BAB 3 PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI DI KABUPATEN TABALONG : ANALISIS
3.1. Potensi Ekonomi dan Industri Kabupaten Tabalong
3.1.2 Perbandingan Ekonomi Kabupaten Tabalong dengan Kota/ Kabupaten Sekitar
perekonomian dari wilayah Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil perhitungan indeks Williamson dapat dijadikan ukuran untuk membandingkan kesenjangan perekonomian wilayah Kabupaten Tabalong dengan wilayah Kabupaten terdekat atau berdekatan secara geografis dan administrasi (Hulu Sungai Utara dan Balangan). Nilai indeks Williamson Kabupaten Tabalong secara agregat relatif sama dengan Kabupaten Balangan namun masih dibawah Kabupaten Hulu Sungai Utara (tabel 12). Nilai indeks Williamson Kabupaten Tabalong memberikan indikasi adanya perbaikan pada tahun 2020, kebijakan pembangunan Kabupaten Tabalong secara agregat telah memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor perekonomian. Namun demikian langkah perbaikan tersebut perlu diupayakan secara terus menerus. Pembangunan KPI Seradang menjadi kawasan industri merupakan salah satu upaya agar perbaikan kinerja sektoral perekonomian Kabupaten Tabalong dapat terwujud. Pada akhirnya kesenjangan secara agregat dapat diturunkan yang ujungnya terjadi peningkatan kesetaraan masyarakat secara luas.
47 Tabel 12 Kesenjangan Ekonomi Kota/ Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan
Kota/Kabupaten 2016 2017 2018 2019* 2020**
TANAH LAUT 0.008185 0.00973 0.010676 0.011328 0.027115
KOTA BARU 0.185264 0.183679 0.182462 0.182269 0.160985
BANJAR 0.131026 0.13224 0.348376 0.130991 0.148084
BARITO KUALA 0.115426 0.114055 0.113248 0.11109 0.121242
TAPIN 0.014112 0.01447 0.014815 0.01578 0.00484
HULU SUNGAI SELATAN 0.094081 0.092156 0.089933 0.087421 0.096528 HULU SUNGAI TENGAH 0.112735 0.111338 0.11034 0.108735 0.117796 HULU SUNGAI UTARA 0.134914 0.134006 0.132904 0.131113 0.139101
TABALONG 0.225038 0.218455 0.212784 0.21125 0.188525
TANAH BUMBU 0.131162 0.122936 0.116018 0.111024 0.090422
BALANGAN 0.246022 0.23666 0.228827 0.225303 0.206858
BANJARMASIN 0.019259 0.013816 0.007481 0.001865 0.019426 BANJAR BARU 0.063282 0.063186 0.062925 0.060704 0.075846 Sumber: BPS (2021), diolah kembali
Berdasarkan perhitungan indeks Williamson dengan menggunakan data pengeluaran rumah tangga (Tabel 13) dapat disimpulkan tingkat kesejahteraan di Kabupaten Tabalong relatif merata. Kondisi tersebut semakin tampak jika dibandingkan dengan berbagai Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Meskipun hasil perhitungan indeks kesenjangan Williamson menunjukkan secara umum ketimpangan dari sisi pendapatan daerah dan pengeluaran rumah tangga dikategorikan rendah (<0.3), namun secara rerata masih tergolong tinggi bersama dengan Kabupaten Balangan, Kota Banjarmasin dan Kota Banjar Baru. Rendahnya perputaran uang masuk di Kabupaten
Tabel 13 Kesenjangan Pengeluaran Rumah Tangga Kota/ Kabupaten di Provinsi
Kota/Kabupaten 2016 2017 2018 2019* 2020**
TANAH LAUT 0.009317 0.027537 0.023016 0.040545 0.022699
KOTA BARU 0.00022 0.025624 0.023054 0.011179 0.023243
BANJAR 0.001126 0.019518 0.031421 0.018222 0.027236
BARITO KUALA 0.032057 0.076314 0.03109 0.051587 0.057921
TAPIN 0.032279 0.014397 0.009488 0.02083 0.000966
HULU SUNGAI SELATAN 0.023152 0.040797 0.040547 0.059397 0.047795 HULU SUNGAI TENGAH 0.078771 0.062257 0.062581 0.058018 0.067074 HULU SUNGAI UTARA 0.044908 0.03265 0.020528 0.046048 0.050871
TABALONG 0.004408 0.036865 0.008828 0.034719 0.065623
TANAH BUMBU 0.021508 0.025616 0.043104 0.052736 0.016637
BALANGAN 0.02668 0.031877 0.044175 0.052486 0.027089
BANJARMASIN 0.052992 0.110399 0.088657 0.089386 0.087848 BANJAR BARU 0.11015 0.094733 0.087543 0.110749 0.152209 Sumber: BPS (2021), diolah kembali
48 3.1.3. Konsentrasi Pasar Industri Besar Kabupaten Tabalong
Kegiatan industri di Kabupaten Tabalong berdasarkan hasil survei Industri Besar dan Sedang (IBS) tahun 2015, terdapat 6 perusahaan besar yang telah beroperasi (tabel 14). Beberapa industri yang ada di Kabupaten Tabalong sesuai data IBS tahun 2015 antara lain industri minyak mentah kelapa sawit, kayu lapis, karet remah (crumb rubber), semen, reparasi produk logam siap pasang dan reparasi mesin untuk keperluan khusus.
Penyerapan tenaga kerja pada industri minyak mentah kelapa sawit dilihat dari jumlah tenaga kerja paling tinggi dibanding industri lain yang ada di Kabupaten Tabalong. Namun, tingginya serapan tenaga kerja pada industri minyak mentah kelapa sawit tidak sejalan dengan penciptaan output (produksi). Penciptaan produksi terbesar dari kegiatan industri yang ada di Kabupaten Tabalong dihasilkan dari industri karet remah. Artinya efisiensi penggunaan input tenaga kerja lebih baik industri karet dibanding industri minyak mentah kelapa sawit.
Dalam melihat aktivitas industri, paling penting adalah penciptaan nilai tambah dari berbagai input yang ada. Penciptaan nilai tambah terbesar dari kegiatan industri di Kabupaten Tabalong berasal dari aktivitas industri semen, walaupun dari sisi penggunaan tenaga kerja relatif kecil.
Tabel 14 Kinerja Industri di Kabupaten Tabalong
Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, BPS (2015), diolah kembali
Aktivitas industri di Kabupaten Tabalong perlu terus dikembangkan untuk mendorong perekonomian, selain itu mengurangi ketergantungan terhadap kegiatan pertambangan.
Untuk melihat kinerja kegiatan industri dilakukan perhitungan indeks Herfindahl-Hirschman (IHH). Perhitungan IHH merupakan rasio konsentrasi pasar dari jumlah absolut beberapa aktivitas industri di pasar. Konsentrasi pasar memberikan gambaran seberapa besar pengaruh dari kegiatan yang dijalankan perusahaan dalam industri terhadap total pasar. Indeks
49 tersebut memiliki rentang angka 0 – 10,000. Angka 0 menunjukkan pasar persaingan sempurna dan angka 10,000 representasi monopoli. Kegiatan industri yang ada di Kabupaten Tabalong sesuai konsentrasi industri yang ada antara lain minyak mentah kelapa sawit, kayu lapis, karet remah, semen dan reparasi mesin.
Hasil perhitungan indeks Herfindahl-Hirschman (IHH) terhadap konsentrasi industri yang ada di Kabupaten Tabalong dibandingkan dengan industri yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan tersaji pada tabel 15. Kegiatan usaha perusahaan dalam industri semen memiliki angka 10,000 yang artinya industri semen di Kabupaten Tabalong menguasai pasar di wilayah Kalimantan Selatan (bahkan mungkin seluruh pulau Kalimantan). Sedangkan untuk industri minyak mentah kelapa sawit dengan angka 23 sangat kecil dalam pasar minyak mentah kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan untuk industri kayu lapis juga masih rendah terhadap pasar kayu lapis Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan usaha yang ada dalam industri karet remah dan reparasi mesin yang ada di Kabupaten Tabalong memiliki angka IHH sebesar 2,880 dan 4,964. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa kegiatan industri karet dan reparasi mesin memiliki pengaruh terhadap pasar industri yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan.
Tabel 15 Perhitungan Indeks Herfindahl-Hirschman
Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, BPS (2015), diolah kembali
3.2. Kebijakan Pembangunan dalam Pengembangan Kawasan Industri 3.2.1 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Tabalong
Indikator pembangunan ekonomi sebuah wilayah secara sederhana dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi dan kualitas indeks pembangunan manusianya. Pada kurun waktu 2016- 2020, pertumbuhan ekonomi di kabupaten Tabalong mengalami kontraksi yang signifikan akibat pandemi COVID-19 di awal tahun 2020 (lihat gambar 7). Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi selama pandemi lebih disebabkan oleh melemahnya komponen pengeluaran terutama untuk ekspor dan impor, konsumsi pemerintah dan konsumsi akhir lembaga non-profit yang melayani kebutuhan barang dan jasa rumah tangga. Sedangkan
KBLI Nama Industri HH Indeks Provinsi Kalimatan Selatan
HH Indeks Kabupaten Tabalong
10431 Minyak Mentah Kelapa Sawit 2,786 23 16211 Kayu Lapis 7,759 146 22123 Karet Remah 4,552 2,880 23941 Industri Semen 10,000 10,000 33122 Reparasi Mesin 5,837 4,964
50 penyumbang pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk yang meningkat.
Gambar 8 Pertumbuhan Ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Tabalong 2016-2020
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tabalong, 2021 (diolah kembali)
Disisi lain, tingginya sumber daya alam di Kabupaten Tabalong yang berkontribusi tinggi bagi pembangunan daerah tidak diikuti oleh tingginya indeks pembangunan manusia. Rendahnya skor IPM di bawah rata-rata nilai IPM Provinsi Kalimantan Selatan, mengindikasikan bahwa kebijakan pembangunan masih dikategorikan high growth – less pro human development (Bappenas 2015). Sehingga, tantangan pemerintah daerah adalah menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan peningkatan mutu pelayanan publik terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Perlu menjadi catatan bahwa tingginya pertumbuhan ekonomi yang didukung dari resources-based industri rentan terhadap gejolak perubahan dengan tingkat keberlanjutan yang rendah (Nelson and Pack 1999). Dari aspek pengeluaran pemerintah, pola perencanaan pembangunan di Kabupaten Tabalong lebih mengutamakan kebijakan yang pro-growth daripada pro-poor, pro-job maupun pro-good governance. Sementara hasil penelitian Izzati (2018), menunjukkan lemahnya hubungan antara pertumbuhan ekonomi terhadap pengurangan angka kemiskinan di Kabupaten Tabalong. Seyogyanya, perencanaan dan pembangunan ekonomi Kabupaten Tabalong dapat ditinjau ulang, dengan memberikan porsi dan alokasi anggaran yang seimbang (balance) antara pembangunan sektor fisik (infrastruktur) dengan pembangunan psikis yang terkait langsung dengan capaian tingkat pendidikan dan kesehatan mental dan sosial masyarakatnya.
3.14 3.47 3.78 3.67
51 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Tabalong 2020 – 2024 di desain untuk mendukung agenda ketiga RPJMN IV yakni, “Meningkatkan SDM berkualitas dan berdaya saing, yang dititikberatkan pada pemenuhan layanan dasar”. Sehingga kebijakan umum pembangunan daerah harus diarahkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan guna memperkuat konektivitas nasional dan mencapai keseimbangan pembangunan, mempercepat penyediaan infrastruktur dasar (perumahan, air bersih, sanitasi dan listrik), menjamin ketahanan air, pangan dan energi. Pembangunan infrastruktur ini ditujukan untuk mendukung ketahanan nasional dan mengembangkan sistem transportasi massal perkotaan, yang ke semuanya dilaksanakan secara terintegrasi dengan meningkatkan peran kerja sama pemerintah dan swasta.
Strategi dan program pembangunan Kabupaten Tabalong dalam menerjemahkan visi-misi daerah khususnya yang terkait dengan pembangunan infrastruktur wilayah dijabarkan dalam beberapa kegiatan yang akan dilakukan. Kebijakan peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur wilayah dilaksanakan dengan melakukan kegiatan, antara lain :
a) Pembangunan jalan dan jembatan
b) Rehabilitasi/ pemeliharaan jalan dan jembatan c) Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong d) Pembangunan infrastruktur perdesaan
e) Pembangunan turap/talud/bronjong f) Pembangunan infrastruktur perdesaan g) Pengembangan perumahan
h) Pengaturan dan Pengawasan jasa konstruksi i) Pengendalian dan pengamanan lalu lintas
j) Perencanaan pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh
k) Pembangunan/rehabilitasi/pemeliharaan/pengendalian prasarana dan sarana perhubungan
l) Peningkatan kelaikan pengoperasian kendaraan bermotor m) Pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan n) Peningkatan pelayanan angkutan
o) Pengelolaan areal pemakaman
Dalam konteks ini, pemenuhan dan pelayanan kebutuhan dasar yang terjamin menjadi modal dasar daerah untuk mempromosikan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya kepada investor maupun pemangku kepentingan lainnya guna mewujudkan masyarakat madani yang adil, makmur, sejahtera dan agamis sesuai dengan misi pemerintah Kabupaten Tabalong 2020 – 2024.
