2 TINJAUAN PUSTAKA
3) Bagian-bagian rumpon
2.4 Analisis Finansial
Menurut Kadariah (1988) terdapat dua jenis analisis biaya yaitu analisis finansial dan analisis ekonomi. Analisis finansial merupakan analisis biaya yang dilihat dari sudut penanam modal, sedangkan analisis ekonomi dilihat dari sudut perekonomian secara keseluruhan.
Pada analisis finansial terdapat dua jenis pengeluaran yaitu pengeluaran untuk barang investasi dan biaya untuk produksi. Biaya produksi menurut Rosyidi (2009) merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan produk atau semua nilai faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk. Biaya produksi ini terbagi atas tiga jenis yaitu :
1)Biaya tetap/fixed cost (FC)
Biaya tetap merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan atau biaya yang tidak berubah walaupun jumlah produk yang dihasilkan berubah. Biaya ini tetap harus dikeluarkan atau dibayarkan walaupun tidak ada produk yang dihasilkan. Contoh dari biaya tetap adalah sewa, asuransi, biaya pemeliharaan, biaya penyusutan, bagi hasil, gaji, pajak dan alat tulis kantor. 2)Biaya variabel/variable cost (VC)
Biaya variabel merupakan biaya yang dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan atau biaya yang berubah sesuai dan searah dengan perubahan jumlah produk. Biaya ini tidak dikeluarkan atau dibayarkan jika tidak ada produk yang dihasilkan. Contoh dari biaya variabel adalah bahan mentah atau bahan baku, bahan bakar, penggunaan listrik, penggunaan air dan pengangkutan.
3)Biaya total/total cost (TC)
Biaya total merupakan keseluruhan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh pengusaha, sehingga biaya ini adalah hasil penjumlahan dari biaya tetap dengan biaya variabel.
Penyusutan merupakan pengalokasian biaya investasi setiap tahun sepanjang umur ekomomis proyek atau kegiatan untuk memastikan modal terhitung dalam neraca rugi laba tahunan (Kadariah, 1988). Standar Akuntansi Keuangan (2007) vide Nurlaelani (2011) mendefinisikan penyusutan sebagai alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan pada pendapatan secara langsung maupun tidak langsung. Soemarso S.R (2005) vide Nurlaelani (2011) menyatakan bahwa semua aktiva tetap kecuali tanah akan menyusut.
Penyusutan dapat dihitung dengan berbagai metode yang dapat dikelompokan sebagai berikut (Nurlaelani, 2011):
1)Metode aktivitas (Activity Method)
Metode aktifitas (activity method) juga disebut pendekatan beban variabel yang mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas bukan dari berlalunya waktu.
2)Metode garis lurus (Straight Line Method)
Metode garis lurus mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan fungsi dari penggunaan. Metode ini mengasumsikan bahwa asset terdepresiasi secara konstan setiap tahunnya selama umur manfaatnya.
3)Metode beban menurun (Decreasing Charge Method)
Metode beban menurun (Decreasing Charge Method) yang seringkali disebut metode penyusutan dipercepat menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang. Metode ini terbagi dua yaitu :
(1) Metode jumlah angka tahun (Sum Of The Year Digits) adalah yang menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan.
(2) Metode saldo menurun adalah metode yang menggunakan tarif penyusutan berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus.
4)Metode penyusutan khusus
(1) Metode Kelompok dan Gabungan merupakan metode dimana beberapa akun aktiva seringkali disusutkan dengan satu tarif. Metode kelompok sering digunakan apabila aktiva bersangkutan cukup homogen dan memiliki masa manfaat yang hampir sama. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda.
(2) Metode campuran atau kombinasi dimana selain metode penyusutan diatas, perusahaan bebas mengembangkan metode penyusutan sendiri yang khusus atau dibuat khusus.
3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2010 dengan tempat penelitian di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat (Lampiran 1).
