BAB 5. PEMBAHASAN
5.4. Analisis Dukungan Komunikasi dalam Implementasi Kebijakan
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan antar stakeholder baik secara formal maupun informal dalam rangka meningkatkan kordinasi dalam implementasi kebijakan penanggulangan bencana bidang kesehatan di Kabupaten Aceh Utara. Komunikasi merupakan proses yang sangat penting dalam mengimplementasikan sebuah kebijakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi dalam bentuk kordinasi secara langsung menjadi sangat vital dibandingkan dengan aspek lainnya. Melalui kordinasi berbagai kendala dan kekurangan dari stakeholder dalam konteks ini dinas kesehatan dapat diatasi dengan bantuan pihak lain. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dala m mengimplementasikan sebuah kebijakan.
Menurut Edward dalam Supriyatno (2010) salah satu yang harus diperhatikan dalam implementasi kebijakan adalah faktor komunikasi, salah satu bentuk komunikasi yang yang bersifat formal dalam organisasi adalah kordinasi antar lembaga melalui rapat antar institusi. Bila kordinasi yang terbangun baik maka implementasi kebijakan juga akan berjalan baik. Adanya rapat kordinasi yang dibangun BPBD dengan pemangku kepentingan yang lainnya ternyata dapat mengurangi keterbatasan yang ada pada dinas kesehatan.
Komunikasi yang terbangun dengan BPBD dapat mengurangi keterbatasan sarana dan prasarana yang ada pada dinas kesehatan. Meskipun alat pendukung, tetapi
89
dinas kesehatan juga bergantung pada alat-alat tersebut agar dapat melaksanakan tugasnya dalam bidang kesehatan, dan hal tersebut dapat dipenuhi oleh BPBD yang notabene memiliki sarana dan prasarana yang jauh lebih lengkap dibandingkan stakeholder yang lainnya.
Penanggulangan bencana bidang kesehatan pada saat pra bencana terkendala pada kegiatan pembuatan peta rawan bencana dan perencanaan kontingensi.
Ketidakmampuan membuat peta rawan bencana memang tergantung pada sumber daya manusia, tetapi pemenuhan kebutuhan tersebut dapat juga di kordinasikan dengan stakdehoder yang lain. Sedangkan untuk perencanaan kontingensi tidak terlaksana karena menuntut adanya kordinasi langsung dengan BPBD untuk menilai potensi kegagalan yang mungkin terjadi secara menyeluruh tidak nhanya bergantung pada aspek kesehatan.
Hal di atas menunjukkan bahwa kondisi penanggulangan bencana pada saat pra bencana sangat dipengaruhi oleh aspek komunikasi antar stakeholder.
Komunikasi yang intensif antar stakeholder dapat saling melengkapi kekurangan yang ada.
Begitupun saat terjadi bencana, seluruh kegiatan yang dilakukan saat bencana juga tidak terlepas dari kordinasi. Komunikasi sangat menentukan keberhasilan suatu pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Keberhasilan implementasi kebijakan masyarakat agar implementator mengetahui apa yang harus dilakukan, apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan mensyaratkan agar implementator mengetahui apa yang harus dilakukan. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran
kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran ( target group ) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran.
Kordinasi antara dinas kesehatan dengan rumah sakit terlihat sangat baik, hal ini dapat terjadi karena pemahaman akan tugas pokoknya dalam memberikan pelayanan kesehatan sudah sangat dipahami masing-masing pihak. Puskesmas merupakan pemberi pelayanan dasar di tingkat pertama saat bencana dan rumah sakit memberikan pelayanan lanjutan. Proses seperti ini sudah terjadi pada kondisi biasa pada saat tidak terjadi bencana, sehingga apabila sistem yang sudah ada tersebut dikembangkan dalam penanganan bencana hal tersebut dapat mempermudah komunikasi antara dinas kesehatan dengan rumah sakit.
Kemudian pada saat pasca bencana juga tampak bahwa komunikasi dinas kesehatan dengan rumah sakit dan puskesmas juga amutlak diperlukan. Puskesmas yang berada langsung di posko pengungsian hars terkordinasi dengan dinas kesehatan sebagai pusatnya dalam rangka memenuhi kebutuhan yang ada di posko, misalnya obat-obatan, minuman suplemen, dan sebagainya.
Begitu juga dengan pengobatan lanjutan di rumah sakit. Dinas kesehatan harus mampu membangun komunikasi yang baik agar tidak terjadi kendala seperti penolakan, birokrasi yang ketat. Kondisi bencana adalah kondisi darurat yang memungkinkan dapat menciptakan kondisi apapun yang berada di luar batas kemampuan stakeholder.
91
Komunikasi amatlah penting peranannya karena suatu program hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila jelas bagi para pelaksananya. Hal ini menyangkut proses penyampaian informasi atau transmisi kejelasan dari informasi tersebut.
Fungsi ini sangat bergantung pada kemampuan kordinator yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana. Kordinasi intensif yang dilakukan oleh BPBD meningkatkan kerjasama antar stakeholder dan menjalankan fungsinya sesuai dengan tugas masing-masing.
Hal ini sangat terlihat dari penanganggulangan bencana pada saat bencana setiap hari BPBD mengkordinir pelaksanaan rapat harian untuk mengevaluasi penanggulangan bencana yang terjadi pada masyarakat. Berbagai masalah dibahas dan ditemukan solusinya dalam rapat harian tersebut karena semua pemangku kepentingan juga turut hadir dalam pertemuan kordinasi tersebut.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam penelitian ini antara lain :
1. Sumber daya manusia yang tersedia di Kabupaten Aceh Utara tergolong siap secara kuantitas dalam memberikan pelayanan kesehatan sebelum, saat atau setelah bencana, tetapi untuk dinas kesehatan masih kekurangan tenaga dengan kualifikasi mampu membuat peta rawan bencana dan rencana kontingensi.
2. Sarana dan prasarana berupa peralatan yang dimiliki oleh dinas kesehatan sudah memadai dalam memberikan pelayanan kesehatan. Akan tetapi Dinas kesehatan masih sangat bergantung kepada BPBD dalam penyediaan alat pendukung seperti perahu karet, transpotasi yang dapat membantu langsung dinas kesehatan untuk terjun langsung ke daerah saat bencana.
3. Biaya yang dialokasikan untuk penanggulangan bencana bidang kesehatan secara prinsip banyak terserap untuk kegiatan pra bencana seperti pelatihan bersama antara stakeholder, tokoh masyarakat dan kepemudaan dibidang sianga bencana secara universal, distribusi anggaran untuk pelatihan ini harus sesuai dengan kondisi kebencanaan yang terjadi berdasarkan waktu dan potensi daerah dalam menanggulangi bencana.
93
4. Komunikasi yang dibangun oleh stakeholder sudah baik. BPBD sudah melakukan komunikasi secara resmi maupun tidak kepada stakeholder terkait.
Dalam hal koordinasi dan komunikasi BPBD yang paling bertanggung jawab karena dikondisi bencana BPBD ketua Komando, Sedangkan untuk kesehatan, roda organisasi yang sudah biasa berjalan dalam keseharian khusus untuk menjalankan program kesehatan membuat komunikasi antara dinas kesehatan dengan Rumah Sakit dan Puskesmas berjalan baik.
5. Dinas kesehatan masih kurang patuh dalam mengimplementasikan kebijakan penanggulangan bencana pada saat pra bencana, sebab masih ada aktivitas pra bencana yang tidak dilakukan oleh dinas kesehatan yaitu pembuatan peta geomedik dan perencanaan kontingensi tidak dibuat.
6. Dinas kesehatan tergolong patuh dalam mengimplementasikan kebijakan penanggulangan bencana bidang kesehatan karena sudah mampu mengimplementasikan kebijakan penanggulangan bencana bidang kesehatan sesuai dengan kepmenkes yang ada. Keseluruhan aktivitas penanggulangan bencana pada saat bencana dapat dilakukan oleh dinas kesehatan.
7. Dinas kesehatan masih kurang patuh dalam mengimplementasikan kebijakan penanggulangan bencana pada saat pasca bencana sebab masih ada aktivitas saat pasca bencana sesuai dengan Kepmenkes yang belum dilaksanakan yaitu penilaian status gizi secara khusus.
8. Komunikasi merupakan aspek yang sangat berkaitan erat dengan implementasi kebijakan penanggulangan bencana, komunikasi dalam bentuk
kordinasi yang dibangun BPBD membantu dinas kesehatan dalam pelayanan kesehatan pada waktu pra, saat dan pasca bencana.
6.2. Saran
Adapun saran dalam penelitian ini antara lain :
1. Dinas kesehatan harus melakukan pelatihan kepada stafnya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka penanggulangan bencana khususnya pembuatan peta geomedik pada daerah bencana.
2. Dinas kesehatan sebaiknya mengalokasikan pembiayaan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung penanggulangan bencana bidang kesehatan khususnya peralatan yang dapat membawa petugas kesehatan langsung kedaerah bencana, seperti perahu karet.
3. Stakeholder harus melekukan kesepakatan dan komitmen bersama dalam rangka penanggulangan bencana bidang kesehatan.
4. Pemangku kepentingan sebaiknya dapat menjalin kerjasama dengan pihak swasta dalam rangka membantu pembiyaan operasional dalam rangka penanggulangan bencana bidang kesehatan.
5. BPBD sebagai Penanggung jawab komando harus lebih meintensifkan komunikasi kepada seluruh pemangku kepentingan untuk mempersiapkan bencana pada waktu bencana belum terjadi, sehingga seluruh kebutuhan penanggulangan bencana pada saat bencana bisa dipersiapkan.
95
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Said Zainal. 2004. Kebijakan Publik. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah Agustino, Leo. 2006. Dasar-dasar Kebijakan Pulik. Bandung : CV. Alfabeta
Aritonang, Mika., 2014. Implementasi Kebijakan Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan pada Erupsi Gunung Sinabung, Medan: FKM USU
BNPB. 2009. Definisi dan Jenis Bencana. Diakses tanggal 02 Agustus 2015; pukul 16.43 http://bnpb.go.id/param=true
BNPB. 2011. Panduan Perencanaan Kontinjensi dalam Menghadai Bencana. Edisi ke dua. Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Buse, K. Mays, N.Walt, G. 2005. Making Health Policy. New York
Creswell JW.Qualitative inquiry and research design: choosing among five traditions. London: SAGE Publications: 1998
Depkes RI. 2002. Pedoman Koordinasi Penanggulangan Bencana di Lapangan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Depkes, RI. 2006. Pedoman Manajemen Sumber Daya dan Kesehatan Dalam Penanggulangan Bencana. Jakarta: Depkes
Dewi, Rucky Nurul Wursanti. 2010. Kesiapsiagaan Sumber Daya Manusia Kesehatan dalam Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Bencana Banjir di Provinsi DKI Jakarta tahun 2010.Tesis.FKM-UI. Jakarta
DRRA (Disaster Risk Reduction Aceh)., 2011. Strategi Peningkatan Kesadaran Publik Dalam Pengurangan Risiko Bencana Aceh 2011-2015, Banda Aceh Dunn W, 2004. Public Policy Analysis: An Introduction (Third Ed.). New Jersey:
Pearson - Prentice-Hall Inc.
Elvianita., 2012. Pengaruh Sumber Daya Organisasi Terhadap Kesiapsiagaan Petugas Penanggulangan Bencana Menghadapi Bencana Banjir di Kabupaten Aceh Timur, Medan: FKM USU
95
Kemenkes.RI. 2011. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana. Jakarta: Kemenkes
Kepmenkes RI Nomor 145 Tahun 2007 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana di Bidang Kesehatan
LIPI-UNESCO/ISDR. 2006. Pengembangan Framework Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Mengantisipasi Bencana. Diakses tanggal 03 Agustus 2015; pukul 14.44 www.coremap.or.id/i/.pdf
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) No. 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Rahardja, Eddie, 2009. Pengaruh Kompetensi Kepemimpinan dalam Pengorganisasian Kesiapsiagaan dan Penggerakan Ketanggapdaruratan Bencana terhadap Kinerja Petugas Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Regional Sumatera Utara. Tesis, Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara.
Ramli, S., 2010. Pedoman Praktis Manajemen Bencana (Disaster Management), Jakarta: Dian Rakyat
Ristrini. 2012. Analisis Implementasi Kebijakan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 15 No. 1 Januari 2012: 91–102
Sedarmayanti. 2009. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja .Bandung:
CV. MandarMaju
Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: CV.
Alfabeta; 2010
Suhendra, K. 2008. Manajemen dan Organisasi dalam Realita Kehidupan.
Cetakan Kedua. CV. Mandar Maju. Bandung
Supriyatno. 2010. Analisis Implementasi Kebijakan Sekolah Gratis (Kasus di SsD Negeri Cileungsi 06 dan SD Negeri Cinyosog 02 Bogor). Jakarta. FISIP- Universitas Indonesia
Wahab, Solichin A. 1991. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan, Bumi Aksara Jakarta.
97
Wibawa dkk.Samodra. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Widodo, Joko. 2011. Analisis Kebijakan Publik. Malang: Bayumedia
Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik, Media Pressindo Yogyakarta.
Yuniarsih, Tjhutjhu&Suwarno.2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Teori Aplikasi dan Isu penelitian. Alfabeta. Bandung