BAB I PENDAHULUAN
2.2 Jins, Tinjauan Historis
2.2.4 Jins Sebagai Budaya Popular Dan Gaya Hidup
Budaya pop adalah tentang identitas, kesenangan dan arti-arti (Fiske 1989:1).
Kebudayaan pop merupakan budaya orang-orang bawahan. Kebudayaan populer adalah kontradiksi dan perlawanan kepada sistem kekuasaan terus-menerus. Negara Indonesia adalah negara yang mengikuti ideologi kapitalisme, sehingga setiap komoditi mencerminkan sistem ideologi yang menciptakan komoditi itu. Gaya hidup kapitalisme menjadi gaya hidup yang terutama dan tidak ada gaya hidup alternatif yang dapat dinikmati (Fiske 1989:14).54
54Raleigh, Elizabeth. (2004), Busana Muslim dan Kebudayaan Populer di Indonesia:
Pengaruh dan Persepsi. hal 10-11
Budaya pop mengandaikan adanya masyarakat pop dan kultur pop. Budaya ini lahir bersamaan dengan makin banyaknya serbuan hasil industri. Dalam kacamata budaya, barang-barang tersebut sering diistilahkan dengan komoditas sesuatu yang memiliki nilai jual. Komoditas tidak berhenti pada produk yang dijual, namun hal lain yang turut mendukung penjualannya.55
Cara berpakaian dipengaruhi produk mode, iklan mode, mal, sinetron atau film dan bintang sinetron yang menggunakan produk tersebut. Suatu budaya lahir pada kurun waktu tertentu dan eksis karena ada yang menciptakan, menjual, mendukung dan mengkomsumsi. Kata “Lifestyle” (gaya hidup) ternyata pertama kali muncul pada tahun 1939. Alvin Toffler memprediksikan ledakan dari gaya hidup sebagai kedalamam yang meningkat dari kalangan masyarakat post-industrial.
Gaya hidup sebagai perbandingan, menerima perbedaan yang ada di dalam budaya mayoritas atau grup. Toleransi atas perbedaan yang terjadi di dalam budaya mayoritas dikaitkan dengan dengan modernitas dan kapitalisme.
Didalam anarkisme, Lifestylism adalah sebuah keyakinan dengan mengubah gaya hidup pribadi seseorang56
Dalam Ilmu Sosiologi, Sebuah Lifestyle atau gaya hidup adalah cara seseorang/group menjalani kehidupan. Hal in termasuk pola dari relasi sosial, konsumsi, hiburan serta gaya berpakaian. Sebuah gaya hidup biasanya juga merefleksikan sikap prilaku seseorang, nilai-nilai serta cara pandang terhadap dunia. Memiliki ‘gaya hidup’ tertentu menunjukkan kesadaran atau ketidaksadaran akan sebuah pilihan antara satu paket prilaku tertentu dengan dengan paket prilaku lainnya. Di dunia bisnis, gaya hidup menyediakan masukan untuk membidik konsumen yang digunakan para pengiklan serta pemasar yang berusaha keras untuk menyamakan aspirasi konsumen dengan produk-produk.
55Widyamoko, FX. (2005) “Budaya Pop,Tradisi dan Budaya Alternatif”, Artikel, Kompas, Minggu 19 januari.
56http://www.wikipedia.com
Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya.57
Gaya hidup merupakan Frame of reference yang digunakan seseorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu.
Terutama bagaimana dirinya ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana membentuk citra di mata orang lain serta berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Untuk merefleksikan image, dibutuhkan simbol-simbol status tertentu yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku komsumsinya. Di era globalisasi, nilai-nilai egaliter merebak ke berbagai pelosok dunia. Sebagian masyarakat mendapat kesempatan untuk mendaki tangga sosial.
Terjadi universalitas simbol-simbol status yang tidak hanya berdasarkan jenis bendanya saja tetapi lebih spesifik lagi adalah mereknya. Beberapa merek fashion menjadi bahasa untuk mengatakan status sosial yang meningkat.
Misalnya Rolex untuk jam tangan, Giorgio Armani untuk setelan jas, pena dari Montblanc dan celana jins dari Levis.