3.2Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data fasilitas pelayanan penyedia kebutuhan melaut di PPN Palabuhanratu, data sekunder mengenai jasa penyedia kebutuhan melaut di PPN Palabuhanratu dan peta PPN Palabuhanratu. Alat penelitian menggunakan kuesioner yang digunakan untuk pengumpulan data primer terhadap responden pengelola (UPT) PPN Palabuhanratu, nelayan pancing rumpon dan pengelola fasilitas terkait.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Aspek yang diteliti adalah aspek fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan perikanan. Pada aspek tersebut telah diteliti mengenai fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan perikanan yang terkait dengan usaha pancing rumpon yang ada di PPN Palabuhanratu.
Data atau informasi yang dibutuhkan untuk mengetahui kondisi aktual fasilitas dan kepelabuhanan dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung yang didukung dengan dilakukannya wawancara langsung terhadap pihak terkait. Data dan informasi terkait besaran biaya pemanfaatan fasilitas dan penanganan kepelabuhanan yang dikeluarkan oleh pelaku kegiatan di pelabuhan didapatkan dari wawancara dengan pihak terkait dan mengumpulkan data sekunder.
Metode pengumpulan data dan informasi penelitian yang dilakukan, selengkapnya digambarkan sebagai berikut :
1 Pengamatan :
1) Pengamatan terhadap jumlah dan fasilitas apa saja yang terkait usaha perikanan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu.
2) Mengamati kondisi dari fasilitas yang terkait usaha perikanan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu dan seberapa besar kapasitas fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku perikanan pancing rumpon. 3) Pengamatan terhadap jumlah dan pelayanan apa saja yang terkait usaha
perikanan pancing rumpon yang tersedia di PPN Palabuhanratu.
4) Mengamati kondisi pelayanan yang terkait usaha perikanan pancing rumpon yang ada di PPN Palabuhanratu dan seberapa besar kapasitas pelayanan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku perikanan pancing rumpon.
2 Wawancara :
Wawancara dilakukan dengan bantuan kuesioner terhadap pihak pengelola PPN Palabuhanratu, pihak pengelola fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan dan nelayan pancing rumpon. Jumlah responden yang diambil ditentukan dengan metode purposive sampling, dimana jumlah responden yang dipilih dianggap sudah mampu menjawab tujuan penelitian ini. Jumlah responden yang diwawancarai dan hal-hal yang ingin diketahui dari masing-masing responden yaitu:
1) Lima orang responden dari pihak pengelola PPN Palabuhanratu. Hal yang ingin diketahui melalui wawancara ini adalah fasilitas dan pelayanan apa saja yang ada di PPN Palabuhanratu yang terkait dengan perikanan pancing rumpon, jumlah dan ukuran masing-masing fasilitas, siapa yang mengelola fasilitas dan pelayanan tersebut, kendala yang dihadapi dan program perbaikan atau pengembangan yang dilakukan terhadap fasilitas dan pelayanan tersebut untuk meningkatkan kegiatan perikanan pancing rumpon ini.
2) Dua orang reponden dari masing-masing pihak pengelola fasilitas dan pelayanan yang terkait dengan usaha perikanan pancing rumpon. Hal yang ingin diketahui melalui wawancara ini adalah jumlah dan ukuran fasilitas, kapasitas fasilitas, kapasitas produksinya, pelayanan apa saja yang diberikan terkait fasilitas tersebut, sistem pengelolaan dari fasilitas dan pelayanan ini, bagaimana sistem operasi fasilitas dan pelayanan tersebut,
harga yang harus dikeluarkan oleh nelayan untuk dapat memanfaatkan fasilitas dan pelayanan tersebut dan sistem pembayarannya, serta program perbaikan dan pengembangan terhadap fasilitas dan pelayanan tersebut yang sudah dan akan dilakukan oleh pengelola. Selain itu juga ingin diketahui kendala yang dialami pihak penyedia dalam pengelolaan fasilitas dan pelayanan tersebut.
3) Sepuluh orang responden dari pihak nelayan pancing rumpon untuk mengetahui berapa lama trip dari perikanan pancing rumpon, fasilitas dan pelayanan apa saja dan berapa besarnya yang digunakan oleh perikanan pancing rumpon, bagaimana proses dalam memanfaatkan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan ini, kendala yang ada dalam pemanfaatannya dan biaya yang harus dikeluarkan dalam pemanfaatannya. Untuk penilaian pelayanan dilakukan wawancara dengan 30 orang nelayan pancing rumpon.
