• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Analisis Wacana

2. Analisis Aspek Kewacanaan

Analisis wacana dalam penelitian ini menghubungkan teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro. Teks wacana penelitian ini terdapat dalam karya sastra, karya sastra inilah sebagai teks mikro dengan kehidupan masyarakat sebagai konteks makronya. Dengan demikian, model analisis pada aspek kewacanaannya yang digunakan adalah analisis linguistik tekstual naskah dan dibantu dengan konsep analisis struktural teks.

Untuk melihat bagaimana pemakai bahasa tertentu membawa nilai-nilai tertentu dalam teks-teks linguistik sehingga membentuk pengertian dibutuhkan analisis teks secara linguistik. Hal ini berdasarkan pada Norman Fairclough (Eriyanto, 2008: 285) yang menyatakan bahwa untuk melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologis tertentu dibutuhkan analisis yang menyeluruh, karena bahasa secara sosial dan historis adalah bentuk tindakan dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis dipusatkan pada bagaimana bahasa itu dibentuk dan terbentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu. Selanjutnya, untuk memandang karya sastra sebagai teks mandiri dan menjaga keobjektifan sebuah karya sastra akan maknanya, maka dibutuhkan analisis struktural teks wacana.

a. Analisis Linguistik Teks

Analisis teks dipusatkan pada ciri-ciri formal (seperti kosakata, tata bahasa, sintaksis, dan koherensi kalimat) dan di situlah diwujudkan wacana secara linguistis. Hubungan antara teks dan praktik sosial diperantara oleh praktik kewacanaan. Oleh sebab itu, hanya melalui praktik kewacanaan sajalah orang menggunakan bahasa untuk menghasilkan dan mengkonsumsi teks-teks yang bisa membentuk dan dibentuk oleh praktik sosial.

Analisis teks dilakukan untuk memperoleh wawasan tentang bagaimana proses kewacanaan beroperasi secara linguistik dalam teks-teks khusus. Teks-teks itu berwujud wacana, karena wacana mengacu pada penggunaan bahasa sebagai praktik sosial. Menurut Norman Fairclough (Eriyanto, 2008: 286) bahwa dalam melakukan analisis teks dianalisis secara linguistik dengan melihat dimensi atau unsur kosakata, semantik, dan tata kalimat, serta penanda kohesivitas dan koherensi teks tersebut. Bagaimana antarkata, atau kalimat tersebut digunakan sehingga membentuk sebuah pengertian.

Lebih lanjut Norman Fairclough (Eriyanto, 2008: 286) menjelaskan bahwa dengan menganalisis semua elemen tersebut untuk melihat tiga masalah, yaitu (a) ideasional yang merujuk pada representasi tertentu yang ingin ditampilkan dalam teks, yang umumnya membawa muatan ideologis tertentu. Analisis ini pada dasarnya ingin melihat bagaimana sesuatu ditampilkan dalam teks yang bisa membawa muatan ideologis tertentu. (b) Relasi, merujuk pada analisis

bagaimana konstruksi hubungan di antara produser teks dengan pembaca, seperti apakah teks disampaikan secara informal atau formal, terbuka atau tertutup. (c) Identitas, merujuk pada konstruksi tertentu dari identitas produser teks dan pembaca, serta bagaimana personal dan identitas ini hendak ditampilkan dalam sebuah teks.

Dalam penelitian ini teori analisis teks secara linguistik yang digunakan mendasarkan pada pendapatnya De Beaugrande dan Dressler (Stefan Titscher, et all, 2009: 35-38 ) bahwa aspek yang dikaji dalam melakukan analisis teks linguistik adalah kohesi, koherensi, intensionalitas, dan akseptabilitas wacana. Teori De Beaugrande & Dressler menganggap sebuah teks sebagai sebuah peristiwa komunikatif yang harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Hal itu lah yang menuntun peneliti untuk menganalisis konteks ekstralinguistik sebuah wacana. Pembahasan mengenai aspek yang dikaji menurut teori tersebut sebagai berikut.

1) Kohesi

Kohesi adalah penanda hubungan makna dalam unsur-unsur wacana yang memiliki kekuatan untuk memadukan sehingga terjadi keutuhan wacana. Hal tersebut dikatakan oleh M. H. K. Halliday & Ruqaiya Hasan (1976: 4) “the concept of cohesion is a semantic one; it refers to relations of meaning that exist

within the text, and that define it as a text”. Maksud pendapat M. H. K. Halliday

kalimat sampai dengan hubungan makna antarparagraf secara timbal balik membangun kesatuan makna sehingga menjadi suatu teks.

