Prosiding ini diterbitkan oleh :
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Editor :
Tati Rostiwaty Riskan Effendi Sofwan Bustomi Ari Wibowo
Hak Cipta Oleh P3HT
Dilarang menggandakan buku ini sebagian atau seluruhnya, baik dalam bentuk fotokopi, cetak, mikrofilm, elektronik maupun dalam bentuk lainnya, kecuali untuk keperluan pendidikan atau keperluan non komersial lainnya dengan mencantumkan sumbernya, seperti berikut:
Untuk sitiran seluruh buku, ditulis: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (2009). Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan ”Mengenal Teknik Budidaya Jenis-jenis Pohon Lokal Sumsel dan Upaya Pengembangannya”, 11 Desember 2008. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan.
Untuk sitiran sebagian dari buku, ditulis: Nama Penulis dalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman (2009). Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan ”Mengenal Teknik Budidaya Jenis-jenis Pohon Lokal Sumsel dan Upaya Pengembangannya”, 11 Desember 2008. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan, Bogor, Halaman ...
ISBN : 978-979-3819-52-5 Alamat:
Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor PO BOX 331 Telp (0251) 631238, 631507 Fax (0251) 7520005 E-mail : [email protected]
Design Cover : Hendra Priatna, ST.
Cetak Prosiding ini didanai oleh:
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2009 Balai Penelitian Kehutanan Palembang
Alamat : Jl. Kol. H. Burlian Km. 6,5 Puntikayu PO BOX 179 Telp./Fax. (0711) 414864 Palembang Sumatera Selatan E-mail : [email protected]
ISBN: 978-979-3819-52-5
Prosiding
Seminar Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan
”Mengenal Teknik Budidaya Jenis-Jenis Pohon Lokal Sumsel dan Upaya Pengembangannya”
Palembang, 11 Desember 2008
Editor:
Tati Rostiwaty Riskan Effendi Sofwan Bustomi
Ari Wibowo
DEPARTEMEN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN
2009
Balai Penelitian Kehutanan Palembang sebagai instansi penelitian bidang kehutanan berkompeten dalam memperhatikan masa depan dan kelestarian hutan, termasuk jenis-jenis lokal. Upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui kegiatan penelitian yang diarahkan pada upaya penguasaan teknik budidaya jenis-jenis pohon lokal dengan tidak keluar dari core research balai, yaitu kayu pertukangan. Selanjutnya Balai Penelitian Kehutanan Palembang juga berkewajiban untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian tersebut kepada masyarakat pengguna, diantaranya melalui penyelenggaraan kegiatan seminar hasil-hasil penelitian yang terkait dengan permasalahan dimaksud. Untuk itu Balai Penelitian Kehutanan Palembang mengadakan seminar hasil-hasil penelitian dengan tema
”Mengenal Teknik Budidaya Jenis-jenis Pohon Lokal Sumsel dan Upaya Pengembangannya”
Materi hasil-hasil penelitian yang ditampilkan disusun sesuai dengan urutan aspek penelitian yang meliputi : aspek silvikultur tanaman, perlindungan hutan, sosial ekonomi dan kebijakan serta aspek konservasi dan lingkungan.
Sebagai output dari pelaksanaan seminar, disusun prosiding yang memuat seluruh makalah, baik yang dipresentasikan maupun yang tidak dipresentasikan. Untuk memenuhi kompetensi penerbitan publikasi lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan serta memperhatikan makalah-makalah yang dibahas dalam seminar, maka Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman berkewajiban melakukan proses editing sampai dengan penerbitannya. Hal-hal yang berkaitan dengan proses pencetakkan/penggandaan diserahkan sepenuhnya kepada Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
Akhirnya diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung terhadap proses penyelenggaraan seminar dan penerbitan prosiding ini. Semoga dengan penerbitan prosiding ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, khususnya di Sumatera Selatan.
Bogor, Nopember 2009
Kepala Pusat Litbang Hutan Tanaman
Dr. Ir. Bambang Trihartono, MF.
NIP. 19561005 198203 1 006
KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... ... iv - vi DAFTAR LAMPIRAN... ... vii SAMBUTAN ... ... viii - xi RUMUSAN ... ... xii A. ASPEK SILVIKULTUR
1. TEKNIK BUDIDAYA JENIS-JENIS POHON LOKAL (INDIGENOUS SPECIES) HUTAN RAWA GAMBUT
Bastoni ... 1 - 21 2. TEKNIK SILVIKUTUR TANAMAN TEMBESU (Fagraea fragrans Roxb.)
Junaidah, Abdul Hakim Lukman, Dody Prakosa dan Nasrun ... 23 - 31 3. SEBARAN DAN PERSYARATAN TUMBUH JENIS-JENIS PRIORITAS DI SUMATERA
Dody Prakosa ... 33 - 43 4. SEBARAN DAN LOKASI PENGEMBANGAN JELUTUNG DARAT (Dyera cosculata) DAN
JELUTUNG RAWA (Dyera lowii) DI SUMATERA SELATAN DAN JAMBI
Dody Prakosa ... 45 - 52 5. SEBARAN DAN LOKASI PENGEMBANGAN TEMBESU (Fragraea fragrans Roxb) DI
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR DAN OGAN ILIR, PROVINSI SUMATERA SELATAN
Dody Prakosa, Junaidah, Abdul Hakim Lukman dan Nasrun ... 53 - 61 6. KAJIAN TEKNOLOGI PERBENIHAN JENIS LOKAL SUMATERA SELATAN
Nanang Herdiana ... 63 - 72 7. PENGUJIAN MUTU BENIH TEMBESU (Fragraea fragrans Roxb) BERASAL DARI
HUTAN RAKYAT
Sahwalita, Agus Baktiawan Hidayat dan Riza Yanuardie ... 73 - 80 8. PEMBIBITAN JENIS LOKAL UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI
SUMATERA SELATAN
Nanang Herdiana ... 81 - 91 9. PENGARUH TINGGI DAN WAKTU SIMPAN TERHADAP PENYEDIAAN BIBIT GAHARU DARI
CABUTAN ANAKAN ALAM
Sahwalita ... 93 - 98 10. POHON GAHARU : PROSPEK GAHARU DI HUTAN RAKYAT SUMATERA SELATAN
Sahwalita ... 99 - 108 11. APLIKASI ARANG KOMPOS DALAM PEMBIBITAN DAN PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN
JENIS LOKAL SUMATERA BAGIAN SELATAN
Hengki Siahaan dan Maman Suparman ... 109 - 113
(Paraserianthes falcataria (L.) Fosberg)
Imam Muslimin ... 115 - 126 13 PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN KAYU BAWANG DAN BAMBANG LANANG DI KHDTK
BENAKAT, SUMATERA SELATAN
Nanang Herdiana ... 127 - 132 13. SILVIKULTUR INTENSIF PULAI DARAT (Alstonia angustiloba Miq) UNTUK MEMBANGUN
HUTAN TANAMAN LOKAL DI SUMATERA SELATAN
Imam Muslimin dan Abdul Hakim Lukman ... 133 - 143 14. TEMBESU (Fagraea fragrans Roxb.) JENIS LOKAL POTENSIAL UNTUK REHABILITASI
HUTAN DAN LAHAN DI SUMATERA SELATAN
Junaidah dan Imam Muslimin ... 145 - 155 B. ASPEK PERLINDUNGAN HUTAN
1. BEBERAPA HAMA PADA TANAMAN LOKAL SUMATERA SELATAN DAN ALTERNATIF PENGENDALIANNYA
Asmaliyah, Sri Utami dan Andika Imanullah ... 157 - 169 2. PERSEPSI TENTANG TANAMAN SEHAT DAN HUBUNGANNYA DENGAN SERANGAN
HAMA HUTAN
Sri Utami ... 171 - 177 3. PENYAKIT DAN CARA PENGENDALIANNYA PADA BEBERAPA TANAMAN LOKAL
SUMATERA SELATAN
Asmaliyah dan Sri Utami ... 179 - 187 4. GULMA PENTING PADA LOKASI PENANAMAN BEBERAPA JENIS LOKAL DI SUMATERA SELATAN
Etik Erna Wati H. dan Fatahul Azwar ... 189 - 193 5. POTENSI TUMBUHAN AKAR TUBA (Derris elliptica Benth.) SEBAGAI AGENS PENGENDALI
HAMA
Asmaliyah ... 195 - 201 6. PERLINDUNGAN HUTAN TERPADU DALAM SILVIKULTUR INTENSIF DI HUTAN TANAMAN
Agung Wahyu Nugroho ... 203 - 214 C. ASPEK SOSIAL, EKONOMI DAN KEBIJAKAN
1. UPAYA PENGEMBANGAN JENIS BAMBANG LANANG (Maduca asphera H.J.Lam DENGAN REKAYASA SOSIAL UNTUK DESA-DESA RAWAN BENCANA ALAM DI SUMATERA SELATAN
Efendi Agus Waluyo, Nur Arifatul Ulya dan Edwin Martin ... 215 - 223 2. PROSPEK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN HHBK PENGHASIL GETAH:
(PEMBELAJARAN DARI TANAMAN KARET)
Bambang Tejo Premono ... 225 - 235 3. PERENCANAAN SOSIAL DALAM RANGKA PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI
SUMATERA SELATAN
Efendi Agus Waluyo, Nur Arifatul Ulya dan Edwin Martin ... 237 - 246
Junaidah dan Bambang Tejo Premono ... 247 - 254 5. HUTAN TANAMAN BERBASIS ENERGI: SUMBER DAYA ENERGI TERBAHARUKAN,
PEMANFAATAN, KEBIJAKAN PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN PENGHASIL KAYU ENERGI
Bambang Tejo Premono ... 255 - 262 D. ASPEK KONSERVASI DAN LINGKUNGAN
1. KAJIAN STATUS JENIS DAN STRATEGI KONSERVASI BEBERAPA JENIS POHON LOKAL KOMERSIAL DI SUMATERA SELATAN
Adi Kunarso ... 263 - 270 2. KONSERVASI EX-SITU SEBAGAI BASIS GENETIK PEMULIAAN ULIN
Agung Wahyu Nugroho ... 271 - 277 2. KAJIAN POTENSI JENIS TANAMAN LOKAL SEBAGAI VEGETASI PENYUSUN
HUTAN KOTA DI SUMSEL
Etik Erna Wati Hadi ... 279 - 284 4. TANTANGAN INDONESIA PASCA COP 13 BALI
Agung Wahyu Nugroho ... 285 - 292 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 293 - 297
1. Susunan Acara Seminar ... 293 2. Susunan Panitia Seminar ... 294 3. Daftar Peserta Seminar ... 295 - 297
PADA PEMBUKAAN SEMINAR HASIL-HASIL PENELITIAN BALAI PENELITIAN KEHUTANAN PALEMBANG
”MENGENAL TEKNIK BUDIDAYA JENIS-JENIS POHON LOKAL SUMSEL DAN UPAYA PENGEMBANGANNYA”
PALEMBANG, 11 DESEMBER 2008
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh Yang saya hormati :
Kepala Dinas Kehutanan Prov. Sumsel atau Yang Mewakili ;
Kepala Pusat Litbang lingkup Badan Litbang Kehutanan;
Para Kepala UPT Departemen Kehutanan Sumatera Selatan atau Yang Mewakili ;
Jejaring Peneliti Sumatera Selatan
Para Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat dan Organisasi Kemasyarakatan di Sumsel;
Tokoh Masyarakat, akademisi, insan pers, stakeholders, mitra usaha, peserta seminar dan hadirin yang berbahagia,
Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita panjatkan syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat, rahmat dan ridho-Nya kita semua masih dikaruniai kekuatan lahir dan batin, tuntunan dan perlindungan, utamanya kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat bersama-sama hadir dalam acara “Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Palembang“.
