BAB 4 MASTERPLAN KAWASAN INDUSTRI
A. Prinsip Perancangan
dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik.
Selain itu, prinsip perancangan dapat dikatakan sebagai arahan penataan yang mengikat berbagai komponen yang ada dalam kawasan.
Gambar 6 Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Masterplan Pusat KPI Seradang
Setelah perumusan prinsip perancangan kawasan industri maka penyusunan program ruang terhadap kebutuhan pengembangan dilakukan dengan mempertimbangkan delapan elemen perancangan kota (urban design elements) yang dikemukakan oleh Shirvani (1985), meliputi penggunaan lahan, tata masa dan bentuk bangunan, sirkulasi dan parkir, preservasi, pendukung aktivitas, signage, jalur pejalan kaki, dan ruang terbuka. Delapan elemen ini menjadi landasan analisis terhadap perancangan kawasan secara makro dalam tahap
34 visioning ini, baik penyusunan prinsip perancangan maupun pertimbangan program ruang kawasan. Visioning juga dapat mempertimbangkan tujuan perancangan kawasan yang diharapkan oleh stakeholders terkait, baik itu pemerintah, masyarakat, dan swasta.
Masterplan merupakan proses terakhir pada tahap desain perancangan kawasan yang nantinya dapat didetailkan melalui rancangan DED. Masterplan pada kegiatan ini nantinya menghasilkan rencana blok, rencana jaringan jalan, rencana jaringan air bersih, rencana jaringan dan pengolahan air limbah, serta rencana sistem kelistrikan dan telekomunikasi.
2.5.2. Kaji Preseden
Dilakukan kajian terhadap preseden dimaksudkan untuk melihat kesesuaian antara tipologi industri yang ada di suatu daerah dengan tipologi jenis industri yang akan dikembangkan.
Sebagai desk study preseden yang diambil adalah Kawasan Industri Batang. Kawasan Industri Batang terletak di Kecamatan Tulis (desa Sembojo, desa Posong, desa Wringingintung) dan Kecamatan Bandar (desa Batiombo, desa Wonosegoro), Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Luas kawasan secara keseluruhan adalah 500 Hektar, tetapi perencanaan masterplan tahap awal sebesar 287 Hektar saja. Untuk pengembangan pada tahap I seluas 287 Ha, total lahan dapat dijual (salable area) yaitu sebesar 200 Ha (69.69persen) dan lahan tidak dapat dijual (non-salable area) adalah sebesar 87 Ha (30.31persen) yang meliputi area hijau, fasilitas jalan dan drainase, dan fasilitas pendukung lainnya. Kawasan ini dirancang terintegrasi antara kawasan industri, pergudangan/logistik, komersial, penghijauan, fasilitas umum dan sarana pendukungnya. Sebagai bagian dari rencana pusat induk pengembangan industri nasional di Jawa Tengah, kawasan industri ini didukung realisasinya oleh Kementerian Perindustrian melalui RAPIN.
Secara aksesibilitas, kawasan industri Batang memiliki akses yang baik sebagai dampak posisinya yang strategis. Untuk menuju kawasan ini dapat melalui jalan tol trans Jawa, jalan Pantura (jalan nasional), dan Pelabuhan Batang. Kaveling peruntukan di kawasan industri Batang pada prinsipnya terdiri atas kavling ukuran kecil, kavling ukuran sedang dan kavling ukuran besar. Selain itu juga terdapat Laporan Kawasan Industri Batang – Jawa Tengah 4 daerah hijau, daerah utilitas, daerah pengolahan limbah cair dan sarana fasilitas umum serta fasilitas pendukung lainnya.
35
Gambar 7 Peta kawasan industri Batang
Secara geografis, kawasan industri Batang dilewati oleh jalan yang dikategorikan sebagai jalan kabupaten berupa jalan kelas 3, sementara untuk jalan utama kawasan yang membentang dari sisi utara sampai dengan sisi selatan Kawasan dikategorikan sebagai jalan kelas1. Dengan kondisi seperti ini, dimana kawasan industri Batang diperkirakan menimbulkan tarikan dan bangkitan yang cukup besar, maka dibutuhkan pembangunan jalan baru sebagai alternatif jalan kabupaten untuk mendukung aktivitas kawasan industri. Di dalam perencanaan ini, peruntukan lahan digunakan sebagai acuan desain jalan di kawasan industri Batang, yang menghasilkan komposisi jalan sebagai berikut:
1. Jalan Primer (Jalan Utama) Jumlah lajur yang direncanakan adalah 6 lajur untuk 2 arah.
Dengan komposisi 2 lajur untuk mobil penumpang dan 1 lajur untuk kendaraan angkutan (truk), dan 2 lajur untuk 2 arah pada jalan lokal.
2. Jalan Tersier Jumlah lajurnya 2 untuk 2 arah. Jalan ini sebagai akses menuju lot/kavling kawasan industri.
36 Perencanaan sistem jaringan drainase yang dibuat dengan mempertimbangkan sistem drainase eksisting. Merujuk kepada peta topografi yang diterbitkan oleh Bakosurtanal bahwa di daerah kawasan industri Batang mengalir beberapa anak sungai yaitu sungai Tinap, sungai Kitiran dan sungai Boyo. Dua anak sungai pertama bermuara ke sungai Boyo. Pola perataan kawasan industri Batang akan dibuat semampu mungkin agar membuang air permukaan ke sungai Boyo. Perencanaan sistem jaringan drainase di kawasan industri Batang dipersiapkan dengan mengacu kepada data curah di kawasan tersebut. Di samping pemakaian data hidrologi, dalam upaya mencegah banjir di kawasan industri beberapa pertimbangan dilakukan seperti kemungkinan menyediakan pond sebagai tampungan sementara air buangan permukaan sebelum dibuang ke sungai utama yaitu sungai Boyo. Namun demikian penyediaan pond ini merupakan suatu pilihan yang bisa dikaji lebih lanjut dalam tahapan detail design.
Untuk melayani kebutuhan air bersih kawasan industri Batang, direncanakan supply air bersih dari sumber mata air yang disalurkan melalui pipa PDAM kabupaten Batang serta pengambilan air bawah tanah melalui pembuatan sumur bor sebagai cadangan (back up) maupun untuk tambahan kapasitas. Pengambilan air permukaan dari sungai yang berada di sekitar kawasan untuk selanjutnya diolah menjadi air bersih menjadi opsi terakhir. Air bersih ditampung di dalam reservoir kemudian didistribusikan melalui pipa distribusi ke seluruh kavling-kavling dalam kawasan secara gravitasi. Untuk tahap awal pembangunan dibutuhkan kapasitas awal sebesar 1.500 M3/hari.
Perhitungan kebutuhan daya listrik kawasan industri Batang seusai dengan standar SNI untuk kebutuhan listrik di kawasan industri 100 KVA sampai dengan 200 KVA untuk setiap Ha. Untuk industri besar / berat sampai 300 KVA per Ha. Dari analisa dan perhitungan yang dilakukan, konsumsi daya listrik untuk luasan 287 Ha diperlukan 24.85 MVA, namun kebutuhan aktualnya sangat tergantung kepada jenis industri yang masuk ke kawasan industri Batang.
Perencanaan jaringan telekomunikasi fiber optik pada kawasan industri Batang menggunakan jaringan Fiber Optik dari gerbang utama kawasan sampai ke tenant.
37
BAB 3 PEMBANGUNAN KAWASAN INDUSTRI DI KABUPATEN TABALONG : ANALISIS POTENSI INDUSTRI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN
Pertumbuhan ekonomi berdampak signifikan terhadap peluang perluasan lapangan pekerjaan bagi penduduk suatu wilayah, akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan.
Kegiatan ekonomi berbasis industri menjadi tumpuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Bahkan kegiatan industri diyakini dapat mengubah kondisi struktur sosial, arus urbanisasi merupakan efek kegiatan industri yang berkembang di suatu wilayah (kawasan industri). Keberadaan kegiatan usaha industri harus didukung kapasitas dan kualitas sumber daya manusia dari penduduk yang tinggal di sekitar kawasan berada. Dengan demikian dibutuhkan peran pemerintah untuk menjamin ketersediaan kualitas tenaga kerja yang mendukung industri yang ada.
Industri yang akan dikembangkan pada kawasan industri dalam suatu daerah merupakan kegiatan usaha yang disesuaikan dengan potensi sumber daya alam yang ada. Potensi daerah tersebut menjadi pilihan logis karena memiliki kaitan dengan peningkatan nilai tambah ekonomi lokal yang akan memberikan manfaat secara luas. Dalam melihat potensi daerah maka gambaran kondisi wilayah dari daerah lain (Provinsi dan Kabupaten/Kota sekitar) penting untuk dilihat. Hal tersebut akan menguatkan pilihan kegiatan industri yang akan dikembangkan. Langkah pemilihan kegiatan industri dapat dilakukan dengan cara menganalisis kegiatan industri berdasar Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).
Pilihan kegiatan usaha yang direkomendasikan dalam Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Seradang, Kabupaten Tabalong akan ditampilkan dalam bentuk masterplan kawasan industri sesuai dengan zona yang akan dibangun .
Proses pembangunan kawasan industri (KPI) Seradang, melewati beberapa tahapan, dari penyusunan masterplan kawasan, pembebasan lahan dan pengelolaan. Tahapan pengelolaan merupakan bagian akhir, namun perlu dipersiapkan semenjak awal, berbagai ijin serta kriteria pengelola kawasan perlu menjadi pertimbangan. Hal tersebut dimaksudkan agar pengelola mampu memberikan pelayanan prima sehingga memiliki daya tarik investasi dan menjadi pertimbangan pelaku usaha melakukan investasi dalam kawasan. Selain itu peningkatan akses terhadap sarana prasarana dan berbagai hal lain di luar kawasan juga penting untuk dioptimalkan. Tidak kalah penting peran pemerintah (dalam hal ini pemangku kepentingan di Kabupaten Tabalong) dukungan kemudahan berbagai ijin usaha serta peran aktif dalam mendukung keberadaan kegiatan industri perlu menjadi perhatian.
38 3.1. Potensi Ekonomi dan Industri Kabupaten Tabalong
Perencanaan pembangunan kawasan industri Seradang, Kabupaten Tabalong perlu mempertimbangkan cakupan bisnis lebih luas. Pertimbangan manfaat atas limpahan aktivitas usaha dan keterkaitan usaha yang dilakukan pelaku bisnis baik yang ada dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan maupun wilayah sekitarnya menjadi salah satu cara melihat bagaimana meningkatkan nilai keekonomian dari sebuah kawasan industri yang akan dibangun (dalam hal ini KPI Seradang). Hal lain yang terkait pemahaman kondisi ekonomi daerah dan wilayah dalam menyusun masterplan Kawasan Industri Seradang, berupa informasi akurat berdasar data spasial dari perekonomian baik dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan maupun wilayah antar Kabupaten/Kota yang memiliki kedekatan geografis dan administrasi dengan Kabupaten Tabalong.
Data perekonomian yang ada telah memberikan gambaran, keunggulan yang dimiliki oleh suatu wilayah. Berdasar pengolahan data spasial menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ) terinformasikan keunggulan sektoral dari suatu aktivitas ekonomi (dalam hal ini nilai tambah) suatu wilayah. Nilai tambah dari aktivitas sektoral di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, Timur dan Tengah menggambarkan tingkat spesialisasi sektoral dari perekonomian atau sering disebut sektor unggulan (Tabel 2; 3 dan 4). Secara umum, tingkat spesialisasi sektoral Provinsi Kalimantan Selatan memiliki keunggulan tertinggi pada sektor pengadaan air, diikuti oleh sektor pertambangan dan penggalian, sektor transportasi dan pergudangan, sektor pertanian dan beberapa sektor jasa. Bila dibandingkan dengan Provinsi Kalimantan Timur yang hanya memiliki spesialisasi sektoral pertambangan dan penggalian, maka Provinsi Kalimantan Selatan lebih memiliki keunggulan. Sementara itu, Provinsi Kalimantan Tengah memiliki keunggulan relatif sama dengan Provinsi Kalimantan Selatan meskipun dengan derajat lebih rendah.
39
Tabel 2 Location Quotient Provinsi Kalimantan Selatan
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Tabel 3 Location Quotient Provinsi Kalimantan Timur
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Pertambangan dan
Penggalian 4.77 5.52 5.72 5.69 5.41 5.27 5.26 5.92 6.11 6.19 5.62 Industri Pengolahan 1.12 0.88 0.80 0.83 0.89 0.96 0.96 0.89 0.86 0.86 0.92 Sumber: BPS (2021), diolah Kembali
Tabel 4 Location Quotient Provinsi Kalimantan Tengah
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
40 Berdasar perhitungan yang sama juga dilakukan pada tingkat Kabupaten/Kota, dimana secara administrasi berada dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Perhitungan analisis LQ untuk Kabupaten Tabalong memberikan hasil, sektor dominan yang menjadi unggulan cenderung memiliki kemiripan dengan Provinsi Kalimantan Timur yang secara administrasi bukan wilayah atasan dari Kabupaten Tabalong. Sektor pertambangan dan penggalian menjadi penting bagi perekonomian Kabupaten Tabalong dan pada tahun 2016 sektor informasi dan komunikasi mulai menjadi sektor yang menggerakkan perekonomian. (Tabel 5) Dominansi sektor pertambangan dan penggalian dalam perekonomian Kabupaten Tabalong besar hingga tahun 2020 perlu dimaknai dengan bijak karena aktivitas sektor lain juga perlu diupayakan menjadi berkembang agar ketergantungan terhadap kegiatan primer berkurang dan memberi manfaat dalam jangka panjang. Salah satu upaya untuk mendorong munculnya kegiatan ekonomi dari sektor di luar pertambangan adalah mendorong kegiatan industri yang diupayakan melalui pembangunan kawasan industri.
Tabel 5 Location Quotient Kabupaten Tabalong
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Analisis Location Quotient (LQ) bukan satu satunya dasar, diperlukan analisis lain agar penentuan aktivitas ekonomi daerah benar-benar sesuai dengan kondisi riil. Melalui analisis Shift-Share (SS), akan diperoleh gambaran kontribusi aktivitas ekonomi yang membentuk perekonomian dari satu wilayah (lihat Tabel 6; 7; 8). Analisis SS menguatkan hasil dari identifikasi terdahulu atas potensi sektor dominan dari perekonomian suatu wilayah. Hasil analisis SS terhadap kegiatan perekonomian di Provinsi Kalimantan Selatan tersaji pada tabel 6. Kegiatan perekonomian Propinsi Kalimantan Selatan dari tahun 2011 hingga 2019 memiliki peran yang hampir merata dari setiap sektor perekonomian. Namun tahun 2020 sektor perekonomian Propinsi Kalimantan Selatan mengalami pergeseran, dimana peran beberapa sektor mengalami penurunan dibanding dengan beberapa tahun sebelumnya (antara lain pertanian; pertambangan; industri pengolahan; konstruksi; perdagangan; transportasi;
penyediaan akomodasi jasa perusahaan dan jasa lainnya). Penurunan kegiatan sektor perekonomian tersebut dimungkinkan terjadi karena terdampak pandemi COVID 19, yang secara langsung maupun tidak langsung menurunkan aktivitas riil. Peran sektor perekonomian yang memberikan kontribusi positif dalam perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan adalah sektor pengadaan listrik dan gas; pengadaan air; informasi dan komunikasi;
jasa keuangan; real estate; administrasi pemerintahan; jasa pendidikan dan jasa kesehatan.
41 Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Timur maupun Kalimantan Tengah.
Upaya untuk mendorong kegiatan ekonomi lain diluar sektor pertambangan yang mendominasi kegiatan di sebagian besar seluruh Provinsi di pulau Kalimantan terus didorong, walaupun data menunjukkan pada tahun 2020 baik Provinsi Kalimantan Tengah dan Timur juga mengalami dinamika penurunan di beberapa sektor seperti halnya yang terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan usaha industri yang ada mengalami penurunan peran dalam pembentukan perekonomian, bila dibandingkan dari ketiga wilayah Provinsi, wilayah Provinsi Kalimantan Tengah masih relatif lebih baik. Sedangkan untuk deviasi sektor industri pengolahan di wilayah Kalimantan Selatan sebagai wilayah atas Kabupaten Tabalong terkoreksi namun masih lebih baik dibandingkan yang terjadi di Provinsi Kalimantan Timur (lihat tabel 9).
Dampak pandemi COVID 19 telah mengubah berbagai kegiatan riil dan berdampak terhadap perekonomian baik skala daerah, Nasional bahkan dunia. Dalam konteks pembangunan Kawasan Industri/KI di wilayah Kabupaten Tabalong momen dampak menjadi dasar penting untuk menyusun strategi agar perekonomian dapat terus bergerak dalam jangka menengah dan panjang. Kebijakan pemerintah Kabupaten Tabalong menyusun masterplan Kawasan Industri menjadi penting agar potensi daerah dapat ditingkatkan secara nilai ekonomi.
Peningkatan nilai ekonomi akan memberikan manfaat dengan mengaitkan kegiatan industri dengan potensi lokal yang mendominasi kegiatan ekonomi masyarakat secara luas.
42
Tabel 6 Shift-Share Provinsi Kalimantan Selatan
SEKTOR 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Tabel 7 Shift-Share Provinsi Kalimantan Timur
SEKTOR 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
43
Tabel 8 Shift-Share Provinsi Kalimantan Tengah
SEKTOR 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
44 Kegiatan ekonomi Kabupaten Tabalong yang tercermin dari analisis SS, selama tahun 2011 hingga 2019 cukup bervariasi. Hal yang menarik, pada tahun 2015 peran sektor pertambangan mengalami penurunan, walaupun terjadi peningkatan namun tidak seperti sebelum tahun 2015. Peran beberapa sektor perekonomian Kabupaten Tabalong pada tahun 2020 seperti halnya wilayah Provinsi juga terdampak, dimana sektor pertambangan ter dampak cukup besar. Sedangkan sektor perekonomian yang masih memberikan nilai positif dalam pembentukan ekonomi Kabupaten Tabalong antara lain sektor pengadaan listrik dan gas; pengadaan air; informasi dan komunikasi; jasa keuangan; real estat dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial.
Tabel 9 Shift Share Kabupaten Tabalong
SEKTOR 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 tingkat Provinsi, khususnya Kabupaten Tabalong ada beberapa hal yang dapat ditarik kesimpulan dan menjadi pertimbangan dalam mendorong perekonomian melalui pembangunan Kawasan Industri. Pertama, ketiga Provinsi dan Kabupaten Tabalong secara umum mempunyai kemiripan sektor unggulan. Spesialisasi tersebut relatif homogen dimana dapat dimaknai sebagai wilayah dengan faktor endowment sama. Kedua, upaya penguatan
45 sektor industri berdasar analisis shift-share memberikan gambaran bagaimana upaya untuk pengembangan sektor industri pengolahan telah tampak di keempat wilayah itu. Sehingga berdasar observasi sederhana, maka perencanaan pendirian Kawasan Industri di Kabupaten Tabalong memiliki potensi tidak hanya menambah kontribusi nilai tambah, melainkan juga berpotensi memberikan limpahan ekonomi bagi Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi sekitar.
3.1.1 Sebaran Ekonomi Pulau Kalimantan
Perekonomian Kabupaten Tabalong tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi Nasional dan khususnya wilayah Pulau Kalimantan (antar Provinsi). Dalam melihat sebaran ekonomi antar Provinsi di pulau Kalimantan, indeks Williamson menjadi alat analisis. Indeks ini mampu memperlihatkan disparitas ekonomi antar wilayah sehingga hubungan interaksi antar wilayah dapat tergambarkan. Perhitungan indeks Williamson menggunakan dua pendekatan utama, yaitu aktivitas ekonomi regional secara agregat (PDRB/ Kapita) dan pendapatan masyarakat (pengeluaran rumah tangga).
Tabel 10 Sebaran Ekonomi Pulau Utama Berdasarkan PDRB (Konstan)
Provinsi 2016 2017 2018 2019* 2020**
Kalimantan Barat 0.295296 0.291606 0.286869 0.285044 0.307765 Kalimantan Tengah 0.146728 0.141872 0.138428 0.136588 0.125819 Kalimantan Selatan 0.227998 0.224447 0.220014 0.221433 0.200646 Kalimantan Timur 0.675066 0.659572 0.644403 0.639858 0.630223 Kalimantan Utara 0.099732 0.102233 0.101989 0.102893 0.12371 Sumber: BPS (2021), diolah Kembali
Secara umum seperti dalam tabel 10, berdasar perhitungan nilai ekonomi dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) harga konstan memperlihatkan tingkat kesenjangan ekonomi di Provinsi Kalimantan Selatan relatif baik. Derajat disparitas masih lebih baik dari pada Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, namun tidak sebaik Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah. Berdasar data runtut waktu, disparitas ekonomi di Provinsi Kalimantan Selatan terus menurun. Tendensi perbaikan ketimpangan tersebut juga terjadi di seluruh Provinsi di Kalimantan. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa secara agregat kegiatan sektor perekonomian di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan relatif memberi dampak ekonomi dari setiap sektor pembentuk perekonomian. Namun demikian kinerja sektor perekonomian harus terus ditingkatkan agar lebih baik, salah satu cara dengan mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi di sektor diluar sektor dominan (industri pengolahan).
46 Tabel 11 Sebaran Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Pengeluaran Rumah Tangga
Provinsi 2016 2017 2018 2019* 2020**
Kalimantan Barat 0.408857 0.410074 0.407187 0.404384 0.403785 Kalimantan Tengah 0.47844 0.477131 0.475876 0.47919 0.479915 Kalimantan Selatan 0.489725 0.482876 0.483802 0.474133 0.480981 Kalimantan Timur 0.414817 0.422634 0.424181 0.428411 0.426413 Kalimantan Utara 0.280338 0.276329 0.27763 0.296245 0.294295 Sumber: BPS (2021), diolah kembali
Hasil perhitungan indeks Williamson berdasar pengeluaran rumah tangga di beberapa wilayah Provinsi Kalimantan dapat dilihat pada tabel 11. Nilai indeks Williamson berdasar pengeluaran rumah tangga memperlihatkan untuk Provinsi Kalimantan Selatan lebih tinggi dibanding Provinsi lainnya. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Selatan maupun pemerintah dibawahnya (Kabupaten/Kota) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari setiap sektor perekonomian. Perbaikan kinerja perekonomian sektoral akan berdampak langsung terhadap berkurangnya ketimpangan pendapatan masyarakat.
3.1.2 Perbandingan Ekonomi Kabupaten Tabalong dengan Kota/ Kabupaten Sekitar Menggunakan teknik analisis yang sama juga dilakukan untuk melihat kesenjangan perekonomian dari wilayah Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil perhitungan indeks Williamson dapat dijadikan ukuran untuk membandingkan kesenjangan perekonomian wilayah Kabupaten Tabalong dengan wilayah Kabupaten terdekat atau berdekatan secara geografis dan administrasi (Hulu Sungai Utara dan Balangan). Nilai indeks Williamson Kabupaten Tabalong secara agregat relatif sama dengan Kabupaten Balangan namun masih dibawah Kabupaten Hulu Sungai Utara (tabel 12). Nilai indeks Williamson Kabupaten Tabalong memberikan indikasi adanya perbaikan pada tahun 2020, kebijakan pembangunan Kabupaten Tabalong secara agregat telah memberikan dampak signifikan terhadap kinerja sektor perekonomian. Namun demikian langkah perbaikan tersebut perlu diupayakan secara terus menerus. Pembangunan KPI Seradang menjadi kawasan industri merupakan salah satu upaya agar perbaikan kinerja sektoral perekonomian Kabupaten Tabalong dapat terwujud. Pada akhirnya kesenjangan secara agregat dapat diturunkan yang ujungnya terjadi peningkatan kesetaraan masyarakat secara luas.
47 Tabel 12 Kesenjangan Ekonomi Kota/ Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan
Kota/Kabupaten 2016 2017 2018 2019* 2020**
TANAH LAUT 0.008185 0.00973 0.010676 0.011328 0.027115
KOTA BARU 0.185264 0.183679 0.182462 0.182269 0.160985
BANJAR 0.131026 0.13224 0.348376 0.130991 0.148084
BARITO KUALA 0.115426 0.114055 0.113248 0.11109 0.121242
TAPIN 0.014112 0.01447 0.014815 0.01578 0.00484
HULU SUNGAI SELATAN 0.094081 0.092156 0.089933 0.087421 0.096528 HULU SUNGAI TENGAH 0.112735 0.111338 0.11034 0.108735 0.117796 HULU SUNGAI UTARA 0.134914 0.134006 0.132904 0.131113 0.139101
TABALONG 0.225038 0.218455 0.212784 0.21125 0.188525
TANAH BUMBU 0.131162 0.122936 0.116018 0.111024 0.090422
BALANGAN 0.246022 0.23666 0.228827 0.225303 0.206858
BANJARMASIN 0.019259 0.013816 0.007481 0.001865 0.019426 BANJAR BARU 0.063282 0.063186 0.062925 0.060704 0.075846 Sumber: BPS (2021), diolah kembali
Berdasarkan perhitungan indeks Williamson dengan menggunakan data pengeluaran rumah tangga (Tabel 13) dapat disimpulkan tingkat kesejahteraan di Kabupaten Tabalong relatif merata. Kondisi tersebut semakin tampak jika dibandingkan dengan berbagai Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Meskipun hasil perhitungan indeks kesenjangan Williamson menunjukkan secara umum ketimpangan dari sisi pendapatan daerah dan pengeluaran rumah tangga dikategorikan rendah (<0.3), namun secara rerata masih tergolong tinggi bersama dengan Kabupaten Balangan, Kota Banjarmasin dan Kota Banjar Baru. Rendahnya perputaran uang masuk di Kabupaten
Tabel 13 Kesenjangan Pengeluaran Rumah Tangga Kota/ Kabupaten di Provinsi
Kota/Kabupaten 2016 2017 2018 2019* 2020**
TANAH LAUT 0.009317 0.027537 0.023016 0.040545 0.022699
KOTA BARU 0.00022 0.025624 0.023054 0.011179 0.023243
BANJAR 0.001126 0.019518 0.031421 0.018222 0.027236
BARITO KUALA 0.032057 0.076314 0.03109 0.051587 0.057921
TAPIN 0.032279 0.014397 0.009488 0.02083 0.000966
HULU SUNGAI SELATAN 0.023152 0.040797 0.040547 0.059397 0.047795 HULU SUNGAI TENGAH 0.078771 0.062257 0.062581 0.058018 0.067074 HULU SUNGAI UTARA 0.044908 0.03265 0.020528 0.046048 0.050871
TABALONG 0.004408 0.036865 0.008828 0.034719 0.065623
TANAH BUMBU 0.021508 0.025616 0.043104 0.052736 0.016637
BALANGAN 0.02668 0.031877 0.044175 0.052486 0.027089
BANJARMASIN 0.052992 0.110399 0.088657 0.089386 0.087848 BANJAR BARU 0.11015 0.094733 0.087543 0.110749 0.152209 Sumber: BPS (2021), diolah kembali
48 3.1.3. Konsentrasi Pasar Industri Besar Kabupaten Tabalong
Kegiatan industri di Kabupaten Tabalong berdasarkan hasil survei Industri Besar dan Sedang (IBS) tahun 2015, terdapat 6 perusahaan besar yang telah beroperasi (tabel 14). Beberapa industri yang ada di Kabupaten Tabalong sesuai data IBS tahun 2015 antara lain industri minyak mentah kelapa sawit, kayu lapis, karet remah (crumb rubber), semen, reparasi produk logam siap pasang dan reparasi mesin untuk keperluan khusus.
