BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
2. Sarana dan Prasarana
Kawasan Danau Tempe Wajo merupakan kawasan pengembangan yang direncanakan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan pada keberadaan kawasan pariwisata sebagai nilai tambah.
Sarana dan prasarana wisata di Danau Tempe dikaji melalui survei langsung yang dilakukan. Sebagaimana pengembangan kawasan kondisi sarana
81.
prasarana penunjang sangat diperlukan untuk pengembangan kawasan Danau Tempe sebagai kawasan ekowisata. Dengan keberadaaan sarana dan prasana yang memadai tentunya akan memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengunjung kawasan pengembangan. Sarana prasarana di kawasan Danau Tempe belum memadai untuk menunjang kegiatan wisatawan. Pada kawasan ini belum terdapat sarana prasarana pendukung objek wisata dan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat setempat.
a. Sarana Akomodasi
Sebuah kawasan ekowisata baiknya memiliki komponen-komponen berupa fasilitas akomodasi guna mendukung kegiatan ekowisata dan juga dapat meningkatkan daya tarik, sehingga kenyamanan dan kepuasan wisatawan dapat terpenuhi. Berdasarkan hasil pengamatan pada lokasi pengembangan belum terdapat penginapan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Rumah panggung tradisional masyarakat dapat digunakan sebagai penginapan untuk wisatawan dengan menata kembali beberapa rumah masyarakat serta menambah jumlah kamar yang dijadikan sebagai penginapan agar layak untuk ditempati dan wisatawan dapat berbaur secara langsung dengan masyarakat lokal.
Gambar 5.1 Rumah panggung tradisional di kawasan Danau Tempe Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017
b. Sarana peribadatan
Banyaknya jumlah masjid di kawasan Danau Tempe merupakan keutungan bagi masyarakat dan wisatawan dimana jarak menuju masjid tidak jauh dari kawasan pengembangan. Sarana peribadatan masjid di kawasan Danau Tempe kondisinya masih bagus, Hanya diperlukan pemeliharaan masjid yakni berupa melengkapi alat shalat di masjid.
82.
c. Tempat Belanja
Tempat belanja cinderamata dari tempat wisata merupakan pendukung untuk kegiatan ekowisata. Terdapat tempat belanja ciri khas dari Kabupaten Wajo yaitu tenun sutera yang dapat dibeli langsung oleh wisatawan di Kampung Sutera. Lokasi kampung sutera di Desa Assorajang dapat di tempuh dengan waktu kurang lebih 6 menit dengan jarak 2,5 km dari Danau Tempe. Selain itu masyarakat yang melakukan aktivitas menenun di awa bola kawasan Danau Tempe dapat langsung menawarkan hasil kerajinannya agar memudahkan wisatawan membeli cinderamata tersebut dan dapat menambah kerajinan-kerajinan lainnya yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat d. Jalan.
Secara umum, prasarana transportasi darat di sekitar Kawasan Danau Tempe, khususnya sistem jaringan jalan sudah baik untuk menghubungkan dari dan ke daerah lain seperti Watampone, Watansoppeng, Barru dan Sidrap. Hal ini dikarenakan Kawasan Danau Tempe dekat dengan jaringan jalan Nasional sehingga memudahkan untuk akses para wisatawan yang berkunjung.
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor:
34/PERMEN/2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas Kawasan Permukiman salah satu prasarana penting yang harus disediakan secara baik dan terpadu adalah prasarana jalan dengan klasifikasi jalan yakni jalan lokal dan jalan lingkungan.
Berdasarkan SNI No. 03-1733-2004 untuk jalan lingkungan I memiliki lebar 1,5m hingga 2m dan jalan lingkungan II memiliki lebar 1,2 m dengan peruntukan jalan khusus pejalan kaki. Jalan lingkungan di lokasi penelitian
Gambar 5.2 Masjid di kawasan Danau Tempe Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017
83.
memiliki lebar 1,5m dengan material beton namun terdapat beberapa titik yang materialnya masih berupa tanah. Sebagai pengembangan kawasan ekowisata kondisi jalan harus baik untuk mendukung akses wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata. Sehingga dalam arahannya perlu penataan jaringan jalan seperti memperbaiki jalan yang terputus agar masyarakat dan wisatawan dapat berjalan dengan nyaman serta dapat meningkatkan nilai aksesibilitas di kawasan Danau Tempe sebagai kawasan ekowisata.
Gambar 5.3 Peta Prasarana Jalan 84.
Sumber: Arcgis, diolah kembali oleh penulis 2017
85.
e. Air Bersih
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor:
34/PERMEN/2006 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Keterpaduan Prasarana, Sarana dan Utilitas Kawasan Permukiman, setiap kawasan perumahan harus dilengkapi dengan sarana air bersih yang memenuhi kebutuhan minimal bagi penghuni sesuai dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah. Layanan air bersih dalam kawasan dapat diberikan oleh PDAM atau Badan Pengelola air minum kawasan, atau dapat pula menyediakan sendiri/komunal melalui sumur gali. Sebagian besar masyarakat menggunakan sumur bor atau PDAM dalam supply air bersih, kualitas air bersih yang berasal dari sumur bor atau PDAM bersih, jernih dan tidak berbau sehingga layak untuk dipakai.
f. Air Limbah
Sebagian besar masyarakat Kelurahan Mattirotappareng dan Desa Assorajang menggunakan sistem pengelolaan air limbah on site berupa jamban keluarga. Selebihnya penduduk yang tinggal di tepi sungai dan danau memiliki jamban terapung yang langsung terbuang ke sungai. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang dilakukan masyarakat Kabupaten Wajo sebagai berikut : 1) Membuang air limbah rumah tangga ke got/parit/saluran drainase dekat
rumahnya dengan atau tanpa melalui pipa.
2) Membuang ke sungai dengan atau melalui pipa.
3) Menampung/meresapkan air limbah rumah tangga ke dalam lubang/kubangan terbuka yang dibuat dekat kamar mandi.
Gambar 5.4 Bak yang digunakan untuk menampung air Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017
86.
4) Memakai air limbah rumah tangga untuk menyiram jalan.
g. Jaringan Persampahan
Berdasarkan SNI 03-1733-2004, setiap rumah harus menyediakan tong sampah pribadi. Masalah yang terdapat di kawasan Danau Tempe yakni rumah penduduk tidak memiliki tong sampah pribadi. Adapun masalah persampahan lain yang ditemui yakni kebiasaan penduduk membuang sampah langsung ke sungai ataupun danau. Hal itu dikarenakan tidak tersedianya bak sampah umum dan kurangnya kepedulian untuk memelihara kebersihan lingkungan.
Berdasarkan jumlah penduduk yang ada di Kawasan Danau Tempe (asumsi 5 jiwa per rumah) dan sarana pelengkap tong sampah jika dikaitkan dengan SNI 03-1733-2004, maka belum memenuhi standar pelayanan dengan baik karena tidak terdapat tong sampah pribadi di setiap rumah dan tidak adanya Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) di lokasi penelitian. Terlebih lagi jika daerah ini dikembangkan menjadi kawasan ekowisata maka diperlukan perencanaan jaringan persampahan yang baik dan sesuai standar agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menunjang kawasan ini sebagai kawasan ekowisata.
Gambar 5.5 Kondisi sampah di kawasan pengembangan Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2017
Gambar 5.6 Peta Sebaran Sarana dan Prasarana 87.
Sumber : Arcgis, diolah kembali oleh penulis 2017
88.
Sumber: Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan Pariwisata Kab Wajo, 2017