• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Kalundborg Industrial Estate, Denmark

BAB 4 MASTERPLAN KAWASAN INDUSTRI

A. The Kalundborg Industrial Estate, Denmark

Kawasan industri Kalundborg adalah contoh paling terkenal dari ekonomi sirkular dan pertukaran produk sampingan di kawasan industri, karena dianggap sebagai pelopor simbiosis industri. Perkebunan tidak berkembang melalui proses perencanaan skala besar, melainkan merupakan hasil dari evolusi bertahap kerja sama dan pertukaran untuk menciptakan jaringan interaksi simbiosis yang kompleks antara delapan neighboring businesses dan kota Kalundborg. Awalnya pembangunan kawasan ini hanya untuk tujuan

85 penghematan biaya, namun seiring berjalannya waktu jaringan pertukaran komoditas dan bahan baku telah berkembang, dan perkebunan sekitarnya sekarang menunjukkan dampak pembangunan dan praktik hijau dapat memberikan keuntungan sosial dan lingkungan.

Perkebunan ini tidak bergantung pada energi bahan bakar fosil dan mencapai pembangunan yang berkelanjutan melalui kerangka kerjanya yang berfokus pada inovasi, teknologi hijau baru, dan efisiensi sumber daya. Terdapat jaringan daur ulang dan penggunaan kembali limbah yang dihasilkan satu industri untuk digunakan industri lainnya, dan ini telah menghasilkan penghematan biaya bagi perusahaan sekitar USD15 juta per tahun sekaligus mengurangi polusi dan keluaran limbah di area tersebut.

Pengembangan kawasan industri Kalundborg di inisiasi oleh sektor swasta, melalui perjanjian komersial antara mitra bisnis, menambahkan pemerintah kota sebagai mitra di tahap selanjutnya. Saat ini, kawasan industri Kalundborg dikelola dan diawasi oleh sebuah komite yang terdiri dari perwakilan dari masing-masing bisnis dan pemerintah kota. Peran pemerintah daerah adalah membantu memantau pertukaran dan memastikan kerja sama antar industri. Selain itu, telah dibuat kebijakan dan insentif lokal untuk mendorong pengurangan sampah oleh penyewa lahan.

Gambar 26 Kawasan Industri Kalundborg, Denmark yang membawa konsep Sumber: https://www.cruisemapper.com/ports/kalundborg-port-284

Terlepas dari skema perintisnya dalam simbiosis industri, kawasan industri Kalundborg telah menunjukkan kekuatannya dalam bangunan terbarukan dan hijau dan pengelolaan sampah.

Kekurangannya adalah pada bidang ruang terbuka hijau dan transportasi cerdas yang belum mampu melayani kawasan.

86 B. Qingdao Sino-German Eco Park, China

Eco Park Sino-Jerman, merupakan sebuah kawasan industri seluas 4.060 Hektar yang terletak di Qingdao, Cina. Kawasan industri ini merupakan preseden lain yang sangat baik dari segi pengelolaan kawasan industri hijau dan cerdas. Pembangunan kawasan industri Qingdao Sino-German Eco Park dijalankan dengan adanya kerja sama antara pemerintah, bisnis, dan lembaga penelitian untuk mencapai kawasan industri ramah lingkungan dan inovatif terkemuka di dunia. Visi dari proyek yang ditetapkan sebagai kota percontohan Smart China ini adalah untuk menciptakan kawasan industri yang akan menjadi laboratorium untuk industrialisasi dan urbanisasi yang berkelanjutan. Kawasan industri ini dimulai melalui kemitraan nasional bilateral antara Kementerian Perdagangan China (MOC) dan Kementerian Urusan Ekonomi dan Energi Jerman (BWMI). Kemitraan ini diciptakan untuk memanfaatkan kekuatan masing-masing negara, menggabungkan ekonomi China yang berkembang pesat dan kurangnya proses industri hijau dengan teknologi canggih dan keahlian manajemen Jerman.

Kawasan industri ini dibiayai melalui pembiayaan berskema PPP (Public-Private Partnership).