Saya menyambut baik dan gembira dilaksanakannya Seminar Hasil-hasil Penelitian Kehutanan yang diarahkan pada tanaman jenis lokal Sumsel yang potensial dikembangkan, dengan diiringi doa dan harapan, semoga acara ini mendapat karunia dan berkat Allah SWT, sehingga dapat diperoleh manfaat dan sumbangsihnya dalam pembangunan kehutanan di Sumatera Selatan.
Hadirin yang saya hormati,
Pemilihan tema seminar sehari “ Mengenal Teknik Budidaya Jenis Pohon Lokal Sumatra Selatan dan Upaya Pengembangannya “ sangat relevan dengan upaya pemerintah untuk mengatasi kondisi sumberdaya hutan yang semakin memprihatinkan akibat maraknya kerusakan hutan dimana-mana.
Selama tiga dekade terakhir, sumberdaya hutan telah menjadi sumbangsih devisa yang signifikan bagi pembangunan ekonomi nasional, menyediakan lapangan kerja dan tempat dimana lebih dari 15 juta orang menggantungkan hidupnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian pemanfaatan hasil hutan kayu secara berlebihan yang diikuti maraknya penebangan liar, telah menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan lingkungan, ekonomi dan sosial antara lain meningkatnya laju degradasi hutan. Antara tahun 1997- 2003 diperkirakan laju degradasi hutan sebesar 2,83 juta ha/tahun dan luas degradasi hutan nasional sudah mencapai 59,62 juta Ha, sehingga berakibat pada menurunnya kemampuan sumberdaya hutan untuk menyediakan bahan baku kayu industri primer kehutanan. Dengan semakin menurunnya peran sektor kehutanan dalam perekonomian nasional.
dan langkah-langkah strategis yang berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dalam kerangka otonomi daerah serta memperlihatkan kepentingan nasional, maka 5 (lima) kebijakan prioritas Departemen Kehutanan 2004 – 2009 perlu mendapat dukungan yang kuat dalam pelaksanaan dilapangan, yaitu pemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal, revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan, melanjutkan program rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan, pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan disekitar kawasan hutan, serta memantapkan kawasan hutan.
Kebutuhan akan bahan baku kayu dalam skala nasional, regional bahkan lokal industri perkayuan banyak yang gulung tikar (kolaps) akibat berkurangnya pasokan bahan baku (log) yang selama ini berasal dari hutan alam tidak dapat memenuhi lagi, dengan artian antara kapasitas terpasang industri pengolahan kayu tidak sebanding dengan pasokan bahan bakunya. Bertitik tolak dari hal tersebut sangat tepat 5 (lima) kebijakan Departemen Kehutanan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan kehutanan harus segera disikapi dengan langkah kegiatan yang nyata. Untuk itu kelima kebijakan pembangunan kehutanan tersebut diatas, dengan melalui perangkat teknisnya didaerah, telah memulai menanam jenis-jenis tanaman lokal dan teknik pembudidayaannya. Salah satu wujud dukungan terhadap kebijakan prioritas dalam penerapan dilapangan adalah menggali jenis-jenis tanaman kayu lokal yang berpotensi baik untuk dikembangkan sebagai alternatif pengganti kekurangan kebutuhan kayu pertukangan dan jenis-jenis komersial saat ini dan di masa mendatang. Masyarakat pedesaan dan sekitar hutan perlu dikenalkan dengan jenis-jenis tanaman lokal yang terkoleksi mempunyai kualitas kayu yang baik dan mempunyai nilai ekonomi yang baik pula, serta diketahui teknik budidayanya.
Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh untuk memotivasi minat masyarakat pada tanaman hutan jenis lokal adalah :
Mengembangkan jenis kayu tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berorientasi pasar baik berupa hasil kayu maupun bukan kayu.
Meningkatkan swadaya/partisipasi masyarakat dalam membangun hutan milik/hutan hak dalam bentuk kebun maupun perkarangan.
Memantapkan kebijakan mengembangkan tanaman kayu-kayuan dan tanaman serbaguna diluar kawasan hutan (lahan milik) berupa hutan rakyat untuk mengatasi luas kawasan hutan yang sedikit.
Menggali potensi jenis kayu langka dan tumbuh setempat (endemic) dan mempunyai prospek baik teknis maupun ekonomis untuk dijadikan jenis tanaman unggulan lokal.
Hadirin yang saya hormati,
Di Sumatera Selatan menjelang akhir abad ke 20 cukup marak orang menanam jati sebagai jenis kayu primadona di jawa, yang diharapkan kelak dapat menghasilkan uang yang banyak serta hasil kayu yang bagus.
Namun perlu disadari bahwa, kebanyakan lahan di Sumatera Selatan kurang cocok/sesuai untuk tanaman jati, sehingga pertumbuhannya tidak baik, kurus dan percabangannya banyak, banyak terjadi busuk akar dan mati pucuk pada daerah yang sering tergenang. Sementara itu terdapat jenis-jenis pohon lokal yang berpotensi baik tetapi
ini akan dikenalkan kepada hadirin tentang beberapa jenis pohon lokal Sumatera Selatan yang berpotensi untuk dikembangkan dan mempunyai nilai ekonomis. Bagaimana budidaya serta teknik-teknik silvikultur yang bisa diterapkan untuk pengembangannya. Pengenalan teknik budidaya beberapa jenis pohon lokal Sumatera Selatan akan diprioritaskan oleh para peneliti BPK Palembang, sedangkan pengenalan penerapan silvikultur intensif dalam pembangunan hutan produktif akan dipresentasikan oleh peneliti dari Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor, oleh karena itu saya berharap agar dalam seminar ini dapat dimanfaatkan untuk berdiskusi secara maksimum untuk memperoleh manfaat bersama. Dengan demikian tentunya saya berharap bahwa seminar ini dapat menghasilkan rumusan yang bermanfaat bagi pemerintah daerah provinsi Sumatera Selatan, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pembangunan sektor kehutanan Sumatera Selatan ke depan.
Hadirin yang saya hormati,
Sebagaimana keputusan Presiden RI nomor : 24 tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia, pada tanggal 28 November 2008 lalu seluruh rakyat Indonesia baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan kecamatan/desa secara serentak telah memulai aksi penanaman pohon di wilayah masing-masing yang dilanjutkan dengan kegiatan menanam pohon selama bulan Desember 2008. Saya juga mendengar laporan bahwa di Provinsi Sumatera Selatan, pada tanggal 1 Desember 2008 ibu-ibu Sumatera Selatan juga mengadakan aksi menanam dan pelihara pohon. Menurut laporan Saudara, bahwa dari BPDAS Musi sudah tersalurkan 760.000 bibit pohon, Saudara dari BPTH Sumatera Selatan dicadangkan 500.000 bibit pohon serta bibit-bibit yang disiapkan oleh dinas kehutanan kabupaten dan mitra yang jumlahnya belum terdata. Saya atas nama Menteri Kehutanan menyampaikan terima kasih atas partisipasi Sumatera Selatan dalam mensukseskan penanaman 100 juta pohon. Oleh karena itu, penyelenggaraan seminar hasil-hasil penelitian dengan tema yang dipilih ini juga sangat tepat dalam ikut mendukung terwujudnya target penanaman 100 juta pohon.
