BAB 3 PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI DI KABUPATEN TABALONG : ANALISIS
3.3. Kawasan Peruntukan Industri Seradang
3.3.1 Analisis Derajat Pilihan Pemangku Kepentingan
Pemangku kepentingan memainkan peran penting dalam mengeksploitasi potensi ekonomi dan kewilayahan. Baik pemerintah daerah, pelaku bisnis maupun masyarakat mempunyai tanggung jawab masing-masing untuk berfungsi sebagai leverage atau pengungkit pembangunan ekonomi wilayah. Daya ungkit pembangunan termanifestasi dalam pengarusutamaan peran tiap agen tersebut. Pada akhirnya, integrasi persepsi prioritas para pemangku kepentingan menjadi kunci untuk kesuksesan sebuah perencanaan program prioritas.
Program pengembangan kawasan industri Seradang menjadi salah satu program utama pemerintah daerah Kabupaten Tabalong. Pada prinsipnya, program pembangunan kawasan industri akan bergerak relatif lambat dan terkendala jika tidak terjadi kesepahaman dan implementasi yang terintegrasi antar pebisnis, pemerintah daerah Kabupaten dan
KAWASAN PERUNTUKAN INDUSTRI SERADANG
61
Gambar 11 Persepsi Kreteria Prioritas Pengembangan Kawasan Industri
masyarakat setempat. Sebagai langkah lanjutan maka bagian ini mencoba untuk menangkap bagaimana persepsi dan keinginan para pemangku kepentingan di Tabalong dalam memandang rencana pembangunan kawasan industri.
A. Kriteria Penentu Pengembangan Kawasan Industri
Persepsi dan harapan terhadap program pengembangan kawasan industri Seradang disusun oleh lima kriteria utama. Rincian kriteria meliputi: 1) Kebutuhan infrastruktur pendukung kawasan industri; 2) Target perusahaan pengisi di tahap pertama pengembangan; 3) Orientasi bisnis dari perusahaan dalam kawasan nanti; 4) Visi bisnis Kawasan industri; dan 5) Pemilihan entitas pengelola kawasan. Focus group discussion, wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan dan kajian literatur menjadi metode dalam penentuan kelima determinan tersebut sebagai kriteria utama keberhasilan pengembangan kawasan industri.
Implementasi program seperti pembentukan kawasan industri menghadapi permasalahan multi-criteria decision-making. Artinya, perlu upaya, menyusun dan melakukan prioritisasi kriteria keberhasilan program. Pemeringkatan lima kriteria diperlukan untuk menentukan kebutuhan dan program prioritas serta langkah strategis dalam rangka percepatan pengembangan kawasan. Guna mewujudkan kebutuhan seleksi kriteria itu maka penyusunan prioritas kriteria menggunakan pendekatan expert choice dengan metode analytical hierarchy process (AHP). Hasil perhitungan AHP tingkat kriteria untuk persepsi pemangku kepentingan di Kabupaten Tabalong diperlihatkan oleh gambar 11.
Sumber: Data Primer, diolah kembali
Pemangku kepentingan secara umum memandang bahwa aspek bisnis menjadi elemen utama sebagai pertimbangan program pembangunan kawasan industri. Persepsi tersebut ditunjukkan dengan pilihan orientasi bisnis kawasan industri (33,50 persen), perusahaan
62 pionir tahap awal (21,46 persen) dan visi kawasan (18,50 persen) menepati berturut-turut posisi peringkat pertama, kedua dan ketiga. Sementara itu kriteria infrastruktur dan siapa pihak pengelola kawasan industri menduduki posisi empat dan lima sebesar 15,06 persen dan 11,47 persen.
Pandangan aktor-aktor pembangunan di Kabupaten Tabalong relatif sesuai dengan teori standar industrialisasi. Penciptaan iklim bisnis yang kondusif menjadi kriteria paling penting untuk dipertimbangkan bagi sebuah kawasan industri. Disisi lain, infrastruktur belum menjadi target utama tetapi lebih dianggap sebagai enabler, dimana pengembangan sarana prasarana akan menjadi prioritas setelah target kondusivitas bisnis terwujud.
B. Peringkat Global Sub-Kriteria Pengembangan Kawasan Industri
Kriteria kawasan industri memerlukan komponen sub-kriteria untuk menentukan Langkah strategis pengembangan. Peringkat global memperlihatkan bagaimana tingkat kepentingan sub-kriteria pada tiap kriteria. Nilai derajat kepentingan sub-kriteria ditampilkan pada gambar 12.