Berbeda dengan tingkat pemanfaatan fasilitas yang bergantung kepada kapasitas produksi fasilitas dalam satuan waktu tertentu dan jumlah penggunaan oleh perikanan pancing rumpon pada satuan waktu yang sama, penilaian tingkat pelayanan bergantung kepada penilaian responden terhadap pelayanan yang diberikan oleh pengelola fasilitas terkait. Ketegori tingkat pelayanan yang diberikan kepada responden nelayan pancing rumpon tersebut meliputi beberapa karegori penilaian yaitu : sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik dan tidak baik. Pada penelitian ini, pada setiap jenis responden diasumsikan bahwa kemampuan penafsiran terhadap kategori tingkat pelayanan dari masing-masing pelayanan fasilitas adalah homogen.
Penilaian oleh responden nelayan pancing rumpon dilakukan terhadap tingkat pelayanan fasilitas dermaga (tambat kapal, pendaratan dan memuat perbekalan melaut), kolam pelabuhan (labuh kapal), TPI (pelelangan atau pemasaran hasil tangkapan), instalasi air bersih (pengadaan air bersih), instalasi BBM (pengadaan BBM), perusahaan penanganan dan pendistribusian tuna (pemasaran hasil tangkapan tuna), pasar ikan (pemasaran hasil tangkapan), kantor pengelola PPN Palabuhanratu (pusat informasi dan bantuan), syahbandar (pembuatan surat perizinan), docking (pembuatan atau perbaikan kapal), bengkel
(perbaikan mesin dan pembuatan atau perbaikan knalpot) dan toko logistik (pengadaan bahan kebutuhan melaut) di lapangan.
3 Pengumpulan Data sekunder
Data sekunder didapatkan dari beberapa instansi terkait yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, pengelola PPN Palabuhanratu dan perusahaan penyedia fasilitas dan pelayanan di Palabuhanratu. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari :
1) Data utama (1) Data primer :
- Kebutuhan perbekalan melaut perikanan pancing rumpon yang ada di PPN Palabuhanratu
- Kebutuhan fasilitas dan pelayanan oleh perikanan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu
- Ketersediaan fasilitas dan pelayanan tersebut di PPN Palabuhanratu
- Kondisi fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan tersebut di PPN Palabuhanratu
- Harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkan fasilitas dan pelayanan tersebut
- Kemampuan pengguna (nelayan pancing rumpon) fasilitas dan pelayanan dalam memanfaatkannya
(2) Data sekunder
- Besaran produksi hasil tangkapan dalam usaha pancing rumpon selama 5 tahun terakhir (2005-2009)
- Data armada penangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 - Jumlah fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan yang ada di PPN
Palabuhanratu tahun 2009
- Kabupaten Sukabumi dalam Angka tahun 2009 2) Data tambahan
(1) Data primer
(2) Data sekunder
- Peta daerah penelitian
- Keadaan geografis dan topografis PPN Palabuhanratu dan Kabupaten Sukabumi
- Unit penangkapan lainnya di PPN Palabuhanratu
3.4 Analisis Data
Analisis kondisi fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan dilakukan secara deskriptif dan menggunakan analisis gambar dan perhitungan rata-rata dan kisaran dalam penyajian tabel sesuai dengan fakta keadaan di lapangan. Fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan yang dianalisis adalah dermaga, kolam pelabuhan, instalasi BBM, TPI, instalasi air bersih, pengadaan es, docking, syahbandar perikanan, pasar ikan, bengkel dan toko logistik. Analisis terhadap fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi aktual dari fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan dan untuk mendapatkan besarnya kapasitas kerja dari fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan tersebut.