Hadirin yang saya hormati,
Berbicara potensi di Sumsel terdapat lebih kurang 830.000 Ha hutan tanaman dengan produksi 2,8 juta m3/tahun dan termasuk Industri Pulp, mampu menyerap tenaga kerja 24.000 orang (Statistik Kehutanan, 2006).
Dengan berbagai permasalahan kehutanan yang di hadapi saat ini nampaknya perlu upaya terobosan untuk mendukung program Sumsel sebagai lumbung energi dan lumbung pangan nasional yang antara lain melalui kebijakan pembangunan kehutanan di Sumsel pada tahun 2009 yaitu terwujudnya hutan tanaman seluas 900.000 Ha, produksi kayu 8 juta m3/th, industri pulp sebanyak 5 unit dengan kapasitas produksi 500 ribu ton/tahun, produksi hasil hutan non kayu/ tahun untuk madu, rotan dan damar masing-masing 28.100 dan 2000 ton/tahun dan mampu menyerap tenaga kerja 105 ribu/tahun.
Sebagai salah satu lembaga riset hutan kami berharap hendaknya keberadaan lembaga risert di Palembang dapat menjadi pusat informasi IPTEK hutan khususnya penghasil kayu pertukangan dan aspek-aspek lainnya yang sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) serta pembangunan hutan berkelanjutan terutama di Sumatera Selatan. Mengingat kondisi keuangan negara yang belum
lainnya untuk sharing kegiatan, sumberdaya penelitian dan anggaran untuk menghindari duplikasi.
Hadirin yang berbahagia, saya sangat mendukung penyelenggaraan seminar ini, yang dihadiri oleh para pengambil kebijakan baik dari pusat dan daerah, pelaku pembangunan, para penyuluh, petani hutan, serta para tokoh masyarakat, salah satu untuk mengoptimalkan peran IPTEK Kehutanan khususnya dalam mendukung peningkatan produktivitas hutan dan lahan di Sumsel.
Penggunaan jenis lokal yang potensial dan teknik silvikultur yang tepat, upaya perlindungan tanaman yang efektif serta perencanaan partisipatif sejak dini, diharapkan dapat mendukung keberhasilan pembangunan kehutanan di Sumsel, yang berbasis masyarakat.
Saya sangat berharap agar ada tindak lanjut yang lebih operasional setelah selesainya seminar ini, sehingga terdapat dukungan yang kongkrit terhadap pelaksanaan program pembangunan sektor Kehutanan di Sumatera Selatan.
Selanjutnya kami berharap agar semua yang hadir di sini dapat berperan aktif dalam seminar hasil-hasil penelitian selama satu hari ini, baik dalam hal menyerap informasi hasil-hasil penelitian maupun dalam memberikan umpan balik.
Hadirin yang berbahagia,
Saya akhiri sambutan saya ini diiringi dengan ucapan terima kasih atas perhatian Saudara-saudara, dan dengan mengucapkan Bismillahirohmanirrohim, Seminar Hasil-hasil Penelitian dengan Tema Mengenal Teknik Budidaya Jenis Pohon Lokal Sumatera Selatan dan Upaya Pengembangannya secara resmi saya nyatakan dibuka.
Selamat mengikuti Seminar ini, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, amin.
Sekian dan terima kasih
Wabilahi taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
KEPALA BADAN LITBANG KEHUTANAN ttd
Ir. WAHJUDI WARDOJO, MSc NIP. 080 035 208
Memperhatikan sambutan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, sambutan Kepala Balai Penelitian Kehutanan Palembang, paparan makalah dan hasil diskusi, maka dapat disampaikan rumusan sebagai berikut :
1. Indonesia memiliki keistimewaan dari sisi keanekaragaman flora dan fauna dan sangat unik secara ekologis, sehingga perlu perhatian khusus dalam pengelolaaannya. Pemahaman teknik budidaya jenis-jenis pohon lokal akan mampu menjadi perintis bagi upaya program pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya hutan, sehingga hutan dapat berperan terhadap ketahanan pangan, sumber energi baru, lapangan kerja, perbaikan lingkungan serta dapat memberikan ketahanan menghadapi krisis finansial, sehingga perlu pengenalan lebih luas tentang tehnik budidaya jenis-jenis pohon lokal Sumsel dan upaya pengembangannya.
2. Upaya-upaya pemulihan rehabilitasi hutan dan lahan di Sumatera Selatan antara lain: Pembangunan HTI, pengembangan hutan rakyat dan reboisasi, aksi penanaman serentak pada tingkat kabupaten, pembangunan arboretum dan demplot plasma nutfah, bantuan bibit, reklamasi lahan bekas penambangan dan rehabilitasi partisipatif.
3. Gaharu merupakan jenis ideal untuk digunakan dalam pengembangan hutan tanaman rakyat. Penerapan SILIN pada budidaya gaharu meliputi penggunaan bibit berkualitas, manipulasi tempat tumbuh yang optimal, pengendalian hama dan penyakit, serta induksi jamur stimulan gaharu, ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan pohon dan produktivitas resin gaharu.
4. Pemanfaatan jenis-jenis pohon lokal sangat prospektif, karena jenis-jenis yang bernilai ekonomi tinggi cukup banyak dan teknik silvikulturnya telah dikuasai, seperti jelutung rawa, ramin, gelam, punak, pulai dan tembesu.
Pengembangan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut dan lahan kering perlu disertai dengan pemilihan jenis yang sesuai dengan tempat tumbuhnya, namun demikian untuk areal di luar kawasan hutan perlu penerapan pola tanam campuran dengan tanaman perkebunan dan pertanian, agar hasil dari suatu hamparan lahan yang diusahakan menjadi lebih besar, untuk itu perlu disusun petunjuk tehnik budidayanya.
5. Keunggulan budidaya jenis-jenis lokal adalah bersifat site specific, low inputs, ramah lingkungan dan adanya ikatan permanen antara tanaman dengan masyarakat setempat, namun demikian potensi serangan hama pada jenis-jenis lokal tetap perlu diperhitungkan.
6. Seminar ini merekomendasikan kerjasama antara pemerintah daerah Provinsi Sumatera Selatan dengan Badan Litbang Kehutanan untuk mengaplikasikan hasil-hasil penelitian kehutanan dalam rangka mendukung program pembangunan Provinsi Sumatera Selatan.
Palembang, 11 Desember 2008 Tim Perumus :
Ir. Dody Prakosa, MSc. (Ketua) Ir. Asmaliyah (Sekretaris) Sahwalita, S.Hut.,MP. (Anggota) Edwin Martin, S.Hut., MSi. (Anggota)
Aspek Silvikultur
TEKNIK BUDIDAYA JENIS-JENIS POHON LOKAL (INDIGENOUS SPECIES) HUTAN RAWA GAMBUT
Bastoni
Peneliti pada Balai Penelitian Kehutanan Palembang
ABSTRAK
Lahan rawa gambut mempunyai sebaran yang luas di Sumatera, termasuk Sumatera Selatan. Kondisinya saat ini sebagian besar telah rusak. Upaya rehabilitasi dan revegetasi perlu segera dilakukan. Pemanfaatan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut untuk upaya tersebut sangat prospektif mengingat jenis-jenis pohon lokal yang bernilai ekonomi tinggi cukup banyak dan teknik budidayanya sebagian besar telah dikuasai. Pengembangnnya tidak terbatas pada kawasan hutan rawa gambut, tetapi juga dapat dikembangkan pada lahan di luar kawasan hutan.
Pengembangan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut perlu disertai dengan pemilihan jenis yang sesuai dengan tempat tumbuhnya, dan khusus untuk areal di luar kawasan hutan perlu penerapan pola tanam campuran (dengan tanaman perkebunan dan atau pertanian) sehingga akan dapat melipatgandakan hasil dari satu hamparan lahan yang diusahakan. Namun upaya tersebut perlu mengikuti kaidah-kaidah kesesuaian lahan (teknis) dan kesesuaian pasar (ekonomis).
Kata kunci : jenis pohon lokal, hutan rawa gambut, pertumbuhan, teknik budidaya
I. PENDAHULUAN
Pulau Sumatera dikarunia lahan rawa gambut terluas di Indonesia (7,2 juta hektar). Penyebarannya terutama terdapat di sepanjang pantai timur provinsi Riau (4,04 juta hektar), provinsi Sumatera Selatan (1,42 juta hektar) dan provinsi Jambi (0,72 juta hektar. Sebagian kecil sisanya tersebar di provinsi-provinsi lain (Wahyunto et al., 2005). Provinsi Sumatera Selatan memiliki lahan rawa gambut terluas kedua setelah provinsi Riau. Berdasarkan tata guna lahan, sebagian besar lahan rawa gambut di Sumatera Selatan merupakan kawasan hutan (1,15 juta hektar) dan sisanya adalah areal penggunaan lain (0,27 juta hektar).
Hutan rawa gambut(peat swamp forest) dengan tipe ekosistem yang khas, memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Pada kondisi alami hutan rawa gambut membentuk keseimbangan ekosistem yang mampu menopang kehidupan flora dan fauna di dalamnya serta berfungsi dalam menjaga keseimbangan iklim global.
Namun demikian eksploitasi hutan yang berlebihan dan konversi lahan yang tidak mengikuti kaidah kesesuaian lahan telah merusak hutan dan lahan rawa gambut beserta fungsi-fungsi penting yang dimilikinya. Kerusakan makin diperparah oleh bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi periodik di musim kemarau. Kondisi ini dapat dijumpai di hampir seluruh lahan rawa gambut, tak terkecuali di Sumatera Selatan.
Lahan rawa gambut tergolong tipe lahan yang marjinal dan rentan terhadap kerusakan apabila telah dibuka.
