Junaidah 1) , Abdul Hakim Lukman 1) , Dody Prakosa 1) dan Nasrun 2)
B. Perbanyakan secara Vegetatif
Tembesu termasuk tanaman yang dapat diperbanyak melalui stek. Persen tumbuh stek tembesu dengan menggunakan model sungkup Balitaman mencapai 97%. Bahan stek dari semai (seedling) memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingkan trubusan alam dengan tingkat persentase hidup 92,5% (Sofyan et al., 2005).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perbanyakan secara vegetatif adalah :
a. Bahan stek diambil dari batang tanaman yang sehat atau tidak cacat dengan 2 – 3 nodus (ruas) dan disisakan minimal 2 lembar daun yang dipotong sehingga tersisa sepertiganya. Pangkal batang stek dipotong miring + 450. b. Waktu pengambilan stek yang paling baik adalah pada pagi hari pukul 07.00 maupun sore hari pukul 16.00.
Pada saat pengambilan stek, stek langsung direndam di dalam air sampai siap tanam.
c. Media stek yang digunakan adalah pasir yang diberi lapisan batu koral dan ijuk pada bagian bawah. Pada bagian dasar sungkup diberi lapisan batu koral setebal + 6 cm, lapisan tengah diberi ijuk dengan ketebalan 3 – 5 mm dan lapisan bagian atas pasir sungai setebal 12 – 15 cm.
d. Penyetekan menggunakan sungkup untuk menjaga kelembaban udara di dalam sungkup agar tetap stabil (Sofyan, et al., 2005).
VI. PERTUMBUHAN TANAMAN TEMBESU DI LAPANGAN
Tembesu termasuk tanaman yang dapat tumbuh pada berbagai jenis lahan. Kegiatan penanaman dan pemeliharaan tanaman tembesu secara umum tidak berbeda dengan jenis-jenis tanaman lain. Dari beberapa kegiatan penelitian penanaman tembesu, diperoleh hasil pertumbuhan tembesu sebagai berikut :
1. Pertumbuhan tembesu lebih baik pada lahan terbuka. Penanaman tembesu pada lahan terbuka (tebas total) dan tebas jalur menunjukkan bahwa pada umur tanaman 9 bulan pertumbuhan tanaman pada lahan terbuka lebih baik daripada lahan semak belukar. Selain itu tanaman yang berasal dari bibit yang media sapihnya ditambah arang menunjukkan pertumbuhan tinggi dan diameter yang lebih baik. Keadaan ini diduga karena arang mampu menyerap dan menyimpan air yang dapat digunakan oleh tanaman (Kusnandar, 2002).
2. Pemberian pupuk dasar pupuk kandang dan pupuk penunjang di awal pertumbuhan (NPK dosis 75 – 100 gr/tanaman) memberikan peningkatan pertumbuhan yang cukup baik pada tanaman (Lukman, 2005).
3. Penanaman tembesu dengan perlakuan pemulsaaan dan pemupukan pada umur 30 bulan menunjukkan bahwa tanaman dengan perlakuan pemulsaan memiliki pertambahan tinggi dan diameter lebih baik dibandingkan tanpa mulsa (Lukman, et al., 2005).
4. Penyiangan yang intensif sangat diperlukan oleh tanaman muda. Pada tanaman tembesu yang batangnya bengkok akibat adanya gulma merambat, akan cepat tumbuh tunas-tunas baru pada bagian batang yang bengkok tersebut. yang akan merusak penampilan batang utama. Penyiangan dapat dilakukan sejak tanaman berumur 3 bulan di lapangan
5. Penanaman tembesu dengan jarak tanam 3 x 2 m mempunyai pertumbuhan awal (umur 1 tahun) yang lebih baik dibandingkan jarak tanam 3 x 1 m (Junaidah, et al., 2007). Penanaman dengan jarak tanam yang lebih lebar akan menyebabkan munculnya percabangan yang lebih banyak dengan tinggi bebas cabang yang rendah (Lukman, 2005).
6. Tembesu mempunyai sifat pertumbuhan percabangan yang sangat aktif. Tanaman tembesu umur 6 bulan memiliki percabangan yang cukup banyak dan pada posisi yang rendah dari permukaan tanah, sehingga harus segera dipangkas agar tidak menurunkan kualitas kayu.
7. Penjarangan dapat dilakukan pada umur tanaman 5 – 30 tahun (Lemmens et al., 1995).
Tabel 3. Pertumbuhan tembesu pada berbagai lokasi
No Lokasi
3 Way Hanakau, Lampung3) 3 x 5 56 1,5 528,67 10,09 2,19 11,.93
4 Kemampo I, Banyuasin3) 3 x 5 90 1,35 713,16 18,4 2,45 95,09
Riap rata-rata 1,92 107,19
Sumber : (1). Junaidah, et al. (2007); (2). Lukman, et al. (2005) dan (3). Survei lapangan (2008).
Secara umum pertumbuhan tanaman tembesu pada 4 lokasi uji coba seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3 relatif cukup cepat dengan riap diameter rata-rata 1,92 cm/pertahun dan riap tinggi rata-rata 107,19 cm/tahun. Pada awal tanaman di lapangan, pertumbuhan tembesu pada semua lokasi cukup baik. Hal ini disebabkan daerah Sumatera Bagian Selatan merupakan daerah sebaran alami tembesu sehingga secara edafis dan klimatis semua lokasi memiliki kondisi yang relatif seragam. Terdapat perbedaan pertumbuhan tinggi dan diameter bisa disebabkan oleh kandungan unsur hara yang berbeda dari masing-masing lokasi dan berbagai perlakuan pendahuluan pada lokasi penanaman (penyiangan, pemupukan, pemulsaan dan jarak tanam).
