• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebagian besar petugas melakukan program sesudah PE dan rata- rata-rata petugas melakukan program sebelum PE, serta pelaporan PE

F. Analisis Data

Analisis data disesuaikan dengan tujuan dan skala dari variabel-variabel yang akan diujikan. Adapun proses pengujian dan sebagai berikut:

1. Analisis Univariat

Analisis ini untuk mendeskripsikan setiap variabel penelitian dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi setiap variabel.

2. Analisia Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan dua variable yaitu variable bebas dan terikat.Untuk membuktikan kebenaran hipotesis digunakan Uji statistic yang digunakan adalah uji chi square.

Syarat-syarat uji chi square:

a. Bila dalam populasi terdiri atas dua atau lebih kelas hipotesis

b. Data dalam bentuk nominal

c. Mempunyai sampel besar

Rumus uji statistic chi square :

Keterangan : x2 = statistic chi square

  !" # !$ 

!$

%

fo = Frekuensi yang diteliti

fh = Frekuensi yang diharapkan

%

&'  Penjumlahan semua kategori (k)

Perhitungan uji chi square akan digunakan derajat kebebasan yaitu dengan rumus :

Keterangan :Db = Derajat bebas b = jumlah baris k = jumlah kolom

Dengan dasar pengambilan keputusan, sebagai berikut :26 1. Bila nilai p value > nilai α = 0,05 maka Ho diterima, yang

berarti : Tidak ada hubungan antara praktik PSN masyarakat Kelurahan Sendangguwo dengan keberadaan jentik di kelurahan tersebut

2. Bila nilai p value ≤ nilai α = 0,05 maka Ho ditolak, yang berarti Ada hubungan antara kondisi lingkungan,kontainer,dan perilaku masyarakat di kelurahan Sendangguwo dengan keberadaan jentik.

Dan sebagai metode alternative untuk uji analisis data statistic di gunakan uji Fisher Exact.26

72

BAB IV

HASIL PENELITIAN

D. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Semarang dan seluruh Puskesmas di Kota Semarang yang berjumlah 37 Puskesmas terdiri dari 12 Puskesmas Perawatan dan 25 Puskesmas Non Perawatan yang menjadi wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Semarang. Dari ke 37 Puskesmas yang ada di Kota Semarang hanya diambil 6 Puskesmas di lihat dari kasus DBD tertinggi dan 6 Puskesmas tersebut merupakan daerah endemis yang kasus DBD nya tinggi. Dinas Kesehatan Kota Semarang merupakan satuan kerja perangkat daerah di Kota Semarang yang memiliki tanggung jawab menjalankan kebijakan Pemerintah Kota Semarang dalam bidang kesehatan. Kota Semarang memiliki jumlah penduduk 1.628.590 jiwa dengan luas wilayah sebesar 373,67 km2 yang terbagi dalam 16 kecamatan dan 117 kelurahan.28Dalam mewujudkan gambaran masyarakat Kota Semarang di masa depan maka Dinas Kesehatan Kota Semarang memiliki visi dan misi. Visi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang yaitu terwujudnya masyarakat Kota Semarang yang mandiri untuk hidup sehat. Sedangkan misi Dinas Kesehatan Kota Semarang yaitu meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta memberdayakan masyarakat untuk memilik kemauan dan kemampuan hidup sehat.

Kota Semarang merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD). Sampai dengan laporan bulan Oktober tahun 2014 jumlah kasus DBD di Semarang mencapai 2.142 kasus (IR= 121,5/100.000 penduduk dengan CFR 1,17%). Sesuai Peraturan Materi Kesehatan RI, setiap penduduk termasuk tersangka DBD di Kota Semarang harus segera dilaporkan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 24 jam oleh unit pelayanan kesehatan kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang. Kemudian dilakukan penyelidikan epidemiologi <24jam (target SPM) atau <48 jam (target renstra) oleh petugas Puskesmas di wilayah kasus.