Oleh karena itu keberadaannya seringkali menjadi faktor penghambat untuk pengembangan suatu wilayah. Namun dibalik banyaknya faktor penghambat untuk berbagai penggunaan, pada lahan rawa gambut sebenarnya tersimpan potensi dan peluang yang tidak dimiliki oleh tipe lahan lainnya. Salah satunya adalah pemanfaatan jenis-jenis pohon unggulan lokal yang hanya ditemukan pada lahan gambut untuk pengembangan hutan tanaman. Hal ini sejalan dengan upaya untuk merehabilitasi dan merevegetasi kawasan hutan rawa gambut yang rusak dan meningkatkan
produktivitas lahan yang terlanjur dikonversi tetapi kurang sesuai untuk tanaman pangan. Pada makalah ini disajikan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut yang bisa dipilih untuk hutan tanaman dan teknik budidayanya.
II. PELUANG BUDIDAYA JENIS-JENIS POHON LOKAL UNTUK BUDIDAYA
Jenis-jenis pohon unggulan lokal hutan rawa gambut yang memiliki nilai ekonomi tinggi disajikan pada Lampiran 1 dan yang banyak ditemukan di hutan rawa gambut Sumatera Selatan adalah:
1. Jelutung (Dyera lowii)
2. Ramin (Gonystylus bancanus) 3. Gelam (Melaleuca leucadendron) 4. Pulai (Alstonia pneumatophora) 5. Punak (Tetramerista glabra) 6. Meranti (Shorea spp.)
7. Geronggang (Cratoxylum glaucum) 8. Terentang (Camnosperma macrophyla)
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan telah membuat rekomendasi penggunaan lahan dan jenis-jenis pohon yang dapat dikembangkan untuk kegiatan rehabilitasi dan pembangunan hutan tanaman pada 11 tipologi lahan rawa gambut (Daryono, 2006), seperti disajikan pada Lampiran 2. Rekomendasi tersebut sesuai diterapkan untuk:
1. Kegiatan rehabilitasi, revegetasi dan peningkatan produktivitas sumberdaya hutan rawa gambut
2. Peningkatan produktivitas lahan rawa gambut yang telah dikonversi tetapi tidak sesuai untuk pengembangan tanaman pangan.
Keunggulan budidaya jenis-jenis pohon lokal pada lahan rawa gambut antara lain:
1. Budidaya bersifat site specific, kesesuaian jenis dengan lahan sudah teruji sehingga akan mengurangi resiko kegagalan.
2. Budidaya dengan masukan rendah (low inputs), membutuhkan modal usaha yang sedikit per satuan luasnya sehingga budidaya akan bisa dilakukan dalam skala luas, sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas dan pemulihan fungsi ekologis lahan rawa yang rusak dan terlantar.
3. Budidaya bersifat ramah lingkungan karena penyiapan lahan dilakukan secara minimal, tidak perlu membuat saluran drainase berbiaya tinggi yang akan mengubah status hidrologi lahan dan dapat merusak gambut.
4. Budidaya dengan tanaman permanen untuk jangka panjang sehingga akan terbentuk ikatan permanen antara masyarakat dengan lahan yang dimilikinya, ikatan yang terbentuk sangat efektif untuk pencegahan kebakaran lahan rawa gambut.
Pengembangan hutan tanaman jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut dapat dilakukan dengan pengaturan pola tanamnya, tergantung lokasi pengembangan pada kawasan hutan atau di luar kawasan hutan (areal penggunaan lain). Pola tanam yang disarankan adalah:
1. Kawasan Hutan
a. Pada hutan sekunder (hutan bekas tebangan) dapat diterapkan pola campuran hutan tanaman – hutan alam melalui penanaman pengkayaan (enrichment planting) dengan sistim jalur (line planting) secara monokultur atau campuran beberapa jenis tanaman penghasil kayu dan non kayu.
b. Pada hutan bekas kebakaran dapat diterapkan pola campuran hutan tanaman – hutan alam untuk areal bekas kebakaran yang masih menyisakan hutan alam atau murni hutan tanaman untuk areal bekas kebakaran yang seluruh tegakan hutan alamnya mati.
2. Luar Kawasan Hutan (Areal Penggunaan Lain)
a. Pada lahan rawa gambut yang pilihan penggunaan lahannya beragam disarankan menggunakan pola tanam campuran dengan tanaman pertanian, perkebunan (Agroforestry) atau mengkombinasikan tanaman pertanian, kehutanan dan perikanan (Agrosilvofishery) (Bastoni, 2006).
b. Pada lahan rawa gambut yang pilihan penggunaan lahannya terbatas disarankan menggunakan pola monokultur (murni hutan tanaman) dengan jenis pohon penghasil kayu dan non kayu sehingga ada hasil yang bisa dipanen dalam waktu yang tidak terlalu lama.
III. TEKNIK BUDIDAYA JENIS-JENIS POHON LOKAL
Secara umum terdapat beberapa tahapan kegiatan budidaya pohon dalam satu daur, meliputi kegiatan pembibitan, penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, perlindungan dan terakhir pemanenan. Pada lahan rawa gambut terdapat beberapa kegiatan penting dari masing-masing tahap kegiatan budidaya pohon yang membedakannya dengan budidaya pohon di lahan kering. Hal tersebut karena terdapat beberapa karakter lahan rawa gambut yang khas seperti genangan air, ketebalan gambut dan kedalaman lapisan pirit. Berikut ini diuraikan tahapan budidaya pohon pada lahan rawa gambut.
A. Pembibitan
Pembibitan pohon dapat dilakukan dengan beragam cara. Pada pembibitan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut disarankan untuk menggunakan teknik pembibitan dengan genangan buatan. Keunggulan teknik pembibitan ini antara lain:
1. Masa siap tanam bibit menjadi lebih cepat berkisar antara 4 - 6 bulan setelah sapih. Hal ini karena genangan buatan mampu memasok kelembaban media sapih secara kontinyu sehingga bibit tidak mengalami stres air selama masa pembibitan.
2. Akar bibit tanaman tidak masuk ke dalam tanah. Keuntungannya adalah akar tidak putus pada saat dipindah dari persemaian ke lokasi penanaman sehingga bibit tidak mengalami stres dan layu yang berarti. Keuntungan lain adalah tidak diperlukan pemotongan akar bibit dan penggeseran polibag selama masa pembibitan sehingga mengurangi biaya perawatan.
3. Hemat konsumsi air dan biaya penyiraman bibit. Konsumsi air selama masa pembibitan dengan teknik genangan buatan lebih hemat 28 kali dibandingkan dengan pembibitan tanpa genangan. Selama masa
pembibitan tidak diperlukan penyiraman bibit tetapi cukup dengan mengisi air pada bak genangan apabila diperlukan, bahkan pada musim hujan pengisian air pada bak genangan tidak diperlukan.
4. Kombinasi antara masa siap tanam bibit yang lebih cepat dan pemangkasan pos-pos biaya pemeliharaan bibit menjadikan teknik pembibitan dengan genangan buatan lebih murah dibandingkan dengan pembibitan tanpa genangan.
5. Teknik pembibitan dengan genangan buatan dapat digunakan untuk pembibitan jenis-jenis pohon lahan kering.
Konstruksi persemaian permanen dengan teknik genangan buatan terdiri dari:
1. Bak genangan yang dibuat dari pasangan batu bata dengan alas genangan dari plastik polyetilen. Dimensi bak genangan lebar 140 cm, tinggi dalam bak 5 cm, panjang 10 – 20 meter tergantung dari panjang permukaan tanah yang rata air.
2. Tiang atap tinggi 1 meter dibuat dari bahan paralon ¾ inchi yang lubangnya diisi adukan pasir semen dan ditancapkan besi cor ukuran 6 mm untuk penguat.
3. Rangka atap terbuat dari bahan kayu atau bambu.
4. Paranet yang dipasang sebagai atap untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk pada areal pembibitan, intensitas naungan 50%.
Konstruksi persemaian dengan teknik genangan buatan serta tahapan pembuatan dan penggunaannya disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Teknik pembibitan dengan genangan buatan untuk pembibitan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut
B. Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan untuk budidaya jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut dilakukan secara minimal untuk menghindari kerusakan lahan rawa gambut dan meminimalkan biaya. Penyiapan lahan mekanis tidak diperlukan karena jenis-jenis pohon lokal secara alami sudah bisa beradaptasi dengan kondisi hutan alam. Pembuatan sistem drainase juga tidak diperlukan karena jenis-jenis pohon lokal sudah mampu beradaptasi dengan genangan air.
Teknik penyiapan lahan yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi areal penanaman dengan memperhatikan karakter lahan rawa gambut, yaitu: (1) kedalaman dan durasi genangan air, (2) ketebalan dan kematangan gambut, (3) kedalaman lapisan pirit (FeS2) dari permukaan tanah. Kedalaman genangan air dapat dimanipulasi dengan pembuatan gundukan tanah mineral atau tanah gambut. Ketebalan dan kematangan gambut akan menentukan tingkat kesuburan tanah. Sedangkan kedalaman lapisan pirit digunakan untuk mengantisipasi munculnya tanah sulfat masam.
Pada hutan rawa gambut sekunder, penyiapan lahan dilakukan dengan sistim jalur. Jarak antar jalur disesuaikan dengan kondisi tegakan tinggal. Pada tegakan tinggal dengan kerapatan sedang jarak antar jalur bisa dibuat antara 10 - 15 meter, sedangkan pada tegakan tinggal yang jarang dapat dibuat jarak antar jalur 5 meter.