Investasi untuk proyek dari China berasal dari pemerintah, sedangkan investasi dari pihak Jerman berasal dari perusahaan swasta dan pemegang saham karena kawasan tersebut terdaftar di bursa saham Jerman. Taman industri ini dikelola oleh perusahaan patungan, Sino-Jerman Eco Park Development Co., yang mengawasi operasi taman. Aspek dimana Eco Park Sino-Jerman dianggap kuat termasuk energi terbarukan dan bangunan hijau; dan pengelolaan airnya yang cerdas

87

Gambar 27 Kawasan Industri Qingdao Sino-German Eco Park (Konsep Eco-Park) Sumber: http://www.obermeyer-cn.com/en/project/qingdao-sino-german-eco-park

C. Sei Mangkei, Sumatera Utara, Indonesia

Kawasan industri yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ini dikelola oleh PT. Kawasan Industri Nusantara. Kawasan industri Sei Mangkei terletak di Sei Mangkei Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Luas lahan yang direncanakan adalah 1.933,8 Hektar sesuai HPL No 1/2004 dengan kegiatan utama industri pengolahan kelapa sawit dan pengolahan karet. Perancangan kawasan industri ini membutuhkan investasi sebesar Rp. 5,1 Triliun untuk pembangunan infrastrukturnya dan kebutuhan investor Rp. 129 Triliun. Diproyeksikan tenaga kerja langsung yang terserap sebanyak 83.304 orang hingga tahun 2031 dan berdampak pada perekonomian sebesar Rp. 92,1 Triliun terhadap perekonomian nasional.

Kawasan industri ini memiliki aksesibilitas yang baik dengan lokasinya yang cukup strategis dengan akses pelabuhan Kuala Tanjung (40 km), Bandara Internasional Kualanamu (106 km), Pelabuhan Belawan (146 Km). Simpul-simpul transportasi tersebut mampu mendukung keberadaan kawasan industri ini dalam upaya pendistribusian hasil produksi. Selain itu dari aksesibilitas jalur kereta api, KEK Sei Mangkei hanya membutuhkan sekitar 7,6 Km menuju stasiun Perlanaan yang termasuk pada jalur Rel Medan-Rantau Prapat.

Fasilitas dan Utilitas di dalam KEK Sei Mangke terdapat beberapa, yaitu sistem ketenagalistrikan sebesar 150 KV / 60 MVA, pipa gas 75 MMSCFD, jaringan telekomunikasi dan IT fiber optic, jalan lintas, dry port 2300 TEUs dan stasiun kereta api, Tank Farm, dan pengolahan air bersih (WTP 250 m3/jam) dan limbah (WWTP 250 m3/jam). Ruas jalan di KEK Sei Mangkei terdiri dari ROW 28, 30, 43, 43A, dan 62. Pengolahan air bersih menggunakan Water Treatment Plan (WTP) dengan debit 250 m3/jam dan tarif Rp. 7500/m3. Pengolahan

88 limbah cair dengan sistem wastewater treatment plant (WWTP) dengan kapasitas 250 m3/jam dan tarif Rp 6425/m3.

Gambar 28 Masterplan KEK Sei Mangkei

89 4.3.3. Prinsip dan Konsep Perancangan Kawasan

A. Prinsip Perancangan

Gambar 29 Pusat-Pusat Pelayanan dan Klaster Kavling

Pusat pelayanan merupakan area yang berada di tengah kawasan sebagai orientasi kawasan dengan pengembangan kavling industri berukuran besar. Kemudian pusat kawasan industri terhubung dengan tiga sub pusat pelayanan dengan variasi kavling berukuran sedang. Dua sub pusat pelayanan tersebut terhubung secara langsung dengan kluster industri berukuran kecil.

90

Gambar 30 Blue and Green Corridor

Kawasan mengadopsi konsep Yin dan Yang atau Yin-Yang adalah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain. Konsep tersebut didasarkan pada asal muasal dari banyaknya cabang ilmu pengetahuan klasik dah filosofi Tionghoa serta dapat digunakan sebagai pedoman pengobatan Cina dan menjadi prinsip dari seni bela diri yang ada di Tiongkok, sebagai contoh Baguazhang, Taijiquan (Tai Chi), dan qigong (Chi Kung) dan ramalan Ching.

Yin dan Yang saling berlawanan dalam interaksi dengan dunia yang lebih luas dan sebagai bagian dari sistem yang dinamis. Semua hal memiliki kedua aspek tersebut yakni Yin dan Yang, tetapi tidak setiap aspek tersebut memiliki perwujudan yang jelas pada objek dan mungkin pasang surut atau mengalir dari waktu ke waktu. Konsep Yin dan Yang sering dilambangkan dengan berbagai bentuk yang bervariasi dari simbol Taijitu, yang mana lebih umum dikenal pada kebudayaan barat.

Teori filsafat ini diadopsi dalam perancangan kawasan industri dan dapat menerapkannya dalam tata letak ruangan, warna, material dinding dan lantai, material perabotan, dll.

Diharapkan dengan hadirnya energi yin yang yang saling bersinergi, ruangan menjadi lebih seimbang, nyaman, dan memberikan energi positif bagi pengguna/user di kawasan industri.

Konsep yin dan yang diadopsi untuk meletakkan kawasan hijau yang mudah diakses oleh setiap clusternya. Disisi lain perlu ada penyediaan buffer terhadap kawasan industri semen, karena sedikit berbeda dengan pengembangan kondisi di KPI Seradang yang lebih berbasis pada agroindustri.

91 B. Program Ruang

Tabel 23 Rancangan Pembagian Ruang KI Seradang

Komponen Ukuran Jumlah Luas (m2)

Kavling Tipe 1 (50 x 100) m2 84 420.000

Kavling Tipe 2 (50 x 70) m2 198 693.000

Kavling Tipe 3 (25 x 60) m2 90 135.000

Kolam buatan

penampung air hujan

- 1 19.307

Management Office dan Pusat Informasi Lingkungan

- 1 18.900

RTH 20% kawasan 4 440.600

Musala 200 m2 6 1.200

Lapangan Parkir Umum 4.000 m2 4 16.000

Jalur Hijau

- Sepanjang jaringan jalan ROW 20, 30, dan 40

-

Lapangan 500 m2 5 2.500

Plasa 200 m2 5 1.000

Trotoar

Lebar 2-3,5 meter

Sepanjang jaringan jalan ROW 20, 30, dan 40

-

TPS 1.000 m2 4 4.000

Sirkulasi 23% kawasan - 506.690

TOTAL 2.258.197

Sumber : Hasil analisis tim, 2021

92 4.3.4. Masterplan dan Ilustrasi Perancangan

A. Masterplan Kawasan Industri Seradang

Gambar 31 Bird Eye View Kawasan Industri

93

Gambar 32 Bird Eye View dari Main Gate

94

Gambar 33 Jalur Masuk Utama

95

Gambar 34 Landmark Kawasan

96

Gambar 35 Ilustrasi Kantor Pengelola Kawasan Industri

97 B. Jaringan Jalan

Gambar 36 Peta Jaringan Jalan

98 Kegiatan yang akan dikembangkan dalam kawasan industri Seradang, Kabupaten Tabalong memerlukan dukungan infrastruktur jalan. Rancangan untuk program pembangunan jaringan jalan di kawasan industri Seradang, Kabupaten Tabalong terbagi menjadi Jaringan Jalan Primer, Sekunder, dan Tersier yang berbeda pada ROW jalannya.

Jaringan Jalan Primer

Jaringan jalan primer merupakan akses masuk dan keluar utama di kawasan perancangan.

Selain itu, jaringan jalan primer ini juga akan melayani kavling berukuran paling besar (50x100) meter. Jaringan jalan ini memiliki ROW 40, yang berarti lebar seluruhnya termasuk dengan pedestrian way dan drainase adalah 40 (empat puluh) meter. Jaringan jalan ini merupakan jalan yang memiliki 2 jalur dan masing-masing jalur memiliki 2 lajur. Pada samping kanan dan kiri merupakan pedestrian way dengan jaringan infrastruktur air bersih dan listrik serta drainase tertutup oleh lajur pedestrian. Median jalan sebesar 1 (satu) meter memisahkan 2 (dua) jalur yang dilengkapi dengan penerangan jalan umum (PJU) ditengahnya.

Secara ilustratif dapat dilihat pada penampang jalan berikut ini.

Gambar 37 Ilustrasi Jaringan Jalan ROW 40

99 Jaringan Jalan Sekunder

Jaringan jalan sekunder merupakan akses yang menghubungkan sub pusat kawasan dan pusat kawasan. Selain itu, jaringan jalan ini akan melayani kavling ukuran (50x70) meter.

Jaringan jalan ini memiliki ROW 30, yang berarti lebar seluruhnya termasuk dengan pedestrian way dan drainase adalah 30 (tiga puluh) meter. Jaringan jalan ini merupakan jalan yang memiliki 2 jalur dan masing-masing jalur memiliki 2 lajur. Pada samping kanan dan kiri merupakan pedestrian way dengan jaringan infrastruktur air bersih dan listrik serta drainase tertutup oleh lajur pedestrian. Median jalan sebesar 1 (satu) meter memisahkan 2 (dua) jalur yang dilengkapi dengan penerangan jalan umum (PJU) ditengahnya. Secara ilustratif dapat dilihat pada penampang jalan berikut ini.

100 Jaringan Jalan Tersier

Jaringan jalan tersier merupakan akses menuju kavling berukuran paling kecil, yaitu (25x60) meter. Jaringan jalan ini memiliki ROW 20, yang berarti lebar seluruhnya termasuk dengan pedestrian way dan drainase adalah 20 (duapuluh) meter. Jaringan jalan ini merupakan jalan yang memiliki 2 jalur dan masing-masing jalur memiliki 2 lajur. Pada samping kanan dan kiri merupakan pedestrian way dengan jaringan infrastruktur air bersih dan listrik serta drainase tertutup oleh lajur pedestrian. Median jalan sebesar 1 (satu) meter memisahkan 2 (dua) jalur yang dilengkapi dengan penerangan jalan umum (PJU) ditengahnya. Secara ilustratif dapat dilihat pada penampang jalan berikut ini.

C. Jaringan Drainase

Penyiapan masterplan kawasan industri Seradang, Kabupaten Tabalong untuk sistem jaringan saluran drainase yang merupakan sistem pembuangan air permukaan ini dirancang untuk mampu membuang air limpasan hujan dari lahan yang dirancang, yaitu 220,3 Hektar.

Perencanaan sistem jaringan drainase yang dibuat dengan mempertimbangkan sistem kontur kawasan yang merujuk kepada peta topografi yang diadopsi dari bahan penyusunan RDTR KPI Seradang bahwa di daerah kawasan industri Seradang mengalir anak sungai terdekat disebelah tenggara kawasan. Pola perataan kawasan industri Seradang akan dibuat semampu mungkin agar membuang air permukaan ke sungai tersebut.

Perencanaan sistem jaringan drainase di kawasan industri Seradang dipersiapkan dengan mengacu kepada data curah di kawasan di Kabupaten Tabalong. Disamping pemakaian data hidrologi, dalam upaya mencegah banjir di kawasan industri beberapa pertimbangan dilakukan seperti kemungkinan menyediakan pond sebagai tampungan sementara air buangan permukaan sebelum dibuang ke sungai utama. Namun demikian penyediaan pond ini merupakan suatu pilihan yang bisa dikaji lebih lanjut dalam tahapan detail design.

101 Kriteria perencanaan saluran drainase untuk kawasan industri Seradang adalah sebagai berikut:

1. Kapasitas saluran drainase direncanakan untuk menampung intensitas hujan lima tahunan;

2. Besaran debit air drainase ditentukan berdasarkan koefisien aliran drainase untuk industri, intensitas hujan dan luas area tangkapan hujan;

3. Debit air drainase disalurkan melalui saluran tertutup dan dibuang ke Sungai utama;

4. Di dalam perencanaan saluran drainase ini, aliran didesain dalam kondisi aliran yang sub-kritis sehingga jika kemiringan lahannya besar, maka perlu diadakan bangunan terjun;

5. Tinggi jagaan untuk saluran drainase utama minimum 50 cm dan untuk saluran drainase tersier minimum 30 cm;

6. Saluran drainase yang digunakan dapat berupa konstruksi pasangan batu aupun pre-cast concrete untuk pemakaian debit yang kecil sedangkan untuk debit yang besar bisa digunakan dengan konstruksi pengecoran di tempat (in-situ concrete);

7. Konstruksi bangunan terjun (drop structure) direncanakan untuk mengurangi kecepatan air didalam saluran yang berlebihan.

D. Jaringan Air Bersih

Kawasan industri Seradang direncanakan seluas 200,3 Ha membutuhkan air bersih untuk menjalankan segala aktivitasnya, baik aktivitas kawasan secara keseluruhan maupun aktivitas operasional pada setiap industri. Untuk melayani kebutuhan air bersih kawasan industri Seradang, direncanakan supply air bersih dari sumber mata air yang disalurkan melalui pipa PDAM kabupaten Tabalong. Selain itu, pengambilan air permukaan dari sungai yang berada di sekitar kawasan dan dari embung buatan yang dirancang untuk selanjutnya diolah menjadi air bersih menjadi opsi lain dengan tetap memerlukan pengolahan air bersih. Air bersih ditampung di dalam reservoir kemudian didistribusikan melalui pipa distribusi ke seluruh kavling-kavling dalam kawasan secara gravitasi.

Air bersih ditampung di dalam reservoir kemudian didistribusikan ke setiap industri. Apabila diperlukan pengolahan terhadap air tanah/baku maka dilakukan pengolahan terlebih dahulu di lokasi Water Treatment Plant untuk memenuhi standar mutu air bersih dan selanjutnya dimasukkan ke dalam reservoir. Distribusi air bersih direncanakan dengan menggunakan sistem gravitasi ke seluruh kawasan menggunakan Pipa PVC dengan variasi diameter disesuaikan dengan kebutuhan. Sistem water supply didesain agar memiliki tekanan minimal 1 bar.

Penentuan kebutuhan air bersih dihitung berdasarkan luas area terbangun dikalikan standar kebutuhan air per luas area terbangun. Selain daripada itu, jenis industri yang berlokasi di kawasan industri Seradang juga sangat mempengaruhi jumlah kebutuhan air bersih. Seperti misalnya kebutuhan air pada industri karet tentunya akan lebih besar dibandingkan dengan industri kayu. Penyediaan kebutuhan air bersih dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan perkembangan kawasan industri serta jenis-jenis industri yang akan dikembangkan nantinya. Untuk tahap awal pembangunan dibutuhkan kapasitas awal sebesar 1500 m3/hari.

102 E. Jaringan Ketenagalistrikan

Perhitungan kebutuhan daya listrik kawasan industri Seradang seusai dengan standar SNI untuk kebutuhan listrik di kawasan industri 100 KVA sampai dengan 200 KVA untuk setiap Ha.

Untuk industri besar / berat sampai 300 KVA per Ha. Dari analisa dan perhitungan yang dilakukan, konsumsi daya listrik untuk luasan 220,3 Ha diperlukan 24.85 MVA, namun kebutuhan aktualnya sangat tergantung kepada jenis industri yang masuk ke kawasan industri Seradang nantinya.

F. Jaringan Telekomunikasi

Kriteria perencanaan jaringan telekomunikasi merujuk kepada standar dan Peraturan Pemerintah Negara Indonesia yang berlaku. Perencanaan jaringan telekomunikasi fiber optik pada kawasan industri Seradang menggunakan jaringan Fiber Optik dari gerbang utama kawasan sampai ke tenant. Pilihan teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria yaitu:

1) Jenis layanan dan kapasitas yang handal.

2) Operasional dan Maintenance yang lebih sederhana.

3) Konfigurasi dan sistem yang lebih handal.

4) Penyesuaian antar perangkat yang kompatibilitas sesuai standar.

5) Material tidak memudar dan produksi terjamin.

6) Biaya yang lebih efektif.

