• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Antar Subjek

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 59-66)

Makna hidup merupakan sesuatu yang unik dan pribadi, makna hidup

seseorang dan apa yang bermakna bagi dirinya biasanya sifatnya khusus, berbeda dan tak sama dengan makna hidup orang lain. Begitupun dengan ibu rumah tangga penderita HIV/AIDS, mereka menghadapi peristiwa yang menyenangkan maupun penderitaan dengan proses penerimaan makna yang berbeda-beda sehingga ibu rumah tangga penderita HIV/AIDS tersebut memiliki cara masing-masing untuk menemukan maknanya.

Berdasarkan wawancara yang mendalam, keempat ibu rumah tangga penderita HIV/AIDS tersebut melalui proses yang panjang untuk mencapai makna hidup. Dari hasil analisa, keempat subjek tersebut untuk mencapai kebermaknaan

hidup melaluinya dengan beberapa tahap diantaranya tahap derita, penerimaan diri, penemuan makna, realisasi makna sampai keempat subjek tersebut mencapai kebermaknaan hidupnya.

Tahap derita yang dialami oleh keempat subjek merupakan penderitaan yang membawa seseorang pada kehidupan tanpa makna. Kehidupan tanpa makna yang dialami keempat subjek ketika mereka terinfeksi HIV/AIDS. Mereka merasa kaget, marah, kecewa, sedih, merasa hidup tak berarti dan tidak ada gunanya lagi.

Subjek 1 ketika dirinya terinfeksi HIV timbul rasa hancur dan menjadi pemurung.

Penderitaannya ditambah ketika suaminya meninggal dunia disaat subjek membutuhkan semangat dan muncul ketakutan tidak dapat merawat anaknya.

Pada subjek 2 timbul rasa marah ketika dirinya terinfeksi HIV, adanya rasa ingin

‘mati’ di dalam diri subjek karena di usianya yang masih muda subjek sudah mendapat penyakit HIV. Pada subjek 3 timbul rasa binggung kenapa dirinya bisa terinfeksi HIV karena dirinya tidak pernah merasa melakukan hubungan seksual.

Dari situ muncul perasaan dendam ingin menularkan virus HIV tersebut.

Sedangkan subjek 4 awalnya tidak mengetahui HIV itu seperti apa dan setelah mengetahui HIV serta dampaknya subjek langsung merasa hidup tidak ada artinya lagi dan timbul rasa ingin mengunakan narkoba kembali.

Disaat keempat subjek tersebut mau ingin keluar dari penderitaan, subjek dihadapkan pada berbagai masalah seperti diskriminasi dan stigma. Diskriminasi tersebut menimbulkan rasa marah, sedih dan acuh tak acuh. Subjek 1 mendapat diskriminasi dari ibu mertuanya seperti memisahkan alat makannya dan ibu mertuanya pun bersikap sinis kepada subjek. Subjek 2 mendapatkan judgement

dari lingkungan yang mengatakan bahwa subjek adalah perempuan rusak dan kotor karena hamil di luar nikah dan terinfeksi HIV/AIDS. Pada subjek 3 mendapatkan penolakan dari keluarga berupa tidak boleh tinggal dirumah karena keluarga takut tertular dan suaminya pun meninggalkan dirinya karena takut tertular HIV juga. Sedangkan subjek 4 mendapatkan stigma dari lingkungan sebagai perempuan nakal yang memakai narkoba dan terinfeksi HIV/AIDS serta tetangga melarang anaknya untuk bermain dengan subjek karena takut tertular HIV. Keempat subjek tersebut merasa di tinggalkan dan diabaikan oleh keluarga dan lingkungan.

Untuk mencapai penemuan makna dibutuhkan dukungan sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan. Ketika subjek 1 berada pada masa sulit dan tertekan oleh ibu mertuanya, subjek memutuskan untuk meninggalkan rumah ibu mertuanya dan menjalani kehidupan baru serta lingkungan baru yang mendukung subjek untuk menemukan makna. Hal tersebut membuktikan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang dianggap penting dan baik bagi dirinya. Berbeda dengan subjek 2, dirinya mendapatkan dukungan sosial dari ibu dan kakak-kakaknya untuk tetap semangat dalam menjalani hidup dan mengurus anak. Subjek 3 mendapatkan dukungan sosial dari teman-teman kerja subjek yang mau menerima dirinya dan menjadi teman curahan hati subjek sedangkan tetangganya dapat menerima subjek walaupun masih ada rasa takut untuk mengunakan barang milik subjek tetapi subjek memaklumi hal tersebut.