Jarak antar tanaman dalam jalur disesuaikan dengan jenis tanaman, dapat digunakan jarak 3, 4 atau 5 meter. Lebar jalur 2 meter. Gundukan gambut dibuat apabila genangan air pada puncak musim hujan > 25 cm.
Pada hutan rawa gambut bekas kebakaran, penyiapan lahan dilakukan dengan sistim jalur. Jarak antar jalur 5 meter dan jarak antar tanaman dalam jalur juga disesuaikan dengan jenis tanaman, dapat digunakan jarak 3, 4 atau 5 meter dengan lebar jalur 2 meter. Arah jalur timur – barat untuk jenis pohon intoleran (suka cahaya). Arah jalur utara – selatan untuk jenis pohon toleran (butuh naungan) dan semi toleran. Gundukan gambut perlu dibuat karena pada areal hutan bekas kebakaran banyak ditemukan perakaran pohon yang tersingkap ke permukaan.
Pembuatan gundukan tanah mineral atau tanah gambut bertujuan untuk:
1. Mengumpulkan massa tanah yang subur untuk awal pertumbuhan tanaman.
2. Meninggikan bagian tanah agar bibit tidak terendam air pada puncak musim hujan.
Ilustrasi gundukan tanah gambut atau tanah mineral disajikan pada Gambar 1
Gambar 2. Teknik pembuatan gundukan sesuai dengan karakter genangan air pada areal penanaman di lahan rawa gambut
Penyiapan lahan untuk budidaya jenis-jenis pohon lokal pada areal penggunaan lain (luar kawasan hutan) disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pencampurnya (agroforestry). Jarak tanam juga disesuaikan agar antar tanaman yang dibudidayakan dapat memanfaatkan ruang tumbuh yang optimal.
Secara umum terdapat 3 kategori genangan air pada lahan rawa gambut untuk keperluan penanaman, yaitu: genangan dangkal (< 25 cm), genangan sedang (25 -50 cm) dan genangan dalam (> 50 cm). Gundukan dapat berfungsi efektif sampai genangan sedang. Sedangkan pada genangan dalam penerapan teknik gundukan perlu dikombinasikan dengan pemilihan jenis pohon yang dapat beradaptasi dengan genangan dalam, seperti perepat (Combretocarpus rotundatus) dan gelam (Melaeuca leucadendron).
C. Penanaman dan Pemeliharaan
Penanaman yang efektif pada lahan rawa gambut perlu mengacu pada 2 aspek, yaitu waktu tanam dan penyesuaian tinggi bibit saat penanaman. Waktu tanam terbaik adalah pada awal musim hujan (Oktober - Nopember), pada saat genangan air belum mencapai puncak (Januari). Pada umur 3 bulan setelah tanam, bibit sudah mampu beradaptasi dengan kondisi genangan. Tinggi bibit saat penanaman harus disesuaikan dengan tinggi genangan air pada puncak musim hujan. Tinggi bibit minimal ¼ lebih tinggi dari puncak genangan air untuk menghindari bibit terendam air.
Pemeliharaan merupakan tahapan penting kegiatan budidaya jenis-jenis pohon lokal. Pemeliharaan minimal dilakukan sampai tanaman berumur 3 tahun. Pada umur tersebut tanaman sudah mampu bersaing dengan pertumbuhan tumbuhan bawah di lahan rawa gambut. Pada tahun pertama pemeliharaan dilakukan minimal 3 kali (per 4 bulan) berupa pembebasan tumbuhan bawah sistim jalur dan pemupukan NPK dengan dosis 10 gram/pohon.
Pada tahun kedua dan ketiga pemeliharaan dilakukan minimal 2 kali (per 6 bulan) berupa pembebasan tumbuhan bawah sistim jalur dan pemupukan dosis 20 gram/pohon untuk tahun kedua dan 30 gram/pohon untuk tahun ketiga (Bastoni dan Sianturi, 2000).
D. Perlindungan Hutan
Lahan rawa gambut mempunyai tingkat bahaya kebakaran yang tinggi. Hal tersebut terjadi karena adanya deposit bahan organik (gambut) yang dihasilkan dari akumulasi biomassa tegakan hutan dan tumbuhan bawah.
Kerawanan kebakaran terjadi pada musim kemarau ketika terjadi penurunan genangan air. Sumber api dipastikan berasal dari aktivitas manusia (Ruchiat dan Suyanto, 2001). Upaya pengendalian kebakaran yang terbaik adalah pencegahan timbulnya sumber api. Upaya pemadaman tidak efektif dan mahal. Pencegahan kebakaran dapat dilakukan dengan menghindari pembuatan kanal untuk mencegah timbulnya drainase air berlebihan. Kanal dapat dibuat dengan syarat sejajar kontur lahan. Patroli api harus lebih disiagakan pada bulan-bulan kering (Juli, Agustus, September).
IV. PEMBAHASAN TANAMAN JENIS-JENIS POHON UNGGULAN
A. Jelutung (Dyera lowii)
Rangkaian penelitian teknik budidaya jelutung mulai dari pembibitan, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan telah dilaksanakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Palembang (Bastoni dan Lukman, 2006). Berikut ini disajikan rangkuman hasil-hasil penelitian yang dimaksud.
1. Pembibitan
a. Pembibitan dilakukan secara generatif menggunakan benih. Pembibitan menggunakan metode vegetatif makro (stek) dan mikro (kultur jaringan) belum dikuasai.
b. Pengadaan benih meliputi kegiatan sebagai berikut: (1) pemanenan buah, (2) penjemuran buah, (3) ekstraksi dan penyimpanan benih
o Jelutung rawa berbuah setiap tahun dengan musim raya setiap 2 tahun. Pohon berbunga pada bulan Nopember. Buah telah matang sekitar 5 – 6 bulan setelah berbunga sehingga pemanenan buah dapat dilakukan pada bulan April – Mei. Pemanenan dilakukan dengan cara memanjat pohon induk. Apabila pemanenan terlambat buah telah pecah dan bijinya sukar dikumpulkan karena terbang sampai beberapa ratus meter dari pohon induk. Hama buah jelutung yang utama adalah kera (Macaca sp.) dan beberapa jenis burung (betet dan rangkong).
o Buah jelutung rawa berbentuk polong berjumlah 2 buah pada setiap tangkainya. Panjang polong 12 – 26 cm (rata-rata 23 cm), berat kering polong 20,2 – 31,9 gram (rata-rata 28,02 gram), jumlah biji per polong 12 – 26 biji (rata-rata 18 biji).
o Buah yang telah matang berwarna coklat gelap dan keriput. Buah yang matang (fisik dan fisiologis) telah pecah setelah dijemur 1 – 3 hari. Buah yang belum matang baru pecah lebih dari 4 hari setelah dijemur.
o Biji dapat dikeluarkan dari polong dengan mudah setelah polong pecah. Biji yang bernas dan tidak cacat dipilih untuk sumber benih. Jumlah benih per kilogram berkisar antara 10.000 – 11.000 benih.
o Benih jelutung bersifat rekalsitrant dan mudah diserang cendawan sehingga mempunyai masa simpan relatif pendek. Penyimpanan pada suhu ruang dapat dilakukan dengan mengemas benih dalam kantong/kotak kertas tebal, diletakkan pada ruang yang tidak lembab, bersirkulasi udara baik dan tidak kena cahaya langsung. Penyimpanan dalam kulkas dapat dilakukan dengan mengemas benih dalam kantong plastik tebal dan ditutup rapat, diletakkan pada ruang bawah kulkas. Daya tahan benih pada penyimpanan suhu ruang sekitar 2 bulan dan dalam kulkas sekitar 4 bulan.
c. Perkecambahan Benih
o Daya kecambah (viabilitas) benih jelutung dipengaruhi oleh tingkat kematangan fisiologis benih dan lama penyimpanan. Penyimpanan selama 35 hari pada ruang bertemperatur 26 – 29ºC menurunkan viabilitas benih sebesar 50% dan dalam kulkas bertemperatur 9 - 11oC menurunkan viabilitas benih sebesar 30%
(Hernawan, 2002). Viabilitas tertinggi diperoleh pada penaburan benih segera setelah ekstraksi tanpa melalui proses penyimpanan. Viabilitas benih tertinggi yang pernah dicapai adalah 85% (Subhan, 2003).
o Benih yang akan dikecambahkan terlebih dahulu direndam dalam air selama 4 jam sampai benih jenuh air.
