• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Mode Pakaian Siap Pakai Massal

BAB I PENDAHULUAN

1.9 Sistematika Penulisan

2.1.4 Perkembangan Mode Pakaian Siap Pakai Massal

Produksi pakaian dimulai saat ditemukannya mesin jahit pada 1829, pakaian laki-laki dan seragam militer adalah barang pertama yang dibuat secara massal oleh mesin jahit. Isaac Singer menciptakan mesin jahit kaki pada 1859, maka mesin jahit memulai peranan pentingnya baik di rumah maupun di pabrik.

Terjadinya revolusi industri di Inggris dan Eropa pada umumnya telah mengembangkan prinsip praktek kerja yang berorientasi pada kecepatan dan efisiensi, khususnya dalam produksi kain dan keramik. Hal lainnya yang sangat membantu, dikembangkannya pola kertas di tahun 1863. Pola kertas tersebut dapat dibeli di dalam beberapa ukuran yang membuat pemotongan pola menjadi lebih mudah.

Pembuatan pakaian jadi secara massal sangat tergantung pada proses industri, hal ini dimulai di Inggris tahun 1870 ketika mesin jahit merubah metode pembuatan pakaian dan hal tersebut mendorong kelahiran industri pakaian siap pakai. Peranan industri tidak serta merta secara cepat mengubah cara pembuatan pakaian yang semula dikerjakan dengan tangan menjadi mempergunakan mesin.

Pada beberapa bagian di industri pakaian pengerjaan dengan tangan masih terus dilakukan berdampingan dengan metode industri. Abad ke 19 merupakan periode peningkatan ekonomi dan sosial yang sedang menanjak.

Industrialisasi secara dramatis mengubah produksi dengan cara lama, mesin-mesin yang bekerja secara efisien mulai diciptakan dan pabrik-pabrik dibangun di setiap tempat. Industrialisasi juga memberikan pengaruh yang sangat besar di bidang mode, dengan melebarkan jalan untuk industri pakaian siap pakai. Teknologi mesin jahit listrik dikembangkan dan mulai tampak dipasaran pada tahun 1921. Keseragaman dan kesempurnaan hasil jadinya, melebihi buatan tangan. Meskipun demikian, ada beberapa yang tetap mempertahankan sistem yang sudah berjalan sementara yang lain menjalankan keduanya.

Berakhirnya Perang Dunia II, industri busana siap pakai mulai berdiri dimana-mana. Peranan pembuat pakaian atau penjahit di dalam Workshop digantikan oleh pabrik-pabrik dengan mesin industri yang efisien, beberapa prasyarat harus terpenuhi terlebih dahulu:

1. Bahan pakaian harus tersedia di dalam jumlah yang sangat besar untuk menjamin bahwa investasi untuk membuat pabrik tersebut layak dilakukan. Berarti harus tersedia tenunan atau bahan tekstil yang cukup untuk menjamin jumlah yang sesuai dengan kapasitas pabrik.

2. Sistem pengukuran harus segera diberlakukan untuk menjamin pakaian yang dibuat dapat dikenakan oleh konsumen potensial sesuai ukurannya.

3. Sistem kerja efektif dengan jumlah pekerja yang sangat besar dibutuhkan untuk memotong dan menjahit bahan pakaian tersebut.

Untuk memastikan hasil yang tinggi maka sistem tersebut harus beroperasi secara cepat, efisien dan lancar.

Masalah dalam suplai bahan baku pakaian dapat diatasi pada abad ke 19 karena revolusi industri mampu menghasilkan penemuan serta pengembangan mesin pemintal yang cepat. Produksi pakaian berdasarkan sistem pengukuran pakaian standar pada periode tersebut serta pakaian sederhana yang biasa dipakai. Di tahun 1960-an dan 1970-an perkembangan mode di Indonesia masih memprihatinkan, untuk mendapatkan pakaian yang berkualitas seseorang harus menjahitkan pakaiannya pada penjahit. Penjahit pakaian dikenal dengan istilah Modiste, informasi tentang mode masih sedikit sehingga orang merasa cukup puas dengan selera individu saja. Pakaian jadi sudah ada, saat itu dikenal dengan istilah konveksi tetapi kondisinya masih kelihatan murah dan kurang bergengsi. Bahan kain yang bagus belum tersedia, pengerjaannya masih dengan teknik terbatas. Perancang busana saat itu sudah dikenal tapi jumlahnya masih terbatas dan karya mereka hanya dapat dikenakan oleh sekelompok kecil masyarakat.

Para perancang busana tersebut membuat karya secara eksklusif berdasarkan pesanan. Di saat informasi ke berbagai sumber semakin mudah diakses dan imbas ekonomi pasar pada komsumsi individu semakin kuat, mode semakin menjadi kebutuhan. Beredarnya buku-buku mode ke Indonesia seperti So-En, Dress making, Simplicity, Mc Calls di era tahun 1970-an, maka wanita Indonesia dapat mempelajari mode yang tengah popular di Eropa dan Amerika. Laporan mode terbaru dari buku atau majalah mode tersebut dilengkapi dengan pola (patron) dan cara menjahitnya. Hal ini sangat membantu mereka untuk menjahit sendiri serta menambah pengetahuan dibidang mode.

Mode merupakan perkembangan dari gaya berpakaian, dimana mode memiliki penikmat tersendiri sesuai tingkat penggunaannya dan umumnnya berlangsung pada masyarakat menegah keatas atau masyarakat perkotaan. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat pedesaan, dimana tingkat kehidupannya hanya bertani, berkebun, beternak atau sebagai nelayan sehingga mereka hanya memerlukan pakaian yang sederhana serta layak sesuai dengan lingkungan dan pekerjaannya.

Setiap tahun mode berganti melalui kreasi perancang busana, di Indonesia perkembangan mode mulai merebak sejak tahun 1980-an. Pada periode itu, semakin banyak wanita yang bekerja diluar rumah dan mereka membutuhkan pakaian kerja yang modis dan sesuai dengan bidang pekerjaannya. Ditandai dengan lahirnya bakat-bakat muda perancang busana dari ajang lomba desain busana. Profesi yang dipandang sebagai hal baru itu diminati oleh kaum muda. Peluang ini mendorong berbagai Dept.store yang ada, memanfaatkan para perancang busana muda dengan memberi tempat untuk menjual karya mereka. Para perancang busana mulai dituntut berkonsentrasi pada produksi pakaian jadi dalam jumlah banyak bukan lagi dalam bentuk satuan sesuai pesanan. Dampaknya segera terasa, masyarakat luas mulai mengenal dan dapat menikmati karya perancang busana melalui produk pakaian jadi mereka.

Dekade 1990-an, tekstil buatan dalam negeri dianggap semakin baik dalam segi warna, motif dan kenyamanannya. Kain merupakan merupakan unsur intrinsik dari industri pakaian karena dalam hal ini pabrik tekstil bertindak sebagai penyedia bahan baku. Pengetahuan tentang tekstil berperan penting bagi seorang perancang busana karena proses mendesain dan produk akhir tergantung pada pemilihan bahan kain yang tepat. Para perancang busana bekerja lebih serius, persaingan membuat mereka mempertajam kemahiran dalam teknik pemotongan kain sampai proses penyelesaian akhir.

Produk pakaian jadi semakin baik, konsumen merasa dihargai. Sasaran konsumen bertambah variatif segmennya, pilihan pun semakin beragam dari wanita dewasa, karier sampai remaja. Sampai saat ini pakaian yang kita kenakan sehari-hari adalah pakaian siap pakai, namun pakaian dari jenis seperti itu lebih tepat disebut sebagai pakaian siap pakai massal (mass ready to wear atau mass production). Ready to wear adalah pakaian siap pakai yang merupakan koleksi rancangan khusus dan terbatas oleh para perancang busana yang sudah memiliki nama atau setidaknya karyanya diminati pedagang pakaian kelas atas.

Ready to wear atau Pret-a porter adalah istilah dalam mode pakaian yang dipasarkan dalam bentuk atau kondisi jadi. Diproduksi dalam ukuran standar (S, M, L dan XL) dan tidak dibuat untuk ukuran khusus. Beberapa Fashion Houses (rumah mode) atau perancang busana membuat rangkaian pakaian tersebut, bersifat massal dan dibuat secara pabrikan (industri). Ada yang membuat secara eksklusif dalam jumlah terbatas serta dalam kurun waktu tertentu saja. Jika dibandingkan dengan Houte Couture, rangkaian pakaian tersebut bukan merupakan produk yang unik.

