BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.2.11 Analisis Framing Berita 11
Judul : Duo Kakap Konco Gubernur
Edisi/Tanggal : 4517/20-26 Juni 2016
Tabel 4.11 Analisis Framing Berita 11 Perangkat Framing
Robert N. Entman
Keterangan Define Problems Tempo menuliskan
kedekatan Basuki dengan dua pengembang yaitu Podomoro Land dan Agung Sedayu Group
Diagnose Causes Keterkaitan kedekatan Basuki dengan pengembang dalam kasus reklamasi Make Moral
Judgement
Sisi pragmatis dari
kedekatan Ahok dengan dua pengembang kelas kakap di Indonesia
Treatment
Recommendation
Tempo tidak menuliskan solusi dalam beritanya
Define Problems. Kedekatan hubungan Basuki Tjahaja Purnama
dengan bos Podomoro Land dan Agung Sedayu Group, menjadi topik
utama pembahasan Tempo dalam beritanya. Tempo menuliskan bahwa
hubungan keduanya sudah terjalin lama, jauh sebelum Basuki menjadi
gubernur. Kedekatan Basuki dengan Ariesman berlangsung sejak tahun
2014, sedangkan dengan Sugianto Kusuma alias Aguan sudah berlangsung
sejak Basuki masih menjadi Bupati.
Diagnose Causes. Basuki sebagai orang nomor satu DKI Jakarta
memiliki peranan penting dalam setiap kebijakannya. Begitu pun dengan
Sedayu Group. Tempo menuliskan bagaimana hubungan diplomatis
Basuki dengan dua pengembang tersebut. Kedua pengembang tersebut
memiliki peranan penting dalam kegiatan politik Basuki, berikut Tempo
tuliskan :
“Basuki yang masih berstatus wakil gubernur, menceletuk, “kalau ini di beresin, 2017 tidak usah kasih kami duit kampanye”
(paragraf pertama)
Tulisan di atas Tempo tuliskan pada saat pertemuan Basuki dengan
Ariesman pada rapat tahun 2014 dalam pembahasan kontribusi tambahan.
Basuki kerap menggandeng Ariesman dalam pembangunan di Jakarta
membangun fasilitas publik sebagai tanggung jawab perusahaan. Begitu
pun dalam kasus reklamasi yang kini memanas, Basuki meminta
Podomoro Land membangun 13 proyek sebagai bentuk kontribusi
tambahan reklamasi, namun pernyataan tersebut tidak diakui Gubernur
DKI Jakarta tersebut.
Tidak hanya Podomoro, Tempo juga menuliskan bagaimana
Sugianto Kusuma alias Aguan pemilik PT Agung Sedayu Group juga
memiliki peranan penting.
“Saat dia menjadi calon legislator pada 2009 dari Golkar, Aguan jugalah yang ikut menyumbang, “Aguan kasih Rp 500 juta buat kampanye” ujar Basuki” (paragraf 8)
“Hubungan keduanya makin akrab ketika Basuki di Jakarta.
Sebulan dua bulan kami ngobrol. Makan pempek. Gue mesti rayu dia untuk bangun ini-itu” ujar Basuki”(paragraf 9)
Make Moral Judgement. Tempo menilai dalam beritanya yaitu
duo kakap konco gubernur, hal tersebut dituliskan Tempo pada judul
beritanya. Jika dilihat dari isi berita yang Tempo tuliskan, kedekatan
gubernur dengan pengembang terdapat sisi pragmatis untuk kepentingan
politik. Terlihat pada tulisan Tempo mengenai bantuan pengembang
terhadap kegiatan politik Basuki.
Treatment Recommendation. Tempo tidak menuliskan
rekomendasi solusi dalam beritanya yang terkait kedekatan Basuki dengan
dua pengembang kelas kakap tersebut, yaitu Ariesman Widjaja dan
4.2.12 Analisis Framing Berita 12
Judul : Proposal Dahulu Relawan Kemudian
Edisi/Tanggal : 4517/20-26 Juni 2016
Tabel 4.12 Analisis Framing Berita 12 Perangkat Framing
Robert N. Entman Keterangan
Define Problems Tempo membahas
bagaimana polemik aliran dana Teman Ahok yang digunakan untuk
mendukung Basuki pada Pilkada 2017
Diagnose Causes
Tempo menuliskan bahwa relawan Teman Ahok didirikan sejumlah orang yang terafiliasi dengan konsultan politik Cyrus Network dan dirancang oleh Hasan Nasbi dan Sunny Tanuwidjaja Make Moral Judgement 1. Adanya sikap tendensius pihak Cyrus terhadap Tempo 2. Politik Uang Treatment Recommendation
Tempo tidak menuliskan rekomendasi solusi dalam beritanya
Define Problems. Tempo membahas polemik aliran dana Teman
Ahok yang digunakan untuk mendukung Basuki dalam Pilkada tahun 2017
mendatang. Berawal dari pernyataan Junimart Girsang yang membeberkan
disangkal oleh Teman Ahok. Dugaan tersebut kini menjadi polemik dan
sedang dalam penyelidikan KPK. Tempo juga menuliskan bahwa orang
Cyrus ikut berperan dalam pembentukan Teman Ahok. Ada tiga
identifikasi yang Tempo tuliskan :
Pertama, Hasan mengerahkan sumber dayanya di Cyrus Network melatih anggota Teman Ahok membuat strategi kampanye, membangun citra di depan publik, hingga melakukan pemasaran melalui jejaring sosial.
Kedua, Hasan juga memfasilitasi Teman Ahok menggunakan salah satu gedung yang dia sewa, yang lokasinya bersisian dengan kantor Cyrus. Karena itulah letak markas Teman Ahok dan Cyrus bersebelahan.
Ketiga, Hasan memberi dana tunai Rp 500 juta. Meskipun dana itu disebut saweran, Hasan tak bersedia menyebut koleganya yang ikut menyumbang. Dalam laporan keuangan per Juni 2015, sumbangan Hasan dicatat sebagai penerima pihak ketiga.
Tempo juga menuliskan perihal pertanggungjawaban keuangan
Teman Ahok yang kini dipertanyakan. Terlihat kekhawatiran Teman Ahok
terkait kasus suap reklamasi, Berikut tulisan Tempo pada paragraf
terakhir:
“Hingga dua pekan lalu, laporan keuangan Teman Ahok sempat berhenti di Agustus 2015. Pertanggungjawaban Desember 2015 baru diunggah secara bersamaan pada Selasa malam pekan lalu, sesaat sebelum hiruk-pikuk polemik dana reklamasi” Diagnose Causes. Sunny Tanuwidjaja dan Cyrus Network
dianggap berperan besar dalam pendirian Teman Ahok dan juga dalam hal
kerja-kerja serta pendanaan. Hal tersebut Tempo tuliskan dari pernyataan
“Junimart Girsang membeberkan informasi tentang adanya
dana Rp 30 miliar ke Teman Ahok. Junimart menerima informasi duit pengembang reklamasi itu diberikan melalui
anggota staf khusus Gubernur Basuki, Sunny
Tanuwidjaja”(paragraf 6)
“Menurut Andreas Bertoni saat diperiksa penyidik KPK pada
15 April lalu, Teman Ahok didesain Cyrus Network bersama angota staf khusus Basuki, Sunny Tanuwidjaja. Menurut dia, Cyrus menyiapkan proposal dengan nilai Rp 24 miliar. Belakangan, angka di proposal melonjak menjadi Rp 30 miliar.
