• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Analisis Wacana

2. Tradisi Penaskahan Sasak

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya dengan khazanah budaya peninggalan masa lampau. Salah satu di antaranya adalah peninggalan dalam bentuk naskah-naskah lama dengan tulisan tangan. Naskah peninggalan masa lampau tersebut dapat dijumpai hampir di setiap daerah dalam bentuk jumlah yang tidak sedikit dan jenisnya sangat bervariasi. Keseluruhan naskah-naskah lama yang terkenal dari daerah di wilayah Nusantara itu dikenal dengan sebutan Naskah Nusantara.

Salah satu naskah Nusantara adalah naskah kesusasteraan Sasak Lombok. Khazanah kesusasteraan Sasak tidak saja kaya dengan warisan yang berupa hasil karya sastra yang banyak ditulis di atas daun lontar, daluang, melainkan sangat

bervariasi dari segi bentuk dan jenis, serta kandungan isinya. Hal itu memang tidak terpisahkan dari kompleksnya kelompok masyarakat yang mendiami daerah itu, serta derasnya pengaruh budaya luar.

Menurut Aswandikari (2007: 2) menyatakan bahwa naskah sebagai peninggalan masa lampau suatu masyarakat memperlihatkan adanya peran yang penting dari naskah-naskah tersebut terhadap kehidupan suatu bangsa. Berbagai bukti dapat dilihat, baik melalui pernyataan yang diungkap dalam naskah itu sendiri maupun yang tampak dalam kehidupan masyarakat nyata yang masih dipakai. Peran dan fungsi dari beberapa naskah lama itu masih dapat bertahan sampai sekarang, bahkan berkembang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Masih terdapatnya ciri masyarakat masa lampau, yang masih menggejala pada masyarakat masa kini, menandakan masih adanya relevansi antara kehidupan masa lampau dengan masa kini.

Di Sasak terdapat banyak karya-karya yang tertulis dengan huruf-huruf jawa, yaitu karya yang disebut juga sebagai naskah-naskah lama. Pada zaman dahulu, tradisi menulis di kalangan masyarakat Sasak tampaknya telah berkembang pula, meskipun volume dan hasilnya belum seperti yang diinginkan. Hingga kini sebagian hasil karya sastra para penulis suku Sasak pada masa lampau tersebut masih dapat ditemukan baik di desa-desa yang menyimpannya maupun di museum NTB di mataram (Aswandikari, 2007: 33).

Secara umum naskah lontar yang berkembang di Sasak yang ditulis oleh pujangga-pujangga Sasak meliputi dua jenis, yaitu ditulis dengan huruf jejawan

dan ditulis dengan huruf Jawi (Arab Melayu). Naskah-naskah yang ditulis dengan huruf jejawan ada kalanya berbentuk salinan, saduran, dan karangan. Naskah hasil salinan seperti, Jatiswarara, Dalang Jati, Rengganis, Doyan Neda, Cupak Gurantang, dan Lobangkara. Naskah yang hasil saduran seperti Tapel Adam, Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim, dan cerita menak Sasak. Selanjutnya, naskah yang berbentuk karangan, seperti Silsilah Rimbitan, Babad Sakra, Babad Praya, Babad Seleparang, dan obat-obat tradisional (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991: 9-10).

Tradisi membaca sastra naskah lontar di Lombok dipengaruhi oleh beberapa tradisi kesusasteraan yang berkembang dalam kehidupan orang Sasak, seperti tradisi kepembayunan, tradisi kebayak (seni balas pantun), bekayat (pembacaan kitab bertuliskan Arab Melayu), dan mace (membaca kitab bahasa wacan) (Nazarudin, 2007: 128).

C. Unsur-Unsur Kebudayaan dan Kearifan Lokal Masyarakat Sasak 1. Unsur-unsur kebudayaan

Kebudayaan adalah segala hal yang dimiliki manusia yang hanya diperolehnya dengan belajar dan menggunakan akalnya. Manusia dapat berjalan karena kemampuan untuk berjalan itu didorong oleh nalurinya dan terjadi secara alamiah. Akan tetapi berjalan seperti seorang prajurit atau seorang paragawati hanya dapat dilakukan dengan belajar dan menggunakan akalnya. Oleh karena itu

berjalan seperti prajurit atau paragawati adalah kebudayaan (Koentjaraningrat, 2005: 11).

