JINS SEBAGAI KOMPONEN BUSANA SEHARI-HARI PERIODE 1990-2006
STUDI KASUS KOTA BANDUNG
TESIS
Karya tulis ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung
Oleh
ADLIEN FADLIA NIM : 27104008 Program Studi Desain
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2007
PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS
Tesis S2 yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Institut Teknologi Bandung, dan terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HAKI yang berlaku di Institut Teknologi Bandung. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan atau peringkasan hanya dapat dilakukan seizin pengarang dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.
Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh tesis haruslah seizin Direktur Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.
PRAKATA Bissmillaahirrahmaanirrahiim,
Adalah karunia yang tidak terhingga bahwasanya penulis diperkenankan Allah Swt untuk menyelesaikan penulisan tesis ini sehingga penulis berkesempatan untuk menyelesaikan program studi magister desain di Fakultas Seni Rupa ITB.
Pembahasan tentang jins sebagai komponen busana sehari-hari adalah gambaran tentang cara berbusana di era modern ini. Jins sebagai komponen busana siap pakai merupakan busana berdaya pakai tinggi ditinjau dari segi kekuatannya, kenyamanannya dan bersifat kasual. Sebagai bagian dari gaya hidup, jins memiliki energi yang lebih muda dalam konsep berbusana (Sportif, Youthful dan dinamis).
Bandung sebagai kota Industri dan garmen mampu memproduksi tekstil berkualitas, salah satunya bahan denim. Istilah denim berubah menjadi jins setelah diproduksi menjadi pakaian siap pakai. Jins buatan garmen atau konveksi di kota Bandung dan sekitarnya merupakan produk kreatif yang acceptable (dapat diterima) dan marketable (dapat dipasarkan) di masyarakat Indonesia dan Internasional sebagai produk garmen orientasi ekspor.
Penulis berharap penelitian tentang jins sebagai komponen dalam berbusana sehari-hari dapat memberikan wawasan keilmuan yang berkaitan dengan fashion, gaya hidup dan dimensi kreativitas masyarakat kota Bandung sebagai pencipta dan pelaku mode. Penulis menyadari bahwa dalam penelitain ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu penulis berharap kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan karya tulis selanjutnya.
Atas segala kerendahan hati, penulis sampaikan terima kasih, kepada yth:
1. Bapak Dr. Biranul Anas Zaman., selaku pembimbing I 2. Ibu Dra. Ratna Panggabean., M.Sn., selaku pembimbing II
3. Bapak Drs.Widihardjo., M.Sn., Sekretaris Program Studi Magister Desain ITB 4. Bapak Drs.Achmad Haldani Destiarman., M.Sn., selaku reader
5. Bapak Drs.Yan Yan Sunarya., M.Sn., selaku penguji 6. Ibu Dian Widiawati., S.Sn., M.Sn., selaku penguji 7. Ibu Dra.Triss Neddy Santo., MA. Dekan FSRD IKJ
8. Ibu Dra. Reni Anggraini., KPS Desain Mode & Busana IKJ
9. Ibu Dra. Fifin Safrina H. & Dra. Yanni Rosalin., staff pengajar kria tekstil IKJ 10. Bapak Drs.Ermawan & Janto Diablo (Aktuil) atas dokumentasi foto
11. Bapak Albert Gowandi (Deputi Centre Manager Retail Pasar Baru Bandung), Rudy V.(Aria jins), Willie (Warung jins), A.B Raeza (Airplane), Dendy dan Raiki
(347/Eat) atas kontribusinya.
12. Bapak H.M.Amin Manaf dan Ibu Hj.Samro Sidik (orang tua)
13. Apasra Dhewayani, SH., drg. Mira Badrullia dan Faisal atas kontribusinya 14. Ibu Evie dan Staff Administrasi S2 Desain FSRD ITB
15. Rekan-rekan S2 Desain FSRD ITB angkatan 2004
Tanpa bantuan berbagai fihak ini mustahil penulis dapat melewati tahapan penulisan tesis ini. Semoga Allah Swt. Senantiasa membimbing kita semua. Amin.
Bandung, Februari 2007
Adlien Fadlia 27104008
ABSTRAK
JINS SEBAGAI KOMPONEN BUSANA SEHARI-HARI PERIODE 1990-2006 (STUDI KASUS KOTA BANDUNG) Oleh :
Adlien Fadlia 27104008
Saat ini mode menjadi gaya hidup untuk mengekspresikan jati diri di tengah industri fashion yang bersifat massal. Dunia mode menyadari adanya kebutuhan untuk tampil unik ditengah-tengah dunia yang serba massal. Industri fashion mendorong kebutuhan untuk berpenampilan khas melalui kemampuan individunya, sehingga penampilan luar dari setiap individu dapat memberi banyak impresi. Pakaian tidak saja sebagai penutup diri, tetapi pakaian mampu menunjukkan karakter dan status pemakainya.
Penelitian ini akan mengemukakan bagaimana jins menjadi pilihan berbusana dikehidupan masyarakat kota Bandung sehari-hari serta bagaimana penampilan dari jins mampu berkembang bersama teknologi modern maupun manual. Jins sebagai salah satu jenis tekstil yang dihasilkan dari industri berskala besar pada perkembangannya mampu menarik minat masyarakat untuk mengenakannya sebagai komponen busana sehari-hari.
Kota Bandung sebagai pusat industri dan garmen mampu membuat serta mengolah jins menjadi pakaian jadi yang bersifat massal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis, dimana pada pelaksanaannya status gejala ada disaat penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif berdasarkan analisis deskriptif.
Budaya jins sebagai pakaian popular tidak terlepas dari pengaruh globalisasi kebudayaan, diantaranya adalah budaya berpakaian yang masuk melalui sarana media massa dan media elektronik. Jins menjadi lambang kebebasan dalam berpenampilan tanpa diikat aturan dan cara berpakaian konvensional, sehingga terjadi pergeseran nilai jins dari pakaian non formal menjadi formal.
Kata kunci: Fashion, Gaya hidup dan Kreativitas.
ABSTRACT
JEANS AS A COMPONENT OF DAILY DRESS IN THE PERIODE OF 1990-2006 (A CASE STUDY IN BANDUNG CITY)
by Adlien Fadlia
27104008
Nowadays fashion has been a lifestyle to express self-identity in the mass fashion- industries. People in the fashion area realize the need to perform uniquely in the all mass world. Fashion industries encourage the need through their individual competence so that the outer performance of each individual may give much impression. Clothes are not only as body cover, but also can show the character and the status of the wearer.
The research will explain how jeans become a choice of fashion in the daily life of Bandung community, and how jeans are able to develop along with modern and traditional technology. Jeans as a type of textiles produced by large scale industries are able to attract people to wear them as a component of their daily dress. Bandung city as the center of garment and fashion industries is capable of manufacturing jeans as the mass finished clothes. The study used historical method, in which the status of symptoms was done qualitatively based on the descriptive analysis.
The culture of jeans as popular dress is attached to the culture globalization, which is popularized through mass media; printed and electronic media. Jeans become a symbol of freedom in performance without obeying the conventional way of dressing. As a result, there is a shift of jeans value, from informal to formal dress.
Key words : fashion, lifestyle and creativity
DAFTAR ISI
ABSTRAK ………..v
ABSTRACT ..………...iv
DAFTAR IS ………vii
DAFTAR GAMBAR ……….x
DAFTAR TABEL ……….xv
DAFTAR ISTILAH ……….xvi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………... 1
1.2 Rumusan Masalah..……… 4
1.3 Pertanyaan Penelitian……… 4
1.4 Tujuan Penelitian.………... 5
1.5 Batasan Penelian……… 5
1.6 Metode Penelitian………. 5
1.7 Alur Penelitian………. 6
1.8 Kerangka Berpikir………. 7
1.9 Sistematika Penulisan………. 10
BAB II JINS SEBAGAI BAHAN PEMBUAT BUSANA 2.1 Tinjauan Teoritis Busana………..………... 11
2.1.1 Nilai Fungsi Dan Simbol Pakaian………... 11
2.1.2 Perkembangan Mode Pakaian ………..………. 19
2.1.3 Perkembangan Pakaian Bergaya Barat Di Tanah Air………... 30
2.1.4 Perkembangan Mode Pakaian Siap Pakai Massal………. 33
2.2 Jins, Tinjauan Historis……..………... 42
2.2.1 Pengertian Jins dan Denim……… 49
2.2.2 Jins Sebagai Celana Panjang……….. 53
2.2.3 Gaya Jalanan dan Anti Fashion…... ………... 55
2.2.3.1 Jins Sebagai Bagian dari Gaya Jalanan………... 56
2.2.3.2 Jins dan Sub-Kultur……….……… 58
2.2.3.3 Gaya Pakaian Pada Sub-Kultur………. 60
2.2.4 Jins Sebagai Budaya Popular Dan Gaya Hidup………. 69
2.2.5 Unsur Estetika Pada Visual Busana………... 71
BAB III PERKEMBANGAN JINS DI KOTA BANDUNG 3.1 Bandung Sebagai Kota Mode………. 83
3.1.1 Masa Awal………... 83
3.1.2 Jins Sebagai Komponen Busana Sehari-hari………. 91
3.1.3 Pengaruh Jins Dalam Pakaian Keseharian……… 92
3.1.4 Jins dan Remaja………. 93
3.2 Jins Sebagai Media Eksplorasi………... 95
3.2.1 Proses Produksi Jins Siap Pakai………... 95
3.2.2 Proses Pencucian Dan Tata Warna Pada Jins……….. 101
3.2.3 Perkembangan Model Celana Jins……… 106
3.2.4 Pengelompokkan Gaya Pada Jins.………... 110
3.3 Jins Sebagai Produk Siap Pakai……….. 121
3.3.1 Jins Sebagai Produk Garmen……… 121
3.3.2 Jins Sebagai Produk Industri Rumahan……… 124
3.3.2.1 Aria Jins……….. 125
3.3.2.2 Warung Jins……… 128
3.3.3 Sentra Penjualan Jins Di Kota Bandung………... 129
3.3.3.1 Jins Jalan Tamim………... 129
3.3.3.2 Jins Jalan Cihampelas………... 130
3.3.3.3 Jins Pasar Baru…….………. 132
3.3.3.4 Jins Factory Outlet………. 133
3.3.3.5 Jins Clothing………...……… 134
3.3.3.6 Jins Jalan Cigondewa Raya………... 138
BAB IV ANALISIS JINS SEBAGAI KOMPONEN BERBUSANA SEHARI-HARI
4.1 Analisis Produksi, Pasar dan Pemasaran……… 140
4.1.1 Data Sampel Perusahaan……… . 141
4.1.1.1 Data Produksi dan Desain PT.Aria iins……… 141
4.1.1.2 Data Produksi dan Desain Warung jins……… 146
4.1.1.3 Data Produksi dan Desain Airplane Clothing………. . 150
4.1.1.4 Data Produksi dan Desain 347/Eat Clothing………. 154
4.1.2 Pasar………. 158
4.1.2.1 PT. Aria jins……….. 158
4.1.2.2 Warung jins……… 158
4.1.2.3 Airplane Clothing……….. 159
4.1.2.4 347/Eat Clothing……… 160
4.1.3 Peta Umum Pemasaran Jins Di Bandung………. 161
4.1.3.1 PT. Aria jins………. 162
4.1.3.2 Warung jins……….. 162
4.1.3.3 Airplane Clothing……… 162
4.1.3.4 347/Eat Clothing………. 163
4.1.3.5 Cihampelas jins……… 163
4.1.3.6 Pasar Baru Trade Centre……….. 164
4.2 Analisis Jins Sebagai Komponen Busana Sehari-hari ……… 164
BAB V KESIMPULAN dan SARAN 5.1 Kesimpulan……… 166
5.1.1 Kesimpulan Secara Umum.……… 166
5.1.2 Kesimpulan Secara Khusus……… 155
5.2 SARAN………... 169 Daftar Pustaka………..
LAMPIRAN……….
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Grafik Pengaruh Mode yang mengalir ke bawah………...27
Gambar II.2 Grafik Pengaruh Mode yang mengalir ke atas………...27
Gambar II.3 Klasifikasi pakaian umum & pakaian khusus………...41
Gambar II.4 Jins Pakaian Para Pekerja Tambang………...44
Gambar II.5 Wanita Cowboy memakai Jins Levis,1930………44
Gambar II.6 Marlon Brando pada filem The Wild One, 1954………...45
Gambar II.7 Marlon Brando pada filem The Wild One, 1954………...45
Gambar II.8 Elvis Presley pada film Jailhouse Rock, 1957………..45
Gambar II.9 Berbagai warna jins,1960-an………...47
Gambar II.10 Festival Musik Woodstock, 1969 di New York………..47
Gambar II.11 Hippy Gathering 4 juli 1968………...48
Gambar II.12 Gaya B-Boy...60
Gambar II.13 Gaya Casual………61
Gambar II.14 Gaya Funk...61
Gambar II.15 Gaya Gay………....62
Gambar II.16 Gaya Greaser………...62
Gambar II.17 Gaya Grunge………...63
Gambar II.18 Gaya Head Banger………...63
Gambar II.19 Gaya Hippy………..64
Gambar II.20 Gaya Indie………...64
Gambar II.21 Gaya Jungle………...65
Gambar II.22 Gaya Pshychobilly………...65
Gambar II.23 Gaya Punk………...66
Gambar II.24 Gaya Rave………...66
Gambar II.25 Gaya Skinhead……….67
Gambar II.26 Gaya StreetStyle/Subcultural………...67
Gambar II.27 Gaya Wokwear Rockabilly………..68
Gambar II.28 Jaket jins dengan emblem bordir………...75
Gambar II.29 Bustie jins karya Sally Koeswanto………..76
Gambar II.30 Teknik Destroy, Unfinish dan efek warna………..76
Gambar II.31 Teknik Sulaman………..77
Gambar II.32 Teknik Print………77
Gambar II.33 Teknik Hand Painting………...78
Gambar II.34 Teknik Opnaisel……….78
Gambar II.35 Teknik Smock……….79
Gambar II.36 Teknik Pleats………...79
Gambar II.37 Teknik Stiching………...80
Gambar II.38 Teknik Payet………...81
Gambar II.39 Teknik Patchwork………...81
Gambar II.40 Renda………...82
Gambar III.1 Jins bergaya Basic di Bandung, 1972………...85
Gambar III.2 Mahasiswa dan jins,1972-1973………...86
Gambar III.3 Jins bergaya Cut Bray di Bandung, 1973………...86
Gambar III.4 Jins bergaya Basic Mahasiswa Pencinta Alam di Bandung, 1973……...86
Gambar III.5 Jins bergaya Bell Bottom di Bandung 1974……….87
Gambar III.6 Mahasiswa dan jins,1972-1975………...87
Gambar III.7 Celana & Rok jins di Bandung, 1975………...87
Gambar III.8 Celana jins,1980………..88
Gambar III.9 Ilustrasi model celana jins, 1980-an………88
Gambar III.10 Iklan Logo Jins………..88
Gambar III.11 Iklan Lea Jins………89
Gambar III.12 Jins di Bandung, 1990………...89
Gambar III.13 Jins di Bandung, 2006………...90
Gambar III.14 Iklan jins 347/Eat dan Sreamous………...90
Gambar III.15 Iklan jins him, d’Loops dan 16 D’Scale………90
Gambar III.16 Potongan pola pada celana jins………...96
Gambar III.17 Pembuatan pola celana jins………...96
Gambar III.18 Pemotongan bahan denim………..97
Gambar III.19 Pemotongan bahan denim menurut pola………...97
Gambar III.20 Pengelompokkan potongan celana berdasarkan ukuran………98
Gambar III.21 Proses penjahitan saku celana pada jins………...98
Gambar III.22 Proses penjahitan celana jins………...98
Gambar III.23 Proses pemasangan Rivets……….99
Gambar III.24 Label petunjuk perawatan yang terdapat pada celana jins…………...99
Gambar III.25 Tumpukan celana jins setelah dijahit dan proses cuci garmen…………..99
Gambar III.26 kualiti Kontrol………..100
Gambar III.27 Proses pengemasan jins………....101
Gambar III.28 Proses pengemasan jins………101
Gambar III.29 Efek warna celana jins proses Stone wash………...102
Gambar III.30 Efek warna celana jins proses Rinse wash………...102
Gambar III.31 Efek warna jaket jins proses Tint Red OverDye………..103
Gambar III.32 Efek warna celana jins proses Dirty wash………...103
Gambar III.33 Efek Whisker pada celana jins………...103
Gambar III.34 Efek Destroy pada lutut celana jins………104
Gambar III.35 Efek kimia Kalium………...104
Gambar III.36 Efek warna Tie Dye pada jins………..105
Gambar III.37 Mesin Laser untuk memberikan efek warna ………...105
Gambar III.38 Perkembangan celana jins menurut Francois Girbaud……….107
Gambar III.39 Perkembangan celana jins………....107
Gambar III.40 Straight Fit Jins………109
Gambar III.41 Regular FitJins……….109
Gambar III.42 Boot Cut Jins………109
Gambar III.43 Super Bell Jins………..109
Gambar III.44 Jins bergaya ketat, 1980-an………..110
Gambar III.45 Jins bergaya Baggy, 1987……….111
Gambar III.46 Jins sebagai kostum Punk, 1990-an……….111
Gambar III.47 Jins sebagai pakaian remaja, 1990-an………..111
Gambar III. 48 Jins untuk ke kantor, 1993………..112
Gambar III. 49 Jins untuk ke kantor, 1993………..113
Gambar III.50 Gaun malam jins karya Sally Koeswanto………....114
Gambar III.51 Celana dengan aplikasi Bordir, Bulu, efek Destroy……….114
Gambar III.52 Celana dan Jaket jins dengan aplikasi Print, Bordir, Patchwork……….114
Gambar III.53 Jins sebagai assesories Tas dengan aplikasi Payet dan teknik Lukis…...115
Gambar III.54 Variasi Model celana jins……….115
Gambar III.55 Berbagai teknik aplikasi pada celana, rok & jaket jins………116
Gambar III.56 Dirty jins………..116
Gambar III.57 Flares jins………117
Gambar III.58 Bell Bottom jins………117
Gambar III.59 Boot Cut jins……….118
Gambar III.60 Classic jins………...118
Gambar III.61 Trouser jins………..119
Gambar III.62 Cropped jins……….119
Gambar III.63 Skinny jins………120
Gambar III.64 Baggy jins……….120
Gambar III.65 Proses pengkalkulasian bahan jins melalui computer………..121
Gambar III.66 Proses pemotongan jins berdasarkan pola………...122
Gambar III.67 Proses penjahitan celana jins………122
Gambar III.68 Proses penjahitan celana jins………122
Gambar III.69 Proses kualiti Kontrol………...123
Gambar III.70 Aria jins………...126
Gambar III.71 Aria jins………...127
Gambar III.72 Aria jins………...127
Gambar III.73 Aria jins………...127
Gambar III.74 Warung jins………...128
Gambar III.75 Warung jins………...129
Gambar III.76 Penjahit jalan Tamim Bandung………130
Gambar III.77 Pertokoan jins di jalan Cihampelas Bandung………..131
Gambar III.78 Jins Pasar Baru Trade Centre………..133
Gambar III.79 Jins Factory Outlet………..134
Gambar III.80 Jins Airplane Clothing……….136
Gambar III.81 Jins Airplane Clothing……….136
Gambar III.82 Jins Cosmic Clothing………...137
Gambar III.83 Jins 16’Scale Clothing……….137
Gambar III.84 Jins 16’Scale Clothing……….137
Gambar III.85 Jins 347/Eat Clothing………...138
Gambar III.86 Kios tekstil jalan Cigondewa Raya………..139
Gambar IV.1 Peta Umum Pemasaran Jins di Bandung….………..160
DAFTAR TABEL
Gambar IV.1 Tabel Data Produksi PT.Aria jins……….143
Gambar IV.2 Tabel Data Produksi PT.Aria jins……….144
Gambar IV.3 Tabel Data Produksi PT.Aria jins……….144
Gambar IV.4 Tabel Data Produksi Warung jins……….148
Gambar IV.5 Tabel Data Produksi Airplane jins………...152
Gambar IV.6 Tabel Data Produksi 347/Eat jins………..157
DAFTAR ISTILAH A
Apparel :
Istilah lain untuk pakaian siap pakai.
Assessment :
Proses dari suatu evaluasi formal untuk pekerjaan desain.
Atelier :
Sebuah studio fashion, dimana studio fashion tersebut di desain untuk mengerjakan pembuatan gaun atau membuat busana dan jaket.
Avant Garde :
Sebuah pakaian atau konsep yang melebihi jamannya atau tren pada saat itu.
B
Barcode:
Kode barang yang dapat dideteksi oleh komputer.
Bespoke :
Pembuatan/penjahitan pakaian yang dibuat secara individual dan tepat untuk pakaian pria.
Bleaching:
Kimia pemutih warna.
Blocks :
Satu set dasar individual atau template pola dengan ukuran standard dari sebuah desain yang bisa dikembangkan. Blocks dikenal dengan istilah Slope di Amerika.
Bottom Weights :
Bahan pakaian yang mempunyai bobot lebih berat dan biasanya digunakan untuk membuat rok dan celana panjang.
Boutique :
Kata Perancis untuk sebuah kemandirian, biasanya merupakan sebuah toko kecil dengan koleksi serta atmosfir (suasana) yang unik.
Brainstorming :
Diskusi terbuka diantara teman sekerja untuk mendapatkan ide serta konsep baru.
Brand :
Sebuah nama atau Trademark untuk mengidentifikasikan sebuah produk dan menunjukkan kualitas, nilai atau suatu etika tertentu.
Bridge fashion :
Suatu istilah Amerika untuk suatu busana pakaian yang berada di antara perancang busana dan gaya High street.
Buyer :
Orang yang bertanggung jawab atas suatu perencanaan, pembelian serta penjualan suatu benda atau barang.
Buying Office :
Departemen yang bertugas atas pembelian barang-barang di dalam sebuah toko, atau badan independen yang mengatur pembelian butik, terutama supplier dari luar negeri.
C
Cabbage :
Istilah untuk bahan pakaian yang tidak terpakai yang berasal dari kelebihan produksi dari industri.
CAD/CAM :
Computer Aided Design / Computer Aided Manufacturing.
Capsule Collection :
Sebuah rangkaian kecil dari desain dengan tujuan khusus.
Chain Stores :
Kumpulan toko-toko, biasanya berlokasi di tempat strategis, yang dioperasikan untuk menjual barang-barang di bawah satu logo dengan produk yang berbeda dan cukup dikenal.
Classic :
Sebuah istilah untuk style/gaya yang tetap popular secara konstan dan hanya mengalami sedikit perubahan dalam detail, sebagai contoh, baju pria dan jins.
Collection :
Istilah yang dipakai untuk rangkaian fashion dengan kualitas yang baik dengan tampilan yang berhubungan dengan musim tertentu. “The Collection” merupakan sebuah istilah popular yang menjelaskan akan adanya fashion show di Paris.
Colourway :
Nama yang digunakan untuk koleksi terbatas dari warna yang ditawarkan dalam sebuah gaya atau koleksi dan juga pilihan warna yang tersedia dalam tekstil yang dicetak.
Concession :
Penyewaan sebuah tempat dalam Department Store untuk menjual berbagai produk dari sebuah perusahaan.
Conglomerate :
Organisasi induk keuangan yang memiliki berbagai jenis perusahaan yang tidak selalu saling berhubungan dalam hal produk ataupun target pasar.
Consumer :
Pemakai atau pembeli akhir dari sebuah produk.
Counter Culture:
Budaya tandingan.
Conversational :
Bahan yang dicetak dengan motif cetakan yang tidak biasa seperti baju Hawaii, hewan dll.
Converter :
Sebuah industri yang membuat serat mentah menjadi sebuah bahan pakaian dan merubah bahan polos menjadi bahan yang tercetak.
Coordinates :
Bahan atau benda-benda pakaian yang berhubungan dengan warna atau gaya yang dimaksudkan untuk dipakai bersamaan.
Costing sheets :
Daftar terperinci mengenai waktu serta biaya dari material serta proses yang digunakan untuk membuat sebuah bahan pakaian.
Couturier :
Istilah kata Perancis untuk perancang adibusana.
Cracked Effect:
Bahan dikerut secara manual, kemudian diproses cuci sehingga menimbulakan efek retak pada bahan.
Critique/Crit :
Diskusi serta evaluasi dari sebuah kerja, biasanya diadakan sebagai Session group di akhir sebuah pengerjaan sebuah proyek.
Croquis :
Sebuah garis yang dibuat seorang perancang busana untuk menggambarkan sebuah bahan atau desain yang dilukis untuk bahan yang dicetak.
D
Deconstruction :
Sebuah gaya desain yang berasal dari perancang busana Belgia, yang mana sebuah bahan pakaian dibiarkan terlihat kasar dan terkesan belum jadi atau memperlihatkan konstruksi detail.
Degree show :
Pameran karya yang memperlihatkan atau menampilkan, untuk menentukan klasifikasi tingkatan siswa.
Demi Couture :
Fashion tingkat tinggi, terkadang merupakan rangkaian koleksi yang lebih beragam dari seorang perancang adibusana.
Demographics :
Sebuah istilah pemasaran untuk menentukan distribusi berdasarkan segmentasi pasar, umur, gender, pemasukan, gaya hidup serta tempat tinggal.
Design development :
Rancangan-rancangan yang dikembangkan melalui berbagai elemen yang menarik melalui sebuah tema desain.
Destroy Effect:
Proses pengrusakan dengan menggunakan amplas atau gurinda, sehingga menghasilkan efek tiras.
Discharged Effect :
Prooses cabut warna melalui pewarna kimia yang dicetak (print) pada permukaan bahan sehingga menimbulkan warna muda (dari warna bahan itu sendiri).
Diffusion range :
Sebuah rangkaian pakaian yang merupakan produk kelas dua atau yang harganya lebih murah dan disederhanakan dari sebuah koleksi perancang busana.
Distance learning :
Tugas-tugas serta kerja praktik yang dilakukan di luar kampus, biasanya melalui medium sebuah komputer.