Sementara subjek 4 mendapatkan dukungan sosial dari ayah subjek. Ayahnya mau mengantarkan subjek ke tempat rehabilitasi dan terus memberikan semangat.

Suami subjek juga selalu mendampingi subjek dan memberikan dorongan untuk sama-sama bangkit dari keterpurukkan.

Kesadaran diri dan dukungan sosial mampu menentukan sikap terhadap penderitaan serta mampu menerima kondisi keempat subjek. Penerimaan diri keempat subjek membawa sikap terhadap penderitaan. Keempat subjek yang awalnya marah, kesal dan memiliki dendam kini telah dapat menerima diri dengan ikhlas dan tabah terhadap penderitaan. Subjek 1 lebih memfokuskan untuk merawat dan membesarkan anaknya serta selalu bersyukur kepada Tuhan yang maha esa. Sikap subjek tersebut dapat menjadi Experiential values yang membawa subjek meyakini suatu nilai penghayatan dapat menjadikan subjek berarti hidupnya. Subjek 2 lebih merealisasikannya ke dalam bekerja untuk untuk membesarkan anak tercinta. Sikap subjek tersebut dapat menjadi Creative Values yang membawa subjek untuk melakukan pekerjaan sebaik-baiknya yang menjadi sumber dari makna hidup.

Subjek 3 lebih merealisasikan penerimaan diri dengan bersosialisasi kepada lingkungan maupun rekan kerja agar dirinya bisa diterima di lingkungan sebagai seorang penderita HIV/AIDS. Sedangkan subjek 4 lebih memilih untuk membahagiakan anak dan suaminya serta membantu sesama pengguna narkoba dan penderita HIV/AIDS. Sikap subjek tersebut dapat menjadi Experiential values dalam menghayati cinta kasih suami dan anaknya serta peduli dengan para pengguna narkoba dan penderita HIV/AIDS.

Setelah makna hidup dapat ditemukan, keempat subjek mampu memaknai peristiwa hidup yang dialami dan menentukan tujuan hidup. Menurut Bastaman (2007) makna hidup memiliki sifat memberi pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan kita, sehingga makna hidup itu seakan-akan ‘menantang’ kita untuk memenuhinya. Begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditentukan, kita seakan-akan terpanggil untuk melaksanakan dan memenuhinya. Tujuan hidup subjek 1 adalah dapat membahagiakan anaknya, mencukupi kebutuhan anak, dan menjadikan hidup ini lebih berarti lagi. Tujuan hidup subjek 2 adalah tetap bekerja keras untuk menafkahi anak beserta orang tuanya. Subjek juga menginginkan untuk memiliki suami agar bisa mendampingi dirinya. Tujuan subjek 3 adalah menginginkan seorang suami yang bisa mencintai dirinya dengan kondisi yang terinfeksi HIV/AIDS agar subjek bisa memiliki anak yang dapat menemani dirinya. Sedangkan subjek 4 memiliki tujuan hidup untuk tetap terus membantu penyuluhan mengenai narkoba dan HIV/AIDS agar mereka bisa memahami edukasi mengenai HIV/AIDS.

Sebagai realisasi makna, subjek 1 memilih berdagang nasi uduk setiap pagi dan menerima pesanan kue pengajian di lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan anak dan dirinya serta subjek agar tidak selalu meratapi keadaannya.

Subjek 2 merealisasikan makna dengan bekerja sebagai sales promotion girl (SPG). Subjek selalu di tempatkan di berbagai wilayah seperti Bandung, Surabaya, Bali dan Makasar. Subjek memanfaatkan kerja di luar kota untuk sarana traveling bersama teman-temannya karena subjek sangat menyenangi traveling sebagai penghilang rasa penat dalam dirinya.

Subjek 3 merealisasikan makna dengan bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan swasta. Bagi subjek pekerjaan tersebut bisa menjadi penghilang rasa sepi dari orang-orang yang subjek cintai serta pekerjaan tersebut bisa menghidupi dirinya. Pekerjaan tersebut bagi subjek sangat menyenangkan karena subjek bisa berinteraksi dengan rekan kerjanya, mereka mau menjadi partner kerja sekaligus teman curahan hati subjek. Pekerjaan tersebut mengandung Creative Values dimana subjek bekerja tidak hanya mencari uang tetapi subjek

sangat menyenangi pekerjaan tersebut karena membuat dirinya melupakan kesedihan dari orang-orang yang dicintai.

