• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PENUTUP

B. Saran

Banyaknya jumlah masjid di kawasan Danau Tempe merupakan keutungan bagi masyarakat dan wisatawan dimana jarak menuju masjid tidak jauh dari kawasan pengembangan. Sarana peribadatan masjid di kawasan Danau Tempe kondisinya masih bagus, Hanya diperlukan pemeliharaan masjid yakni berupa melengkapi alat shalat di masjid.

82.

c. Tempat Belanja

Tempat belanja cinderamata dari tempat wisata merupakan pendukung untuk kegiatan ekowisata. Terdapat tempat belanja ciri khas dari Kabupaten Wajo yaitu tenun sutera yang dapat dibeli langsung oleh wisatawan di Kampung Sutera. Lokasi kampung sutera di Desa Assorajang dapat di tempuh dengan waktu kurang lebih 6 menit dengan jarak 2,5 km dari Danau Tempe. Selain itu masyarakat yang melakukan aktivitas menenun di awa bola kawasan Danau Tempe dapat langsung menawarkan hasil kerajinannya agar memudahkan wisatawan membeli cinderamata tersebut dan dapat menambah kerajinan-kerajinan lainnya yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat d. Jalan.

Secara umum, prasarana transportasi darat di sekitar Kawasan Danau Tempe, khususnya sistem jaringan jalan sudah baik untuk menghubungkan dari dan ke daerah lain seperti Watampone, Watansoppeng, Barru dan Sidrap. Hal ini dikarenakan Kawasan Danau Tempe dekat dengan jaringan jalan Nasional sehingga memudahkan untuk akses para wisatawan yang berkunjung.

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor:

34/PERMEN/2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas Kawasan Permukiman salah satu prasarana penting yang harus disediakan secara baik dan terpadu adalah prasarana jalan dengan klasifikasi jalan yakni jalan lokal dan jalan lingkungan.

Berdasarkan SNI No. 03-1733-2004 untuk jalan lingkungan I memiliki lebar 1,5m hingga 2m dan jalan lingkungan II memiliki lebar 1,2 m dengan peruntukan jalan khusus pejalan kaki. Jalan lingkungan di lokasi penelitian

Gambar 5.2 Masjid di kawasan Danau Tempe Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

83.

memiliki lebar 1,5m dengan material beton namun terdapat beberapa titik yang materialnya masih berupa tanah. Sebagai pengembangan kawasan ekowisata kondisi jalan harus baik untuk mendukung akses wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata. Sehingga dalam arahannya perlu penataan jaringan jalan seperti memperbaiki jalan yang terputus agar masyarakat dan wisatawan dapat berjalan dengan nyaman serta dapat meningkatkan nilai aksesibilitas di kawasan Danau Tempe sebagai kawasan ekowisata.

Gambar 5.3 Peta Prasarana Jalan 84.

Sumber: Arcgis, diolah kembali oleh penulis 2017

85.

e. Air Bersih

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor:

34/PERMEN/2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas Kawasan Permukiman, setiap kawasan perumahan harus dilengkapi dengan sarana air bersih yang memenuhi kebutuhan minimal bagi penghuni sesuai dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah. Layanan air bersih dalam kawasan dapat diberikan oleh PDAM atau Badan Pengelola air minum kawasan, atau dapat pula menyediakan sendiri/komunal melalui sumur gali. Sebagian besar masyarakat menggunakan sumur bor atau PDAM dalam supply air bersih, kualitas air bersih yang berasal dari sumur bor atau PDAM bersih, jernih dan tidak berbau sehingga layak untuk dipakai.

f. Air Limbah

Sebagian besar masyarakat Kelurahan Mattirotappareng dan Desa Assorajang menggunakan sistem pengelolaan air limbah on site berupa jamban keluarga. Selebihnya penduduk yang tinggal di tepi sungai dan danau memiliki jamban terapung yang langsung terbuang ke sungai. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang dilakukan masyarakat Kabupaten Wajo sebagai berikut : 1) Membuang air limbah rumah tangga ke got/parit/saluran drainase dekat

rumahnya dengan atau tanpa melalui pipa.

