BAB III METODE PERENCANAAN
F. Teknik Analisis Perencanaan
Dalam Arahan Pegembangan Kawasan Ekowisata Danau Tempe Berbasis Kearifan Lokal, terdapat beberapa teknik analisis data yang digunakan yaitu:
1. Analisis Spasial
Analisis spasial digunakan untuk mengetahui keterkaitan antar zona dalam kawasan pengembangan serta melihat hubungan keterkaitannya sehingga dapat ditentukan arahan spasial yang dapat diterapkan dalam pengembangan ekowisata kawasan pesisir Danau Tempe.
2. Analisis Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW)
Analisis ODTW digunakan untuk mengetahui objek atau daya tarik wisata yang paling menonjol atau paling diminati oleh wisatawan/masyarakat setempat dalam kawasan pengembangan menggunakan kuisioner dengan pembobotan/scoring menggunakan skala likert dengan poin tertinggi 5 pada setiap pertanyaan dan poin terendah adalah 1.
Sangat
Menarik Menarik Kurang
Menarik
Tidak Menarik
Sangat Tidak Menarik
5 4 3 2 1
49.
3. Analisis Foto Mapping
Analisis Foto Mapping merupakan metode analisis untuk memetakan potensi dan masalah pada saat ini dengan menggunakan media foto. Metode ini bertujuan untuk memperlihatkan secara nyata kondisi eksisting di wilayah pengembangan.
4. Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP)
Identifikasi faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan kawasan ekowisata Danau Tempe berbasis kearifan lokal bertujuan untuk menentukan parameter prioritas menggunakan sistem scoring sebagai acuan dalam analisis selanjutnya. Identifikasi parameter prioritas ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode AHP digunakan untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang sangat berpengaruh dalam kawasan pengembangan berdasarkan kuesioner dalam bentuk tabel matriks perbanding (pairwise) sehingga dapat dihitung dan diketahui presentasi antar kriteria. Perhitungan selanjutnya menggunakan rumus konsistensi indeks untuk menentukan validasi data tersebut.
Pengolahan data AHP ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi Expert Choice. Aplikasi ini memungkinkan peneliti untuk melakukan analisis indikator/parameter dominan berdasarkan prinsip perbandingan berpasangan/pairwise comparison.
Adapun tahapan dalam analisis model AHP ini (Saaty, 1993), yaitu:
a. Penyusunan Hierarki (Dekomposisi)
Penyusunan hierarki maksudnya adalah penyusunan berbagai elemen dari suatu sistem yang kompleks secara hierarkis agar dapat dipahami dalam pemecahan masalahnya. Hierarki merupakan alat dasar dari pikiran manusia dalam rangka menata suatu elemen dalam beberapa level. Hierarki dalam metode AHP dibedakan atas dua berdasarkan bentuknya, yaitu hierarki setengah (incomplete) dan hierarki penuh (complete). Hierarki setengah hanya pada penentuan bobot tiap kriteria/prioritas (tingkat dua) dan hierarki penuh sampai pada penentuan alternatif (tingkat ketiga) (Saaty, 2004).
b. Pengisian Persepsi Responden
Pada metode AHP yang menjadi sumber data adalah responden yang dipilih berdasarkan karakteristik tertentu. Pemilihan para ahli harus yang memiliki
50.
kompetensi atau memahami kondisi di lokasi perencanaan. Model kuisioner AHP ini membandingkan antara satu elemen dengan lainnya (perbandingan berpasangan) menggunakan skala 1 sampai 9. Penggunaan skala ini didasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh Saaty (1980) bahwa jumlah maksimal pilihan saat seseorang melakukan penilaian untuk mencapai konsistensi data adalah sampai 9 butir.
c. Pengolahan data menggunakan program Expert Choice
Pada pengolahan data metode AHP, peneliti menggunakan program Expert Choice. Software expert chioice adalah program dengan fungsi untuk menggabungkan hasil perbandingan dengan jumlah lebih dari satu partisipan yaitu dengan menggabungkan fitur average untuk merata-rata hasil penilaian berpasangan individu menjadi sebuah nilai. Metode yang digunakan untuk mendapatkan nilai rata-rata tersebut yaitu dengan metode perhitungan rata-rata geometrik.