Gambar 12 Sub-Kriteria Peringkat Global Prioritas Pengembangan Kawasan Industri Sumber: Data Primer, diolah kembali
Kriteria orientasi bisnis kawasan industri memiliki sub-kriteria bisnis berorientasi bahan baku, pasar dan penciptaan produk baru yang belum diproduksi di Kabupaten Tabalong. Pemangku kepentingan memberi penilaian terhadap orientasi bisnis kawasan industri dari yang paling
Kawasan
63 penting hingga kurang penting sebagai berikut: orientasi bahan baku (43,87 persen), produk baru (34,38 persen) dan orientasi pasar (21,75 persen). Persepsi tersebut sejalan dengan daya dukung utama daerah, yaitu sektor pertanian, perkebunan dan pertambangan. Sementara itu, perusahaan baru asing merupakan status perusahaan (49,27 persen dari kriteria perusahaan pionir) paling diharapkan sebagai pionir di kawasan industri nanti.
Persepsi orientasi bisnis mencerminkan harapan terhadap visi bisnis kawasan industri.
Industri berbasis perkebunan sebesar 25,62 persen, basis pertambangan 25,02 persen dan basis pergudangan 21,56 persen menempati tiga besar basis penting untuk dikembangkan.
Hal menarik tampak dalam pemilihan sub-kriteria tersebut dimana industri pergudangan menjadi potensi. Pilihan pergudangan bisa dipahami sebagai upaya untuk memanfaatkan potensi keekonomian dari lokasi Kabupaten Tabalong sebagai daerah penyangga ibukota baru.
Persepsi sub-kriteria dari infrastruktur pendukung memperlihatkan bahwa jalan dan jembatan (33,64 persen) menjadi hal paling penting untuk diperhatikan. Peringkat kedua dan ketiga ditempati oleh kebutuhan penciptaan dan pemenuhan sumber daya manusia berkualitas (33,64 persen) dan keberadaan bandara (22,64 persen). Ketiga sub-kriteria tersebut telah berhasil menunjukkan bahwa faktor pendukung kawasan industri sebaiknya infrastruktur yang memiliki dampak langsung. Dampak langsung tersebut mencakup kelancaran aksesibilitas barang, jasa dan tenaga kerja.
Sisi lain, sub-kriteria dari status pengelola kawasan juga patut diamati. Pemangku kepentingan menganggap bahwa perusahaan swasta lebih mampu untuk mengelola kawasan industri dengan nilai 41,38 persen. Tingkat kelayakan tersebut diikuti oleh BUMN (24,78 persen), BUMD (23,58 persen) dan BLUD (10,26 persen).
C. Peringkat Lokal Sub-Kriteria Pengembangan Kawasan Industri
Peringkat lokal sub-kriteria merepresentasikan nilai tertimbang derajat kepentingan antar kriteria. Dalam konteks perencanaan dan implementasi, peringkat lokal mampu menggambarkan pilihan logis prioritas langkah strategis lintas kriteria dengan mempertimbangkan keterbatasan anggaran dan waktu.
Secara umum, gambar 13 memberikan referensi potret utuh dan langkah strategis pengembangan kawasan industri. Para pemangku kepentingan di Kabupaten Tabalong menganggap bahwa kawasan industri Seradang sebaiknya berorientasi pada penciptaan produk bernilai tambah tinggi dengan memanfaatkan potensi daerah. Lebih jauh, Orientasi tersebut diwujudkan ke dalam visi bisnis kawasan, sebagai berikut “Kawasan Industri Berbasis Produk Turunan untuk Perkebunan dan Hasil Tambang”. dimana berharap perusahaan baru asing dapat mengawali berinvestasi untuk basis produk tersebut.
64
Gambar 13 Sub-Kreteria Peringkat Global Prioritas Pengembangan Kawasan Industri
Beberapa langkah strategis dapat segera dirumuskan berdasar skala prioritas. Pertama, penguatan sektor perkebunan, (secara intensif dan ekstensif) dan regulasi pengelolaan pertambangan. Kedua, promosi investasi skala nasional bahkan internasional untuk menarik perusahaan yang sesuai dengan visi kawasan industri sekaligus perusahaan pengelola kawasan. Ketiga, percepatan pengembangan kuantitas dan kualitas jalan termasuk jalan Kabupaten, provinsi dan jalan negara (berkoordinasi dengan Kementerian PUPR).
Sumber: Data Primer, diolah kembali