• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.7. Metode Analisis Data

3.7.3. Analisis Kebijakan Pembentukan Lembaga Kerjasama

3.7.3.1. Analisis Efektivitas Kelembagaan Kerjasama Antar Daerah

Untuk mengetahui apakah kebijakan pembentukan lembaga kerjasama antar daerah merupkan strategi yang tepat untuk meningkatkan skala ekonomi daerah dilakukan dengan menggunakan analisis game theory (game theory analysis) (Anwar, 2002). Game theory adalah cabang matematika terapan yang sering dipakai dalam analisis ekonomi. Teori ini mempelajari interaksi strategis antar pemain (agen). Game theory menganalisis interaksi sosial manusia menggunakan suatu model strategi permainan. Model ini memakai analisis matematika untuk membantu memahami pilihan strategi yang perlu diambil oleh setiap pemain. (Nachrowi, 2007)

Analisis game yang dilakukan dengan menggunakan permainan berbentuk normal (normal form of games) yang sifatnya statik (Anwar, 2002). Analisis ini termasuk dalam cooperative games dimana masing-masing pemain mengetahui strategi yang dimiliki pemain lainnya. Pemilihan strategi oleh masing-masing pemain bergantung pada harapan dan tingkat rasa saling percaya yang dimilikinya kepada pihak lain. Prasyarat terbangunnya kerjasama antar daerah sangat dipengaruhinya adanya rasa saling percaya dari masing-masing pelaku yang bekerjasama. Seperti dikemukakan oleh Shubik (1995) dalam Vipriyanti (2007) bahwa kerjasama antar dua pihak S dan T, hanya akan menguntungkan apabila memenuhi kriteria berikut:

 (ST)   (S) + (T) ; dimana:

 = adalah fungsi karakteristik (characteristic function) yang diformulasikan oleh John von Neuman.

 (ST) = manfaat yang diperoleh apabila bekerjasama

 (S) = manfaat yang diperoleh individu S bila memutuskan bekerja sendiri (T) = manfaat yang diperoleh individu T bila memutuskan bekerja sendiri Tujuan yang ingin dicapai dari pembentukan lembaga KSAD BARLINGMASCAKEB adalah peningkatan skala ekonomi daerah. Besar kecilnya skala ekonomi daerah sangat ditentukan dari penggunaan faktor produksi ekonomi di suatu daerah. Faktor produksi ekonomi daerah meliputi modal

(investasi), tenaga kerja dan potensi sumberdaya alam yang dapat menghasilkan nilai ekonomi untuk kepentingan daerah. Atas dasar inidikator tersebut, besar kecilnya skala ekonomi daerah dapat diukur dari: (1) nilai investasi yang masuk ke daerah; (2) tingkat penyerapan tenaga kerja di daerah; (3) pemanfaatan potensi sumberdaya alam untuk kegiatan pariwisata serta kegiatan pertambangan dan galian. Semakin besar penggunaan faktor produksi ekonomi daerah akan semakin besar tingkat skala ekonomi darah tersebut, demikian sebaliknya.

Ada dua strategi yang dapat dipilih oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan skala ekonomi daerah, yaitu strategi: (1) tidak bekerjasama; atau (2) bekerjasama. Apabila tidak bekerjasama maka masing-masing pemerintah daerah akan bekerja sendiri dan akan menanggung seluruh biaya yang harus dikeluarkan dalam upaya meningkatkan skala ekonomi daerah masing-masing berupa belanja langsung dari kegiatan pengembangan pariwisata, perdagangan, ketenagakerjaan, pertambangan dan investasi. Sebaliknya masing-masing daerah juga akan memperoleh penerimaan sebagai akibat dari pengembangan dari berbagai bidang tersebut dalam bentuk retribusi pariwisata, PDRB perdagangan, pendapatan tenaga kerja, penerimaan pajak pertambangan daerah dan nilai investasi yang masuk ke daerah.

Apabila memilih bekerjasama berarti masing-masing pemerintah daerah harus bersedia saling membantu dalam upaya meningkatkan skala ekonomi daerah. Konsekuensi yang harus ditanggung oleh masing-masing daerah apabila mereka bersedia untuk bekerjasama adalah adanya tambahan biaya yang harus dikeluarkan berupa iuran bersama untuk kegiatan promosi potensi ekonomi daerah secara bersama. Namun demikian, mereka juga akan menerima keuntungan berupa berkurangnya biaya transaksi sebagai akibat dari adanya kerjasama antar daerah. Di samping itu, akibat dari adanya sinergi dari kerjasama antar daerah maka pendapatan dari masing-masing daerah dalam bentuk retribusi pariwisata, PDRB perdagangan, pendapatan tenaga kerja, penerimaan pajak pertambangan daerah dan nilai investasi yang masuk ke daerah juga akan meningkat.

Analisis game theory digunakan untuk mengetahui apakah dalam meningkatkan skala ekonomi daerah akan lebih menguntungkan apabila dicapai melalui kerjasama antar daerah atau tanpa bekerjasama antar daerah. Analisis

dilakukan dengan menghitung nilai payoff dari masing-masing kabupaten dalam aktivitas peningkatan skala ekonomi daerah. Payoff adalah penalti yang harus ditanggung atau reward yang diperoleh masing-masing aktor atau pelaku dalam analisis permainan tersebut. Berdasarkan pay-off optimum yang ingin dicapai maka dapat ditentukan keseimbangan yang dikenal dengan nama Nash Equilibrium yaitu sekelompok strategi yang mempunyai karakteristik dimana tidak satupun dari pemain yang dapat beruntung dengan merubah strateginya, sementara pemain lainnya tetap mempertahankan strategi mereka. Pemain berada dalam keseimbangan (equilibrium) jika perubahan strategi yang dilakukan oleh salah satu dari mereka mengarahkannya pada payoff yang lebih buruk dibandingkan dengan mempertahankan strategi sebelumnya. Secara sederhana interaksi para pemain (lima kabupaten) dalam meningkatkan skala ekonomi daerah dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 14 Matriks Payoff Kerjasama Antar Daerah dalam Meningkatkan Skala Ekonomi Daerah

Pemain/ Strategi EMPAT KABUPATEN

Bekerjasama (J = 1) Tidak Bekerjasama (J = 2) KABUPATEN (A,B,C,D atau E) Bekerjasama (i = 1) X11 , Y11 X12 , Y12 Tidak Bekerjasama (i =2) X21 , Y21 X22 , Y22 Keterangan: ij

X = Pay off kabupaten yang dianalisis jika mengambil strategi ke-i dan empat kabupaten lainnya mengambil strategi ke-j.

ij

Y = Pay off empat kabupaten lainnya jika mengambil stretegi ke-j dan kabupaten yang dianalisis mengambil strategi ke-i.

Analisis game theory ini dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak program gambit 2007. Tabel berikut menggambarkan berbagai variabel yang digunakan untuk menghitung nilai pay-off apabila lima kabupaten yang tergabung dalam lembaga kerjasama antar daerah bekerjasama atau tidak bekerjasama.

Tabel 15 Perhitungan Nilai Pay-Off Untuk Analisis Game Theory

Strategi Indikator Skala Ekonomi

Keuntungan Biaya Pay-off

Tidak Kerjasama

Pariwisata Penerimaan Retribusi wisata

Belanja langsung kegiatan pariwisata

Keuntung an - Biaya Perdagangan PDRB Perdagangan Belanja langsung kegiatan

perdagangan Ketenagaker

jaan

Upah tenaga kerja Belanja langsung kegiatan ketenagakerjaan

Pertambang an

Penerimaan Pajak pertambangan

Belanja langsung kegiatan pertambangan

Investasi Jumlah investasi yang masuk

Belanja langsung kegiatan investasi

Kerjasama

Pariwisata Retribusi wisata + retribusi wisata hasil KSAD (Asumsi Kenaikan 10 %)

Belanja langsung kegiatan pariwisata

+ Iuran KSAD untuk pengembangan pariwisata - pengurangan biaya transaksi kegiatan pariwisata Keuntung an - Biaya Perdagangan PDRB Perdagangan + Tambahan PDRB perdagangan karena hasil KSAD (Asumsi Kenaikan 10 %)

Belanja langsung kegiatan perdagangan

+ Iuran KSAD untuk pengembangan perdagangan - pengurangan biaya transaksi kegiatan perdagangan Ketenagaker jaan

Upah tenaga kerja + Tambahan upah tenaga kerja hasil kontribusi KSAD (Asumsi kenaikan 10%)

Belanja langsung kegiatan ketenagakerjaan + Iuran KSAD untuk pengelolaan ketenagakerjaan - pengurangan biaya transaksi kegiatan ketenagakerjaan Pertambang an Pajak pertambangan + tambahan pajak pertambangan dari hasil KSAD (Asumsi Kenaikan 10 %)

Belanja langsung kegiatan pertambangan

+ Iuran KSAD untuk pengelolaan pertambangan - pengurangan biaya transaksi kegiatan pertambangan Investasi Jumlah investasi yang

masuk

+ Tambahan investasi yang masuk dari adanya KSAD (Asumsi Kenaikan 10 %)

Belanja langsung kegiatan investasi

+ Iuran KSAD untuk pengembangan investasi - pengurangan biaya transaksi kegiatan investasi