Perendaman juga berguna untuk menyeleksi benih yang viable dan benih yang telah mati. Benih yang mati tampak menggembung setelah direndam. Benih siap ditabur setelah perendaman selesai.
o Tempat perkecambahan benih dinaungi sarlonet dengan intensitas penyaringan cahaya 50 – 75 persen.
o Media tabur benih adalah pasir halus yang telah disaring dan disterilkan, disebar setebal 10 cm pada wadah perkecambahan dan disiram sampai jenuh air.
o Penaburan benih dilakukan pada media pasir dengan cara membuat alur/larikan sedalam 2 cm menggunakan bambu/kayu pipih. Benih dibenamkan dalam alur sedalam sepertiga bagian benih. Posisi pembenaman benih tegak (vertikal) dengan bagian bawah adalah calon akar yang dicirikan oleh bagian lancip dari bagian endosperm benih.
o Pemeliharaan dilakukan dengan cara menyiram bak tabur 2 kali sehari dan penyemprotan fungisida sesuai kebutuhan dengan sprayer bernozzle halus untuk menghindari pemadatan media dalam wadah perkecambahan.
o Benih sudah mulai berkecambah 10 sampai 30 hari setelah penaburan, yang ditandai oleh terangkatnya keping benih dari media tabur. Kulit benih pecah dan keluar sepasang kotiledon 35 – 50 hari setelah penaburan.
d. Penyapihan Bibit
o Penyapihan bibit sudah dapat dilakukan setelah kotiledon berkembang penuh atau setelah keluar sepasang daun sekitar 50 – 60 hari (2 bulan) setelah penaburan benih.
o Media sapih bibit yang digunakan sebaiknya banyak mengandung bahan organik, atau campuran tanah mineral dan bahan organik. Pertumbuhan bibit terbaik dicapai pada perlakuan komposisi media sapih 60%
gambut dan 40% tanah mineral (top soil) serta dosis pupuk NPK sebesar 0,5 – 1,0 gram/bibit.
o Penyapihan bibit dilakukan pada persemaian permanen atau semi permanen yang dinaungi sarlonet dengan intensitas naungan 50 – 75 persen.
o Polibag yang dapat digunakan untuk penyapihan bibit berukuran 15 x 12 cm atau lebih besar tergantung lama waktu penanaman.
o Kriteria bibit siap tanam: tinggi 25 – 40 cm, diameter 0,5 cm, jumlah daun 8 – 12 helai, batang lurus, perakaran sudah menyatu dengan media.
o Umur bibit siap tanam tergantung dari cara pembibitannya. Pada pembibitan manual (tanpa genangan) bibit siap tanam 8 – 10 bulan setelah sapih. Pada pembibitan sistem genangan buatan setinggi 30% dari tinggi polibag, bibit siap tanam 4 – 6 bulan setelah sapih dan konsumsi air 28 kali lebih hemat daripada pembibitan manual.
2. Penyiapan Lahan
a. Jelutung rawa termasuk jenis pohon yang membutuhkan cahaya penuh untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu jenis ini cocok ditanam pada hutan rawa gambut yang terbuka, seperti areal bekas tebangan dan kebakaran.
b. Pada areal terbuka bekas kebakaran, penyiapan lahan dilakukan dengan sistem jalur, lebar jalur 1,5 – 2,0 m dan
gundukan gambut. Tujuannya untuk mengumpulkan massa tanah untuk tempat berjangkarnya perakaran tanaman dan meninggikan bagian tanah agar bibit tidak terendam air. Tinggi gundukan minimal 50% dari tinggi genangan air pada puncak musim hujan.
c. Pada areal terbuka bekas tebangan, untuk tanaman pengayaan, penyiapan lahan dilakukan dengan sistem jalur, lebar jalur 2 - 3 m dan jarak antar jalur 10 m, jarak tanam 5 x 10 m.
3. Penanaman dan Pemeliharaan
a. Sebelum penanaman, bibit diadaptasikan di tempat terbuka selama 1 bulan dengan cara pembukaan sarlonet di persemaian.
b. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober) sebelum genangan air rawa tinggi dan tinggi bibit perlu disesuaikan dengan tinggi genangan air. Tinggi bibit minimal sepertiga lebih tinggi dari genangan air pada puncak musim hujan.
c. Pemeliharaan tanaman dilakukan minimal sampai umur 3 tahun, berupa pembebasan tumbuhan bawah dan pemupukan.
d. Pada tahun pertama pembebasan tumbuhan bawah dilakukan minimal 3 kali, karena pertumbuhan tumbuhan bawah (jenis paku tanah Nephrolepis exaltata dan Stenochlaena palustris) di hutan rawa gambut sangat cepat akibat air yang tersedia sepanjang tahun. Pada tahun kedua dan ketiga pembebasan tumbuhan bawah dilakukan masing-masing 2 kali.
e. Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali pada awal musim hujan dan akhir musim kemarau sampai tanaman berumur 3 tahun. Pupuk yang digunakan NPK dengan dosis 10 - 30 gram per tanaman setiap periode pemupukan.
4. Pertumbuhan Jelutung pada Beberapa Tipe Tempat Tumbuh (Site)
Jelutung mulai banyak digunakan untuk hutan tanaman di beberapa daerah di Jambi dan Sumatera Selatan. Hasil pengukuran pertumbuhan tanaman jelutung pada beberapa daerah tersebut disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pertumbuhan Jelutung (Dyera lowii) pada beberapa tipe tempat tumbuh di Jambi dan Sumatera Selatan
No Tipe Site dan Lokasi Riap (MAI)
Keterangan Tinggi
(m/tahun) Diameter (cm/tahun) 1 Gambut 4 meter,
Sungai Aur, Kumpeh Ilir - Jambi 1,75 2,38 Pemeliharaan 2 kali per tahun 2 Gambut 6 meter,
Air Hitam, Kumpeh Ilir – Jambi 1,02 2,26 Pemeliharaan 2 kali per tahun 3 Gambut 0,5 - 1 meter,
Kutaraya, OKI – Sumatera Selatan 0,59 1,64 Pemeliharaan 2 kali per tahun 4 Sulfat masam potensial, pirit 60 cm
Bakung, Ogan Ilir – Sumatera Selatan 0,29 0,88 Pemeliharaan 2 kali per tahun 5 Sulfat masam potensial, pirit 70 cm
Gasing, Banyuasin – Sumatera Selatan 1,28 2,33 Pemeliharaan 4 kali per tahun 6 Rawa lebak, tanah Inceptisol (Aquept)
Kemampo, Banyuasin – Sumsel 0,43 1,05 Pemeliharaan 3 kali per tahun
B. Ramin (Gonystylus bancanus)
Balai Penelitian Kehutanan Palembang telah melakukan penelitian dan uji coba pembibitan, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan ramin (G. bancanus). Kegiatan dilaksanakan di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi (Bastoni, 2005). Berikut ini adalah rangkuman hasil penelitian dan uji coba tersebut.
1. Pembibitan Generatif a. Pembibitan dengan Benih
o Ramin berbuah tidak menentu dan tidak setiap tahun, kadang-kadang 2 – 4 tahun sekali. Pohon berbunga pada bulan September - Oktober. Buah telah matang sekitar 6 bulan setelah berbunga sehingga pemanenan buah dapat dilakukan pada bulan April - Mei.
o Pemanenan dilakukan dengan cara membuat permudaan celah (gap planting) di sekitar pohon induk. Lebar celah diupayakan lebih besar dari lebar tajuk pohon. Buah ramin yang telah masak sebagian dimakan burung dan sebagian jatuh, biji dalam buah akan terpisah dan jatuh di sekitar pohon.
o Dengan permudaan celah maka pengambilan biji yang jatuh akan mudah dilakukan. Sedangkan biji yang tidak terambil akan berkecambah dan dapat digunakan untuk bahan cabutan anakan alam.
o Biji ramin berwarna coklat kehitaman, bentuk bulat agak lonjong dengan panjang 2 – 2,5 cm dan diameter 1 – 1,5 cm. Biji yang jatuh dari pohon cepat berkecambah (3 – 5 hari) sehingga pengambilan dan pengumpulan biji harus cepat.
o Seleksi dilakukan untuk memperoleh biji ramin yang bernas dan tidak cacat sebagai sumber benih. Seleksi dapat dilakukan dengan cara merendam biji dalam air. Biji yang tenggelam masih viable dan yang terapung biasanya sudah mati. Seleksi akan meningkatkan perkecambahan ramin sampai 95%.
o Benih disimpan pada wadah yang lembab seperti karung goni basah. Benih yang mulai berkecambah dapat langsung dipindah ke polibag yang telah diisi media gambut murni, top soil, atau campuran gambut dan top soil. Setelah kecambah cukup tinggi polibag diisi media sampai penuh.
o Kecambah ramin mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat, umur 2 bulan setelah berkecambah tinggi bibit sudah mencapai rata-rata 30 cm. Bibit sudah dapat ditanam di lapangan pada umur 3 - 5 bulan setelah peletakan benih di polibag. Kriteria bibit siap tanam adalah tinggi 30 – 50 cm, diameter 0,4 – 0,6 cm, jumlah daun 5 – 10 helai, perakaran sudah menyatu dengan media.
o Bibit ramin yang telah mapan (umur > 1 bulan) mempunyai daya tahan yang baik terhadap kekeringan dibandingkan dengan jenis bibit lain, seperti bibit pulai dan jelutung.
b. Pembibitan dengan Cabutan Anakan Alam
o Biji ramin yang berkecambah di sekitar pohon induk, daun telah terbentuk dan berkembang penuh, serta tinggi lebih dari 20 cm dapat digunakan untuk bahan cabutan anakan alam.
o Bahan cabutan akan lebih baik jika biji belum terlepas dari kecambah sehingga masih tersedia cadangan makanan yang akan meningkatkan daya hidup bahan cabutan.
o Pencabutan dilakukan hati-hati sehingga akar tidak patah, cabutan dikemas pada wadah lembab dan diangkut ke persemaian.
o Daun dipotong setengah bagian, akar yang terlalu panjang juga dipotong, setelah itu bibit dimasukkan hati- hati ke dalam polibag yang telah diisi media gambut, top soil, atau campuran gambut dan top soil.
o Bibit cabutan dimasukkan ke dalam sungkup plastik transparan untuk menghindari stress akibat penguapan air, sungkup diletakkan di bawah naungan pohon atau sarlonet intensitas penyaringan cahaya 75 persen untuk menghindari panas berlebihan.
o Bibit dikeluarkan dari sungkup ke persemaian setelah terbentuk daun baru dan bibit tampak segar, waktu yang dibutuhkan sekitar 1 – 2 bulan.
o Untuk memacu pertumbuhan bibit dapat digunakan pupuk NPK dosis 1 gram/bibit. Kualitas bibit asal cabutan anakan alam relatif lebih rendah dibandingkan bibit asal benih. Bibit cabutan anakan alam siap ditanam setelah umur 4 - 6 bulan setelah sapih.
