• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1) AnalisisLinguistik Teks Naskah

Analisis pada aspek linguistik dalam penelitian naskah lontar Megantaka ini mendasarkan pada beberapa teori de Beaugrande & Dressler (Abdul Syakur, 2009: 35-41) yang mengklasifikasi analisis pada teks linguistik menjadi tujuh dimensi seperti yang dijelaskan dalam teori, namun pada penelitian ini diterapkan empat dimensi dalam melakukan analisis linguistik, yakni meliputi dimensi kohesi, koherensi, intensionalitas, dan akseptabilitas. Kohesi dan koherensi dikarakterisasikan sebagai bagian penting dari analisis teks naskah dan termasuk dalam kategori internal teks naskah, sedangkan dimensi intensionalitas dan akseptabilitas naskah dikategorikan sebagai eksternal teks dalam kajian atau analisis wacana naskah Megantaka ini.

a) Penanda Kohesi

Kohesi berkaitan dengan komponen dan permukaan tekstual, yaitu keterhubungan sintaksis teks naskah. Rangkaian linear elemen linguistik di suatu teks tidaklah terjadi secara kebetulan, namun memenuhi ketergantungan-ketergantungan dan kaidah-kaidah gramatikal. Semua fungsi yang diterapkan untuk menciptakan hubungan di antara unsur-unsur permukaan dikategorikan sebagai kohesi. Dalam mengkategorikan penanda kohesi, penelitian ini

mendasarkan pada teori Halliday dan Hasan (1976:31) yang meliputi pengacuan (reference), substitusi atau penyulihan (substituion), pelesapan (ellipsis), konjungsi (conjunction), dan leksikal (lexical).

Tabel I Penanda Kohesi

Nomor Jenis Kohesi Kode Data

A Pengacuan p.8, p.41, p.88, p.89, p.103, p.171. B Penyulihan p.15, p.27,

C Pelesapan p.44, p.51, p.114, p.134. D Konjungsi p.105, p.119, p.165. E Leksikal p.51, p.111.

Dari tabel di atas dapat diuraikan bahwa: (a) kohesi pengacuan terdapat pada naskah lontar Megantaka halaman (p) 8, 41, 88, 89, 103, dan 171. (b) Kohesi penyulihan terdapat pada naskah lontar megantaka halaman 15,dan 27. (c) kohesi pelesapan pada naskah lontar Megantaka terdapat pada halaman 44, 51, 114,dan 134.(d) kohesi konjungsi dapat ditemukan pada naskah lontar Megantaka di halaman 105, 119,dan 165.(e) kohesi leksikal dapat ditemukan pada naskah lontar Megantaka di halaman 51,dan 111.

b) Penanda Koherensi

Unsur koherensi tidak hanya pada satuan teks semata, melainkan pada kemampuan pembaca dalam menghubungkan makna dan menginterpretasikan suatu bentuk wacana yang diterimanya. Penanda koherensi menyusun maknadalam teks. Koherensi sering kali mengacu pada unsur-unsur teks yang

tidak mesti memerlukan realisasi linguistik, namun koherensi dapat terjadi secara implisit karena berkaitan dengan makna yang memerlukan interpretasi. Misalnya, beberapa jenis penelitian menguasai struktur kognitif pada resipien yang diaktualisasikan melalui teks dan membantu menentukan interpretasi. Begitu pula dalam keadaan tertentu, unsur-unsur pengetahuan yang tidak diungkapkan dalam teks mungkin juga bersifat tersirat dan memungkinkan mempengaruhi penerimaannya. Pada unsur koherensi dalam anlisis ini menggunakan teori Ramlan (Mulyana, 2005:32) membedakan jenis unsur koherensi ada 10 kategori, yaitu penjumlahan, perturutan, perlawanan, lebih, sebab akibat, waktu, syarat, cara, kegunaan, dan penjelasan.

Tabel 2 Penanda Koherensi

Nomor Jenis Koherensi Kode Data

1. Hubungan Penjumlahan tidak ditemukan

2. Hubungan Perturutan p.11, p.18, p.31, p.102, p.157. 3. Hubungan Perlawanan p.13, p.68.

4. Hubungan Lebih Tidak ditemukan 5. Hubungan Sebab akibat p.22, p.57

6. Hubungan waktu p.13, p.24, p.174, p.175 7. Hubungan syarat p.4, p.12, p.37, p.160, p.161. 8. Hubungan cara Tidak ditemukan

9. Hubungan kegunaan p.25.

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa (a) penanda koherensi hubungan penjumlahan dalam naskah lontar Megantaka tidak ditemukan. (b) Penanda koherensi hubungan perturutan dalam naskah lontar Megantaka ditemukan di halaman 11, 18, 31, 102, dan 157. (c) Penanda koherensi hubungan perlawanan dalam naskah lontar Megantaka terdapat di halaman 13 dan 68. (d) Penanda koherensi hubungan lebih dalam naskah lontar Megantaka tidak ditemukan.

Selanjutnya, (e) penanda koherensi hubungan sebab akibat dalam naskah lontar Megantaka terdapat di halaman 22 dan 57. (f) Penanda koherensi hubungan waktu dalam naskah lontar Megantaka terdapat di halaman 13, 24, 174, dan 175. (g) Penanda koherensi hubungan syarat terdapat di halaman 4, 12, 37, 160, dan 161. (h) Penanda koherensi hubungan cara tidak ditemukan dalam naskah, (i) penanda koherensi hubungan kegunaan ditemukan di halaman 25 saja, sedangkan (j) penanda hubungan penjelasan dalam naskah tidak ditemukan.

c) Intensionalitas naskah Megantaka

Intensionalitas berhubungan dengan sikap dan tujuan produser teks. Teks dibangun dan dirancang berdasarkan tujuan dan maksud tertentu. Naskah Megantaka diciptakan oleh pengarangnya yang sama sekali tidak bisa lepas dari tradisi lokal. Aspek kehidupan yang diungkapkan dalam naskah mengandung aspek-aspek kultural, bukan individual. Naskah ini diciptakan oleh seorang pengarang, tetapi masalah yang ditonjolkan adalah masalah masyarakat Sasak pada umumnya. Misalnya masalah politik, ekonomi, budaya Sasak, agama, cinta,

lelaki, perempuan, Tuhan, sampai ke pembicaraan kematian.Naskah Megantaka sebagai karya sastra dilahirkan dengan tujuan untuk berkomunikasi dengan pembaca dan pendengarnya.

Naskah ini dihasilkan melalui imaginasi dan kreativitas pengarangnya sebagai hasil kontemplasi secara individual, tetapi naskah ini ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan kehidupan kepada masyarakat luas umumnya dan masyarakat Sasak pada khususnya dalam bentuk komunikasi. Bentuk komunikasi dalam tradisi Sasak dilakukan dalam sebuah kegiatan yang disebut mace(membaca). Ada beberapa tradisi kesusastraan yang dimiliki masyarakat

Sasak yang digunakan dalam berkomunikasi misalnya, maceatau pepaosan (tradisi baca kitab lontar), bekayat (pembacaan kitab yang bertuliskan Arab Melayu), bekayak(tradisi seni balas pantun), dan pembayunan(tradisi nembang dalam prosesi pernikahan).

Secara garis besar komunikasi dalam naskah Megantaka dilakukan melalui: interaksi sosial, aktivitas bahasa (lisan dan tulisan), dan mekanisme teknologi. Komunikasi dalam naskah Megantaka dilakukan melalui interaksi tokoh-tokoh, jelas mengandung bahasa tulis, bahkan juga komunikasi teknologi tradisional sebab tulisan adalah hasil suatu teknologi. Tujuan produser teks naskah sebagai aktivitas bahasa komunikasi dengan cara ditembangkan sebagai suatu bentuk tradisi ‘nembang’ masyarakat Sasak menggunakan bahasa yang sudah dimodifikasi secara artifisial.

d) Akseptabilitas naskah Megantaka

Akseptabilitas naskah Megantaka merupakan cerminan dari aspek intensionalitasnya. Ceritera naskah Megantaka diakui dalam tradisi nembang dalam masyarakat Sasak, karena ceritera sastra ini milik masyarakat yang dibaca dan dinikmati secara bersama-sama dalam kehidupan orang Sasak tempo dulu dan sebagian masyarakat Sasak masa kini, misalnya dalam adat pembayunan prosesi pernikahan dan tradisi mace lontar. Kedua tradisi tersebut masih ditemukan dan dapat dinikmati dalam acara pernikahan masyarakat Sasak. Tradisi mace naskah lontar di Lombok disebut pepaosan(dari suku kata bahasa Sasak paos yang artinya baca). Naskah ini dibacakan dengan cara dilagukan atau ditembangkan dan berisikan sebuah cerita.

Pembacaan naskah lontar di masyarakat Sasak sangat digemari karena keunikan bahasanya dan digunakan dalam bentuk puisi atau tembang dan isinya berbentuk cerita. Ada enam tembang yang cukup populer di kalangan masyarakat Sasak, yaitu Durma, Sinom, Asmarandana, Pangkur, Dangdang, dan mas Kumambang. Dalam naskah Megantaka menggunakan lima tembang, yaitu Sinom, Durma, Asmarandana, Pangkur, dan Dangdang. Walaupun dalam masyarakat Sasak tidak banyak yang bisa memahami dan menggunakan bahasa jejawan. Kehadiran masyarakat dalam tradisi tersebut sebagai bukti kecintaannya terhadap tradisi sastra lisan, bahasa yang indah dan makna sastra yang tinggi, dan isinya dapat dijadikan sebagai pelajaran serta panutan dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan jenis pupuh atau tembang tersebut di atas dalam naskah lontar tentu telah dipilih dan disesuaikan antara watak dan sifat dari masing-masing tembang atau pupuh tersebut, serta dengan memperhatikan urutan pemupuhan dari jenis peristiwa yang dilukiskan dalam ceritera naskah lontar. Tampaknya dalam sastra lontar Megantaka pengarang mengetahui dan memahami ketentuan atau konvensi untuk menggubah sebuah ceritera dalam melukiskan sebuah peristiwa dalam karangannya.Hasil karya dari pengarang naskah Megantaka dapat dihayati akan sebuah nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Nilai itu dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat Sasak.

Keberterimaan atau akseptabilitas nilai dalam naskah lontar Megantaka mudah dihayati oleh orang Sasak dengan menyampaikan nilai tersebut dengan media nembang atau pepaosan dan, atau hikayat pe-sasak-an. Nilai yang terkandung dalam naskah Megantaka melekat pada kepribadian setiap tokohnya yang mempunyai perwatakan tersendiri. Melalui perilaku tokoh-tokoh dalam ceritera dibentuk nilai luhur yang menjadi pedoman dan sumber rujukan kehidupan, terutama nilai adat tapsila dan etika. Pembentukan nilaidalam masyarakat Sasak yang tercermin dalam ceritera adalah hasil akulturasi antara budaya Hindu dan Islam.

Naskah Megantaka pada awal pembukaan ceritera menggunakan kata ucapan basmalah, yaitu ucapan bismillahirrahmanirrahim. Hal tersebut menandakan bahwa penulisnya adalah beragama Islam, namun ada beberapa cerita-cerita non-Islam dalam penaskahan lontar milik masyarakat Sasak

menggunakan pembukaan basmalah. Hal ini menandakan bahwa kemungkinan para penulis atau penyalin ingin mengislamkan isi ceritera yang ditulis atau disalinnya.

Konteks sosial budaya yang ditonjolkan dalam naskah Megantaka ditemukan beberapa budaya Islam-Hindu. Misalnya, dalam konteks kawin lari, budaya ini dalam masyarakat Sasak hanyalah sebuah proses awal dan selanjutnya dilakukan proses akad nikah secara Islam. Dalam masyarakat Hindu Sasak, kawin lari dipahami dengan melarikan gadis dan langsung dapat berhubungan suami istri tanpa ada proses akad nikah. Argumen masyarakat Sasak yang menyakini signifikansi kawin lari terkesan simplistik, namun keyakinan ini pada laku budaya menjadi sangat populer dan saat ini dapat ditemukan di keseluruhan fragmentasi geografis masyarakat Sasak. Hal tersebut merupakan tanda yang jelas mengenai kurun waktu penulisan sasatra Megantaka, yaitu setelah masuknya agama Islam di Lombok. Pada masa inilah dikatakan sebagai masa puncak perkembangan kesusateraan di Lombok, yakni antara abad ke XVI sampai dengan abad ke XIX.