Penyelidikan epidemiologi merupakan kegiatan mendatangi rumah –rumah dari kasus yang dilaporkan (indeks kasus) untuk mencari penderita lain dan memeriksa angka jentik dalam radius ± 100 m dari rumah indeks. Materi dari pelaksanaan PE DBD antara lain pencatatan identitas dan informasi lain dari indeks kasus, analisis epidemiologi meliput siapa yang menderita, kapan mulai sakit, dimana penularannya, bagaimana gejala yang dialami ,dan mengapa terjadi sakit DBD,selain itu informasi ada tidaknya kasus lain, angka jentik di sekitar rumah indeks kasus serta rencana tidak lanjut terhadap hasil temuan PE DBD yang telah dilakukan. Sehingga pelaksanaan penyelidikan epidemiologi DBD bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kasus DBD tambahan,luasnya kemungkinan penyebaran penyakit DBD di lokasi tersebut serta rencana tindak lanjut penanggulangan yang dilakukan untuk memutus rantai penularan yang nantinya dapat menurunkan kasus DBD yang terjadi.

74

Kelengkapan dan ketepatan waktu pelaksanaan PE DBD merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kelengkapan dan ketepatan waktu pelaksanaan PE DBD berkontribusi besar dalam penaggulangan kasus PE DBD di masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Semarang menetapkan kelengkapan merupakan persentase PE DBD yang dikerjakan dibanding kasus DBD yang di informasikan sedangkan ketepatan waktu merupakan persentase PE DBD yang dikerjakan dibanding kasus DBD yang di informasikan sedangkan ketepatan waktu merupakan persentase PE DBD yang dikerjakan dalam waktu < 24 jam (sesuai target SPM) atau <48 jam (sesuai target renstra) dibanding jumlah PE DBD yang dikerjakan. Indikator kelengkapan dan ketepatan waktu pelaksanaan PE DBD yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang sebesar 100% untuk kelengkapan dan 97% untuk ketepatan waktu.

Informasi kasus ataupun tersangka DBD kepada Puskesmas selain dari Dinas Kesehatan Kota Semarang harus menyertakan KDRS (Kewaspadaan Dini Rumah Sakit) kemudian Puskesmas melakukan crosscheckepada Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk kebenaran informasi tersebut. Apabila Dinas Kesehatan Kota Semarang membenarkan informasi tersebut maka Puskesmas harus melakukan penyelidikan epidemiologi <24 jam atau <48 jam sejak verifiikasi kebenaran informasi tersebut. Sehingga pelaksanaan PE DBD oleh petugas PE DBD Puskesmas harus menunggu verifikasi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal 30 Mei 2014 sampai dengan 5 juni 2014. Pengumpulan data kelengkapan dan

ketepatan waktu pelaksanaan PE DBD bulan mei- juni 2014, diperoleh dari laporan di Dinas Kesehatan Kota Semarang. Sedangkan pengumpulan data mengenai faktor internal dan eksternal petugas diperoleh dengan wawancara. Wawancara pada 6 petugas PE DBD Puskesmas dilakukan oleh peneliti sendiri dengan mendatangi petugas PE DBD di masing-masing Puskesmas. Selain wawancara, dilakukan observasi buku bantu kasus DBD di setiap Puskesmas untuk mengetahui jumlah mekanisme pelaporan yang dilakukan secara on-line selama bulan Januari-November 2013.

B. Gambaran Karakteristik Responden 3. Jenis Kelamin

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Distribusi Frekuensi

Jumlah Presentase%

Laki-Laki 7 18,9%

Perempuan 30 81,1%

Jumlah 37 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa petugas PE DBD terbanyak berjenis kelamin perempuan yaitu 30 orang (81,1%) sedangkan petugas PE DBD yang berjenis kelamin laki-laki hanya 7 orang (18,9%)

2. Pendidikan Terakhir

Tabel 4.2

76

Pendidikan Terakhir Distribusi Frekuensi

Jumlah Presentase%

Selain Sanitarian dan Kesehatan Masyarakat Sanitarian atau Kesehatan Masyarakat Jumlah 8 29 37 21,6 78.4 100.0

Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa petugas yang mempunyai pendidikan terakhir sanitarian atau kesehatan masyarakat sebesar 78,4% lebih banyak jika dibandingkan dengan petugas yang pendidikan terakhirnya selain sanitarian dan kesehatan masyarakat sebesar 21,6%

3. Lama Kerja

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Lama Kerja

Lama Kerja Distribusi Frekuensi

Jumlah Presentase % Baru (< 3 tahun ) Lama (>3 tahun) Jumlah 17 20 37 45,9 54,1 100.0

Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel 4.3diketahui bahwa sebagian besar petugas termasuk dalam kategori lama dimana kerja sebagai petugas PE DBD ≥ 3 tahun (54,1%) dan sisanya termasuk dimana lama kerja sebagian petugas PE DBD ≤ 3 tahun yaitu sebesar 45,9%.

Dokumen terkait