52 Perlu menjadi catatan, Kabupaten Tabalong belum termasuk dalam Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) 22 Palangkaraya – Banjarmasin – Batulicin, ataupun Kawasan Banjarbatula (Banjar-Martapura-Banjar Baru-Batola-Tanah Laut), diharapkan di masa depan Kabupaten Tabalong dapat menjadi salah satu penerima manfaat dari berbagai pembangunan infrastruktur yang telah direncanakan dalam WPS Palangkaraya-Banjarmasin-Batulicin dan Kawasan Banjarbatula. Pembangunan anjungan cerdas, rencana pembangunan perkeretaapian, perluasan jalan Kabupaten/Kota dan Provinsi akan memudahkan investor untuk memulai bisnisnya di Kabupaten Tabalong yang secara geografis berada dibagian ujung wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dan minim akses transportasi (hanya trasportasi darat) untuk sampai di kota Tanjung, sebagai Ibukota Kabupaten Tabalong.
Berdasar kebijakan tata ruang wilayah, kegiatan ekonomi di Kabupaten Tabalong masih terpusat di Kecamatan Tanjung dan Murung Pundak sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008, sistem perkotaan nasional terdiri atas Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Terkait dengan isu strategis nasional, Ibukota Negara baru di Kabupaten Penajam Paser Utara (Provinsi Kalimantan Timur) yang berjarak kurang lebih 242 Km dari wilayah perbatasan Kabupaten Tabalong, seharusnya menjadi momentum bagi Kabupaten Tabalong untuk dikembangkan sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN). Namun, merujuk pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2015-2035, daerah yang ditetapkan sebagai PKN adalah Kota Banjarmasin, Amuntai, Martapura, Marabahan dan Kota Baru sebagai daerah PKWnya.
Untuk menjawab isu tersebut dan sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan wilayah di sekitar Kabupaten Tabalong, pemerintah daerah perlu mempersiapkan berbagai pemenuhan fasilitas publik, melalui pembangunan infrastruktur dan perencanaan strategis untuk mengurangi disparitas antar wilayah. Sebagai contoh, infrastruktur jalan arteri primer hanya tersedia di Kecamatan Tanjung. Kondisi berdampak pada minimnya moda transportasi umum di Kecamatan lainnya sebagai akibat minimnya infrastruktur jalan yang memadai.
Permintaan akan moda transportasi umum yang layak untuk aktivitas ekonomi warga setempat cukup tinggi, yang terlihat dari geliat aktivitas ekonomi yang cukup intens. Untuk mendukung peningkatan konektivitas antar wilayah produksi dengan kawasan industri yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, dan berbagai sarana transportasi pelabuhan dan bandara, pembangunan jalan dan jembatan perlu segera direalisasikan.
Kegiatan pembangunan fasilitas jalan sejatinya dapat diparalelkan dengan pembangunan infrastruktur publik lainnya seperti kesehatan, pendidikan, sarana peribadatan, perdagangan dan jasa. Berdasarkan hasil perhitungan Skalogram yang dilakukan oleh Hutabarat (2020),
53 hirarki pusat pertumbuhan berdasarkan kelengkapan fungsi pelayanan menetapkan Kecamatan Murung Pundak berada di hirarki tertinggi yang diikuti oleh Kecamatan Tanjung di posisi kedua dan Kecamatan Kelua di posisi ketiga. Sedangkan sembilan kecamatan lainnya berada di urutan kelima dari orde hirarki pelayanan umum, fasilitas, sarana dan prasarana pembangunan.
3.2.2. Kebijakan Sektor Industri di Kabupaten Tabalong
Dalam perencanaan pembangunan sektor industri, sasaran dan target capaian kinerja sektor industri di Kabupaten Tabalong Tahun 2019 – 2039 tersaji dalam tabel 17. Perencanaan ini perlu mendapatkan perhatian serius mengingat data BPS menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor industri manufaktur, usaha kecil dan mikro di Kabupaten Tabalong tahun 2019 sebesar 2,83 persen. Sedangkan, pertumbuhan industri di Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 9,28 persen dan pertumbuhan sektor ini untuk skala nasional kurang lebih 4 persen. Di tahun 2020, sektor ini terpuruk -3.71 persen akibat dampak pandemi COVID-19. Sehingga, perlu upaya keras dalam masa pemulihan perekonomian paska pandemi COVID-19 agar sasaran pertumbuhan sektor industri di tahun 2039 dapat tercapai.
Tabel 16 Sasaran Pembangunan Industri Kabupaten Tabalong 2019 - 2039
No Sasaran Baseline
750.606 1.013.312 1.266.640 1.583.310 1.979.139 4 Jumlah tenaga
4.472.970 4.584.798 4.653.570 4.732.370 4.842.875 Sumber: RIPK-Bappeda, 2020
*Angka prediksi
Tahapan pembangunan industri di Kabupaten Tabalong disusun dalam RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) yang mengacu pada rencana pembangunan industri nasional. Tahap pertama yang direncanakan tahun 2019-2024, pembangunan sektor hulu industri unggulan yang diikuti dengan pembangunan industri pendukung dan andalan secara selektif melalui penyiapan SDM yang ahli dan kompeten. Tahap kedua (2024-2029) disusun untuk meningkatkan dan mengembangkan sektor industri unggulan melalui sistem inovasi daerah dan teknologi yang mampu mendorong kreativitas masyarakat. Di lima tahun ketiga (2029-2034), pembangunan sektor industri dimaksudkan untuk mencapai daya saing
54 perekonomian daerah melalui proses hilirisasi potensi wilayah dengan dukungan pada penguatan struktur industri dan penguasaan teknologi dari sumber daya manusia yang berkualitas. Di tahap terakhir (2034-2039), arah rencana pembangunan industri ditujukan untuk mencapai visi dan misi daerah yaitu ‘Kabupaten Tabalong yang maju, berdaya saing, dan terintegrasi, pengembangan industri berbasis pada sumber daya lokal, berkelanjutan dan bertanggungjawab sosial’.
Sebagaimana termaktub dalam Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2020 tentang rencana pembangunan industri tahun 2019 – 2039 pasal 7 ayat 1, industri unggulan daerah yang dapat dikembangkan adalah 1) industri agro; 2) industri sandang; 3) industri kimia dan bahan bangunan; dan 4) industri logam dan elektronika. Industri tersebut menjadi industri prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK) untuk kurun waktu 20 tahun dan ditinjau Kembali setiap lima (5) tahun.
Tabel 17 Industri Unggulan Kabupaten Tabalong
No Industri Unggulan Jenis Industri
1 Industri Agro Industri pengolahan hasil Pertanian Tanaman Pangan
a. Pengolahan beras putih dan beras merah
b. Gula aren
c. Pengolahan ubi kayu
d. Pengolahan tahu dan tempe e. Kacang sate
f. Pengolahan tanaman pangan lainnya
Industri pengolahan hasil
perkebunan a. Pengolahan karet
b. Pengolahan kayu tanaman non produktif
perikanan a. Kerupuk ikan haruan b. Kerupuk amplang patin c. Ikan kering
d. Abon ikan patin, abon ikan haruan e. Bakso ikan
f. Pengolahan perikanan lainnya Industri pengolahan hasil
hutan a. Kusen, jendela dan pintu
b. Mebel kayu
c. Pengolahan hasil hutan lainnya 2 Industri sandang Industri sandang a. Batik/sasirangan khas Tabalong
b. Jasa industri sandang
55
No Industri Unggulan Jenis Industri
3 Industri kimia dan bahan bangunan
Industri kimia dan bahan
bangunan a. Bangunan berbahan dasar semen b. Detergen dan pewangi
c. Kimia, jasa industri kimia dan bahan bangunan lainnya
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan sektor unggulan didasarkan pada 10 aspek yaitu; 1) Nilai tambah ekonomis bagi pendapatan daerah; 2) Nilai tambah sosial dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal; 3) Ketersediaan bahan baku secara kontinu; 4) Volume pemasaran yang memadai; 5) Mendukung kebijakan prioritas daerah dan nasional;
6) Dukungan sumber daya manusia yang memadai; 7) Mengangkat keunikan dan kekhasan daerah; 8) Kesiapan dan penerimaan masyarakat atas komoditas terpilih; 9) Kesiapan pemerintah untuk mengembangkan komoditas terpilih; 10) Kesiapan pelaku usaha. Pilihan prioritas pengembangan keempat sub-sektor industri ini perlu didukung percepatannya dengan menyediakan hard tool maupun soft tool investasi. Langkah-langkah strategis guna mencapai sasaran dan capaian pembangunan industri yang telah ditetapkan sebagai berikut:
