• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.7 Alur Penelitian

1.8 Kerangka Berpikir

Keterangan :

a. Jeans (Western Culture)

Pada awalnya jins adalah pakaian kerja yang digunakan oleh budak belian di perkebunan dan pertanian Amerika. Kain berbahan dasar katun ini memiliki karakter kuat dan tahan lama. Di saat deman emas melanda Amerika tahun 1850 celana jins digunakan para pekerja tambang. Jins juga merupakan pakaian khas para Cowboy di Amerika.

b. Ready to Wear

Revolusi industri memacu perkembangan teknologi, seperti dikembangkannya mesin Flying shuttle oleh John Kays (1733), mesin pintal Jenny oleh James Hargreave (1764).

Produksi pakaian dimulai saat ditemukannya mesin jahit pada 1829, pakaian laki-laki dan seragam militer adalah barang pertama yang dibuat secara massal oleh mesin jahit. Isaac Singer menciptakan mesin jahit kaki pada 1859, maka mesin jahit memulai peranan pentingnya baik di rumah maupun di pabrik. Terjadinya revolusi industri di Inggris dan Eropa pada umumnya telah mengembangkan prinsip praktek kerja yang berorientasi pada kecepatan dan efisiensi. Hal lainnya yang sangat membantu, dikembangkannya pola

kertas di tahun 1863. Pola kertas tersebut dapat dibeli di dalam beberapa ukuran yang membuat pemotongan pola menjadi lebih mudah.

c. Ipoleksusbud

Jins ditinjau dari ideologi adalah bentuk kebebasan dalam berbusana. politik menentang busana yang sudah mapan (busana mainstream), ekonomi kapitalis (industri tumbuh dari impian kapitalis tentang produksi yang konstan dan berlebihan untuk memasok pasar yang tak pernah berhenti), sosial kelas pekerja dan budaya Amerika (Western culture).

d. High Fashion PARIS

Abad ke-17, pakaian diidentikkan dengan gaya hidup/cara berpakaian.Di kota Paris masih terdapat penggunaan istilah mode de vie, berarti cara hidup. Mode menjadi sesuatu yang hanya dikuasai oleh para ahlinya dan tidak untuk sesuatu yang bebas dikembangkan dan diinterpretasikan oleh masyarakat.

e. Levi Strauss (1829-1902), tiba di San Francisco tahun 1850 pada masa demam emas sedang melanda bagian barat Amerika. Strauss membuat celana kerja yang kuat dan tidak mudah rusak untuk kebutuhan para penggali tambang emas.

f. Berkembangnya industri tekstil mempengaruhi industri desain khususnya busana, cara penjahitan dan teknik Craft sebagai elemen pada busana.

g. Pertengahan abad ke-17, masyarakat terbagi atas 2 kelompok besar, yaitu kaum bangsawan dan pengusaha dengan masyarakat pekerja (buruh/petani).

h. Charles Frederick Worth telah menghapuskan garis-garis “Crinoline” dan menggantikannya dengan siluet “Bustie” ramping.

i. Teknologi mesin jahit, mesin tenun dan mesin serat mempercepat proses pembuatan busana menjadi lebih mudah dengan jenis tekstil yang beragam.

j. Tumbuhnya kelas menengah dengan daya beli yang tinggi untuk mengkomsumsi produk siap pakai khususnya busana.

k. Kategorisasi dan Segmentasi, menjadi lebih jelas untuk wanita dewasa, remaja pria-wanita dan anak-anak.

l. Produk massal, pakaian menjadi produk Industri berskala pabrik dengan kemampuan mesin memproduksi pakaian dalam jumlah besar.

m. Modern Fashion Era, Paul Poiret merubah bentuk korset menjadi potongan yang lebih sederhana dan sempit atau Coco Chanel yang menciptakan mode dari gaya pakaian seragam yang mudah dikenakan dan membuat wanita menjadi lebih mudah bergerak serta mempelopori penggunaan bahan murah seperti rayon.

n. Jins diadopsi oleh industri film sebagai kostum film dan musik.

Tahun 1930-an popularitas jins semakin menanjak. Pada tahun tersebut film-film Cowboy mendominasi perfilman Hollywood, celana jins menjadi pakaian wajib para Cowboy tersebut. Pada tahun 1940-an bahan denim didunia Barat sudah diolah menjadi produk mode dalam bentuk gaun, rok, jaket, dan celana panjang. Sepanjang waktu itu pula jins berbahan denim mengalami metamorfosis, bermula dari pakaian para penggali tambang emas di Amerika Utara kemudian jins menjadi kostum film Marlon Brando dalam film

“The Wild Ones” (1953) dan James Dean dalam film “Rebel Without a Cause” (1955).

Kedua bintang film ini mewakili semangat pencarian anak muda saat itu usai Perang Dunia II untuk mencari tempat di masyarakat yang mengalami perubahan. Bikers

(motorcycle) adalah sebuah gaya yang melahirkan item-item militer menjadi unsur fashion dan gaya hidup gang motor Harley Davidson, berjaket kulit, celana jins, t-shirt dan sepatu boots (dapat dilihat pada film “The Wild One”. Tahun 1957 Elvis Presley memakai jins hitam dalam film “Jailhouse Rock”, sejak itu warna hitam menjadi warna kedua untuk jins. Film “Jailhouse Rock” melahirkan musik Rock and Roll (gaya campuran musik Rhythm & Blues dengan musik country pegunungan Hillbilly) berkembang menjadi Rockabilly.

o. Persepsi tentang fashion berubah semenjak Perang Dunia I (1914-1918) di Eropa.

Peperangan ini menimbulkan suasana baru di Eropa (Barat) yaitu keinginan untuk mengenakan pakaian yang lebih ringan,nyaman dikenakan dan sederhana. Perang Dunia ke II (1940-1945), membuat Eropa mengalami kehancuran fisik, ekonomi dan sosial.

Keadaan perang membuat kelas pekerja baru yang terdiri dari kaum wanita dan remaja, sehingga para remaja memiliki daya beli. Pasca PD II, subkultur muncul sebagai jawaban atas meningkatnya kemakmuran kaum muda. Mereka merupakan bagian dari perubahan lanskap sosial. Pada umumnya kelas pekerja muda memiliki kepercayaan diri untuk mengadopsi gaya yang jauh berbeda dibandingkan pilihan orang tua mereka dan menyimpang dari gaya mainstrem berbusana.

Generasi Baby boomers adalah anak-anak muda pasca 1950-an dan 1960-an yang mulai menikmati kemakmuran setelah berakhirnya resesi pasca PD II. Mereka menciptakan mode sendiri, dimana era ini juga ditandai dengan seks bebas,narkotika dan rock and roll.

Baby boomers (mereka yang lahir antara 1945-1960) mulai menggunakan jins yang semula sebagai pakaian pada saat santai menjadi pakaian untuk bekerja di kantor.

Mereka umumnya menjadi profesional yang menyenangi busana kasual untuk kegiatan sehari-harinya, salah satunya ke kantor.

p. Su-kultur adalah kelompok di dalam masyarakat yang mempunyai suatu perilaku yang sama dalam hal berpakaian, sikap serta nilai-nilai dan biasanya disertai dengan jargon atau slang. Sebuah sub-budaya dapat diorganisasikan berdasarkan kesamaan aktivitas, pekerjaan, umur, status, latar belakang suku, agama atau berbagai kondisi sosial lainnya yang dapat menyatukan diri menjadi suatu kelompok.

Jins yang semula merupakan sub kultur dari kaum pekerja tambang, petani serta cowboy yang merupakan pilar kehidupan Amerika.

q. Industri Fashion turut mengadopsi penggayaan yang ada di Sub-Kultur, jins di eksplorasi menjadi fashionable. Segala sesuatu yang diserap fashion akhirnya akhirnya berkonotasi industri dan bisnis fashion.

r. Gaya hidup adalah cara seseorang/grup menjalani kehidupan. Hal in termasuk pola dari relasi sosial, konsumsi, hiburan serta gaya berpakaian. Di dunia bisnis, gaya hidup menyediakan masukan untuk membidik konsumen yang digunakan para pengiklan serta pemasar yang berusaha keras untuk menyamakan aspirasi konsumen dengan produk-produk.

s. Budaya Popular lahir bersamaan dengan makin banyaknya serbuan hasil industri. Dari kacamata budaya, barang-barang tersebut diistilahkan dengan komoditas yang memiliki nilai jual. Jins, termasuk didalamnya. Diproduksi sebagai produk massal, dengan variasi bentuk, warna dan harga. Menjadi produk popular yang dapat dikenakan berbagai lapisan sosial.

t. Bandung sebagai kota industri dan garmen, mampu mengembangkan jins sebagai produk siap pakai.