Expert Choice sangat baik digunakan untuk menganalisa permasalahan dalam pengambilan keputusan dengan kriteria yang banyak dan hierarki yang besar atu hierarki yang memiliki banyak level, karena tidak perlu untuk menghitung bobot secara manual, sehingga tingkat kesalahan dalam perhitungan bobotnya sangat kecil, namun tergantung ketelitian inputan dan preferensi responden. Hierarki yang digunakan oleh peneliti adalah bentuk hierarki setengah dengan tujuan untuk menghitung bobot tiap parameter kerawanan longsor.
Berikut tahapan analisis dengan menggunakan program Expert Choice, yaitu:
a. Penetapan Goals
Terdapat menu pada program expert choice yaitu Goal Description. Menu ini mendeskripsikan tujuan atau fokus apa yang menjadi inti fokus permasalahan yang ingin dipecahkan AHP. Dalam penelitian ini fokus penelitian adalah bobot parameter pengembangan kawasan ekowisata Danau Tempe berbasis kearifan lokal
51.
b. Pembuatan Kriteria
Pembuatan kriteria pada program ini menggunakan tools Insert Child of Current Node. Kriteria merupakan hal-hal yang menjadi kriteria dari goal.
c. Penginputan matriks pairwise comparison
Sebagaimana prosedur yang dilakukan pada perhitungan manual, tahap pembobotan pertama dilakukan pada hierarki II (chriteria) terhadap hierarki I (goals). Artinya kita ingin memberikan bobot terhadap masing-masing kriteria untuk mengetahui kriteria mana yang paling diunggulkan. Arahan pada goal node untuk melakukan pembobotan pada kriteria dan alternatif. Pertama, melakukan pembobotan pada setiap kriteria. Selanjutnya, pembobotan dilakukan pada setiap alternatif dengan membandingkannya pada setiap kriteria secara berpasangan.
Fungsi yang digunakan untuk melakukan langkah tersebut adalah Pairwise Verbal Comparisons untuk setiap kriteria. Pada tahap ini dilakukan penginputan dari hasil kuisioner para responden. Kuisioner mengadopsi bentuk perbandingan berpasangan expert choice dengan prinsip penilaian yang sama.
Setelah seluruh kolom pada matriks pairwise comparison terisi, maka secara otomatis expert choice memperlihatkan nilai inconsistence dari hasil penilaian.
d. Identifikasi nilai inkonsistensi
Pada pengisian judgement tahap sebelumnya terdapat kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam membandingkan kriteria satu dengan lainnya, sehingga diperlukan uji konsistensi. Dalam AHP, penyimpangan toleransi ditoleransi dengan rasion inkonsistensi diabawah 10% (0,10). Langkah ini dilakukan dengan mengalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas-prioritas kriteria yang bersangkutan dan menjumlahkan hasilnya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks konsistensi acak, yang sesuai dengan dimensi masing-masing matriks. Untuk mendapatkan hasil yang baik hasil inkoonsistensi harus bernilai kurang dari atau sama dengan 10
% (≤ 0,10) maka mutu informasi harus ditnjau kembali dan diperbaiki antara lain dengan memperbaiki cara penggunaan pertanyaan ketika melakukan pengisian ulang kuisioner dan dengan mengarahkan responden yang mengisi kuisioner.
52.
5. Analisis SWOT
Analisis SWOT merupakan salah satu teknik analisis yang digunakan dalam menginterpretasikan wilayah pengembangan, khususnya pada kondisi yang sangat kompleks dimana faktor eksternal dan internal memegang peran yang sama pentingnya. Analisis SWOT digunakan untuk penelaahan terhadap kondisi fisik, ekonomi dan sosial wilayah perencanaan serta struktur ruang.
Dalam kasus ini, analisis SWOT digunakan untuk mengetahui Analisis ini faktor yaitu potensi (Strength), Masalah (Weakness), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threat) dari kawasan pengembangan.
Kekuatan dan kelemahan merupakan faktor internal, sedangkan kesempatan dan ancaman merupakan faktor eksternal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Analis faktor strategi internal dan eksternal merupakan pengolahan faktor-faktor strategis pada lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan pembobotan dan rating pada setiap faktor strategis.
a. Pembobotan (scoring)
Pembobotan pada lingkungan internal tingkat kepentingannya didasarkan pada besarnya pengaruh faktor strategis terhadap posisi strategisnya, sedangkan pada lingkungan eksternal didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap faktor strategisnya (Freddy Rangkuti, 2001 : 22-24).
Gambar 3.2: Kuadran Analisis SWOT Suumber: LM-FEUI (H Oka A Yoeti 1996)
53.
Jumlah bobot pada masing-masing lingkungan internal dan eksternal harus berjumlah = 1 (satu), sedangkan nilai bobot menurut Freddy Rangkuti (2001 : 22-24) berdasarkan ketentuan sebagai berikut :
“Skala 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting)”
Besarnya rata-rata nilai bobot bergantung pada jumlah faktor-faktor strategisnya (5-10 faktor strategis) yang dipakai.
b. Penilaian (rating)
Nilai rating berdasarkan besarnya pengaruh faktor strategis terhadap kondisi dirinya (Freddy Rangkuti, 2001 : 22-24) dengan kententuan sebagai berikut :
“Skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah)”
Sangat Kuat Kuat Rata-rata Lemah
4 3 2 1
Variabel yang bersifat positif (variabel kekuatan atau peluang ) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya, jika kelemahan atau ancaman besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1, sedangkan jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaingnya nilainya 4.
Tabel 3.1 Model Analisis Faktor Strategi Internal/Eksternal (IFAS/EFAS) Faktor-Faktor Strategis Bobot Nilai Bobot x Nilai Kekuatan/Peluang:
(faktor-faktor yang menjadi kekuatan/peluang)
(Professional Judgement)
(Professional Judgement)
(Jumlah perkalian bobot dengan
nilai pada setiap faktor)
Jumlah
(Jumlah bobot kekuatan/
peluang)
(Jumlah nilai kekuatan/
peluang) (Jumlah bobot x nilai) Kelemahan/Ancaman:
(Professional Judgement)
(Professional Judgement)
(Jumlah perkalian bobot dengan
nilai pada setiap faktor)
54.
Faktor-Faktor Strategis Bobot Nilai Bobot x Nilai (faktor-faktor yang menjadi
kelemahan/ancaman)
Jumlah (Jumlah bobot
kelemahan/
ancaman)
(Jumlah nilai kelemahan/
ancaman)
(Jumlah bobot x nilai) Sumber: Freddie Rangkuti, 2011
Selain itu menurut Kotler (1997), untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman dapat diuraikan dengan mengidentifikasi peluang dan ancaman apa saja yang sedang dan akan dialami. Hal ini merupakan faktor luar yang dapat mempengaruhi perkembangan kawasan wisata masa depan, sehingga memang perlu untuk dicatat. Dengan demikian setiap pihak yang berkepentingan akan menyiapkan tindakan, baik peluang maupun ancaman perlu diberikan urutan sedemikian rupa sehingga perhatian khusus dapat diberikan kepada yang lebih penting dan mendesak.
Proses penyusunan rencana strategis memulai tiga tahap yaitu tahap pengumpulan data, tahap analisis, dan tahap pengambilan keputusan. Tahap pengumpulan data ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data, tetapi juga suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra analisis. Data dibedakan menjadi dua yaitu data eksternal dan data internal, model yang dapat digunakan dalam tahap ini terdiri atas 3 model matriks (Kotler 1997), yaitu:
a. Matrik Faktor Strategi Internal/ Internal Factors Analysis Summary (IFAS).
Sebelum membuat matrik faktor strategi internal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu cara-cara penentuan dalam membuat tabel IFAS.
1) Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan).
2) Beri rating masing-masing faktor dalam kolom 2 sesuai besar kecilnya pengaruh yang ada pada faktor strategi internal, mulai dari nilai 4 (sangat baik), nilai 3 (baik), nilai 2 (cukup baik) dan nilai 1 (tidak baik) terhadap kekuatan dan nilai “rating” terhadap kelemahan bernilai negatifnya.
3) Beri bobot untuk setiap faktor dari 0 sampai 100 pada kolom bobot (kolom 3). Bobot ditentukan secara subyektif, berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan.
55.
4) Kalikan rating pada kolom 2 dengan bobot pada kolom 3, untuk memperoleh scoring dalam kolom 4.
5) Jumlahkan scoring (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategi internalnya.
Hasil identifikasi faktor kunci internal yang merupakan kekuatan dan kelemahan, pembobotan dan rating dipindahkan ke tabel Matrik Faktor Strategi Internal (IFAS) untuk dijumlahkan dan kemudian diperbandingkan antara total skor kekuatan dan kelemahan.
b. Matrik Faktor Strategi Eksternal/External Factors Analysis Summary (EFAS) Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu cara-cara penentuan dalam membuat tabel EFAS.
1) Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor eksternalnya (peluang dan ancaman).
2) Beri rating dalam masing-masing faktor dalam kolom 2 sesuai besar kecilnya pengaruh yang ada pada faktor strategi eksternal, mulai dari nilai 4 (sangat baik), nilai 3 (baik), nilai 2 (cukup baik) dan nilai 1 (tidak baik) terhadap peluang dan nilai “rating” terhadap ancaman bernilai negatif.
3) Beri bobot untuk setiap faktor dari 0 sampai 100 pada kolom bobot (kolom 3). Bobot ditentukan secara subjektif, berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan.
4) Kalikan rating pada kolom 2 dengan pada kolom 3, untuk memperoleh skoring dalam kolom 4.
5) Jumlahkan skoring (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategi eksternalnya.
c. Matrik posisi hasil analisis pada tabel matrik faktor strategi internal dan faktor eksternal dipetakan pada matrik posisi dengan cara sebagai berikut:
56.
1) Sumbu horizontal (x) menunjukkan kekuatan dan kelemahan, sedangkan sumbu vertikal (y) menunjukkan peluang dan ancaman.
2) Posisi ditentukan dengan hasil sebagai berikut:
(1) Jika peluang lebih besar daripada ancaman maka nilai y > 0 dan sebaliknya kalau ancaman lebih besar daripada peluang maka nilainya y < 0.
(2) Jika kekuatan lebih besar daripada kelemahan maka nilai x > 0 dan sebaliknya kalau kelemahan lebih besar daripada kekuatan maka nilainya x < 0.
Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matrik ini dapat menghasilkan 4 set kemungkinan alternatif strategis seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut ini (Rangkuti, 2009):
Tabel 3.2 Matriks Analisis SWOT
Internal
Eksternal
Strength (S) - Tentukan 5-10 faktor kekuatan internal
Weaknesses (W) - Tentukan 5-10 faktor kelemahan internal
Opportunities -Tentukan 5-10 faktor peluang eksternal
Strategi SO Ciptakan strategi yang menggunakan
kekuatan untuk
memanfaatkan peluang.
Strategi WO Ciptakan
strategi yang
meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang.
Threats -Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal
Strategi ST Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi WT Ciptakan
strategi yang
meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman Sumber: Rangkuti, 2009
Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan. Dengan demikian perencanaan harus menganalisis faktor - faktor dengan strategi (kekuatan, kelemahan, peluang,
57.
dan ancaman) dalam kondisi yang ada pada lokasi pengembangan kawasan ekowisata Danau Tempe berbasis kearifan lokal.
6. Menyusun Arahan Pengembangan Kawasan Ekowisata Danau Tempe Berbasis Kearifan Lokal.
Arahan pengembangan yang dilakukan menggunakan pendekatan zonasi dengan membuat arahan pengembangan masing-masing zona peruntukan kawasan pemanfaatan umum dan kawasan konservasi sesuai dengan ketentuan teknis dan struktur kawasan. Berdasarkan tiap zona maka dikembangkan kawasan dengan konsep rekreasi alam dimana mempertimbangkan prinsip - prinsip kawasan pesisir, aspek dari pariwisata dan aspek dari kearifan lokal masyarakat. Dari hasil analisis tentunya akan menghasilkan output arahan pengembangan daya tarik kawasan ekowisata Danau Tempe berbasis kearifan lokal, sebagai berikut:
a. Arahan pengembangan kawasan ekowisata berbasis kearifan lokal
Arahan pengembangan kawasan ekowisata berbasis kearifan lokal didukung dengan aspek keberlanjutan lingkungan dalam pelestarian alam, ekonomi, sosial dan budaya dan dengan arahan ekowisata yakni, edukasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi dan konservasi.
b. Arahan aksesibilitas dan sirkulasi
Arahan perencanaan ini dilakukan agar dapat memudahkan akses dari wisatawan yang berkunjung di kawasan Danau Tempe.
a. Arahan Rencana Pengembangan Zona Kegiatan Wisata
Perencanaan daya tarik wisata dikembangkan berdasarkan distribusi peruntukan kawasan konservasi, zona kawasan ekowisata rekreasi alam dan zona tour budaya dan desa tradisional. Selain itu kawasan ekowisata Danau Tempe berbasis kearifan lokal, rencana pengembangan potensi daya tarik ekowisata yang dikembangkan memuat arahan pengembangan atraksi, dan fasilitas.
b. Arahan Rencana Pengembangan Sarana dan Prasarana Penunjang Wisata.
Rencana pengembangan ini berfungsi untuk menunjang kegiatan ekowisata di kawasan Danau Tempe yang didukung oleh aspek kearifan lokal.
58.