7) Sebagai cadangan jika jaringan nirkabel memiliki masalah G. Sanitasi dan Pengolahan Limbah

Air limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri harus diolah agar memenuhi standar baku mutu air limbah yang dipersyaratkan sebelum dapat dibuang ke badan air, yaitu sungai.

Waste Water Treatment Plant (WWTP) diperlukan untuk mengolah air limbah agar memenuhi baku mutu air limbah sebelum dibuang ke badan air. Air limbah yang akan diolah di WWTP ini adalah air limbah yang berasal dari kegiatan industri dan kegiatan domestik.

Sistem Pengolahan Air Limbah yang akan diterapkan akan dikoordinasikan dengan konsultan ahli WWTP. Pilihan yang diambil bergantung pada jenis buangan limbah yang ada dan diproses dari masing-masing industri.

Kapasitas WWTP dihitung berdasarkan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh kawasan industri Seradang. Dibutuhkan satu unit WWTP untuk melayani kawasan seluas 220,3 Ha ini.

Desain untuk WWTP menggunakan sistem Activated Sludge Extended Aeration untuk mengurangi BOD, COD dan amonia sebelum air buangan dibuang ke sungai terdekat.

103

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. Kesimpulan

Kabupaten Tabalong memiliki keinginan kuat menetapkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) dengan harapan akan menjadi sebuah pusat pertumbuhan dan memberi manfaat bagi perekonomian. Pemerintah daerah, telah menetapkan beberapa kebijakan terkait pembangunan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI). Langkah mengembangkan kegiatan industri di Kabupaten Tabalong merupakan program strategis agar perekonomian daerah dapat tumbuh berdasar potensi ekonomi yang ada dan tidak bertumpu pada sektor primer yang selama ini ada. Potensi ekonomi yang dimiliki Kabupaten Tabalong perlu upaya agar terjadi hilirasasi yang pada akhirnya akan memberikan manfaat kepada masyarakat. Pembangunan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) menjadi Kawasan Industri (KI) merupakan program strategis yang dapat meningkatkan nilai tambah potensi sektor primer, selain itu makin terbuka kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal termasuk terjadinya percepatan pembangunan wilayah. Kawasan Industri (KI) yang akan dibangun di wilayah Seradang, Kabupaten Tabalong adalah suatu wilayah fungsional yang ditujukan untuk kegiatan pelayanan bagi aktivitas industri. Berdasar pemahaman tersebut maka dibutuhkan informasi yang dapat dijadikan dasar membangun Kawasan Industri (KI). Selain itu daya saing Kabupaten Tabalong perlu didorong melalui peran pemerintah daerah dengan memfasilitasi kegiatan pelaku usaha di dalam Kawasan Industri (KI) berupa kemudahan-kemudahan yang mengarah pada efisiensi.

Tahapan pembangunan Kawasan Industri (KI) di Kabupaten Tabalong (berlokasi di desa Seradang) harus didasarkan pada rencana induk atau yang dikenal sebagai “masterplan”.

Rencana induk atau masterplan, menguraikan dan menggambarkan bentuk suatu kawasan perkotaan yang diusulkan, umumnya berupa rencana transportasi dan lalu lintas, rencana fasilitas umum, lingkungan sekitar dan perumahan, taman dan ruang terbuka, penggunaan lahan dan pembangunan ekonomi. Pembangunan Kawasan Industri (KI) juga didasarkan pada arahan kebijakan tata ruang (RTRW Kabupaten Tabalong maupun RDTR KPI Seradang yang telah ditetapkan). Secara aspek ekonomi perencanaan pembangunan Kawasan Industri (KI) perlu mempertimbangkan cakupan bisnis lebih luas, termasuk pemanfaatan potensi sumber daya lokal. Pertimbangan untuk meningkatkan nilai ekonomi atas kelimpahan potensi sumber daya lokal perlu difasilitasi, salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan menginisiasi pembangunan Kawasan Industri (KI). Dengan harapan keberadaan Kawasan Industri (KI) akan memberikan manfaat berupa peningkatan kegiatan industri, kesejahteraan masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal.