Analisis pemanfaatan fasilitas dilakukan terhadap fasilitas dermaga, kolam pelabuhan, TPI, instalasi air bersih, instalasi BBM, pengadaan es, perusahaan penanganan dan pendistribusian tuna, pasar ikan, kantor pengelola PPN Palabuhanratu, syahbandar perikanan, docking, bengkel dan toko logistik. Berikut ini adalah rumus perhitungan tingkat pemanfaatan (TP) fasilitas :
Keterangan : TP = Tingkat pemanfaatan fasilitas
PA = Pemakaian aktual fasilitas oleh nelayan pancing rumpon KP = Kapasitas produksi fasilitas
Biaya terkait pemanfaatan fasilitas dan pelayanan yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon pada skripsi ini dihitung berdasarkan analisis finansial. Analisis ini akan mengkaji beberapa hal yaitu biaya yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon untuk melakukan usaha penangkapan ikan, biaya yang dikeluarkan untuk memanfaatkan masing-masing fasilitas atau pelayanan kepelabuhanan yang terdapat di PPN Palabuhanratu dan perbandingan biaya
pemanfaatan fasilitas dan pelayanan tersebut terhadap biaya untuk melakukan usaha penangkapan ikan.
Pada analisis finansial ini pertama-tama dihitung biaya yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon untuk melakukan usaha penangkapan ikan dalam satu tahun yaitu tahun 2010. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab 2.4 pengeluaran yang dikeluarkan pancing rumpon untuk melakukan usaha penangkapan ikan terdiri dari pengeluaran untuk investasi dan biaya produksi. Pada analisis finansial di dalam skripsi ini ditambahkan komponen biaya pinjaman, karena dalam memulai, melanjutkan atau mempertahankan usaha terkadang dilakukan peminjaman dana. Biaya produksi terdiri dari biaya tetap, biaya variabel dan biaya total. Biaya total dihitung dengan rumus sebagai berikut : TC = TFC + TVC
Keterangan : TC = total cost/biaya total
TFC = total fixed cost/jumlah biaya tetap TVC = total variabel cost/jumlah biaya variabel Sumber : Rosyidi (2009)
Perhitungan biaya penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab 2.4 metode garis lurus dihitung konstan sepanjang umur teknis barang investasi. Perhitungan penyusutan dilakukan dengan rumus :
Biaya penyusutan = Nilai investasi awal : umur teknis Sumber : Nurlaelani (2011)
Pada biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel terdapat beberapa biaya yang berhubungan dengan pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan oleh perikanan pancing rumpon. Biaya-biaya tersebut dikelompokkan menjadi biaya pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan, sehingga dapat juga diketahui persentase perbandingan biaya pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan yang termasuk biaya investasi terhadap keseluruhan biaya investasi; persentase perbandingan biaya pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan yang termasuk biaya tetap terhadap keseluruhan biaya tetap;
persentase perbandingan biaya pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan yang termasuk biaya variabel terhadap keseluruhan biaya variabel dan persentase perbandingan biaya pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan yang termasuk biaya produksi terhadap keseluruhan biaya produksi total yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon.
Biaya pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan adalah biaya investasi, biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan oleh nelayan pemilik atau pengusaha perikanan pancing rumpon dalam melakukan usaha penangkapan pancing rumpon yang menggunakan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan di PPN Palabuhanratu sebagai akibat keberadaan pelabuhan tersebut. Biaya-biaya terkait pemanfaatan fasilitas dan pelayanan kepelabuhanan itu adalah sebagai berikut (Tabel 2) :
Tabel 2 Biaya-biaya terkait pemanfaatan faslitas dan pelayanan kepelabuhanan oleh usaha perikanan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu
Jenis-jenis biaya pemanfaatan fasilitas dan
pelayanan Fasilitas dan pelayanan terkait
1. Tambat labuh Dermaga
2. Pas kebersihan Kolam pelabuhan
3. Pembelian air bersih Instalasi air bersih
4. Pembelian BBM Instalasi BBM
5. Pembuatan kapal
Docking 6. Perawatan dan perbaikan kapal
7. Perawatan dan perbaikan mesin Bengkel 8. Pembutan perizinan (SIB, SIUP, SIPI dan
pas tahunan kapal) Syahbandar perikanan
9. Pembelian serok Toko bahan alat penangkapan
atau kedai pesisir
Perhitungan analisis finansial di atas diperlihatkan pada Lampiran 7. Pada perhitungan ini biaya yang digunakan adalah biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon, biaya tersebut didapatkan dari hasil wawancara dengan nelayan pancing rumpon.
