1. Kebijakan Pemberantasan
Kebijakan yang ditempuh dalam pelaksanaan pemberantasan Demam Berdarah Dengue, berdasarkan KepMenKes No: 581/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue dan KepMenKes No: 92/MenKes/SK/II/1994 tentang perubahan atas lampiran, Keputusan Menteri Kesehatan RI NO: 581/MenKes/SKN/VII/1992 tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah bahwa pemberantasan penyakit demam berdarah dengue dilaksanakan oleh masyarakat dalam PSN DBD antara lain dapat dikoordinasikan oleh kelompok kerja DBD Kelurahan/ Desa dan Kecamatan , Kabupaten/Kota dan Provinsi.
a. Pemberantasan nyamuk penular di desa/kelurahan rawan (Depkes RI,1992)
1. Pemberantasan nyamuk penular pada kejadian DBD (penaggulangan seperlunya).
Dilakukan untuk mencegah atau membatasi penularan penyakit DBD di rumah penderita atau tersangka penyakit DBD dan lokasi sekitarnya serta tempat umum yang diperkirakan dapat menjadi sumber penularan lebih lanjut. Dilakukan dengan penyemprotan insektisida oleh petugas kesehatan dan PSN oleh masyarakat serta penyuluhan kepada masyarakat. Pemberantasan nyamuk dengan fogging dengan sebelumnya dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Untuk melaksanakan fogging focus harus dipenuhi 2 persyaratan sebagai berikut:
a. Bila ditemukan penderita/ tersangka penyakit DBD lainnya atau ditemukan jentik, dilakukan penyemprotan dua siklus di rumah penderita dan sekitarnya dalam radius 200 meter, penyuluhan serta penggerakan masyarakat untuk PSN.
b. Bila tidak ditemukan penderita dan tetapi ditemukan jentik, dilakukan penggerakan masyarakat untuk PSN dan penyuluhan.
c. Bila tidak ditemukan penderita dan tidak ditemukan jentik,dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.
Sesuai dengan surat edaran Dirjen PMM dan PLP Depkes RI tanggal 13 september 2002 disebutkan bahwa penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue dilakukan meliputi kegiatan:
a. Kewaspadaan dini penyakit DBD: pertemuan dan pelaporan penderita, penanggulangan kasus, pemberantasan vektor secara intensif di seluruh desa/ kelurahan endemis, kegiatan bulan bakti gerakan 3M, pemberantasan jentik berkala, penyuluhan kepada masyarakat.
b.Pemberantasan sarang nayamuk, pemberantasan nyamuk dewasa, pemberantasan jentik.
c. Penanggulangan KLB (Kejadian Luar Biasa), penyelidikan epidemiologi, penanggulangan seperlunya(fogging focus,abatisasi efektif)
2) Pemberantasan nyamuk menular
Desa/ Kelurahan rawan adalah desa/kelurahan yang dalam tiga tahun terakhir terjangkit penyakit DBD atau keadaan lingkungan yang mendukung. Antara lain penduduk padat, trasnportasi lanacar, dan ramai dengan wilayah lain sehingga resiko untuk terjadi Kejadian Luar Biasa( KLB). Kegiatan Pemberantasan nyamuk penular DBD di daerah rawan dilakukan sesuai dengan tingkat kerawanan suatu wilayah. Tingkat kerawanan daerah terhadap ancaman penyakit DBD.
3. Jenis kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD meliputi:
a. Penyemprotan
Desa/ Kelurahan rawan satu dapat merupakan sumber penyebarluasan penyakit ke wilayah lainnya. Penularan penyakit di wilayah ini perlu dibatasi dengan penyemprotan insektisida dan di ikuti dengan PSN oleh masyarakat untuk membasmi jentik-jentik nyamuk penular. Penyemprotan dilakukan dengan selektif, yaitu penyemprotan yang dilakukan bila ada laporan kejadian kasus DBD dan kasus itu telah memenuhi kriteria yang ditetapkan maka akan dilakukan penyemprotan. Dan penyemprotan di sekitar sumber penularan(rumah penderita) sampai radius 200 meter.
Maksud kegiatan fogging adalah populasi nyamuk di desa endemis dapat dikurangi serendah-rendahnya, dan sumber penularan yaitu nyamuk Aedes aegpty dapat terbasmi.
Dengan demikian KLB di desa endemis dapat dicegah dan penyebaran virus dengue ke wilayah lain pun dapat dibatasi/dicegah.
b. Pemeriksaan Jentik Berkala
Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) adalah pemeriksaan tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegpty untuk mengetahui adanya jentik. Dilakukan di rumah dan tempat umum secara teratur sekurang-kurangnya tiap tiga bulan. Kegiatan dilakukan dengan mengunjungi rumah dan tempat umum untuk memeriksa tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk serta memberikan penyuluhan tentang PSN kepada masyarakat pengelola temapat umum. Kunjungan berulang disertai penyuluhan diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk melaksanakan PSN secara teratur. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di rumah dilakukan oleh kader atau tenaga pemeriksa jentik lain di RW/Dusun secara swadaya. Di desa/kelurahan rawan dan bila ditemukan jentik dilakukan (abatisasi selektif).
Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) di RW dipantau oleh Lurah, dilakukan pada lebih kurang tiga puluh rumah yang dipilih secara acak: PJB di setiap desa/kelurahan dipantau oleh Camat, dilakukan minimal pada 100 rumah yang dipilih secara acak, pemeriksaan dilakukan oleh petugas kesehatan (petugas PE DBD) setiap tiga bulan sekali.
c. Penyuluhan kepada keluarga/masyarakat
Tujuan penyuluh adalah agar keluarga dan masyarakat tahu, mau dan mampu mencegah penyakit DBD di rumah dan lingkungannya dengan melakukan PSN DBD secara terus menerus, sehingga rumah dan lingkungannya bebas jentik nyamuk Aedes aegpty (Depkes,1997).
Penyuluhan dapat dilakukan secara individu melalui penyuluhan pada waktu PJB dan kepada masyarakat.
d. Penggerakan PSN DBD 18
Penggerakan PSN DBD adalah keseluruhan kegiatan masyarakat dan pemerintah untuk mencegah penyakit DBD, yang disertai pemantauan hasil-hasilnya secara terus menerus (Depkes Ri, 1995). Gerakan PSN bertujuan untuk membina peran serta masyarakat dalam pemberantasan penyakit DBD, terutama dalam memberantasan jentik nyamuk penularannya, sehingga penularan penyakit DBD dapat di cegah. Kegiatan gerakan PSN DBD dilaksanakan antara lain:
1. Penggerakan PSN di rumah-rumah
Penggerakan PSN DBD di rumah-rumah yang diselenggarakan oleh tingkat desa/kelurahan adalah penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat. Kegiatan pokoknya meliputi:
a. Kunjungan rumah berkala sekurang- kurangnya tiap 3 bulan untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik oleh kader desa wisma atau tenaga lain sesuai kesepakatan masyarakat setempat.
b. Penyuluhan kelompok masyarakat oleh tokoh masyarakat, antara lain Posyandu, temapat ibadah, di RW/RT.
c. Kerja bakti PSN DBD dan kebersihan lingkungan secara berkala dan pada kesempatan –kesempatan tertentu, misalnya hari jumat (sebagai perwujudan dari pelaksanaan Gerakan Jumat Bersih) pada hari besar nasional atau HUT daerah dan lain- lain.
3. Peran serta masyarakat
Pada waktu pelaksanaan program kesehatan harus sering mengikutsertakan potensi masyarakat. Jika ditinjau dari prinsip pokok kesehatan, pengikutsertaan potensi masyarakat ini dipandang amat penting, karena berhasil atau tidaknya suatu program kesehatan sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat.
Sesuai dengan prinsip pokok bahwa setiap program kemasyarakatan harus mengikuti prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat maka dapatlah diharapkan keberhasilan program tersebut.
4. Pengorganisasian penggerakan PSN
Pemberantasan penyakit DBD dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah. Di tingkat desa/kelurahan, yang merupakan forum koordinasi lintas program dan lintas sektorl. Pokjanal DBD dibentuk dengan tujuan melakukan pembinaan operasional terhadap pelaksanaan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit demam berdarah dengue di wilayah kerjanya secar berjenjang dan berkesinambungan.
Pembinaan DBD desa/kelurahan dilaksanakan oleh tingakat kecamatan, kabupaten, provinsi,dan tingkat pusat secara berjenjang.
5. Pemantauan dan Penilaian
Pemantauan penggerakan PSN DBD desa/kelurahan. Pemantauan dilaksanakan secara berkala sekurang- kurang tiga bulan. Pemantauan dilaksanakan dengan melakukan Pemeriksanaan Jentik (PJB) yang dilaksanakan oleh tenaga terlatih ( petugas PE DBD Puskesmas) dengan pemeriksaan 100 rumah per desa/ kelurah, sekolah dan tempat umum. Sebagai indikator keberhasilan penggerakan PSN yang digunakan adalah angka bebas jentik ( ABJ).
Angka bebas jentik adalah prosentase rumah yang tidak diketemukan jentik dari sejumlah rumah yang diperiksa. Dalam penilaian keberhasilan penggerakan PSN DBD dipergunakan indikator keberhasilan dan indikator b. cakupan.
a. Indikator keberhasilan meliputi 19
1. Angka Bebas Jentik (ABJ) prosentase yang menunjukkan tidak ditemukannya jentik nyamuk pada sejumlah rumah yang diperiksa.
Standart ≥ 95%
2. Angka Kesakitan (IR)
Angka yang menunjukkan jumlah kasus per 10.000 penduduk Standar <2/10.000 penduduk.
3. Angka Kematian (CFR)
Angka yang menunjukkan jumlah kematian pada kasus DBD.
Standart <2%.4) jumlah desa/kelurahan endemis; sporadis dan potensial DBD.
b. Indikator cakupan meliputi18
Cakupan Angka Bebas Jentik (ABJ)
Jumlah rumah/bangunan yang tidak ditemukan jentik x 100%
Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa
Indikator tersebut digunakan karena sesuai dengan ketentuan dari Depkes RI dan merupakan satu- satunya indikator yang bisa dipakai dan mudah terukur.