BAB I PENDAHULUAN
4.2 Analisis Jins Sebagai Komponen Busana Sehari-hari
Berdasarkan data responden dan pengamatan di lapangan, remaja adalah konsumen terbesar sebagai pengguna jins sebagai komponen busana sehari-hari. Dari data questioner dapat disimpulkan beberapa alasan jins sebagai komponen busana sehari-hari, sebagai berikut:
1. 66% responden adalah remaja yang berstatus mahasiswa.
2. 71% responden memiliki lebih dari tiga celana panjang jins.
3. 45 % responden mulai mengenakan jins sejak usia 10-15 tahun.
4. 43% responden memilih warna biru gelap untuk celana panjang jins.
5. 42% responden membeli jins dengan kisaran harga antara Rp.50.000,-Rp.100.000,-.
Kualitas jahitan untuk jins sangat diperhatikan oleh produsen karena jenis pakaian ini paling sering dikenakan oleh remaja dan telah terjadi pergeseran orientasi dari jins buatan luar negeri minded menjadi pembeli produk lokal.
Kalangan menengah atas pun mulai menyadari bahwa merek-merek terkenal buatan luar negeri tidak lebih baik dari bahan tekstil buatan pabrik di Bandung dan sekitarnya.
Kaum remaja sebagai konsumen terbesar pengguna jins mulai melupakan merek-merek terkenal, hal ini disebabkan faktor harga yang mahal untuk kondisi keuangan remaja sehingga mereka berinisiatif memakai jins lokal denga harga terjangkau dengan mutu yang terjamin.
Banyaknya variasi jins baik dalam bentuk yang standar ataupun yang sudah tersentuh tangan-tangan kreatif membuat jins akan selalu hadir dalam siluet, warna dan potongan yang selalu baru, hal ini yang menyebabkan produk jins selalu menjadi komponen favorit dalam berbusana. Apa yang tengah terjadi di Bandung adalah geliat ekonomi kreatif dibidang fashion yang ditunjang dengan pengadaan bahan baku, tenaga kerja dan para kreator.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari perkembangan fashion di Indonesia, tidaklah berlebihan apabila kota Bandung sebagi kota yang menjadi acuan studi kasus jins sebagai komponen busana sehari-hari. Sebagai kota industri tekstil dan garmen pembuat jins siap pakai orientasi ekspor maupun lokal, Bandung dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Tempat pemasaran jins yang hampir menyebar rata di kota Bandung merupakan akses yang memudahkan para konsumen untuk mendapatkan produk tersebut. Tingginya apresiasi terhadap busana jins dari masyarakat umumnya dan remaja khususnya serta daya pakai yang tinggi membuat jins memenuhi kriteria sebagai komponen busana sehari-hari. Jins dapat tampil modis walau hanya dipadu dengan T-shirt maupun kemeja. Jins sebagai produk siap pakai menjadi lebih berkembang di kota Bandung daripada kota lainnya seperti kota Bogor dan Surabaya. Jins dalam perkembangannya sebagai komponen busana sehari-hari dapat disimpulkan secara umum dan secara khusus.
5.1.1 Secara Umum:
a. Para pelaku mode baik produsen dan konsumen di kota Bandung cepat mengadaptasi mode yang sedang berlangsung(tren). Keadaan geografi beriklim dingin membuat individunya mampu menciptakan mode yang kreatif dan dinamis. Masyarakat Bandung tanpa membedakan kelas ekonominya, dapat tampil modis dalam berpakaian. Pengaruh budaya Barat, menjadikan masyarakat Bandung sangat cair dalam menyiasati dinamika perubahan budayanya. Masyarakat Kota Bandung sangat adaptif terhadap perubahan-perubahan budaya, sehingga dalam hal berpakaian masyarakat Bandung cukup peka terhadap perkembangan fashion.
b. Kehidupan dunia usaha seperti ini secara nyata memberi pengaruh yang positif terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.
Contohnya jalan Cihampelas, sebagai kawasan wisata belanja jins di kota Bandung yang terus berkembang dan membuka peluang yang lebih besar bagi penduduk di sekitar untuk turut berperan.