1.9 Sistematika Penulisan Bab I :

Bab ini berisi paparan konsepsional melalui latar belakang, tujuan penelitian, batasan penelitian, perumusan masalah, metode penelitian, kerangka berpikir dan sistematika penulisan.

Bab II:

Berisi landasan teori umum dalam berbusana, nilai fungsi dan simbol pada pakaian serta kajian estetika pada unsur visual pakaian. Bab ini juga membahas perkembangan jins dari pakaian siap pakai menjadi pakaian dengan sentuhan kreativitas tinggi.

Bab III:

Membahas Bandung sebagai kota mode, yang dilanjutkan dengan penjelasan masuknya budaya jins dan perkembangannya di kota ini. Uraian meliputi pula, jins dalam konteks gaya berpakaian untuk pria dan wanita pada umumnya dan remaja khususnya.

Bab IV:

Analisis perkembangan jins sebagai produk massal, ditinjau dari industri skala pabrik dan industri skala rumahan serta sentra penjualan jins di kota Bandung.

Bab V:

Merupakan penutup yang berisi kesimpulan secara umum dan secara khusus, berdasarkan dari bab satu sampai bab empat serta diakhiri dengan sejumlah saran dan jawaban dari pertanyaan penelitian.

BAB II

JINS SEBAGAI BAHAN PEMBUAT BUSANA

2.1 Tinjauan Teoritis Busana

2.1.1 Nilai Fungsi dan Simbol Pakaian

Pada awal peradaban manusia dimasa Paleolithic dan Neolithic, bentuk pakaian masih sangat sederhana. Fungsi utama dari pakaian untuk menahan tubuh dari iklim atau cuaca dingin dan panas. Berawal dari penyelidikan dan penelitian pada lukisan dinding gua, para ahli geologi dan arkeologi telah membuat kita sadar akan keberhasilan jaman Es. Dimana iklim sebagian besar Eropa sangat dingin. Di akhir kebudayaan Paleolithicum (yaitu kebudayaan di mana peralatan dan senjata dibuat dari pecahan batu keras yang dibuat tajam), kehidupan berjalan di tepi lapisan es yang besar dan menutupi sebagian dunia.

Keadaan seperti ini, membuat bagian-bagian dari pakaian telah ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan sosial dan psikologi.

• Manusia primitif menggunakan kulit binatang sebagai bahan pakaiannya.

• Kulit yang sudah siap tadi dipotong dan dibentuk (setelah melewati beberapa proses yang cukup lama).

• Penemuan jarum bermata, yang terbuat dari gading Mammoth, tulang rusa kutub dan taring anjing laut ditemukan pada gua Paleotithicum.

• Penemuan ini memungkinkan untuk menjahit potongan-potongan kulit sesuai dengan bentuk tubuh, yang semula pakaian hanya berbentuk kain yang melilit tubuh dari sepotong bahan yang berbentuk segi empat. Segala bentuk perlengkapan dan sarana masih sangat sederhana sekali (primitif) dan keindahan yang diperlihatkan masih sangat minim.

Saat itu manusia berpakaian dengan alasan yang sangat sederhana, misalnya untuk melindungi tubuh dari keadaan cuaca atau menolak pengaruh sihir.

Secara definitif pakaian dapat diartikan sebagai suatu barang yang dikenakan pada tubuh manusia dengan tujuan untuk menutup aurat atau melindungi tubuhnya secara fisik, etik dan estetik maupun untuk tujuan simbolik sesuai dengan lingkungan alam dan nilai-nilai sosial budayanya. Pada perkembangan selanjutnya manusia senantiasa mengembangkan tata cara berpakaian, dengan tujuan memperindah serta mencoba menampilkan dirinya secara lebih baik.

Secara implisif, fungsi pakaian bagi manusia semakin berkembang dan kompleks mengikuti meningkatnya peradaban manusia.

Pakaian didefinisikan sebagai benda yang menutupi mulai dari torso sampai lengan begitu juga dengan menutupi tangan (sarung tangan), kaki (kaus kaki, sepatu, sandal dan boot) serta kepala (topi). Manusia pada umumnya mengenakan pakaian yang juga dikenal dengan Dress (baju), Garment (bahan pakaian), Attire atau Apparel (pakaian). Pakaian selain untuk fungsional juga untuk alasan sosial serta melindungi badan manusia dari cuaca yang buruk dan berbagai cuaca lainnya dari lingkungan kita. Beberapa artikel dari pakaian juga membicarakan arti budaya dan sosial. Manusia juga mendekorasi tubuh mereka dengan make up dan kosmetik, wewangian dan berbagai ornamen lainnya. Mereka juga memotong dan mengatur rambut dari kepala mereka, wajah dan tubuh bahkan terkadang memberi tanda pada kulit mereka (tato, pengorbanan dan tindik). Semua dekorasi ini memberikan kontribusi bagi efek keseluruhan serta pesan dari pakaian.

Pakaian adalah bentuk khusus dari perhiasan tubuh. Para penjelajah dan petualang adalah orang yang pertama kali mendokumentasikan serta memberikan pendapat tentang perhiasan tubuh dari gaya pakaian yang mereka temui di seluruh dunia. Beberapa dari penjelajah atau petualang tersebut sekembali dari berpergian, membawa gambar dan contoh pakaian, dengan tujuan tidak hanya untuk dikoleksi tetapi juga untuk dipahami. Pengkajian tentang pakaian berkembang menjadi bagian antropologi yang merupakan studi ilmiah tentang manusia.

Ahli teori tentang budaya dan penganalisa pakaian menitik beratkan perhatiannya pada fungsi pakaian yang meliputi:

• Kegunaan (Utility)

Pakaian telah berkembang sehingga dapat memenuhi berbagai tujuan praktis maupun protektif. Lingkungan kita sangat berbahaya, dan tubuh kita harus selalu memiliki suhu rata-rata, sehingga sirkulasi darah tetap lancar dan merasa nyaman. Pekerja harus selalu merasa sejuk, nelayan harus tetap kering, pemadam kebakaran harus terlindung dari api, dan pekerja tambang harus terlindung dari gas. Para pembaharu di bidang pakaian biasanya menempatkan kegunaan ini dibandingkan dengan pertimbangan estetika lainnya. Pada 1850-an seorang penerbit dan pionir pembela hak pilih perempuan di Amerika, Amelia Jenks Bloomer, menitikberatkan pada masalah ketidakpraktisan krinolin (Crinoline) dan mendukung pemakaian celana panjang untuk perempuan, yang disebut “Pantalettes” atau “Bloomers”. Pentingnya prinsip kegunaan ini tidak boleh dianggap mudah, konsumen seringkali memilih pakaian berdasarkan kenyamanan, daya tahan, atau mudah tidaknya perawatan. Contoh pakaian Fitness dan pakaian olah raga yang merupakan pakaian dengan prinsip kegunaan telah mendominasi pasar dan dianggap Fashionable, karena merupakan indikator tubuh yang sehat dan berjiwa muda.

• Kesopanan (Modesty)

Manusia membutuhkan pakaian untuk menutupi ketelanjangan.

Masyarakat menuntut kepantasan dan seringkali mereka mengajukan hukum yang tegas dalam hal pakaian, untuk membatasi hal yang berlebihan. Sebagian besar orang merasa tidak nyaman untuk mengungkapkan ketidaksempurnaan, terutama ketika semakin bertambah tua; pakaian menutupi dan menyamarkan ketidaksempurnaan fisik baik yang nyata maupun yang ada dalam imajinasi kita saja. Kesopanan ini ditentukan secara sosial dan beragam pada setiap individu dan masyarakat.

• Ketidak sopanan (Immodesty), yaitu menampilkan daya tarik seksual.

Pakaian dapat digunakan untuk menunjukkan daya tarik seksual dan status hubungan si pemakai. Peran tradisional perempuan sebagai objek seksual telah memberikan kontribusi cukup besar pada erosi pakaian perempuan. Pakaian malam dan Lingerie dibuat dengan kain yang menstimulasi tekstur kulit. Aksesoris dan kosmetik juga digunakan untuk meningkatkan daya tarik.

• Perhiasan atau Dandanan.

Perhiasan dapat memperkaya daya tarik fisik, menunjukkan kreativitas dan individualitas, menandakan keanggotaan atau status dalam suatu kelompok atau budaya. Prinsip ini dapat bertentangan dengan kenyamanan, mobilitas dan kesehatan., contohnya mengikat kaki, memakai korset, menindik atau mentato. Perhiasan ini dapat bersifat permanen atau sementara, juga dapat bersifat menambahkan sesuatu atau mengurangi sesuatu dari tubuh. Kosmetika, cat tubuh, perhiasan, gaya rambut, mencukur, perawatan kuku, Wig (penambahan rambut), sepatu hak tinggi serta operasi plastik, merupakan contoh dari perhiasan atau dandanan tubuh. Pada umumnya orang-orang dan khususnya perempuan muda berupaya untuk menyesuaikan diri dengan kecantikan ideal. Pembentukan tubuh melalui kain, Padding dan kain pengikat telah digunakan sebagai fashion selama berabad-abad.

Dalam bukunya, Perilaku Konsumen Terhadap Pakaian (1979). George Sproles menambahkan empat fungsi lagi yaitu : simbol diferensiasi, Afiliasi sosial, meningkatkan harga diri secara psikologis, dan modernisasi.7

• Simbol Diferensiasi

Manusia menggunakan pakaian untuk mendeferensiasikan dan mengenali profesi, agama, status sosial atau gaya hidup. Pakaian okupasional (berkaitan dengan pekerjaan) adalah bentuk ekspresi dari otoritas dan dapat membantu pemakainya agar dikenali. Gaya berpakaian biarawati yang sederhana melanjutkan keyakinannya.

7 Jones, Sue Jenkyn. (2002), Fashion. hal: 17-21.

Di beberapa negara, pengacara dan barristers menutup pakaian hariannya dengan jubah sutra dan memakai wig untuk menunjukkan kesetiaan pada hukum. Para pengguna merek perancang busana dan barang-barang mahal serta perhiasan melakukannya untuk membuat diri mereka berbeda secara sosial, namun hal ini tidak akan terus berlangsung apabila mereka kehilangan potensi sebagai simbol sosial.

• Afiliasi Sosial

Manusia akan berpakaian sama untuk menunjukkan bahwa mereka ada di kelompok yang sama. Mereka yang tidak sesuai dengan gaya yang dipersyaratkan akan dianggap memiliki gagasan berbeda, dan diasingkan dari kelompok. Sebaliknya, korban mode (Fashion victim) yang mencoba untuk selalu sesuai dengan lingkungan tapi tidak memperhatikan kepantasan, akan dianggap memaksakan diri untuk dapat diterima, kurang berkepribadian dan berselera. Beberapa kasus dalam cara berpakaian merupakan pernyataan diri atas pemberontakan pada lingkungan atau pada mode. Punk tidak memiliki seragam, mereka dapat dikenali dari serangkaian ciri seperti; baju sobek-sobek, barang-barang, pin, gaya rambut aneh dan sebagainya. Kode berpakaian (Dress code) ini dikembangkan oleh perancang busana Inggris, Viviene Westwood. Punk sebagai gaya anarkis yang bertentangan dengan gaya konvensional yang berkarakter rapi pada pertengahan 1970-an.

• Meningkatkan Harga Diri Secara Psikologis

Walaupun ada tekanan sosial agar bergabung dengan suatu kelompok tertentu, dan begitu banyak pakaian dan kain yang sama dijual di toko, tetapi jarang sekali terjadi, dua orang yang berdandan sama persis.

Banyak anak muda berbelanja bersama teman agar dapat saling membantu dan memberikan saran, tapi mereka tidak membeli pakaian yang sama. Apapun situasinya, seorang individu akan berusaha untuk menunjukkan identitas pribadinya melalui penggunaan make-up dan assesories.

• Modernisme

Di bagian dunia manapun pakaian yang modis banyak ditemukan, pakaian dapat digunakan untuk mengekspresikan modernitas. Pada suatu lingkungan yang akan media, terutama di kota besar. Menjadi

“terlihat” dengan gaya baru dan selalu “waspada” terhadap setiap hal terbaru akan memberi nilai tambah dalam memasuki dunia kerja yang kompetitif. Pakaian yang tepat dapat memberi kita atas ke tempat yang diinginkan untuk bersama dengan orang-orang yang diharapkan.

Penerimaan kita pada modernisme, baik sebagai perancang atau konsumen, akan menjadi indikator kreativitas, penyesuaian diri dan kesopanan mengadapi masa depan.

’All fashion is clothing,although clearly not all clothing is fashion...

we need fashion, rather than clothes, not to clothe our nakedness but to clothe our self-esteem.’ Colin McDowell (1995).

Abad ke-17, pakaian masih diidentikkan dengan gaya hidup atau cara berpakaian.Di kota Paris masih terdapat penggunaan istilah mode de vie yang berarti cara hidup. Fashion menetapkan peraturan cara bersikap yang sopan, apa yang dapat di pakai serta apa yang dapat di katakan. Pangeran Louis XIV, Beau Brumelli dan Baudelaire, mereka memiliki peranan dalam fashion.

Mereka dapat memakai pakaian sesuai keinginannya. Mode menjadi sesuatu yang hanya dikuasai oleh para ahlinya dan tidak untuk sesuatu yang bebas dikembangkan dan diinterpretasikan oleh masyarakat.8

Di berbagai kehidupan sosial, masyarakat dari kelas atas mendapatkan item pakaian atau dekorasi yang spesial untuk mereka sebagai simbol status sosial.

Pada masa lalu, hanya senator Roma yang dapat mengenakan bahan pakaian yang dicelup dengan Tyrian Purple, hanya kelas atas dari Hawaian chief yang dapat mengenakan jubah bulu dan gigi paus yang diukir. Di Cina sebelum berdirinya republik, hanya kaisar yang dapat mengenakan warna kuning.

Berbagai hal dari sejarah, terdapat sistem dari hukum yang mengatur siapa

8Baudot, Francois. (1999), Fashion The Twentieth Century. hal: 8.

dapat mengenakan apa. Di kehidupan sosial lainnya, tidak ada hukum yang melarang masyarakat dari kelas yang lebih rendah memakai pakaian dari kelas yang lebih tinggi, namun harga yang tinggi dari pakaian tersebut secara efektif membatasi pembelian. Pada budaya Barat saat ini, hanya orang kaya yang dapat menikmati pakaian adibusana.

Pada masa akhir Perang Dunia II, kita dapat memastikan dengan siapa kita berhubungan dengan melihat cara mereka berpakaian. Hal tersebut mulai berubah hingga pada masa 1960-an yang merupakan sejarah bagi pakaian kontemporer. Berkembangnya ekonomi serta perubahan sosial maka batasan dalam budaya Barat yang memisahkan antara kelas tinggi dengan para pekerja menjadi rapuh. Hal ini memberi peluang bagi kaum muda untuk memanfaatkan keuntungan dari booming konsumsi masyarakat. Keistimewaan tidak lagi menjadi sesuatu yang diutamakan dan perbedaan-perbedaan mulai disingkirkan.

Di saat pakaian siap pakai semakin berkembang maka perubahan besarpun terjadi. Besarnya kuantitas, lingkaran produksi yang lebih panjang dari rumah adibusana membuat para perancang busana yang biasanya membuat desain dua kali dalam setahun harus dapat memprediksikan selera konsumen dan membuat rancangan setahun ke depan. Semenjak tatacara berpakaian mulai melonggar, pakaian sudah tidak lagi menjadi ukuran kelas sosial yang berbeda. Inovasi, spirit waktu, fantasi serta kesempatan saat ini memiliki perannya masing-masing.

Para lifestyler adalah penentu arah mode saat ini, mereka adalah ikon budaya Pop, aktor, aktris, penyanyi, dan atlet olah raga. Bagi mereka memberi sesuatu yang baru menjadi suatu kebiasaan hidup karena pekanya mereka terhadap perubahan. Mode merupakan gaya berpakaian yang dipakai oleh sejumlah orang sehingga terlihat sebagai sesuatu yang berbeda.

Sebagai penentu arah mode, mereka mencari pakaian yang membuat mereka tampil individual, dibuat hanya untuk orang per orang. Gaya yang memperlihatkan kelas mereka sebagai kelompok elit, menunjukkan independensi dalam arti tidak didikte industri mode, hingga memenuhi kepedulian pada lingkungan.9

Fashion saat ini tidak lagi terfokus pada panggung, para perancang busana telah memberi perhatiannya pada realita. Pakaian dengan desain yang aneh serta potongan yang rumit dan model beraneka ragam hanya aktraktif diatas pentas tidak lagi menjadi pertimbangan utama.

Fashion telah dibuat semakin membumi sejalan dengan sikap dan gaya hidup masyarakat dewasa ini yang membutuhkan busana kasual serta praktis.

Pengertian Fashion itu tidak hanya pakaian, pengertiannya dapat lebih dari itu.

Fashion adalah gaya hidup, perilaku pemakai, aktualisasi diri atau aktivitas kesehariannya yang dipengaruhi budaya, sosial, ekonomi dan lainnya turut membentuk gaya serta cara berpakaian. Fashion dijalankan oleh para pelaku

Fashion adalah gaya hidup, perilaku pemakai, aktualisasi diri atau aktivitas kesehariannya yang dipengaruhi budaya, sosial, ekonomi dan lainnya turut membentuk gaya serta cara berpakaian. Fashion dijalankan oleh para pelaku