• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Terakhir Distribusi Frekuensi

Jumlah Presentase%

Selain Sanitarian dan Kesehatan Masyarakat Sanitarian atau Kesehatan Masyarakat Jumlah 8 29 37 21,6 78.4 100.0

Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa petugas yang mempunyai pendidikan terakhir sanitarian atau kesehatan masyarakat sebesar 78,4% lebih banyak jika dibandingkan dengan petugas yang pendidikan terakhirnya selain sanitarian dan kesehatan masyarakat sebesar 21,6%

3. Lama Kerja

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Lama Kerja

Lama Kerja Distribusi Frekuensi

Jumlah Presentase % Baru (< 3 tahun ) Lama (>3 tahun) Jumlah 17 20 37 45,9 54,1 100.0

Sumber : Data primer

Berdasarkan tabel 4.3diketahui bahwa sebagian besar petugas termasuk dalam kategori lama dimana kerja sebagai petugas PE DBD ≥ 3 tahun (54,1%) dan sisanya termasuk dimana lama kerja sebagian petugas PE DBD ≤ 3 tahun yaitu sebesar 45,9%.

Tabel 4.4

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pengetahuan

Pengetahuan Distribusi Frekuensi

Jumlah Presentase %

Tidak baik Baik Jumlah

Sumber : Data primer

15 22 37 40,5 59,5 100.0

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa petugas yang mempunyai pengetahuan baik sebesar 59,5% lebih banyak jika dibandingkan dengan petugas yang pengetahuannya tidak baik yaitu sebesar 40,5%

C. Analisis Univariat 1. Suhu Udara

Hasil penelitian terhadap 87 responden dan rumah tentang suhu yang baik dan tidak baik bagi perkembangan jentik nyamuk, dimana dikatakan baik bagi perkembangan jentik nyamuk pada (20°C - 30°C) yakni sebesar 49,4% dan tidak baik pada (<20°C

78

atau >30°C) sebesar 50,6%. Suhu tersebut diukur pada kamar mandi dan di dapur, rata-rata suhu di dapur dan dikamar mandi sama, cuma beda satu digit di belakang koma.

Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Menurut Suhu Udara

Suhu Udara Distribusi Frekuensi

Jumlah %

Baik (20°C - 30°C) 43 49,4%

Tidak Baik (<20°C atau >30°C) 44 50,6%

Jumlah 87 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

2. Kelembaban Udara

Hasil penelitian terhadap 87 responden dan rumah tentang kelembaban yang baik dan tidak baik bagi perkembangan jentik nyamuk, dimana dikatakan baik bagi perkembangan jentik pada (70% - 90%) yakni sebesar 56,3% dan tidak baik pada (<70°C atau >90°C) sebesar 43,7%

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Responden Menurut kelembaban Udara

Kelembaban Udara Distribusi Frekuensi

Jumlah %

Baik (70% – 90%) 49 56,3%

Kurang Baik (<70% atau >90%)

38 43,7%

Jumlah 87 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

3. Pengetahuan

Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi tidak normal dengan hasil p < 0,05 ( p value = 0,019 ). Adapun distribusi responden berdasarkan pengetahuan yangberdata tidak normal menggunakan rumus median dengan nilai median ( 6,00 )

Hasil penelitian terhadap 87 responden tentang pengetahuan yang mencakup penyakit DBD, cara pencegahan

serta PSN, dimana data pengetahuan tidak normal maka digunakan median dengan nilai:6,00, jadi dikatakan baik jika ≥ 6 dan buruk < 6

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan Distribusi Frekuensi

Jumlah %

Pengetahuan Baik 47 54%

Pengetahuan Buruk 40 46%

Jumlah 87 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.7 diketahui, sebagian besar responden berpengetahuan baik yakni 54%.

