BAB IV ANALISIS FOKUS MAGANG
4.2 Analisis Fokus Magang dari Perspektif Normatif
Pembangunan kependudukan dan Keluarga Berencana mengacu pada Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, dimana kewenangan BKKBN tidak hanya terbatas pada masalah pembangunan keluarga berencana dan keluarga sejahtera saja tetapi juga menyangkut masalah pengendalian penduduk. Kemudian, dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional maka semua tugas dan fungsi BKKBN telah
tercermin dalam struktur organisasi masing-masing unit kerja dan kemudian dituangkan ke dalam Rencana Strategis Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana tahun 2010-2014 (RENSTRA BKKBN) sebagai penjabaran RPJMN 2010-2014 bidang Kependudukan dan KB serta menjadi pedoman pengelolaan Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana selama 5 tahun. Berdasarkan payung hukum tersebut di atas, BKKBN mempunyai fungsi perumusan kebijakan nasional, penetapan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK), pelaksanaan advokasi dan koordinasi, penyelenggaraan advokasi, komunikasi, informasi dan edukasi, pemantauan dan evaluasi serta pembinaan, pembimbingan, dan fasilitasi penyerasian kebijakan pengendalian kuantitas penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana.
Dalam magang yang telah dilaksanakan, penulis menemukan berbagai fenomena empirik yang terjadi di lokasi magang. Pada subbab ini, akan dikaji dan dianalisis oleh penulis berdasarkan data yang diperoleh dari lokasi magang melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, khususnya analisis tentang fakta yang terjadi di lapangan dengan regulasi yang telah disahkan.
4.2.1 Keluarga Berencana
Pengendalian kuantitas penduduk dilakukan untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara jumlah penduduk
tampung lingkungan serta kondisi perkembangan sosial ekonomi dan budaya. Untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas, pemerintah menetapkan kebijakan keluarga berencana melalui penyelenggaraan program keluarga berencana.
Keluarga Berencana pertama kali dicanangkan pada tahun 1968 berdasarkan Inpres Nomor 26 Tahun 1968 yang disebut Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN). Pada tahun 1970 dibentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970 yang merupakan perubahan nomenklatur dari LKBN. Pada tahun 2009, terbentuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional melalui Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009. Program Keluarga Berencana nasional mempunyai target-target kuantitatif penurunan angka kelahiran (fertilitas) yang diupayakan dapat dicapai dengan menggunakan berbagi strategi, yang diharapkan dapat membawa perubahan seiring dengan terlaksananya Program Keluarga Berencana secara optimal demi kehidupan masyarakat yang sejahtera.
Keluarga Berencana di Kabupaten Situbondo dilaksanakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo baru terbentuk pada tahun 2016. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana awalnya merupakan Kantor Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo yang kemudian menjadi berbentuk Dinas berdasarkan Peraturan Kepala BKKBN Nomor
163 Tahun 2016 tentang Pedoman Nomenklatur, Tugas dan Fungsi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi, Kabupaten dan Kota. Berdasarkan Peraturan Kepala BKKBN tersebut, maka ditetapkan Peraturan Bupati tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo. Kabupaten Situbondo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang merupakan dinas yang tingkat intensitas dan beban kerja yang sedang.
Program KB di Kabupaten Situbondo masih belum terlaksana secara optimal dan menyeluruh. Hal ini terlihat pada table berikut:
Tabel 4.6
Jumlah PUS dan Peserta KB Tahun 2016
No Tahun PUS KB Aktif Belum KB
1. 2010 164.510 111.916 52.594 2. 2011 166.842 116.346 50.496 3. 2012 167.474 116.042 51.432 4. 2013 168.231 116.611 51.620 5. 2014 157.937 109.174 48.763 6. 2015 155.388 113.699 41.689 7. 2016 152.534 111.555 40.979
Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kab. Situbondo
Masih banyak PUS di Kabupaten Situbondo yang belum mengikuti program KB dengan berbagai macam kontrasepsi yang tersedia. Pada tahun terakhir, 2016, terdapat 26,9% PUS yang belum mengikuti KB.
4.2.1.1 Upaya Peningkatan KB Baru
Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan partisipasi dalam ber-KB. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut antara lain melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat. Pasal 5 Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 menyebutkan bahwa penduduk mempunyai hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi kependudukan dan keluarga yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya.
Menurut wawancara yang telah dilakukan pada Penyuluh KB Kecamatan Kapongan, Ibu Titik Purwanti pada hari Selasa, 10 Januari 2017, sosialisasi dilakukan tidak hanya dari penyuluh KB tapi juga dibantu oleh PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa). PPKBD adalah seseorang atau beberapa orang kader dalam wadah organisasi yang secara sukarela berperan aktif dalam melaksanakan/mengelola program Kependudukan dan KB Nasional di tingkat Desa/Kelurahan.
Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014 menyebutkan bahwa peran masyarakat paling sedikit ialah penyuluhan Keluarga Berencana dan kesertaan ber-KB. Kabupaten Situbondo seperti yang telah dijelaskan di atas memang masih kurang kesadaran masyarakat khususnya PUS untuk mengikuti KB. Namun, masyarakat Situbondo yang telah mengikuti KB sudah cukup berperan aktif dalam penyuluhan KB. Masyarakat yang telah menjadi akseptor KB menjadi kader KB yang juga
ikut membantu penyuluh Kb untuk memberikan sosialisasi yang berbentuk komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat.
4.2.1.2 Tujuan Kebijakan Keluarga Berencana
Kebijakan keluarga berencana diatur pada Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 21. Kebijakan keluarga berencana dilaksanakan untuk membantu calon atau pasangan suami istri dalam mengambil keputusan dan mewujudkan hak reproduksi secara bertanggung jawab tentang:
1. Usia ideal perkawinan; Pernikahan dini masih sering terjadi di Kabupaten Situbondo. Pernikahan dini yang dimaksud tidak hanya suami dan istri yang masih di bawah umur, tapi juga istri yang masih dibawah umur. Kasus ini terjadi di Kecamatan Banyuglugur dimana suami berumur 50 tahun dan istrinya berumur 15 tahun.
Kabupaten Situbondo menyadari hal tersebut dan beberapa bulan belakangan ini mulai memperhatikan hal ini. Di beberapa tempat umum di Kabupaten Situbondo, seperti alun-alun dan perbatasan Kabupaten Situbondo, sudah dipasang baliho dan poster tentang penolakan terhadap pernikahan dini. Dalam beberapa kasus, suami adalah pria yang berusia diatas 50 tahun, sedangkan istrinya berusia 15 tahun. Hanya saja upaya pencegahan terhadap pernikahan dini ini belum menjadi perhatian
yang cukup serius. Belum ada tindakan nyata dari pemerintah Kabupaten Situbondo, seperti pendidikan gratis.
2. Usia ideal untuk melahirkan; Kelahiran merupakan faktor langsung peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Situbondo. Kabupaten Situbondo madih kurang dalam melaksanakan tanggung jawab yang berkaitan dengan usia ideal untuk melahirkan. Sebab, belum ada pelayanan seperti sosialisasi kepada masyarakat tentang usia ideal untuk melahirkan. Baik itu sosialisasi yang dilakukan langsung oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan KB ataupun bekerja sama dengan pihak lain seperti Dinas Kesehatan atau Rumah Sakit. 3. Jumlah ideal anak; Jumlah keluarga di Kabupaten Situbondo
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.7
Jumlah Keluarga Menurut Kecamatan dan Klasifikasi Keluarga Tahun 2015
No. Kecamatan Pra
Sejahtera Sejahtera Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) 1. Sumbermalang 6578 3817 10395 2. Jatibanteng 4847 4161 9008 3. Banyuglugur 4847 3250 8097 4. Besuki 2616 19848 22464 5. Suboh 4003 5703 9706 6. Mlandingan 4354 5352 9706 7. Bungatan 2909 5662 8571 8. Kendit 2781 8818 11599 9. Panarukan 3324 14808 18132 10. Situbondo 2592 11658 14250
(1) (2) (3) (4) (5) 11. Mangaran 2075 9712 11787 12. Panji 4113 18419 22532 13. Kapongan 3570 10728 14298 14. Arjasa 4908 9321 14229 15. Jangkar 5587 8376 13963 16. Asembagus 4634 10970 15604 17. Banyuputih 4142 17064 21206 Jumlah 235.547
Sumber: Situbondo Dalam Angka 2016
Jumlah keluarga di Kabupaten Situbondo tergolong banyak. Menurut hasil wawancara pada Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, H. Marjulis, SE, M.Si pada 16 Januari 2017, apabila di rata-rata, setiap keluarga mempunyai 2-4 orang anak. Pemberian sosialisasi ini juga memang belum maksimal dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Situbondo.