Teks dalam suatu karangan memiliki keterpaduan, keterpaduan teks itu karena adanya unsur kohesi, dalam karangan yang memiliki keterpaduan itulah yang disebut teks. Pendapat ini juga didukung dengan pendapatnya M. H. K. Halliday & Ruqaiya Hasan (1985: 65) bahwa kohesi merupakan seperangkat sumber kebahasaan yang dimiliki setiap bahasa sebagai bagian dari metafungsi tekstual untuk mengaitkan satu bagian teks dengan bagian lainnya. Kohesi sebagai bagian metafungsi tekstual merupakan unsur yang menentukan kepaduan sebuah teks. Kepaduan teks akan terbentuk dengan baik, jika hubungannya mengandung makna. Makna tersebut terjadi karena unsur kohesi itu berhubungan dengan unsur lainnya.

Kohesi berkaitan dengan komponen dan permukaan tekstual, yakni keterhubungan sintaksis teks. Rangkaian linear elemen linguistik di suatu teks tidaklah terjadi secara kebetulan, namun mematuhi ketergantungan-ketergantungan dan kaidah-kaidah gramatikal. Semua fungsi yang diterapkan untuk menciptakan hubungan di antara unsur-unsur permukaan dikategorikan kohesi (Stefan Titscher, et all, 2009: 35).

Hubungan antarbagian dalam teks diberi tanda atau ciri kesetalian. Hal itu dikemukakan oleh M. H. K. Halliday & Ruqaiya Hasan (1985: 65) bahwa teks diberi kesetalian, karena teks itu merupakan kesatuan yang padu. Butir-butir setelah bagian awal teks dan bagian sebelumnya merupakan lingkungan bagi

bagian selanjutnya yang membentuk prakiraan internal. Hubungan yang membentuk prakiraan internal terdapat di dalam unsur-unsur bahasa secara gramatikal dan semantik membentuk wacana.

Senada dengan hal di atas, Hasan Alwi (2003: 427) menjelaskan bahwa kohesi merupakan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana. Wacana terbentuk karena ada unsur pengait yang saling berhubungan, pengait itu adalah kohesi. Kohesi akan membentuk koherensi dalam wacana. Sumbangan terpenting terhadap koherensi berasal dari kohesi yang akan membentuk wacana yang maknanya utuh.

Makna utuh sebagai wacana yang mengimplikasikan bahwa wacana berada pada tataran paling atas dalam pengkajian bahasa. Keutuhan itu karena penulis atau pembicara mengembangkan satu idea atau gagasan pokok. Satu gagasan pokok agar jelas isinya, maka dijelaskan dengan menggunakan berbagai unsur bahasa. Unsur bahasa agar ada kepaduan atau ketergayutan (koherensi) maka dibutuhkan partisipasi dari unsur kohesi, karena hubungan antar bagian dalam teks dikaitkan oleh kohesi.

Unsur bahasa dieksplisitkan secara gramatikal maupun secara semantik dan berfungsi sebagai pemadu adalah alat atau piranti yang menandakan kohesi. Piranti tersebut menurut M. H. K. Halliday & Ruqaiya Hasan (1976: 4) meliputi: pengacuan (reference), substitusi/penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), konjungsi (conjunction), dan kohesi leksikal (lexical cohesion). setiap piranti

kohesi tersebut mengimplikasikan jenis-jenis kohesi tertentu yang penjelasannya sebagai berikut.

a) Pengacuan (reference)

Pengacuan merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau yang mengikutinya (Sumarlam, 2003a: 23). Berdasarkan arah satuan lingual yang diacu, pengacuan (reference) dibedakan atas pengacuan katafora dan pengacuan anafora.

Pengacuan katafora adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual yang lain yang mengikutinya, atau mengacu antasenden disebelah kanan, atau mengacu pada unsur yang baru disebutkan kemudian (Sumarlam, 2003a: 24). Pengacuan anafora adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu antasenden di sebelah kiri, atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu (Sumarlam, 2003a: 24). Pengacuan katafora misalnya dalam wacana: