BAB III : PROSES PENEGAKAN HUKUM PIDANA OLEH HAKIM
B. Analisis Kasus
2. Analisis Hukum Terhadap Putusan Pengadilan Tinggi
Setelah putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dalam perkara Nomor: 1286/Pid.B/2011/PN.LP dibacakan secara terbuka untuk umum pada tanggal 19 Desember 2011, dengan memperhitungkan lamanya hukuman penjara yang telah dijatuhkan dan banyaknya jumlah denda, telah mendorong terdakwa pada hari kamis tanggal 22 januari 2011 untuk mengajukan upaya hukum banding dari Rumah Tahanan Negara. Upaya hukum banding merupakan hak baik bagi
terdakwa maupun penuntut umum sebagaimana ketentuan Pasal 67 KUHAP190
karena dapat dipergunakan atau tidak harus diajukan dalam tenggang 7 (tujuh) hari kelender (bukan hari kerja) sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan dalam hal terdakwa tidak hadir dipersidangan.191
Permohonan banding oleh terdakwa dalam perkara ini diajukan secara pribadi oleh terdakwa sendiri dan juga Jaksa Penuntut Umum.
192
190
Pasal 67 KUHAP berbunyi: Terdakwa atau penuntut umum berhak untuk meminta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat.
Berdasarkan Pasal 26 Undang-undang Kekuasaan Kehakiman berbunyi:
191
Pasal 233 aayat 2 KUHAP
192
Akte permohonan banding ini tertuang dalam akta Nomor. 1286/Pid.B/2011/PN-LP, tanggal 20 dan 22 januari 2011.
1. Putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada pengadilan tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain.
2. Putusan pengadilan tingkat pertama, yang tidak merupakan pembebasan dari dakwaan atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum, dapat dimintakan banding kepada pengadilan tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan, kecuali undang-undang menentukan lain.193
Secara yuridis dalam pemeriksaan banding tidak diwajibkan adanya memori banding, karena pemohon banding tidak wajib untuk membuat dan mengajukan sehingga jika pemohon berkehendak membuat dan mengajukannya atau tidak diserahkan kepada keputusan sendiri dan hal itu tidak menghalangi keabsahan pemeriksaan banding oleh pengadilan tinggi, konsekuensinya tenggang waktu penyerahan juga tidak ditentukan dan dapat diserahkan selama perkara belum dimulai oleh pengadilan tinggi.194
Banding mempunyai tujuan yaitu menguji putusan pengadilan tingkat pertama tentang ketepatannya dan untuk pemeriksaan baru untuk keseluruhan perkara itu, oleh karenanya banding sering disebut jugaq revisi.
195
193
Lihat pasal 26 undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman.
Menurut J.M. Van Bemmelen, pemeriksaan banding sebenarnya merupaka suatu penilaian baru
194
Pasal 237 KUHAP berbunyi: selama pengadilan tinggi belum mulai memeriksa suatu perkara dalam tingkat banding atau kontra memori banding kepengadilan tinggi.
195
(judicium Novum) sehingga dapat diajukan saksi-saksi baru, ahli-ahli dan surat-surat baru.196
“Pemeriksaan di tingkat banding (pengadilan tinggi) tidaklah sama seperti pemeriksaan dipengadilan negeri yang memeriksa secara langsung alat-alat bukti dan barang bukti yang ada depan persidangan. Untuk itu walaupun pemeriksaan banding secara hukum dianggap sebagai pemeriksaan ulangan dari seluruh pemeriksaan ditingkat pertama yang termasuk di dalamnya pemeriksaan alat-alat bukti dan barang bukti, tetapi pemeriksaan itu tidak sampai langsung pada pemeriksaan tingkat pertama. Berdasarkan hal-hal tertentu undang-undang hanya memberikan wewenang pada pengadilan tinggi untuk memeriksa dan mendengar langsung keterangan terdakwa atau saksi atau penuntut umum didepan persidangan pengadilan tinggi tetapi prakteknya pemeriksaan itu diperintahkan kepada pengadilan negeri tempat semula perkara itu diperiksa untuk melakukan pemeriksaan tambahan dan selanjutnya memberikan hasil pemeriksaan ke pengadilan tinggi.197”
Berdasarkan alat-alat bukti yang terungkap di persidangan yaitu dari keterangan saksi korban, keterangan ahli dan juga keterangan terdakwa sampai putusan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam yang menyatakan perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan melanggar pasal 378 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP dan pasal 372 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagai dakwaan kedua. Sebagai dakwaan alternatif ketiga pasal 3, Undang-Undang nomor 8 Tahun 2010, Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Pembuktian yang dilakukan dalam memeriksa dan mengadili perkara ini jika menggunakan sistem pembuktian undang-undang secara negatif maka perbuatan terdakwa itu terbukti dilakukan oleh terdakwa berdasarkan alat bukti
196
Ibid, hal. 270
197
Pasal 238 ayat 4 KUHAP berbunyi: Jika dipandang perlu pengadilan tinggi mendengar sendiri keterangan terdakwa atau saksi atau penuntut umum denga menjelaskan secara singkat dalam surat pengadilan kepada mereka tentang apa yang ingin diketahuinya.
berupa adanya keterangan saksi korban, keterangan ahli dan juga keterangan terdakwa.198 Tetapi perihal penyidik dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 2010 pasal 75 yaitu “dalam hal penyidikan menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal penyidik menggabungkan penyidikan tindak pidana asal dengan penyidikan tindak pidana
pencucian uang dan memberitahukannya kepada PPATK.199
Menurut teori Conviction in Time mengajarkan bahwa suatu hal dapat
dinyatakan terbukti hanya atas dasar keyakinan hakim semata timbul dari hati nurani dan sifat bijaksananya tanpa terikat dengan alat-alat bukti. Keyakinan hakim dalam teori ini sangat absolut dan independen sehingga sangat sulit untuk diprediksi dan diawasi.