Potensi Kabupaten Tabalong berdasar perhitungan analisis Location Quotient (LQ) memberikan hasil, sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor paling dominan dalam perekonomian. Namun hasil perhitungan dari analisis LQ, tahun 2016 sektor informasi dan komunikasi mulai menjadi sektor yang menggerakkan perekonomian Kabupaten Tabalong. Dengan terjadinya penurunan peran sektor pertambangan dan penggalian sebagai

104 dampak tidak langsung pandemi COVID 19, maka perubahan tersebut perlu dimaknai dengan bijak. Menumbuhkan aktivitas sektor lain perlu terus diupayakan agar ketergantungan terhadap sektor primer berkurang dan mendorong tumbuhnya aktivitas sektor sekunder (dalam hal ini kegiatan sektor industri pengolahan). Langkah untuk mendorong berkembangnya kegiatan industri pengolahan dapat dilakukan dengan mendorong hilirasi potensi unggulan daerah. Sebagai daerah yang memiliki hasil perkebunan yang sebagian besar menjadi mata pencaharian masyakarat, perlu kebijakan yang memberikan manfaat peningkatan nilai tambah melalui kegiatan industri.

Pengembangan ekonomi Kabupaten Tabalong berdasar hasil analisis Shift Share (SS), selama tahun 2011 hingga 2019 cukup bervariasi. Sektor pertambangan masih menjadi sektor penting, walaupun pada tahun 2020 aktivitas sektor pertambangan mengalami penurunan.

Dampak tersebut juga berpengaruh pada sektor lain, namun demikian ada beberapa sektor yang masih memberikan nilai positif antara lain sektor pengadaan listrik dan gas; pengadaan air; informasi dan komunikasi; jasa keuangan; real estat dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Beberapa sektor tersebut memiliki peran penting dalam menggerakkan kegiatan perekonomian Kabupaten Tabalong.

Perekonomian wilayah baik tingkat Provinsi, khususnya Kabupaten Tabalong berdasar analisis LQ dan SS dapat menjadi dasar dalam melihat kebijakan pembangunan kedepan (khususnya dalam upaya pengembangan kegiatan industri). Langkah pengembangan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang menjadi Kawasan Industri (KI) perlu didasarkan pada beberapa hal. Pertama, wilayah Provinsi dan Kabupaten Tabalong secara umum mempunyai kemiripan sektor unggulan. Spesialisasi tersebut relatif homogen dimana dapat dimaknai sebagai wilayah dengan faktor endowment sama. Kedua, upaya penguatan sektor industri berdasar analisis SS memberikan gambaran perlunya strategi khusus agar pengembangan sektor industri memiliki keunggulan dari wilayah lain. Berdasar dua hal tersebut perencanaan pendirian Kawasan Industri di wilayah Seradang, Kabupaten Tabalong disarankan basis kegiatan agrobisnis, tidak hanya menambah kontribusi nilai tambah, melainkan juga berpotensi memberikan limpahan ekonomi bagi Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi sekitar.

Kegiatan industri di Kabupaten Tabalong untuk menjadi pionir dalam industri agribisnis kan dikuatkan dengan adanya rencana pembangunan kawasan industri. Langkah pengembangan agribisnis di Kabupaten Tabalong, berdasarkan hasil survei Industri Besar dan Sedang (IBS) tahun 2015 menjadi niscaya karena bahan baku karet remah (crumb rubber) sangat besar potensinya. Selain itu ada beberapa kegiatan industri yang telah ada di Kabupaten Tabalong, antara lain industri semen, kayu lapis, industri minyak mentah kelapa sawit, reparasi produk

Kegiatan industri di Kabupaten Tabalong untuk menjadi pionir dalam industri agribisnis kan dikuatkan dengan adanya rencana pembangunan kawasan industri. Langkah pengembangan agribisnis di Kabupaten Tabalong, berdasarkan hasil survei Industri Besar dan Sedang (IBS) tahun 2015 menjadi niscaya karena bahan baku karet remah (crumb rubber) sangat besar potensinya. Selain itu ada beberapa kegiatan industri yang telah ada di Kabupaten Tabalong, antara lain industri semen, kayu lapis, industri minyak mentah kelapa sawit, reparasi produk