amanJumlah tan
PERSEPSI TENTANG TANAMAN SEHAT DAN HUBUNGANNYA DENGAN SERANGAN HAMA HUTAN
B. Tanaman Sehat Mempunyai Ketahanan terhadap Hama
Kerusakan tanaman oleh hama dapat mencapai lebih dari 50%, tetapi belum pernah ada laporan bahwa suatu spesies tanaman musnah dari alam, semata-mata disebabkan oleh hama. Hal ini menggambarkan bahwa secara alamiah tanaman mempunyai sistem perlindungan terhadap hama sehingga menjadi tahan.
Suatu tanaman disebut tahan terhadap serangan hama apabila : (1). Memiliki sifat-sifat yang memungkinkan tanaman itu menghindar, atau pulih kembali dari serangan hama pada keadaan yang akan mengakibatkan kerusakan pada varietas lain yang tidak tahan, (2). Memiliki sifat-sifat genetik yang dapat mengurangi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama, (3). Memiliki sekumpulan sifat yang dapat diwariskan, yang dapat mengurangi kemungkinan hama untuk menggunakan tanaman tersebut sebagai inang, atau (4). Mampu menghasilkan produk yang lebih banyak dan lebih baik dibandingkan dengan varietas lain pada tingkat populasi hama yang sama (Sumarno, 1992). Ketahanan tanaman inang, dapat bersifat : (1). Genetik, sifat tahan diatur oleh sifat genetik yang dapat diwariskan, (2). Morfologik, sifat tahan yang disebabkan oleh sifat morfologi tanaman yang tidak menguntungkan hama, seperti ukuran daun, bentuk, warna, kekerasan jaringan tanaman, ada/tidaknya rambut dan tonjolan dan lain-lain, serta (3). Kimiawi, ketahanan yang disebabkan oleh zat kimia yang dihasilkan oleh tanaman. Mekanisme pertahanan tanaman terhadap hama, secara umum dapat digolongkan menjadi 3 macam (Panda dan Kush, 1995) yaitu : (1). Antixenosis (non preference), (2). Toleran dan (3). Antibiosis.
Sedangkan menurut Morrill (1995), ketahanan tanaman terhadap hama dapat berupa (1). Avoidance (tanaman menyelesaikan siklus hidupnya sebelum munculnya hama), (2). Tolerance (tanaman mampu recovery dari serangan hama), (3). Antibiosis (tanaman menghasilkan toksin yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan hama).
Berikut ini beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman yang sehat mempunyai ketahanan terhadap serangan hama.
Kasus 1 (Tanaman kakao)
Susilo et al. (2004) mengemukakan bahwa tanaman kakao yang sehat yang mempunyai pertumbuhan bagus, memiliki ketahanan terhadap hama penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella. Hasil evaluasi
terhadap 11 (sebelas) pohon induk kakao terpilih menunjukkan bahwa terdapat 2 (dua) pohon induk yang menghasilkan respon serangan ringan (PABA/I/Pbrk dan PABA/V/81L/1), 3 (tiga) pohon induk menghasilkan respon serangan sedang (PABA/VIII/78F/2, PABA/VIII/78B/3 dan PABA/V//81L/2) dan 6 (enam) pohon induk menghasilkan respon serangan berat (PABA/VIII/78B/1, PABA/VIII/78B/2, PABA/IX/90O/2, PABA/IX/90O/3, PABA/I/90C/1 dan PABA/I/90C/2). Pohon induk yang menghasilkan respon serangan ringan memiliki ketahanan terhadap hama PBK.
Ketahanan tanaman kakao terhadap hama PBK merupakan ketahanan genetik, di mana tanaman tersebut memiliki sifat-sifat genetik yang dapat mengurangi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama PBK.
Kasus 2 (Tanaman pulai)
Kasus yang lainnya yaitu terjadinya serangan hama C. glauculalis dan Cycnotrachelus sp. pada tegakan pulai darat dan pulai gading (Alstonia scholaris) yang ditanam secara campuran, yang terletak di areal hutan rakyat milik PT. Xylo Indah Pratama, Kab. Musi Rawas, Prov. Sumatera Selatan. Tanaman pulai darat dan pulai gading tersebut berumur 4 tahun. Pada umur 1 tahun, tanaman terserang kedua hama tersebut tetapi dengan tingkat serangan yang rendah (<5%) (Asmaliyah dan Utami, 2007). Pada bulan Desember 2007, muncul lagi serangan hama. Tetapi serangan berat terjadi pada tanaman pulai gading yang disebabkan oleh ulat C. glauculalis, (Tabel 3).
Hal ini menunjukkan terjadinya preferensi ulat terhadap tanaman pulai gading dan adanya mekanisme ketahanan pulai darat terhadap serangan hama C. glauculalis dan Cycnotrachelus sp. (Asmaliyah dan Utami, 2007).
Tabel 3. Persentase serangan hama Cycnotrachelus sp. dan C. glauculalis pada tegakan campuran antara pulai darat dengan pulai gading (Sumber : Asmaliyah & Utami, 2007)
Jenis Tanaman Persentase Serangan (%)
Cycnotrachelus sp. C. glauculalis
Pulai gading 40,56 90,00
Pulai darat 5,78 5,19
Seperti kita ketahui bahwa tanaman memiliki mekanisme ketahanan dari serangan agen penganggu.
Mekanisme ketahanan merupakan suatu sistem yang tidak bisa berdiri sendiri tetapi tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor biofisik, kimia dan genetik. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi serangga hama dalam memilih dan menyerang inang. Sejak pemilihan tanaman sampai pada pengaruhnya terhadap fisiologi serangga, ada 5 tahapan yang akan dilakukan serangga (Kogan, 1982), yaitu (1). Penemuan habitat inang, (2).
Penemuan inang, (3). Pengenalan inang, (4). Penerimaan inang dan (5). Kesesuaian inang.
Tingkat serangan ulat pada pulai gading lebih tinggi dibandingkan pulai darat yang ditanam secara campuran dengan pulai gading. Hal ini disebabkan faktor internal kedua tanaman tersebut. Morfologi/bentuk fisik kedua tanaman tersebut sangat berbeda. Morfologi daun pulai darat adalah permukaannya kasar, adanya duri/bulu/rambut dan mempunyai warna hijau yang pekat. Sedangkan daun pulai gading, permukaannya lebih halus dan daunnya berwarna hijau tetapi kurang pekat dibandingkan dengan pulai gading. Morfologi tanaman pulai gading tersebut menyebabkan hama C. glauculalis menjumpai tanaman kemudian menyerangnya. Sedangkan pulai darat mempunyai ketahanan biofisik dalam hal ini morfologi tanaman yang menyebabkan tanaman tersebut kurang disukai
kasar menyulitkan kedua hama tersebut untuk menyerang tanaman pulai darat. Mekanisme ketahanan pulai darat terhadap serangan hama C. glauculalis dan Cycnotrachelus sp. termasuk antixenosis (non preference) (Asmaliyah dan Utami, 2007). Selain faktor morfologi, kandungan nutrisi tanaman akan mempengaruhi tingkah laku hama dalam menyerang tanaman. Berdasarkan analisis unsur mikro daun tanaman pulai, menunjukkan bahwa secara umum kandungan nutrisi pada daun pulai gading lebih besar dibandingkan dengan pulai darat (Tabel 4). Karena kandungan nutrisi/unsur mikro daun pulai gading lebih banyak dibandingkan dengan pulai darat menyebabkan ulat C. glauculalis lebih suka menyerang pulai gading.
