• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN KAYU BAWANG DAN BAMBANG LANANG DI KHDTK BENAKAT, SUMATERA SELATAN

C. Pembangunan Demplot

Areal yang dijadikan lokasi demplot merupakan semak belukar. Persiapan lahan dilakukan dengan tebang habis secara manual. Setelah vegetasi penutup lahan ditebang, kemudian ditata dan selanjutnya disemprot dengan herbisida. Pola tanam yang digunakan sistem campuran dengan jalur yang selang seling, dua jalur tanam bambang lanang diselingi dengan satu jalur tanaman kayu bawang. Jarak tanam yang digunakan berukuran 5 x 5 m, sehingga jumlah tanaman sekitar 600 batang. Pemeliharaan tanaman berupa pembersihan gulma dilakukan setiap 3 kali/tahun secara manual dan kimiawi (penyemprotan herbisida).

Kegiatan pengukuran untuk mengevaluasi pertumbuhan tanaman dilakukan pada masing-masing plot pengamatan berukuran 20 tanaman (tanaman kayu bawang dan bambang lanang masing-masing sebanyak 10 batang), jumlah plot sebanyak 12 plot yang terbagi dalam 3 blok. Pengukuran dilakukan 2 kali, umur 6 bulan dan 18 bulan. Parameter yang diamati adalah persentase hidup, pertumbuhan tinggi dan diameter. Data hasil pengukuran ditabulasikan dan dianalisis secara deskripsi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Data pertumbuhan tanaman kayu bawang dan bambang lanang pada umur 6 dan 18 bulan (1,5 tahun) yang ditanam di KHDTK Benakat selengkapnya disajikan pada Tabel 1.

Berdasarkan data persentase hidup tanaman seperti yang tercantum pada Tabel 1 di atas, terlihat bahwa persentase hidup tanaman kayu bawang lebih tinggi dibandingkan dengan bambang lanang, baik pada umur 6 bulan maupun pada umur 18 bulan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sampai dengan umur 18 bulan, kemampuan hidup jenis kayu bawang lebih baik dibandingkan dengan bambang lanang. Namun, secara umum kemampuan hidup kedua jenis tanaman yang diuji tersebut termasuk cukup baik (persentase hidup terendah 76,67%).

Tabel 1. Persentase hidup, pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman kayu bawang dan bambang lanang umur 6 dan 18 bulan di KHDTK Benakat

No Jenis

Persentase Hidup

(%) Tinggi

(m) Diameter

(cm) 6 bulan 18 bulan 6 bulan 18 bulan 6 bulan 18 bulan

1. Kayu Bawang 98,75 93,75 1,13 3,52 1,44 4,18

2. Bambang Lanang 80,3 76,67 0,75 2,22 1,12 2,81

Dengan tinggi bibit sebelum tanam yang sama (berkisar antara 40 – 50 cm), pertumbuhan tinggi tanaman kayu bawang lebih cepat dibandingkan dengan bambang lanang, tinggi tanaman kayu bawang umur 6 dan 18 bulan masing-masing sebesar 1,13 m dan 3,52 m, sedangkan tinggi tanaman bambang lanang umur 6 dan 18 bulan masing-masing sebesar 1,12 m dan 2,81 m. Berdasarkan perhitungan maka didapat riap tinggi tanaman sampai dengan umur 1,5 tahun (18 bulan) untuk tanaman kayu bawang dan bambang lanang masing-masing sebesar 2,78 m/tahun dan 1,48 m/tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa riap tinggi tanaman kayu bawang pada umur 1,5 tahun hampir 2 kali lipat riap tinggi tanaman bambang lanang.

Begitu pula dengan pertumbuhan diameter, tanaman kayu bawang juga memiliki pertumbuhan diameter yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman bambang lanang. Diameter dan riap diameter tanaman kayu bawang pada umur 1,5 tahun masing-masing sebesar 4,18 cm dan 2,78 cm/tahun, sementara diameter dan riap diameter tanaman bambang lanang pada umur 1,5 tahun masing-masing sebesar 2,81 cm dan 1,87 cm/tahun.

Dari pengamatan dan hasil analisa terhadap ke tiga parameter pengukuran, terlihat bahwa sampai dengan umur 1,5 tahun, kayu bawang memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan bambang lanang.

Walaupun kedua jenis ini di sebaran alaminya memiliki pertumbuhan yang relatf sama, sehingga memiliki daur pengusahaan yang juga sama. Perbedaan pertumbuhan awal antara kedua jenis tersebut diduga terkait dengan struktur tumbuh dan perbedaan respon adaptasi terhadap kondisi tumbuhan bawah akibat teknik pemeliharaan yang diterapkan. Pemeliharaan tanaman berupa penebasan tumbuhan bawah dilakukan dengan .tebas jalur, sehingga peluang tumbuh kembalinya tumbuhan bawah cukup tinggi. Di sisi lain, tanaman bambang lanang memiliki percabangan yang banyak, sehingga tajuknya melebar. Kondisi tersebut memudahkan tumbuhan bawah, khususnya liana untuk melilit batang sampai tajuk tanaman muda, kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman bambang lanang menjadi terhambat. Berbeda dengan tanaman kayu bawang yang cenderung hanya memiliki satu batang utama dan umumnya tidak memiliki cabang, sehingga tumbuhan bawah sulit untuk melilit tanaman ini. Jika kegiatan pemeliharaan yang dilakukan lebih intensif, tebas total dan dikombinasikan dengan kimiawi (herbisida) serta dilakuan pemupukan yang teratur, maka pertumbuhan ke dua jenis ini kemunginan akan sama.

Penelitian yang dilakukan oleh Apriyanto (2003) terhadap tegakan kayu bawang di Bengkulu Utara, diperoleh tinggi tanaman umur 2 tahun sebesar 6,49 m dengan riap 3,7 m/tahun, sedangkan diamater tanaman 5,43 cm dengan riap 3,2 cm/tahun. Sementara pertumbuhan tanaman kayu bawang di KHDTK Benakan umur 1,5 tahun diperoleh tinggi tanaman sebesar 3,52 m dengan riap 2,78 m/tahun, sedangkan diamater tanaman 4,18 cm dengan riap 2,78 cm/tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kayu bawang di KHDTK Benakan relatif tidak jauh berbeda dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman kayu bawang di sebaran alaminya.

Hasil evaluasi terhadap pertumbuhan tanaman kayu bawang dan bambang lanang sampai dengan umur 1,5 tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan kedua jenis tersebut cukup baik dan adaptif, sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih luas di sekitar KHDTK Benakat.

V. KESIMPULAN

1.

Persentase hidup tanaman kayu bawang dan bambang lanang umur 1,5 tahun di KHDTK Benakat termasuk baik, masing-masing sebesar 93,75% dan 76,67,%.

2.

Pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman kayu bawang sampai umur 1,5 tahun lebih baik dibandingkan dengan bambang lanang. Riap tinggi dan diameter tanaman kayu bawang masing-masing sebesar 2,78 m/tahun dan 2,78 cm/tahun. Sedangkan riap tinggi dan diameter tanaman bambang lanang masing-masing sebesar 1,48 m/tahun dan 1,87 cm/tahun.

3.

Pertumbuhan tanaman kayu bawang dan bambang lanang sampai dengan umur 1,5 tahun cukup baik, sehingga berpotensi untuk dikembangkan lebih luas di KHDTK Benakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, G., E. Apriyanto dan Gunziryadi. 1999. Prospek Pengembangan Kayu Bawang sebagai Komoditas Hutan Unggulan dalam Pengusahaan Hutan Rakyat di Bengkulu (Tinjauan dari Aspek Silvikultur). Prosiding Seminar Status Silvikultur. Yogyakarta 1 – 2 Desember 1999.

Apriyanto, E. 2003. Pertumbuhan Kayu Bawang (Protium javanicum Burm. F) pada Tegakan Monokultur di Bengkulu Utara. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 5 No. 2. Sumber: http://www.bdpunib.org/jipi/

artikeljipi/2003/64.PDF, diakses pada tanggal 28 Oktober 2008.

Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Sumatera. 2005. Informasi singkat Bambang Lanang (Madhuca aspera H.J.Lam.). Palembang.

Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu. 2003. Mengenal Kayu Bawang. Materi Sosialisasi Kegiatan Pembangunan Hutan Tanaman Unggulan Lokal, Provinsi Bengkulu.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan Cetakan ke-1. hal. 1569 - 1570. Yayasan Sarana Wanatani Jaya. Jakarta.

Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu. 2002. Program Pemuliaan Pohon Unggulan Bengkulu, Kayu Bawang (Protium javanicum Burm.F) sebagai Pendukung Pembangunan Kehutanan Berbasis Masyarakat. Proposal.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH). 2007. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2006. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.

Riyanto, Dwi Heru. 1996. Medang Bambang Lanang (Madhuca aspera H.J.Lam) Jenis Potensial Bagi Pengembangan Hutan Rakyat di Lahat. Prosiding Expose Hasil-hasil Penelitian Balai Teknologi Reboisasi Palembang 28 - 29 Maret 1996 hal. 204 - 207.

Pratiwi. 2000. Potensi dan Pengembangan Pohon Jelutung untuk Hutan Tanaman. Buletin Kehutanan dan Perkebunan Vol. I No. 2 Tahun 2000. Badan Litbang Kehutanan dan Perkebunan. Bogor

Triwilaida. 2003. Laporan Perjalanan Dinas Ke Bengkulu dan Rejang Lebong 24 – 31 Juli 2003.

Widiarti, A. 2006. Strategi Pengembangan Hutan Rakyat. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Padang 20 September 2006.

SILVIKULTUR INTENSIF PULAI DARAT (Alstonia angustiloba Miq) UNTUK MEMBANGUN HUTAN TANAMAN LOKAL DI SUMATERA SELATAN

Imam Muslimin dan Abdul Hakim Lukman Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Palembang

ABSTRAK

Tanaman pulai darat (Alstonia angustiloba Miq) merupakan salah satu jenis tanaman lokal potensial di Sumatera Selatan yang mulai marak dikembangkan. Jenis ini termasuk dalam jenis pionir dan cepat tumbuh. Aplikasi silvikultur intensif pengelolaan tanaman pulai darat dimulai dari kegiatan perbenihan, penanaman dan pemeliharaan tanaman diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman baik dari segi kualitas maupun kuantitas tanaman. Teknologi pengawetan kayu untuk meningkatkan kelas kualitas keterawetan kayu pulai darat sangat dibutuhkan guna menunjang peningkatan nilai guna dan fungsi produk kayu pulai darat.

Kata kunci : pengawetan kayu, pulai darat, silvikultur intensif

I. PENDAHULUAN

Tingginya laju degradasi hutan di Indonesia memicu semakin minimnya produksi kayu Indonesia di pasar lokal dan internasional, hal ini terjadi seiring dengan semakin menipisnya hutan alam Indonesia. Saat ini kebutuhan kayu nasional Indonesia diperkirakan mencapai 60 juta m3/tahun, sedangkan pasokan kayu dari hutan alam dan hutan tanaman hanya mampu mensuplai sekitar 25 juta m3/tahun. Produksi kayu Indonesia akan semakin menurun dan diperketat dengan adanya kebijakan penurunan produksi (soft landing) yang dimulai tahun 2003 (Menhut, 2006).

Sementara itu, kebutuhan kayu untuk memenuhi permintaan akan kebutuhan kayu industri baik skala kecil maupun besar hingga yang orientasinya eksport dan untuk dijadikan kayu bakar terus meningkat.

Dengan laju degradasi lahan hutan Indonesia seluas 2,87 juta ha/tahun menyebabkan semakin berkurangnya lahan hutan alam Indonesia. Namun, bilamana upaya rehabilitasi dapat berjalan dengan baik, maka program rehabilitasi yang ada merupakan langkah prospektif yang dapat mengembalikan pasokan kebutuhan akan kayu Indonesia dan dunia. Percepatan pembangunan lahan rehabilitasi dapat dilakukan dengan pemilihan jenis-jenis tanaman yang cepat tumbuh, jenis endemik lokal setempat dan mempunyai nilai ekonomis serta dengan memperhatikan adanya kesesuaian jenis dan tempat tumbuhnya.

Upaya pemanfaatan lahan-lahan terdegradasi telah dilakukan oleh beberapa pengelola hutan tanaman dengan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Penanaman HTI banyak mempergunakan jenis-jenis tanaman pendatang (exotic) yang memang mempunyai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang lebih cepat daripada jenis lokal. Namun, beberapa permasalahan mulai bermunculan dengan adanya jenis-jenis pendatang ini seperti resistensi hama penyakit tanaman, degradasi produktivitas lahan yang secara langsung atau tidak langsung berimbas pada degradasi produksi tanaman (volume). Saat ini langkah strategis yang bisa dijadikan sebagai alternatif dalam pembangunan hutan tanaman adalah pemanfaatan jenis tanaman lokal yang telah lama dikembangkan oleh masyarakat setempat.