4
KEADAAN UMUM
4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi 4.1.1 Keadaan geografis dan topografis
Kabupaten Sukabumi berada di Propinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari Bandung (ibukota Propinsi Jawa Barat) dan 119 km dari Jakarta (ibukota Negara Indonesia). Wilayah Kabupaten Sukabumi secara geografis terletak diantara 60 57` - 70 25` LS dan 1060 49` - 1070 00` BT. Kabupaten Sukabumi memiliki luas daerah 4.128 km2 (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a)
Selanjutnya BPS Kabupaten Sukabumi tahun 2010 menyatakan bahwa Kabupaten Sukabumi berbatasan dengan Kabupaten Bogor di sebelah utara, Samudera Indonesia di sebelah selatan, Kabupaten Lebak dan Samudra Indonesia di sebelah barat dan Kabupaten Cianjur di sebelah timur.
Kabupaten Sukabumi merupakan daerah yang beriklim tropis dimana suhu udara di Kabupaten Sukabumi berkisar antara 20º-30ºC dan kelembaban udaranya berkisar antara 85% sampai 89%. Curah hujan rata-rata tahunan di Kabupaten Sukabumi adalah sebesar 2.805 mm dengan hari hujan 144 hari. Curah hujan di Kabupaten Sukabumi bagian utara berkisar antara 3.000-4.000 mm/tahun, sedangkan curah hujan antara 2.000-3.000 mm/tahun terdapat di Kabupaten Sukabumi bagian selatan (Pemda Kabupaten Sukabumi, 2010b).
Keadaan topografis wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya meliputi dataran rendah dengan beberapa bukit kecil di daerah bagian selatan dan barat. Daerah ini merupakan daerah yang memiliki pantai karena berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Keadaan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia membuat daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi perikanan tangkap yang baik, dengan jangkauan daerah penangkapan yang luas (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a).
Selain itu menurut BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) sebagian besar daerah pantai di Kabupaten Sukabumi membentuk teluk yang menyebabkan daerah tersebut terlindung dari gelombang laut Samudera Indonesia yang cukup besar sehingga keberadaan PPN Palabuhanratu sebagai sentral kegiatan perikanan
tangkap pada saat ini sudah sangat sesuai dengan kondisi geografi pantai berupa teluk tersebut.
Selanjutnya BPS Kabupaten Sukabumi menyatakan bahwa daerah Kabupaten Sukabumi juga terdiri dari daerah yang bergunung (Gunung Salak dengan ketinggian 2.211m dan Gunung Gede dengan ketinggian 2.958m) di daerah bagian utara dan tengah. Adanya daerah pegunungan ini membuat jalur transportasi ke dan dari ibukota negara (Jakarta) dan sekitarnya harus melalui pegunungan tersebut. Hal ini membuat jalur yang dilalui merupakan tanjakan dan turunan yang cukup tajam, sehingga perjalanan tidak bisa dilakukan dengan kecepatan tinggi dan memakan waktu yang cukup lama. Produk perikanan merupakan produk yang sangat rentan terhadap pembusukan dan kerusakan, sehingga dalam pendistribusian melalui jalur seperti di atas distributor harus sangat memperhatikan kemasan dan suhu produk perikanan yang didistribusikan.
Adanya bentuk topografis yang beragam itu membuat Kabupaten Sukabumi memiliki pariwisata yang beragam pula seperti wisata bahari, arung jeram dan perkebunan. Wisata bahari di Kabupaten Sukabumi dapat berupa pantai berpasir, karang, memancing, surfing dan wisata makanan hasil perikanan. Pariwisata yang menjanjikan tersebut membuat banyak didirikannya penginapan dan restoran di sepanjang pantai di Kabupaten Sukabumi.
4.1.2 Keadaan penduduk, pendidikan dan rumah tangga perikanan 1) Penduduk
Menurut laporan BPS Kabupaten Sukabumi tahun 2009 jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi tahun 2009 mencapai 2.328.804 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 1.185.833 laki-laki (50,9%) dan 1.142.971 perempuan (49,1%), dengan rasio jenis kelamin penduduk di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 sebesar 104 yang artinya pada setiap 104 laki-laki terdapat 100 perempuan. Kepadatan penduduk Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 adalah sebesar 559 orang per km2. Hal tersebut mengartikan bahwa pada setiap 1 km² di Kabupaten Sukabumi dihuni oleh 559 orang (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a).
Penduduk yang terdapat di Kabupaten Sukabumi jika dikelompokkan berdasarkan umurnya adalah sebagai berikut (Tabel 3) :
Tabel 3 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kelompok umur Jumlah (orang) Persentase (%) Kelompok umur Jumlah (orang) Persentase (%) ≤ 4 266.132 11,4 40-44 167.712 7,2 5-9 221.163 9,5 45-49 140.590 6,0 10-14 265.428 11,4 50-54 115.666 5,0 15-19 189.441 8,1 55-59 80.545 3,5 20-24 153.651 6,6 60-64 62.915 2,7 25-29 186.616 8,0 65-69 47639 2.05 30-34 159.349 6,8 70-74 34234 1.47 35-39 185.927 8,0 ≥ 75 51796 2.22 Jumlah 2.328.804 100,0
Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a
Penduduk yang memiliki komposisi terbanyak di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berdasarkan Tabel 3 dan Gambar 1 adalah kelompok umur ≤ 4 tahun dan 10-14 tahun dengan persentase masing-masing sebesar 11,4%. Jumlah kelompok umur yang paling sedikit terdapat di Kabupaten Sukabumi ialah kelompok umur 60-64 tahun dengan jumlah 62.915 orang atau 2,7% dari jumlah keseluruhan penduduk Kabupaten Sukabumi.
Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali)
Gambar 1 Diagram jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 Ju m lah (o ran g ) Umur
Kecamatan dengan penduduk terbanyak menurut Tabel 4 di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah Cisaat (4,6%), Cicurug (4,7%), Cibadak (4,5%) dan Palabuhanratu (4,0%). Kecamatan dengan penduduk terbanyak tersebut memiliki jumlah tenaga kerja potensial lebih banyak jika dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Jika kecamatan tersebut berada di wilayan pesisir maka tenaga potensial tersebut dapat dimanfaatkan untuk bekerja di bidang perikanan tangkap. Selain itu jumlah penduduk yang banyak merupakan pasar potensial bagi produksi perikanan tangkap, sehingga dapat diasumsikan bahwa Cisaat, Cicurug, Cibadak dan Palabuhanratu merupakan pasar potensial bagi produksi perikanan tangkap. Tabel 4 Jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009
Kecamatan Jumlah (orang) P (%) Kecamatan Jumlah (orang) P (%)
1. Bantargadung 38.374 1,6 25. Jampang tengah 66.250 2,8
2. Bojonggenteng 31.664 1,4 26. Kabandungan 37.605 1,6 3. Caringin 44.095 1,9 27. Kadudampit 48.220 2,1 4. Ciambar 36.414 1,6 28. Kalapanunggal 40.298 1,7 5. Cibadak 105.140 4,5 29. Kalibunder 27.516 1,2 6. Cibitung 25.737 1,1 30. Kebonpedes 28.544 1,2 7. Cicantayan 50.026 2,1 31. Lengkong 29.712 1,3 8. Cicurug 108.735 4,7 32. Nagrak 76.991 3,3 9. Cidadap 19.343 0,8 33. Nyalindung 45.528 1,9 10. Cidahu 54.954 2,4 34. Pabuaran 39.935 1,7 11. Cidolog 17.974 0,8 35. Palabuhanratu 94.266 4,1 12. Ciemas 49.381 2,1 36. Parakansalak 38.890 1,7 13. Cikakak 38.554 1,7 37. Parungkuda 32.377 1,4 14. Cikembar 73.043 3,1 38. Purabaya 41.742 1,8 15. Cikidang 64.259 2,8 39. Sagaranten 49.656 2,1 16. Cimanggu 22.279 1,0 40. Simpenan 48.066 2,1 17. Ciracap 44.262 1,9 41. Sukabumi 44.566 1,9 18. Cireunghas 31.029 1,3 42. Sukalarang 37.345 1,6 19. Cisaat 107.428 4,6 43. Sukaraja 76.988 3,3 20. Cisolok 62.538 2,7 44. Surade 70.665 3,0
21. Curug kembar 31.169 1,3 45. Tegalbuleud 32.877 1,4
22. Gegerbitung 38.754 1,7 46. Waluran 25.835 1,1
23. Gunung guruh 46.789 2,0 47. Warungkiara 56.993 2,5
24. Jampang kulon 41.202 1,8 Jumlah 2.328.804 100,0
Keterangan : P = persentase penduduk per kecamatan
2) Pendidikan
Kabupaten Sukabumi memiliki prasarana pendidikan berupa taman kanak- kanak (TK), sekolan dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dan Madrasah. Banyaknya sarana pendidikan yang tersedia tidak menjamin kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan. Kesadaran masyarakat Kabupaten Sukabumi terhadap pentingnya pendidikan masih sangat rendah, hal ini terbukti dari banyaknya penduduk Kabupaten Sukabumi yang memilih untuk menyuruh anak mereka bekerja membantu ekonomi keluarga dibandingkan bersekolah (Pemda Kabupaten Sukabumi, 2010b)
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 memberikan anggaran dana pendidikan sebesar Rp 535.000.000,00. Dana tersebut akan dialokasikan kepada beasiswa murid dari keluarga miskin, beasiswa putera daerah ke perguruan tinggi, meningkatkan kesejahteraan guru dan biaya operasional sekolah atau BOS (Desentralisasi, 2009).
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi juga sangat menyadari bahwa ketersediaan sarana prasarana pendidikan yang memadai menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan di suatu wilayah. Pemerintah Kabupaten Sukabumi berupaya menyediakan fasilitas pendidikan seperti pada Tabel 5 di bawah ini : Tabel 5 Jumlah sekolah dan murid menurut jenis sekolah di Kabupaten Sukabumi
tahun 2009
Jenis sekolah Jumlah sekolah (unit) Jumlah murid (orang) Negeri Swasta Jumlah Negeri Swasta Jumlah
1. SD 1.164 22 1.186 268.068 4.061 272.129 2. SLTP 119 88 207 54.848 22.801 77.649 3. SLTA 22 33 55 12.425 4.784 17.209 4. SMK 10 52 62 4.314 15.164 19.478 Jumlah 1.315 195 1.510 339.655 46.810 386.465 Persentase (%) 87,1 12,9 100,0 87,9 12,1 100,0 Keterangan : SD = Sekolah negeri; SLTP = Selolah Lanjutan Tingkat Pertama; SLTA = Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas; SMK = Sekolah Menengah Kejuruan
Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali)
Prasarana sekolah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berjumlah 1.510 unit. Jenis sekolah yang paling banyak terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009
adalah SD dengan jumlah 1.186 unit, sedangkan jenis sekolah yang jumlahnya paling sedikit adalah SLTA sebanyak 55 unit.
Pengelola sekolah di Kabupaten Sukabumi terdiri dari dua pihak yaitu pihak negeri (pemerintah) dan pihak swasta. Jumlah sekolah terbanyak berdasarkan pengelolanya adalah sekolah negeri yaitu sebanyak 1.315, sedangkan sekolah swasta hanya berjumlah 195 unit. Jenis sekolah negeri terbanyak adalah SD 1.164 unit, sedangkan sekolah negeri paling sedikit adalah SMK dengan jumlah 10 unit. Jenis sekolah swasta terbanyak berjumlah 88 unit yaitu SLTP, sedangkan jenis sekolah swasta paling sedikit adalah SD yang berjumlah 22 unit (BPS Kabupaten