Tabel 4. Kandungan unsur mikro daun pulai darat dan pulai gading yang terserang hama C. glauculalis dan Cycnotrachelus sp. (Sumber : Asmaliyah & Utami, 2007)
Jenis Tanaman
Kandungan Nutrisi Daun N (%) P (%) K (%) Ca (%) Mg (%) Cu
(ppm) Zn
(ppm) Mn
(ppm) Fe (ppm)
Pulai darat 0,79 0,13 1,06 1,38 0,21 9,6 133,2 56,3 216,5
Pulai gading 0,94 0,18 2,26 0,19 0,40 11,11 144,4 43,5 233,1
Kasus serangan hama pada tegakan campuran antara tanaman pulai darat dengan pulai gading tersebut mengindikasikan bahwa terdapat preferensi makan hama C. glauculalis pada pulai gading dan tanaman pulai darat mempunyai ketahanan terhadap serangan hama C. glauculalis dan Cycnotrachelus sp. terlihat dari rendahnya serangan kedua hama pada tanaman tersebut. Walaupun pada suatu area terdapat tegakan campuran di mana tanamannya sehat, hama akan menyerang tanaman sehat yang lebih disukainya.
III. PENUTUP
Tanaman sehat merupakan tanaman yang bebas dari serangan hama dan penyakit, yang mempunyai bentuk fisik atau figur pertumbuhan yang bagus. Tidak hanya tanaman yang rentan saja yang terserang hama.
Tanaman sehat bisa terserang hama di mana faktor internal tanaman dan faktor luar seperti iklim, mendukung hama untuk menyerang tanaman. Tidak semua tanaman sehat terserang hama, ada beberapa jenis tanaman sehat yang mampu bertahan dari serangan hama. Ketahanan tanaman inang, dapat bersifat genik, morfologik dan kimiawi.
Adapun mekanisme pertahanan tanaman terhadap hama, secara umum dapat digolongkan menjadi 3 macam yaitu (1). Antixenosis (non preference), (2). Toleran dan (3). Antibiosis.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan Edisi 3 (Terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Asmaliyah dan B. Ismail. 1998. Uji Pengendalian Hama Pemakan Daun Clouges glauculalis pada Tanaman Pulai (Alstonia scholaris) dengan Insektisida Biologi Secara in Vitro. Buletin Teknologi Reboisasi No. 08.
Palembang.
Asmaliyah, E. Martin, F. W. Sari 2005. Karakteristik Serangan Hama Clouges glauculalis pada Hutan Tanaman Pulai (Alstonia spp.) dan Upaya Pengendaliannya. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Hutan Tanaman.
Baturaja, 7 Desember 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Asmaliyah dan S. Utami. 2007. Teknik Pengendalian Hama Hutan Tanaman. Laporan Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Departemen Kehutanan. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Departemen Kehutanan. Website http://www.dephut.go.id. Diakses pada tanggal 15 September 2008.
Kogan, M. and E.F. Ortman. 1978. Antixenosis A New Term Proposed to Define Panters “Non Preference” Modality of Resistance. Bull. Entomol. Soc. Am. 24(2): 175 – 176.
Morrill, W.L., 1995. Insect Pests of Small Grains. APS Press. St. Paul, Mineasota.
Panda N. dan G.S. Kush, 1995. Host Plant Resistance to Insects. Cabinternational - IRRI. Los-Banos, Philippines.
Puspitarini, D. 2006. Sebaran Diameter Pohon Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) yang Mendapat Serangan Xystocera festiva Pascoe pada Berbagai Umur Tegakan. Skripsi Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sumarno, 1992. Pemuliaan untuk Ketahanan terhadap Hama. Prosiding Symposium Pemuliaan Tanaman I.
Perhimpunan Pemuliaan Tanaman Indonesia, Komisariat Daerah Jawa Timur.
Susilo, A.W., E. Sulistyowati, E. Mufrihati. 2004. Eksplorasi Genotipe Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao.
Pelita Perkebunan 2004, 20(1) : 1-12. Bogor.
Tjasyono, B. 1999. Klimatologi Umum. Penerbit ITB. Bandung.
Utami, S., Asmaliyah, E. E. W. Hadi. 2006. Pengaruh Pembersihan Gulma dan Penyemprotan Insektisida terhadap Serangan Hama pada Pulai Darat (Alstonia angustiloba) (Studi Kasus di PT Xylo Indah Pratama, Kab. Musi Banyuasin, Prov. Sumsel). Jurnal Widyariset. Vol. 9 No. 3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.