Pulai (Alstonia spp.) merupakan salah satu jenis tanaman cepat tumbuh (fast growing species) yang memiliki sebaran alami hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara (Soerianegara dan Lemmens, 1994). Sifat pertumbuhannya yang cepat dan sebarannya yang hampir dapat ditemui di seluruh wilayah Indonesia, menjadikan tanaman ini merupakan jenis lokal yang sangat prospektif untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman. Selain itu, kegunaan kayunya yang cukup beragam seperti untuk peti, korek api, hak sepatu, kerajinan, cetakan beton, pensil slate dan pulp (Samingan, 1990 dan Martawijaya, et al., 1981) dan saat ini permintaannya cukup tinggi. Beberapa industri yang menggunakan bahan baku kayu pulai adalah industri pensil slate di Sumatera Selatan, industri kerajinan topeng di Yogyakarta dan industri kerajinan ukiran di Bali.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengelolaan hutan tanaman rakyat khususnya jenis-jenis tanaman lokal adalah belum optimalnya produktivitas tanaman karena aspek silvikultur (penggunaan bibit unggul, pengaturan jarak tanam dan pemeliharaan) belum sepenuhnya diterapkan (Widiarti, 2007). Penerapan teknik silvikultur intensif yang mengadopsi setiap kemajuan di bidang penanaman, pemeliharaan dan pemanenan diharapkan dapat memberikan nilai kualitas dan kuantitas pertumbuhan pohon yang lebih baik. Tulisan ini menyajikan aspek teknik silvikultur tanaman pulai, khususnya mengenai persyaratan tempat tumbuh, penanaman dan pemeliharaan tanaman pulai. Data dan informasi yang ada, nantinya dapat dipergunakan sebagai acuan dalam pola pengembangan tanaman pulai baik itu pola tanam monokultur maupun pola tanam campuran.

II. PILIHAN JENIS DALAM PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN

Pembangunan hutan tanaman merupakan suatu langkah strategis dalam upaya pemenuhan kebutuhan kayu yang terus meningkat. Pilihan penggunaan jenis tanaman yang akan dikembangkan merupakan langkah awal yang harus di tempuh. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pohon untuk pembangunan hutan tanaman adalah (Widiarti dan Mindawati, 2006):

1. Faktor ekologis, dengan mempertimbangkan faktor iklim (ketinggian tempat, curah hujan dan temperatur), tanah (jenis, tekstur, pH, drainase, ketebalan solum/ tingkat kesuburan).

2. Faktor hidrologis, dengan mempertimbangkan kesesuaian topografi (kemiringan tempat) dan tanah (”permeabilitas” tanah, kepekaan terhadap erosi, struktur tanah dan drainase).

3. Faktor ekonomi dan sosial budaya, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam faktor ini adalah:

- Harga jenis produknya (kayu dan non kayu) dan pemasaran hasil yang menyangkut prospek pemasarannya baik pasar lokal, regional atau global (ekspor). Oleh karena itu maka jenis yang dikembangkan sebaiknya bernilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar terhadap produk tersebut juga tinggi.

- Luas pemilikan lahan, luas atau sempitnya lahan yang dikelola khususnya pada lahan masyarakat akan sangat menentukan variasi jenis tanaman yang dikembangkan. Pada lahan yang sempit, produktivitas lahan menjadi tinggi dengan pengembangan jenis-jenis tanaman tahan naungan dengan pola tanam campuran.

- Kebutuhan/kesukaan masyarakat terhadap jenis-jenis tertentu, menyangkut jenis tanaman yang multiguna

sekalipun produknya tidak bernilai tinggi, tetapi masyarakat membutuhkan dan mengkonsumsinya dalam jumlah yang banyak, maka jenis tersebut sebaiknya dipilih untuk dikembangkan.

- Adat istiadat/kebiasaan masyarakat, faktor ini sangat spesifik dan berbeda dari suatu tempat ke tempat lain.

Oleh sebab itu, pengembangan jenis tanaman tertentu pada suatu wilayah sebaiknya menggunakan jenis-jenis yang sudah memasyarakat.

Adalina (2007) mengemukakan bahwa terdapat beberapa pertimbangan dalam pemilihan jenis untuk pemulihan lahan terdegradasi di daerah terbuka (seperti alang-alang) yaitu: 1. Mampu tumbuh di tempat terbuka (jenis intoleran dan pionir), 2. Mampu bersaing dengan alang-alang atau gulma yang ada, 3. Mudah bertunas bila terbakar atau dipangkas, 4. Sesuai dengan keadaan tanah yang miskin hara dan tahan kekeringan, 5. Biji atau bagian vegetatif mudah diperoleh atau disimpan, 6. Untuk tujuan produksi kayu, harus disenangi masyarakat.

Penggunaan jenis tanaman lokal secara umum memenuhi kriteria dalam pemilihan jenis untuk pembangunan hutan tanaman atau pemulihan lahan terdegradasi. Nyland (2002) mengemukakan bahwa penggunaan jenis lokal memberikan beberapa keutamaan yaitu: (1). Pertumbuhan jenis lokal di tegakan alam memberikan indikasi potensinya ketika tumbuh dalam pertanaman, (2). Spesies lokal mempunyai adaptasi alamiah dengan kondisi lingkungan dan mempunyai ketahanan terhadap serangan hama penyakit, (3). Spesies lokal mengisi ekologi niche dan membuktikan habitat penting untuk lokal flora dan fauna dan (4). Penanaman jenis lokal mengkonservasi flora endemik, terutama pada hutan daerah miskin atau pada area deforestasi luas. Sedangkan penggunaan jenis pendatang untuk kegiatan rehabilitasi memberikan beberapa kelemahan yaitu: (1). Penanaman Spesies Exotic pada tanah yang tidak cocok akan berdampak pada waktu yang cukup lama dan (2). Kegagalan yang lambat terlihat sebagai efek dari tempat tumbuh, kemudahan serangan oleh serangga dan agen kerusakan yang lain, kekurangan unsur penting yang dibutuhkan dalam pertumbuhannya atau kondisi iklim dan cuaca yang kurang kondusif (Zobel dan Talbert, 1984).

Dalam pengelolaan pembangunan hutan tanaman dan pemulihan lahan terdegradasi maka pilihan penggunaan jenis lokal yang cepat tumbuh akan menjadikan pilihan prioritas. Jenis pohon tumbuh cepat adalah jenis-jenis pohon yang kecepatan tumbuh besar batang maupun pertumbuhan tinggi per satuan waktu jauh lebih cepat dari jenis-jenis pohon hutan biasanya. Keuntungan ekonomik penanaman jenis ini adalah segera mendatangkan hasil karena masa rotasi (daur) siap tebang lebih pendek, laku di pasaran dan penting untuk suplai industri pengolahan kayu (demand pasar besar). Disamping itu, penanaman ekstensif dan intensif jenis-jenis pohon tumbuh cepat akan mempunyai nilai keuntungan secara ekologis antara lain (Adalina, 2007) :

 Lahan segera tertutup oleh vegetasi hutan karena penanaman jenis-jenis tersebut secara lebih cepat segera terbentuk hutan tanaman dibandingkan jenis-jenis pohon yang tumbuh relatif lambat seperti jati, mahoni dan pinus.

 Nilai ekologis makin nyata bila pengusahaan penanaman tersebut intensif dan ekstensif pada lahan-lahan di kawasan bagian tengah dan hulu suatu DAS atau sub DAS, karena pohon berkayu memiliki potensial yang lebih besar dalam hal mengatur tata air dan menahan erosi tanah dibandingkan dengan jenis-jenis tanaman semusim (pangan) pada lahan-kawasan pertanian umumnya.

 Untuk mempercepat proses terbentuknya tanah kembali. Hal ini terutama untuk lahan-lahan yang sebelumnya terlantar dan bera (tanpa tanaman) di wilayah tengah dan hulu DAS dan sub DAS, sebagian telah tererosi karena curah hujan yang tinggi di wilayah-wilayah tersebut.

III. SILVIKULTUR INTENSIF PULAI DARAT

Pembangunan suatu hutan tanaman tidak terlepas dari kegiatan silvikultur intensif. Silvikultur intensif merupakan suatu aplikasi teknik “merawat hutan tanaman” secara intensif dengan tujuan akhir untuk meningkatkan produktivitas tegakan, baik kualitas maupun kuantitas pada akhir daur. Silvikultur intensif merupakan suatu pijakan yang harus dipenuhi guna membangun hutan tanaman, pijakan ini dibentuk melalui kegiatan penelitian yang telah dilakukan selama bertahun-tahun dan berulang kali untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang akurat. Aspek silvikultur intensif terdiri atas penggunaan benih unggul (genetically improved planting stock), persiapan lahan dan pengolahan tanah intensif, pengaturan jarak tanam, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan, pemupukan, pengairan, pemangkasan. Penerapan silvikultur intensif merupakan kegiatan yang padat modal atau dengan kata lain biaya tinggi/mahal, di lain pihak terdapat peningkatan hasil yang sangat signifikan dengan adanya penerapan silvikultur intensif.