BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Data
1. Analisis Data Gaya Belajar
a. Analisis hasil penyebaran angket gaya belajar 1) Skoring
Proses skoring dilakukan setelah data angket didapat. Hasil skoring terlampir (Lampiran B.1.) dan disajikan pada hasil penyebaran gaya belajar.
2) Pengelompokan skor dan penentuan gaya belajar
Berdasarkan data skoring hasil penyebaran angket gaya belajar, siswa dikelompokkan berdasarkan skor tertinggi dari angket gaya belajar. Maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.4. Pengelompokan Gaya Belajar Siswa Kelas VIII D
Responden V A K Karakteristik S1 - - - - S2 6 7 6 A S3 3 4 4 AK S4 2 6 5 A S5 4 6 4 A S6 3 3 3 VAK S7 4 5 5 AK S8 4 5 7 K S9 2 6 5 A S10 3 3 6 K S11 4 5 7 K S12 3 5 4 A S13 5 6 5 A S14 4 5 6 K S15 3 3 3 VAK S16 6 7 6 A
Responden V A K Karakteristik S17 5 6 6 AK S18 2 4 5 K S19 4 6 7 K S20 5 5 5 VAK S21 3 7 5 A S22 4 4 6 K S23 4 3 4 VK S24 5 5 4 VA S25 4 5 4 A S26 5 5 5 VAK S27 4 5 6 K S28 3 3 7 K S29 3 6 5 A S30 4 6 4 A S31 5 7 5 A S32 4 4 5 K Keterangan :
V : Visual VA : Visual Auditori
A : Auditori VK : Visual Kinestetik K : Kinestetik AK : Auditori Kinestetik VAK : Visual Auditori Kinestetik
Dari tabel di atas dapat dideskripsikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Gambar 4.1. Grafik Batang Gaya Belajar Siswa Kelas VIII D
Dari tabel dan grafik tersebut diketahui bahwa terdapat 12 siswa dari kelas VIII D yang memiliki gaya belajar tipe auditori , 10
V, 0 A, 12 K, 10 VA, 1 VK, 1 AK, 3 VAK, 4 0 5 10 15
Gaya Belajar Kelas VIII D
J um la h Sis w a
memiliki gaya belajar tipe kinestetik, 1 siswa memiliki gaya belajar tipe visual auditori, 1 siswa memiliki gaya belajar tipe visual kinestetik , 3 siswa memiliki gaya belajar tipe auditori kinestetik serta 3 siswa memiliki gaya belajar tipe visual auditori kinestetik. Maka berdasarkan tabel dapat dikatakan bahwa siswa kelas VIII D SMP N 1 Nanggulan mayoritas memiliki gaya belajar dengan tipe auditori.
Bila masing-masing gaya belajar dipersentasekan dan disajikan dalam bentuk diagram lingkaran maka hasilnya sebagai berikut : Gambar 4.2. Diagram Lingkaran Gaya Belajar Siswa Kelas VIII D
Secara keseluruhan kelas VIII D memiliki gaya belajar tipe auditori dengan persentase . Pada peringkat kedua kelas VIII D memiliki gaya belajar tipe kinestetik dengan persentase . b. Analisis hasil wawancara gaya belajar
Hasil wawacara ditulis menjadi transrip wawancara (Lampiran B.3.). Berikut ini adalah hasil analisis berdasarkan wawancara yang telah dilaksanakan pada tanggal 7 Mei s.d. 11 Mei 2017 yang lalu :
0% 39% 32% 3% 3% 10% 13%
Gaya Belajar Siswa VIII D
Visual Auditori Kinestetik Visual Auditori Visual Kinestetik Auditori Kinestetik Visual Auditori Kinestetik1) Siswa yang mempunyai gaya belajar auditori lebih suka belajar dengan suasana yang tenang. Siswa merasa terganggu ketika suasana kelas kondusif. Dari siswa yang di wawancara, mereka menghafalkan materi dengan cara dibaca berulang-ulang dan berbicara (mengeluarkan suara) kepada diri sendiri. Walaupun tidak begitu bisa dalam dunia musik dan tari namun mereka memiliki kecenderungan menyukai music dan tari daripada menggambar atau menulis. Siswa mengalami kesulitan jika diminta membayangkan suatu objek namun siswa mengaku senang apabila bisa menceritakan hasil kerja (presentasi) di depan kelas dalam sesi diskusi.
2) Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik mengaku suka membaca novel. Secara umum, kedua siswa mempunyai cara menghafal yang hampir sama yakni dengan menghafal sambil berjalan mondar-mandir. Kedua siswa mengaku tidak bisa duduk diam dalam waktu yang lama. Apalagi jika materi yang disampaikan berupa teori secara terus menerus mereka merasa bosan dan akhirnya melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar pembelajaran. Siswa cenderung menyukai banyak hal, dan lebih suka pelajaran yang mengandung banyak praktikum.
3) Siswa yang mempunyai gaya belajar visual auditori menyukai seni musik dan seni lukis walaupun tidak mendalam. Siswa ini juga mengaku bisa berkonsentrasi ketika suasana kelas tidak kondusif namun terkadang juga merasa terganggu sesuai dengan kondisinya.
Siswa tidak terlalu kesulitan dalam materi matematika yang melibatkan visualisasi. Cara belajar siswa juga sambil mengeluarkan suara atau berbicara pada diri sendiri.
4) Siswa yang mempunyai gaya belajar visual kinestetik mengaku bisa berkonsentrasi meskipun temannya ribut di dalam kelas. Siswa memiliki hobi dalam bidang olah raga. Hal ini menunjukkan bahwa siswa menyukai hal-hal yang memiliki banyak praktikum. Walaupun siswa mengaku tidak begitu menyukai pelajaran matematika, namun ia mengaku menyukai pelajaran yang mengandung banyak teori atau bacaan seperti pelajaran bahasa Indonesia. Siswa mengaku dapat mengingat rumah temannya jika sudah mengetahui letak rumahnya. Cara belajar siswa ini dengan membaca materi secara berulang-ulang. 5) Siswa yang mempunyai gaya belajar auditori kinestetik cenderung
menyukai belajar dalam suasana yang tenang. Walaupun begitu, terkadang siswa ini juga dapat berkonsentrasi meskipun suasana kelas kurang kondusif. Siswa mengaku bosan jika pembelajaran dirasa kurang menarik seperti materi berupa teori terus menerus. Siswa cenderung ingin mencoba banyak hal. Cara belajar siswa bergantung pada materi pelajarannya. Ada yang belajar dengan menghafal, ada yang dengan berlatih soal, dan ada juga yang melakukan keduanya. 6) Siswa yang mempunyai gaya belajar visual auditori kinestetik
cenderung seimbang akan ketiga indikator di dalam gaya belajar tersebut. Siswa dapat berkonsentrasi ketika suasana tenang namun
terkadang tetap dapat berkonsentrasi ketika suasana tidak kondusif. Siswa mengaku dapat semakin memahami materi apabila guru menjelaskan sekaligus memberikan gambaran mengenai materi tersebut. Siswa cenderung tertarik akan banyak bidang seperti menggambar, menyanyi, menari maupun menulis. Semuanya pada taraf yang sama, tidak ada yang begitu dominan. Siswa mengaku terbantu apabila menghafalkan dengan cara membuat ringkasan. Siswa juga menyukai pelajaran yang mengandung banyak praktikum. Selain itu, siswa juga tertarik jika diminta bercerita di depan kelas. Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan antara indikator yang satu dengan yang lain.
Dari analisis wawancara gaya belajar tersebut dapat dilihat bahwa jawaban siswa cenderung sesuai dengan indikator yang ada. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat konsistensi siswa dalam menjawab angket dan wawancara.
2. Analisis Data Kemampuan Penalaran a) Analisis Hasil Tes Kemampuan Penalaran
Proses tes hasil belajar berjalan dengan lancar. Siswa mengerjakan tes dengan suasana yang kondusif. Setiap siswa mendapat satu lembar kertas soal dan satu lembar kertas hvs untuk menjawab. Waktu yang diberikan untuk mengerjakan tes adalah 2 JP (80 menit). Hal tersebut disesuaikan dengan banyaknya soal tes yaitu 4 soal sesuai dengan indikator kemampuan penalaran.
Tes hasil belajar menunjukkan seberapa besar kemampuan penalaran yang dimiliki siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari proses siswa dalam menyelesaikan soal garis singgung lingkaran. Secara keseluruhan kemampuan penalaran yang dimiliki siswa sudah cukup baik. Namun kebanyakan siswa kesulitan dalam menggambarkan apa yang dimaksud dalam soal. Hasil tes kemampuan penalaran terlampir (Lampiran B.4.).
Setelah proses skoring hasil tes kemampuan penalaran selesai, kemudian dilanjutkan dengan menghitung nilai siswa (Lampiran B.5.). Data skoring telah dicantumkan dalam hasil tes kemampuan penalaran. Setelah skor didapat maka nilai siswa dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Hasil perhitungan tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.5. Nilai Siswa
Siswa Skor Hasil Tes Kemampuan Penalaran Nilai Siswa Ketuntasan S1 - - - S2 36 76 Tuntas S3 39 82 Tuntas S4 34 72 Tidak Tuntas S5 24 52 Tidak Tuntas S6 11 26 Tidak Tuntas S7 32 68 Tidak Tuntas S8 40 84 Tuntas S9 31 66 Tidak Tuntas S10 27 58 Tidak Tuntas S11 24 52 Tidak Tuntas S12 28 60 Tidak Tuntas S13 34 72 Tidak Tuntas S14 41 86 Tuntas S15 34 72 Tidak Tuntas S16 15 34 Tidak Tuntas S17 39 82 Tuntas S18 37 78 Tuntas
Siswa Skor Hasil Tes Kemampuan Penalaran Nilai Siswa Ketuntasan S19 24 52 Tidak Tuntas S20 26 56 Tidak Tuntas S21 24 52 Tidak Tuntas S22 37 78 Tuntas S23 30 64 Tidak Tuntas S24 26 56 Tidak Tuntas S25 25 54 Tidak Tuntas S26 31 66 Tidak Tuntas S27 25 54 Tidak Tuntas S28 28 60 Tidak Tuntas S29 18 40 Tidak Tuntas S30 35 74 Tidak Tuntas S31 35 74 Tidak Tuntas S32 38 80 Tuntas
Berdasarkan data yang diperoleh , dapat diketahui nilai maksimum dari tes kemampuan penalaran kelas VIII D SMP N 1 Nanggulan adalah 86 dan nilai minimum adalah 26. Dari 31 siswa,ada 8 siswa yang mencapai KKM (KKM=75) dan 23 siswa belum mencapai KKM. Jika dipresentasekan ada 25,8% siswa mencapai KKM dan 74,2% belum mencapai KKM. Setelah mendapatkan nilai siswa kemudian dicari nilai rata-rata dan standar deviasi (Lampiran B.6.). Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai rata-rata ( mean ) sebesar 63,9 dan standar deviasi 14,87, maka kriteria pengelompokkan kemampuan penalaran matematis yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.6. Kriteria Pengelompokkan Kemampuan Penalaran Matematis
Tingkat Kemampuan Penalaran Kriteria Tinggi nilai 78,74 Sedang 49nilai78,74
1) Tingkat kemampuan penalaran pada kelompok gaya belajar auditori Tabel 4.7. Tingkat Kemampuan Penalaran pada Gaya Belajar Auditori
Kode Siswa Nilai Hasil Belajar Tingkat Kemampuan Penalaran S2 76 Sedang S4 72 Sedang S5 52 Sedang S9 66 Sedang S12 60 Sedang S13 72 Sedang S16 34 Rendah S21 52 Sedang S25 54 Sedang S29 40 Rendah S30 74 Sedang S31 74 Sedang
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut didapat nilai rata-rata 61. Nilai tersebut termasuk dalam kemampuan penalaran tingkat sedang.
2) Tingkat kemampuan penalaran pada kelompok gaya belajar kinestetik Tabel 4.8. Tingkat Kemampuan Penalaran pada Gaya Belajar Kinestetik
Kode Siswa Nilai Hasil Belajar Tingkat Kemampuan Penalaran S8 84 Tinggi S10 58 Sedang S11 52 Sedang S14 86 Tinggi S18 78 Sedang S19 52 Sedang S22 78 Sedang S27 54 Sedang S28 60 Sedang S32 80 Tinggi
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut didapat nilai rata-rata 68. Nilai tersebut termasuk dalam kemampuan penalaran tingkat sedang.
3) Tingkat kemampuan penalaran pada kelompok gaya belajar visual auditori
Tabel 4.9. Tingkat Kemampuan Penalaran pada Gaya Belajar Visual Auditori
Kode Siswa Nilai Hasil Belajar Tingkat Kemampuan Penalaran 24 56 Sedang
Karena data nilai hanya tunggal maka nilai tersebut sekaligus menjadi nilai rata-rata dari nilai hasil belajar kelompok gaya belajar visual auditori dimana nilai tersebut masuk dalam tingkat kemampuan penalaran sedang.
4) Tingkat kemampuan penalaran pada kelompok gaya belajar visual kinestetik
Tabel 4.10. Tingkat Kemampuan Penalaran pada Gaya Belajar Visual Kinestetik Kode Siswa Nilai Hasil Belajar Tingkat Kemampuan Penalaran S23 64 Sedang
Karena data nilai hanya tunggal maka nilai tersebut sekaligus menjadi nilai rata-rata dari nilai hasil belajar kelompok gaya belajar visual kinestetik dimana nilai tersebut masuk dalam tingkat kemampuan penalaran sedang.
5) Tingkat kemampuan penalaran pada kelompok gaya belajar auditori kinestetik
Tabel 4.11. Tingkat Kemampuan Penalaran pada Gaya Belajar Auditori Kinestetik Kode Siswa Nilai Hasil Belajar Tingkat Kemampuan Penalaran S3 82 Tinggi S7 68 Sedang S17 82 Tinggi
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut didapat nilai rata-rata 77. Nilai tersebut termasuk dalam kemampuan penalaran tingkat sedang.
6) Tingkat kemampuan penalaran pada kelompok gaya belajar visual auditori kinestetik
Tabel 4.12. Tingkat Kemampuan Penalaran pada Gaya Belajar Visual Auditori Kinestetik Kode Siswa Nilai Hasil Belajar Tingkat Kemampuan Penalaran S6 26 Rendah S15 72 Sedang S20 56 Sedang S26 66 Sedang
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut didapat nilai rata-rata 55. Nilai tersebut termasuk dalam kemampuan penalaran tingkat sedang.
b) Analisis kemampuan penalaran
Data yang dibutuhkan adalah data yang dapat mewakili tingkat kemampuan penalaran dari masing-masing gaya belajar. Data hasil tes
kemampuan penalaran yang telah direduksi terlampir (Lampiran B.7.). Setelah melalui proses reduksi maka data yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tabel 4.13. Hasil Reduksi Data
No Tingkat Kemampuan
Penalaran Gaya Belajar Auditori Nilai
1 Rendah S16 34
2 Rendah S29 40
3 Sedang S2 76
4 Sedang S21 52
No Tingkat Kemampuan
Penalaran Gaya Belajar Kinestetik Nilai
1 Sedang S10 58
2 Sedang S18 78
3 Tinggi S14 86
4 Tinggi S8 84
No Tingkat Kemampuan
Penalaran Gaya Belajar Visual Auditori Nilai
1 Sedang S24 56
No Tingkat Kemampuan
Penalaran Gaya Belajar Visual Kinestetik Nilai
1 Sedang S23 64
No Tingkat Kemampuan
Penalaran Gaya Belajar Auditori Kinestetik Nilai
1 Tinggi S3 82
2 Sedang S7 68
No Tingkat Kemampuan Penalaran
Gaya Belajar Visual Auditori
Kinestetik Nilai
1 Rendah S6 26
2 Sedang S15 72
3 Sedang S20 56
1) Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori
Untuk mendeskripsikan kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori dalam menyelesaikan soal garis singgung lingkaran subjek penelitian direduksi sehingga dipilih 4 siswa kelas VIII D SMP N 1 Nanggulan yaitu 2 siswa berkemampuan sedang dan 2 siswa