2. Pembibitan Secara Vegetatif Makro (Stek Batang) dan Mikro (Kultur Jaringan) a. Pembiakan Vegetatif Makro
o Pembibitan vegetatif makro ramin dengan maupun mikro (kultur jaringan) belum banyak dilakukan. Namun demikian uji coba pada fase awal sudah mulai dilakukan mengingat sulitnya pasokan benih dan sebaran ramin di hutan alam sudah mulai langka.
o Pembibitan ramin dengan batang sangat potensial untuk dikembangkan. Pertumbuhan ramin pada tingkat semai dan pancang menghasilkan tunas/cabang ortotroph umumnya lebih dari 2 sehingga sangat membantu penyediaan bahan stek yang dibutuhkan.
o Hasil uji coba pembibitan ramin menggunakan batang menunjukkan hasil terbaik dengan perlakuan zat pengatur tumbuh IAA konsentrasi 1.400 ppm dan lama perendaman 24 jam. Persentase stek berakar berkisar antara 75 – 93 persen, stek bertunas berkisar antara 49 – 58 persen. Tunas umumnya lebih dulu muncul daripada akar. Pertumbuhan tunas dan akar terjadi setelah 1 bulan penyetekan (Suanda, 1998).
b. Pembiakan Vegetatif Mikro
o Hasil penelitian kultur jaringan dengan menggunakan eksplan daun ramin yang dikulturkan pada medium WPM padat menunjukkan kalus dapat terbentuk pada perlakuan penambahan NAA + Kinetin, hanya NAA tanpa kinetin. Kalus tidak dapat terbentuk pada perlakuan tanpa NAA (hanya kinetin) maupun tanpa penambahan keduanya. Kalus belum membentuk organ tanaman sampai 12 minggu setelah kultur.
Masalah utama adalah teknik sterilisasi eksplan belum optimal sehingga masih sering terjadi kontaminasi (Sopiana, 2004).
3. Penyiapan Lahan, Penanaman dan Pemeliharaan
o Ramin termasuk jenis pohon yang membutuhkan naungan pada awal pertumbuhannya. Oleh karena itu jenis ini cocok ditanam pada hutan rawa gambut bekas tebangan dengan naungan tajuk tegakan tinggal, kurang cocok untuk areal terbuka bekas kebakaran.
o Persen hidup tanaman ramin umur 2 tahun pada hutan rawa gambut Air Sugihan Sumatera Selatan, untuk areal terbuka berkisar antara 31 – 44 persen, sedangkan pada areal bekas tebangan berkisar antara 66 – 83 persen.
o Pada areal bekas tebangan, untuk tanaman pengayaan, penyiapan lahan dilakukan dengan sistem jalur (line planting), lebar jalur 2 - 3 m dan jarak antar jalur 10 m, jarak tanam 5 x 10 m.
o Penanaman pada areal terbuka dilakukan dengan sistim jalur dan tetap membutuhkan naungan tumbuhan bawah atau semak belukar, lebar jalur 1 – 2 m, jarak tanam 5 x 5 m atau 5 x 4 m. Untuk areal yang tergenang diperlukan pembuatan gundukan tanah gumbut.
o Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober) sebelum genangan air rawa tinggi dan tinggi bibit perlu disesuaikan dengan tinggi genangan air. Tinggi bibit minimal sepertiga lebih tinggi dari genangan air pada puncak musim hujan.
o Pemeliharaan tanaman dilakukan minimal sampai umur 3 tahun, berupa pembebasan tumbuhan bawah dan pemupukan.
o Pada tahun pertama pembebasan tumbuhan bawah dilakukan minimal 3 kali, karena pertumbuhan tumbuhan bawah (jenis paku tanah Nephrolepis exaltata dan Stenochlaena palustris) di hutan rawa gambut sangat cepat akibat air yang tersedia sepanjang tahun. Pada tahun kedua dan ketiga pembebasan tumbuhan bawah dilakukan masing-masing 2 kali.
o Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali per tahun pada awal musim hujan dan akhir musim kemarau sampai tanaman berumur 3 tahun. Pupuk yang digunakan NPKdengan dosis 10 - 30 gram per tanaman setiap periode pemupukan.
4. Pertumbuhan/Riap Pohon
o Ramin merupakan jenis pohon lokal (indigenous species) yang mempunyai pertumbuhan lambat.
Pertumbuhan yang lambat diikuti oleh penebangan yang berlebihan mengakibatkan keberadaan ramin di hutan alam semakin langka.
o Pada tingkat perkecambahan, pertumbuhan bibit relatif cepat, umur 1 bulan setelah berkecambah tinggi mencapai 15 – 20 cm meskipun daun belum berkembang penuh. Umur 2 bulan tinggi mencapai 30 cm.
Pertambahan tinggi bibit asal benih 32 – 53 cm/6 bulan, diameter 0.37 – 0.46 cm/6 bulan. Pertumbuhan bibit asal cabutan anakan alam sangat lambat, pertambahan tinggi 1.9 – 3.8 cm/6 bulan, diameter 0.05 – 0.06 cm/6 bulan. Hasil pengukuran pertumbuhan tanaman ramin pada beberapa tipe site di Sumatera Selatan dan Jambi disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pertumbuhan Ramin (G. bancanus) pada beberapa tipe tempat tumbuh di Sumatera Selatan dan Jambi
No Tipe Site dan Lokasi Riap (MAI)
Keterangan Tinggi
(m/tahun) Diameter (cm/tahun) 1 Gambut 4 meter,
Air Sugihan, OKI – Sumatera Selatan 0,65 0,75 Insitu, pemeliharaan 2 kali per tahun
2 Gambut 6 meter,
Air Hitam, Kumpeh Ilir – Jambi 0,67 1,36 Insitu, pemeliharaan intensif 3 Gambut 4 meter,
Sepucuk, OKI – Sumatera Selatan 0,54 1,14 Insitu, pemupukan NPK 2 kali per tahun
4 Gambut 4 meter,
Sepucuk, OKI – Sumatera Selatan 0,22 0,53 Insitu,
tanpa pemupukan 5 Tanah Inceptisol (Aquept),
Kemampo, Banyuasin - Sumsel 0,33 0,82 Eksitu, tumpang sari tanaman pertanian
o Riap tinggi pohon tingkat semai - pancang berkisar antara 25 – 30 cm/tahun, riap diameter 0.28 – 0.66 cm/tahun. Riap diameter pohon inti sampai pohon berkisar antara 0.62 – 0.88 cm/tahun.
o Dengan asumsi riap diameter 0.70 cm/tahun maka hutan tanaman ramin dapat dipanen dengan daur > 35 tahun.
o Ramin mempunyai kemampuan adaptasi dan daya hidup yang baik meskipun ditanam di luar habitat alaminya (eksitu). Penanaman ramin pada tanah podsolik di Sumtera Selatan menunjukkan daya hidup 80 – 95 persen. Pada umur 8 tahun, tinggi berkisar antara 1.50 – 1.85 meter (riap 0.19 – 0.23 m/tahun), diameter 2.30 – 3.50 cm (riap 0.29 – 0.44 cm/tahun).
C. Gelam (Melaleuca leucadendron)
Gelam (Melaleuca leucadendron atau Melaleuca cajuputi subsp. cumingiana) adalah vegetasi penciri hutan rawa air tawar dengan tipe tanah glei, glei humik dan glei bergambut. Jenis ini paling mampu beradaptasi pada lahan sulfat masam aktual di mana jenis pohon lain sukar tumbuh. Oleh karena itu gelam sering disebut sebagai pohon penciri tanah sulfat masam.
Gelam termasuk jenis pohon yang mempunyai banyak kegunaan. Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan, pondasi jalan dan bahan baku arang. Daun mengandung senyawa cineole untuk kayu putih. Hutan gelam mempunyai penyebaran yang sangat luas dan sangat mudah ditemukan pada lahan rawa di Sumatera Selatan sehingga keberadaannya sering disepelekan. Eksploitasi hutan gelam sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat dan telah menyumbang pendapatan yang tidak kecil. Namun demikian eksploitasi yang tidak diikuti oleh kegiatan rehabilitasi telah membawa dampak pada penurunan luas dan produktivitas hutan gelam secara tajam.
Budidaya gelam dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu: penanaman bibit dan pemeliharaan permudaan alam.
1. Pembibitan
o Pembibitan dilakukan dengan teknik genangan buatan.
o Sumber bibit dapat berasal dari perkecambahan benih atau cabutan anakan alam
o Pembibitan menggunakan cabutan anakan alam akan mempercepat siap tanam bibit (2 - 4 bulan setelah sapih).
o Tinggi cabutan anakan alam berkisar antara 15 - 30 cm.
2. Penyiapan lahan dan penanaman
o Pemilihan lokasi yang sesuai untuk budidaya gelam adalah lahan rawa dengan tipe tanah sulfat masam potensial atau aktual dan lahan rawa lebak.
o Penyiapan lahan dilakukan dengan cara pembebasan total atau memilih lahan rawa bekas kebakaran.
o Penanaman dilakukan pada awal musim hujan sebelum terjadi genangan air mencapai puncak.
o Penanaman menggunakan jarak tanam rapat 1 x 1 m atau 2 x 2 m
o Pola tanam yang digunakan bisa monokultur atau campuran dengan tanaman lain.