Menurut Sartini (2004: 114) kebudayaan dipandang sebagai manifestasi kehidupan setiap orang atau kelompok orang yang selalu mengubah alam. Kegiatan manusia memperlakukan lingkungan alamiahnya, itulah kebudayaan. Kebudayaan merupakan usaha manusia, perjuangan setiap orang atau kelompok dalam menentukan hari depannya. Van Peursen (Sartini, 2004: 114) menyatakan kebudayaan merupakan aktivitas yang dapat diarahkan dan direncanakan. Oleh sebab itu dituntut adanya kemampuan, kreativitas, dan penemuan-penemuan baru. Manusia tidak hanya membiarkan diri dalam kehidupan lama melainkan dituntut mencari jalan baru dalam mencapai kehidupan yang lebih manusiawi. Dasar dan arah yang dituju dalam perencanaan kebudayaan adalah manusia sendiri sehingga humanisasi menjadi kerangka dasar dalam strategi kebudayaan.

Kebudayaan setiap masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Misalnya kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya Majelis Permusyawaratan Rakyat, di samping adanya unsur-unsur kecil seperti sisir, kancing, baju, peniti, dan lain-lainnya yang dijual di pinggir jalan (Soerjono Soekanto, 2001: 191).

Beberapa sarjana Antropologi telah mencoba merumuskan unsur-unsur kebudayaan suautu masyarakat, seperti Melville J. Herkovits (dalam Soerjono Soekanto, 2001: 192) mengajukan empat unsur pokok kebudayaan, yaitu (a)

alat-alat teknologi, (b) sistem ekonomi, (c) keluarga, dan (d) kekuasaan politik. Berbeda dengan itu, Koentjaraningrat (2005a: 80) membedakan unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan dalam konteks sosial kehidupan masyarakat menjadi tujuh macam, yaitu (a) bahasa, (b) sistem pengetahuan, (c) organisasi sosial, (d) sistem peralatan hidup, (e) sistem mata pencaharian, (f) sistem religi, dan (g) kesenian.

Unsur-unsur kebudayaan di atas dalam kehidupan masyarakat dapat ditemukan dengan mudah. Unsur tersebut juga masih dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil lagi. Untuk menentukan bagian-bagian dari suatu kebudayaan, ahli Antropologi biasanya mulai dengan pendekatan holistik, yaitu mengamati kebudayaan yang bersangkutan misalnya, kebudayaan Minangkabau secara keseluruhan. Baru kemudian ditentukan bagian-bagian dari kebudayaan Minangkabau itu, yaitu misalnya sistem kekerabatannya, bagian-bagian khusus dari sistem kekerabatannya (misalnya perkawinan, keluarga inti, rumah tangga, dan lain-lain), dan akhirnya rincian dari unsur perkawinan ke dalam bagian-bagian yang lebih khusus, yaitu adat melamar, upacara pernikahan, penyerahan maskawin, dan lain-lain (Koentjaraningrat, 2005a: 81).

Dengan melihat kearifan lokal sebagai bentuk kebudayaan maka ia akan mengalami reinforcement secara terus-menerus menjadi yang lebih baik. Ali Moertopo (Sartini, 2004: 115) mengatakan bahwa humanisasi merupakan ideal proses dan tujuan kebudayaan. Oleh karena itu maka kearifan lokal sebagai manifestasi kebudayaan yang terjadi dengan penguatan-penguatan dalam

kehidupannya menunjukkan sebagai salah satu bentuk humanisasi manusia dalam berkebudayaan. Artinya sebagai manifestasi humanitas manusia, kearifan lokal dianggap baik sehingga mengalami penguatan secara terus-menerus, tetapi apakah kearifan lokal akan tetap menjadi dirinya tanpa perubahan, benturan kebudayaan akan menjawabnya.

Dinamika kebudayaan merupakan suatu hal yang niscaya. Hal ini tidak lepas dari aktivitas manusia dengan peran akalnya. Dinamika atau perubahan kebudayaan dapat terjadi karena berbagai hal. Secara fisik, bertambahnya penduduk, berpindahnya penduduk, masuknya penduduk asing, masuknya peralatan baru, mudahnya akses masuk ke daerah juga dapat menyebabkan perubahan pada kebudayaan tertentu. Dalam lingkup hubungan antar manusia, hubungan individual dan kelompok dapat juga mempengaruhi perubahan kebudayaan. Satu hal yang tidak bisa dihindari bahwa perkembangan dan perubahan akan selalu terjadi.