1. Penguatan pasokan bahan baku industri yang berkualitas dan berkelanjutan.
2. Mengembangkan industri hulu dan industri antara berbasis sumber daya alam 3. Meningkatkan penguasaan teknologi dan kualitas sumber daya manusia industri 4. Mendorong pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana industri yang
terorganisasi
5. Unit pelayanan teknis khusus untuk pengelolaan industri potensial.
6. Kerja sama antar institusi terkait (Nasional, pusat – daerah, lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat, Pendidikan, dan institusi lainnya).
3.2.3 Pembangunan Kawasan Industri
Pembangunan kawasan industri Seradang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 yang diperbarui dengan PP Nomor 142 Tahun 2015 tentang Kawasan Industri.
Peraturan Pemerintah tersebut dikeluarkan untuk memberikan panduan proses pendirian, penyelenggaraan dan pengawasan usaha di kawasan industri. Peraturan pelaksananya terdapat di Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 30 Tahun 2020.
Peraturan tersebut dimaksudkan mengakomodasi strategi kebijakan pembangunan nasional tentang pengelompokan wilayah negara kesatuan republik Indonesia yang disebut sebagai Wilayah Pengembangan Industri (WPI). WPI dibentuk berdasarkan keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan sumber daya dan fasilitas pendukungnya serta memperhatikan jangkauan pengaruh kegiatan pembangunan industri. Oleh karena itu pembangunan infrastruktur industri yang termasuk didalamnya pembangunan Kawasan Peruntukan Industri
56 (KPI) dan Kawasan Industri (KI) perlu diselenggarakan dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan di bidang industri.
Menurut pasal 2 PP No 142/2015, pembangunan kawasan industri ditujukan untuk a) mempercepat penyebaran dan pemerataan pembangunan industri; b) meningkatkan upaya pembangunan industri yang berwawasan lingkungan; c) meningkatkan daya saing investasi dan daya saing industri; c) memberikan kepastian lokasi sesuai tata ruang. Di dalam pasal 5, PP ini juga mengatur kewenangan Gubernur atau Bupati/Walikota untuk merencanakan pembangunan Kawasan industri, penyediaan infrastruktur industri, pemberian kemudahan dalam perolehann/pembebesan lahan pada wilayah daerah yang diperuntukkan bagi pembangunan kawasan industri. Selain itu pemerintah daerah melalui koordinasi dengan pemerintah pusat diharapkan dapat memberikan pelayanan terpadu satu pintu sesuai dengan peraturan perundang-undangan; pemberian insentif dan kemudahan lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; penataan industri untuk berlokasi di kawasan industri; dan pengawasan pelaksanaan pembangunan kawasan industri.
3.2.3.1 Kawasan Industri di Provinsi Kalimantan Selatan
Dalam RPJMN 2020-2024 disebutkan bahwa arah kebijakan pembangunan seluruh wilayah Provinsi Kalimantan ditujukan untuk penguatan lumbung energi nasional dan sebagai paru-paru dunia. Untuk mewujudkannya strategi yang dikembankan adalah dengan memperkuat produk unggulan daerah. Pembangunan kawasan industri yang terintegrasi dengan baik adalah harapan yang diturunkan dari misi pembangunan industri di daerah selama 20 tahun mendatang. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, sistem inovasi dan distribusi yang efektif dan efisien, mendorong tumbuhnya industri kreatif yang integratif dari hulu hingga hilir, mempromosikan penggunaan produk dalam negeri serta mendorong prinsip people, planet dan profit (3P) untuk keberlanjutan usaha yang ramah terhadap lingkungan, sejatinya dapat diterapkan dalam lingkup kawasan industri. Praktik baik yang ditonjolkan oleh kegiatan bisnis di kawasan industri tidak hanya berkontribusi positif bagi perekonomian daerah, namun juga menjadi panutan bagi pebisnis lainnya di luar kawasan industri.