3. Pemeliharaan dan perlindungan
o Pemeliharaan dilakukan 3 kali pada tahun pertama dan 2 kali pada tahun kedua dan ketiga berupa pembebasan tumbuhan bawah dan jika diperlukan ditambah dengan pemangkasan cabang (pruning) o Pemupakan diperlukan untuk tahun ke 1 – 2, menggunakan pupuk NPK dosis 5 – 10 gram per batang, 2
kali per tahun pada awal dan akhir musim hujan
o Perlindungan terutama ditujukan untuk mencegah areal tanam dari kebakaran di musim kemarau dengan cara membuat sekat bakar selebar 4 – 5 meter di sekeliling areal tanam dan patoli api di bulan kering Juli, Agustus, September.
Secara teknis hutan gelam dapat diusahakan secara mudah dengan input biaya rendah, yaitu melalui pemeliharaan permudaan alam, tanpa harus menanam. Penduduk di beberapa daerah telah membangun dan memelihara hutan gelam, seperti di Desa Gasing, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin dan daerah Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin. Teknik silvikultur hutan gelam yang diterapkan oleh mereka yaitu melalui pemeliharaan permudaan alam, berupa penjarangan untuk mengurangi kerapatan pohon dan pembebasan tumbuhan bawah (rumput rawa dan paku tanah) untuk mengurangi persaingan unsur hara. Penjarangan sangat diperlukan untuk memberikan ruang tumbuh yang cukup karena permudaan (anakan) alam gelam umumnya sangat rapat, dapat mencapai 20 batang/m2 atau 200.000 batang/ha.
Untuk budidaya gelam melalui pemeliharaan permudaan (anakan) alam dapat dilakukan sebagai berikut (Lazuardi, 2000):
o Kelas perusahaan : kayu batangan gelam
o Pengelola : peramu gelam
o Luas areal 1 unit pengusahaan : 10 hektar per peramu
o Tipe site yang dibutuhakan : lahan sulfat masam bergambut, hutan gelam utuh, sisa hutan atau belukar gelam
o Daur : 5 tahun
o Jatah tebang tahunan : 0,9 hektar/tahun
o Sistim pemanenan : manual
o Regenerasi permudaan : alam
o Layout tata hutan : tebang rumpang
o Tahun ke-0 : pembuatan unit-unit tegakan, pembersihan areal tebangan untuk permudaan alam.
o Tahun ke-1: pengaturan kerapatan permudaan alam menjadi sekitar 40.000 batang/ha (jarak rata-rata 0,5 meter). Tahun ke-2: penjarangan pertama secara sistematik atau merata untuk mendapatkan pohon tinggal 20.000 batang/ha (jarak rata-rata 0,7 meter).
o Tahun ke-3 dan ke-4: penjarangan kedua untuk mendapatkan pohon tinggal 10.000 batang/ha (jarak rata- rata 1 meter).
o Tahun ke-5 : tebangan panen.
Pertumbuhan gelam pada beberapa tipe site di Sumatera Selatan dan Kalimantan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Pertumbuhan Gelam (M. leucadendron) pada beberapa tipe tempat tumbuh di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan
No Tipe Site dan Lokasi Riap (MAI)
Keterangan Tinggi
(m/tahun) Diameter (cm/tahun) 1 Sulfat masam potensial bergambut,
Gasing, Banyuasin – Sumatera Selatan 0,86 0,70 Permudaan alam, penjarangan 2 Sulfat masam potensial bergambut,
Kalimantan Selatan (Lazuardi, 2000) 1,60 1,10 Permudaan alam, penjarangan 3. Tanah Inceptisol (Aquept), rawa lebak
Kemampo, Banyuasin - Sumsel 1,58 1,33 Tanaman, jarak tanam 2 x 2 m, pembebasan
D. Punak (T. glabra), Pulai (A. peneumatophora) dan Tembesu (F. fragrans)
Pertumbuhan beberapa jenis pohon lokal hutan rawa gambut disajikan pada Tabel 4. Dari Tabel 4 tampak bahwa pemupukan NPK dosis 10 gram/batang sebanyak 2 kali per tahun dapat meningkatkan riap 2 kali lebih besar dibandingkan dengan tanaman yang tidak dipupuk. Tembesu sebenarnya bukan jenis asli hutan gambut tetapi sering dijumpai pada lahan rawa lebak tanpa gambut. Berdasarkan pertumbuhannya, tembesu sesuai dikembangkan untuk hutan tanaman di lahan gambut tebal.
Tabel 4. Pertumbuhan beberapa jenis pohon lokal hutan rawa gambut di daerah Sepucuk Kabupaten OKI – Sumatera Selatan
No Jenis dan Tipe Site Riap (MAI)
Keterangan Tinggi
(m/tahun) Diameter (cm/tahun) 1. Punak (T. glabra),
Gambut 4 meter, hutan sekunder 0,76 2,33 Tanaman 5 x 4 m, pemupukan NPK
2. Punak (T. glabra),
Gambut 4 meter, hutan sekunder 0,40 1,03 Tanaman 5 x 4 m, tanpa pemupukan
3. Pulai (A.pneumatophora),
Gambut 4 meter, hutan sekunder 0,41 2,08 Tanaman 5 x 4 m, pemupukan NPK
4. Pulai (A.pneumatophora),
Gambut 4 meter, hutan sekunder 0,20 1,09 Tanaman 5 x 4 m, tanpa pemupukan
5. Tembesu (F.fragrans),
Gambut 4 meter, hutan sekunder 0,90 1,75 Tanaman 5 x 4 m, pemupukan NPK
6. Tembesu (F.fragrans),
Gambut 4 meter, hutan sekunder 0,45 0,87 Tanaman 5 x 4 m, tanpa pemupukan
V. KESIMPULAN
1. Jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut sangat prospektif dikembangkan untuk hutan tanaman di Sumatera Selatan baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan.
2. Beberapa faktor pendukung untuk pengembangan jenis-jenis tersebut telah tersedia yaitu lahan, genetik dan teknik budidaya.
3. Pengembangan jenis-jenis pohon lokal hutan rawa gambut harus disertai dengan pemilihan jenis yang sesuai dengan tempat tumbuhnya.
4. Pengembangan kawasan hutan perlu penerapan pola tanam campuran yaitu dengan tanaman perkebunan dan pertanian.
5. Pengembangannya perlu mengikuti kaidah kesesuaian lahan (teknis) dan kesesuaian pasar (ekonomis).
DAFTAR PUSTAKA
Bastoni dan A. Sianturi. 2000. Teknik Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Pengayaan (Enrichment Planting) pada Hutan Rawa Gambut di Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Pengelolaan Gambut dan Ekspose Hasil Penelitian di Lahan Basah. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Bastoni. 2005. Kajian Ekologi dan Silvikultur Ramin di Sumatera Selatan dan Jambi. Prosiding Semiloka Nasional Konservasi dan Pembangunan Hutan Ramin di Indonesia. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam dan ITTO.
Bogor.
Bastoni. 2006. Pemanfaatan Lahan Tawa Terpadu Dengan Pola Agrosilvofishery. Prosiding Seminar Pengelolaan Hutan dan Lahan Rawa Secara Bijaksana dan Terpadu. Puslitbang Hutan Tanaman. Yogyakarta.
Bastoni dan A.H. Lukman. 2006. Prospek Pengembangan Hutan Tanaman Jelutung Pada Lahan Rawa Sumatera.
Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Optimalisasi Peran IPTEK dalam mendukung peningkatan produktivitas hutan dan lahan. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Daryono, H. 2006. Pemanfaatan Lahan Secara Bijaksana dan Revegetasi dengan Jenis Pohon Tepat Guna di Lahan Rawa Gambut Terdegradasi. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Optimalisasi Peran IPTEK dalam mendukung peningkatan produktivitas hutan dan lahan. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Hernawan, D. 2002. Pengaruh Perlakuan Lama Penyimpanan dan Ruang Simpan terhadap Daya Kecambah Benih Jelutung Rawa (Dyera lowii Hook.F). Laporan Praktek Lapang. Jurusan Ilmu Kehutanan STIPER Sriwigama.
Palembang.
Lazuardi, D. 2000.Teknik Pengelolaan Hutan Rakyat Gelam (Melaleuca leucadendron) di Kalimantan Selatan.
Prosiding Seminar Pengelolaan Gambut dan Ekspose Hasil Penelitian di Lahan Basah. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Ruchiat, Y. dan S. Suyanto.2001. Karakteristik Sosial Ekonomi di Areal Rawa dalam Kaitannya dengan Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera. Prosiding Seminar Akar Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera. ICRAF, CIFOR, Uni Eropa, Dephut dan Pemda Lampung. Bogor.
Sopiana, R. 2004. Pembentukan Kalus dan Organogenesis Daun Ramin (G. bancanus) dengan Penambahan NAA dan Kinetin pada Woody Plant Medium. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Palembang.
Suanda, E. 1998. Efektifitas Lama Perendaman Bahan Stek dan Knsentrasi IAA terhadap Prtumbuhan Sek Btang Rmin (G. bancanus) pada Mdia Gmbut. Skripsi Jurusan Kehutanan Fkultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Bengkulu.
Subhan, A. 2003. Pengaruh Lama Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Jelutung Rawa (Dyera lowii Hook.F). Laporan Praktek Lapang. Jurusan Ilmu Kehutanan STIPER Sriwigama. Palembang.
Wahyunto, S. Ritung, Suparto dan H. Subagjo. 2005. Sebaran Gambut dan Kandungan Karbon di Sumatera dan Kalimantan. Proyek Climate Change, Forests and Peatlands in Indonesia. Wetland Internatinal Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor.