BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Hasil Penelitian
2. Analisis Data Hasil Wawancara
Selain menggali informasi melalui asosiasi kata dengan menggunakan kuesioner terbuka, peneliti juga melakukan wawancara untuk mengetahui lebih lanjut
sumber yang memberikan informasi mengenai virginitas kepada responden.
Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa virginitas dipahami oleh kaum muda sebagai berikut:
Tabel 10
Persentase Respon dan Responden Data Wawancara Berdasarkan Kategori
Kategori Responden Respon Respon yang muncul
T % F %
Fisik 26 100 76 56,30 a. Virginitas terkait dengan belum melakukan hubungan seksual b. Virginitas merupakan
keperawanan dan lekat dengan perempuan
c. Keperawanan dapat dibuktikan secara fisik sedangkan
keperjakaan tidak
d. Keperawanan terkait dengan keutuhan selaput dara dan rapatnya vagina
e. Keperawanan dapat hilang karena kecelakaan atau melakukan olahraga berat f. Keperjakaan dapat hilang apabila
melakukan onani dan seks oral Substansial 18 69,23 31 22,96 a. Virginitas tabu untuk dibicarakan
pada budaya timur
b. Merupakan harga diri dan sangat bernilai perempuan
c. Kesucian bagi perempuan d. Penting dijaga oleh perempuan e. Kehormatan bagi perempuan Pandangan
negatif
9 34,62 10 7,41 a. Virginitas merupakan hal yang kuno
b. Merupakan hal yang wajar saat ini untuk melepaskan virginitas sebelum menikah
dengan pasangan
menikah
b. Keperawanan merupakan hadiah untuk suami
Relasi sosial 7 26,92 9 6,67 a. Keperawanan seseorang memperlihatkan apakah keluarganya adalah keluarga baik-baik atau tidak
b. Keperawanan seseorang berpengaruh pada image orang tersebut
Jumlah Responden: 26 Jumlah Respon : 135 Hasil wawancara memperlihatkan bahwa responden memahami virginitas sebagai hal fisik, substansial, terkait dengan relasi dengan pasangan, relasi sosial, kesan dan pandangan terhadap virginitas. Semua responden (100%) memahami virginitas sebagai hal fisik (56,30%). Hal ini mengekspresikan bahwa makna virginitas sebagai hal fisik menyebar secara menyeluruh pada responden. Virginitas dimaknai terkait dengan belum melakukan hubungan seksual dan hanya merupakan keperawanan sehingga lekat dengan perempuan. Responden menganggap keperawanan lebih dapat dibuktikan secara fisik daripada keperjakaan, sehingga keperawanan lebih dipermasalahkan dibandingkan keperjakaan. Keperawanan dianggap dapat dibuktikan melalui keutuhan selaput dara dan rapatnya vagina, sehingga akan terasa berbeda saat penis masuk ke vagina, serta menyebabkan keluarnya darah dari vagina pada saat melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya akibat pecahnya selaput dara. Sedangkan keperjakaan seseorang dimungkinkan hilang apabila seorang laki-laki melakukan onani atau seks oral.
Virginitas yang dimaknai secara substansial oleh lebih dari separuh responden (69,23%), hanya terkait dengan virginitas pada perempuan atau keperawanan. Virginitas dipahami sebagai harga diri seorang perempuan sehingga sangat bernilai. Virginitas merupakan kesucian dan kehormatan perempuan sehingga penting untuk dijaga oleh perempuan. Hal ini memperlihatkan bahwa makna substansial mengenai virginitas hanya terdapat pada keperawanan dan tidak terdapat pada keperjakaan. Virginitas juga dianggap masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan pada budaya timur. Kemudian, responden juga memiliki pandangan negatif mengenai virginitas (7,41%). Pandangan negatif ini dinyatakan oleh 34,62% responden. Virginitas dipandang sebagai hal yang kuno dan responden juga merasa bahwa melepaskan virginitas sebelum menikah sudah merupakan hal yang lumrah saat ini.
Virginitas juga terkait dengan relasi dengan pasangan (6,67%) yang tersebar pada 30,77% responden, dan relasi sosial (6,67%) yang dinyatakan oleh 26,92% responden. Virginitas lekat dengan seseorang yang belum menikah, terutama perempuan karena virginitas merupakan hadiah yang dipersiapkan untuk suami kelak. Selain itu, keperawanan seseorang juga dapat memperlihatkan bagaimana keluarga orang tersebut, apakah keluarganya termasuk keluarga baik-baik atau tidak. Seseorang yang masih perawan akan mengesankan bahwa ia adalah perempuan baik-baik. Sebaliknya, apabila seorang perempuan sudah tidak lagi perawan maka ia akan dianggap sebagai perempuan nakal.
Pada sesi wawancara, peneliti juga menanyakan bagaimana sikap responden terhadap virginitas dirinya sendiri. Data jawaban subyek tersebut kemudian dipersentasekan untuk melihat bagaimana sikap sosial kaum muda terhadap virginitas pada dirinya sendiri. Sikap kaum muda terhadap virginitas dirinya sendiri dapat dilihat dalam tabel 11.
Tabel 11
Sikap terhadap Virginitas pada Diri Sendiri
Sikap Total Respon/Responden %
Penting dijaga 16 61,54
Tidak penting 7 26,92
Antara penting dan tidak penting 2 7,69
Tidak menjawab 1 3,85
jumlah responden: 26
Responden cenderung memandang virginitas sebagai sesuatu yang penting untuk dijaga (R = 61,54%). Ketika ditanya tentang alasan responden menganggap virginitas penting untuk dijaga, alasan yang paling dominan disebutkan adalah alasan yang terkait dengan pernikahan dan suami. Virginitas disikapi sebagai hal yang penting untuk dipertahankan hingga menikah untuk menjaga kesakralan pernikahan dan agar seorang perempuan lebih berharga di mata suaminya. Hal ini seperti yang diungkapkan salah seorang responden sebagai berikut:
“Ya penting. Karena aku pada dasarnya menganggap pernikahan itu sesuatu yang berharga. Sesuatu yang istilahnya aku pengen itu nanti yang cuma sekali doang terjadi di hidupku, dan kalau sekarang sebelum nikah itu udah dilakuin, aku ngerasa kalau kita akan nggak
sebuah status sosial, ni loh aku udah nikah. Kayak gitu doang. Tapi kalau kita bisa nggak untuk melakukan hubungan suami istri itu sebelum waktunya, itu akan menjadi nantinya itu berharga” (R. 22, perempuan)
B. 2. b. Virginitas Pasangan
Selain melihat bagaimana kaum muda bersikap terhadap virginitas pada dirinya sendiri, peneliti juga menggali bagaimana sikap kaum muda mengenai virginitas pada pasangan hidup mereka kelak. Awalnya peneliti mencoba mengungkap hal ini melalui kuesioner terbuka tentang kriteria pemilihan pasangan hidup. Dari data kuesioner terbuka tersebut diperoleh hanya satu responden yang menuliskan kriteria perawan dan kriteria tersebut diletakan pada prioritas memilih pasangan yang kelima. Untuk dapat lebih menggali mengenai sikap kaum muda terhadap virginitas pasangannya, peneliti kemudian menanyakannya pada sesi wawancara. Pertanyaan yang peneliti ajukan adalah “apa yang akan anda lakukan seandainya ternyata pasangan anda sudah tidak perjaka/perawan lagi?”. Peneliti juga mencoba mengetahui bagaimana pandangan responden terhadap virginitas lawan jenisnya dengan menanyakan seberapa penting keperawanan bagi responden laki-laki dan seberapa penting keperjakaan untuk responden perempuan. Dari proses wawancara ditemukan hasil seperti yang diperlihatkan tabel 12.
Sikap terhadap Virginitas Pasangan
Sikap Total Respon/
Responden
% Total Respon/ Responden Tidak masalah apabila pasangan sudah
tidak perawan/perjaka
19 73,08
Mengharapkan pasangan yang masih perawan/perjaka, namun tidak masalah jika akhirnya mendapatkan pasangan yang sudah tidak
perawan/perjaka
6 23,08
kemungkinan menerima pasangan yang tidak perawan/perjaka hanya 30%
1 3,85
Jumlah responden: 26
Hasil yang berbeda dengan sikap terhadap virginitas pada diri sendiri ditemukan ketika responden ditanyakan mengenai bagaimana sikap mereka seandainya pasangan mereka sudah tidak perawan/perjaka lagi. Secara umum responden menyatakan tidak masalah apabila ternyata pasangan sudah tidak perawan/perjaka lagi (73,08%). Responden secara umum menganggap bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting daripada virginitas pasangan dalam relasi dengan pasangan. Salah satunya adalah rasa sayang dan kecocokan dengan pasangan. Ini seperti yang diungkapkan oleh seorang responden, sebagai berikut:
“Ya biasa aja. Selama aku bisa tahu kalau dia emang sayang sama aku, setia sama aku, bisa terima aku apa adanya, dan aku bisa lihat setidaknya kan kita bisa ngerasain lah kalau misalnya dia benaran serius sama kita atau enggak kan bisa kelihatan. Kalau ya dia emang serius, ngapain lihat yang lalu-lalu gitu loh. Kenapa nggak lihat yang sekarang aja” (R. 07, laki-laki).
Pada sesi wawancara peneliti juga menanyakan bagaimana pendapat responden mengenai mereka yang melepaskan keperjakaan atau keperawanannya sebelum menikah. Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui sikap responden terhadap virginitas orang lain. Jawaban responden dari pertanyaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 13
Sikap terhadap Virginitas Orang Lain
Sikap Total Respon/
Responden
% Total Respon/ Responden Mereka punya hak untuk melepaskan virginitas
mereka sebelum waktunya
20 76,92
Mereka melakukan sesuatu yang tidak baik 4 15,38
Sayang sekali 2 7,69
jumlah responden: 26
Tabel 13 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (76,92%) menganggap bahwa setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk melepaskan virginitas mereka sebelum menikah. Secara umum, responden beranggapan bahwa virginitas merupakan urusan pribadi masing-masing orang. Oleh karena itu apabila ada yang melepaskan virginitas sebelum menikah, hal tersebut merupakan urusan pribadi yang tidak akan dicampuri oleh responden selama hal tersebut tidak menganggu responden. Ini seperti yang diungkapkan oleh seorang responden sebagai berikut:
“Kalau aku nggak terlalu peduli. Selama dia tidak merugikan aku, aku nggak peduli. Jadi kita, aku berteman apapun kehidupan dia, selama dia tidak merugikan kita, aku nggak peduli. Nggak masalah buat aku mereka gimana” (R. 23, perempuan)
Ketika membicarakan makna dan sikap terhadap virginitas pada kaum muda, perlu juga untuk melihat darimana dan sejak kapan kaum muda mulai mendapatkan informasi mengenai virginitas. Hal ini penting karena makna dan sikap seseorang terhadap virginitas sangat dipengaruhi oleh sumber dimana orang tersebut mendapatkan informasi mengenai virginitas, apa saja yang diberikan oleh sumber informasi tersebut, yang akhirnya membentuk pemaknaan dan sikap terhadap virginitas yang saat ini dimiliki oleh orang tersebut. Hasil wawancara menemukan usia responden mendapatkan informasi tentang virginitas sebagai berikut:
Tabel 14
Usia Responden Mendapatkan Informasi Tentang Virginitas
Usia Total Respon/
Responden % SMA (remaja) 12 46,15 SMP (menstruasi pertama) 11 42,31 SD kelas 6 2 7,69 Kuliah 1 3,85 Jumlah Responden 26 100
Jika dilihat dari usia responden mendapatkan informasi mengenai virginitas, dapat dilihat bahwa secara umum kaum muda memperoleh informasi mengenai virginitas sejak mereka SMP (42.31%) dan SMA (46.15%).
Peneliti juga menanyakan darimana saja responden mendapatkan informasi mengenai virginitas. Adapun hasil analisis sumber informasi mengenai virginitas pada responden dapat dilihat pada tabel 15.
Sumber Informasi tentang Virginitas
Sumber Responden Respon Keterangan
T % T %
Media 15 27,78 25 36,76 a. Televisi (program berita yang memuat kasus terkait dengan pelepasan virginitas sebelum
menikah oleh kaum muda, talkshow mengenai seksualitas)
b. Majalah perempuan (rubrik curhat, artikel cara anak supaya tidak melepaskan virginitas) c. Majalah cerita-cerita seru
(kumpulan cerita yang terkait dengan hubungan seks)
d. Koran (berita kasus yang memuat kasus terkait dengan pelepasan virginitas sebelum menikah oleh kaum muda)
e. Internet (mencari sendiri artikel-artikel terkait melalui google atau situs-situs porno)
f. Film (film holywood terkadang menampilkan adegan berhubungan seksual)
g. Novel (yang menceritakan gadis SMP yang kehilangan
virginitasnya) Pergaulan 17 31,48 17 25 a. Kehidupan malam
b. Obrolan dengan teman-teman tentang pengalaman-pengalaman berhubungan seksual
Institusi Pendidikan
11 20,37 13 19,12 a. Seminar pendidikan seks di sekolah b. Pelajaran biologi (anatomi tubuh
laki-laki dan perempuan) c. Buku pelajaran anatomi d. Pelajaran agama (penjelasan
mengenai alat-alat reproduksi dan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan)
Keluarga 10 18,52 12 17,65 a. Nasihat orang tua (penanaman nilai agama dengan memberitahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh; perawan harus dijaga untuk suami kelak)
b. Orang tua mendampingi anaknya menonton televisi kemudian
menjelaskan ketika ada hal-hal yang terkait dengan seksualitas dan virginitas
c. Anggota keluarga memberi tahu arti virginitas
Diri
sendiri 1 1,85 1 1,47
a. Mengalami sendiri berhubungan seksual
Keterangan : Jumlah responden : 26 Jumlah respon : 68
T = Total responden yang menjawab F = Frekuensi kemunculan respon
Kaum muda mendapatkan informasi mengenai virginitas dari pergaulan, media, institusi pendidikan, keluarga, dan mendapatkannya sendiri melalui pengalaman melakukan hubungan seksual. Media (36,76%) dan pergaulan (25%) merupakan sumber yang paling memberikan informasi mengenai virginitas pada kaum muda. 27,78% responden mendapatkan informasi dari media, dan 31,48% responden mendapatkan informasi mengenai virginitas dari pergaulannya. Informasi yang diberikan oleh media dan pergaulan lebih berupa kasus-kasus yang terkait dengan pelepasan virginitas sebelum menikah pada kaum muda. Institusi pendidikan (19,12%) juga cukup memberikan informasi mengenai virginitas. 20,37% responden
pelajaran biologi, agama, seminar seksualitas, dan salah satu mata kuliah mengenai anatomi pada program studi farmasi. Informasi terkait dengan virginitas yang diberikan institusi pendidikan hanya berupa hal fisik saja, yaitu mengenai anatomi tubuh laki-laki dan perempuan serta sistem reproduksi. Keluarga (17,65%) yang merupakan sumber yang paling terbatas dalam memberikan informasi mengenai virginitas kepada kaum muda. Hanya 18,52% responden yang mendapatkan informasi mengenai virginitas dari keluarganya. Hal yang juga menarik adalah adanya pengakuan dari salah satu responden (1,85%) yang menyatakan bahwa dirinya mendapatkan informasi mengenai virginitas dari pengalaman dirinya sendiri (1,47%) melalui praktik langsung, yaitu dengan melakukan hubungan seksual.
B. 2. e. Orang-orang yang Dianggap Berperan Menjaga Virginitas Seseorang Selain menanyakan sumber informasi mengenai virginitas pada responden, peneliti juga menanyakan orang-orang yang dianggap berperan untuk membuat seseorang mampu menjaga virginitasnya hingga mencapai jenjang pernikahan. Adapun hasilnya seperti yang diperlihatkan pada tabel 16.
Tabel 16
Orang-orang yang Dianggap Berperan Terkait dengan Virginitas
Harapan Total Respon/ Responden %
Keluarga 18 69,23
Diri sendiri 10 38,46
Pasangan 4 15,38
Pemuka agama 1 3,85
Institusi pendidikan 1 3,85
Tuhan 1 3,85
Jumlah responden : 26 Orang-orang dalam keluarga (69,23%) dianggap yang paling berperan membuat seseorang mampu menjaga virginitasnya hingga mencapai jenjang pernikahan. Keluarga adalah harapan utama kaum muda untuk membekali kaum muda dengan informasi dan nilai-nilai virginitas agar mereka nantinya mampu mengendalikan dirinya ketika masuk ke dalam lingkungan pergaulan. Kemudian, peran dari diri sendiri (38,46%) pun diharapkan oleh kaum muda sendiri. Kaum muda diharapkan mampu mengendalikan diri dan tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Kaum muda juga diharapkan mampu memilih lingkungan pergaulan yang positif agar terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang biasanya ditawarkan oleh lingkungan pergaulan yang negatif. Lingkungan negatif yang dimaksud di sini dicontohkan misalnya pergaulan malam.
Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa responden memahami virginitas sebagai hal fisik, substansial, terkait dengan relasi dengan pasangan, relasi sosial, pandangan negatif terhadap virginitas. Virginitas sebagai hal fisik merupakan kategori respon yang paling dominan muncul dengan persebaran pemahaman yang menyeluruh pada responden. Virginitas dipahami sebagai hal fisik yaitu melekat pada perempuan. Virginitas juga dimaknai secara substansial, namun hal tersebut hanya
dengan hasil analisis asosiasi kata.
Responden cenderung memandang virginitas sebagai sesuatu yang penting untuk dijaga karena terkait dengan pernikahan dan suami. Ini sesuai dengan hasil wawancara mengenai waktu yang tepat untuk melepaskan virginitas. Responden secara umum merasa setelah menikah merupakan saat yang tepat untuk melepaskan virginitas. Virginitas disikapi sebagai hal yang penting untuk dipertahankan hingga menikah untuk menjaga kesakralan pernikahan dan agar seorang perempuan lebih berharga di mata suaminya. Sedangkan ketika ditanya mengenai virginitas pasangan, secara umum responden menyatakan tidak masalah apabila ternyata pasangan sudah tidak perawan/perjaka lagi karena menurut responden masih ada hal-hal yang lebih penting daripada virginitas pasangan dalam relasi dengan pasangan. Salah satunya adalah rasa sayang dan kecocokan dengan pasangan. Kemudian, menanggapi virginitas orang lain, responden menganggap bahwa setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk melepaskan virginitas mereka sebelum menikah. Secara umum, responden beranggapan bahwa virginitas merupakan urusan pribadi masing-masing orang. Oleh karena itu apabila ada yang melepaskan virginitas sebelum menikah, hal tersebut merupakan urusan pribadi yang tidak akan dicampuri oleh responden selama hal tersebut tidak menganggu responden.
Kebanyakan subyek mendapatkan informasi mengenai virginitas melalui media dan pergaulan. Informasi yang diberikan oleh media dan pergaulan lebih berupa kasus-kasus yang terkait dengan pelepasan virginitas sebelum menikah pada
virginitas melalui pelajaran biologi, agama, seminar seksualitas, dan salah satu mata kuliah mengenai anatomi pada program studi farmasi. Informasi terkait dengan virginitas yang diberikan institusi pendidikan hanya berupa hal fisik saja, yaitu mengenai anatomi tubuh laki-laki dan perempuan serta sistem reproduksi. Keluarga yang merupakan sumber yang paling rendah dalam memberikan informasi mengenai virginitas kepada kaum muda, justru merupakan lembaga yang menanamkan nilai-nilai virginitas pada kaum muda. Ironisnya, keluarga merupakan harapan utama kaum muda untuk membekali kaum muda dengan informasi dan nilai-nilai virginitas agar mereka nantinya mampu mengendalikan dirinya ketika masuk ke dalam lingkungan pergaulan, sehingga tidak melepaskan virginitas sebelum waktunya.