• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Analisis Wacana

4) Perwatakan atau penokohan

Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita. Karena fiksi mempunyai sifat bercerita dan yang diceritakan adalah manusia dengan segala kemungkinannya, maka masalah tokoh dan penokohan merupakan sesuatu yang kehadirannya sangat penting dan menentukan. Penokohan dan karakterisasi (perwatakan) menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita. Jones (Burhan Nurgiyantoro, 2005b: 165) menyatakan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dengan kata lain, tokoh dalam sebuah cerita dapat disebut sebagai actor dari cerita tersebut, sedangkan penokohan merupakan watak atau karakter yang diperankan oleh seorang actor.

Tokoh cerita menurut Abrams (Burhan Nurgiyantoro, 2005b: 165) adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitas pribadinya erat berkaitan dalam penerimaan pembaca, pembacalah yang memberi arti semuanya.

Membaca sebuah cerita biasanya dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan di dalamnya. Dalam kaitannya dengan keseluruhan cerita, peranan masing-masing tokoh tersebut tidak sama. Ada tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus, sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita, tokoh ini biasanya disebut dengan tokoh utama atau pemeran utama dan sebaliknya, ada tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita, dan itu pun mungkin dalam penceritaan yang relatif pendek. Tokoh ini biasanya disebut dengan tokoh tambahan.

Tokoh utama sangat menentukan perkembangan alur secara keseluruhan, sehingga ia paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Pemunculan tokoh-tokoh-tokoh-tokoh tambahan dalam keseluruhan cerita lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama secara langsung atau tidak langsung. Tokoh utama biasanya dijadikan sinopsisnya dan tokoh tambahan biasanya diabaikan. Tokoh utama dalam sebuah roman mungkin saja lebih dari seorang, walau kadar keutamaannya

tidak selalu sama. Keutamaan mereka selalu ditentukan dengan dominasi, banyaknya penceritaan, dan pengaruhnya terhadap perkembangan plot secara keseluruhan.

5) Amanat

Menurut Burhan Nurgiyantoro (2005b: 321) moral dalam karya sastra dipandang sama dengan amanat, pesan atau message. Bahkan unsur amanat itu sebenarnya merupakan gagasan yang mendasari penulisan karya sastra, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan. Hal itu didasarkan pada pertimbangan bahwa pesan moral yang disampaikan lewat cerita fiksi tentulah berbeda efeknya dibandingkan lewat tulisan nonfiksi.

Karya sastra senantiasa menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan dan memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat luhur kemanusiaan tersebut pada hakikatnya bersifat universal. Artinya, sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh manusia sejagad. Sifat luhur kemanusiaan tidak hanya bersifat kesebangsaan, apalagi keseseorangan, walau terdapat ajaran moral kesusilaan yang hanya berlaku dan diyakini oleh kelompok tertentu. Sebuah karya fiksi yang menawarkan dan berisi pesan moral yang bersifat universal, biasanya akan diterima kebenarannya secara universal pula dan memungkinkan untuk menjadi sebuah karya yang bersifat sublime walau ditentukan oleh bebagai unsur intrinsik yang lain.

Amanat atau pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca tidak secara langsung dapat diterima, hal itu bergantung kepada kemampuan pembaca menangkap pesan yang terungkap dalam karya sastra itu. Kebenaran dalam karya sastra tidak mesti harus sejalan dengan kebenaran yang ada di dunia nyata, hal itu pada hakikatnya juga menyarankan pada adanya pesan moral tertentu. Pesan moral menurut Burhan Nurgiyantoro (2005b: 322) menyatakan bahwa pesan moral lebih memberatkan pada sifat kodrati manusia yang hakiki, bukan pada aturan-aturan yang dibuat, ditentukan, dan dihakimi oleh manusia. Bahkan, adakalanya pesan yang ditampilkan tampak seperti bertentangan dengan ajaran agama, seperti terlihat pada penyelesaian cerpen datangnya dan perginya karya Navis, yang membiarkan pasangan Masri-Arni

tetap bahagia sebagai suami istri walau keduanya kakak beradik lain ibu.

B. Naskah Lontar dan Tradisi Penaskahan Sasak 1. Naskah lontar

Museum Negeri Propinsi NTB sampai saat ini memiliki koleksi naskah lama yang ditulis di atas daun lontar sejumlah 1344 buah (Lalu Purwata, 2005: 1). Aksara yang digunakan dalam menulis naskah-naskah tersebut adalah aksara daerah (lokal) dengan pengantar bahasa daerah. Aksara dan bahasa daerah, pada masa sekarang pemakaiannya oleh masyarakat sudah jarang bahkan hampir tidak dipergunakan lagi dalam kehidupan sehari-harinya.

Lontar sebagai bahan naskah dipakai di Asia Tenggara dan Asia Selatan, dan di Nusantara banyak ditemukan naskah lontar dari Sunda (Jawa Barat), Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi Selatan. Di pulau Bali, daun-daun lontar sebagai alat tulis masih dibuat sampai sekarang. Lontar di Bali dibuat dari daun-daun pohon siwalan dan pemetikan biasanya dilakukan pada bulan Maret/April atau September/Oktober. Daun-daun yang sudah dipetik dijemur menggunakan sinar matahari. Proses ini membuat warna daun yang semula hijau menjadi kekuningan.

Daun-daun yang sudah kering, kemudian langsung direbus dalam sebuah kuali besar dicampur dengan beberapa ramuan. Tujuannya adalah membersihkan daun-daun dari sisa kotoran dan melestarikan struktur daun supaya tetap kelihatan bagus. Daun direbus selama 8 jam, lalu dijemur kembali di atas tanah. Pada sore hari daun diambil dan tanah di bawah dedaunan dibasahi dengan air supaya daun-daun menjadi lembab dan lurus.

Daun-daun yang sudah dilap kemudian ditumpuk dan dipres pada sebuah alat yang di Bali disebut sebagai pamlagbagan. Alat ini merupakan penjepit kayu yang berukuran sangat besar. Daun-daun ini dipres selama kurang lebih enam bulan dan selama dua minggu diangkat dan dibersihkan. Selanjutnya, daun-daun dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan dan diberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan. Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek dari pada ke ujung kanan. Hal ini dimaksudkan sebagai penanda pada saat penulisan nanti.

Daun lontar yang sudah siap ditulisi dan ditulisi dengan mengunakan pisau tulis yang di Bali disebut pengropak atau pengutik. Di jawa Barat dalam bahasa Sunda disebut dengan istilah peso pangot. Sang penulis mengukir aksara pada lempir-lempir lontar, setelah ditulis lempir dihitamkan. Cara menghitamkan dengan menggunakan kemiri yang dibakar sampai mengeluarkan minyak dan disapkan pada lempir dan ukiran aksara-aksara agar terlihat tajam. Tumpukan-tumpukan lempir ini disatukan dengan sebuah tali melalui lubang tengah dan diapit dengan sepasang pengapit yang di Lombok disebut dengan tekepan. Lempir-lempir disimpan dalam sebuah peti kecil yang disebut dengan nama kropak (Bahasa Bali) dan di Jawa kropak artinya naskah lontar.