BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
5.2 Saran Penelitian
5.2.2 Saran Teoritis
Penelitian menggunakan analisis teks bersifat subjektif. Peneliti
memperoleh kebebasan dalam menganalisis suatu teks. Hasil analisis
terhadap suatu teks berdasarkan sudut pandang atau pola pikir peneliti
dalam melihat teks tersebut. Penggunaan analisis framing adalah metode
yang tepat untuk menganalisis makna dari sebuah teks yang ingin
disampaikan oleh penulis teks. Dalam menganalisis teks, seorang
peneliti dituntut untuk peka dan kritis dalam memaknai sebuah teks
Walaupun analisis framing bersifat subjektif, peneliti sebaiknya
lebih cekatan menggali informasi kepada pihak-pihak yang terkait dan
berbagai macam sumber dalam kasus atau peristiwa yang dimuat dalam
teks, agar memiliki pengetahuan yang luas. Sehingga analisis peneliti
dapat dipertanggungjawabkan dan lebih mendalam sehingga peneliti
dapat mengetahui alur penulisan dan makna yang tersirat dari wartawan
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro dkk. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group
Eriyanto. 2007. Analisis Framing. Yogyakarta: LKiS
Hoeta, Soehoet. 2003. Dasar-dasar Jurnalistik. Jakarta: Yayasan Kampus Tercinta
Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta: Buku Kompas
Kasemin, Kasiyanto. 2014. Sisi Gelap Kebebasan Pers. Jakarta: Prenada Media Group
Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group
Kusumaningrat, Hikmat dan Kusumaningrat, Purnama. 2006. Jurnalistik Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya
Kurnia, Septiawan Santana. 2005. Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
McQuail, Dennis.1987. Teori Komunikasi Massa ed.2, Erlangga: Jakarta Sedia, Willing Barus. 2010. Jurnalistik Petunjuk Menulis Berita. Jakarta:
Erlangga
Shaffat, Idri. 2008. Kebebasan, Tanggungjawab, dan Penyimpangan Pers. Jakarta: Prestasi Pustaka
Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Suhandang, Kustadi. 2010. Pengantar Jurnalistik Seputar Organisasi. Bandung: Nuansa
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta
Sumadiria, Haris. 2006. Jurnalistik Indonesia Menulis Berita dan Feature. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
World Bank Institute, Seri Studi Pembangunan. 2006. Hak Memberitakan, Peran Pers dalam Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Tempo
Tamburaka, Apriadi. 2012. Agenda Setting Media Massa. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Skripsi :
Lestari, Reni. 2015. Konstruksi Konflik TNI-GAM dalam Berita “Kejarlah Daku Kau Ku Sekolahkan” (Analisis Struktur Narasi Model
Algirdas Greimas Pada Karya Jurnalisme Sastrawi di Majalah Pantau). Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang
Adil, Ichsan. 2015. Pembingkaian Berita Kecelakaan Pesawat Air Asia QZ8501 Pada Koran Kompas dan Radar Banten. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang
Simbolon, Meydita. 2012. Konstruksi Berita dalam Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Dua Pasangan Calon Gubernur dan Wakil
Gubernur DKI Jakarta “Jokowi-Basuki dan Fauzi-Nachrowi”
dalam Majalah Tempo. Universitas Sumatera Utara. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37526/6/.chapterIII-V.pdf. 13 Mei 2016, Pukul 15:17 WIB
Zahrotusti’anah. 2011. Analisis Framing Tajuk Rencana Tentang Konflik Indonesia-Malaysia di Harian Republika Edisi Agustus 2010. Universitas Islam Negri Jakarta.
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/21571/1/ ZAHROTUSTI'ANAH-FDK.pdf. 2 April 2016, Pukul 20:57 WIB
Sumber lain :
Cnnindonesia. 2016. KPK Selidiki Diskresi Reklamasi Ahok Takut. http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161006194135-12-163826/kpk-selidiki-diskresi-reklamasi-ahok-tak-takut/. 08 Juni 2016, Pukul 15:53 WIB
Facebook Tempo.co. 2016. Diskusi Ruang Tengah
https://www.facebook.com/pg/TempoMedia/videos/?ref=page_inte rnal. 10 Juni 2016, Pukul 21:45 WIB
Infohukum KKP. 2016. Draft Undang-undang.
http://infohukum.kkp.go.id/index.php/hukum/download/552/?type_ id=1. 23 Oktober 2016, Pukul 21:15 WIB
Liputan6. 2016. Ahok Pastikan Tetap Pungut Kontribusi Tambahan dari Pengembang.
http://news.liputan6.com/read/2602891/ahok-pastikan-tetap-pungut-kontribusi-tambahan-dari-pengembang. 08 Juni 2016, Pukul 15:53 WIB
Republika.co.id. 2016. Ahok Salah Artikan Diskresi.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/pemprov-jabar/16/05/26/o7rx01377-icw-ahok-salah-artikan-diskresi. 08 Juni 2016, Pukul 15:53 WIB
Tempo.co. 2016. Diskresi Ahok Ini yang Dipersoalkan KPK.
https://m.tempo.co/read/news/2016/05/24/063773627/diskresi-ahok-ini-yang-dipersoalkan-kpk. 08 Juni 2016, Pukul 16:25 WIB Tempo.co. 2016. BPK diminta investigasi diskresi Ahok.
https://m.tempo.co/read/news/2016/05/19/063772316/bpk-diminta-investigasi-diskresi-ahok. 08 Juni 2016, Pukul 16:25 WIB
Tempo.co. 2016. Tentang Sejarah.
https://korporat.tempo.co/tentang/sejarah. 12 Agustus 2016, Pukul 17:07 WIB
LAMPIRAN 1
KUMPULAN BERITA
REKLAMASI DI MAJALAH
TEMPO
58 | | 17 APRIL 2016
TIGA
RELASI
SUAP
REKLAMASI
KOMISI ANTIKORUPSI
MEMBONGKAR JARINGAN
SUAP DI BALIK PEMBAHASAN
ATURAN REKLAMASI. ORANG
DEKAT BASUKI TJAHAJA
PURNAMA DAN SUGIANTO
KUSUMA ALIAS AGUAN IKUT
TERSERET. KETERLIBATAN
PIMPINAN DPRD TERUS
DIUSUT.
Reklamasi Teluk Jakarta di kawasan Muara Angke, Jakarta, April 2016.
60 | | 17 APRIL 2016
S
UNNY Tanu-widjaja tak bisa menyembuny i-kan kegelisahan-nya. Rabu sore pekan lalu, ang-gota staf Guber-nur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama itu mendapat informasi bahwa ia dicegah bepergian ke luar negeri oleh Kan-tor Imigrasi atas permintaan Komisi Pem-berantasan Korupsi. Sunny mengetahui kabar itu setelah membaca pesan pendek yang baru masuk ke telepon selulernya.Mantan peneliti Centre for Strategic and Internasional Studies itu mengempaskan tubuhnya ke kursi di Restoran Sate Sena-yan, Cideng, Jakarta Pusat. Tangannya be-berapa kali mengetuk meja. ”Gue lemes, nih, kalau dicekal. Enggak bisa tidur,” kata-nya ketika ditemui Tempo, Rabu pekan lalu. Keesokan harinya, KPK resmi mengumum-kan cegah-tangkal (cekal) untuk Sunny.
Berlaku enam bulan, pencekalan Sunny berkaitan dengan kasus dugaan suap di ba-lik pembahasan rancangan peraturan dae-rah (raperda) di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta. Dua rancangan yang di-bahas Dewan bersama pemerintah DKI ada-lah Raperda Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta dan Raperda Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Ke-cil Jakarta. Kedua rancangan peraturan itu akan menjadi payung hukum rek lamasi 17 pulau di pesisir utara Jakarta.
Sepekan sebelum mencekal Sunny, pe-nyidik KPK meringkus anggota Badan Le-gislasi DPRD Jakarta, Mohamad Sanusi. Po-litikus Partai Gerindra ini dicokok bersa-ma anggota stafnya, Gery, di Mal FX Sudir-man, Jakarta, setelah menerima Rp 1 miliar dari Trinanda Prihantoro, Personal Assis-tant PT Agung Podomoro Land. Duit dise-rahkan Trinanda kepada Gery melalui Ber-lian, karyawan Podomoro Land. Tak lama berselang, penyidik menangkap Trinanda dan Berlian di tempat terpisah.
Dalam penangkapan itu, penyidik juga menyita uang Rp 140 juta dan US$ 8.000 yang dibawa Sanusi. Duit Rp 140 juta sisa pemberian sebelumnya, pada 28 Maret.
Kala itu Sanusi menerima duit dari Trinan-da sebesar Rp 1 miliar. ATrinan-dapun uang US$ 8.000 milik pribadi Sanusi. Dari hasil pe-meriksaan Sanusi dan Trinanda, penyidik mendapat informasi duit digelontorkan atas perintah Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja. Ke-esokan harinya, KPK mengumumkan Ari-esman, Sanusi, dan Trinanda sebagai ter-sangka. Beberapa jam kemudian, man menyerahkan diri ke KPK. Adapun Gery dan Berlian akhirnya dilepas karena hanya perantara. Tapi keduanya masih di-cegah ke luar negeri.
Jumat itu, komisi antikorupsi juga mengi-rimkan permohonan pencegahan ke luar negeri untuk Sugianto Kusuma alias Aguan dan Ariesman. Aguan tak lain bos perusa-haan properti Agung Sedayu Group. Dua perusahaan ini mengantongi izin reklama-si pulau di pereklama-sireklama-sir Jakarta. Rabu pekan lalu, KPK juga meminta Imigrasi mencegah Ri-chard Halim Kusuma, Direktur Agung Se-dayu Group, yang juga anak Aguan. ”Ada beberapa hal yang hendak diklarifi kasi ke-pada mereka,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengenai alasan pencekalan.
Nama Sunny masuk radar KPK sejak
awal Februari lalu. Menurut seorang pene-gak hukum, Sunny ketika itu menghubungi Aguan. Mereka membicarakan kewajiban pengembang membayar kontribusi bahan 15 persen dalam Raperda Tata Ru-ang. Aguan menanyakan peluang menu-runkan kontribusi tambahan jadi 5 persen. ”Ada indikasi Sunny menjanjikan sesuatu kepada Aguan,” kata seorang penegak hu-kum di KPK.
Ketika diperiksa penyidik, Jumat dua pe-kan lalu, Sanusi membeberpe-kan peran Sun-ny. Dicecar 17 pertanyaan, Ketua Fraksi Ge-rindra DPRD Jakarta itu mengaku beberapa kali berkomunikasi dengan Sunny memba-has nasib Raperda Tata Ruang Pantura Ja-karta. Termasuk yang mereka bahas adalah permintaan Aguan agar kontribusi tamba-han bisa diturunkan menjadi 5 persen.
Pada Februari lalu, setelah rapat pari-purna pengesahan dua raperda batal un-tuk kedua kalinya, Sanusi mengaku ditele-pon Sunny. Sanusi kembali bertanya apa-kah Basuki sudah menyetujui permintaan Ariesman Widjaja dan Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI Jakarta, April 2015.
YOPIE/BERIT
AJAKART
17 APRIL 2016 | | 61 Dewan agar kontribusi tambahan itu
men-jadi 5 persen. Menurut Sanusi kepada pe-nyidik, Sunny menjawab ia sudah bertemu dengan Basuki. ”Kata Sunny, Gubernur su-dah oke,” ujar Sanusi, yang mengaku tahu detail pertemuan keduanya.
Pengacara Sanusi, Krisna Murti, membe-narkan pengakuan kliennya kepada penyi-dik KPK. Menurut Krisna, Sanusi memang pernah ditelepon Sunny ihwal penurunan kontribusi menjadi 5 persen. ”Klien saya ketika itu bertanya, ’Koko lu (Gubernur) gi-mana soal 5 persen, apa sudah setuju?’,” kata Krisna. ”Dijawab Sunny sudah oke.”
Sunny mengakui pernah berbicara de-ngan Aguan, yang meminta tuntutan pe-ngembang soal kontribusi 5 persen disam-paikan ke Basuki. Agar pembahasan raper-da tak berlarut-larut, Aguan juga memin-ta kontribusi itu dicantumkan dalam per-aturan gubernur saja. ”Saya bilang nanti saya atur,” kata Sunny. Kemudian Sunny menyampaikan pesan Aguan kepada Ba-suki. ”Pak Gubernur bilang terserah, asal-kan 15 persen tetap masuk,” ujarnya. Sejak awal, Sunny mengaku tak setuju kontribusi 15 persen itu. ”Itu memberatkan pengusa-ha,” katanya.
Sunny juga membenarkan pernah berko-munikasi dengan Sanusi. Namun ia meng-aku hanya bertanya kenapa dua raperda tak kunjung disahkan DPRD.
Basuki, sementara itu, mengatakan tak tahu bahwa Sunny pernah menelepon Aguan mengenai kontribusi tambahan. Memang Basuki sempat menyetujui kon-tribusi tambahan masuk ke peraturan gu-bernur. Tapi itu langkah taktis saja. Soal-nya, DPRD sempat mengancam tak akan membahas raperda lagi jika usul mereka ditolak. Adapun soal nilai kontribusi tam-bahan, sepanjang pembahasan, pemerin-tah DKI berkukuh tak boleh kurang dari 15 persen.
Aguan belum bisa dimintai komentar. Dicari di kantornya, seorang anggota staf Agung Sedayu meminta Tempo membuat janji lebih dulu. Surat permohonan wawan-cara juga belum dibalas. Pekan lalu Tempo dua kali mencari Aguan ke kantor Yayasan Buddha Tzu Chi di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Barat. Di yayasan tersebut,
Aguan menjabat ketua. Pada Kamis pekan lalu, sejumlah pegawai Yayasan mengata-kan Aguan ada di mengata-kantor. Tapi Kepala Pe-ngelola Gedung Buddha Tzu Chi Winarso mengatakan Aguan tak mau ditemui.
● ● ●
PEMBAHASAN Raperda Tata Ruang dan Raperda Zonasi jadi pantauan KPK se-jak awal Februari lalu. Ketika itu pemba-hasan memasuki pasal tentang kontribusi tambah an yang wajib dibayar pengembang reklamasi. Kontribusi tambahan usul ekse-kutif sebesar 15 persen dari nilai jual obyek pajak (NJOP) atas lahan hasil reklamasi.
Sebelumnya, dalam Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1995 tentang Penyeleng-garaan Reklamasi dan Rencana Tata Ru-ang Kawasan Pantai Utara Jakarta, hanya diatur kewajiban fasilitas sosial dan umum serta kontribusi pengembang seluas 5 per-sen lahan. Begitu menjadi Gubernur DKI, Basuki menambahkan kontribusi 15 per-sen. Dengan kontribusi tambahan itu, pe-merintah DKI menghitung akan memper-oleh duit Rp 48,8 triliun. ”Itu untuk mem-bangun infrastruktur,” kata Basuki.
Sejauh ini ada tujuh perusahaan pe-ngembang yang akan membangun dan mengelola 13 pulau reklamasi. Karena Ra-perda Tata Ruang dan RaRa-perda Zonasi be-lum disahkan, semua pengembang bebe-lum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). Faktanya, PT Kapuk Naga Indah, anak usaha Agung Sedayu Group, sudah membangun rumah toko di sana, yakni di Pulau D. Basuki mengklaim pembangunan sudah dihentikan dan kawasan itu sudah
disegel. Tapi dari pantauan Tempo, sampai Rabu pekan lalu, aktivitas pembangunan di pulau tersebut masih berdenyut.
Sembari meneruskan pengurukan pu-lau, para pengembang terus melobi untuk menurunkan besaran kontribusi 15 persen menjadi 5 persen. Aguan, melalui anaknya Richard Halim, misalnya, mendekati pim-pinan DPRD. Komisi antikorupsi mende-teksi sedikitnya tiga kali penyerahan uang untuk anggota Dewan. ”Jalurnya lewat pimpinan Dewan dan Badan Legislasi Dae-rah,” ujar seorang petinggi KPK.
Komisi antikorupsi, misalnya, pernah mendeteksi rencana penyerahan ”suple-men” untuk Dewan pada 22 Februari lalu. Transaksi akan dilakukan di jembatan pe-nyeberangan yang menghubungkan pu-sat belanja ITC Mangga Dua dengan kantor Samsat Jakarta Utara. Namun tim KPK yang tengah memantau penyerahan uang ma-lah disergap sekelompok polisi di gerai In-domaret, kawasan Harco Mangga Dua, Ja-karta Utara. Tiga penyidik KPK yang meng-intai dari balik mobil Kijang Innova dige-landang ke kantor Kepolisian Resor Jakarta Utara. Berdalih salah paham, polisi akhir-nya melepaskan mereka.
Pengembang tak hanya bergerilya di Ke-bon Sirih—sebutan untuk kantor DPRD. Aguan juga mencoba melobi eksekutif. Se-lain melalui Sunny, Aguan beberapa kali bertemu dengan Basuki. Sambil menyan-tap pempek di rumahnya, Aguan meminta Basuki menurunkan kontribusi tambahan menjadi 5 persen. Basuki membenarkan pernah beberapa kali bertemu dengan Agu-an. Namun, menurut Gubernur, dia tak per-nah berjanji menurunkan angka kontribusi dari 15 persen.
Karena lobi menurunkan kontribu-si tambahan menemui jalan terjal, Aguan meminta bantuan bos Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja. Ia meminta Aries-man memastikan kontribusi tambahan di-kunci di angka 5 persen dalam Perda Tata Ruang Pantura. Ariesman pun menawar-kan ”jasa” Mohamad Sanusi, Ketua Komisi D dan anggota Badan Legislasi DPRD.
Ariesman dan Sanusi sudah dekat sejak 2000-an. Sanusi pernah menjadi Direktur Marketing PT Citicon Mitra Tanahabang.
Sunny mengaku tak
setuju kontribusi
15 persen itu. ”Itu
memberatkan
pengusaha,”
katanya.
62 | | 17 APRIL 2016
Perusahaan ini digandeng PT Jakarta Real-ty—perusahaan patungan Jakarta Proper-tindo dan Agung Podomoro—yang memba-ngun Thamrin City. Lewat Ariesman, Agu-an meminta SAgu-anusi membAgu-antu meloloskAgu-an dulu dua rancangan perda itu. Tujuannya agar pembangunan ruko di Pulau D yang dikelola anak usahanya segera mendapat izin mendirikan bangunan.
Ketika diperiksa KPK pada Jumat dua pe-kan lalu, Sanusi mengatape-kan ia pernah di-panggil Aguan ke kantornya. ”Pak Agu-an komplain, kok pekerjaAgu-an Agu-anak-Agu-anak di DPRD enggak beres-beres,” ujar Sanusi ke-pada penyidik.
Sanusi menggandeng Mohamad Taufi k, Wakil Ketua DPRD dari Fraksi Gerindra. Taufi k, yang juga kakak Sanusi, adalah Ke-tua Badan Legislasi DPRD. Semula pentol-an Badpentol-an Legislasi DPRD merpentol-ancpentol-ang ske-nario agar kontribusi 15 persen diatur da-lam peraturan gubernur saja. Ternyata Ba-suki menyambut baik pengalihan ketentu-an kontribusi tambahketentu-an ke peraturketentu-an gu-bernur. Ia malah menganggap hal itu seba-gai kesempatan untuk menetapkan kontri-busi 15 persen tanpa campur tangan DPRD. Merespons Basuki, politikus Kebon Sirih merancang ulang skenario. Mereka men-coba menyusupkan ketentuan kontribusi 5 persen pada bagian penjelasan Raperda Tata Ruang. Rumusannya sempat berubah dari ”lima persen” menjadi ”sekurang-ku-rangnya lima persen”. Membaca kehendak
baru DPRD itu, Basuki berkukuh menolak dan meminta kembali ke usul semula: 15 persen diatur perda.
Semua skenario yang dititipkan ke se-jumlah anggota DPRD dan orang dekat Ba-suki buyar setelah Sanusi dicokok penyidik KPK. Seharusnya Rabu pekan lalu adalah agenda rapat paripurna pengesahan dua perda ini. Namun rapat itu pun kembali di-batalkan.
Pengacara Ariesman, Ibnu Achyat, mengaku belum tahu manuver kliennya dalam melobi DPRD. ”Klien saya belum di-periksa sebagai tersangka. Jadi saya belum banyak tahu,” katanya.
Adapun Mohamad Taufi k membantah pernah menerima ”suplemen” untuk
me-loloskan pasal kontribusi 5 persen. Menu-rut Taufi k, pembahasan kedua raperda berlangsung sangat terbuka. ”Tak ada yang ditutup-tutupi,” kata Taufi k. Karena itu, Taufi k mengatakan siap bila dia dipanggil KPK. Wakil Ketua DPRD lainnya, Triwisak-sana, juga menyangkal tudingan bagi-bagi uang di balik pembahasan raperda rekla-masi. ”Saya tak menerima apa pun. Saya serahkan semuanya ke KPK,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.
Melalui Kepala Pengelola Buddha Tzu Chi Winarso, Jumat pekan lalu, Aguan me-ngatakan akan mengutus direksi Agung Se-dayu Group untuk menjelaskan kasusnya kepada Tempo. Ditemui di Hotel Mulia, Ja-karta, Presiden Direktur PT Kapuk Naga Indah, Nono Sampono, menjelaskan pan-jang-lebar soal proyek reklamasi, termasuk tuduhan kepada anak perusahaan Agung Sedayu tersebut. Tapi Nono meminta se-mua penjelasannya tak dikutip.
Komisi antikorupsi masih memburu jeja-ring suap Ariesman-Sanusi. Pekan ini, KPK akan memanggil sejumlah anggota DPRD. ”Indikasi keterlibatan mereka ada, tapi si-nyalnya masih lemah,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.
● ANTON APRIANTO, SYAILENDRA PERSADA, MAWARDAH, NUR HARYANTO Ariesman Widjaja (foto kiri) dan
Mohamad Sanusi di gedung KPK, Jakarta. FOTO-FOTO: TEMPO/EKO SISWONO TOYUDHO
Namun tim KPK
yang tengah
memantau
penyerahan uang
malah disergap
sekelompok polisi
di gerai Indomaret,
kawasan Harco
Mangga Dua,
Jakarta Utara.
66 | | 17 APRIL 2016
S
UGIANTO Kusuma adalah orang nomor satu dalam de-retan ”sembilan naga” yang melegenda. Ketika Orde Baru berkuasa, sepak terjang bis-nis Sugianto bersama ”The Gang of Nine” mulai merajalela. Aguan—panggilan Sugi-anto—disebut-sebut sebagai sang god father. Bisnis mereka terentang dari properti hing-ga otomotif.Aguan juga bermitra bisnis dengan taip-an Trihatma Kusuma Halimtaip-an dengtaip-an membangun kelompok Agung Podomo-ro. Grup ini telah dirintis sejak 1969. Pro-yek yang pernah dikerjakannya antara lain kawasan Kelapa Gading dan Mangga Dua Square. Dalam wawancara khusus dengan Tempo beberapa tahun lalu, Trihatma me-ngisahkan kedekatannya dengan Aguan. ”He is my best partner,” kata Trihatma.
Aguan masuk ke urusan reklamasi di utara Jakarta melalui PT Kapuk Naga
In-dah, anak usaha Agung Sedayu Land. Ka-puk Naga Indah mengerjakan lima pulau, yaitu A dan B dengan luas 459 hektare yang masuk wilayah Banten, serta C, D, dan E se-luas 872 hektare yang ada di wilayah DKI Ja-karta. Pulau C dan D saat ini sedang dalam tahap reklamasi. Bahkan di Pulau D sudah berdiri bangunan.
Orang dekat Aguan mengatakan Kapuk Naga Indah awalnya dimiliki oleh taipan Anthony Salim. Kapuk Naga Indah pernah mendapat perlakuan khusus dari pemerin-tah. Presiden Soeharto menerbitkan Kepu-tusan Presiden Nomor 73 Tahun 1995 ten-tang Reklamasi Pantai Kapuk Naga. Per-usahaan tersebut kemudian mulai meng-uruk pesisir utara.
Dalam perjalanannya, Kapuk Naga In-dah kesulitan pembiayaan akibat krisis
ekonomi 1998. Apalagi bos mereka terjerat skandal Bantuan Likuiditas Bank Indone-sia (BLBI). Kemudian Anthony menggan-deng Aguan. Taipan kelahiran Palembang itu menanam saham di Kapuk Naga Indah. ”Akhirnya dia mengambil alih mayoritas Kapuk Naga Indah,” ujarnya.
Belakangan, Aguan tidak melulu ber-bisnis. Ia juga aktif di dunia fi lantropi de-ngan mengurus Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Menurut orang dekatnya, lela-ki kelahiran Palembang, 10 Januari 1951, ini aktif di yayasan sosial keagamaan itu se-jak 2002. Kini Aguan menjadi wakil ketua umum yayasan tersebut. ”Dia sudah jarang menyentuh bisnisnya,” katanya. Kerajaan bisnis Aguan diserahkan kepada anak per-tamanya, Richard Halim Kusuma.
Aguan tergugah masuk kegiatan sosial sejak sebagian besar wilayah Jakarta dilan-da air bah 14 tahun lalu. Ketika itu permu-kiman padat penduduk di sekitar rumah tinggalnya di Pantai Indah Kapuk teren-dam banjir. Setelah bergabung dengan ya-yasan, Aguan banyak membangun rumah susun untuk warga miskin.
Ketika gempa dan tsunami melanda Aceh pada akhir 2004, Aguan juga mengulur-kan tangan. Yayasan Buddha Tzu Chi Indo-nesia menyalurkan bantuan dan memba-ngun perumahan untuk korban tsunami. ”Kami terpanggil membangun rumah di sana. Apalagi kami sudah memiliki peng-alaman dengan membangun rumah susun di Muara Angke bagi masyarakat bantaran kali di wilayah tersebut,” kata Aguan di Ja-karta pada 2006.
Yayasan yang dikelola Aguan membangun ribuan rumah di atas lahan sekitar 27 hekta-re. Rinciannya, 1.000 unit rumah di Meula-boh, 700 unit di Lham Seupeng, Banda Aceh, dan 2.000 unit di Neuheun, Aceh Besar.
Tempo dua kali mendatangi kantor Ya-yasan Buddha Tzu Chi di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Pada keda-tangan kedua, Kepala Pengelola Ya yasan, Winarso, mengatakan Aguan akan mengi-rim orang dari Agung Sedayu ke kantor Tempo untuk memberi penjelasan. ”Bapak juga sudah membaca surat permintaan wa-wancara,” katanya.
● SYAILENDRA PERSADA, NUR HARYANTO
GELIAT NAGA PERTAMA
Aguan tak hanya pintar berbisnis. Ia aktif di yayasan sosial