Berdasarkan hasil uji normalitas data menggunakan uji kolmogorov Smirnov didapatkan bahwa data hasil penelitian tidak berdistribusi normal, dimana baik lavitrap yang berisi air hujan maupun lavitrap yang bersisi larutan fermentasi air kelapa semuanya nilai-p < α (0,05). Untuk lebih jelasnya, hasil uji normalitas data dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data Jumlah Jentik Dalam Lavitrap Di RW. XVIII / RT. 05 Kelurahan Sungai Jawi Luar
Kecamatan Pontianak
Barat Tahun 2016
No Jenis Larutan N Mean Kolmogorov Smirnov-Z Asymp. Sig (2-Tailed) 1. Air Hujan 20 7.75 1.444 0.031 2. Larutan Fermentasi Air Kelapa Variasi1 20 0.00 - - 3. Larutan Fermentasi Air Kelapa Variasi2 20 23.25 2.263 1.821 4. Larutan Fermentasi Air Kelapa Variasi3 20 0.45 0.000 0.003
Sumber : Data Primer Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil uji normalitas data seperti pada tabel 5 di atas diketahui semua data tidak berdistribusi normal, maka uji statistik yang digunakan untuk melihat perbedaan efektivitas larutan fermentasi air kelapa sebagai atraktan nyamuk Aedes aegypti aegypti adalah uji Kruskal Wallis.
Tabel 6. Hasil Uji Kruskal Wallis Tentang Efektifitas Larutan Fermentasi Air Kelapa Sebagai Atraktan Nyamuk Aedes aegypti aegypti Di RW. XVIII / RT. 05 Kelurahan Sungai Jawi Luar Kecamatan Pontianak Barat Tahun 2016
No Jenis Larutan N Mean Rank Chi-Square Asymp. Sig 1. Air Hujan 20 61.40 2. Larutan Fermentasi Air Kelapa Variasi1 20 27.00 33.819 0.000 3. Larutan Fermentasi Air Kelapa Variasi2 20 36.62 4. Larutan Fermentasi Air Kelapa Variasi3 20 36.98
Sumber : Data Primer Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis seperti pada tabel 6 di atas diketahui nilai p (Asymp. Sig) adalah 0,000 < α (0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulannya adalah ada perbedaan yang signifikan antara
Hajimi, Efektifitas Larutan Fermentasi Air... 387
variasi larutan atraktan terhadap jumlah jentik yang ditemukan di dalam lavitrap.
PEMBAHASAN
Hasil uji Kruskal Wallis diketahui nilai p (Asymp. Sig) adalah 0,000 < α (0,05), artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Kesimpulannya adalah ada perbedaan yang signifikan antara variasi larutan atraktan terhadap jumlah jentik yang ditemukan di dalam lavitrap. Adanya perbedaan tersebut dapat dijelaskan karena hampir semua lavitrap yang berisi air hujan ditemukan jentik (16 lavitrap), sedangkan semua lavitrap yang berisi larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 1 tidak ditemukan jentik (0%), lavitrap yang berisi larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 2 (5 lavitrap) dan variasi 3 (6 lavitrap) ditemukan keberadaan jentik pada beberapa lavitrap.
Keberadaan Jentik dalam Lavitrap berisi Air Hujan
Berdasarkan hasil penelitian, dari 20 buah lavitrap yang berisi air hujan yang diletakkan di 20 rumah masyarakat terdapat 16 buah lavitrap yang ditemukan jentik nyamuk dengan jumlah jentik sebanyak 167 ekor. Hal ini membuktikan bahwa air hujan merupakan air yang cocok untuk media berkembang biaknya (Breeding Places) nyamuk dan memang selama ini sudah terbukti bahwa air hujan merupakan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti aegypti. Mengapa air hujan disenangi oleh nyamuk Aedes aegypti karena pada dasarnya air hujan hanya mengandung bahan-bahan yang berasal dari reaksi zat-zat yang ada di atmosfer dengan butiran air yang melewatinya. Umumnya terdiri dari 99,99 % massa H2O dan sisanya adalah zat-zat yang ikut tercampur dengan air hujan, dapat berupa zat padat yang mudah larut dalam air dan dapat juga berupa gas. Kandungan air hujan juga sangat tergantung pada kondisi geologi, jumlah penduduk dan aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Sehingga kandungan air hujan tidak sama antara satu daerah dengan daerah yang lain. Sebagai contoh di daerah yang banyak terdapat pabrik industri dan aktifitas kendaraan bermotor sangat tinggi, maka kandungan air hujan akan banyak mengandung unsur logam dan unsur kimia lainnya, sedangkan di daerah laut terbuka sampai daerah yang dekat dengan pantai, air
hujan akan banyak mengandunggaram, CO2, dan bersifat asam. Selain itu tempat penampungan air hujan juga sangat berpengaruh terhadap kualitas air hujan. Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti yang potensial biasanya berupa genangan air yang tertampung di dalam suatu wadah (kontainer) yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, dan airnya digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti tempayan, drum, bak mandi dan bak WC dan kontainer lainnya yang sejenis.
Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti yang utama adalah tempat-tempat penampungan air di dalam atau sekitar rumah atau di tempat-tempat umum yang biasanya tidak melebihi jarak 500 m dari rumah. Tempat perindukan nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu tempat atau wadah, nyamuk ini tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Tempat perindukan nyamuk ini biasanya terlindung dari pancaran langsung sinar matahari dan mengandung air bersih dengan pengertian clear water bukan clean water (Depkes RI dalam Yulistyawati 2011).
Keberadaan Jentik dalam Lavitrap berisi larutan Fermentasi Air Kelapa
Berdasarkan hasil penelitian, dari 20 buah lavitrap yang berisi larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 1 = 2 : 1(air kelapa : air hujan / 1.066,66 ml : 533,33 ml) yang diletakkan di 20 rumah masyarakat ternyata seluruh lavitrap tidak ditemukan jentik nyamuk (0%). Sedangkan dari 20 buah lavitrap yang berisi larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 2 = 1 : 1(air kelapa : air hujan / 800 ml : 800 ml) dan 20 buah lavitrap yang berisi larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 3 = 1 : 2 (air kelapa : air hujan / 533,33 ml : 1.066,66 ml) yang diletakkan di 20 rumah masyarakat ternyata ditemukan jentik nyamuk pada beberapa lavitrap yaitu masing-masing (5 lavitrap) dan (6 lavitrap). Hal ini membuktikan bahwa larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 1 ini tidak cocok atau tidak disenangi oleh nyamuk Aedes aegypti. Sementara larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 2 dan variasi 3 mempunyai potensi untuk dijadikan breeding places nyamuk Aedes aegypti.
Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti di lapangan menunjukkan bahwa larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 1
388 Sanitarian, Volume 8 Nomor 3, Desember 2016, hlm.380 - 389
ini larutannya berwarna putih keruh, terdapat lapisan lemak di atas permukaan larutan sehingga menutupi permukaan larutan. Selain itu hasil dari proses fermentasi menimbulkan bau busuk yang cukup menyengat. Sementara pada larutan fermentasi air kelapa dengan variasi 2 dan variasi 3 warnnya tidak sekeruh larutan pada variasi.1, lapisan lemak yang menutupi permukaan larutan tidak sebanyak variasi 1 dan bau busuk yang ditimbulkan juga tidak sekuat bau pada variasi 1. Hal ini terjadi karena di dalam air kelapa terdapat kandungan bahan kimia berupa protein, karbohidrat dan lemak jika terjadi proses dekomposisi akan menimbulkan lapisan lemak dan bau menyengat.
Menurut Anonim, 2005 dalam Kusumawardhani, 2011, dijelaskan bahwa air kelapa merupakan bagian dari buah kelapa yang mempunyai kandungan nutrisi/zat gizi yang cukup lengkap bagi kesehatan manusia. Kandungan gizi air kelapa tidak hanya unsur makro tetapi juga mengandung unsure mikro. Unsur makro yang terkandung dalam air kelapa adalah karbon dan nitrogen. Unsur karbon dalam air kelapa berupa karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, fruktosa, sorbitol, inositol, dan lain-lain. Unsur nitrogen berupa protein, tersusun dari asam amino seperti, alin, arginin, alanin, sistin dan serin. Sebagai gambaran, kadar asam amino air kelapa lebih tinggi dari kadar asam amino dalam susu sapi. Selain karbohidrat dan protein, air kelapa juga mengandung unsur mikro berupa mineral yang dibutuhkan tubuh. Mineral tersebut diantaranya Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Ferum (Fe), Cuprum (Cu), Posfor (P) dan Sulfur (S).
Menurut Cahyadi, 2007 dalam Kusumawardhani, 2011 dijelaskan juga bahwa kandungan protein, karbohidrat dan lemak dalam air kelapa tua per 100 gram adalah masing-masing 0,20 gram, 3,80 gram dan 1,00 gram. Hasil dekomposisi bahan kimia tersebut mungkin yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan nyamuk tidak senang dan tidak mau mendekat untuk bertelur.
Berdasarkan hasil pengamatan, ada satu hal yang menarik perhatian peneliti yaitu jentik yang ada di dalam lavitrap berisi air hujan semuanya masih dalam kondisi hidup. Sebaliknya jentik yang ada di dalam lavitrap berisi larutan fermentasi air kelapa, baik variasi 1 maupun variasi 2 semuanya dalam kondisi mati. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut dengan meminimalisasi berbagai faktor yang tidak bisa dikontrol seperti lokasi peletakan lavitrap, variasi perbandingan air kelapa dengan air hujan dan dosis atau volume ragi yang digunakan. Hal ini karena selain fermentasi air kelapa mempunyai potensi untuk menjadi atraktan nyamuk Aedes aegypti tetapi juga dapat membunuh jentik sehingga akan dapat menekan populasi nyamuk Aedes aegypti di suatu wilayah.
Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian seperti tersebut di atas mungkin disebabkan oleh beberapa keterbatasan penelitian yang tidak bisa dikontrol dan tidak dilakukan oleh peneliti. Keterbatasan penelitian itu adalah
Peneliti tidak melakukan uji pendahuluan sehingga tidak ditemukan perbandingan yang tepat antara air kelapa dengan air hujan, dosis (volume) ragi yang ditambahkan serta air kelapanya harus didiamkan terlebih dahulu atau langsung digunakan, sehingga kualitas kekeruhan air menjadi tinggi.
Lokasi peletakan lavitrav di lapangan (di rumah masyarakat) tidak dapat dikontrol oleh peneliti karena tidak dapat meletakkan di tempat yang sesuai karena harus seizin dari masyarakat yang rumahnya dijadikan lokasi, sehingga posisi peletakan lavitrap tidak sama antara rumah yang satu dengan rumah yang lain.
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang efektifitas larutan fermentasi air kelapa sebagai atraktan nyamuk Aedes aegypti, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Ada perbedaan yang signifikan jumlah jentik nyamuk Aedes aegypti yang terdapat di dalam lavitrap antara semua variasi larutan fermentas air kelapa maupun dengan air hujan dengan nilai p=0,00 (p<0,05).
Berdasarkan hasil uji kruskal wallis, tidak diketahui mana yang lebih efektif sebagai atraktan nyamuk Aedes aegypti antara variasi larutan fermentasi air kelapa (variasi 1 dengan variasi 2 maupun dengan variasi 3) karena data tidak berdistribusi normal.
Berdasarkan hasil uji kruskal wallis, tidak diketahui mana yang lebih efektif sebagai atraktan nyamuk Aedes aegypti antara variasi larutan fermentasi air kelapa (variasi 1 dengan
Hajimi, Efektifitas Larutan Fermentasi Air... 389
variasi 2 maupun dengan variasi 3) dengan air hujan karena data tidak berdistribusi normal.
Peneliti lain disarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai efektivitas larutan fermentasi air kelapa sebagai atraktan nyamuk Aedes aegypti dengan meminimalisir faktor yang masih bisa dikontrol. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan desain ekperimen murni yaitu dilakukan penelitian skala laboratorium dengan mengontrol semua faktor luar yang dapat mempengaruhi efektifitas atraktan.
Kepada masyarakat dapat
mengaplikasikan sendiri perangkap nyamuk (lavitrap) dengan jenis atraktan yang sudah terbukti disenangi oleh nyamk Aedes aegypti, karena terbuat dari bahan alami yang aman bagi manusia dan lingkungan.
Pemasangan perangkap nyamuk (lavitrap) harus memperhatikan tempat pemasangan (di dalam atau luar rumah), suhu dan kelembaban, populasi nyamuk dan curah hujan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Nyamuk Menyukai Karbondioksia. Diunduh dari: https://cyberwordinfo.
wordpress.com/tag/nyamuk-menyukai-karbon-dioksida/.
Departemen Kesehatan, R.I, 2005, Jakarta. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Ditjen PP & PL, 2014. Diunduh dari:
http://pppl.depkes.go.id/focus?id=1374 2014.
https://teorionline.wordpress.com/tag/sampel-populasi-penelitian-teknik-sampling. Kemenkes. R.I Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2014, Petunjuk Teknis Jumantik – PSN Anak Sekolah.
Kusumawardhani, Wahyu, 2011, Pemanfaatan Air Kelapa Sebagai Produk Olahan Kecap Dengan Penambahan Bubuk Kedelai dan Bubuk Tempe, Skripsi, https://core.ac.uk/download/pdf/1650864 5.pdf
Yulistyawati, Ayu, 2011. Penentuan Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Malathion Pada Daerah Endemis Dan Non Endemis Di Kota Semarang. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Semarang. Diunduh dari:
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/119 /jtptunimus-gdl-ayuyulisty-5930-3-babii.pdf.