2) Membuang ke sungai dengan atau melalui pipa.

3) Menampung/meresapkan air limbah rumah tangga ke dalam lubang/kubangan terbuka yang dibuat dekat kamar mandi.

Gambar 5.4 Bak yang digunakan untuk menampung air Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

86.

4) Memakai air limbah rumah tangga untuk menyiram jalan.

g. Jaringan Persampahan

Berdasarkan SNI 03-1733-2004, setiap rumah harus menyediakan tong sampah pribadi. Masalah yang terdapat di kawasan Danau Tempe yakni rumah penduduk tidak memiliki tong sampah pribadi. Adapun masalah persampahan lain yang ditemui yakni kebiasaan penduduk membuang sampah langsung ke sungai ataupun danau. Hal itu dikarenakan tidak tersedianya bak sampah umum dan kurangnya kepedulian untuk memelihara kebersihan lingkungan.

Berdasarkan jumlah penduduk yang ada di Kawasan Danau Tempe (asumsi 5 jiwa per rumah) dan sarana pelengkap tong sampah jika dikaitkan dengan SNI 03-1733-2004, maka belum memenuhi standar pelayanan dengan baik karena tidak terdapat tong sampah pribadi di setiap rumah dan tidak adanya Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) di lokasi penelitian. Terlebih lagi jika daerah ini dikembangkan menjadi kawasan ekowisata maka diperlukan perencanaan jaringan persampahan yang baik dan sesuai standar agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menunjang kawasan ini sebagai kawasan ekowisata.

Gambar 5.5 Kondisi sampah di kawasan pengembangan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

Gambar 5.6 Peta Sebaran Sarana dan Prasarana 87.

Sumber : Arcgis, diolah kembali oleh penulis 2017

88.

Sumber: Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan Pariwisata Kab Wajo, 2017

89.

Faktor Eksisting Analisis

Waktu Waktu yang diperlukan

untuk menuju kawasan pengembangan dari Makassar menggunakan mobil sewa ataupun mobil pribadi memerlukan waktu tempuh sekitar 5 jam.

Lokasi pengembangan terletak di pusat kota Kabupaten Wajo, sehingga memudahkan wisatawan untuk mengakses lokasi wisata.

Biaya Biaya yang diperlukan

untuk menuju kawasan pengembangan apabila berasal dari pusat Kota Makasar adalah Rp.

80.000 – Rp. 100.000.

Danau Tempe tergolong mahal bila dibandingkan dengan pencapaian dengan daerah lain.

Frekuensi Lalu-lintas kendaraan

umum yang menuju kawasan pengembangan apabila berasal dari pusat Kota Makassar pada jam 09.00 pagi, jam 16.00 sore dan 19.00 malam.

Frekuensi kendaraan yang melintas cukup besar , memudahkan pergerakan masyarakat.

Tabel diatas menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas menuju kawasan pengembangan ekowisata Danau Tempe apabila berasal dari Kota Makassar memerlukan waktu yang cukup lama namun lokasi pengembangan terletak di pusat Kota Kabupaten Wajo yang memudahkan wisatawan mengakses lokasi ekowisata, adapun biaya yang dibutuhkan cukup mahal namun frekuensinya relatif besar.

Tabel 5.3 Analisis Tingkat Aksesibilitas

Sumber: Hasil Analisis, 2017

90.

Gambar 5.7 Peta Aksesibilitas Makassar - Wajo Sumber: Arcgis, diolah kembali oleh penulis 2017

91.

Tabel 5.4 Tanggapan Masyarakat Terhadap Objek dan Daya Tarik Variabel daya tarik wisata terdiri dari indikator keindahan alam, keanekaragaman flora dan fauna, kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta keunikan sosial budaya.

Kajian penilaian terhadap objek dan daya tarik wisata menggunakan kuisioner dengan pembobotan/scoring menggunakan metode skala likert dengan skor tertinggi di tiap pertanyaan adalah 5 dan skor terendah adalah 1, dengan jumlah respondeh sebanyak 99 orang.

No. Daya Tarik Sangat Menarik

5

Menarik 4

Kurang Menarik

3

Tidak Menarik

2

Sangat Tidak Menarik

1

Skor Total

1. Alam (danau, pegunungan)

67 335

13 52

19

57 - - 444

2. Budaya

(kearifan lokal)

71 355

14 56

9 27

5

10 - 448

3. Hiburan (atraksi buatan)

27 135

32 128

12 36

3 6

25

25 330

4.

Minat khusus (pengamatan flora dan fauna)

- 19

76

24 72

39 78

17

17 243

5. Kuliner

(makanan khas)

21 105

55 220

15 45

7 28

1

1 348

Sumber: Hasil Analisis, 2017

Dari hasil perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanggapan responden terhadap objek dan daya tarik wisata berdasarkan budaya berada pada baris pertama (cukup tinggi) yaitu 448,0 selanjutnya tidak berbeda jauh dengan skor total objek dan daya tarik wisata berdasarkan alam yakni 444,0 dari hasil tersebut kedua daya tarik wisata tersebut yang paling menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan.

Objek daya tarik wisata berbasis kuliner atau makanan khas merupakan ODTW yang diminati oleh responden dengan hasil perhitungan 348,0 kemudian ODTW berbasis hiburan/atraksi buatan yaitu 330,0 yang merupakan angka cukup tinggi dalam penilaian objek dan daya tarik wisata.

Nelayan tradisional Danau Tempe memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri bahkan telah menjadi ciri khas pariwisata di Kabupaten Wajo khususnya kebiasaan bermukim masyarakatnya secara terapung di perairan Danau Tempe. Nelayan tradisional tanpa kebiasaan bermukim terapung tetapi kelembagaan sosialnya masih sama dengan dipimpin oleh seorang macoa tappareng. Komunitas nelayan tersebut umumnya berasal dari daratan terdekat dengan perairan, sehingga selain memiliki rumah kalampang (terapung), komunitas tersebut juga memiliki rumah panggung di daratan. Kehidupan sehari-hari yang lebih banyak menghabiskan waktu di danau dengan berbagai aktivitas perikanan seperti mabbungka, makkaja atau mappalari lopi, sehingga terdesak untuk bermukim di perairan. Kebiasaan bermukim terapung menjadi alternative untuk mengefesiensikan waktu dibandingkan dengan kembali ke

Gambar 5.8 Metode Focus Group Discussion di Kawasan Danau Tempe Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

93.

Gambar 5.9 Rumah Terapung di Danau Tempe Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

daratan dan untuk menjaga lokasi penangkapan. Sedangkan kaum wanita akan melangsungkan aktivitas sehari-hari seperti memasak, mencuci dan mandi dengan memanfaatkan air di danau serta memelihara hewan ternak seperti ayam dan itik.

Interaksi sosial berlangsung dengan memanfaatkan perahu, sehingga seluruh anggota keluarga mulai dari anak-anak hingga dewasa memiliki keahlian dalam mengendarai perahu. Komunitas kearifan lokal pakajja ini cenderung terbuka jika ada pendatang yang masuk ke wilayah mereka, terutama kepada para wisatawan lokal dan mancanegara. Aktivitas di perairan berlangsung selama enam hari, selama periode Kamis sore hingga Jumat siang mereka akan kembali ke daratan. Pada rentang waktu tersebut tidak diizinkan untuk melakukan penangkapan ikan dan menyediakan waktu beribadah shalat Jumat. Hal ini merupakan bentuk yang kuat antara sistem adat lokal dan ajaran Islam. Pemahaman ajaran Islam juga diimplementasikan seperti masyarakat Islam pada umumnya antara lain upacara kematian, perkawinan ataupun syukuran. Akan tetapi seiring dengan adanya perkembangan zaman lambat laun kebiasaan bermukim di rumah terapung tersebut mulai jarang diterapkan dalam kebiasaan komunitas nelayan tradisional.

Kearifan lokal komunitas pakkaja merupakan komunitas yang telah ada sejak zaman pemerintahan Kerajaan Wajo. Pada masa kerajaan tersebut, pelaksana tugas harian dalam sistem pemerintah dipegang oleh arung ennengnge memiliki peran untuk mengawasi pemanfaatan sumberdaya alam di Danau Tempe. Mereka akan dibantu oleh macoa tappareng dengan

94.

seperangkat aturan lokal yang disebut dengan ada assitureng (perangkat aturan yang telah disepakati). Seiring pelaksanaan pemerintah formal, maka posisi arung ennengnge lambat laun dihilangkan, sehingga pelaksana aturan tersebut dipegang sepenuhnya oleh macoa tappareng. Seperangkat aturan tersebut bersifat larangan yaitu:

a. Larangan melakukan penangkapan ikan lebih dari satu alat tangkap.

b. Larangan melakukan penangkapan ikan tiga hari sebelum dan sesudah upacara adat maccera tappareng.

c. Larangan melakukan penangkapan ikan kecil.

d. Larangan melakukan penangkapan ikan pada lokasi-lokasi tertentu.

e. Larangan menyelesaikan permasalahan terutama antar nelayan di perairan.

f. Larangan menggunakan alat tangkap yang mencemari lingkungan.

g. Larangan melakukan penangkapan ikan tanpa falo-falo (penutup kepala).

Setelah masuknya ajaran Islam, maka terdapat penambahan aturan penangkapan dalam ada assitureng yang diimplementasikan dengan larangan melakukan penangkapan ikan pada Kamis sore hingga sebelum Jumat dan melakukan penangkapan ikan tiga hari sebelum dan sesudah hari raya Idul Fitri.

Apabila nelayan melakukan pelanggaran dari aturan tersebut maka akan dikenakan idosa atau denda. Bentuk larangan tersebut merupakan manifestasi pranata lokal yang mengikat nelayan, dimana peran macoa tappareng sangat penting dalam proses keberlanjutan tradisi tersebut. Konsep idosa pada dasarnya merupakan sistem denda jika melakukan pelanggaran, yaitu dengan membayar denda atau melakukan upacara adat maccera tappareng dengan biaya ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang melanggar. Komunitas pakkaja memiliki kepercayaan bahwa Danau Tempe merupakan ruang yang sangat sakral dan dihuni oleh makhluk yang tidak terlihat dikenal dengan walli atau funnawei, maka dari itu untuk mendapatkan rasa aman selama menangkap ikan dan penghargaan terhadap mereka, nelayan akan memberikan sesajen pada saat upacara maccera tappareng dan sesuai aturan tidak boleh melakukan pelanggaran adat.

95.

96.

menjadi benda yang sangat berharga dan mulai menjadi benda penting dalam proses upacara adat terutama perkawinan. Perkembangan zaman menciptakan modernisasi dan perubahan makna dan penggunaan kain tenun tetapi mulai dimanfaatkan sebagai pakaian tradisional dan formal seperti penggunaan untuk pakaian kantor dan seragam sekolah.

Pusat pengrajin tenun di kawasan Danau Tempe berada di Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo. Kebijakan pemerintah setempat menetapkan kawasan sebagai sentra produksi tenun sekaligus sebagai tujuan wisata dengan atraksi menenun sebagai daya tarik utama. Kegiatan menenun umumnya dilakukan oleh wanita mulai dari usia remaja, kegiatan tersebut telah menjadi warisan berupa keahlian dengan nilai karya seni yang tinggi. Kelestarian tradisi menenun oleh para wanita diwariskan secara turun temurun, keterampilan diwariskan oleh ibunya sebagai adat yang harus diketahui oleh para remaja wanita. Menenun adalah tanda bukti seorang telah mencapai titik kedewasaan dan cerminan feminisme, namun saat ini tradisi tersebut telah hilang dan tidak lagi menjadi tolak ukur kedewasaan wanita.

Pemahaman tentang kegiatan menenun sebagai tolak ukur kedewasaan wanita pada prinsipnya adalah bentuk upaya pelestarian nilai tradisi lokal dan menjaga eksistensi lipa sabbe yang kemudian dibentuk menjadi sebuah mitos atau pandangan khusus. Kegiatan menenun oleh para wanita dimulai sekitar pukul 09.00 pagi setelah para wanita melakukan aktivitas utama seperti mencuci, memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya, menjelang shalat Dzuhur mereka akan beristirahat dan kembali menenun mulai pukul 14.00 hingga pukul 15.00 dan dilanjutkan hingga sebelum magrib. Proses efisiensi waktu dan tempat menenun, maka alat tenun (walida) akan ditempatkan di kolong rumah ataupun di dekat dapur, untuk memudahkan mereka mengerjakan kegiatan rumah tangga seperti pada Gambar 5.10 Proses menenun dari bahan baku sampai menjadi sarung dilakukan secara terus menerus dengan penuh keterampilan dan kecermatan. Tahap awal proses menenun adalah apparisi yaitu memasukkan benang dalam benang utama yang sudah dianai satu persatu dengan menggunakan sisir tenun dan menghasilkan bunyi hentakan yang keras, proses tersebut terus berlangsung hingga menjadi sarung.

97.

Proses menenun hingga menjadi sarung membutuhkan waktu 2 hingga 3 minggu, tergantung dari motif dan corak yang diinginkan. Kegiatan menenun menciptakan jaringan sosial yang kompak antara punggawa diposisikan oleh pengusaha benang dan ana guru’ diposisikan pada mereka yang menenun.

Jaringan sosial tersebut umumnya berdasar dari hubungan kekerabatan maupun tetangga. Kearifan lokal komunitas pattenung memiliki aturan dan larangan dalam proses menenun yang diinterpretasikan sebagai sebuah mitos yang tidak boleh dilakukan, antara lain jika seorang laki-laki terkena pukulan dari walida (alat tenun) dari wanita karena dalam kondisi yang tidak aman, maka laki-laki tersebut akan mendapat musibah. Hal ini mengandung pesan moral terhadap penghargaan penenun wanita oleh kaum lelaki sebagai bagian dari kesetaraan gender. Selanjutnya larangan berbicara sebelum sampai putaran ketujuh kali benang. Hal ini sebagai pesan kepada penenun untuk berkonsentrasi menyelesaikan tenunnya. Penghargaan terhadap peralatan menenun juga menjadi bagian kearifan lokal dimana tidak boleh menyentuh tanah. Kegiatan menenun memiliki aturan waktu untuk memulai dan menyelesaikan sesuai dengan kalender Bugis kuno. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kegiatan menenun sarat akan pesan moral disamping sebagai pendidikan kepada anggota keluarga, juga sebagai sumber penghasilan masyarakat setempat.

Hingga saat ini kerajinan tenun sutera telah diekspor ke luar Sulawesi hingga ke mancanegara.

Potensi kearifan lokal komunitas penenun sutera ini selanjutnya ditinjau dari sudut kepentingan sosial budaya yang harus dijaga kelestariannya.

Kearifan lokal komunitas pattenung merupakan simbol sejarah peradaban di Gambar 5.10 Proses menenun sutera

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017

98.

kawasan Danau Tempe pada khususnya dan etnis Bugis pada umumnya.

Komunitas pattenung lebih berorientasi pada mempromosikan kearifan lokal dalam konteks ekonomi dengan pembentukan jaringan sosial. Kegiatan menenun merupakan alternatif dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari atau sebagai sumber ekonomi utama dan tidak lagi menjadi tolak ukur kedewasaan wanita seperti awal perkembangannya.

99.

tentang masalah cuaca, pola tanam, jadwal membersihkan saluran, jadwal menabur benih, dan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para petani.

Upacara tersebut selain memiliki nilai sakral, juga menjadi momentum kebersamaan masyarakat setempat. Konsep attudang-tudangeng telah menjadi warisan budaya sejak zaman pemerintahan La Palaga Nene Malomo seorang cendekiawan Sidenreng, jauh sebelum pemerintah memperkenalkan metode penyuluhan pertanian. Hasil dari upacara adat tersebut kemudian dilaksanakan secara serentak para petani, terutama pada hasil penentuan jadwal hari pertama kegiatan pertanian. Seluruh siklus pertanian tersebut selalu dilengkapi dengan tradisi-tradisi yang bersumber dari pengetahuan tradisional. Para petani tidak boleh membajak sawah (ma’dakkala) sebelum penyelenggaraan upacara khusus, baik upacara perorangan maupun upacara bersama.

Pada saat musim panen tiba, akan dimulai dengan upacara panen pertama (mappamula). Sebagaimana halnya menanam, masa panen merupakan kerja kolektif yang melibatkan seluruh anggota keluarga, tetangga dan kerabat baik laki-laki, perempuan tanpa mengenal batasan umur. Eforia kebersamaan dan rasa syukur mulai memuncak, mereka yang tidak memiliki sawah turut membantu dan akan memperoleh upah. Kegiatan panen yang dilakukan secara serentak yang dikontrol oleh sanro wanua dan setelah menghasilkan beras maka dia akan mengumpulkan beras dari masing-masing petani dengan ukuran 1 kaleng. Hasil pengumpulan tersebut tidak dikonsumsi secara pribadi oleh sanro wanua, melainkan akan dimakan bersama pada saat pesta panen yang dikenal dengan mappadendang, yaitu proses adat menumbuk padi di lesung yang diselingi dengan atraksi ketangkasan, musik tradisonal dan permainan lokal. Esensi utama dari mappadendang adalah sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karuniaNya sehingga petani dapat memetik hasil panen yang memuaskan. Upacara adat tersebut juga dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat dan dapat menjadi daya tarik wisata di kawasan Danau Tempe.

Konsep kearifan lokal dalam komunitas petani tradisional merupakan komunitas yang mempertahankan sistem pertanian yang bersumber dari naskah I Lagaligo. Sistem larangan dan upacara adat tersebut menjadi wujud

100.

kebersamaan antar petani maupun hubungan dengan pemerintah. Berbagai bentuk praktek kearifan lokal yang tetap ingin dipertahankan pada prinsipnya merupakan modal sosial masyarakat komunitas tersebut dalam rangka memaksimalkan hasil pertanian setiap musim tanam berlangsung. Namun, pesatnya perkembangan modernisasi pertanian tradisi-tradisi tersebut perlahan mulai ditinggalkan dan mengubah tatanan tradisional dalam sistem pertanian.

101.

Tabel 5.5 Matriks kearifan lokal berdasarkan komunitas

Sumber: Analisis penulis, 2017

Komunitas Kehidupan Sosial dan Kemasyarakatan

Pengelolaan Sumberdaya

Alam Kepercayaan Rumah atau

tempat tinggal Budaya

Pakkaja

Kegiatan sehari-hari dominan berlangsung di perairan terutama nelayan yang memiliki kalampang. Terdapat aturan adat dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan di Danau Tempe.

Macoa Tappareng.

Sistem ada asitureng dengan berbagai larangan, merupakan aturan dalam menjaga keberlanjutan dari sumberdaya perikanan.

Jika melanggar dikenakan sanksi idosa. Pengelolaan tanah hak ulayat dengan makoti.

Penghormatan terhadap walli atau funnawei sebagai penjaga danau, seperangkat larangan juga sebagai bagian penghormatan dari kepercayaan mereka.

Nelayan di perairan memiliki rumah singgah terapung dan di daratan memiliki rumah panggung

tradisional.

Tradisi maccera tappareng dan mappalari lopi sebagai bagian momentum dan kebersamaan para nelayan dan sekaligus sebagai rasa syukur melimpahnya hasil tangkapan.

Pattenung

Jaringan sosial yang terbentuk dalam kegiatan menenun, dimana pemilik benang sebagai punggawa dan penenun sebagai ana’ guru.