Tabel 4.5

Gamabaran Frekuensi Jawaban Responden Menurut Pengetahuan

Manajemen Perencanaan

%

Ya Tidak

∑ % ∑ %

1 Apakah petugas rutin melakukan PEitu ? 60 69 27 31

2 Dimana tempat perindukan nyamuk ? 26 29,9 61 70,1

3 Bagaimana mencegah nyamuk tidak bersarang ?

9 10,3 78 89,7

4 Dalam bentuk apa nyamuk bersarang dalam penampungan air ?

13 14 74 85,1

5 Apa kepanjangan dari PSN ? 44 50,6 43 49,4

6 Apa saja kegiatan PSN itu ? 9 10,3 78 89,7

7 Bagaimana cara pemberantasan nyamuk dewasa ?

42 48,3 45 51,7

8 Menurut anda bagaimana cara yang baik dan benar untuk membersihkan bak mandi dan bak WC ?

80

Sebagian besar responden mempunyai pengetahuan rendah yakni sebesar 69% tentang “apakah Demam Berdarah Dengue itu? Dan pertanyaan tentang “apa saja kepanjangan PSN” yakni sebesar 50,6% masih menjawab salah.

3. Sikap

Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal dengan hasil p> 0,05 ( p value = 0,098 ). Adapun distribusi responden berdasarkan sikap yang berdata normal menggunakan rumus mean dengan nilai mean ( 28,06 ).

Hasil penelitian terhadap 87 responden tentang sikap yang mencakup penyakit DBD, cara pencegahan serta PSN, dimana data normal sehingga menggunakan rumus mean dengan kategori baik bila Baik bila = 33, Sedang bila = 23,4 ≤ x ≤ 33, Kurangbila = 23

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Sikap

Sikap Distribusi Frekuensi

Jumlah % Sikap Baik 17 19,5% Sikap Sedang Sikap Kurang 52 18 59,3% 20,7% Jumlah 87 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

Sebagian besar responden mempunyai sikap yang tergolong sedang (59,3%)

Tabel 4.9

Distribusi Frekuensi Jawaban Sikap Responden

Pertanyaan Jawaban

∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % 1 Penyakit DBD adalah

penyakit yang menular dan sangat berbahaya.

28 32,2 46 52,9 2 2,8 7 8 4 4,6

2 Penyakit DBD adalah penyakit yang dapat menyebabkan

kematian.

32 36,8 51 58,6 2 2,3 2 2,3 0 0

3 Apabila tetangga kita terkena penyakit Demam Berdarah sebaiknya kita segera lapor ke petugas kesehatan terdekat untuk melakukan pengasapan/fogging 34 39,1 46 52,9 5 5,7 1 1,1 1 1,1 4 Membersihkan/mengura s bak mandi sebaiknya tidak perlu menyikat bagian dinding dan dasar bak mandi dengan sikat yang penting diganti airnya dengan air bersih.

7 8 5 5,7 11 12,6 53 60,9 11 12,6 5 Kegiatan pemberantasan jentik dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk DBD . 0 0 31 35,6 36 41,4 18 20,7 2 2,3 6 Sebaiknya tempat penampungan air (bak mandi, tempayan, tempat wudlu, tendon air) tidak perlu ditutup rapat-rapat.

82

7 Bak mandi yang diberi abate dapat membunuh jentik .

14 16,1 42 48,3 28 32,2 3 3,4 0 0

8 Barang yang sudah tidak dipakai (kaleng bekas, ban bekas dan barang lainnya) sebaiknya dibiarkan begitu saja. 1 1,1 7 8 19 21,8 38 43,7 22 25,3 9 Pengasapan/fogging adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk memberantas jentik Aedes aegypti.

21 24,1 27 31 29 33,3 8 9,2 2 2,3

10 Kegiatan gotong royong di sekitar rumah penting untuk mencegah

adanya sarang nyamuk .

35 40,2 47 54 4 4,6 1 1,1 0 0

Sebanyak 20,7% responden tidak setuju bahwa kegiatan pemberantasan jentik dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk DBD dan sebanyak 24,1% responden sangat setuju bahwa fogging salah satunya cara paling tepat untuk memberantas jentik padahal kegiatan fogging bukanlah untuk membunuh jentiknya tapi nyamuk dewasanya.

5. Praktik

Uji normalitas menunjukkan data berdistribusi tidak normal dengan hasil p < 0,05 ( p value = 5,00 ). Adapun distribusi responden berdasarkan praktik yang berdata tidak normal menggunakan rumus median dengan nilai median ( 5,00 )

Hasil penelitian terhadap 87 responden tentang pengetahuan yang mencakup penyakit DBD, cara pencegahan serta PSN, dimana kategori data praktik tidak normal maka digunakan median dengan nilai:5,00, jadi dikatakan baik jika ≥ 5 dan buruk < 5 jadi menggunakan dua kategori baik dan buruk.

Tabel 4.10

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Praktik

Pengetahuan Distribusi Frekuensi

Jumlah %

Praktik Baik 52 59,8%

Praktik Kurang 35 40,2%

Jumlah 87 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.10diketahui bahwa hasil penelitian yang dilakukan terhadap 87 responden dimana sebagian besar ketegori baik yakni 59,8%.

Tabel 4.11

Distribusi Frekuensi Jawaban Praktik Responden

Pertanyaan Jawaban

Tidak Ya

∑ % ∑ %

1 Apakah anda membersihkan/menguras tempat penampungan air yang ada di rumah anda ?

4 4,6 83 95,4

2 Berapa kali anda membersihkan/menguras tempat penampungan air yang ada di rumah anda dalam seminggu ?

10 11,5 77 88,5

3 Apakah anda menutup tempat

penampungan air anda dengan rapat ?

84

4 Apakah tindakan anda terhadap barang bekas seperti kaleng bekas, ban bekas dll ?

13 14,9 74 85,1

5 Apakah anda menyikat dinding permukaan tempat penampungan air saat

membersihkannya dan menggunakan cairan pembersih ?

35 40,2 52 59,8

6 Apa tindakan anda jika terdapat jentik pada barang-barang yang tidak terpakai seperti pot, ban, drum dan ember yang

menampung air hujan di rumah anda ?

4 4,6 83 95,4

Sebanyak 49,4% responden mengatakan bahwa mereka tidak menutup penampungan air dan 40,2% tidak menyikat dinding permukaan TPA pada saat membersihkannya.

6. Keberadaan Jentik

Tabel 4.12

Distribusi Frekunsi Keberadaan Jentik

Keberadaan jentik Distribusi Frekuensi

Jumlah %

Ada Jentik 47 54%

Tidak Ada Jentik 40 46%

Jumlah 87 100%

Sumber : Data primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.12 diatas diketahui bahwa hasil penelitian yang dilakukan terhadap 87 responden dan rumah, dimana sebagian besar rumah terdapat jentiknya (54%).

a. House Index (HI) = J*+,-./*+-.0-123456+*7-1861547

8*+,-./*+-.0-123496/47:-  100% ( 

 100%  54%)

b. Angka Bebas Jentik = J*+,-. /*+-. 0-12 543-7 -3-

,-/@-8*+,-. /*+-. 0-12 3496/47:-  100% ( 

 100%  45%) D. Analisis Bivariat

1. Hubungan Antara Suhu Udara Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Di RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

Tabel 4.13

Hubungan Antara Suhu Udara Dengan Keberadaan Jentik

Kategori Suhu Keberadaan Jentik Total

Ada % Tidak % ∑ %

Baik(20°C-30°C) 22 51,2% 21 48,8% 43 100%

Tidak Baik(<20°C atau >30°C)

25 56,8% 19 43,2% 44 100% p = 0,597 p>0,05

Berdasarkan tabel diatas,persentaserumah yang terdapat jentik pada yang suhunya tergolong tidak baik bagi perkembangan nyamuk (56,8%) lebih besar daripada yang suhunya tergolong baik bagi perkembangan nyamuk (51,2%) Hasil Uji Statistik Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,597 (p>α), berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk di RW 01 Kelurahan Sendangguwo.

2. Hubungan Antara Kelembaban Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Di RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

86

Hubungan Antara Kelembaban Dengan Keberadaan Jentik

Kategori Kelembaban

Keberadaan Jentik Total

Ada % Tidak % ∑ % Baik(70%-90%) 36 73,5% 13 26,5% 49 100% Kurang baik(<70% atau >90%) 11 28,9% 27 71,1% 38 100% p= 0,001 p<0,05

Berdasarkan tabel diatas, persentase rumah yang terdapat jentik pada yang kelembabannya tergolong baik bagi perkembangan nyamuk (73,5%) lebih besar daripada yang kelembabannya tergolong tidak baik bagi perkembangan nyamuk (28,9%).

Hasil Uji Statistik Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,0001 (p<α), berarti ada hubungan yang bermakna antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk di RW 01 Kelurahan Sendangguwo.

3. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Di RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

Tabel 4.15

Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan keberadaan jentik

Kategori Pengetahuan Keberadaan Jentik Total

Ada % Tidak % ∑ %

Pengetahuan Baik 24 51,1% 23 48,9% 47 100%

Pengetahuan Buruk 23 57,5% 17 42,5% 40 100% p = 0,548 p>0,05

Berdasarkan tabel diatas, persentase rumah yang terdapat jentik pada yang pengetahuan tergolong baik (51,1%) lebih kecil daripada yang pengetahuannya tergolong buruk (57,5%).

Hasil Uji Statistik Chi squarediperoleh nilai p value = 0,548 (p>α), berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan keberadaan jentik nyamuk di RW 01 Kelurahan Sendangguwo.

4. Hubungan Antara Sikap Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Di RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

Tabel 4.16

Hubungan Antara Sikap Dengan Keberadaan Jentik

Kategori Sikap Keberadaan Jentik Total

Ada % Tidak % ∑ % Sikap Baik 10 58,8% 7 41,2% 17 100% Sikap Cukup Sikap Kurang 24 13 46,2% 72,2% 28 5 53,8% 27,8% 52 18 100% 100% p = 0,146 p>0,05

Berdasarkan tabel diatas, persentase rumah yang terdapat jentik pada yang mempunyai sikap kurang baik ( 72,2% ) lebih besar daripada yang sikapnya baik ( 58,8% ) dan cukup ( 46,2% ) .

Hasil Uji Statistik Chi square diperoleh nilai p value = 0,146(p>α), berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan keberadaan jentik nyamuk di RW 01 Kelurahan Sendangguwo.

5. Hubungan Antara praktik Dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Di RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

Tabel 4.17

Hubungan Antara Sikap Dengan Keberadaan Jentik

88

Kategori Praktik Keberadaan Jentik Total

Ada % Tidak % ∑ %

Praktik Baik 23 44,2% 29 55,8% 52 100%

Praktik Buruk 24 68,6% 11 31,4% 35 100%

p= 0,025 p<0,05

Berdasarkan tabel diatas, persentase rumah yang terdapat jentik pada yang praktik tergolong buruk (68,6%) lebih besar daripada yang praktiknya tergolong baik (44,2%).

Hasil Uji Statistik Chi squarediperoleh nilai p value = 0,025(p<α), berarti ada hubungan yang bermakna antara pratik dengan keberadaan jentik nyamuk di RW 01 Kelurahan Sendangguwo.

E. Hasil Uji

Tabel 4.18

Ringkasan hasil uji antara variabel bebas dan terikat

Variabel Penelitian Hasil Uji

Varibel Bebas Varibel Terikat Α P Value Contingensi Coefisien Simpulan Suhu Udara Keberadaan

jentik nyamuk penular DBD 0,05 0,597 0,057 Tidak ada hubungan

Kelembaban Keberadaan jentik nyamuk penular DBD 0,05 0,001 0,405 Ada hubungan Pengetahuan Keberadaan jentik nyamuk penular DBD 0,05 0,548 0,064 Tidak ada hubungan Sikap Keberadaan jentik nyamuk penular DBD 0,05 0,146 0,206 Tidak ada hubungan Praktik Keberadaan jentik nyamuk penular DBD 0,05 0,025 0,233 Ada hubungan BAB V PEMBAHASAN C. Keterbatasan Penelitian

Peneltian yang dilakukan memiliki keterbatasan antara lain sebagai berikut :

90

1. Penelitian yang dilakukan menggunakan mempunyai kekurangan dan kelemahan dan juga keterbatasan waktu. Jenis penelitian yang dipakai penelitian deskriptif sehingga hanya menggambarakan secara mendetail.