Untuk menghitung nilai payoff dari masing-masing kabupaten ketika tidak bekerjasama dilakukan dengan mengurangkan nilai keuntungan yang diperoleh

sebagai akibat dari meningkatnya skala ekonomi daerah dalam satu tahun dengan biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah kabupaten untuk membiayai aktivitas yang dilakukan dalam meningkatkan skala ekonomi daerah tersebut. Nilai keuntungan sebagai akibat dari meningkatnya skala ekonomi daerah berupa penerimaan retribusi pariwisata, penerimaan PDRB perdagangan, penerimaan upah tenaga kerja baru, penerimaan pajak pertambangan dan jumlah investasi baru yang masuk di kabupaten. Sedangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai aktivitas meningkatkan skala ekonomi daerah berupa jumlah belanja langsung dari SKPD yang ada di kabupaten yang dialokasikan untuk kegiatan pengembangan pariwisata, perdagangan, ketenagakerjaan, pertambangan dan mendatangkan investasi di daerah. Selisih antara keuntungan dengan biaya tersebut adalah nilai payoff dari masing-maing kabupaten ketika tidak bekerjasama.

Untuk menghitung besarnya nilai payoff pada saat bekerjasama dilakukan dengan mengurangkan nilai keuntungan yang diperoleh dari meningkatnya skala ekonomi daerah dalam satu tahun sebagai akibat dari adanya kerjasama antara aerah dengan biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah kabupaten untuk membiayai aktivitas yang dilakukan dalam meningkatkan skala ekonomi daerah tersebut selama bekerjasama. Besarnya nilai keuntungan dari meningkatnya skala ekonomi daerah pada saat bekerjasama diperoleh dari penjumlahan nilai keuntungan sebagai akibat dari meningkatnya skala ekonomi daerah ketika tidak bekerjasama dengan kenaikan keuntungan sebesar sepuluh persen dari nilai keuntungan tersebut sebagai akibat adanya sinergi karena mereka saling bekerjasama. Sedangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai aktivitas meningkatkan skala ekonomi daerah pada saat bekerjasama dihitung dengan menjumlahkan besarnya biaya yang dikeluarkan oleh masing- masing pemerintah kabupaten untuk membiayai aktivitas yang dilakukan dalam meningkatkan skala ekonomi daerah ketika tidak bekerjasama dengan iuran yang dikeluarkan oleh masing-masing kabupaten untuk membiayai kerjasama antar daerah dalam meningkatkan skal ekonomi daerah. Besaran jumlah tersebut kemudian dikurangi dengan besarnya biaya transaksi yang dapat dikurangi karena

adanya kerjasama antar daerah. Selisih antara keuntungan dengan biaya tersebut merupakan nilai payoff dari masing-maing kabupaten ketika bekerjasama.

3.7.3.2. Analisis Efisiensi Kelembagaan Kerjasama Antar Daerah

Sebagaimana dikemukakan oleh Schluter dan Hanisch (1999) pembentukan kelembagaan baru, seperti munculnya lembaga kerjasama antar daerah, dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dengan cara meminimalkan biaya transaksi (transaction cost) yang mungkin timbul. Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk mengukur efisien tidaknya desain kelembagaan kerjasama antar daerah digunakan alat analisis ekonomi biaya transaksi (transaction cost economics). Hipotesis dari analisis ini adalah semakin tinggi biaya transaksi yang terjadi dalam kegiatan ekonomi (transaksi), berarti kian tidak efisien kelembagaan yang didesain; demikian sebaliknya (Yustika, 2008). Atas dasar asumsi tersebut, untuk menguji efisien tidaknya desain kelembagaan kerjasama antar daerah BARLINGMASCAKEB dilakukan dengan mengukur keberadaan indikator dari variabel biaya transaksi pada aktivitas peningkatan skala ekonomi daerah sebelum program dan sesudah program sebagai berikut:

Tabel 16 Aktivitas Biaya Transaksi Pada Kegiatan Peningkatan Skala Ekonomi Daerah No. Aktivitas Ekonomi Biaya Transaksi 1. Fasilitasi Investasi Daerah

1. Biaya promosi potensi daerah 2. Biaya pembuatan rencana kegiatan

3. Biaya yang dikeluarkan dalam mengurus perijinan 4. Biaya Monitoring dan Evaluasi Kegiatan

2. Kegiatan Ketenagakerjaan

1. Biaya pembuatan rencana kegiatan 2. Biaya Monitoring dan Evaluasi Kegiatan

3. Biaya yang dikeluarkan untuk mengakses informasi lowongan pekerjaan

3. Kegiatan Pengembangan Pariwisata

1. Biaya promosi wisata

2. Biaya pembuatan rencana kegiatan 3. Biaya Monitoring dan Evaluasi Kegiatan 4. Kegiatan

Pengelolaan Pertambangan

1. Biaya promosi pengelolaan tambang 2. Biaya pembuatan rencana kegiatan 3. Biaya Monitoring dan Evaluasi Kegiatan

3.7.4. Merumuskan Format Kelembagaan yang Tepat Bagi Lembaga