BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.2.7 Analisis Framing Berita 7
Judul : Petunjuk Baru dari Jalan S. Parman
Edisi/Tanggal : 4513/23-29 Mei 2016
Tabel 4.7 Analisis Framing Berita 7 Perangkat Framing
Robert N. Entman Keterangan
Define Problems Tempo menuliskan temuan KPK satu lembar rangkuman catatan keuangan 13 proyek PT. Muara Wisesa Samudra dan menjabarkan berita acara rapat pemda DKI Jakarta
Diagnose Causes Ahok bertanggungjawab terhadap aturan kontribusi tambahan yang dikeluarkan, sebagai syarat untuk mendapatkan izin reklamasi. Make Moral
Judgement
Adanya barter dalam proyek reklamasi.
“Sejauh ini unsur menjanjikan,
barter, dan tidak ada dasar
hukumnya cukup kuat” (paragraf
11) Treatment
Recommendation
KPK segera selidiki dasar hukum dari barter yang telah dilakukan dalam reklamasi.
Define Problems. Temuan baru penyidik KPK berupa daftar
keuangan 13 proyek yang dikerjakan PT. Muara Wisesa Samudra dan
berita acara rapat pemda DKI yang salinannya diperoleh Tempo, menjadi
daftar baru fakta aturan kontribusi tambahan dalam kasus reklamasi
Jakarta. Hal ini lah yang menjadi topik utama Tempo dalam beritanya.
Melalui berita acara tersebut, Tempo mempublikasi bahwa ada
administrasi yang tidak beres dalam kasus reklamasi Jakarta, begitu pun
menetapkan aturan kontribusi tambahan. Ketidak beresan administrasi
diperkuat dengan tulisan Tempo di bawah ini :
“Seorang penegak hukum di KPK mengatakan kebijakan
penerimaan kontribusi tambahan dari pengembang reklamasi
berpotensi menyimpang karena tidak memiliki landasan hukum”
(paragraf 8)
“Gelar terakhir pada Rabu tiga pekan lalu menyepakati temuan itu
menjadi bahan untuk membuka penyelidikan baru. Pimpinan KPK meminta penyidik memperkuat bukti unsur menguntungkan pihak lain dan benar-benar mengkaji apakah temuan itu ada unsur
kerugian negaranya” (paragraf 11)
Terdapat dugaan terjadinya penyimpangan, Tempo menyinggung
peran Basuki Tjahaja Purnama sebagai orang nomor satu DKI Jakarta
tersebut.
“Komisi Pemberantasan Korupsi menelisik dugaan penyimpangan
penerimaan di muka pembayaran kontribusi tambahan dari pengembang proyek reklamasi. Peran Gubernur DKI Jakarta Basuki
Tjahaja Purnama ditelusuri” (lead berita)
Diagnose Causes. Basuki Tjahaja Purnama sebagai pemangku
kewenangan yang memberikan izin kepada pengembang untuk melakukan
kegiatan reklamasi. Aturan kontribusi tambahan dicetuskan oleh beliau
sebagai syarat untuk memperoleh izin tersebut. Hal ini lah yang
mendukung Tempo mengidentifikasi bahwa Basuki atau Ahok penyebab
dari terjadinya benang kusut dalam kasus reklamasi. Mengapa demikian?
Pertama aturan kontribusi tambahan menjadi peluang suap menyuap antara
pengembang dengan pejabat pemerintah, karena pengembang merasa
keberatan akhirnya mendekati legislatif untuk melakukan lobi-lobi, kedua
karena ditemukannya data keuangan dan berita acara rapat memperkuat
terjadinya barter tersebut. Identifikasi barter tersebut tercetus dari penyidik
KPK yang pernyataanya Tempo muat.
“Kepada penyidik, Ariesman membenarkan, 13 proyek yang
dikerjakan pada 2013-2016 itu kewajiban tambahan proyek reklamasi yang diminta Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. Menurut dia, ada proyek yang sedang dan sudah dikerjakan. “hal tersebut akan diperhitungkan ke kontribusi tambahan”, ujar Ariesman” (paragraf 4)
“Penyidik mencecar Ariesman tentang bagaimana Basuki meminta
PT. Muara Wisesa mengeluarkan biaya kontribusi tambahan di muka. Atas pertanyaan itu, Ariesman menjawab bahwa Basuki mengirim memo kepadanya agar menggarap sejumlah proyek. Untuk mengeksekusi memo itu, Ariesman berkoordinasi dengan kepala dinas terkait. Setelah selesai, proyek itu akan
diserahterimakan dengan pemerintah DKI Jakarta” (paragraf 21) Tempo menuliskan bahwa Basuki menyangkal telah melakukan
barter dan beliau percaya diri tak melakukan kekeliruan.
“Basuki mengaku, dalam rapat, tak cuma menagih di muka, tapi
mengikat komitmen pengembang dengan surat perjanjian. Tujuannya agar pengembang tak mengelak dari kewajiban. Ia mengaku sempat mengancam tak bakal menerbitkan izin empat pengembang itu sebelum mereka mengerjakan kontribusi
tambahan” (paragraf 25)
“Dasar pengenaan kontribusi tambahan, kata Basuki, diskresi
gubernur atau keputusan pejabat daerah karena situasi mendesak dan belum ada aturan hukumnya. Dia juga membenarkan pernah mengirim surat ke Ariesman untuk urusan proyek kontribusi
tambahan. “Bukan memo, tapi draft teknis” (paragraf 26)
Make Moral Judgement. Penilaian moral dari fakta baru kasus
reklamasi Jakarta adalah terdapat penyelewengan kebijakan yang
dari pernyataan KPK sebagai barter proyek yang digarap oleh
pengembang.
“KPK menduga proyek kontribusi tambahan itu sebagai barter penerbitan izin pelaksanaan reklamasi Pulau G yang diterbitkan Basuki pada 23 Desember 2014. Dugaan ini didukung juga dengan temuan dokumen berita acara rapat Basuki dengan pihak pengembang pada Maret 2014 dan dokumen izin reklamasi. “Tim
sedang mencari bukti ada atau tidaknya niat jahat untuk
menentukan ada atau tidaknya unsur pidana” (paragraf 13)
“Sejauh ini, unsur menjanjikan, barter, dan tidak ada dasar hukumnya cukup kuat” kata sumber Tempo (paragraf 11)
Tempo juga menuliskan kronologi rapat Basuki dengan pengembang
pada tahun 2014, yang dapat menjadi pendukung opini “barter” tersebut. “Menurut pengakuan seorang peserta rapat, dalam pertemuan
kurang dari dua jam itu, Basuki meminta pengembang membangun sejumlah proyek kontribusi tambahan yang ketentuannya akan diatur peraturan gubernur. Belakangan, kontribusi tambahan 15
persen ini diusulkannya masuk Raperda”(paragraf 19)
Dalam dokumen berita acara rapat, tertulis proyek kontribusi
tambahan ini untuk membantu mengendalikan banjir di kawasan utara
Jakarta. Jenis pekerjaannya antara lain pengadaan pompa dan rumah
pompa, pembangunan rumah susun dan jalan inspeksi, pengerukan dan
peninggian tanggul kali, serta pembangunan rumah susun beserta
kelengkapannya.
“Basuki dan para pengembang sepakat pekerjaan proyek bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kebutuhan lapangan. Kewajiban ini belakangan juga dicantumkan dalam keputusan gubernur tentang izin pelaksanaan reklamasi empat pengembang yang diteken
Treatment Recommendation. Tempo menyampaikan solusi agar
KPK segera melakukan penyelidikan terkait dugaan barter yang dilakukan
Pemda DKI dengan pengembang. Solusi tersebut disampaikan melalui
pernyataan Agus Rahardjo di bawah ini :
“Agus Rahardjo mengatakan lembaganya serius menyoroti temuan
itu dan berharap penyelidikannya bisa segera dimulai. “sedang
kami selidiki dasar hukum barter itu, mudah-mudahan segera
diumumkan” (Paragraf 14)
Tempo juga menyarankan agar penyidik terus menyisir proyek lain
Podomoro yang masuk biaya kontribusi tambahan. Dan juga Pemda DKI
harus menyelesaikan dulu fisik maupun administrasinya, karena
penyerahan proyek kontribusi tambahan bermasalah.
“Seorang pejabat di Balai Kota DKI Jakarta mengatakan pejabat
Bagian Aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menolak menerima proyek yang sudah selesai karena belum adanya dasar hukum atas pembiayaannya. Misalnya terjadi dalam proyek rusunawa di Daan