BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.2.4 Analisis Framing Berita 4
Judul : Tarik – Ulur Pasal Kontribusi Edisi/Tanggal : 4507/11-17 April 2016
Tabel 4.4 Analisis Framing Berita 4 Perangkat Framing
Robert N. Entman Keterangan
Define Problems Tempo membahas bagaimana jalan cerita peraturan kontribusi tambahan yang kini dalam pengawasan KPK karena
dugaan suap antara pengembang dengan pejabat Pemerintah DKI Jakarta
Diagnose Causes Tempo menuliskan bagaimana internal DPRD berkelit dalam menangani peraturan kontribusi tambahan proyek reklamasi, dan juga permainan DPRD dengan para pengembang.
Make Moral Judgement
Ketentuan kontribusi tambahan jadi bahan tawar-menawar di DPRD. Tak lepas dari iming-iming uang (lead)
DPRD melakukan penyelewengan jabatan. Treatment
Recommendation
Tempo tidak tuliskan secara langsung solusi yang
ditawarkan perihal tarik ulur pasal kontribusi tersebut.
Define Problems. Pasal kontribusi diminati anggota dewan untuk
digarap karena berlimpah keuntungan di dalamnya. Dalam beritanya
Tempo menjelaskan bagaimana jalan cerita pasal kontribusi tersebut dalam
tangan Pemerintah DKI dan anggota DPRD hingga kini dalam
penyelidikan KPK. Lahirnya pasal kontribusi tambahan untuk proyek
reklamasi Jakarta tersebut, membuat anggota dewan mendadak jadi aktor
memainkan skenario yang begitu cantik dalam proyek reklamasi Jakarta.
Terjadinya tarik-ulur status aturan kontribusi di dalam tubuh DPRD
membuat kasus ini akhirnya tercium KPK.
“Bola panas reklamasi menggelinding setelah Gubernur Basuki
Tjaha Purnama menerbitkan izin pelaksanaan reklamasi PT. Muara Wisesa Samudra pada Desember 2014” (paragraf 5)
Dalam tulisannya di atas, Tempo mengidentifikasi kasus suap
proyek reklamasi berawal dari langkah gubernur tersebut, hingga akhirnya
para pengembang merapatkan diri dengan para dewan. Walaupun awalnya
sembilan fraksi di DPRD tidak sepakat dengan keputusan gubernur
tersebut, dengan sebuah “pelumas” (istilah suap yang Tempo sebutkan)
akhirnya enam fraksi anggota dewan serempak mendukung reklamasi. Hal
tersebut di perkuat dengan tulisan Tempo di bawah ini :
“Pengembang berkeberatan terhadap kontribusi tambahan 15 persen yang diatur Pasal 110 Raperda Tata Ruang. Mereka melobi DPRD agar kontribusi tambahan diturunkan jadi 5 persen.
Lobi-lobi itu tak lepas dari “pelumas” (paragraf 10)
Penyelewengan yang dilakukan DPRD tersebut akhirnya tercium
dewan Mohamad Sanusi. Dari tangkap tangan tersebut KPK menyita uang
Rp 2 miliar, yang merupakan duit panas dari Trinanda Prihantoro, asisten
personal PT Agung Podomoro Land yang dititipkan uang oleh bosnya
Ariesma Widjaja. Tidak hanya itu, Tempo mengidentifikasi bahwa suap
tidak hanya berlangsung dengan satu pengembang. Hal serupa juga terjadi
dengan pengembang lain yang melakukan suap kepada pimpinan DPRD
beserta jajarannya, yang kini sedang diselidiki KPK.
“Komisi antikorupsi menengarai perubahan sikap DPRD itu tak
terlepas dari lobi para pengembang reklamasi. Sebelum menangkap Sanusi, misalnya, radar KPK memantau komunikasi bos Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma alias Aguan, dengan
pimpinan DPRD. Aguan meminta pimpinan Dewan
“mengamankan” pasal tentang kontribusi tambahan dalam Raperda Tata Ruang Pantura” (paragraf 8)
Diagnose Causes. Pembahasan pasal kontribusi menjadi berkelit,
Tempo dalam beritanya mengidentifikasi penyebabnya adalah para
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta. DPRD diduga
telah bermain api dengan pengembang untuk melicinkan aturan kontribusi
tambahan dari 15 persen menjadi 5 persen. Dijelaskan dalam tulisan
Tempo di bawah ini :
“Seorang anggota DPRD lain menuturkan, usul melenyapkan
rumusan 15 persen dari rancangan peraturan daerah merupakan skenario bersama pengembang dan pimpinan DPRD. Membaca gelagat Basuki akan sulit menerima penurunan kontribusi, pengembang dan pimpinan Dewan mengubah strategi. “yang penting angka itu hilang dari perda,” kata anggota Dewan yang ikut pembahasan” (paragraf 13)
Sebagai jantungnya pemerintahan daerah, DPRD terus mengatur
skenario mengikuti pesanan pengembang dan agar keuntungan yang di
depan mata tak hilang. Hal ini diperjelas dalam berita Tempo di bawah ini
“Kalangan pengembang rupanya tak mau DPRD memberi Basuki
cek kosong. Melihat sikap keras Basuki, mereka meminta lagi DPRD mencantumkan kontribusi tambahan 5 persen itu. Dalam rapat konsolidasi naskah akhir rancangan perda pada 8 Maret lalu, Taufik meminta kontribusi tambahan 5 persen dimasukkan ke penjelasan Raperda Tata Ruang. Usul mereka persisnya:
“Tambahan kontribusi adalah kontribusi yang dapat diambil di
awal dengan mengkonversi dari kontribusi (yang 5%) yang akan diatur dengan perjanjian kerja sama antara Gubernur dan
pengembang” (paragraf 15)
Make Moral Judgement. Permainan skenario dalam tubuh DPRD
dinilai Tempo secara tidak langsung sebagai penyelewengan jabatan.
Sebagai jantungnya pemerintahan daerah seharusnya DPRD memberikan
solusi yang solutif dalam menangani kasus reklamasi Jakarta tersebut,
bukan mencari keuntungan bermain dengan para pengembang. Hal ini
diliat dari lead berita yang Tempo tuliskan :
“Ketentuan kontribusi tambahan jadi bahan tawar-menawar di DPRD. Tak lepas dari iming-iming uang”
Dan juga diperjelas dengan tulisan di bawah ini :
“Sejumlah anggota DPRD yang menolak reklamasi menuturkan,
ada mobilisasi anggota Dewan untuk menghadiri rapat pengesahan dua rancangan perda yang dijadwalkan pada akhir
pekan lalu. Beredar pula “gula-gula” bahwa mereka yang hadir bakal pulang membawa uang Rp 100 juta” (paragraf 17)
Penyelewangan jabatan tersebut diperkuat dengan kata
melakukan kesewenangan dengan menyusupkan aturan-aturan yang
merauk keuntungan.
“Penyusupan kembali angka 5 persen ini menyulut amarah Basuki. Di atas risalah rapat, Basuki membuat disposisi, “Gila, kalau
seperti ini bisa pidana korupsi!” toh, penolakan Basuki tak
menyurutkan langkah DPRD. Dalam rapat pimpinan gabungan DPRD, 16 Maret, Taufik dkk melunakkan usul mereka jadi
“sekurang-kurangnya sebesar kontribusi lahan 5 persen”, sampai
hari itu, pemerintah DKI berkukuh pada angka 15 persen”
(Paragraf 16)
Treatment Recommendation. Dalam beritanya Tempo tidak
menawarkan solusi secara langsung, namun terdapat makna secara tidak
langsung dalam fakta yang Tempo muat dalam beritanya, bahwa KPK
harus melakukan penyelidikan kepada anggota DPRD lainnya yang
menerima suap atau menjadi aktor dalam permainan kasus reklamasi