Penyerapan tenaga kerja pada industri minyak mentah kelapa sawit dilihat dari jumlah tenaga kerja paling tinggi dibanding industri lain yang ada di Kabupaten Tabalong. Namun, tingginya serapan tenaga kerja pada industri minyak mentah kelapa sawit tidak sejalan dengan penciptaan output (produksi). Penciptaan produksi terbesar dari kegiatan industri yang ada di Kabupaten Tabalong dihasilkan dari industri karet remah. Artinya efisiensi penggunaan input tenaga kerja lebih baik industri karet dibanding industri minyak mentah kelapa sawit.
Dalam melihat aktivitas industri, paling penting adalah penciptaan nilai tambah dari berbagai input yang ada. Penciptaan nilai tambah terbesar dari kegiatan industri di Kabupaten Tabalong berasal dari aktivitas industri semen, walaupun dari sisi penggunaan tenaga kerja relatif kecil.
Tabel 14 Kinerja Industri di Kabupaten Tabalong
Sumber: Statistik Industri Besar dan Sedang, BPS (2015), diolah kembali
Aktivitas industri di Kabupaten Tabalong perlu terus dikembangkan untuk mendorong perekonomian, selain itu mengurangi ketergantungan terhadap kegiatan pertambangan.
Untuk melihat kinerja kegiatan industri dilakukan perhitungan indeks Herfindahl-Hirschman (IHH). Perhitungan IHH merupakan rasio konsentrasi pasar dari jumlah absolut beberapa aktivitas industri di pasar. Konsentrasi pasar memberikan gambaran seberapa besar pengaruh dari kegiatan yang dijalankan perusahaan dalam industri terhadap total pasar. Indeks
49 tersebut memiliki rentang angka 0 – 10,000. Angka 0 menunjukkan pasar persaingan sempurna dan angka 10,000 representasi monopoli. Kegiatan industri yang ada di Kabupaten Tabalong sesuai konsentrasi industri yang ada antara lain minyak mentah kelapa sawit, kayu lapis, karet remah, semen dan reparasi mesin.
Hasil perhitungan indeks Herfindahl-Hirschman (IHH) terhadap konsentrasi industri yang ada di Kabupaten Tabalong dibandingkan dengan industri yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan tersaji pada tabel 15. Kegiatan usaha perusahaan dalam industri semen memiliki angka 10,000 yang artinya industri semen di Kabupaten Tabalong menguasai pasar di wilayah Kalimantan Selatan (bahkan mungkin seluruh pulau Kalimantan). Sedangkan untuk industri minyak mentah kelapa sawit dengan angka 23 sangat kecil dalam pasar minyak mentah kelapa
Hasil perhitungan indeks Herfindahl-Hirschman (IHH) terhadap konsentrasi industri yang ada di Kabupaten Tabalong dibandingkan dengan industri yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan tersaji pada tabel 15. Kegiatan usaha perusahaan dalam industri semen memiliki angka 10,000 yang artinya industri semen di Kabupaten Tabalong menguasai pasar di wilayah Kalimantan Selatan (bahkan mungkin seluruh pulau Kalimantan). Sedangkan untuk industri minyak mentah kelapa sawit dengan angka 23 sangat kecil dalam pasar minyak mentah kelapa