Dalam kasus ini penyidik tidak pernah memberitahukannya kepada PPATK.
Sistem pembuktian conviction in time adalah suatu sistem yang untuk
menentukan salah tidaknya seseorang terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian “kayakinan hakim”.200
Remmelink menyatakan bahwa kesalahan adalah pencelaan yang ditunjukan oleh masyarakat terhadap perilaku menyimpang dari standart etis yang dapat dihindarinya.201
198
Pasal 186 ayat (1) Keterangan Ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan disidang pengadilan.
Betapun kecilnya pencelaan etik itu. Hal itu berarti bahwa benar terdakwa telah salah melakukan penipuan terhadap korban. Bila ditinjau dari segi teori kesalahan , dapat dikatakan bahwa terdakwa telagh melakukan
199
Pasal 75 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010.
200
M. Yahya harahap I, Op.cit. hal. 277
201
kesalahan, dimana terdakwa menyadari perbuatan itu merupaakan perbuatan yang dapat mendatangkan kerugian bagi orang lain.
Pertimbangan hakim menurut yang menyatakan bahwa hubungan korban dengan terdakwa adalah jalinan cinta kaish, maka pemberian-pemberian yang diberikan oleh saksi korban kepada Silvi Lorenza melalui terdakwa, adalah sesungguhnya untuk terdakwa sedang dalih yang mengatakan uang tersebut untuk Silvi Lorenza adalah tidak benar terdakwa hanyalah pihak perantara yang mana kedudukannya hanya sebagai karyawan hotel deli indah. Berdasarkan Pasal 4 UU
RI No. 8 tahun 2010, dikenakan pula bagi mereka yang
pidana pencucian uang yang dikenakan kepada setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal ini pun dianggap sama dengan melakukan pencucian uang. Sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang adalah cukup
berat, yakni dimulai dari hukuma
dengan denda paling banyak 10 miliar
Berdasarkan pertimbangan hakim pada Pengadilan Tinggi Sumatera Utara yang dalam putusannya menyatakan bahwa terdakwa “Lepas dari segala
tuntutan hukum” (Ontslag van rechtsvervolging) dalam perkara ini. Putusan
pengadilan berupa putusan lepas dari segala tuntutan hukum adalah putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa yang setelah melalui pemeriksaan ternyata menurut
pendapat pengadilan perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana. Jenis putusan ini, dasar hukumnya dapat ditemukan dalam pasal 191 ayat (2) KUHAP yang menyebutkan : Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana.202
a. Dalam hal yang didakwaan kepada terdakwa memang cukup terbukti
secara sah baik dinilai dari segi pembuktian menurut undang-undang maupun dari segi batas minimum pembuktian sebagaimana diatur dalam pasal 183 KUHAP.
Dengan demikian putusan lepas dari segala tuntutan hukum apabila hakim berpendapat :
b. Akan tetapi perbuatan yang terbukti itu tidak merupakan tindak pidana. Tegasnya perbuatan yang didakwakan dan yang telah terbukti itu, tidak diatur dan tidak termasuk dalam ruang lingkup hukum pidana, mungkin barang kali hanya berupa quasi tindak pidana, seolah-olah penyidik dan penuntut melihatnya sebagai perbuatan tindak pidana, atau mungkin termasuk ruang lingkup hukum perdata atau hukum administrasi.203
Pelepasan dari segala tuntutan hukum dijatuhkan apabila terdapat hal-hal yang mengahapuskan pidana baik yang menyangkut perbuatannya sendiri baik yang menyangkut diri pelaku perbuatan itu, misalnya terdapat pada:
202
Lihat Pasal 191 KUHAP
203
M. Hamdan, Alasan Pengahapusan Pidana Teori dan Studi Kasus. (Bandung, PT. Rafika Aditama, Tahun 2012.) hal.45
1) Pasal 44 KUHP, yaitu orang yang sakit jiwa atau cacat jiwanya, 2) Pasal 48 KUHP tentang keadaan memaksa, (over mach)
3) Pasal 49 KUHP yakni melakukan perbuatan untuk menjalankan
peraturan perundang-undangan.
4) Pasal 51 KUHP melakukan perintah yang diberikan oleh atasan yang
sah.
Hal-hal yang mengahapuskan pidana yang terdapat pada pasal pasal tersebut, oleh Soerdirjo204
Berdasarkan pertimbangan hakim Pengadilan Tinggi Lubuk Medan dalam putusan perkara No.50/PID/2012/PT.MDN, menyatakan terdakwa Lenni Damayanti bebas dari tuntutan hukum dengan alasan perbuatan yang didakwakan itu bukan perbuatan pidana melainkan perbuatan perdata. Sehubungan dengan putusan di atas, penulis beranggapan bahwa penjatuhan sanksi yang dilakukan oleh hakim adalah tidak tepat, karena bukti-bukti yang sebagaimana disebutkan dalam pasal 183 dan 184 KUHAP telah terpenuhi dan fakta-fakta persidangan telah sesuai.
dikatakan sebagai hal yang bersifat umum. Di samping itu dikatakan pula terdapat hal-hal yang mengahapuskan pidana secara khusus, yang diatur secara khusus dalam pasal tertentu dalam undang-undang, misalnya pasal 166 dan 310 ayat (3) KUHAP.
3. Analisis Hukum Terhadap Putusan Mahkamah Agung Republik