Sejak awal penduduk dikawasan jalan Cihampelas terlibat secara langsung dalam kegiatan produksi jins baik sebagai pekerja, penjahit maupun sebagai penjaga toko.
c. Jins sebagai produk garmen buatan Kota Bandung dan sekitarnya, dengan harga yang compatible, variasi model jins yang lengkap dan berbagai pilihan tempat penjualan jins yang menyebar, tidak hanya sebagai komoditi bisnis semata tetapi sampai saat ini mampu menjadi daya tarik wisata belanja diakhir pekan dan libur panjang.
5.1.2 Secara Khusus:
a. Banyak cara yang dilakukan remaja untuk menunjukkan identitasnya, antara lain penggunaan simbol-simbol status dari kepemilikan barang-barang yang mudah dilihat. Salah satunya pakaian, cara berpakaian adalah bentuk menarik perhatian orang lain. Penyesuaian diri dan penyesuaian sosial dipengaruhi oleh sikap lingkungan terutama lingkungan teman-teman sebayanya terhadap pakaian. Pada diri remaja terdapat kecenderungan meniru dengan cara identifikasi dan imitasi terhadap tokoh atau model tertentu dalam gaya berpakaian. Kecenderungan lainnya adalah tampil sama dengan teman sebayanya sebagai bentuk solidaritas atau kebersamaan dalam kelompok tertentu. Dimata remaja jins adalah bentuk ketidakpedulian dan ketidakacuhan dalam tatacara berbusana. Munculnya gaya jins koyak, jins pudar dan jins penuh tambalan adalah bentuk dari ekspresi tersebut. Jins dianggap mewakili semangat kebebasan, sehingga remaja menjadikannya sebagai alat untuk menentang tatacara berbusana konservatif yang mematok jenis-jenis pakaian tertentu.
b. Konsep tersebut diadaptasi oleh produsen dan perancang busana sebagai fashion. Diterapkan pada koleksi siap pakai, diberi merek tertentu dan akhirnya menjadi produk sandang yang diproduksi secara massal. Kemampuan perancang busana dan produsen dalam mengolah penampilan jins dari celana panjang biasa menjadi celana panjang yang fashionable, membuat harkat jins yang semula pakaian kelas pekerja menjadi komponen busana berdaya pakai tinggi. Jins sebagai celana panjang memiliki aspek pasar yang mampu menjangkau dua gender (pria dan wanita), walaupun bergaya maskulin tapi mampu ditampilkan sisi feminin melalui teknik pola dan pemilihan bahannya. Jins akhirnya diadopsi kaum mapan dan segala sesuatu yang telah diadopsi kaum mapan akan dengan mudah menjadi popular untuk semua kalangan. Hal ini yang membuat jins mulai bergeser dari pakaian non formal menjadi pakaian formal, karena jins telah masuk ke dunia fashion yang digarap secara serius. Terjadinya pergeseran dalam tata cara berbusana yang semula cukup ketat dalam menentukan item-itemnya, membuat jins semakin leluasa digunakan dalam berbagai kesempatan seperti kekantor, kerja lapangan, rapat bahkan kaum remaja sering menggunakannya untuk kuliah yang sebenarnya bersifat resmi.
c. Konsep keseharian dalam berbusana adalah pakaian yang dikenakan untuk kegiatan sehari-hari, dimana faktor kenyamanan menjadi penting. Rasa nyaman mampu mendukung aktivitas sehari-hari sehingga diperlukan busana yang mampu menunjang rasa nyaman tersebut. Aktivitas remaja yang cukup tinggi dapat diakomodir oleh jins sebagai pakaian berdaya pakai tinggi (tahan lama, mudah dalam perawatan dan praktis). Kaum remaja baik pria atau wanita sering menggunakannya dalam berbagai kesempatan seperti ke kampus, jalan-jalan bahkan ke pesta.
Didalam konsep keseharian pula jins mampu menghapus batas kelas sosial, dari harga yang mahal sampai harga yang murah membuat jins menjadi pakaian egaliter khususnya untuk kaum remaja dan umumnya untuk semua lapisan sosial.