaitu 58,5%, termasuk rendah jika dibandingkan dengan usulan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk benih tembesu yaitu 65-80% (Departemen Kehutanan, 2008). Tembesu yang diuji belum layak digunakan untuk materi genetik dalam pembangunan hutan tanaman dan hutan rakyat. Daya kecambah dimulai pada hari > ke-7 setelah penaburan benih pada media kecambah. Rendahnya daya kecambah dapat

Pengamatan (minggu)

disebabkan dari faktor pohon induk di Desa Menang Raya atau perlakuan awal benih yang hanya menggunakan perendaman air dingin atau juga kondisi perkecambahan yang kurang tepat. Benih yang bersifat dorman biasanya dilakukan skarifikasi berupa perendaman atau stratifikasi. Perendaman dengan menggunakan air dingin belum optimal untuk mematahkan dormansi benih tembesu. Proses perkecambahan ditentukan oleh kualitas benih (vigor dan kemampuan berkecambah), perlakuan awal (pematahan dormansi) dan kondisi perkecambahan seperti air, suhu, media, cahaya dan hama penyakit (Schmidt, 2000). Daya kecambah yang rendah dipengaruhi oleh banyak seperti faktor fisilogis, fisik, genetik maupun kondisi di lapangan. Kualitas benih selalu dihubungan dengan faktor tersebut dari aspek fisiologis, benih dianggap berkualitas jika mempunyai persen kecambah yang tinggi, dari segi fisik berhubungan dengan ukuran, struktur dan ketahanan dari penyakit sedangkan secara genetik apabila membawa sifat-sifat unggul dari induknya.

Benih tembesu yang berasal dari buah yang diunduh mengalami perkecambahan paling baik (Patricia, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa pengunduhan dapat meningkatkan kualitas benih, jika dilakukan dengan benar yaitu buah benar-benar masak dan diambil dari pohon induk yang unggul.

IV. KESIMPULAN

1. Pengambilan benih sebaiknya dilakukan dengan cara mengunduh untuk menjaga kemurnian dan kondisi benih.

2. Benih tembesu dari Hutan Rakyat di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan termasuk benih dengan mutu yang baik, dengan kemurnian 99,9%, kadar air 6%, berat benih dalam 1 kg berjumlah 2.857.142 butir dan daya kecambah yaitu 58,5%.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Teknologi Perbenihan Bogor. 2000. Pedoman Standarisasi Uji Mutu fisik dan Fisiologis Benih Tanaman Hutan.

BIGRAF Publishing. Yogyakarta.

Departemen Kehutanan. 2008. Standar Mutu Benih Tanaman Hutan. Majalah Kehutanan Indonesia Edisi II tahun 2008. Jakarta.

Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. 2002. Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Fisik-Fisiologi Benih. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Jayusman dan Manik W.W. 2005. Pengujian nilai Perkecambahan Surian Berdasarkan Daerah Sumber Benih. Wana Benih Vol. 6 suplemen No. 01 Desember 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Badan Litbang kehutanan. Bogor

Laksmi, R., S. Sunarti, P., Tambunan, dan F. Mangjuwibowo. 1999. Viabilitas dan Variabilitas Benih Antar Famili pada Kebun Benih Eucalyptus pellita di Wonogiri dan Kalimantan Selatan. Wana Benih. Yogyakarta.

Martawijaya. A, Kartasujana.I, Y.I. Mangang, K. Kadir dan S.A. Prawira. 2005. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen kehutanan. Bogor. Indonesia.

Mugnisyah, WQ; A. Setiawan; Suwarto dan C. Santiwa. 1994. Panduan Pratikum dan Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. Raja Grafindo Pustaka. Jakarta.

Patricia Venny. 2006. Perkecambahan Biji Tembesu (Fagraea fragrans) Dilihat dari Tingkat Kematangan Buah dan Model Pembelajaran di SMA. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika

Sahwalita. 2007. Peran Iptek Dalam mendukung Pengembangan Industri Ukiran Kayu Palembang. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian dengan Tema Optimalisasi Peran Iptek Dalam mendukung Revitalisasi Kehutanan. Pusat Penenlitian dan pengembangan Hutan tanaman. Bogor.

Schmidt, L. 2000. Pedoman penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub-Tropis. Danida Forest seed Centre.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Suradji. 2008. Staff Balai Perbenihan Tanaman Hutanan Sumatera. Palembang. Personal communication, tanggal 5 Agustus 2008.

Lampiran 1. Buah (a), benih (b) dan kecambah tembesu (c)

a a

b d

PEMBIBITAN JENIS LOKAL UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT