• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV INTREPETASI DATA DAN HASIL PENELITIAN

4.6. Analisis Fenomena Endorse di Media Sosial Instagram dalam

Pada dasarnya kata endorse berasal dari kata endorsement yang artinya adalah sebuah tindakan mendukung (support) atau setuju terhadap sesuatu. Endorse merupakan suatu cara untuk memprosomosikan produk sebuah online shop dengan bekerja sama dengan orang yang memiliki banyak followers di instagram.

Fenomena endorse dalam beberapa tahun tersebut memang sedang trend, sehingga tidak asing lagi untuk di dengar terutama bagi pengguna media sosial instagram. Endorse akan sejalan dengan adanya online shop. Karena banyak online shop menggunakan jasa endorse tersebut untuk mendukung atau mempromosikan barang yang akan di jual di online shop miliknya.

Sama halnya dalam penelitian ini, dimana anak remaja SMA Negeri 1 Medan merupakan subjek dalam penelitian ini sangat mengetahui mengenai endorse yang pada saat ini sedang trend di media sosial instagram. Hal ini sudah menjadi hal yang sering ditemukan dalam media sosial instagram terutama online shop yang pada saat ini sangat berkembang. Endorse dilakukan pada seseorang yang mempunyai followers yang banyak atau sering disebut dengan kata selebgram.

Bukan hanya selebgram saja yang melakukan endorse artis-artis Indonesia juga kini beralih menerima endorse-an yang dilakukan online shop.

Pengetahuan tentang endorse ini tidak lagi lazim di kalangan anak remaja zaman sekarang. Karena peminat sosial media instagram lebih banyak di gandrungi oleh mereka. Munculnya endorse di media sosial instagram ini memudahkan siapa saja

selebgram dan artis kita bisa mengetahui barang-barang apa yang pada saat ini sedang trend dan barang yang bagus. Dengan adanya endorse kita dapat mengetahui bahwa online shop tersebut dapat dipercayai.

Fenomena endorse yang terjadi di media sosial instagram ini juga menjadi salah satu pertimbangan bagi remaja yang memutuskan membeli barang tersebut.

Bahkan ketika barang tidak di endorse akan menjadi suatu pertimbangan yang besar bagi konsumen untuk membeli suatu barang. Perilaku konsumen dalam membuat keputusan yang pada akhirnya menciptakan masyarakat konsumsi.

Fenomena endorse yang dilakukan selebgram maupun artis ini membuat masyarakat konsumsi terutama anak remaja yang menjadi obejek pemasaran online shop menjadi sering berbelanja online. Hal ini dikarenakan adanya nilai berbeda yang terkandung ketika selebgram maupun artis tersebut mempromosikan barang tersebut, sehingga anak remaja meyakini bahwa barang yang di-endorse dan dipakai oleh artis maupun selebgram tersebut mempunyai kualitas barang yang bagus dan menarik ketika digunakan.

Dari adanya hal tesebut membuat anak remaja tidak lagi membeli suatu barang karena butuh melainkan karena hasrat keinginan semata, dan simbol-simbol yang terdapat di dalamnya. Sama halnya seperti dikatakan oleh Baudrillard yang ditegaskan melalui “The Consumer Society: myths and structures” (Baudrillard : 2004) bahwa mekanisme sistem konsumsi pada dasarnya berangkat dari nilai tanda atau nilai simbol, bukan pada kebutuhanatau manfaat. Dalam masyarakat konsumerisme kehidupan manusia lebih banyak dipengaruhi oleh tanda atau simbol. Orang membeli sesuatu bukan karena kegunaannya, tetapi karena dalam

barang itu ada nilai simbol yang menunjukkan status yang melekat pada barang dan jasa itu sendiri.

Begitu halnya dengan penelitian ini anak remaja pada SMA Negeri 1 Medan membeli suatu barang bukan karena butuh melainkan karena keinginan lain seperti, barang tersebut lucu dan unik kemudian dibeli. Alasan lain juga ingin mau sama dengan artis atau selebgram yang disukainya, ataupun karena barang tersebut sedang trend dan sering digunakan oleh para artis maupun selebgram.

Tidak hanya berhenti disitu saja anak remaja tersebut membeli barang tersebut karena ada nilai yang terdapat ketika mengkonsumsinya. Ada hasrat keterpuasan dan kepercayaan diri yang tinggi ketika menggunakannya.

Terutama ketika menggunakan barang-barang yang sedang trend dan ber-merek, walaupun harga barang tersebut mahal tapi bukan menjadi suatu pertimbangan bagi mereka untuk membelinya. Barang ber-merek mempunyai kualitas yang baik sehingga mempunyai nilai jual ketika digunakan. Maka anak remaja yang berada di SMA Negeri 1 Medan sangat mengetahui barang-barang ber-merek dan suka membelanjakan barang tersebut karena ketika memakainya ada suatu hal yang berbeda terutama ketika barang tersebut asli. Ketika menggunakannya mereka mengatakan bahwa ingin menunjukkan dan membentuk jati diri melalui barang yang digunakan, sehingga orang yang melihat menilai yang berbeda tentang dirinya. Mereka ingin menunjukkan sebuah status atau citra berbeda yang melekat atas dirinya melalui barang tersebut. Nilai tanda yang akan tercipta pada dirinya membuat mereka terus-menerus ingin mengkonsumsi.

Masyarakat pun pada akhirnya hanya mengonsumsi citra yang melekat pada barang tersebut (bukan lagi pada kegunaannya) sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak pernah merasa puas dan akan memicu terjadinya konsumsi secara terus menerus, karena kehidupan sehari-hari setiap individu dapat terlihat dari kegiatan konsumsinya, barang dan jasa yang dibeli dan dipakai oleh setiap individu, yang juga didasarkan pada citraan-citraan yang diberikan dari produk tersebut.

Masyarakat modern adalah masyarakat konsumtif terus menerus berkonsumsi.

Namun konsumsi yang dilakukan bukan hanya sekedar kegiatan yang berasal dari produksi melainkan sekedar kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan fungsional manusia. Konsumsi telah menjadi budaya, budaya konsumsi. Sistem masyarakat pun telah berubah, dan yang kini adalah masyarakat konsumen, yang mana kebijakan dan aturan-aturan sosial masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebijakan pasar. Maka dalam penelitian ini anak remaja SMA Negeri 1 Medan terus-menerus belanja karena ingin mengikuti trend yang berkembang pada zamannya. Kebijakan-kebijakan barang terbaru yang ada dipasar kemudian diketahui konsumen dan akhirnya mengkonsumsi agar sama dengan tuntutan yang ada.

Teori konsumsi Baudrillard mengatakan, bahwa masyarakat konsumeris pada masa sekarang tidak didasarkan kepada kelasnya tetapi pada kemampuan konsumsinya. Siapapun bisa menjadi bagian dari kelompok apapun jika sanggup mengikuti pola konsumsi kelompok tersebut.Baudrillard menilai bahwa objek yang dikonsumsi dalam masyarakat konsumsi ini sesungguhnya hanyalah tiruan

status, seperti yang ia nyatakan dalam kalimat “Objects merelysimulate the social essence” yang artinya “status inilah yang menyebabkan orang tergila-gila pada objek tertentu”. Sehingga membeli dan mengkonsumsi barang pada masyarakat konsumsi bukanlah berdasarkan nilai guna dan manfaat dari barang tersebut, melainkan berdasarkan gaya hidup danmakna yang melekat dari suatu produk.

Dalam The System of Objects Baudrilard mengatakan bahwa untuk menjadi objek konsumsi, terlebih dahulu sebuah objek harus menjadi tanda.

Maka dari itu anak remaja yang pada saat ini statusnya masih bersekolah yangbelum mempunyai penghasilan bisa mengikuti pola konsumsi karena hal itu tidak dilihat dari kelas dan kelompok. Bagi siapa yang mampu mengikuti maka bisa mengikuti pola tersebut. Dengan adanya faktor dukungan dari orang tua sehingga anak remaja tersebut mampu mengikutinya. Nilai tanda yang dikonsumsi anak remaja inilah yang terus dikejar dan menyebabkan tergila-gila ingin mengkonsumsi terus-menerus. Hal ini yang menjadikan adanya suatu yang berbeda dimana anak remaja yang seharusnya pada saat ini tugasnya adalah belajar tetapi dari masa remaja pun mereka sudah ingin membentuk nilai tanda yang berbeda untuk dirinya. Nilai tanda yang akan melekat pada dirinya yang akan membuat dirinya lebih percaya diri sehingga anak remaja tersebut berlomba-lomba menciptakan nilai tanda tersebut di masyarakat modern pada saat ini.

Dalam hal ini yang dikonsumsi sebenarnya adalah sistem objek atau tanda. Objek menjadi penentu identitas tersebut dihadirkan melalui tanda yang telah diciptakan.

Oleh karena itu, setiap manusia yang ingin memiliki identitas, mau tidak mau, melakukan konsumsi atas barang tersebut untuk mendapatkan tanda yang

diciptakan. Hal ini disebabkan karena beberapa bagian dari tawaran iklan justru menafikan kebutuhan konsumen akan keunggulan produk, melainkan dengan menyerang rasa sombong tersembunyi dalam diri manusia, produk ditawarkan sebagai simbol prestise dan gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya. Tujuan konsumsi bukan lagi menghabiskan atau memanfaatkan kegunaan barang konsumsi melainkan memanfaatkan tanda-tanda yang sengaja dimasukan ke dalam barang konsumsi oleh produsen melalui sebuah usaha manipulasi kesadaran yang dibantu oleh kecanggihan media massa.

Dari penelitian yang peneliti lakukakan pada anak remaja di SMA Negeri 1 Medan menemukan suatu fakta bahwa proses berbelanja online yang dilakukan anak remaja tersebut ditengah masyarakat konsumsi pada saat ini adalah karena adanya faktor dorongan sosial ekonomi orangtua yang berada di dalam fase kelas atas. Dimana orangtua juga tidak membatasi anaknya untuk melakukan berbelanja online, orangtua memberikan kebebasan anaknya untuk melakukan hal tersebut, dengan dukungan adanya ATM atau kartu debit yang dimiliki anak tersebut.

Tidak berhenti disitu saja tetapi ada faktor lain yaitu dengan adanya aplikasi untuk memudahkan seseorang bisa berbelanja dengan mudah dengan mengisi saldo dari aplikasi tersebut, seperti halnya OVO dan GOPAY. Dengan hal itu anak remaja tersebut dengan leluasa untuk menggunakan uang tersebut untuk membeli suatu barang yang diinginkannya. Maka dalam melakukan kegiatan berkonsumsi adalah masyarakat yang mampu mengikuti pola konsumsi yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika mampu mengikuti pola konsumsi tersebut, maka proses masyarakat konsumsi akan berhasil.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pada anak remaja yang berada di SMA Negeri Medan mempunyai instagram yang rata-rata lebih dari satu kemudian intensitas dalam penggunaan sosial media instagram sangat sering digunakan dalam sehari. Selain itu minat belanja siswa tergolong tinggi dengan intensitas belanja lumayan tinggi dalam rentan waktu sebulan dan jumlah alokasi dana untuk berbelanja juga tergolong lumayan tinggi dikalangan anak remaja. Untuk barang yang dibelanjakan setiap siswa tidak sama tergantung keinginan masing-masing.

Fenomena endorse di media sosial instagram tidak lagi asing pada siswa SMA Negeri 1 Medan bahkan menurut mereka hal itu sudah menjadi hal biasa terutama bagi online shop untuk mempromosikan suatu barang. Sehingga fenomena endorse mempengaruhi masyarakat konsumsi dalam membeli suatu barang.

Adanya endorse memudahkan masyarakat konsumsi dalam mengetahui barang dan memudahkan akses bagi siapa saja yang ingin mencari barang-barang yang diinginkan. Dalam keputusan pembelian, endorse juga sangat mempengaruhi.

Akan menjadi pertimbangan untuk membeli barang apabila barang tersebut tidak di endorse. Sehingga dalam penelitian ini endorse yang dilakukan oleh online shop tertentu merupakan suatu kepercayaan bagi masyarakat konsumsi dalam membeli suatu barang.

Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa ketika melakukan pembelian barang berdasarkan atas dasar kesukaan dan ketertarikan terhadap model barang yang terlihat menarik. Kemudian melakukan pembelian barang tanpa adanya perencanaan, membeli barang tanpa pertimbangan harga serta tidak mempertimbangkan manfaat maupun kegunaan. Membeli barang dengan harga yang mahal atau barang bermerek ternama akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi, membeli barang dengan jenis sama namun dari merek yang berbeda, membeli barang demi menjaga penampilan diri dan gengsi, serta membeli barang untuk menjaga nilai tanda. Dapat disimpulkan bahwa anak remaja yang berada di SMA Negeri 1 Medan tersebut mengkonsumi objek bukan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan tetapi untuk memenuhi keinginan atau hasrat. Hal yang dikonsumsi sebenarnya adalah sistem objek atau tanda. Selaras dengan pengertian perilaku konsumtif yang merupakan tindakan konsumen membeli produk yang kurang diperlukan untuk memuaskan kesenangan dan keinginan daripada fungsi atau kebutuhannya. Tidak hanya itu saja tetapi bisa mendapatkan prestise yang berbeda ketika mengkonsumsi barang tersebut.

Sedangkan untuk sumber alokasi dana siswa masih bergantung pada orang tua.

Hal ini dapat diindikasikan bahwa siswa sudah memasuki kategori perilaku konsumtif dan terdapat faktor lain yang mempengaruhi diantaranya adalah faktor ekonomi keluarga sebagai penentu perilaku konsumtif siswa tersebut. Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan individu untuk membeli atau mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan serta tidak didasarkan atas pertimbangan yang rasional dimana dalam

membeli suatu barang individu lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan. Apabila perilaku tersebut terus dilakukan tanpa ada pemikiran panjang maka akan berakibat terjadinya tindakan pemborosan. Dimana siswa yang seharusnya mempunyai tugas belajar digantikan oleh keinginan-keinginan yang lain.

5.2 Saran

Pada akhirnya, saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1) Bagi anak remaja khususnya yang masih sekolah dan yang masih di biayai orang tua harus lebih baik lagi dalam pengelolaan uang dan memakai uang yang diberikan. Terutama berhubungan dengan pembelian suatu produk agar dapat lebih mengutamakan kebutuhan yang menjadi prioritas utama bukan berdasarkan keinginan atau hal yang lain. Karena apabila membeli suatu barang bukan karena kebutuhan akan menimbulkan perilaku konsumtif yang akan merugikan diri sendiri. Sehingga harus adanya kesadaran dan kontrol diri pada diri sendiri untuk mencegah perilaku konsumtif.

2) Bagi orang tua diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada anak tentang pentingnya pengawasan dan bimbingan terhadap kehidupan remaja khususnya perilaku konsumtif yang sering menimpa kehidupan remaja agar di masa remaja mereka dapat melakukan yang sesuai dengan umur mereka dan tugas mereka yang masih menjadi pelajar.

3) Bagi instansi pendidikan khususnya asekolah, diharapkan memberikan edukasi kepada peserta didik dalam mengelola keuangan dan perilaku konsumtif dikalangan remaja yang menyebabkan pemborosan sejak dini.

4) Bagi instansi pendidikan khususnya perguruan tinggi, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmiah bagi mahasiswa khususnya mahasiswa jurusan Sosiologi. Serta hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan untuk menambah bahan referensi dalam wawasan kajian di bidang Sosiologi Postmodern.

5) Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan untuk mengkaji lebih dalam mengenai endorse di media sosial instagram dalam masyarakat konsumen anak remaja.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Lutfi 2014. Instagram Capai 200 Juta Pengguna.

http://techno.okezone.com/read. (Di akses pada tanggal 20 Februari 2019).

Ancok, D. 1995. Nuansa Psikologi Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Anjaskara, Dian Innes. 2016. Pengaruh Sikap Pada Media Sosial Instagram Terhadap Minat Beli Produk Kecantikan Melalui Instagram (Studi Kasus Pada Konsumen Terhadap Minat Beli). Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Aryani, Gunita. 2006. Hubungan antara Konformitas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja di SMA Negeri 1 Semarang Tahun Ajaran 2005-2006. Skripsi Fakultas Psikologi, Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Astuti, E. D. 2013. Perilaku Konsumtif Dalam Membeli Barang Pada Ibu Rumah Tangga Di Kota Samarinda. Jurnal Psikologi, 1(2), 148-156.

Avicenna, F. 2014. Gelombang Baru Komunikasi Pemasaran di Media Sosial :Shout for Shout Pada Akun Instagram di Era Pemasaran. Skripsi, Universitas Brawijaya, Malang.

Badan Pusat Statistik. 2008. Pendapatan dibedakan 4 golongan.

Https://www.bps.go.id/

Baudrillard, Jean. 1997. System of Objects (trans. James Benedict). London:

Verso.

Baudrillard, Jean. 1998. The Consumer Society; myth and Structures. London:

Sage Publication.

Baudrillard, Jean. 2004. Masyarakat Konsumsi (diterjemahkan dari La Societe de consummation, diberi kata pengantar oleh George Ritzer). Yogyakarta : Kreasi Wacana Yogyakarta.

Buchari, Alma. 2007. Manajemen Pemsaran dan Pemasaran Jasa. Edisi revisi.

Bandung: CVAlfabeta

Bungin, Burhan (Ed). 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: Rajawali Press.

Bungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta: Kencana

Bungin, Burhan. 2014. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya (Edisi Kedua). Jakarta: Kencana.

Departemen Kesehatan (Depkes). 2018. www.depkes.go.id, (Diakses pada tanggal 14 Oktober 2018

Dyah. 2014. Studi Elaboration Likehold Model Pada Pengaruh Selebgram (Selebriti Endorser Instagram) Terhadap Minat Pembelian Pada Media Sosial Instagram. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri

Firdaus, Said, Mariyudi, Teuku Zulkarenaen. 2015. Pengaruh Brand Awareness Danbrand Image Terhadap Keputusan Pembelian Dan Loyalitas Mahasiswi Yang Berbelanja Online Di Kota. Jurnal Manajemen Indonesia, 69-117

Fitria, E. M. 2015. Dampak Online Shop Di Instagram Dalam Perubahan Gaya Hidup Konsumtif Perempuan Shopaholic Di Samarinda. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(3), 117-128.

Gaffar, Abdul. 2016. Sihir Iklan dalam Konsumsi Masyarakat Perkotaan. Jurnal Sosiologi, 2(1) 1-11

Ghazali, Miliza. 2016. Buat Duit Dengan Facebook dan Instagram : Panduan Menjana Pendapatan dengan Facebook dan Instagram. Malaysia: Publishing House.

Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Ikhsan, S. H. 2018. ENDORSER ANAK dalam IKLAN di MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (Studi Deskriptif Kualitatif Persepsi Ibu Rumah Tangga Terhadap Endorser Anak dalam Iklan di Media Sosial Instagram di Perumahan Dinas TNI AL Barakuda Medan) . Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, Medan.

Kompas Tekno dari The Next Web. 2015. Chairman of Internet Data Center Indonesia. Techno.Id (Diaskes pada tanggal 15 Oktober 2018).

Kotler dan Armstrong. 2008. Prinsip-prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga

Kotler, dan Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran, Edisi Ketiga Belas Jilid 2. Jakarta : Erlangga

Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas (diterjemahkan dari Fifty Key Contemporary Thinkers oleh A.

Gunawan Admiranto). Yogyakarta: Kanisius.

Lestari, Desti Putri. 2014. Analisis Strategi Internet Marketing Butik Online Di Surabaya Melalui Instagram. Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(2) 412-424

Mangkunegara, Anwar P. 2005. Perilaku Konsumen. Bandung: PT Refika Aditama.

Maulidar. 2017. Peran Celebgram Endorser Dalam Proses Pengambilan Keputusan Membeli Pakaian Wanita Di Instagram Pada Mahasiswi Universitas Syiah Kuala. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(1), 1-11.

Moloeng, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Murti, Andini. (2005). Perbandingan Konsep Consumer Society Dalam Pemikiran Jean Baudrillard dan Herbet Marcuse. Skripsi Program Sarjana Bidang Filsafat Universitas Indonesia, Jakarta.

Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito.

Nisaputra, R. 2013. 36 juta jiwa aktif menggunakan bisnis.

http://www.lintas.me/bisnis/inspirasi/laptopbunda.com/36-juta-jiwa-aktifmenggunakan-bisnis (Diakses pada tanggal 22 Februari 2019)

Novitasari, S. C. 2018. Endorsement Dan Selebgram (Studi Deskriptif Gaya Hidup Budaya Populer Pada Mahasiswi Di USU). Skripsi (S1). Medan: Program Studi Ilmu Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara.