Subjek 4 merealisasikan makna dengan bekerja sebagai karyawati di perusahaan swasta serta sebagai penyuluh narkoba dan HIV/AIDS. Subjek melakukan hal tersebut untuk memberikan semangat, motivasi, edukasi serta kegembiraan kepada para pengguna dan penderita HIV/AIDS. Hal tersebut dapat menimbulkan kepuasan batin, berarti dan berguna bagi orang lain.

Pada akhirnya, makna hidup akan menjadi sesuatu yang berarti jika penemuan makna dan pemenuhan tujuan hidup dapat dicapai. Sebab tanpa hal tersebut makna hidup hanya sekedar cita-cita indah yang semata-mata tidak akan berubah dalam kehidupan nyata (Bastaman, 2007). Melalui penemuan makna dan tujuan hidup keempat subjek tersebut berhasil mencapai kehidupan bermakna.

Keberhasilan keempat subjek dalam mencapai kehidupan bermakna dan melalui tahapan-tahapan dalam makna hidup dapat ditinjau dari status pernikahan mereka. Tahapan-tahapan tersebut akan lebih cepat tercapai apabila disamping

mereka terdapat orang-orang yang dicintai dan mampu membuat seseorang menjadi bermakna. Subjek 4 menjalani proses tahapan-tahapan untuk mencapai kebermaknaan hidup lebih cepat dari ketiga subjek lainnya karena subjek 4 memiliki keluarga yang mendorong subjek untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan setelah subjek menikah serta memiliki anak dirinya mendapatkan dukungan dari suami tercinta berupa dukungan moril, materil, cinta kasih dan juga kehadiran seorang anak membuat subjek menjadi lebih semangat, berusaha menjadi ibu yang baik bagi anaknya serta timbul perasaan bahagia. Menurut Muskibin (2005) kebahagiaan suatu pernikahan baru dapat terwujud mana kala hadirnya seorang anak yang meramaikan kehidupan rumah tangga. Keikutsertaan subjek sebagai seorang penyuluh narkoba dan HIV/AIDS membuat subjek menjadi lebih berarti dan berguna bagi masyarakat. Sedangkan subjek 3 menjalani proses tahapan-tahapan untuk mencapai kebermaknaan hidup lebih lama dari ketiga subjek lainnya karena subjek 3 hidup seorang diri disuatu rumah kontrakan, merasa kesepian tanpa seorang suami dan anak. Subjek hanya mendapatkan dukungan sosial dari rekan kerjanya ynag bisa menghilangkan sementara rasa sepinya tersebut. Meskipun saat ini subjek 3 menjalani kehidupan dengan penuh rasa semangat tetapi di dalam hati kecilnya subjek menginginkan seorang suami dan anak yang bisa membuat dirinya lebih berarti.

Makna hidup juga bisa didapat dari harapan dan impian subjek.

Pengharapan mengandung makna hidup karena adanya keyakinan akan terjadinya perubahan yang lebih baik, ketabahan menghadapi keadaan untuk saat ini dan menyongsong masa depan (Bastaman, 2007). Subjek 1 berharap untuk tetap

menjalani kehidupan yang lebih baik, bisa membesarkan anak sampai dewasa dan berharap penyakitnya tersebut dapat disembuhkan. Subjek 2 memiliki harapan untuk menjadi ibu yang baik bagi anaknya dan subjek menginginkan suami yang bisa menuntun dirinya menjadi lebih baik lagi.

Subjek 3 memiliki harapan untuk bisa memiliki suami yang mau mendampingi subjek dan memiliki anak-anak yang lucu, sehat dan ceria. Subjek merasa apabila dirinya berada di sekeliling orang-orang yang dicintai maka subjek akan merasa lebih kuat, menjadi wanita tangguh, dan tentunya ada kebahagiaan di dalam dirinya. Subjek 4 juga memiliki harapan kepada anaknya agar bisa menjadi kebanggaan keluarga ketika sudah dewasa dan subjek melarang anaknya untuk mengenal narkoba karena dirinya tidak ingin anaknya seperti ayah dan ibunya.

Pada akhirnya, keempat subjek telah mencapai kehidupan bermakna dengan memiliki kembali gairah hidup, tujuan hidup yang jelas, kegiatan terarah serta memiliki harapan dan pada akhirnya menimbulkan perasaan bahagia (happiness).

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 59-66)

Dokumen terkait