Pemanfaatan ulat sebagai penghasil benang secara tradisional.

Terdapat mitos atau larangan dalam proses pengerjaannya, seperti seorang laki-laki tidak boleh terkena pukulan walida. Kegiatan menenun sebagai tanda kedewasaan wanita yang mencirikan etos kerja (reso) dan ketekunan (tinulu).

Rumah panggung tradisional dengan memanfaatkan awa bola sebagai tempat aktivitas menenun dengan

menggunakan dinding dari bambu

Tenun sebagai penghasil kerajinan, kratifitas dan kecerdasan lokal. Kerajinan lain yang dihasilkan yakni lipa sabbe, waju ponco atau songkok pamiring.

Paggalung

Hubungan sosial terbentuk dari kesamaan profesi. Komunitas ini dipimpin oleh sanro wanua yang mengatur tahapan kegiatan pertanian.

Kebersamaan petani mencapai puncaknya pada kegiatan panen raya, dimana petani dan pemerintah terlibat dalam pembagian kerja

Aktivitas pertanian tradisional bersumber dari Lontara palaong nruma yang diwariskan secara turun temuru. Kegiatan pertanian selalu diawali dengan tradisi yang khas dan masih menggunakan peralatan pertanian tradisional

Penghormatan terhadap dewi padi (Sangiang Serri) sebagai pengharapan

melimpahnya hasil panen.

Rumah panggung tradisional dengan memanfaatkan awa bola sebagai tempat penyimpanan hasil panen dan peralatan pertanian

Attudang-tudangeng

merupakan sebuah forum yang akan membahas kegiatan pertanian dan dipimpin oleh sanro wanua.

Pada musim panen dilaksanakan mappadendang sebagai pesta rakyat atas melimpahnya hasil pertanian

102.

Gambar 5.11 Peta Sebaran Kearifan Lokal Berdasarkan Komunitas di Kawasan Danau Tempe Sumber: Arcgis, diolah kembali oleh penulis 2017

s

103.

104.

(perangkat aturan yang telah disepakati). Namun seiring pelaksanaan pemerintah formal, posisi arung ennengnge lambat laun mulai hilang. Sehingga pelaksana aturan tersebut dipegang sepenuhnya oleh macoa tappareng.

Macoa tappareng memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian Danau Tempe dengan mengatur masyarakat yang hidup dari danau ini. Tugas macoa tappareng lainnya adalah mengawasi keberadaan dari jenis-jenis ikan asli danau seperti biawang dan bungo. Adapun salah satu aturannya seperti larangan menangkap ikan pada kamis sore hingga hari jumat. Larangan-larangan ini jika ditelusuri lebih jauh ternyata memiliki makna yang mendalam dan berpengaruh terhadap pengelolaan perikanan di Danau Tempe. Larangan menagkap ikan di danau pada kamis sore hingga hari jumat, memiliki makna dari sisi ekologis dan juga religious. Adanya satu hari pelanggaran untuk menangkap ikan adalah sebagai pengingat untuk tidak mengeksploitasi alam secara terus-menerus dan hal ini akan memberi kebebasan kepada ikan untuk berkembang biak. Selain itu, kamis sore dan hari jumat sebagai waktu yang sakral untuk beribadah.

Adapun potensi flora dan fauna di kawasan Danau Tempe yakni a. Flora

Di Danau Tempe dijumpai berbagai tumbuhan air yang tumbuh rapat membentuk komunitas herba seperti :

1) Ludwigia adscendens 2) Poligonium barbatum

3) Eceng gondok (Eichhornia crassipes) 4) Kangkung (ipomea aquatica)

5) Pistia statiotes, 6) Teratai

Sedangkan tumbuhan yang ada di pesisir Danau Tempe antara lain:

1) Tanaman Beringin (ficus sp)

2) Bakke/jabon (Antocephalus cadamba) 3) Kihujan / trembesi (Samanea saman)

Dokumen terkait