• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. KERANGKA PEMIKIRAN

5.1 Determinan Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekspor

5.1.1 Analisis CMS Indonesia

Untuk menentukan aspek-aspek yang paling signifikan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekspor digunakan analisa Constant Market Share. Analisa CMS pernah digunakan salah satunya oleh Ichikawa dalam Pramudito (2004) dalam mengevaluasi pertumbuhan ekspor komoditi unggulan Australia di pasar Selandia Baru periode 1990-1994.

Berdasarkan hasil kalkulasi CMS, pertumbuhan ekspor pakaian jadi, kain lembaran dan benang Indonesia ke Amerika Serikat periode 1999-2005 lebih dipengaruhi oleh efek daya saing dan efek pertumbuhan impor atau efek pangsa makro dari Amerika Serikat. Sedangkan efek komposisi komoditi atau efek pangsa mikro kurang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekspor pakaian jadi, kain lembaran dan benang Indonesia.

Analisis lebih spesifik berdasarkan masing-masing periode dapat dijelaskan sebagai berikut :

▪ Periode 1999-2000 :

Tahun 1999-2000 merupakan periode awal peningkatan ekspor Indonesia secara keseluruhan setelah krisis ekonomi. Peningkatan juga terjadi pada ekspor Tekstil dan Produk Tekstil. Pada komoditi pakaian jadi, ekspor Indonesia ke Amerika meningkat sebesar US$ 506,08 juta. Peningkatan ini

lebih disebabkan oleh efek daya saing yang mendorong dengan proporsi sebesar 57,76 persen atau senilai US$ 292,34 juta. Walaupun terjadi penurunan permintaan pakaian jadi Indonesia di Amerika Serikat (efek komposisi komoditi) sebesar 13,97 persen atau senilai US$ 70,74 juta, namun hal ini tidak memberikan dampak negatif, karena di lain sisi, efek pertumbuhan impor juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekspor pakaian jadi ke Amerika Serikat, yaitu sebesar 56,21 persen atau sebesar US$ 284,48 juta.

Begitu juga pada ekspor kain dan benang Indonesia ke Amerika Serikat yang mengalami peningkatan sebesar US$ 74,26 juta. Peningkatan ini lebih disebabkan oleh efek daya saing yang meningkat sebesar 72,77 persen atau sebesar US$ 54,04 juta. Pada periode ini ekspansi kain dan benang di Amerika Serikat sedang meningkat, dimana impor Amerika Serikat sedang tumbuh, terlihat dari peningkatan sebesar 42,93 persen atau senilai US$ 31,88 juta pada efek pertumbuhan impor. Namun peningkatan pada efek daya saing dan efek pertumbuhan impor tidak diikuti oleh efek komposisi komoditi yang menurun dengan proporsi sebesar 15,70 persen atau menurun senilai US$ 11,66 juta. Pada periode ini dapat dikatakan merupakan puncak dari prestasi kinerja ekspor kain dan benang Indonesia di Amerika Serikat, karena setelah periode tersebut pertumbuhan ekspor kain dan benang Indonesia ke Amerika Serikat tidak pernah lagi menyentuh angka US$ 70 juta.

▪ Periode 2000-2001 :

Peningkatan ekspor yang cukup besar pada periode 1999-2000 ternyata tidak diikuti pada periode-periode selanjutnya. Pada periode ini terjadi penurunan nilai ekspor pakaian jadi ke Amerika Serikat senilai US$ 70,28 juta. Ternyata penurunan ini lebih disebabkan oleh efek pertumbuhan impor yang turun senilai US$ 128,12 juta dan efek daya saing yang turun senilai US$ 48,52 juta. Walaupun terjadi peningkatan permintaan pakaian jadi Indonesia di Amerika Serikat senilai US$ 106,36 juta, namun hal ini tetap tidak dapat menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan ekspor pakain jadi ke Amerika Serikat.

Penurunan pada ekspor pakaian jadi ke Amerika Serikat ternyata juga diikuti oleh komoditi kain dan benang. Nilai ekspornya turun senilai US$ 6,81 juta. Ternyata penurunan ini juga lebih disebabkan karena efek pertumbuhan impor yang menekan senilai US$ 15,47 juta. Peningkatan pada efek komposisi komoditi senilai US$ 6,40 juta dan efek daya saing senilai US$ 2,26 juta masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan besarnya penurunan pada efek pertumbuhan impor, sehingga penurunan ekspor kain dan benang Indonesia ke Amerika Serikat senilai US$ 6,81 juta tidak dapat dihindari.

▪ Periode 2001-2002 :

Pada periode ini kinerja ekspor Tekstil dan Produk Tekstil belum juga membaik, bahkan penurunan yang terjadi pada periode ini lebih besar dari periode sebelumnya. Pada komoditi pakaian jadi, nilai ekspornya turun

senilai US$ 140,39 juta. Walaupun terjadi peningkatan pada efek pertumbuhan impor senilai US$ 34,61 juta (24,65 persen), hal ini menjadi tidak berarti karena penurunan yang sangat signifikan terjadi pada efek daya saing yang turun menekan senilai US$ 150,31 juta (-107,06 persen). Selain itu, permintaan pakaian jadi Indonesia di Amerika Serikat juga sedang turun (efek komposisi komoditi turun dengan proporsi sebesar 17,59 persen atau senilai US$ 24,69 juta).

Keterpurukan pada ekspor pakaian jadi ternyata juga diikuti oleh komoditi kain dan benang. Pada periode ini ekspor kain dan benang Indonesia ke Amerika Serikat turun senilai US$ 36,71 juta. Ternyata penurunan efek daya saing senilai US$ 60,76 (-165,51 persen) juta menjadi satu-satunya penyebab dari penurunan nilai ekspor kain dan benang Indonesia ke Amerika Serikat. Sehingga peningkatan pada efek pertumbuhan impor senilai US$ 4,21juta (11,47 persen) dan efek komposisi komoditi senilai US$ 19,84 juta (54,04 persen) menjadi tidak sangat berarti.

▪ Periode 2002-2003 :

Pada periode ini kinerja ekpor Tekstil dan Produk Tekstil kembali membaik, hal ini tercermin dari meningkatnya nilai ekspor pakaian jadi senilai US$ 132,08 juta. Ternyata hal ini lebih disebabkan karena peningkatan pada efek pertumbuhan impor senilai US$ 154,58 juta (117,04 persen). Efek daya saing hanya memberikan kontribusi sebesar 7,00 persen atau senilai US$ 9,25 juta. Namun, permintaan pakaian jadi Indonesia di

Amerika Serikat (efek komposisi komoditi) sedang menurun senilai US$ 31,75 juta (-24,04 persen).

Prestasi yang baik pada kinerja ekspor pakaian jadi ternyata tidak diikuti oleh kain dan benang. Ekspor kain dan benang mengalami penurunan senilai US$ 39,57 juta. Ternyata yang menjadi penyebab utama penurunan ekspor kain dan benang adalah efek daya saing yang menurun senilai US$ 54,85 juta (-138,61 persen), kemudian efek komposisi komoditi yang menurun juga senilai US$ 1,84 juta (-4,65 persen). Namun demikian, efek pertumbuhan impor tetap meningkat senilai US$ 17,12 juta (43,26 persen).

▪ Periode 2003-2004 :

Pada periode ini kinerja ekspor Tekstil dan Produk Tekstil terus membaik, bahkan secara umum nilai ekspornya meningkat. Telihat dari peningkatan nilai ekspor pakaian jadi, kain dan benang ke Amerika Serikat. Pada pakaian jadi, nilai ekspornya meningkat sebesar US$ 314,72. Efek pertumbuhan impor (meningkat sebesar US$ 330,64 juta) lebih berperan daripada efek daya saing (meningkat sebesar US$ 193,73 juta) dalam memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekspor pakaian jadi ke Amerika Serikat. Sementara itu, efek komposisi komoditi menjadi satu-satunya efek negatif (menurun sebesar US$ 209,65 juta).

Demikian halnya pada kain dan benang, nilai ekspornya meningkat sebesar US$ 35,16 juta. Sama halnya dengan pakaian jadi, efek yang paling berpengaruh dalam peningkatan ekspor kain dan benang ke Amerika Serikat adalah efek pertumbuhan impor dengan kontribusi sebesar 77,81 persen atau

senilai US$ 27,36 juta, kemudian disusul dengan efek daya saing yang memberi kontribusi sebesar 39,82 persen atau senilai US$ 14 juta. Penurunan permintaan kain dan benang (efek komposisi komoditi menurun sebesar 17,63 persen atau senilai US$ 6,20 juta) tidak memberikan pengaruh yang besar, terbukti dengan tetap meningkatnya pertumbuhan ekspor kain dan benang ke Amerika Serikat.

▪ Periode 2004-2005 :

Kebijakan penghapusan kuota bagi negara-negara yang terlibat dalam perdagangan Tekstil dan Produk Tekstil mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2005. Kebijakan ini berpeluang memberikan dampak positif bagi negara-negara pengekspor Tekstil dan Produk Tekstil, termasuk Indonesia. Terbukti, pada periode ini peningkatan nilai ekspor pakaian jadi ke Amerika Serikat lebih besar dari periode-periode sebelumnya (1999-2004), yaitu sebesar US$ 566,46 juta. Efek daya saing memberikan kontribusi terbesar dalam peningkatan nilai ekspor tersebut, yaitu sebesar 77,23 persen atau senilai US$ 437,50 juta. Impor pakaian jadi Amerika Serikat juga sedang tumbuh, terlihat dari efek pertumbuhan impor yang mendorong dengan proporsi 53,83 persen atau senilai US$ 304,95 juta. Namun efek komposisi komoditi kembali memberikan dampak negatif, dengan penurunan sebesar 31,06 persen atau senilai US$ 175,99 juta.

Pada kain dan benang, peningkatan ekspor yang terjadi hanya sebesar US$ 9,2 juta. Peningkatan ini lebih disebabkan karena efek pertumbuhan impor yang mendorong dengan proporsi senilai US$ 26,47 juta (278,71

persen), namun efek daya saing dan efek komposisi komoditi memberikan efek yang negatif dengan kekuatan menekan sebesar masing-masing senilai US$ 8,54 juta (-92,82 persen) dan US$ 8,73 juta (-94,89 persen).