Memasuki milenium ke tiga, jins sekali lagi menjadi objek pemujaan dan objek kontroversi. Suatu saat dipermasalahkan dan di lain waktu menjadi faktor utama atas pemberontakan nilai-nilai asli. Jins untuk sebagian orang sebagai pakaian kerja dan untuk lainnya sebagai lambang anti kemapanan.58
2.2.5 Unsur Estetik Pada Visual Busana
Para perancang busana bereksplorasi mulai dari bentuk produknya sendiri, penggunaan makna simbol budaya suatu masyarakat seperti motif-motif tradisional menjadi hiasan semata didalam berkreasi dan pada akhirnya bersifat komersil.
57Ibid.
58Benaim, Laurance. (2001), Pants A History A foot. Hal:230.
Kriteria estetis menjadi dasar yang utama didalam memilih pakaian dan bagus tidaknya penampilan dari suatu pakaian. Penilaian bagus atau tidak pun berbeda dari setiap individu. Sikap, perasaan, emosi dan kesenangan pribadi turut menentukan apa yang akan dikenakan atau tidak. Usaha untuk berpakaian yang berbeda dengan lingkungan adalah bagian dari selera pribadi yang saat ini menjadi suatu kebiasaan.
Dunia fashion berputar seperti roda, mode fashion muncul dan pertama kali digunakan oleh sekelompok kecil pecinta yang fanatik dengan perkembangan mode. Ketika mode tersebut mulai dapat diterima kelompok yang lebih luas akhirnya mode tersebut menjadi milik bersama dan roda mode telah mencapai titik puncaknya kemudian akan muncul mode baru dengan siklus yang sama.
Istilah tren fashion muncul seiring dengan perkembangan mode yang memberi kebebasan terhadap pilihan untuk mengekspresikan diri. Pakaian siang hari dimetamorfosis ke pakaian malam hari, gaya resmi dan santai disatukan menjadi penampilan yang tidak mengenal batas waktu. Apa yang di kenakan di pagi hari dapat saja di kenakan sampai malam dan apa yang dikenakan ke kantor harus dapat dikenakan untuk resepsi malam harinya.
Gaya, spesifikasi dan kualitas penampilan fashion ditentukan dan dibentuk oleh kualitas visual dan struktural tekstil. Sebaliknya, nilai-nilai fashion yang tumbuh dari berbagai hasrat dan aspirasi manusia memacu serta menuntut daya cipta para perancang tekstil.59
Menurut Marilyn J. Horn; Selera adalah sesuatu yang seseorang suka, pilihan terhadap hal-hal yang mengandung unsur estetis seperti mode. Selera berpakaian seseorang terbentuk oleh waktu dan tempat di mana dia berada.
Setiap orang memiliki pengalaman masing-masing yang membentuk karakter individual dalam selera pribadinya dan menggambarkan kondisi lingkungan serta menyatakan pilihan perorangan.60
59 Anas, Biranul (editor). (2000), Seni Rupa Industri, Menunggu Keterkaitan (Meninjau Permasalahan Produksi Tekstil).Refleksi Seni Rupa Indonesia, Dulu, Kini dan Esok.
hal:158.
60 Wiyoso, Cynthia. “Emosi Pribadi Vs Pendapat Umum ( Selera Berpakaian)”.
Artikel, Kompas, Minggu 9 Januari 1994, harian umum, Jakarta.
Dalam buku The Experimental Psychology of Beauty, CW Valentine mengatakan; Seseorang yang memiliki pengasahan dalam dunia seni akan lebih menyukai bentuk seni yang kompleks. Penilaian terhadap desain pakaian yang muncul berdasarkan keterbiasaan semata lebih banyak ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa yang tidak terlatih pengalaman seninya.
Mereka juga tidak terlalu peduli dengan keharmonisan komposisi dan menilai sesuatu berdasarkan perasaan pribadinya.61
Sebaliknya orang-orang yang memiliki pengalaman seni yang terlatih cenderung untuk memperlihatkan toleransi yang besar terhadap eksperimen berpakaian. Pakaian menggambarkan nilai-nilai yang dianut sipemakai karena itu, selera seseorang adalah pilihan pakaian yang dianggapnya pantas untuk penampilan dan kepribadiannya. Keterkaitan seseorang terhadap seni dan pakaian tercermin dari bagaimana ia mengekspresikan diri dari cara berpakaiannya. Manusia di dunia dibedakan dari tingkat pendidikan, pola nilai, kemampuan persepsi dan latar belakang kebudayaan. Selera pribadi adalah hasil perpaduan dari hal tersebut diatas.
Hal ini menghasilkan di satu sisi, golongan manusia yang seleranya tidak terasah karena tidak terlatih terhadap bentuk-bentuk seni. Bagi mereka pakaian tidak harus indah selama pakaian tersebut dapat dianggap nyaman saat dikenakan. Di sisi lainnya, terdapat mereka yang banyak menyerap, mengalami, memahami dan menikmati seni dalam berbagai bentuk.
Pengalaman tersebut, menghasilkan kemampuan untuk menilai secara obyektif dan intelektual sehingga mudah bagi mereka untuk menghargai bentuk seni yang lebih rumit, termasuk desain mode. Selera pakaian tidak hanya bervariasi tetapi juga mengalami perubahan. Selera berpakaian menggambarkan cara berpikir dan kondisi sosial yang ada di suatu tempat pada waktu tertentu.
Dengan berubahnya gaya hidup atau keadaan sosial, berubah pula standar selera. Hal ini yang diantisipasi oleh perancang busana selain menyediakan fungsi karakteristik dari pakaian, para perancang mulai memperhatikan kualitas estetika untuk meningkatkan daya jual dari produk pakaiannya.
61Ibid.
Menurut kamus Bahasa Indonesia, Estetika memiliki pengertian:
Bagian filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang seni dan keindahan; tanggapan kepekaan terhadap keindahan. Istilah ‘estetika’
diturunkan dari bahasa Yunani aesthesis (‘persepsi oleh panca indera’,‘perasaan’ atau ‘kepekaan’).62
Estetika mencoba menentukan bagaimana manusia merespon keindahan (baik seni maupun alam) dan apakah persepsi tentang keindahan, atau rasa keindahan, bersifat universal atau kah lebih merupakan kemampuan yang bersifat subjektif. Estetika mempelajari proses-proses melalui mana objek-objek dan fenomena yang dialami oleh panca indera. Estetika adalah konsep filosofi yang menilai kecantikan dan seni dengan standar tertentu.
Pertimbangan estetika di dalam seni yang visual pada umumnya dihubungkan dengan pengertian visi.63
Pengertian mengenai cita rasa secara visual adalah menyangkut mengenai kemampuan merasakan keindahan dalam bentuk yang tampak (visual) atau merupakan hasil dari produk kreasi itu sendiri.
Unsur estetika pada busana, meliputi:
1. Ragam hias dapat berupa corak atau motif yang mengisi pada selembar kain atau bahan. Motif atau corak merupakan penentu nilai artistik dari sebuah kain dengan menggunakan berbagai variasi dan kreasi yang berlandaskan kondisi imajinasi berdasarkan pengaruh bentuk naturalis/organis (bunga, buah-buahan, tumbuh-tumbuhan dll), bentuk figure (manusia dan hewan), bentuk geometris dan abstrak.
2. Warna adalah salah satu unsur visual seni, nilai visual warna berupa harmonis, kontras, komplementer dll. Kombinasi warna yang tepat dapat merelaksasi dan membangkitkan memori/ingatan. Pada dunia fashion, kecenderungan warna untuk masa yang akan datang disebut
”Trend”. Proses pewarnaan pada busana jins didapatkan dari hasil akhir proses washing.
62 Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi etiga (2005). hal: 308
63Cavallaro, Dani. (2004), Teori Kritis dan Teori Budaya. hal: 283-284.
Washing adalah suatu teknik pencucian yang dipergunakan untuk mempercepat warna menjadi lebih pudar dan memperlembut bahan jins setelah melalui proses garment wash dengan menggunakan batu apung. Batu-batu tersebut dapat berasal dari batu-batu natural atau sintetik (kristal) dengan bentuk dan ukuran yang berbeda.
Ragam hias, meliputi:
• Teknik bordir sama dengan menyulam. Istilah bordir berasal dari bahasa Inggris ‘Embroidery’ yang berarti sulaman. Berkembangnya teknologi mempermudah proses bordir dengan menggunakan mesin bordir. Saat ini bordir komputer menjadi suatu yang biasa bagi penggrajin bordir serta mempermudah proses produksi dalam jumlah besar dan menekan harga menjadi lebih murah.
Gambar II.28 Jaket jins dengan emblem border.
(Sumber: Seventeen, Majalah, Agustus 2002)
Gambar II.29karya Sally Koeswanto, Bustie jins dengan detail border.
(sumber : Canting, Majalah edisi 3/th.III/Maret 2006)
• Perpaduan warna atau efek yang ditimbulkan dengan sengaja,misalnya teknik Unfinish (tidak selesai), Destroy (pengrusakan), penggunaan unsur pewarna kimia untuk menimbulkan efek tertentu dll.
Gambar II.30 Teknik Destroy, Unfinish & Effek Warna.
(Sumber: Gadis, Majalah, Sept 2003 & Harper’s Bazaar, Majalah, November 2001)
Teknik ragam hias, meliputi:
• Sulaman, kerajinan hias yang sederhana menggunakan benang dan jarum.Dengan menggunakan jemari tangan, kedua alat ini ditusukkan pada bagian atas dan bawah kain secara berulang-ulang sehinggamembentuk motif yang diinginkan. Alat bantu lainnya berupa bidangan (bingkai/ram) yang berguna mengencangkan permukaan kain untuk mempermudah proses penyulaman.
Gambar II.31 Teknik Sulaman.
(Sumber: Female, Majalah, Desember 2003)
• Teknik cetak (Printing), teknik pencapan atau pencetakan dengan menggunakan Screan (bidang dengan permukaan kain kasa halus) untuk memproses pelekatan zat warna sesuai dengan motif yang diinginkan.
Gambar II.32 Teknik Print.
(Sumber: Juene, Majalah, no.14, 2006)
• Lukisan (Hand painting) teknik menggambar diatas permukaan kain dengan menggunakan kuas dan cat warna.
Gambar II.33 Teknik Lukis.
(Sumber: Dewi, Majalah, Februari 1991)
• Opnaisel : Lipatan-lipatan kecil pada baju yang dibentuk melalui jahitan. Besar-kecilnya lipatan mengikuti selera.
Gambar II.34 Teknik Opnaisel.
(Sumber: Dewi, Majalah, April 2006)
• Smock : Membuat tekstur baru pada permukaan kain yang datar dengan cara menjahit dan mengikat.
Gambar II.35 Teknik Smock.
(Sumber: Canting, Majalah, Juni 2006)
• Pleats : Lipatan kain yang terbentuk secara repetisi, kemudian ditekan dengan mesin press (sejenis setrika uap) yang berguna untuk mematikan bentuk agar tidak berubah.
Gambar II.36 Teknik Pleats.
(Sumber: Dewi, Majalah, April 2006)
Detail sebagai elemen estetis berfungsi memperindah tampilan busana dan terlihat berkarakter serta bergaya. Detail menjadi bagian penting dari busana sehingga terlihat berbeda. Hal ini merupakan upaya para perancang busana untuk membuat fisik busana menjadi lebih menarik dan dinamis.
• Pada dasarnya detail merupakan bagian dari busana yang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan atau elemen estetis semata.
• Konsep atau teknik jahitan tertentu dapat pula menjadi detail. Detail dapat juga merupakan proses akhir dari sebuah busana, seperti peletakan corak, harmonisasi warna, teknik jahit sampai aplikasi material lainnya.
• Detail tidak hanya dari penggunaan material yang berbeda sebagai hiasan tapi dapat pula berbentuk motif. motif geometrik, tradisional atau motif kontemporer karena motif dapat dikategorikan sebagai detail.
• Detail tidak selalu berupa aksen, aplikasi atau konsep jahitan. Pola busana yang inovatif atau tidak biasa pun dapat menjadi sebuah detail pada busana bahkan ada yang menerapkan siluet tertentu sebagai detail rancangannya dan menjadi karakter dari busana kreasinya.
Detail dapat berupa finishing akhir pada busana dan memberikan efek tekstur tertentu pada permukan bahan busana jins.
Aplikasi dalam busana jins, berupa:
• Stitching : Teknik jahit tindas yang berfungsi menyatukan dua sisi kain pada satu jahitan. Teknik stitch berkembang menjadi salah satu hiasan yang digunakan untuk mempercantik pakaian.
Gambar II.37 Teknik Stiching.
(Sumber: Female, Majalah, Februari 2003 )
• Payet (Beading/Sequins), memberikan motif di atas kain dengan manik-manik atau mutiara ukuran kecil dan beragam bentuk.
Pengerjaan dilakukan dengan teknik jahit tangan dan memberikan kesan kilau saat tertimpa cahaya.
Gambar II.38 Teknik Payet.
(Sumber: Canting, Majalah, edisi 3/th.III/ Maret 2006)
• Patchwork : Menggabungkan potongan-potongan kain yang berbeda-beda dengan menjahitnya menjadi satu sehingga memiliki rupa tertentu.
Gambar II.39 Teknik Patchwork.
(Sumber:Pants Trousers A History A Foot)
• Renda : Penggunaan renda pada pakaian bertujuan mempermanis bentuk pakaian dan memberikan kesan modis.
Gambar II.40 karya Sally Koeswanto, kebaya dan celana jins dengan detail renda, Rivets dan Unfinish.
(sumber : Majalah Harper’s Bazaar Indonesia, April 2006)
BAB III
PERKEMBANGAN JINS DI KOTA MADYA BANDUNG
3.1 Bandung Sebagai Kota Mode 3.1.1 Masa Awal
Masuknya jins ke Indonesia bermula dari mengikuti perkembangan mode melalui film-film Amerika. Perfilman Hollywood yang melahirkan tren gaya berpakaian yang baru. Gaya berpakaian yang khas Amerika, dimana jins digunakan sebagai kostum dalam film dan popularitas jins semakin terkenal dengan penampilan raja rock and roll, Elvis Presley dengan kostum jinsnya..
Sejak saat itu jins indentik dengan musik rock and roll, tidak hanya memakai celana jins, para anak muda tersebut juga mengenakan jaket jins untuk melengkapi penampilan. Tahun 1960-an, kaum Hippy menganggap pemakaian jins sebagai bentuk protes terhadap masyarakat yang jenuh dengan peraturan.
Pada masa itu kaum muda yang menggunakan celana jins dianggap sebagai para pemberontak. Puncak popularitas jins teraih pada 1970-an ketika jins mulai diproduksi secara massal. Situasi saat itu mendukung bagi industri jins dengan munculnya Flower generations yang memproklamirkan jins sebagai bagian ideologi mereka melawan kemapanan. Budaya menentang yang berawal dari konsep motivasi "Make Love Not War" memperjuangkan keadilan dan perdamaian dunia berdasarkan kasih rintisan Generasi '66 dunia telah mengubah tatanan sosial dan gaya hidup masyarakat dunia. Dari potongan rambut, celana jins, baju lusuh, pemakaian obat bius hingga busana eksentrik serba bertolak belakang dengan masa sebelumnya dan menjadi bagian peradaban masyarakat modern.64
64 Menurut Harry Kawilarang , dalam: Budaya Menentang Mewarnai Reformasi di Kalangan Anak Muda.htpp://www.sulutlink.com/artikel/sosial0623.htm
Di Indonesia, khususnya di kota Jakarta dan Bandung jins telah lama dikenakan oleh berbagai kalangan untuk berbagai kesempatan yang berbeda.
Bahkan banyak orang yang menganggap jins sangat indentik dengan gaya pakaian sehari-hari. Pada akhirnya jins telah menjadi bagian dari perkembangan mode di Indonesia, meliputi:
• Jins mulai masuk ke Bandung tahun 1950-an, jins berupa produk impor yang agak sulit didapatkan dan berharga mahal.
• Tahun 1960-1970-an jins bergaya Cut bray.
• Tahun 1976 ketika film Cinta Ku Di Kampus Biru, Roy Marten sebagai pemeran utamanya tampil dengan celana jins dan kaos oblong.
• Setelah pemutaran film tersebut, jins menjadi sebagai pakaian yang dikenakan banyak anak muda saat itu.
• Terbitnya majalah Aktuil pada tahun 1968 sampai 1976. Majalah ini menjadi barometer mode sehingga menimbulkan suatu tren dikalangan anak muda yang datangnya dari Bandung. Aktuil adalah majalah musik yang terbit 2 minggu sekali dengan oplah 120 ribu/eksemplar.
• Perkembangan Majalah Aktuil beriringan dengan perkembangan jins di kota Bandung, dimana merek terkenal seperti Levis, Wreangler dan Lee memasang iklan di majalah tersebut dan menjadi tren dikalangan anak muda Bandung.
• Iklim geografi Bandung yang memungkinkan untuk berkreasi dalam mode pakaian.
• 80 % pemusik atau grup band yang terkenal saat itu, seperti The Rollies, Jack C’llons, Diablo Band, C’ Blues, One Dee, berasal dari Bandung. Dimana kostum para pemusik turut memberikan pengaruh pada tren saat itu.
• Pengaruh lingkungan terutama faktor manusianya yang menyebabkan masyarakat kota Bandung apresiatif terhadap penampilan.
• Terbentuknya komunitas-komunitas tertentu (kelompok atau gank) yang memiliki gaya tersendiri, seperti: The Hippies, Sabodos, Pillon dll.
• Untuk mendapatkan efek lusuh, para anak muda saat itu menyikat celana jinsnya dengan sikat kawat dan menimbum celana jinsnya
selama tiga hari tiga malam di bukit puncrut untuk menghasilkan efek Dirty looks.
• Pengerian jins pada saat itu adalah celana panjang yang memiliki dua jahitan tindas pada bagian depan dan dalam celana.
• Tingginya permintaan akan celana jins, menimbulkan peluang bagi industri tekstil dan pakaian jadi untuk menciptakan bahan jins bermerek lokal (Lea dan Tira).
• Pabrik tekstil memindahkan produksinya kedunia ketiga, seperti Indonesia. Levis Amerika memindahkan produksinya ke kawasan Cibaduyut Bandung, dimana hasil produksi menggunakan standar yang telah ditetapkan oleh Levis.
• Tingginya permintaan akan celana jins, menimbulkan peluang bagi industri tekstil untuk memproduksi bahan dasar dan berkembangnya konveksi pakaian siap pakai.
• Issue tentang polusi dan pencemaran alam didunia Barat, membuat beberapa garmen dan pakaian jadi untuk menciptakan bahan jins bermerek lokal (Lea dan Tira).
• Jalan Cihampelas dan jalan Padjajaran menjadi daerah penjualan dan penjahitan jins di kota Bandung semenjak tahun 1970-an,selain jalan Tamim yang menjadi sentra bahan dasar jins.
Gambar III.1 celana jins bergaya Basic, Bandung 1972.
(sumber: Dokumentasi Ibu.Dra.Tris Neddy Santo., MA.)
Gambar III.2 Mahasiswa dan jins,1972-1973.
Model celana jins Cut bray, jaket & baju terusan (sumber: DokumentasiBpk.Drs. Ermawan)
Gambar III.3 celana jins bergaya Cut Bray, Bandung 1973.
(sumber: Dokumentasi Ibu.Dra.Yanni Anjar)
Gambar III.4 Jins bergaya Basic menjadi pakaian untuk kegiatan Mahasiswa pencinta alam, Bandung 1973.
(sumber: Dokumentasi Ibu.Dra.Yanni Anjar)
Gambar III.5 celana jins bergaya Bell Bottom, Bandung 1974.
(sumber: Dokumentasi Ibu.Dra.Yanni Anjar)
Gambar III.6 Mahasiswa dan jins,1972-1975.
Model jins tidak hanya celana panjang Cut bray , Basic, overall & rok mini (sumber: Dokumentasi Ibu.Dra Tris Neddy S, MA. & Bpk.Drs.Ermawan)
Gambar III.7 celana & rok jins, Bandung 1975.
(sumber: Dokumentasi Ibu.Dra.Yanni Anjar)
Gambar III.8 celana jins Baggy & Cut Bray 1980.
(sumber: DokumentasiBpk.Drs.Ermawan)
Gambar III.9 Celana jins era tahun 1973-1980.
(sumber: Moh. Alim Zaman, 100 Tahun Mode Indonesia 1901-2000.hal: 68)
Gambar III.10 Iklan jins & t-shirt merek Logo dari Bandung.
(Sumber: Majalah Gadis 21feb-2 maret & 3 april-13 april 1980)
Gambar III.11 celana jins Slim Fit/Stretch merek Lea.
(sumber: Mode, Majalah, no 03 TH.XI 9 Februari 1987)
Gambar III.12 celana bergaya Baggy, jaket & rok jins di Bandung.
(sumber: Mode, Majalah, no 3 TH. XIV 18 Februari 1990)
Gambar III.13 Rok, Overall,celana Skinny, jaket & rok mini jins di Bandung.
(sumber: Survey penulis di FSRD ITB & Jeune,Majalah, no.14. 2006)
Gambar III.14 Iklan jins 347/Eat & Sreamous Bandung.
(sumber: Suave, Majalah, no.25 September&oktober 2006)
Gambar III.15 Iklan jins him, d’Loops & 16 D’Scale Bandung.
(sumber: Suave, Majalah,no.25 September&oktober 2006, Juice, Majalah, Desember 2006)
3.1.2 Jins Sebagai Komponen Busana Sehari-hari.
Komponen memiliki pengertian sebagai unsur atau bagian dari keseluruhan.65 Component adalah bagian–bagian yang membentuk kesatuan atau barang-barang pelengkap.66
Pada pengelompokkan busana, yang termasuk pelengkap busana adalah alas kaki (sepatu, sandal dan selop), kaus kaki, tas, topi, selendang, dasi, scarf, ikat pinggang, payung dan sarung tangan dalam istilah asing disebut Millineris.67
Satu dari sekian banyak item busana yang mengisi lemari pakaian adalah jins.
Setiap orang paling tidak memiliki satu potong jins , baik berupa celana panjang, rok mini, kemeja atau jaket. Saat ini jins dapat dibeli di hampir setiap pertokoan modern maupun pertokoan tradisional. Dari butik mewah sampai digelar di kaki lima dalam berbagai model dan variasi warna. Jins menjadi bagian penting dari Street fashion tetapi penggunaan jins saat ini tidak hanya untuk bersantai saja, dengan paduan jas atau kemeja yang rapi jins dapat digunakan dalam kesempatan resmi. Didalam penggunaannya jarang sekali jins dipakai sebagai satu kesatuan yang utuh, misalnya celana panjang jins dipakai bersamaan dengan kemeja jins dan jaket jins.
Umumnya pengguna jins memakai jins sebagai komponen atau pelengkap busana, hal ini terjadi untuk menghindari kesan berat dan panas saat dikenakan. Pada konsep berbusana sehari-hari, jumlah atasan (t-shirt, kemeja, jaket, tank-top) akan lebih banyak dari jumlah bawahan (celana panjang – pendek dan rok panjang-pendek) yang kita miliki, contoh; celana panjang jins tidak akan mengundang perhatian walau dipakai setiap hari, berbeda dengan baju yang setiap hari dipakai akan mengundang pertanyaan apakah baju tersebut tidak dicuci?. Jins sebagai komponen busana sehari-hari memiliki kemampuan dalam daya pakai yang tinggi serta nyaman saat dikenakan. Jins juga mampu menjadi komponen yang dapat menetralisir suatu busana menjadi lebih casual tidak terlalu dressy serta memberi kesan energi yang lebih muda dalam konsep berbusana (Sportif, Youthful dan dinamis).
Umumnya pengguna jins memakai jins sebagai komponen atau pelengkap busana, hal ini terjadi untuk menghindari kesan berat dan panas saat dikenakan. Pada konsep berbusana sehari-hari, jumlah atasan (t-shirt, kemeja, jaket, tank-top) akan lebih banyak dari jumlah bawahan (celana panjang – pendek dan rok panjang-pendek) yang kita miliki, contoh; celana panjang jins tidak akan mengundang perhatian walau dipakai setiap hari, berbeda dengan baju yang setiap hari dipakai akan mengundang pertanyaan apakah baju tersebut tidak dicuci?. Jins sebagai komponen busana sehari-hari memiliki kemampuan dalam daya pakai yang tinggi serta nyaman saat dikenakan. Jins juga mampu menjadi komponen yang dapat menetralisir suatu busana menjadi lebih casual tidak terlalu dressy serta memberi kesan energi yang lebih muda dalam konsep berbusana (Sportif, Youthful dan dinamis).