Salah satu kegiatan pemeliharaan yang cukup penting dalam pertumbuhan tanaman tembesu adalah penanggulangan hama dan penyakit, baik di persemaian maupun di lokasi penanaman. Saat ini informasi mengenai hama dan penyakit pada tanaman tembesu masih sangat terbatas. Martawijaya et al. (2005) menyebutkan bahwa tanaman muda biasa dimakan kijang, sedangkan pohon yang besar dapat diserang jamur upas. Hasil identifikasi hama pada bibit tembesu di persemaian menunjukkan bahwa bibit terserang hama Aonidiella sp. Gejala serangan yang ditunjukkan adalah pada permukaan daun bagian atas ditemukan bercak-bercak kuning yang luasannya tergantung besarnya serangan hama. Bercak kuning tersebut merupakan bekas hisapan hama yang lama kelamaan menyebabkan permukaan daun mengeras dan mengering. Hal tersebut bisa menghambat proses fotosintesis yang menyebabkan daun layu dan gugur. Serangan hama tersebut akan menyebabkan bibit menjadi kering dan mati (Asmaliyah, et al., 2007). Saat ini usaha penanggulangan yang dilakukan adalah memisahkan tanaman yang terserang hama dengan tanaman yang sehat. Penanggulangan hama dan penyakit pada tanaman tembesu masih harus diteliti dan dikaji secara mendalam.
VII. KESIMPULAN
Tembesu sebagai jenis tanaman lokal Sumatera Selatan merupakan potensi daerah yang perlu dikembangkan dalam bentuk hutan tanaman, karena secara alami Sumatera Selatan merupakan daerah sebarannya dan memiliki aspek pasar dan harga yang baik. Teknik silvikultur yang meliputi aspek perbenihan, pembibitan dan penanaman serta pemeliharaan, walaupun sedikit banyak telah diketahui namum masih diperlukan penelitian lebih lanjut, misalnya mengenai aspek pemangkasan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmaliyah, S. Utami dan E. E. Hadi. 2007. Identifikasi dan Pengamatan Awal Hama Aonidiella sp. pada Tembesu (Fagraea fragrans) di Persemaian. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Hutan Tanaman, Kayu Agung 7 Desember 2006. Pusat Penelitian dan Pengembanganan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan.
Bogor.
Heryante, L. 2006. Struktur Populasi Tumbuhan Tembesu (Fagraea fragrans Roxb) di Provinsi Sumatera Selatan dan Sumbangannya pada Pembelajaran Biologi Di Sekolah Menengah Atas (SMA). Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSRI Inderalaya. (Tidak dipublikasikan).
Junaidah. 2007. Komunikasi pribadi dengan para pengrajin ukiran kayu. (Tidak diterbitkan).
Junaidah, A.H. Lukman dan Nasrun. 2007. Laporan Hasil Penelitian ”Teknik Silvikultur Tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Balai Penelitian Kehutanan Palembang (Tidak dipublikasikan).
Kompas. 2005. Kekurangan Kayu, 167 ”Sawmill” Legal Di SumSel Terpaksa Ditutup. Surat Kabar Harian Kompas, 24 Pebruari 2005.
Kusnandar, E. 2002. Laporan Uji Coba Teknik Persemaian dan Penanaman Tembesu (Fagraea fragrans) di Sumatera Selatan. Proyek Penelitian Hutan Tanaman Tahun 2001. Palembang.
Lemmens, R.H.M.J., I. Soerianegara dan W.C Wong. 1995. PROSEA Plant Resources of South East Asia 5 (2) Timber Trees : Minor Comercial Timbers. PROSEA. Bogor, Indonesia.
Lukman, A.H. 2005. Aspek Teknik Silvikultur dalam Menunjang Pembangunan Hutan Tanaman Tembesu. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Hutan Tanaman, Baturaja 7 Desember 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.
Lukman, A.H., A. Sofyan, Kusdi dan T.R. Saefulloh. 2005. Laporan Teknik Silvikultur Tanaman Jenis-Jenis Prioritas.
Laporan Proyek Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Kawasan Barat Indonesia Tahun Anggaran 2004. Palembang.
Martawijaya, A., I. Kartasujana, YI. Mandang, SA. Prawira dan K. Kadir. 1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor, Indonesia.
Martin, E. dan A. Sofyan. 2001. Perangsangan Pertumbuhan Tembesu (Fagraea fragrans) dengan Pengaturan Intensitas Naungan dan Pemupukan di Persemaian. Prosiding Ekspose Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan Balai Teknologi Reboisasi, Palembang 12 Nopember 2001. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.
Patricia, V. 2006. Perkecambahan Biji Tembesu (Fagraea fragrans Roxb) Dilihat dari Tingkat Kematangan Buah dan Model Pembelajarannya pada Pelajaran Biologi di SMA. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSRI Inderalaya (Tidak dipublikasikan).
Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan. 2002. Data dan Informasi Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan. Badan Planologi Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.
Sofyan, A., M.Rahmat dan Kusdi. 2005. Teknik Pembibitan Tembesu. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Hutan Tanaman, Baturaja 7 Desember 2005. Pusat Penelitian dan Pengembanganan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.