HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Analisis
3) Intensionalitas Naskah Megantaka
Intensionalitas berhubungan dengan sikap dan tujuan produser teks. Pengarang dalam memproduseri sebuah teks pasti ada yang diinginkan dan dimaksudkan dengan teks yang dihasilkan. Dalam karya sastra, penulis akan memperhatikan ungkapan-ungkapan yang berisikan makna tertentu. Untuk diwujudkan menjadi teks sastra, naskah Megantaka dalam setiap ungkapan-ungkapan tidak sekedar dipilih begitu saja oleh penulisnya. Satu ungkapan-ungkapan dipilah untuk dipadukan atau dijakstaposisikan terhadap ungkapan lain dalam suatu konfigurasi dari bait ke bait, sehingga membentuk suatu keutuhan cerita yang memiliki pertautan semantis. Dengan demikian, dari pertautan tersebut diperolehlah makna yang semakin bernas. Makna yang bernas mencerminkan sebuah kehendak penulis yang ditawarkan kepada khalayak pembaca. Misalnya, intensionalitas dalam tembang Megantaka dapat dilihat pada kutipan data berikut ini.
36) Lengang seluruh negeri, bangkai terkapar bergelimpangan, tidak ada yang peduli orang lain, lupa akan anak cucu, yang diingat hanya diri sendiri, semua termenung kebingungan, tak terkecuali sang Raja, negeri Nusantara sepi, raja bertitah memanggil para manca (p.9/t.4).
37) Seluruh rakyat dan para sepuh, yang sehat sisa dari yang mati, semua hadir dibecingah, Raja sedang dihadap oleh para menteri, tidak seperti biasanya semua berselimut kain kapan, duduk termenung dan bersedih, penuh sesak berjejalan di hadapan Raja (p.9/t.4).
Pada data (36) dan (37) di atas dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti pembaca. Ungkapan-ungkapan pada kutipan tersebut adalah sebuah awal kisah lahirnya putra putri raja yang kembar buncit yang diyakini menyebabkan bencana dan musibah melanda negeri nusantara. Raja pun bertitah mengumpulkan semua rakyatnya tidak terkecuali para manca kerajaan. Semua merasa bersedih akan nasib keluarga dari rakyat yang meninggal akibat musibah yang melanda. Dalam pertemuan itulah diputuskan bahwa penyebab dari segala bencana dan wabah penyakit, karena lahirnya putra putri raja yang kembar buncit. Untuk menghindari bencana dan wabah penyakit raja harus mengasingkan salah satu putra ke tengah lautan Gili.
Dalam kutipan cerita tersebut di atas, proses yang paling awal terjadi tentunya adalah proses berpikir penulis. Secara teori linguistik, hal tersebut dapat didasarkan pada konsep langue dari Saussure yang mana dapat dimengerti bahwa penulis atau pengarang ceritera Megantaka memiliki abstraksi sistem bahasa yang mendasari ungkapan-ungkapan untuk penciptaan karangannya. Sistem tersebut mengarahkan penulis untuk mengatur hubungan konsep imaginer dari citra ungkapan yang terpilih dan terpilah ke dalam tatanan struktur sintaksis dan semantik.
Pada saat wacana naskah ini dijewantahkan dalam proses pengungkapan yang sesungguhnya, maka tidak dapat terlepas dari konteks serta situasi tertentu (real time processes). Dalam hal itu maka dilahirkanlah naskah Megantaka ini. analisis Intensionalitas berhubungan dengan sikap dan tujuan produser teks. Teks dibangun dan dirancang berdasarkan tujuan dan maksud tertentu. Naskah Megantaka diciptakan oleh pengarangnya yang sama sekali tidak bisa lepas dari tradisi lokal. Aspek kehidupan yang diungkapkan dalam naskah mengandung aspek-aspek kultural, bukan individual.
Naskah ini diciptakan oleh seorang pengarang, tetapi masalah yang ditonjolkan adalah masalah masyarakat Sasak pada umumnya. Masalah kehidupan kemasyarakatan suku Sasak yang berada di sekitar lingkuangan pengarang atau di luar lingkungannya.Misalnya masalah politik, ekonomi, budaya Sasak, agama, cinta, lelaki, perempuan, tuhan, sampai ke pembicaraan kematian. Misalnya dalam kutipan cerita naskah Megantaka berikut ini.
38) Kelak barangkali dia akan begitu, senang dahulu susah kemudian, sebaiknya sekarang cari akal, agar kita tidak menyesal kemudian, melakukan akal jahil, karena benci kepada madunya, pengantin Grumpung Gelang, ketika Ambara Pati lelap, dicarinya orang yang bernama Langlang Dusta (p.110/t.323).
39) Yang sering mendapat upah, terkenal pintar mencuri, Langlang Dusta segera datang, menghadap pada pengantin perempuan, Grumpung kemudian berkata: Langlang Dusta akan kusuruh membunuh dia maduku ditaman sari, bila mati aku memberimu upah (p.110/t.324). Kutipan data (38) dan (39) di atas mengisahkan tentang ketidaksenangan dende Grumpung kepada Ambara Sari yang menjadi suami Ambara Pati. Pemuda
yang selama hidupnya menjadi idolanya kini telah menjadi milik orang lain. Hal inilah yang mengakibatkan dende Grumpung gelap mata dan berniat mengguna-guna Ambar Pati agar dia meninggalkan istrinya yakni Ambara sari. Untuk mengguna-guna Ambara Pati, dende Grumpung meminta bantuan seorang dukun bernama Langlang Dusta. Dengan sangat cintanya sama Ambara Pati, dende Grumpung sampai dia berniat juga untuk menghabisi Ambara Sari dengan maksud mendapatkan Ambara Pati seutuhnya. Cerita ini mengisahkan akan pemuda pemudi Sasak apabila menginginkan sesuatu, maka cara apapun harus dilakukan demi cinta. Penulis sastra Megantaka ini memahami dengan baik sikap dan sifat pemuda pemudi Sasak mengenai percintaan, sehingga dalam ungkapan-ungkapan yang dituangkan pun tidak bisa terlepas dari hal itu.
Naskah Megantaka sebagai karya sastra dilahirkan dengan tujuan untuk berkomunikasi dengan pembaca dan pendengarnya. Sebagai produk dari wacana tentu sastra ini mencerminkan proses dari sistem wacananya. Kerangka wacana tersebut secara psikologis sangat diwarnai pula oleh nuansa batin atau kehendak penulis. Naskah ini dihasilkan melalui imaginasi dan kreativitas pengarangnya sebagai hasil kontemplasi secara individual, tetapi naskah ini ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan kehidupan kepada masyarakat luas umumnya dan masyarakat Sasak pada khususnya dalam bentuk komunikasi.
Secara garis besar komunikasi dalam naskah Megantaka dilakukan melalui: interaksi sosial, aktivitas bahasa (lisan dan tulisan), dan mekanisme teknologi. Komunikasi dalam naskah Megantaka dilakukan melalui interaksi tokoh-tokoh,
jelas mengandung bahasa tulis, bahkan juga komunikasi teknologi tradisional sebab tulisan adalah hasil suatu teknologi. Tujuan produser teks naskah sebagai aktivitas bahasa komunikasi dengan cara ditembangkan sebagai suatu bentuk tradisi ‘nembang’ masyarakat Sasak menggunakan bahasa yang sudah dimodifikasi secara artifisial.