Koleksi terbaru dari pakaian siap pakai, berdasarkan dari pola atau potongan pakaian yang sangat terkenal kemudian diaplikasikan kembali oleh perancang busana untuk mengangkat nama mereka.

Dari segi mode, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebuah pakaian sehingga dapat dikategorikan sebagai pakaian siap pakai.

1. Pakaian tersebut haruslah didesain secara kreatif sekaligus variatif, sehingga berbeda dengan pakaian yang dirancang oleh perancang busana lainnya.

2. Proses pembuatannya digabung antara yang menggunakan mesin dan jahitan tangan.

3. Peranannya dalam dunia busana cenderung sebagai Trendsetter.

4. Konsumennya kalangan atas atau kalangan yang mampu menjadikan pakaian yang dikenakannya itu menjadi mode

5. Jumlah produksinya terbatas.

Pakaian siap pakai dapat digolongkan dalam beberapa kategori:

1. Ready to wear deluxe, yaitu pakaian siap pakai luks.

Jumlah produksinya terbatas (limited edition ), hanya 12 potong.

2. Ready to wear, pakaian siap pakai biasa.

Jumlah produksinya antara 60-75 potong (4-5 lusin).

Tersedianya pilihan pakaian siap pakai dengan kualitas serta harga yang bervariasi mulai dipasarkan oleh jaringan pemasaran yang luas sampai koleksi mewah prêt a porter yang dibuat oleh perancang busana atau rumah mode .

Variasi dari konsep off-the-rack dinamakan pakaian made-to-measure (dibuat berdasarkan ukuran), para produsen tidak membuat pola pakaiannya sendiri namun menggunakan pola standar yang disesuaikan dengan keinginan dan ukuran dari klien. Setiap gaya memiliki konsumen masing-masing, tidak ada aturan pasti tentang apa yang dikenakan dan tidak ada kesepakatan tentang mode yang ideal dalam mewakili budaya kontemporer.

Produk pakaian berbeda dari produk lain, produk pakaian selalu dilihat dalam kaitannya dengan daur hidup produk yang sangat cepat. Di saat keluar produk mode terbaru, tingkat permintaan pasar tinggi sekali namun akhirnya berkurang dan berkurang lagi kemudian habis.23

Keunikan bisnis pakaian selain daur hidupnya cukup singkat, rantai bisnisnya sangat kompleks. Pada mode pakaian, selain harus mempertimbangkan desain juga memperhatikan faktor artikel (kode barcode), ukuran, warna dan jenis materialnya. Desain pakaian umumnya cepat sekali berubah.24

Ada tiga hal utama dalam bisnis pakaian:

1. Daur hidup industri pakaian sangat pendek, hanya sekitar tiga bulan.

2. Proses dari menciptakan bahan baku, produksi hingga dijual ke pasar membutuhkan waktu lama sekitar enam bulan.

3. Di industri pakaian dikenal sistem konsinyasi (bagi hasil) selain kredit.

Hal ini mengakibatkan tingginya persaingan dan selalu terjadi setiap membuat produk baru (mode pakaian), dimana produk lama belum habis terjual. Produk lama harus dijual cepat dengan potongan harga karena dalam produk mode berlaku “first in first out”.25

23Jacky Mussry, (Patners/Kepala Divisi Consulting & Research MarkPlus & Co), “Menangkap Dinamika Sukses Bisnis Fashion”. SWA12/XX/10-23 Juni 2004.

24Jahja B, Soenarjo (CEO Dirextion Business Consulting),

Menangkap Dinamika Sukses Bisnis Fashion”. SWA12/XX/10-23 Juni 2004.

25Eddy B. Regar (Direktur Pengelola Tira Fashion),

“ Menangkap Dinamika Sukses Bisnis Fashion”. SWA12/XX/10-23 Juni 2004.

Mode telah menjadi sumber utama identifikasi personal, untuk belajar menghargai citra tentang bagaimana tampil, dan bagaimana bergaya menjadi pribadi yang modis, hal ini terjadi karena mode:

1. Mode yang baru mendatangkan perubahan dalam jenis warna, pola pakaian, desain dan model pakaian. Mode mendorong kearah perubahan. Mode telah menjadi suatu konvensi untuk membentuk sesuatu yang baru.

2. Mode cenderung menentang sesuatu yang bersifat konservatif atau kuno dan mendorong kearah bentuk baru yang berbeda dengan yang sudah ada.

3. Mode berkembang karena adanya gaya tarik ke arah sesuatu yang baru, hasrat untuk mengalami perubahan baru. Siapa saja yang mengikuti perkembangan mode tidak menyukai sesuatu yang asli, mereka menyukai adanya perubahan. Hal ini menunjukkan alasan orang berpakaian tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, karena dapat dikalahkan untuk alasan estetis dan tuntutan sosial. Pakaian adalah suatu bentuk komunikasi dalam kategori tindakan ekspresif.

Apa yang dikomunikasikan pakaian adalah identitas sosial pemakainya.

4. Mode tidak hanya masalah gaya berdandan tetapi merupakan cerminan dari fenomena sosial. Meningkatnya konsumsi pakaian tergantung pada sistem sosial yang mendorong seseorang untuk meyakini bahwa semakin banyak memiliki pakaian adalah sangat penting bagi penampilan yang baik. Menghadiri dua kegiatan sosial yang berbeda secara berurutan dalam pakaian yang sama dapat menjadi tanda bahwa individu tersebut tidak inovatif dan tidak orisinal dalam berpenampilan. Perubahan dalam mode banyak dipengaruhi keadaan; kondisi perekonomian, sosial, kemajuan teknologi, bahkan peran didalam masyarakat. Apa pun di sekitar kita dapat berpengaruh pada perkembangan mode.

Ketenaran seseorang, popularitas suatu tempat, lagu, kejadian bahkan ilmu pengetahuan dapat memberi inspirasi yang baru pada mode.

5. Mode ataupun kecenderungan mode menjadi bagian dari kehidupan kita, karena senantiasa untuk diketahui, diamati dan diikuti. Hubungan mode dan konsumennya saling terkait, di mana mode bukan sekedar benda indah yang tergantung di rak toko pakaian.

Perkembangan mode sampai pada suatu masa di mana ide dapat dikembangkan dari apa saja, dari waktu apa saja, kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk baru. Percampuran atau eklektisisme mewarnai kehidupan masyarakat pasca tahun 1970-an tetapi sangat terasa di dunia mode era 1990-an dan berlangsung sampai kini. Saat ini pria dan wanita modern perlu tampil modis, gaya hidup demikian tidak lagi didominasi artis, model, peragawati, atau selebriti yang memang sengaja mempercantik diri untuk tampil dipanggung.

Gaya hidup golongan “Dandyism” kini sudah ditiru secara kreatif oleh masyarakat untuk tampil sehari-hari. Di akhir modernitas, semua yang kita miliki menjadi budaya tontonan (a culture of space). Semua orang ingin menjadi penonton dan sekaligus ditonton, ingin melihat sekaligus juga dilihat.

Gaya menjadi modus keberadaan manusia modern: Kamu bergaya maka kamu ada! kalau kamu tidak bergaya, bersiaplah untuk dianggap“tidak ada”:

diremehkan, diabaikan, atau mungkin dilecehkan. Keadaan inilah yang membuat orang perlu bersolek atau berias diri dan menjadi “masyarakat pesolek” (Dandy society).26

26Chaney, David. (1996), Life Style (Sebuah Pengantar Komprehensif). hal: 16 & 215.

Bagan Klasifikasi pakaian umum dan pakaian khusus.

KOSTUM KHUSUS ( SPECIAL KOSTUM)

PAKAIAN SENI ( ART FASHION) ADI BUSANA ( HOUTE COUTURE)

PAKAIAN KHUSUS

PAKAIAN OLAHRAGA PAKAIAN SANTAI INFORMAL

PAKAIAN PESTA PAKAIAN KERJA RESMI/FORMAL

REMAJA

DEWASA ANAK-ANAK

PAKAIAN SEHARI-HARI PAKAIAN DALAM WANITA

PAKAIAN UMUM SIAP PAKAI (READY TO WEAR)

PAKAIAN PRIA & WANITA

Gambar II.3 Bagan Klasifikasi Pakaian Umum & Pakaian Khusus.

(sumber:Lenhert, Gertrud. (1998), Fashion)