berkemampuan rendah. Kemampuan penalaran digali melalui proses jawaban siswa dalam tes kemampuan penalaran. Berikut ini analisa aspek penalaran matematis pada S2 dan S21 dengan tingkat kemampuan sedang :
Tabel 4.14. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan sedang nomor 1
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyelesaikan soal garis singgung lingkaran dengan tepat dan lengkap
Jawaban Siswa S2
Jawaban Siswa S21
Pada aspek ini, siswa S2 dapat menuliskan poin-poin yang diketahui dari soal. Kemudian siswa dapat menentukan rumus yang dipakai untuk menyelesaikan soal. Namun, terdapat kelalaian yaitu ketika siswa memperbaiki rumus, beberapa bagian lupa diperbaiki juga sehingga mempengaruhi skor. Pada bagian akhir, siswa dapat menarik
kesimpulan dengan tepat namun siswa tidak mendapatkan nilai penuh karena kesimpulan tersebut berkaitan dengan bagian proses. Sedangkan pada siswa S21, siswa juga dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Namun, kesalahannya juga sama yaitu kurang tepat dalam menggunakan rumus sehingga berdampak pada proses perhitungan siswa.
Berdasarkan hal tersebut, menunjukkan bahwa siswa gaya belajar auditori berkemampuan sedang cenderung kurang dalam aspek penalaran matematis menyelesaikan soal garis singgung lingkaran dengan tepat dan lengkap. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kesalahan dalam penggunaan rumus.
Tabel 4.15. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan sedang nomor 2
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menduga panjang garis singgung persekutuan dalam dan luar lingkaran
Jawaban siswa S2
Jawaban Siswa S21
Pada aspek ini, siswa S2 dapat menggambarkan ulang sketsa dari soal untuk mempermudah pengerjaan. Kemudian, siswa dapat menuliskan poin-poin yang didapat dari soal. Pada bagian proses siswa dapat menentukan rumus yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Siswa dapat menarik kesimpulan dengan tepat. Pada siswa S21, siswa juga menggambarkan ulang sketsa dari soal. Siswa dapat menuliskan poin-poin dari soal, menentukan rumus dengan tepat, dan menarik kesimpulan. Namun, terdapat kesalahan perhitungan sehingga berdampak pada penarikan kesimpulan.
Berdasarkan penjabaran tersebut, menunjukkan bahwa siswa gaya belajar auditori berkemampuan sedang memiliki penalaran yang cukup baik pada aspek menduga panjang garis singgung persekutuan dalam dan luar lingkaran. Kesalahan dalam proses perhitungan dianggap sebagai kekurang telitian.
Tabel 4.16. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan sedang nomor 3
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat merancang pola suatu masalah tertentu berdasarkan kondisi yang berkaitan dengan garis singgung lingkaran, kemudian dapat menunjukkan bukti kebenaran dari jawaban yang diberikan.
Jawaban siswa S2
Jawaban Siswa S21
Pada aspek ini siswa S2 data menuliskan poin-poin yang diketahui pada soal. Ide siswa untuk menyelesaikan masalah sudah muncul namun siswa tidak menuliskan secara lengkap beberapa langkah sehingga peneliti sedikit bingung dalam memahami maksud siswa. Secara keseluruhan siswa sudah dapat merancang pola berdasarkan kondisi yang ada dan dapat menunjukkan bukti kebenarannya. Pada akhir jawaban siswa dapat menarik sebuah
kesimpulan. Pada siswa S21, siswa hanya menuliskan poin-poin yang terdapat pada soal namun sama sekali tidak menuliskan jawaban.
Beberapa uraian tersebut menunjukkan bahwa siswa gaya belajar auditori berkemampuan penalaran sedang pada aspek merancang pola suatu masalah tertentu berdasarkan kondisi yang berkaitan dengan garis singgung lingkaran, kemudian dapat menunjukkan bukti kebenaran dari jawaban yang diberikan masih kurang penalarannya. Hal tersebut jelas terlihat dalam proses penyelesaian siswa.
Tabel 4.17. Analisis kemampuan penalaran pada siswa S2 gaya belajar auditori berkemampuan sedang nomor 4
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyajikan alasan dari pernyataan tentang persekutuan dua buah lingkaran yang bersinggungan di luar
Jawaban siswa S2
Jawaban Siswa S21
Pada aspek ini siswa S2 dan S21 dapat menyatakan bahwa dua lingkaran yang bersinggungan di luar mempunyai garis singgung sebanyak 3 garis singgung. Namun, siswa tidak dapat menyajikan
alasan dengan tepat dan menunjukkan bukti dari pernyataan yang telah dibuat. Bedanya, siswa S21 dapat membuat sketsa gambar meskipun tidak memberi keterangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan penalaran dalam aspek ini masih kurang.
Pada data hasil tes kemampuan penalaran siswa yang memiliki gaya belajar auditori diambil 1 siswa yang mempunyai hasil analisis tingkat kemampuan penalaran rendah melalui proses reduksi yaitu S16 dan S29. Analisa aspek penalaran matematis :
Tabel 4.18. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan rendah nomor 1
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyelesaikan soal garis singgung lingkaran dengan tepat dan lengkap
Jawaban siswa S16
Jawaban siswa S29
Pada aspek ini kedua siswa tidak dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa pada awalnya dapat menuliskan rumus dengan tepat namun terdapat ketidak konsistenan yaitu rumus yang digunakan selanjutnya tidak sama dengan yang diawal. Dari hal
tersebut menunjukkan kurangnya penalaran siswa. Pada akhir penyelesaian siswa data menuliskan kesimpulan.
Tabel 4.19. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan rendah nomor 2
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menduga panjang garis singgung persekutuan dalam dan luar lingkaran
Jawaban siswa S16
Jawaban siswa S29
Pada aspek ini siswa S16 dan S29 dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa S16 berusaha membuat sketsa gambar sesuai dengan soal. Sedangkan pada siswa S29, siswa tidak membuat sketsa gambar. Pada proses penyelesaian siswa S16 dan S29 dapat menuliskan rumus dengan tepat namun siswa tidak dapat menyelesaikan proses perhitungan dengan tepat. Pada akhir penyelesaian siswa juga tidak dapat menarik sebuah kesimpulan.
Tabel 4.20. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan rendah nomor 3
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat merancang pola suatu masalah tertentu berdasarkan kondisi yang berkaitan dengan garis singgung lingkaran, kemudian dapat menunjukkan bukti kebenaran dari jawaban yang diberikan.
Jawaban siswa S16
Jawaban siswa S29
Pada aspek ini siswa S16 tidak menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa menuliskan proses secara tidak lengkap walaupun pada akhir penyelesaian siswa menarik sebuah kesimpulan. Hal ini menunjukkan siswa belum dapat menunjukkan bukti kebenaran dari apa yang dinyatakan. Sedangkan pada siswa S29, siswa juga dapat menyebutkan poin-poin yang ada pada soal, menuliskan proses penyelesaian namun tidak menyelesaikannya sampai akhir. Pada akhir penyelesaian siswa juga tidak menarik kesimpulan.
Tabel 4.21. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar auditori berkemampuan rendah nomor 4
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyajikan alas an dari pernyataan tentang persekutuan dua buah lingkaran yang bersinggungan di luar
Jawaban siswa S16
Jawaban siswa S29
Pada aspek ini siswa S16 dan S29 dapat menyatakan bahwa dua buah lingkaran yang bersinggungan mempunyai 3 garis singgung. Siswa juga membuat sketsa gambar untuk menunjukkan alasan dari pernyataan yang telah dibuat. Namun, siswa tidak memberi keterangan pada gambar dan tidak menjelaskan alasan dari pernyataannya.
2) Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar kinestetik Berdasarkan hasil reduksi data diambil 2 siswa berkemampuan tinggi yaitu S14 dan S8. Sedangkan pada siswa berkemampuan sedang yaitu S10 dan S18. Kemampuan penalaran digali melalui proses jawaban siswa dalam tes kemampuan penalaran dan dikonfirmasi melalui wawancara. Dari hasil jawaban siswa dalam tes kemampuan penalaran dan hasil wawancara didapat data kemampuan penalaran siswa.
Tabel 4.22. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar kinestetik berkemampuan tinggi nomor 1
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyelesaikan soal garis singgung lingkaran dengan tepat dan lengkap
Jawaban siswa S14
Jawaban siswa S8
Pada aspek ini siswa S14 dan S8 dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa dapat menentukan rumus yang digunakan dengan tepat dan menyelesaikan dengan tepat. Pada akhir penyelesaian siswa dapat menarik kesimpulan. Namun, terdapat sedikit kelalaian mengenai kekonsistenan penggunaan simbol sehingga mengurangi sedikir skor. Secara umum, penalaran siswa dalam aspek ini sudah baik.
Tabel 4.23. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar kinestetik berkemampuan tinggi nomor 2
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menduga panjang garis singgung persekutuan dalam dan luar lingkaran
Jawaban siswa S14
Jawaban siswa S8
Pada aspek ini siswa S14 dan S8 dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa juga menggambarkan kembali sketsa gambar untuk mempermudah dalam menyelesaikan soal. Siswa dapat menentukan rumus yang tepat dan dapat menyelesaikan perhitungan dengan tepat. Pada akhir penyelesaian, siswa dapat menarik sebuah kesimpulan.
Tabel 4.24. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar kinestetik berkemampuan tinggi nomor 3
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat merancang pola suatu masalah tertentu berdasarkan kondisi yang berkaitan dengan garis singgung lingkaran, kemudian dapat menunjukkan bukti kebenaran dari jawaban yang diberikan.
Jawaban siswa S14
Jawaban siswa S8
Pada aspek ini siswa S14 dan S8 dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa juga dapat menuliskan cara penyelesaian dengan runtut dan menarik sebuah kesimpulan. Namun, siswa tidak membuat sketsa gambar ataupun menjelaskan simbol-simbol yang digunakan sehingga peneliti bingung dalam memahami penyelesaian siswa.
Tabel 4.25. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar kinestetik berkemampuan tinggi nomor 4
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyajikan alas an dari pernyataan tentang persekutuan dua buah lingkaran yang bersinggungan di luar
Jawaban siswa S14
Jawaban siswa S8
Pada aspek ini, siswa S14 dapat menyatakan bahwa dua buah lingkaran yang bersinggungan di luar memiliki 3 garis singgung. Siswa
dapat membuat sketsa gambar dengan tepat dan memberikan keterangan sehingga mudah dipahami. Selain itu, siswa dapat menjelaskan pernyataannya dengan tepat. Sedangkan pada siswa S8, siswa juga dapat menyatakan bahwa dua buah lingkaran yang bersinggungan luar memiliki 3 garis singgung. Namun siswa tidak menjelaskan apa saja garis singgung yang terbentuk. Dari dua jawaban tersebut menunjukan bahwa kemampuan penalaran pada aspek ini sudah cukup baik.
Tabel 4.26. Analisis kemampuan penalaran pada siswa gaya belajar kinestetik berkemampuan sedang nomor 1
Aspek penalaran matematis
Siswa dapat menyelesaikan soal garis singgung lingkaran dengan tepat dan lengkap
Jawaban siswa S10
Jawaban siswa S18
Pada aspek ini siswa S10 dapat menuliskan poin-poin yang ada pada soal. Siswa dapat menentukan rumus yang tepat untuk menyelesaikan soal. Namun, pada proses perhitungan menunjukkan bahwa siswa tidak begitu memahami cara yang digunakan walaupun