Nugraha, U. 2008. Wealth Management., Jakarta : Gramedia

Pawanti, M. H. 2013. Masyarakat Konsumeris Menurut Konsep Menurut Pemikiran Jean Baudrillard. Depok: Universitas Indonesia.

Persaulian, Baginda. 2013. Analisis Konsumsi Masyarakat Di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi, 1(2) 1-23

Ritzer, G. 2006. (The Postmodern Social Theory penerjemah Muhammad Taufik dalam Teori Sosial Postmodern ed. 3). Yogyakarta: Kreasi Wacana

Schiffman, dan Kanuk. 2007. Perilaku Konsumen Edisi 7. Jakarta: PT. Indeks Gramedia

Scholte, J. A. 2001. The Globalization of World Politics. Oxford: Oxford University Press.

Shaffatallah, A. Z. D. U. A. 2012. Hubungan Kepercayaan Diri Mahasiswa Baru Dengan Perilaku Konsumtif Remaja Di Universitas Islam Negeri (Uin) Maulana

Malik Ibrahim Malang. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Shimp, A. Terence. 2003. Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Edisi 5 Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Sumartono. 2002. Terperangkap dalam Iklan (Menoropong Imbas Pesan Iklan Televisi). Bandung: Alfabeta.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto. 2015. Teori-Teori Kebudayaan.

Yogyakarta: Kanisius.

Suyanto, Bagong & Sutinah (Ed). 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana.

Suyanto, Bagong. 2013. Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat Post-Modernisme. Jakarta: Kencana.

Tambunan, R. 2001. Remaja dan Perilaku Konsumtif. Jurnal Kajian Strategis GEMANUSA. http://kajiangemanusa.blogspot.com/2007/04/remaja-dan-perilaku-konsumtif.html (Diakses tanggal 14 Oktober 2018).

Usman, Husaini & Purnomo Setiady Akbar. 2009. Metodologi Penelitian Sosial (Edisi Kedua). Jakarta: Bumi Aksara

Wijaya, A. 2008. Belanja via Internet Meningkat. http://www.tempo.co /read/news/2008/03/05/056118641/Belanja-via-InternetMeningkat. (Diakses pada

Wikipedia. 2011. Pengertian Media Sosial. https://id.wikipedia.org/

wiki/Media_sosial, (Diakeses pada tanggal 14 Oktober 2018)

World Health Organization (WHO). (2015). Adolescent Development: Topics at Glance.http://www.who.int/maternal_child_adolescent/topics/adolescence/dev/en

LAMPIRAN

INTERVIEW GUIDE I. Profil Informan

Nama :

Kelas :

Alamat :

Usia :

Jenis Kelamin :

Pekerjaan Orangtua

Ayah :

Ibu :

Penghasilan Orangtua

Ayah :

Ibu :

Uang Saku :

II. Instagram dan Konsumsi

1) Berapa akun instagram yang anda punya dan siapa saja yang menjadi followers instagram anda?

2) Hal apa saja yang anda lihat dalam instagram dan seberapa sering anda membuka instagram dalam sehari?

3) Apakah anda pernah berbelanja online di instagram dan Seberapa sering anda berbelanja online di instagram dalam sebulan?

4) Berapa budget (biaya) yang anda targetkan untuk berbelanja online di instagram?

5) Barang apa saja yang anda beli saat berbelanja online di instagram?

6) Apakah saat membeli barang anda mempertimbangkan harga barang tersebut?

7) Apakah yang menjadi alasan anda untuk berbelanja online di instagram?

III. Fenomena Endorse

8) Apakah anda tahu mengenai endorse dan bagaimana menurut anda tentang endorse?

9) Apakah anda terpengaruh berbelanja online di instagram karena endorse, jikalau iya apa yang menjadi alasan anda kenapa anda tertarik dengan barang endorsean?

10) Artis siapa yang menjadi panutan anda untuk membeli barang endorsean?

11) Apabila anda membeli barang tetapi barang tersebut tidak di endorse oleh artis/selebgram apakah anda mau membeli barang online yang ada di instagram tersebut?

12) Apakah anda membeli barang tersbeut karena artis yang di endorse?

13) Apa yang menjadi alasan anda untuk membeli barang tersebut?

IV. Masyarakat Konsumen dan Endorse

14) Apakah anda suka membeli barang yang sedang trend?

15) Apakah anda membeli suatu barang karena butuh?