4. Jarak ideal kelahiran anak; Pemerintah telah mengadakan beberapa sosialisasi kepada masyarakat mengenai jumlah ideal kelahiran anak. Sayangnya, sosialisasi ini diberikan kepada masyarakat yang tinggal di kota, sedangkan banyak masyarakat yang mempunyai anak dengan jarak usia yang dekat tinggal di pinggiran kota atau desa. Oleh karena itu, hal ini dinilai masih kurang efektif.
5. Penyuluhan kesehatan reproduksi; Penyuluhan kesehatan reproduksi tidak hanya diberikan kepada PUS tapi juga usia remaja.
Dinas Pengendalian Penduduk dan KB memberikan sosialisasi ke SMP-SMP. Namun, tidak semua SMP didatangi berkaitan dengan jumlah muridnya. Dikatakan oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, H. Marjulis, SE, M.Si pada tanggal 16 Januari 2017 bahwa setiap kecamatan, 1 SMP didatangi kecuali Kecamatan Situbondo yang lebih dari 1 SMP.
4.2.1.3 Sarana dan Prasarana
Kantor Penyuluh KB di Kabupaten Situbondo sudah terdapat pada 17 kecamatan. Tidak ada lagi kantor penyuluh KB di tingkat kecamatan yang gedungnya bergabung dengan kantor kecamatan. Hanya saja, kantor penyuluh KB masih satu lahan dengan kantor kecamatan. Hal ini didasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis. Setiap penyuluh KB di tingkat kabupaten maupun kecamatan diberikan kendaraan dinas (sepeda motor). Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para penyuluh KB dalam menjalan tugas pokok dan fungsinya sesuai harapan dan dapat mencapai target. Pemberian kendaraan dinas di Kabupaten Situbondo kepada setiap penyuluh juga merupakan pemenuhan atas hak penduduk untuk memperoleh informasi perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga dengan menggunakan sarana yang tersedia.
Kendaraan dinas yang beroperasional di Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Situbondo belum memadai dikarenakan masih ada beberapa staf di Dinas Pengendalian Penduduk dan KB
Kabupaten Situbondo yang belum mendapatkan kendaraan dinas. Kendaraan dinas yang lainnya yang tersedia di Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Situbondo adalah berupa mobil dinas untuk kepala dinas dan mobil lain yang dioperasionalkan untuk melaksanakan pelayanan KB dan saat penyaluran alat kontrasepsi.
4.2.1.4 Biaya
Dana pelayanan keluarga berencana di Kabupaaten Situbondo bersumber dari APBN dan APBD. Setiap tahunnya, apabila dana APBD yang dibantu juga dengan dana APBN telah keluar, maka Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Situbondo khususnya para penyuluh KB di setiap kecamatan melakukan pendekatan dengan masyarakat agar masyarakat lebih mengenal tujuan dari Keluarga Berencana itu sendiri.
Dana yang telah dianggarkan untuk kegiatan keluarga berencana di Kabupaten Situbondo belum berjalan lancar. Pada awal tahun, pelayanan di Kabupaten Situbondo tidak berjalan dikarenakan dana APBD dan APBN yang belum cair. Dinas Pengendalian Penduduk dan KB masih membuat SPJ dana tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari observasi yang dilakukan dan wawancara bersama Kasie Pembinaan Kesertaan Ber-KB, Drs. Nur Abdul Muktas, M.Si pada tanggal 16 Januari 2017 yang dapat dilihat pada lampiran.
4.2.2 Partisipasi Pria dalam Keluarga Berencana
Keluarga Berencana mempunyai berbagai macam kontrasepsi yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat di Indonesia. Kontrasepsi terbagi menjadi dua yaitu, Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non MKJP. MKJP terdiri dari Medis Operatif Pria (MOP)/ Vasektomi, Medis Operatif Wanita (MOW)/ Tubektomi, dan lainnya, sedangkan Non MKJP terdiri dari kondom, pil, suntik, dan lainnya. MKJP dinilai lebih efektif untuk mencegah fertilitas pada wanita karena jangka waktu yang panjang yaitu lebih dari 5 tahun.
Pada penelitian ini, MOP/ Vasektomi menjadi konsentrasi peneliti. Vasektomi sendiri adalah metode kontrasepsi pria yang efektif untuk mencegah kehamilan. Vasektomi adalah pengikatan vas deferens yang merupakan saluran spermatozoa sehingga ketika ejakulasi tidak mengandung spermatozoa.
Pria dulu berperan pasif yang artinya cukup dengan mendukung atau mengingatkan sang istri untuk mengikuti KB, kini dapat berperan aktif dalam KB dengan menjadi akseptor kontrasepsi, khususnya MOP/ Vasektomi. Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 21 ayat (2) menyebutkan bahwa kebijakan keluarga berencana bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan kesertaan pria dalam praktek keluarga berencana.
Kabupaten Situbondo setiap tahunnya sejak 10 tahun belakangan selalu mendapatkan akseptor KB baru dalam MOP/ Vasektomi. Berikut
data yang didapatkan dari Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Situbondo sejak tahun 2010-2016:
Tabel 4.8
Akseptor MOP/ Vasektomi Aktif Kabupaten Situbondo
No Kecamatan Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 1. Jatibanteng 84 209 215 229 175 182 216 2. Besuki 127 211 279 353 366 377 381 3. Suboh 94 156 163 179 197 197 194 4. Mlandingan 78 83 96 104 134 139 144 5. Kendit 73 91 162 155 230 210 146 6. Panarukan 188 262 312 334 334 336 334 7. Situbondo 156 231 331 348 191 384 371 8. Panji 200 347 396 401 411 354 380 9. Mangaran 79 190 278 296 285 277 267 10. Kapongan 436 665 739 741 654 527 530 11. Arjasa 103 144 154 160 153 153 158 12. Jangkar 140 406 454 457 466 463 460 13. Asembagus 26 141 224 229 153 162 165 14. Banyuputih 135 270 299 383 324 299 212 15. Sumbermalang 47 174 184 204 197 176 152 16. Bungatan 59 107 165 178 262 337 247 17. Banyuglugur 71 180 239 251 191 190 164 Jumlah 2096 3867 4690 5002 4733 4763 4521
Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kab. Situbondo
Pada table diatas, dapat dilihat bahwa akseptor MOP/ Vasektomi di Kabupaten Situbondo tinggi. Menyadari hal tersebut, Museum Rekor Indonesia memberikan Rekor MURI kepada Kabupaten Situbondo
Pemerintah daerah Kabupaten Situbondo memberikan perhatian khusus kepada masyarakat Situbondo untuk menjadi akseptor KB.
Kasus yang muncul ketika banyak pria yang ingin menjadi akseptor MOP/ Vasektomi adalah pria-pria yang telah berumur lebih dari 50 tahun. Hal ini menimbulkan rumor yang mengatakan bahwa para pria/suami yang ingin menjadi akseptor vasektomi hanya menginginkan imbalan berupa uang 150 ribu dari pemerintah. Menurut Kepala Seksi Pembinaan Kesertaan Ber-KB, Drs. Nur Abdul Muktas, M.Si., pada wawancara tanggal 16 Januari 2017, alasan pria yang berumur diatas 50 tahun yang ikut MOP/ Vasektomi bukan karena menginginkan imbalan yang diterima akseptor tapi juga dikarenakan istri yang masih produktif atau belum menopause. Namun, Kasie Pembinaan Kesertaan Ber-KB tidak menutup kemungkinan bahwa alasan utama atau alasan lain para pria menjadi akseptor vasektomi karena ingin uang yang diberikan kepada akseptor.
Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014 Pasal 18 ayat (2), kebijakan keluarga berencana dilakukan melalui upaya pengaturan kehamilan dengan memperhatikan agama, kondisi perkembangan sosial ekonomi dan budaya, serta tata nilai yang hidup dalam masyarakat. MOP/ Vasektomi menuai kontroversi sampai sekarang ini. MOP/ Vasektomi dinilai melanggar aturan agama karena dianggap melanggar kodrat untuk menghasilkan keturunan. MOP/ Vasektomi dianggap tidak sesuai dengan aturan agama karena KB permanen. Dalam kenyataannya, MOP/
Vasektomi tidak permanen. Bagi akseptor yang ingin mempunyai anak lagi setelah menjadi akseptor dapat membuka kembali ikatan vas deferensnya melalui operasi.
Pihak yang saat ini sering menjalankan keluarga berencana dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi yang tersedia adalah perempuan. Sementara pria ber-KB, tampaknya masih belum bisa dikatakan membudaya dan masih dianggap sesuatu yang tabu. Data satatistik menunjukkan wanita lebih dominan dalam aktivitas mengontrol angka kelahiran ketimbang laki-laki. Partisipasi laki-laki untuk memasang alat kontrasepsi (ber-KB) dalam menyukseskan program keluarga berencana (KB) di Indonesia masih rendah. Faktor kultur masyarakat dan juga pandangan tafsir agama diduga sebagai salah satu penyebab utama. Minimnya informasi medis sekitar problem vasektomi menyebabkan lahirnya pandangan yang keliru tentang masalah ini.
Melihat pandangan masyarakat yang masih takut untuk menjadi akseptor MOP/ Vasektomi, Kabupaten Situbondo bekerja sama dengan Institut Agama Islam Ibrahimi Situbondo yang kemudian dilanjutkan dengan BKKBN Provinsi Jawa Timur untuk mengkaji permasalahan ini dari segi agama. Kerjasama tersebut menjadi acuan bagi sebagian masyarakat Kabupaten Situbondo untuk menjadi akseptor MOP/Vasektomi. Kajian tersebut dimaksudkan untuk mengungkap problem KB pria dengan pendekatan hukum Islam atau fiqih tentang merencanakan keluarga dan Keluarga Berencana.
Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan, hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, keluarga berencana, dan dengan cara pengembangan kualitas penduduk, melalui perwujudan keluarga kecil yang berkualitas dan mobilitas penduduk. Peran pemuda/ pria dalam pembangunan ini sangatlah penting.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009, partisipasi pria dalam ber-KB menjadi indikator keberhasilan program KB. Indonesia telah mulai melaksanakan pembangunan yang berorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender dalam hal KB. Namun, partisipasi pria dalam mengikuti KB masih rendah yaitu sekitar 1,3 persen (SDKI 2002-2003). Hal ini selain disebabkan oleh keterbatasan macam dan jenis alat kontrasepsi laki-laki, juga oleh keterbatasan pengetahuan mereka akan hak-hak dan kesehatan reproduksi serta kesetaraan dan keadilan gender. Demikian pula, penyelenggaraan KB masih belum mantap dalam memperhatikan aspek kesetaraan dan keadilan gender.
Partisipasi pria di Kabupaten Situbondo dalam ber-KB juga masih rendah. Hal ini dibuktikan dari data perbandingan antara PUS dan peserta aktif MOP/ Vasektomi berikut ini:
Tabel 4.9
Perbandingan PUS dan KB Aktif MOP Kabupaten Situbondo Tahun 2010 s.d 2016
No. Tahun PUS KB Aktif
MOP Perbandingan (%) 1. 2010 164510 2096 0,013 2. 2011 166.842 3867 0,023 3. 2012 167.474 4690 0,028 4. 2013 168.231 5002 0,029 5. 2014 157.937 4733 0,030 6. 2015 155.388 4763 0,031 7. 2016 152.534 4521 0,029
Sumber: Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kab. Situbondo
Dari data di atas, maka dapat dilihat bahwa akseptor MOP/ Vasektomi di Kabupaten Situbondo masih kurang peminat. Walaupun, tidak bisa dipungkiri bahwa PUS Situbondo mengikuti KB bukan hanya kontrasepsi pria (MOP/ Vasektomi).