2. Kuesioner sebagai bahan wawancara untuk menggetahui seberapa besar petugas memeahami PE

3. Saat wawancara respon responden baik dan menjawab semua pertanyaan

B. Karakteristik Responden 3. Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah perbedaan biologis dari petugas PEDBD Puskesmas di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan sebagaian besar petugas PE DBD adalah perempuan dan sisanya laki-laki.

4. Pendidikan

Berdasarkan hasil penelitian pendidikan merupakan latar belakang sekolah formal terakhir yanh telah ditamatkan oleh petugas PE DBD Puskesmas di Kota Semarang menunjukkan bahwa sebagian besar petugas mempunyai pendidikan terakhir sanitaria atau kesehatan masyarakat dan ada juga yang berpendidikan terakhir selain sanitaria dan kesehatan masyarakat. 3. Lama kerja

Lama kerja merupakan lamanya responden bekerja sebagai tenaga PE DBD di Puskesmas dihitung sejak pertama melakukan tugas sampai penelitian ini dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagian besar petugas lama atau lama kerja sebagai PE DBD lebih dari 3 tahun

4. Pengetahuan tentang DBD dan PE

Pengetahuan tentang DBD dan PE DBD merupakan pemahaman petugas PE DBD terhadap penyakit DBD dan PE DBD meliputi pengertian DBD, penyebab PE DBD, gejala PE DBD, mekanisme penularan DBD, pengertian PE DBD, tujuan PE DBD, sumber informasi kasus DBD , persiapan, pelaksanaan ,dan paska PE,serta waktu laporan hasil PE DBD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petugas mempunyai pengetahuan baik tentang PE. Adapun petugas yang pengetahuannya kurang baik tentang DBD dan PE DBD.

5. Mekanisme Pelaporan

Mekanisme pelaporan merupakan cara yang paling penting sering dipakai petugas PE DBD Puskesmas dalam melaporkan hasil PE DBD ke Dinas Kesehatan Kota Semarang selama bulan Januari-November 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petugas kadang-kadang mengirimkan laporan PE secara online,ada juga petugas yang mengirimkan laporan PE tidak pernah secara online.

92

suhu kurang dari 10° C/lebih dari 40° C.9 Suhu 22°-30° C merupakan suhu tropis murni yang hangat di Indonesia, suhu yang cocok buat kelangsungan hidup manusia dan perkembangan jentik nyamuk penular Demam Berdarah Dengue.29

Hasil analisis Univariat menunjukkan bahwa suhu udara yang baik bagi perkembangbiakan jentik sebesar 49,4% (43 responden/rumah), lebih kecil dibandingkan dengan rumah responden yang kurang baik bagi perkembangbiakan jentik nyamuk yakni 50,6% (44rumah), suhu tidak baik bagi perkembangan jentik dikarenakan pengukuran terjadi hanya satu kali pada pukul 08.00-11.00 dan suhu disana pun bisa berubah ubah kapanpun.

1. Kelembaban

Uap air yang terkandung dalam ruangan yang memungkinkan perkembangan jentik nyamuk Aedes aegypti dan diukur pada tempat dimana penghuni menghabiskan sebagian waktunya, diukur dengan menggunakan hygrometer.

Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa kelembaban rumah responden sebagian besar termasuk kategori baik bagi perkembangan jentik sebesar 56,3% lebih besar dibandingkan

dengan rumah yang tidak baik bagi perkembangan jentik yakni 43,7% dikarenakan tempat disana curah hujannya cukup tinggi dan lembab, serta banyak genangan air, kotor/becek.

2. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behaviour). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, biasanya pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber. 19

Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa pengetahuan baik sebesar 54%, buruk sebesar 46%, bahwa hasil yang paling banyak menunjukkan kategori baik pengetahuannya disusul dengan kategori buruk. Sebagian besar responden tidak mengetahui tentang PSN yang benar, apa penyebab penyakit DBD dan cara pemberantasan nyamuk dewasa. Tidak tahunya responden dikarenakan kemungkinan karena kurangnya informasi yang didapat.

3. Sikap

Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek, baik yang bersifat interen maupun eksteren sehingga manifestasi dari sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Tingkatan sikap adalah menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung

94

jawab. Sikap seseorang sangat mempengaruhi perilaku baik sikap positif maupun negative.20

Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sikap baik sebesar 19,5% , cukup 59,6% , dan kurang20,7%. Hasilnya menunjukkan kategori cukup lebih besar dan disusul dengan kategori baik.Hal tersebut dinyatakan dengan hasil responden yang cukup baik tapi tidak didukung dengan tindakan yang nyata, warga pun juga dalam kehidupan sehari-hari jarang menguras bak mandinya dan banyak yang tidak menggunakan ikan pemakan jentik dan menggunakan bubuk larvasida.

4. Praktik

Praktik atau tindakan adalah sesuatu yang dilakukan atau perbuatan. Tindakan terdiri dari empat tingkatan yaitu :

a) Persepsi, mengenal dan memilih berbagai object sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. b) Respon terpimpin, melakukan sesuatu sesuai

dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. c) Mekanisme, apabila seseorang telah dapat

melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. d) Adopsi

e) Suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan.21

Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa praktik baik sebesar 59,8 %, dan buruk 40,2% , hasil kuesioner

menunjukkan bahwa responden mengatakan bahwa mereka tidak menutup tempat penampungan airnya sebesar ( 49,4% ) dan tidak menyikat dinding permukaan TPA pada saat membersihkannya dan tidak menggunakan cairan pembersih ( 40,2% ). Hal tersebut bila tidak dilakukan maka akan memperbanyak jentik nyamuk di bak mandi, Membersihkan bak mandi harus disikat permukaan dindingnya supaya kotoran dan telur-telur nyamuk tidak menempel pada dinding bak mandi serta penggunaan cairan pembersih untuk membunuh jentik nyamuk supaya tidak berada di bak mandi.

Pemeberantasan jentik dilakukan dengan cara menjaga sanitasi / kebersihan lingkungan yaitu pada umumnya 3M: Menguras dan menyikat dinding bak penampungan air kamar mandi; karena jentik / larva nyamuk demam berdarah (Aedest aegypti) akan menempel pada dinding bak penampungan air setelah dikuras dengan ciri-ciri berwarna kehitam-hitaman pada dinding, hanya dengan menguras tanpa menyikat dinding maka jentik / larva nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) tidak akan mati karena mampu hidup dalam keadaan kering tanpa air sampai dengan 6 (enam) bulan, jadi setelah dikuras diding tersebut harus disikat.

Menutup rapat – rapat bak – bak penampungan air; yaitu seperti gentong untuk persediaan air minum, tandon air, sumur yang tidak terpakai karena nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) mempunyai ethology lebih menyukai air yang jernih untuk reproduksinya, Mengubur barang-barang yang tidak berguna tetapi dapat menyebabkan genangan air yang

berlarut-96

larut ini harus dihindari karena salah satu sasaran tempat nyamuk untuk bereproduksi.14

4. Keberadaan jentik

Ada tidaknya jentik dalam rumah yang terdapat di kontainer yakni bak mandi,gentong/tempayan/drum dan ember.Hasil dari analisis univariat menunjukkan bahwa terdapat jentik sebesar 54% dan yang tidak ada jentik sebesar 46% dikarenakan banyak warga yang jarang menguras TPAnya, dan tidak menutup tempat penampungan airnya, serta didukung pula dengan Angka Bebas Jentiknya sebesar 45%, Sedangkan indikator keberhasilan menurut pemerintah angka bebas jentik (ABJ) yang ditetapkan adalah sebesar kurang lebihnya atau sama dengan 95%.4 Di wilayah tersebut angka bebas jentiknya kurang dari 95% berarti perlu ditingkatkan program PSN dan 4M+ serta dilakukan PJB/PJR nya.

C. Uji Hubungan

1. Hubungan Antara Suhu Udara Dengan Keberadaan Jentik Penular DBD DI RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

Hasil uji statistik Chi Squaretentang hubungan antara suhu udara dengan keberadaan jentik penular DBD dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai p sebesar 0,597 atau lebih besar dari nilai α = 0,05 artinya Ho diterima dan Ha ditolak. Jadi dapat disimpulkan tentang tidak adanya hubungan yang signifikan antara suhu udara dengan keberadaan jentik. Menurut hasil pengukuran suhu udara, diketahui bahwa suhu udara rumah responden menunjukkan kategori tidak baik bagi perkembangan jentik nyamuk sebesar 50,6% lebih besar

dibandingkan dengan rumah responden yang baik bagi perkembangbiakan jentik nyamuk yakni49,4%. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Ririh dan Anny (2005) yang menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Wonokusumo.29 Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi metabolismenya turun atau bahkan terhenti bila suhu turun sampai dibawah suhu kritis. Pada suhu yang lebih tinggi dari 35°C dapat memperlambat proses fisiologi, rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25-27°C, pertumbuhan nyamuk ini akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10°C atau lebih dari 40°C. Umunya nyamuk akan meletakkan telurnya pada temperature udara sekitar 20-30°C.9,10Suhu 22°-30° C merupakan suhu tropis murni yang hangat di Indonesia, suhu yang cocok buat kelangsungan hidup manusia dan perkembangan jentik nyamuk penular Demam Berdarah Dengue.29

Tidak adanya hubungan dikarenakan suhu udara tidak berhubungan langsung dengan jentik, atau dapat dikatakan suhu udara berhubungan langsung dengan pertumbuhan nyamuk bukan dengan jentiknya ,30 dan pada saat pengukuran di kala hampir siang hari suhunya panas dan kebanyakan setelah diukur suhunya bekisar 31-32°C, pagi-siang hari suhunya panas sedangkan kalau sudah sore dan malam hari hujan, serta pengukuran yang dilakukan hanya sekali saja waktu observasi yakni dilakukan pada pukul 08.00-11.00 dan suhu pun bisa berubah-ubah setiap saat, pengukuran yang dipakai

98

hanya di ruangan tertentu saja yakni di kamar mandi dan di dapur bukan mencakup semua ruangan dan luar ruangan jadi suhunya pun tidak menetap dan bisa berubah-ubah.

2. Hubungan Antara Kelembaban Dengan Keberadaan Jentik Penular DBD DI RW 01 Kelurahan Sendangguwo Semarang.

Hasil uji statistik Chi Squaretentang hubungan antara kelembaban udara dengan keberadaan jentik penular DBD dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai p sebesar 0,0001 atau lebih kecil dari nilai α = 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelembaban dengan keberadaan jentik nyamuk penular DBD.

Menurut hasil pengukuran kelembaban udara, diketahui bahwa kelembaban rumah responden menunjukkan kategori baik bagi perkembangan jentik nyamuk ( kelembaban 70-90%) sebesar 56,3% lebih besar dibandingkan dengan rumah responden yang kurang baik bagi perkembangbiakan jentik nyamuk yakni 43,7% .

Menurut lembar observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa pengukuran kelembaban mempunyai nilai lebih besar 56,3% rumah responden baik untuk perkembangbiakan jentik, Adanya hubungan di dukung dengan penelitian Mardiyani Nugraha ( 2010 ) yang menyebutkan bahwa adanya hubungan bermakna antara kelembaban udara dengan keberadaan jentik penular DBD di wilayah kerja Puskesmas Kuta Utara dengan nila

p value = 0,0001.30 Kelembaban sangan berpengaruh dengan perkembangan jentik nyamuk. Adanya hubungan

Dokumen terkait