“Targetnya satu juta dukungan untuk Ahok,”
ujarnya”(paragraf 7)
Identifikasi tersebut juga Tempo tuliskan pada lead beritanya :
“Teman Ahok didirikan sejumlah orang yang terafiliasi dengan konsultan politik Cyrus Network. Dirancang Hasan Nasbi dan
Sunny Tanuwidjaja”
Make Moral Judgement. Dalam beritanya Tempo, terdapat dua
penilaian moral. Pertama, terlihat sikap tendensius pihak Cyrus Network
terhadap Tempo, di bawah ini terdapat tulisan Tempo untuk memperkuat :
“Saat mengetahui wartawan yang dia ajak berbicara berasal
dari Tempo, Hasan memilih melambaikan tangan. “saya enggak mau, sama media lain mau,” ujarnya sembari masuk ke kantornya. Amir pun mengitil Hasan”(paragraf 2)
Kedua, adanya politik uang yang dilakukan pihak-pihak tertentu
untuk memperoleh peruntungan dalam kepentingan politik. Identifikasi
tersebut terlihat pada judul berita yang Tempo buat yaitu “Proposal Dahulu, Relawan Kemudian”. Tidak hanya itu, dalam pendirian stan
Teman Ahok mendapatkan spesialisasi harga, nilai sewa yang dibayarkan
Treatment Recommendation. Tidak terdapat solusi yang
ditawarkan Tempo dalam beritanya yang terkait aliran dana Teman Ahok
tersebut.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Permasalahan terkait “diskresi” Tempo menuliskan bahwa Ahok
berlindung di balik diskresi yang dilakukannya. Diskresi yang dilakukan oleh
Basuki dianggap sebagai terobosan baru oleh Tempo, namun memiliki catatan
penting yang harus dilakukan pengawasan, karena akibat dari diskresi tersebut
melahirkan masalah baru yaitu penyelewengan yang dilakukan oleh oknum
pencari keuntungan. Tempo juga menjelaskan pengertian diskresi berdasarkan
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan,
dan juga melakukan verifikasi ke beberapa pengamat pemerintahan perihal
ketepatan diskresi yang dilakukan Ahok tersebut.
Peneliti menilai bahwa Tempo ingin KPK menyelidiki perihal
ketepatan diskresi yang dilakukan Ahok tersebut. Mengapa menjadi
bermasalah? Karena Ahok bersikeras bahwa kebijakannya tersebut tepat
untuk mengatasi masalah reklamasi, berangkat dari Keputusan Presiden
Nomor 52 tahun 1995 dan Undang-undang Nomor 30 tahun 2014 Ahok
meyakini keputusannya itu tepat. Namun landasan hukum yang diyakini Ahok
dianggap tidak relevan, karena adanya peraturan-peraturan baru dan
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan belum
dalam perdebatan dan penyelidikan KPK untuk mengetahui ketepatan
kebijakan tersebut. Diskresi tersebut perihal aturan kontribusi tambahan 15
persen yang harus dibayarkan pengembang proyek reklamasi, yang kini aturan
tersebut menjadi sumber masalah dari kasus suap pengembang dengan oknum
pemda DKI Jakarta.
Jika ditinjau dari Undang-undang Nomor 30 tahun 2014 Pasal (1),
Diskresi adalah Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau
dilakukan oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret
yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan
perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak
lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan. Dalam
undang-undang tersebut dijelaskan pula prosedur penggunaan diskresi yang
harus pejabat lakukan dan akibat hukum dari penggunaan diskresi jika terjadi
kesewenang-wenangan. Berikut peneliti akan menjelaskan ketentuan diskresi
berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014.
Dalam pasal 22 ayat (2) tertulis bahwa setiap penggunaan Diskresi
Pejabat Pemerintahan bertujuan untuk; (a) melancarkan penyelenggaraan
pemerintahan, (b) mengisi kekosongan hukum, (c) memberikan kepastian
hukum, (d) mengatasi stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu guna
kemanfaatan dan kepentingan umum.
Dalam pasal 24 menjelaskan Persyaratan Diskresi, Pejabat Pemerintah
yang menggunakan Diskresi harus memenuhi syarat yaitu; (a) sesuai dengan
bertentangan dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan, (c) sesuai
dengan AUPB (Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik), (d) berdasarkan
alasan-alasan yang objektif, (e) tidak menimbulkan konflik kepentingan, (f)
dilakukan dengan itikad baik.
Dalam pasal 25 ayat (1) menjelaskan bahwa penggunaan Diskresi
yang berpotensi mengubah alokasi anggaran wajib memperoleh persetujuan
dari atasan pejabat sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Dalam Pasal 26 menjelaskan Prosedur Penggunaan Diskresi yaitu; (1)
pejabat yang menggunakan Diskresi sebagaimana dimaksud dalam pasal 25
ayat (1) dan ayat (2) wajib menguraikan maksud, tujuan, substansi, serta
dampak administrasi dan keuangan, (2) pejabat yang menggunakan Diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan permohonan
persetujuan secara tertulis kepada atasan pejabat, (3) dalam waktu 5 (lima)
hari kerja setelah berkas permohonan diterima, atasan pejabat menetapkan
persetujuan, petunjuk perbaikan, atau penolakan.
Dalam pasal 31 ayat (1) menjelaskan penggunaan Diskresi
dikategorikan mencampuradukkan wewenang apabila; (a) menggunakan
diskresi tidak sesuai dengan tujuan wewenang yang diberikan, (b) tidak sesuai
dengan ketentuan pasal 26, 27, 28, dan/atau, (c) bertentangan dengan AUPB,
ayat (2) akibat hukum dari penggunaan Diskresi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dibatalkan.
Ahok sebagai pejabat pemerintah mempunyai hak untuk melakukan
melanggar peraturan yang ada, karena sebaiknya Ahok terlebih dahulu
mengkajinya apakah keputusannya ini tepat atau tidak, dan perlu adanya
laporan langsung kepada atasannya sebelum bertindak, dimana atasannya
adalah Kementerian Dalam Negri.
Berdasarkan ketentuan yang tertera dalam Undang-Undang tersebut,
KPK dapat menjadikannya sebagai rujukan untuk mengkaji dan mengambil
tindakan apakah diskresi yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama
tersebut sudah sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku, apalagi Gubernur
DKI Jakarta tersebut juga menggunakan Undang-Undang tersebut sebagai
landasan mengambil keputusan. Perlu diselidiki karena khawatir akan
menimbulkan konflik kepentingan.
Berita terkait reklamasi dihasilkan dari liputan wartawan Tempo di
lapangan, dengan melihat kondisi dan juga melakukan wawancara dengan
narasumber. Sehingga berita tersebut lahir dari hasil konstruksi pemikiran
wartawan yang telah melalui proses penggalian informasi perihal reklamasi
Jakarta dari berbagai pihak. Paradigma berpikir wartawan Tempo dan pihak
redaksi berpengaruh dalam menentukan arah atau makna yang ingin
ditonjolkan pada berita tersebut sebelum diterbitkan.
Strategi Tempo mengkonstruksi diskresi yang dilakukan Ahok adalah
sebuah keputusan yang tidak tepat. Redaksi kata-kata yang digunakan Tempo
dalam membahas diskresi ditulis dengan gaya bahasa yang terkesan
mengkritik, layaknya karakter Tempo. Terdapat pada salah satu judul berita
mengatakan Ahok berlindung dibalik diskresi. Tidak hanya itu, Tempo juga
secara tersirat ingin menyampaikan bahwa Sugianto Kusuma alias Aguan
adalah aktor di balik kasus suap yang kini sedang diselidiki KPK tersebut.
Walaupun Tempo memposisikan dirinya sebagai media yang netral, namun
tidak dapat dipungkiri bahwa pada beberapa beritanya Tempo terlihat
menyudutkan pihak-pihak seperti Ahok, Aguan, Teman Ahok, Sunny dan
Cyrus.
Berita terkait reklamasi tersebut tersirat makna yang ingin
disampaikan oleh pihak Tempo kepada pembaca bahwa ada hal urgent dalam
proyek reklamasi yang harus diperhatikan. Polemik reklamasi tidak hanya
sebatas masyarakat nelayan yang terkena dampak buruknya, tetapi ada
masalah lain yang juga berdampak besar, yaitu menyangkut ekonomi sosial
politik.
Pencemaran lingkungan, dampak dari reklamasi memang tidak jauh
dari pencemaran lingkungan jika pemerintah dan pengembang tidak
memperhatikan dan mengkaji dengan baik, saat ini dampak buruk terhadap
lingkungan sudah terlihat dan kajian amdal belum dilakukan dengan baik oleh
pemerintah daerah dan pengembang. Peneliti mencari data dan melakukan
konfrimasi perihal dampak lingkungan, bahwa proyek tersebut sudah
mengalami “cacat bawaan” karena prosesnya melanggar beberapa ketentuan
hukum seperti UU No. 27 tahun 2007 dan revisinya No. 1 Tahun 2004
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut, maupun UU No. 32 Tahun 2009
tercantum soal perlunya Dokumen Analisis Dampak Lingkungan. Data
tersebut peneliti dapatkan dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dan juga
Wahana Lingkungan Hidup Jakarta, lembaga tersebut merupakan salah dua
dari koalisi yang melakukan advokasi untuk reklamasi Jakarta.
Jika dikaji dari segi ekonomi politik dapat dipahami bahwa kegiatan
reklamasi melahirkan kecacatan regulasi sejak awal, dimana pembuatan
regulasi melahirkan praktek perburuan rante yang melibatkan pengusaha dan
pelaku politik guna untuk memuluskan aturan main agar proyek tersebut dapat
berlangsung. Ketidakadilan ekonomi lahir dari sini, keputusan reklamasi
bukan lagi menjadi solusi untuk kepentingan bersama tetapi menjadi
kepentingan bagi para pemilik modal domestik maupun asing yang bekerja
sama dengan pemangku kewenangan regulasi. Akibatnya masyarakat pesisir,
nelayan tradisional, pemilik usaha skala kecil yang bergantung pada ruang
laut, termarjinalkan dan tertindas secara langsung. .
Kecacatan hukum yang paling dominan adalah aturan kontribusi
tambahan yang hingga kini tak berujung pengesahannya sampai terjadi
penangkapan oleh KPK. Tempo juga ingin menyampaikan bahwa kasus suap
tidak hanya berhenti pada Ariesman Widjaja dan Sanusi. Tempo
mengidentifikasi bahwa ada pihak lain yang juga ikut andil dalam
penyelewengan tersebut, seperti Sugianto Kusuma alias Aguan, Sunny
Tanuwidjaja, dan juga Teman Ahok serta Cyrus. Dari berita Tempo dapat
tidak serius dalam menangani kasus reklamasi tersebut. Malah dijadikan
sebagai ladang keuntungan oleh pihak-pihak tertentu.
Jakarta darurat reklamasi dengan segala polemik yang terjadi di
dalamnya, media sebagai ruang informasi publik sudah seharusnya
memberikan informasi perihal suatu peristiwa yang terjadi sehingga
permasalahan tersebut mendapat pengawalan dan pengawasan secara bersama
oleh masyarakat.
Jika ditinjau dari penelitian terdahulu, Tempo terlihat berbeda dalam
menuliskan berita tentang Ahok. Pada penelitian Simbolon (2012), Tempo
lebih memihak kepada Ahok dalam pemberitaan Pilkada DKI Jakarta pada
tahun 2012. Pemberitaan tentang Jokowi dan Ahok dituliskan dalam citra
yang positif dibandingkan dengan kubu lawan yaitu Fauzi dan Nachrowi yang
cenderung negatif. Namun pada pemberitaan terkait diskresi, Tempo
berbanding terbalik dengan mengkritisi kebijakan yang dikeluarkan oleh
Ahok perihal aturan kontribusi tambahan 15 persen. Tempo terlihat
menyudutkan Ahok dalam pemberitaanya, sehingga melahirkan opini di
pembacanya bahwa Tempo tidak lagi berkawan dengan orang nomor satu di
BAB V PENUTUP