Docket :
Lembaran kerja untuk membuat pakaian yang ditujukankepada industri.
Double stone wash:
Proses pencucian dengan menggunakan batu apung dan memerlukan waktu lebih lama dari Stone wash.
Draping :
Sebuah metode untuk membuat sebuah gaya fashion atau pola dengan memanfaatkan lekuk tubuh atau bentuk busana.
E Epos :
Electronic Point of Sale merupakan istilah yang digunakan ketika sebuah meja laci terhubung dengan jaringan komputer, biasanya dilengkapi dengan scanner barcode.
Enzim Wash:
Proses pencucian pada bahan denim dengan menggunakan kimia Enzim untuk memberikan efek warna pudar lebih rata daripada menggunakan batu apung.
E-zines :
Format majalah internet dan pertukaran berita.
F
Fabrication:
Detail manifaktur dan bagian isi dari sebuah material yang digunakan untuk fashion.
Fad :
Sebuah fashion yang muncul hanya sebentar.
Fashion cycle :
Kalender waktu ketika perusahaan akan merencanakan, mendesain membuat serta memasarkan rangkaian koleksinya.
Final collection :
Rangkaian koleksi pada masa akhir kuliah sebelum kelulusan.
Findings :
Sebuat istilah untuk perhiasan atau barang yang termasuk dalam sebuah style.
Flats :
Gambar-gambar diagram.
Focus group :
Sebuah grup marketing yang memiliki opini untuk mendapatkan feedback terhadap sebuah produk atau sektor marketing.
Franchise :
Sistem lisensi yang mempersilahkan seorang individu untuk menjual barang-barang tertentu.
Fusible fabrics :
Bahan yang sensitif terhadap panas dan direkatkan kepada bahan lainnya untuk memperkuat bahan tersebut.
G
Garment Wash:
Prose pencucian yang meliputi pembuangan kanji (pengeras bahan).
Geometrics :
Bahan pakaian yang dicetak dengan garis, kotak-kotak atau desain non-organik yang sama.
Grading :
Proses matematika untuk membuat ukuran pada pola garmen menjadi rangkaian beberapa ukuran.
Greige Goods :
Bahan dasar pakaian yang belum mengalami proses pewarnaan.
Grunge :
Sebuah gaya anti-fashion dengan memadukan pakaian agar terlihat seperti orang kebanyakan, tidak pas dan tidak sesuai.
H
Hand/handle :
Rasa akan sebuah tekstur pada bahan pakaian.
Handwriting/signature :
Rancangan gaya pribadi yang personal atau cara menulis atau menggambar.
Haute couture :
Istilah Perancis untuk pembuatan pakaian yang berkualitas. Sebuah perusahaan atau perancang busana tidak dapat menyebutkan diri mereka Haute couture kecuali mereka telah lulus dari kriteria yang ditetapkan oleh Chambre Syndical of the Federation Francaise de la Couture.
I
Industrial placement :
Sebagai pengalaman kerja sementara secara intern.
Interlining :
Sebuah bahan pakaian yang ditempatkan diantara bahan garmen serta garis sebagai material tambahan.
J JIT :
Just in time, sebuah cara memproduksi secara cepat dalam mengantisipasi keinginan konsumer.
Jobber :
Seorang individu atau perusahaan yang membeli bahan pakaian dari tempat pabrik pemintalan untuk dijual kembali kepada perusahaan yang tidak membutuhkan kuantitas pakaian yang besar atau tidak mampu membayar harga minimum pembelian.
L
Lab-dips :
Tes warna yang dilakukan pada sample bahan pakaian Label :
Sebuah keterangan yang mengindentifikasikan perancang, produsen serta asal, bahan serta perawatan pencucian produk. Biasanya disertakan bersamaan dengan logo.
Lay-out pad :
Sebuah buku sketsa dengan lembaran kertas dengan permukaan yang transparan dan tipis yang dapat di tracing (dijiplak).
Lay plan :
Juga dikenal dengan istilah marker, ini merupakan pedoman untuk memotong pola dari suatu bahan dan meminimalisir potongan yang tersisa.
Licensing :
Pengesahan dengan kontrak untuk menggunakan nama, logo atau tipe produk untuk digunakan oleh perusahaan lain dengan pembayaran royalty sebagai gantinya.
Light fast/colour fast :
Tingkatan permanen dari pencelupan warna pada pencucian.
Line :
Sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan style yang berhubungan dengan tema dan detail. Di Amerika sama halnya dengan Eropa menggunakan istilah Collection.
Line-for-line copy :
Sebuah salinan yang sangat mirip yang biasanya berdasarkan lisensi akan tetapi lebih sering ilegal.
Line-up :
Sebuah tampilan versi awal dari pakaian jadi yang dikenakan model untuk menentukan keseimbangan, jangkauan dan urutan dalam suatu koleksi.
Logo :
Sebuah nama merek atau simbol untuk mengidentifikasikan sebuah produk atau disainer.
Losss leader :
Sebuah koleksi yang dijual lebih murah dibanding harga biasanya yang bertujuan untuk menarik pembeli terhadap koleksi yang lainnya.
M
Mark-up :
Menaikkan harga berdasarkan, harga produksi dan harga jual termasuk pajak.
Mode:
Suatu cara terbaru dalam gaya pakaian dan berkembang secara terus menerus.
Mood Board :
Sebuah lembaran presentasi yang menggambarkan konsep serta arah secara keseluruhan dari sebuah koleksi desain.
Multifibre arrangement :
Sebuah persetujuan internasional diantara Negara pengimpor dan pengekspor untuk mencegah kegagalan impor dan peraturan perdagangan.
O
Off-price :
Barang-barang yang bisa ditawar dan dijual dengan harga lebih murah dibanding harga aslinya.
Off-schedule :
Sebuah fashion show yang tidak ada dalam daftar resmi organisasi.
Off-shore production : Produksi di luar negeri.
Outworker :
Seorang individu yang membuat pakaian untuk sebuah pabrik atau desainer dari rumah mode.
Over dying/cross dyeing :
Bahan membutuhkan lebih dari satu aplikasi pencelupan untuk mendapatkan warna yang berbeda dan memberikan warna lebih gelap terhadap material.
P
Pallette :
Sebuah rangkaian warna yang dipakaian dalan satu koleksi.
Pattern drafting, patter cutting, patter making :
Sebuah gambar yang dibuat dari pola yang datar dengan ukuran-ukuran atau melalui penggunaan blok panduan.
Piece work :
Metode membuat sebuah busana dengan memberikan kepada operator mesin yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda-beda.
Portfolio :
Sebuah tempat penyimpan yang dapat dibawa untuk Artwork dan contoh potongan yang dapat memberikan penjelasan kepada klien potensial. Sebuah contoh karya yang menjelaskan kemampuan seorang desainer.
Premiere Vision :
Juga dikenal dengan PV. Istilah Perancis untuk ‘Penampilan pertama’ dan merupakan nama acara perdagangan bahan pakaian yang besar dan diadakan 2 kali setahun di Paris.
Pret-a-porter :
Istilah Perancis untuk Ready to wear, sebuah istilah yang digunakan untuk kualitas yang lebih baik dan merupakan nama sebuah pameran fashion yang besar.
Price point :
Rangkaian yang berbeda dari harga menjelaskan kualitas dan level pasar, budget, desainer serta kemewahan.
Private label :
Perusahaan terkadang menggunakan sisa kapasitas produksi mereka untuk membuat busana untuk toko-toko dan perusahaan lainnya yang akan menaruh label mereka sendiri pada busana tersebut.
Proportion :
Hubungan serta keseimbangan dari satu aspek dari sebuah desain dengan yang lainnya, sebuah prinsip dari desain fashion.
Q Quota :
Perdagangan internasional untuk bahan pakaian yang dibatasi oleh pemerintah dengan sistem quota untuk mencegah pasar mereka dibanjiri dengan barang murah.
Quality Control:
Pemeriksaan kualitas dan pembersihan produk garmen.
R
Ready-to-wear :
Pakaian siap pakai, dikenal dengan istilah bahasa Perancis Prêt-a-porter Retail :
Penjualan barang-barang dari suatu usaha bisnis kepada konsumen individual.
S
Sample :
Sebuah busana contoh yang dibuat dari Calico (blacu) atau bahan yang lebih murah.
Sample cut :
Sebuah potongan bahan pakaian yang digunakan untuk membuat contoh busana.
Sealing sample :
Busana atau pakaian yang berfungsi sebagai standar yang disetujui oleh orang-orang yang akan membuatnya.
Seam Effect:
Teknik lukis untuk memberikan efek warna putih pada bahan, kemudian proses netral untuk menjadikan warna kimia kalium menjadi putih.
Short run :
Sebuah order produksi pakaian dalam jumlah sedikit.
Silhoutte :
Bentuk keseluruhan dari sebuah busana atau koleksi yang dirubah menjadi geometri dasar atau deskripsi numerik. Seperti : boxy, A-line, figure-8
Sourcing :
Usaha pencarian materi, potongan dan produksi dengan harga pengiriman serta waktu terbaik.
Specification sheet :
Juga dikenal dengan Spect. Sebuah gambar desain teknik yang di dalamnya termasuk pengukuran serta detil produksi seperti jahitan dan potongan.
Stories :
Tema desain yang terdiri dari bahan dan warna yang digunakan dalam satu koleksi.
Storyboard :
Biasa dikenal dengan sebuah Theme board. Sebuah presentasi dari suatu konsep untuk sebuah koleksi dengan perincian gaya dan detil-detil.
Stylist :
Sebuah ahli fashion yang mempersiapkan item pakaian untuk difoto atau presentasi.
Swaches:
Contoh bahan dalam bentuk potongan-potongan kecil.
T Toile :
Istilah Perancis untuk sebuah katun yang ringan.
Trademark :
Sebuah logo atau merek yang telah diproteksi atau didaftarkan.
Trend:
Suatu gejala yang sedang populer dan bersifat sementara.
Trimming :
Sebuah istilah yang digunakan untuk detil dekorasi terhadap sebuah busana dan untuk proses finalisasi.
U
Universal:
Sesuatu yang bersifat umum UPC :
Universal Product Codes, kode standar Tag harga yang mampu menyimpan data untuk dibaca secara elektronik di tempat penjualan.
V Vendor :
Suplier atau individu yang menjual barang atau jasa.
Virtual catwalk :
Visualisasi yang dibantu oleh komputer dari sebuah fashion show menggunakan figure digital dan pakaian.
Visual diary :
Sebuah buku sketsa yang dikerjakan selama dalam satu periode pengerjaan projek untuk memperlihatkan perkembangan ide-ide.
W
Whisker Effect:
Efek garis yang menyerupai kumis kucing, biasanya dihasilkan dari teknik Laser blasting.
Wholesale :
Penjualan barang-barang dari bisnis ke bisnis, biasanya dalam jumlah yang besar dan ketentuannya termasuk diskon dan kredit.
Y Yoke :
Sebuah potongan bahan yang digunakan untuk mendukung sebuah panjang secara keseluruhan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan waktu berarti perubahan sikap serta gaya hidup masa kini menjadi serba cepat. Setiap individu menginginkan kemudahan, artinya pakaian yang menjadi pilihan ialah yang mudah dikenakan, mudah dirawat (tahan lama) serta berkualitas prima (yang tercermin dari pemilihan jenis bahan dan teknik jahit). Gaya hidup saat ini memerlukan pakaian yang sifatnya fungsional dan praktis tanpa mengurangi segi kenyamanan, kebebasan bergerak, pas di tubuh serta bentuknya tidak berubah (ukuran disesuaikan dengan tubuh).
Di Indonesia, sejarah pakaian mengungkapkan adanya pengaruh Eropa yang jelas. Pertama-tama perlu dikemukakan diterimanya pakaian Barat oleh kaum lelaki dikota-kota dan akhirnya mempengaruhi cara berpakaian pada masyarakat di pedesaan pula, artinya dalam kehidupan sehari-hari bercelana panjang dan kemeja serta pada upacara berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Pada jaman pra-Eropa, penggunaan celana panjang yang merata di Jawa dan di pulau-pulau lain adalah gejala yang sangat baru.1
Dalam tahoen 1902 masih beloem galib bagi orang Boemipoetera memakai tjara orang Eropa, baik seloeroehnja, baikpoen setengah-setengahnja. Sedangkan Regent-Regent masih memakai setjara orang Boemipoetera sedjati, jaitoe berkain, berdjas goenting Djawa, dan berdestar. Maka tidaklah ia memakai sepatoe, melainkan memakai selop.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa banyak lelaki di kalangan rakyat jelata, khususnya di daerah pedesaan masih mengenakan celana pendek dan sarung. Lelaki perkotaan pun cenderung mengenakan sarung begitu mereka berada dirumah, agar santai setelah mandi sore, tetapi ia segera melepaskannya dan mengenakan pantalon kembali bila ada tamu, karena mengenakan sarung dianggap kurang sopan.2
1 Lombard, Denys. Buku Nusa Jawa: Silang Budaya, Kajian Sejarah Berpadu.
Bagian I: Batas-batas Pembaratan. Busana, Tingkah Laku,Bahasa. hal: 156.Gramedia.
2 Ibid., hal:156-157.
Pada pakaian wanita proporsinya terbalik pada saat itu, dimana sebagian besar wanita Sunda dan Jawa tetap setia berpakaian tradisional kecuali sekelompok kecil minoritas di daerah perkotaan yang telah menerima rok (dari bahasa Belanda rok), gaun dan blus (dari bahasa Inggris gown dan blouse). Menurut Van Dijk sejak 1914 di Jawa berkembang cara berpakaian ala Barat berupa celana panjang dan topi, menggantikan sarung dan blangkon. Para murid STOVIA, menjadi pioner tren baru ini. Mereka yang mendalami pendidikan di sekolah guru, kemudian diikuti oleh golongan priyayi tingkat rendahan, dan juru ketik.3
Di kota-kota kecil dan pedesaan Jawa, hingga saat ini kita masih dapat menyaksikan kaum laki-laki yang hendak bepergian masih mengenakan kain sarung, tetapi pada bagian atas memakai kemeja ditambah dengan jas serta sabuk lebar melingkar di pinggang. Sarung adalah sebuah kain tenunan, yang dipakai melingkari pinggang dan kain tersebut biasanya berwarna cerah serta di cetak dengan pola-pola geometrik. Kaum wanita memadukan kain sarung bersama baju kurung atau baju kebaya dan mengenakan kain sarung dengan cara diikat atau dililit dipinggang.
Pergeseran nilai dan fungsi berpakaian akibat masuknya budaya Barat yang semakin pesat, menyebabkan budaya berpakaian secara cepat dan mudah dikenakan menjadi pilihan dalam beraktivitas sehari-hari pada masyarakat Indonesia saat ini. Penggunaan kain dan kebaya, hanya digunakan pada acara yang bersifat perayaan. Bagi orang muda era tahun 1960-an cara berpakaian mengungkapkan sesuatu yang bersifat individual. Seruan ‘anti mode’ adalah salah satu pernyataan yang mengandung suatu protes terhadap berbagai aturan-aturan dari kekuasaan yang konservatif.
3Juliastuti, Nuraini. “Politik Pakaian Muslim. Artikel”, Newsletter Kunci, no.13, Desember 2003.
Berpakaian dan berpenampilan sesuai kehendak sendiri, seperti kaos oblong, celana jins, rok mini, pakaian bekas, penampilan ‘seenaknya’, dan lain sebagainya menjadi mode dalam semangat ‘anti mode’ tersebut.4
Jins masuk ke Indonesia tahun 1966 pada saat jins didunia Barat menjadi simbol revolusi, pada saat itu penggunaan jins pada masyarakat dipulau jawa dipadukan dengan kain sarung. Mereka merasa bangga mengenakan sarung dan berjaket jins ke masjid. Hal ini berlawanan dengan keadaan sekarang yang digemari hanya celana panjangnya. Beberapa tahun kemudian, jins telah menjadi bagian dari perkembangan mode di Indonesia.5
Bahan jins yang sudah digunakan semenjak tahun 1960-an, diperiode tahun 1970-an semakin popular. Pada mulanya jins diperuntukkan laki-laki, namun pada akhirnya dipakai oleh siapa saja. Tidak terbatas pada jenis kelamin, usia atau kedudukan sosial seseorang. Bahan ini sudah tidak dapat lagi ditiadakan dalam gaya berpakain perempuan. Sekitar 1973-1979 berbagai penampilan diungkapkan dengan bahan jins. Walau dengan bahan ini dapat ditampilkan berbagai jenis pakaian namun dalam periode tersebut yang menonjol adalah celana jins ketat.6
Generasi Baby boomers adalah anak-anak muda pasca 1950-an dan 1960-an yang mulai menikmati kemakmuran setelah berakhirnya resesi pasca PD II.
Mereka menciptakan mode sendiri, dimana era ini juga ditandai dengan seks bebas, narkotika dan musik rock and roll. Baby boomers (mereka yang lahir antara 1945-1960) mulai menggunakan jins yang semula sebagai pakaian pada saat santai menjadi pakaian untuk bekerja di kantor. Mereka dari generasi baby boomers ini umumnya menjadi profesional yang menyenangi busana kasual untuk kegiatan sehari-harinya, salah satunya ke kantor.
4 Zaman, Moh. Alim. (2000), 100 tahun Mode di Indonesia 1901-2000. hal: 53.
5 Moran, Nico (pemegang lisensi Levis Indonesia). “Jins Maniak”, Artikel, Tiara, Majalah, no.109, 17 juli 1994. hal: 17.
6 Zaman, Moh. Alim. (2000), 100 tahun Mode di Indonesia 1901-2000. hal: 68.
Jins sebagai bentuk busana siap pakai merupakan bagian pengaruh Barat yang sangat halus dan bersifat kasual serta praktis, pada akhirnya menjadi busana yang sering dikenakan dikehidupan sehari-hari dan diberbagai kesempatan serta dapat dipadukan dengan jenis busana apapun. Pada perkembangan selanjutnya jins menjadi gaya hidup masyarakat diperkotaan.
Jins juga menghapus batas kelas, desain jins hasil karya perancang busana terkenal tentu berbeda dengan jins yang ditawarkan di jalan Cihampelas Bandung tetapi jins dalam satu pemahaman luas telah menjadi milik bersama.
Jins dapat dikenakan di tempat-tempat umum, lingkungan keluarga bahkan dalam situasi setengah resmi. Jins tidak mengenal batasan umur dan gender.
Mulai dari harga yang paling mahal sampai yang paling murah. Hal ini terjadi karena jins adalah jenis tekstil yang sangat ekspresif jika dieksplorasi dan dapat dipadukan dengan berbagai jenis pakaian.
1.2 Rumusan masalah
a. Adanya pergeseran nilai pada jins dari posisinya sebagai pakaian non formal menjadi pakaian formal.
b. Adanya peranan nyata dari jins dalam gaya berbusana masyarakat Kota Bandung.
c. Kota Bandung dan sekitarnya sebagai pusat produksi tekstil dan garmen.
1.3 Pertanyaan Penelitian
a. Sampai sejauh mana terjadi pergeseran nila pada jins dari busana non formal menjadi formal?
b. Apakah jins sebagai produk siap pakai mampu memberikan pengaruh sosial, ekonomi dan budaya dalam berbusana masyarakat kota Bandung.
c. Apakah industri tekstil dan garmen di kota Bandung dan sekitarnya mampu menunjang produksi jins sebagai produk siap pakai ?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian, meliputi:
a. Menganalisis peran jins dalam gaya berbusana masyarakat kota Bandung.
b. Memahami perkembangan teknologi yang mempengaruhi keberagaman penampilan jins.
c. Mengetahui produksi jins dalam skala industri besar dan industri rumah tangga.
1.5 Batasan Penelitian
a. Pembatasan kurun waktu mulai tahun 1990 sampai tahun 2006, khususnya Kota Bandung sebagai salah satu daerah industri tekstil.
b. Menfokuskan penelitian pada produk jins sebagai pakaian siap pakai dengan jenis celana panjang. Celana panjang memiliki aspek yang
menjangkau dua gender (pria dan wanita).
c. Jenis responden umumnya dewasa dan pada khususnya remaja.
1.6 Metode Penelitian
Metodologi penelitian yang penulis pilih adalah penelitian historis. Dimana pada pelaksanaannya, status gejala ada disaat penelitian dilakukan. Proses penelitian meliputi:
a. Dokumentasi arsip dan gambar yang berisi informasi perkembangan jins akibat pengaruh gaya hidup. Penelitian dilanjutkan dengan tanya jawab tentang pengalaman seseorang dalam suatu fenomena budaya yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala gaya hidup yang terjadi di masa lampau serta gejala gaya hidup yang terjadi pada masa sekarang.
b. Studi pustaka untuk mengumpulkan informasi atau konsep yang relevan untuk penelitian dan menghindari duplikasi pelaksanaan penelitian.
c. Pengolahan data melalui data kuantitatif (metode questioner) untuk memberikan penjelasan dalam argumentasi mengenai tesis yang akan penulis ajukan.
1.7 Alur Penelitian
1.8 Kerangka Berpikir
Keterangan :
a. Jeans (Western Culture)
Pada awalnya jins adalah pakaian kerja yang digunakan oleh budak belian di perkebunan dan pertanian Amerika. Kain berbahan dasar katun ini memiliki karakter kuat dan tahan lama. Di saat deman emas melanda Amerika tahun 1850 celana jins digunakan para pekerja tambang. Jins juga merupakan pakaian khas para Cowboy di Amerika.
b. Ready to Wear
Revolusi industri memacu perkembangan teknologi, seperti dikembangkannya mesin Flying shuttle oleh John Kays (1733), mesin pintal Jenny oleh James Hargreave (1764).
Produksi pakaian dimulai saat ditemukannya mesin jahit pada 1829, pakaian laki-laki dan seragam militer adalah barang pertama yang dibuat secara massal oleh mesin jahit. Isaac Singer menciptakan mesin jahit kaki pada 1859, maka mesin jahit memulai peranan pentingnya baik di rumah maupun di pabrik. Terjadinya revolusi industri di Inggris dan Eropa pada umumnya telah mengembangkan prinsip praktek kerja yang berorientasi pada kecepatan dan efisiensi. Hal lainnya yang sangat membantu, dikembangkannya pola
kertas di tahun 1863. Pola kertas tersebut dapat dibeli di dalam beberapa ukuran yang membuat pemotongan pola menjadi lebih mudah.
c. Ipoleksusbud
Jins ditinjau dari ideologi adalah bentuk kebebasan dalam berbusana. politik menentang busana yang sudah mapan (busana mainstream), ekonomi kapitalis (industri tumbuh dari impian kapitalis tentang produksi yang konstan dan berlebihan untuk memasok pasar yang tak pernah berhenti), sosial kelas pekerja dan budaya Amerika (Western culture).
d. High Fashion PARIS
Abad ke-17, pakaian diidentikkan dengan gaya hidup/cara berpakaian.Di kota Paris masih terdapat penggunaan istilah mode de vie, berarti cara hidup. Mode menjadi sesuatu yang hanya dikuasai oleh para ahlinya dan tidak untuk sesuatu yang bebas dikembangkan dan diinterpretasikan oleh masyarakat.
e. Levi Strauss (1829-1902), tiba di San Francisco tahun 1850 pada masa demam emas sedang melanda bagian barat Amerika. Strauss membuat celana kerja yang kuat dan tidak mudah rusak untuk kebutuhan para penggali tambang emas.
f. Berkembangnya industri tekstil mempengaruhi industri desain khususnya busana, cara penjahitan dan teknik Craft sebagai elemen pada busana.
g. Pertengahan abad ke-17, masyarakat terbagi atas 2 kelompok besar, yaitu kaum bangsawan dan pengusaha dengan masyarakat pekerja (buruh/petani).
h. Charles Frederick Worth telah menghapuskan garis-garis “Crinoline” dan menggantikannya dengan siluet “Bustie” ramping.
i. Teknologi mesin jahit, mesin tenun dan mesin serat mempercepat proses pembuatan busana menjadi lebih mudah dengan jenis tekstil yang beragam.
j. Tumbuhnya kelas menengah dengan daya beli yang tinggi untuk mengkomsumsi produk siap pakai khususnya busana.
k. Kategorisasi dan Segmentasi, menjadi lebih jelas untuk pria-wanita dewasa, remaja pria- wanita dan anak-anak.
l. Produk massal, pakaian menjadi produk Industri berskala pabrik dengan kemampuan mesin memproduksi pakaian dalam jumlah besar.
m. Modern Fashion Era, Paul Poiret merubah bentuk korset menjadi potongan yang lebih sederhana dan sempit atau Coco Chanel yang menciptakan mode dari gaya pakaian seragam yang mudah dikenakan dan membuat wanita menjadi lebih mudah bergerak serta mempelopori penggunaan bahan murah seperti rayon.
n. Jins diadopsi oleh industri film sebagai kostum film dan musik.
Tahun 1930-an popularitas jins semakin menanjak. Pada tahun tersebut film-film Cowboy mendominasi perfilman Hollywood, celana jins menjadi pakaian wajib para Cowboy tersebut. Pada tahun 1940-an bahan denim didunia Barat sudah diolah menjadi produk mode dalam bentuk gaun, rok, jaket, dan celana panjang. Sepanjang waktu itu pula jins berbahan denim mengalami metamorfosis, bermula dari pakaian para penggali tambang emas di Amerika Utara kemudian jins menjadi kostum film Marlon Brando dalam film
“The Wild Ones” (1953) dan James Dean dalam film “Rebel Without a Cause” (1955).
Kedua bintang film ini mewakili semangat pencarian anak muda saat itu usai Perang Dunia II untuk mencari tempat di masyarakat yang mengalami perubahan. Bikers
(motorcycle) adalah sebuah gaya yang melahirkan item-item militer menjadi unsur fashion dan gaya hidup gang motor Harley Davidson, berjaket kulit, celana jins, t-shirt dan sepatu boots (dapat dilihat pada film “The Wild One”. Tahun 1957 Elvis Presley memakai jins hitam dalam film “Jailhouse Rock”, sejak itu warna hitam menjadi warna kedua untuk jins. Film “Jailhouse Rock” melahirkan musik Rock and Roll (gaya campuran musik Rhythm & Blues dengan musik country pegunungan Hillbilly) berkembang menjadi Rockabilly.
o. Persepsi tentang fashion berubah semenjak Perang Dunia I (1914-1918) di Eropa.
Peperangan ini menimbulkan suasana baru di Eropa (Barat) yaitu keinginan untuk mengenakan pakaian yang lebih ringan,nyaman dikenakan dan sederhana. Perang Dunia ke II (1940-1945), membuat Eropa mengalami kehancuran fisik, ekonomi dan sosial.
Keadaan perang membuat kelas pekerja baru yang terdiri dari kaum wanita dan remaja, sehingga para remaja memiliki daya beli. Pasca PD II, subkultur muncul sebagai jawaban atas meningkatnya kemakmuran kaum muda. Mereka merupakan bagian dari perubahan lanskap sosial. Pada umumnya kelas pekerja muda memiliki kepercayaan diri untuk mengadopsi gaya yang jauh berbeda dibandingkan pilihan orang tua mereka dan menyimpang dari gaya mainstrem berbusana.
Generasi Baby boomers adalah anak-anak muda pasca 1950-an dan 1960-an yang mulai menikmati kemakmuran setelah berakhirnya resesi pasca PD II. Mereka menciptakan mode sendiri, dimana era ini juga ditandai dengan seks bebas,narkotika dan rock and roll.
Baby boomers (mereka yang lahir antara 1945-1960) mulai menggunakan jins yang semula sebagai pakaian pada saat santai menjadi pakaian untuk bekerja di kantor.
Mereka umumnya menjadi profesional yang menyenangi busana kasual untuk kegiatan sehari-harinya, salah satunya ke kantor.
p. Su-kultur adalah kelompok di dalam masyarakat yang mempunyai suatu perilaku yang sama dalam hal berpakaian, sikap serta nilai-nilai dan biasanya disertai dengan jargon atau slang. Sebuah sub-budaya dapat diorganisasikan berdasarkan kesamaan aktivitas, pekerjaan, umur, status, latar belakang suku, agama atau berbagai kondisi sosial lainnya yang dapat menyatukan diri menjadi suatu kelompok.
Jins yang semula merupakan sub kultur dari kaum pekerja tambang, petani serta cowboy yang merupakan pilar kehidupan Amerika.
q. Industri Fashion turut mengadopsi penggayaan yang ada di Sub-Kultur, jins di eksplorasi menjadi fashionable. Segala sesuatu yang diserap fashion akhirnya akhirnya berkonotasi industri dan bisnis fashion.
r. Gaya hidup adalah cara seseorang/grup menjalani kehidupan. Hal in termasuk pola dari relasi sosial, konsumsi, hiburan serta gaya berpakaian. Di dunia bisnis, gaya hidup menyediakan masukan untuk membidik konsumen yang digunakan para pengiklan serta pemasar yang berusaha keras untuk menyamakan aspirasi konsumen dengan produk- produk.
s. Budaya Popular lahir bersamaan dengan makin banyaknya serbuan hasil industri. Dari kacamata budaya, barang-barang tersebut diistilahkan dengan komoditas yang memiliki nilai jual. Jins, termasuk didalamnya. Diproduksi sebagai produk massal, dengan variasi bentuk, warna dan harga. Menjadi produk popular yang dapat dikenakan berbagai lapisan sosial.
t. Bandung sebagai kota industri dan garmen, mampu mengembangkan jins sebagai produk siap pakai.
1.9 Sistematika Penulisan Bab I :
Bab ini berisi paparan konsepsional melalui latar belakang, tujuan penelitian, batasan penelitian, perumusan masalah, metode penelitian, kerangka berpikir dan sistematika penulisan.
Bab II:
Berisi landasan teori umum dalam berbusana, nilai fungsi dan simbol pada pakaian serta kajian estetika pada unsur visual pakaian. Bab ini juga membahas perkembangan jins dari pakaian siap pakai menjadi pakaian dengan sentuhan kreativitas tinggi.
Bab III:
Membahas Bandung sebagai kota mode, yang dilanjutkan dengan penjelasan masuknya budaya jins dan perkembangannya di kota ini. Uraian meliputi pula, jins dalam konteks gaya berpakaian untuk pria dan wanita pada umumnya dan remaja khususnya.
Bab IV:
Analisis perkembangan jins sebagai produk massal, ditinjau dari industri skala pabrik dan industri skala rumahan serta sentra penjualan jins di kota Bandung.
Bab V:
Merupakan penutup yang berisi kesimpulan secara umum dan secara khusus, berdasarkan dari bab satu sampai bab empat serta diakhiri dengan sejumlah saran dan jawaban dari pertanyaan penelitian.
BAB II
JINS SEBAGAI BAHAN PEMBUAT BUSANA
2.1 Tinjauan Teoritis Busana
2.1.1 Nilai Fungsi dan Simbol Pakaian
Pada awal peradaban manusia dimasa Paleolithic dan Neolithic, bentuk pakaian masih sangat sederhana. Fungsi utama dari pakaian untuk menahan tubuh dari iklim atau cuaca dingin dan panas. Berawal dari penyelidikan dan penelitian pada lukisan dinding gua, para ahli geologi dan arkeologi telah membuat kita sadar akan keberhasilan jaman Es. Dimana iklim sebagian besar Eropa sangat dingin. Di akhir kebudayaan Paleolithicum (yaitu kebudayaan di mana peralatan dan senjata dibuat dari pecahan batu keras yang dibuat tajam), kehidupan berjalan di tepi lapisan es yang besar dan menutupi sebagian dunia.
Keadaan seperti ini, membuat bagian-bagian dari pakaian telah ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan sosial dan psikologi.
• Manusia primitif menggunakan kulit binatang sebagai bahan pakaiannya.
• Kulit yang sudah siap tadi dipotong dan dibentuk (setelah melewati beberapa proses yang cukup lama).
• Penemuan jarum bermata, yang terbuat dari gading Mammoth, tulang rusa kutub dan taring anjing laut ditemukan pada gua Paleotithicum.
• Penemuan ini memungkinkan untuk menjahit potongan-potongan kulit sesuai dengan bentuk tubuh, yang semula pakaian hanya berbentuk kain yang melilit tubuh dari sepotong bahan yang berbentuk segi empat. Segala bentuk perlengkapan dan sarana masih sangat sederhana sekali (primitif) dan keindahan yang diperlihatkan masih sangat minim.
Saat itu manusia berpakaian dengan alasan yang sangat sederhana, misalnya untuk melindungi tubuh dari keadaan cuaca atau menolak pengaruh sihir.
Secara definitif pakaian dapat diartikan sebagai suatu barang yang dikenakan pada tubuh manusia dengan tujuan untuk menutup aurat atau melindungi tubuhnya secara fisik, etik dan estetik maupun untuk tujuan simbolik sesuai dengan lingkungan alam dan nilai-nilai sosial budayanya. Pada perkembangan selanjutnya manusia senantiasa mengembangkan tata cara berpakaian, dengan tujuan memperindah serta mencoba menampilkan dirinya secara lebih baik.
Secara implisif, fungsi pakaian bagi manusia semakin berkembang dan kompleks mengikuti meningkatnya peradaban manusia.
Pakaian didefinisikan sebagai benda yang menutupi mulai dari torso sampai lengan begitu juga dengan menutupi tangan (sarung tangan), kaki (kaus kaki, sepatu, sandal dan boot) serta kepala (topi). Manusia pada umumnya mengenakan pakaian yang juga dikenal dengan Dress (baju), Garment (bahan pakaian), Attire atau Apparel (pakaian). Pakaian selain untuk fungsional juga untuk alasan sosial serta melindungi badan manusia dari cuaca yang buruk dan berbagai cuaca lainnya dari lingkungan kita. Beberapa artikel dari pakaian juga membicarakan arti budaya dan sosial. Manusia juga mendekorasi tubuh mereka dengan make up dan kosmetik, wewangian dan berbagai ornamen lainnya. Mereka juga memotong dan mengatur rambut dari kepala mereka, wajah dan tubuh bahkan terkadang memberi tanda pada kulit mereka (tato, pengorbanan dan tindik). Semua dekorasi ini memberikan kontribusi bagi efek keseluruhan serta pesan dari pakaian.
Pakaian adalah bentuk khusus dari perhiasan tubuh. Para penjelajah dan petualang adalah orang yang pertama kali mendokumentasikan serta memberikan pendapat tentang perhiasan tubuh dari gaya pakaian yang mereka temui di seluruh dunia. Beberapa dari penjelajah atau petualang tersebut sekembali dari berpergian, membawa gambar dan contoh pakaian, dengan tujuan tidak hanya untuk dikoleksi tetapi juga untuk dipahami. Pengkajian tentang pakaian berkembang menjadi bagian antropologi yang merupakan studi ilmiah tentang manusia.
Ahli teori tentang budaya dan penganalisa pakaian menitik beratkan perhatiannya pada fungsi pakaian yang meliputi:
• Kegunaan (Utility)
Pakaian telah berkembang sehingga dapat memenuhi berbagai tujuan praktis maupun protektif. Lingkungan kita sangat berbahaya, dan tubuh kita harus selalu memiliki suhu rata-rata, sehingga sirkulasi darah tetap lancar dan merasa nyaman. Pekerja harus selalu merasa sejuk, nelayan harus tetap kering, pemadam kebakaran harus terlindung dari api, dan pekerja tambang harus terlindung dari gas. Para pembaharu di bidang pakaian biasanya menempatkan kegunaan ini dibandingkan dengan pertimbangan estetika lainnya. Pada 1850-an seorang penerbit dan pionir pembela hak pilih perempuan di Amerika, Amelia Jenks Bloomer, menitikberatkan pada masalah ketidakpraktisan krinolin (Crinoline) dan mendukung pemakaian celana panjang untuk perempuan, yang disebut “Pantalettes” atau “Bloomers”. Pentingnya prinsip kegunaan ini tidak boleh dianggap mudah, konsumen seringkali memilih pakaian berdasarkan kenyamanan, daya tahan, atau mudah tidaknya perawatan. Contoh pakaian Fitness dan pakaian olah raga yang merupakan pakaian dengan prinsip kegunaan telah mendominasi pasar dan dianggap Fashionable, karena merupakan indikator tubuh yang sehat dan berjiwa muda.
• Kesopanan (Modesty)
Manusia membutuhkan pakaian untuk menutupi ketelanjangan.
Masyarakat menuntut kepantasan dan seringkali mereka mengajukan hukum yang tegas dalam hal pakaian, untuk membatasi hal yang berlebihan. Sebagian besar orang merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan ketidaksempurnaan, terutama ketika semakin bertambah tua; pakaian menutupi dan menyamarkan ketidaksempurnaan fisik baik yang nyata maupun yang ada dalam imajinasi kita saja. Kesopanan ini ditentukan secara sosial dan beragam pada setiap individu dan masyarakat.
• Ketidak sopanan (Immodesty), yaitu menampilkan daya tarik seksual.
Pakaian dapat digunakan untuk menunjukkan daya tarik seksual dan status hubungan si pemakai. Peran tradisional perempuan sebagai objek seksual telah memberikan kontribusi cukup besar pada erosi pakaian perempuan. Pakaian malam dan Lingerie dibuat dengan kain yang menstimulasi tekstur kulit. Aksesoris dan kosmetik juga digunakan untuk meningkatkan daya tarik.
• Perhiasan atau Dandanan.
Perhiasan dapat memperkaya daya tarik fisik, menunjukkan kreativitas dan individualitas, menandakan keanggotaan atau status dalam suatu kelompok atau budaya. Prinsip ini dapat bertentangan dengan kenyamanan, mobilitas dan kesehatan., contohnya mengikat kaki, memakai korset, menindik atau mentato. Perhiasan ini dapat bersifat permanen atau sementara, juga dapat bersifat menambahkan sesuatu atau mengurangi sesuatu dari tubuh. Kosmetika, cat tubuh, perhiasan, gaya rambut, mencukur, perawatan kuku, Wig (penambahan rambut), sepatu hak tinggi serta operasi plastik, merupakan contoh dari perhiasan atau dandanan tubuh. Pada umumnya orang-orang dan khususnya perempuan muda berupaya untuk menyesuaikan diri dengan kecantikan ideal. Pembentukan tubuh melalui kain, Padding dan kain pengikat telah digunakan sebagai fashion selama berabad-abad.
Dalam bukunya, Perilaku Konsumen Terhadap Pakaian (1979). George Sproles menambahkan empat fungsi lagi yaitu : simbol diferensiasi, Afiliasi sosial, meningkatkan harga diri secara psikologis, dan modernisasi.7
• Simbol Diferensiasi
Manusia menggunakan pakaian untuk mendeferensiasikan dan mengenali profesi, agama, status sosial atau gaya hidup. Pakaian okupasional (berkaitan dengan pekerjaan) adalah bentuk ekspresi dari otoritas dan dapat membantu pemakainya agar dikenali. Gaya berpakaian biarawati yang sederhana melanjutkan keyakinannya.
7 Jones, Sue Jenkyn. (2002), Fashion. hal: 17-21.
Di beberapa negara, pengacara dan barristers menutup pakaian hariannya dengan jubah sutra dan memakai wig untuk menunjukkan kesetiaan pada hukum. Para pengguna merek perancang busana dan barang-barang mahal serta perhiasan melakukannya untuk membuat diri mereka berbeda secara sosial, namun hal ini tidak akan terus berlangsung apabila mereka kehilangan potensi sebagai simbol sosial.
• Afiliasi Sosial
Manusia akan berpakaian sama untuk menunjukkan bahwa mereka ada di kelompok yang sama. Mereka yang tidak sesuai dengan gaya yang dipersyaratkan akan dianggap memiliki gagasan berbeda, dan diasingkan dari kelompok. Sebaliknya, korban mode (Fashion victim) yang mencoba untuk selalu sesuai dengan lingkungan tapi tidak memperhatikan kepantasan, akan dianggap memaksakan diri untuk dapat diterima, kurang berkepribadian dan berselera. Beberapa kasus dalam cara berpakaian merupakan pernyataan diri atas pemberontakan pada lingkungan atau pada mode. Punk tidak memiliki seragam, mereka dapat dikenali dari serangkaian ciri seperti; baju sobek-sobek, barang-barang, pin, gaya rambut aneh dan sebagainya. Kode berpakaian (Dress code) ini dikembangkan oleh perancang busana Inggris, Viviene Westwood. Punk sebagai gaya anarkis yang bertentangan dengan gaya konvensional yang berkarakter rapi pada pertengahan 1970-an.
• Meningkatkan Harga Diri Secara Psikologis
Walaupun ada tekanan sosial agar bergabung dengan suatu kelompok tertentu, dan begitu banyak pakaian dan kain yang sama dijual di toko, tetapi jarang sekali terjadi, dua orang yang berdandan sama persis.
Banyak anak muda berbelanja bersama teman agar dapat saling membantu dan memberikan saran, tapi mereka tidak membeli pakaian yang sama. Apapun situasinya, seorang individu akan berusaha untuk menunjukkan identitas pribadinya melalui penggunaan make-up dan assesories.
• Modernisme
Di bagian dunia manapun pakaian yang modis banyak ditemukan, pakaian dapat digunakan untuk mengekspresikan modernitas. Pada suatu lingkungan yang akan media, terutama di kota besar. Menjadi
“terlihat” dengan gaya baru dan selalu “waspada” terhadap setiap hal terbaru akan memberi nilai tambah dalam memasuki dunia kerja yang kompetitif. Pakaian yang tepat dapat memberi kita atas ke tempat yang diinginkan untuk bersama dengan orang-orang yang diharapkan.
Penerimaan kita pada modernisme, baik sebagai perancang atau konsumen, akan menjadi indikator kreativitas, penyesuaian diri dan kesopanan mengadapi masa depan.
’All fashion is clothing,although clearly not all clothing is fashion...
we need fashion, rather than clothes, not to clothe our nakedness but to clothe our self-esteem.’ Colin McDowell (1995).
Abad ke-17, pakaian masih diidentikkan dengan gaya hidup atau cara berpakaian.Di kota Paris masih terdapat penggunaan istilah mode de vie yang berarti cara hidup. Fashion menetapkan peraturan cara bersikap yang sopan, apa yang dapat di pakai serta apa yang dapat di katakan. Pangeran Louis XIV, Beau Brumelli dan Baudelaire, mereka memiliki peranan dalam fashion.
Mereka dapat memakai pakaian sesuai keinginannya. Mode menjadi sesuatu yang hanya dikuasai oleh para ahlinya dan tidak untuk sesuatu yang bebas dikembangkan dan diinterpretasikan oleh masyarakat.8
Di berbagai kehidupan sosial, masyarakat dari kelas atas mendapatkan item pakaian atau dekorasi yang spesial untuk mereka sebagai simbol status sosial.
Pada masa lalu, hanya senator Roma yang dapat mengenakan bahan pakaian yang dicelup dengan Tyrian Purple, hanya kelas atas dari Hawaian chief yang dapat mengenakan jubah bulu dan gigi paus yang diukir. Di Cina sebelum berdirinya republik, hanya kaisar yang dapat mengenakan warna kuning.
Berbagai hal dari sejarah, terdapat sistem dari hukum yang mengatur siapa
8Baudot, Francois. (1999), Fashion The Twentieth Century. hal: 8.