57
Gambar 9 Sebaran KEK, KIT, KIK dan KPI di Provinsi Kalimantan Selatan Sumber : Paparan Gubernur Kalimantan Selatan, tidak dipublikasikan, 2021
Pengembangan zonasi ekonomi khusus dan pengembangan kawasan industri di Provinsi Kalimantan Selatan ditujukan untuk menarik investasi dan pengembangan daya saing daerah yang pada gilirannya dapat berkontribusi bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam sosialisasi Permenperin No. 30 Tahun 2020 ditegaskan perbedaan antara Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zones) dengan Kawasan Industri Terpadu, Kawasan Peruntukan Industri dan Kawasan Industri cukup jelas dari sisi perijinan, pembiayaan, ketersediaan fasilitas, dan pelaku usaha yang mengembangkan bisnis di masing-masing kawasan prioritas.
Hingga saat ini terdapat 1 kawasan ekonomi khusus yaitu KEK Mekar Putih di Kabupaten Kotabaru, 2 Kawasan Industri yaitu KI Jorong (KIJ) di Kabupaten Tanah Laut, dan KI Batulicin (KIB) di Kabupaten Tanah Bumbu, 1 Kawasan Peruntukan Industri di Kabupaten Tabalong, dan 2 Kawasan Industri Terpadu yaitu KIT Mantuil di Kota Banjarmasin dan TIIPE (Tapin Integrated Industrial and Port Estate) Candi Laras Utara dan Selatan di Kabupaten Tapin. KIB dan KIJ termasuk dalam Pusat Strategi Nasional dan perlu dilakukan quick wins. Tabel 18 menyajikan progres perkembangan dan peruntukan kawasan industri berdasarkan tingkat permasalahan dan rencana aksi untuk mengatasi berbagai masalah pengembangan kawasan industri.
58
Tabel 18 Tantangan dan Rencana Aksi Kawasan Industri di Kalimantan Selatan
KAWASAN PERUNTUKAN MASALAH RENCANA AKSI
KIB Perkebunan, kehutanan,
KEK MP Pengolahan industri bijih besi (baja), petrokimia
KIT TAPIN Kawasan industri modern yang terintegrasi dengan
Sumber: Tim penulis, disarikan dari berbagai sumber diolah, 2021
Berbagai kendala yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam mengembangkan kawasan industri beragam, meskipun dari sisi perencanaan sudah baik dan kelengkapan dokumen administrasi juga memadai. Kesulitan utama pengelolaan kawasan industri di Provinsi Kalimantan Selatan dari beberapa informasi adalah minimnya perusahaan yang berminat untuk mengelola kawasan industri. Faktor-faktor yang mempengaruhi minimnya investor untuk berinvestasi di kawasan industri sering kali terganjal oleh aspek legalitas/perijinan perusahaan pengelolaan kawasan, kesesuaian tata ruang dan lahan yang Clear dan Clean, promosi investasi kurang efektif mendatangkan investor baru, jaminan kenyamanan berusaha bagi investor dalam kawasan, infrastruktur yang belum memadai dan minimnya insentif baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
59 3.3. Kawasan Peruntukan Industri Seradang
Pembangunan Kawasan industri menurut amanah PP No 142/2015 harus berada di Kawasan Peruntukan Industri dan dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Untuk pengembangan industri-industri terpilih yang nantinya akan melakukan aktivitas bisnis di kawasan Industri harus sesuai dengan Rencana Pembangunan industri kabupaten (RPIK).
Penyusunan RPIK menjadi satu kesatuan dengan RPIP (Rencana Pembangunan Industri Provinsi) dan RPIN (Rencana Pembangunan Industri Nasional) sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.
Terkait dengan perumusan masterplan kawasan industri yang berada di wilayah Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang akan mengusung industri yang berbasis sumber daya alam lokal di Kabupaten Tabalong. Potensi wilayah yang luas, sumber daya alam yang melimpah
Terkait dengan perumusan masterplan kawasan industri yang berada di wilayah Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang akan mengusung industri yang berbasis sumber daya alam lokal di Kabupaten Tabalong. Potensi wilayah yang luas, sumber daya alam yang melimpah