4 KEADAAN UMUM
10) Kantor administratif PPN Palabuhanratu
Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa kantor administratif PPN Palabuhanratu meliputi gedung utama kantor pengelola PPN Palabuhanratu (Gambar 36a) yang dilengkapi oleh pos terpadu dermaga I (Gambar 36b) dan pos terpadu dermaga II (Gambar 36c). Menurut pengelola PPN Palabuhanratu gedung utama pengelola PPN Palabuhanratu memiliki luas 528 m² dan digunakan sebagai pusat administrasi. Demi menunjang kelancaran operasional di PPN Palabuhanratu kantor pengelola PPN Palabuhanratu dilengkapi dengan telepon, internet dan faximile. Berdasarkan pengamatan, kondisi kantor pelabuhan ini cukup baik dan terawat serta dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya.
a. Kantor administratif b. Pos terpadu I c. Pos terpadu II Gambar 36 Kantor pengelola PPN Palabuhanratu, pos terpadu I dan pos terpadu II
di PPN Palabuhanratu tahun 2010
Pos terpadu dermaga I dan pos terpadu dermaga II merupakan pos pelaksana teknis kegiatan di PPN Palabuhanratu dengan luas masing-masing 6 m². Pos terpadu dermaga I merupakan pos statistik yang bertugas mendata jumlah armada, jumlah alat tangkap, jumlah nelayan dan jumlah hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu untuk kebutuhan pendataan statistik PPN Palabuhanratu. Pendataan jumlah armada, alat tangkap dan nelayan dilakukan dari bulan Desember sampai bulan Januari. Selama waktu tersebut perusahaan penangkapan ikan diwajibkan melaporkan jumlah armada, jenis alat tangkap dan jumlah
nelayannya. Sementara pendataan jumlah hasil tangkapan yang didaratkan diawasi dan dicatat langsung oleh petugas pos terpadu I pada saat hasil tangkapan tersebut didaratkan di dermaga PPN Palabuhanratu.
Pada saat pendataan jumlah hasil tangkapan didaratkan, petugas tidak melakukan kegiatan penimbangan hasil tangkapan yang didaratkan, jumlah hasil tangkapan didapatkan dengan cara bertanya kepada nelayan yang mendaratkan dan hanya memastikannya dengan pengamatan saja. Hal ini merupakan kekurangan bagi pendataan jumlah hasil tangkapan yang didaratkan yang terjadi di PPN Palabuhanratu, karena dapat saja nelayan melaporkan jumlah yang salah. Pendataan juga tidak selalu dilakukan pada setiap kegiatan pendaratan hasil tangkapan di PPN Palabuahnratu, terdapat pendaratan hasil tangkapan yang tidak didata oleh petugas pos terpadu I.
Pos terpadu dermaga II terbagi kedalam dua divisi yaitu divisi jasa dan divisi teknis. Tugas dari divisi jasa adalah mengatur biaya tambat labuh, biaya pas kebersihan kolam pelabuhan dan biaya penyewaan alat berat milik PPN Palabuhanratu. Biaya tambat labuh hanya dikenakan kepada armada pancing rumpon, gillnet dan longline. Biaya pas kebersihan untuk kapal dibawah 30GT adalah Rp 100,00 sekali berlabuh, sedangkan biaya pas kebersihan untuk kapal diatas 30 GT ke atas adalah Rp 1.000,00 sekali berlabuh. Divisi teknis mempunyai tugas yang sama dengan syahbandar perikanan (sub bab 5.2 butir 9), perbedaannya hanya pada area tugas dimana syahbandar perikanan bertugas di kolam pelabuhan I, sedangkan divisi teknis bertugas di kolam pelabuhan II. Divisi teknis tersebut akan melaporkan hasil pengawasan dan pencatatannya kepada syahbandar perikanan setiap bulannya.
Pelayanan yang diberikan oleh kantor administratif PPN Palabuhanratu kepada nelayan di PPN Palabuhanratu adalah pelatihan, informasi cuaca dan gelombang laut, informasi daerah penangkapan ikan yang berpotensi terdapat banyak ikan, bantuan permodalan (seperti kapal, rumpon dan alat tangkap) dan lain-lain. Pelayanan tersebut diberikan oleh kantor administratif PPN Palabuhanratu kepada nelayan di PPN Palabuhanratu tanpa dikenakan biaya.
11) Docking
Fasilitas docking di PPN Palabuhanratu hanya berjumlah 1 unit (Gambar 37) dengan panjang 66 m dan lebar 40 m. Fasilitas docking tersebut berada di samping kolam pelabuhan I dengan keadaan yang kotor, tidak terurus dan banyak terdapat sampah serta bangkai kapal (pengelola PPN Palabuhanratu, 2010).
Fasilitas docking di PPN Palabuhanratu dikelola oleh dua pihak yaitu PT Citra Karya Utama (PT CKU) dan PPN Palabuhanratu. Fasilitas docking yang berada di arah dermaga I dikelola oleh pihak pengelola pelabuhan, sedangkan yang berada di arah dermaga II dikelola oleh pihak swasta yaitu PT CKU. Kedua pengelola tersebut mendapatkan panjang docking yang sama yaitu masing-masing 33 m. Fasilitas docking yang dikelola oleh PPN Palabuhanratu umumnya digunakan oleh nelayan sebagai tempat membuat kapal, sedangkan fasilitas
docking yang dikelola oleh PT CKU umumnya digunakan sebagai tempat
perbaikan dan perawatan kapal.
Gambar 37 Docking kapal di PPN Palabuhanratu tahun 2010
Kedua pengelola fasilitas docking (PPN Palabuhanratu dan PT CKU) menetapkan tarif biaya sewa harian lahan docking yang sama yaitu Rp 350,00 per m². Biaya sewa tersebut dikeluarkan oleh nelayan atau pengusaha perikanan untuk dapat menggunakan lahan docking pada saat pembuatan atau perbaikan kapal diluar biaya listrik, yang dihitung dengan rumus :
Keterangan : P = panjang kapal; L = lebar kapal; B = biaya sewa lahan; T = lama waktu penggunaan lahan
Sumber : hasil wawancara dengan pengelola PPN Palabuhanratu Biaya docking = P x L x B x T
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui fasilitas docking dilengkapi dengan rel (slipway) yang berfungsi untuk mempermudah menaikkan kapal ke darat saat kondisi air laut sedang surut. Kondisi dari slipway tersebut sudah berkarat, kotor dan di sekitarnya terdapat banyak sampah. Hal ini membuat fungsi slipway menjadi terganggu, sehingga sebagian besar nelayan dan pengusaha perikanan menaikkan kapal ke darat tanpa melewati slipway, tetapi ditarik begitu saja menggunakan tali saat air sedang pasang. Mahyuddin (2007) mengemukakan bahwa kondisi slipway dalam keadaan rusak namun masih dapat digunakan.
Pelayanan yang terdapat pada fasilitas docking diberikan oleh pengelola PPN Palabuhanratu, berupa penyediaan lahan yang dapat digunakan sebagai tempat pembuatan atau perbaikan kapal yang didukung dengan fasilitas listrik. Pada PT CKU tidak dapat disebut sebagai pelayanan, tetapi lebih disebut kepada penyewaan lahan sebagai tempat docking.
12) Bengkel
Pengelola PPN Palabuhanratu menjelaskan bahwa bengkel di PPN Palabuhanratu didirikan mulai tahun 1993, dengan fungsi sebagai tempat perbaikan mesin-mesin kapal perikanan yang mengalami kerusakan, pembuatan cerobong asap dan kemudi kapal. Bengkel di PPN Palabuhanratu (Gambar 38) hanya berjumlah 1 unit, memiliki luas 250 m² dan terletak di sisi dermaga 1 yang bersebelahan dengan gedung utama kantor PPN Palabuhanratu.
Gambar 38 Bengkel di PPN Palabuhanratu tahun 2010.
Berdasarkan hasil wawancara kepada pengelola bengkel di PPN Palabuhanratu diketahui bahwa semenjak berdiri hingga tahun 2009, bengkel di PPN Palabuhanratu belum dapat beroperasi dengan baik karena kekurangan
peralatan. Oleh karena itu pada tahun 2009 dilakukan pengadaan sarana (peralatan) yang dibutuhkan, diantaranya gurinda tangan, gurinda duduk dan kompresor yang masing-masing berjumlah 2 unit. Bor duduk, las tangan, mesin las, tabung oksigen, mesin bor, mesin bubut, blower, mesin pembengkok pipa dan mesin gergaji besi yang masing-masing berjumlah 1 unit.
Selanjutnya pengelola bengkel di PPN Palabuhanratu menyatakan bahwa bengkel di PPN Palabuhanratu juga menyewakan alat berat seperti crane dan forcliftt. Crane disewakan dengan harga Rp 100.000,00 per hari, sedangkan forcliftt disewakan dengan harga Rp 50.000,00 per hari. Peminjaman dan pembayaran diajukan kepada bengkel, selanjutnya uang pembayaran tersebut disetorkan oleh bengkel kepada pos terpadu divisi jasa di dermaga II.
Sesuai dengan fungsi bengkel di PPN Palabuhanratu seperti yang dijelaskan diatas maka diketahui pelayanan yang diberikan oleh bengkel di PPN Palabuhanratu yaitu penyediaan tempat, sarana atau alat dan jasa untuk perbaikan mesin kapal, pembuatan cerobong asap dan pembuatan kemudi kapal.